• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI MUATAN RAPERDA

5.3. Dasar Hukum

Beberapa peraturan perundang-undangan baik nasional maupun daerah yang dapat dijadikan dasar hukum dibentuknya Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian dan sebagai dasar hukum atas materi muatan yang termuat dalam Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya, meliputi:

1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Dasar Tahun 1945 merupakan dasar hukum konstitusional bagi Pemerintahan Daerah membentuk Peraturan Daerah sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 18 ayat (6), menyatakan Pemerintahan Daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian dibentuk dalam rangka pelaksanaan otonomi

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 5 daerah, karena perindustrian termasuk urusan pemerintahan pilihan yang wajib diselenggarakan oleh Daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki Daerah menurut Pasal 12 ayat (3) huruf g UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Berdasarkan uraian di atas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas persetujuan DPRD Provinsi DKI Jakarta berhak dan berwewenang mengatur urusan pemerintahan bidang perindustrian sesuai tugas, wewenang, dan kewajiban yang ditetapkan dalam UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian untuk kepentingan masyarakat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209).

Pelanggaran atas ketentuan pindana yang termuat dalam Peraturan Daerah menjadi tugas dan wewenang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang perindustrian. PPNS dalam melaksanakan tugas harus sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Jika dalam Peraturan Daerah tidak termuat ketentuan pidana, maka Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tidak diperlukan.

Tugas dan wewenang PPNS bidang perindustrian melakukan penyidikan pelanggaran dalam penyelenggaraan perindustrian diatur dalam Pasal 119 ayat (1), selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Perindustrian diberi wewenang khusus sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan sesuai dengan Undang-Undang ini.

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817).

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 mengatur berbagai larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Dalam rangka mewujudkan tujuan penyelenggaraan perindustrian sebagaimana termuat dalam Pasal 3 huruf d UU No. 3 Tahun 2014, menyatakan mewujudkan kepastian berusaha, “persaingan yang sehat, serta mencegah pemusatan atau penguasaan industri oleh satu kelompok atau perseorangan yang merugikan masyarakat”. Apabila pelaku usaha bidang industri melakukan persaingan yang tidak sehat dan melakukan praktek monopoli (pemusatan atau penguasaan industri oleh satu kelompok atau perseorangan), berarti melanggar ketentuan yang termuat dalam UU No. 5 Tahun 1999. Yang dimaksud persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.1 Sedangkan yang dimaksud dengan praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum.2 Berdasarkan uraian tersebut, UU No. 5 Tahun 1999 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) atau menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta.

4. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279).

Tenaga kerja faktor penting dalam penyelenggaraan perindustrian, Oleh sebab itu, ketersediaan tenaga kerja yang bermutu merupakan salah satu syarat bagi peningkatan dan keberlanjutan pertumbuhan industri di Provinsi DKI Jakarta di masa datang. Berbagai permasalahan dihadapi pelaku usaha bidang industri antara lain, berkaitan dengan upah minimum dan kewajiban

1 Lihat Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

2 Lihat Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 7 pembayaran pesangon tidak sesuai kemampuan perusahaan. Ketentuan kewajiban pelaku usaha bidang industri kepada tenaga kerja tersebut sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam UU No. 13 Tahun 2003. Sehubungan itu, UU No. 13 Tahun 2003 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) atau menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta

5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301).

Permasalahan yang dihadapi pelaku usaha di bidang industri antara lain: (a) kualitas sumber daya manusia (SDM) lulusan sekolah menengah baik umum maupun kejuruan secara umum masih belum memenuhi atau tidak sesuai kebutuhan industri, terutama untuk mengisi posisi pekerja tingkat menengah;

(b) kelangkaan pasokan SDM ahli (profesional di bidang manufacturing dan pendukung kegiatan industri lainnya). Untuk mengatasi permasalahan tersebut pelaku usaha bidang industri menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas SDM baik melalui pendidikan formal maupun non formal harus sesuai ketentuan yang termuat dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Demikian halnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kerja harus sesuai kebutuhan pelaku usaha industri. Sehubungan itu, UU No. 20 Tahun 2003 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) atau menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta.

6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725).

Dalam penyediaan prasarana industri termasuk infrastrukturnya harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi yang tertuang dalam Rencana Induk Penyelenggaraan Perindustrian Provinsi sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) huruf b UU No. 3 Tahun 2014. Permasalahan yang

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 8 terjadi di Provinsi DKI Jakarta, banyak industri khususnya industri kecil dan menengah berada di kawasan permukiman, yang menurut UU No. 26 Tahun 2007 termasuk pelanggaran karena tidak sesuai peruntukan. Sehubungan itu, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) atau menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta.

7. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4744).

Kedudukan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota NKRI dan pelaksanaan otonomi pada lingkup provinsi ditetapkan dalam UU No. 29 Tahun 2007.

Sehubungan itu, UU No. 29 Tahun 2007 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda). Selain itu, implikasi kedudukan Provinsi DKI Jakarta, arah dan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penyelenggaraan perindustrian dimasa mendatang pada industri kreatif dan industri yang menggunakan teknologi tinggi, industri yang hemat lahan dan air serta industri yang berwawasan lingkungan atau industri hijau, yaitu industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.3 8. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756).

Di dalam UU No. 40 Tahun 2007 mengatur Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yaitu komitmen Perseroan Terbatas (PT) untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri,

3 Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 9 komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Sehubungan itu, UU No. 40 Tahun 2007 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) atau menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta.

9. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851).

Di dalam UU No. 18 Tahun 2008 ada kewajiban yang harus dilaksanakan Pengelola Kawasan Industri dan pelaku usaha industri sebagai produsen.

Kewajiban Pengelola Kawasan Industri menurut Pasal 13 wajib menyediakan fasilitas pemilihan sampah, sedangkan kewajiban pelaku usaha industri sebagai produsen menurut Pasal 14 dan Pasal 15 berikut ini:

Pasal 14

Setiap produsen harus mencantumkan label atau tanda yang berhubungan dengan pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya.

Pasal 15

Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini dalam menghadapi permasalahan sampah terutama sampah kemasan dan/atau barang yang dihasilkan industri yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam. Penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta harus mampu meminimisasi timbulan sampah dari kegiatan industri sebagaimana diatur dalam UU No. 18 Tahun 2008. Sehubungan itu, UU Nol 18 Tahun 2008 menjadi dasar hukum dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian.

10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059).

Penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta harus memenuhi aspek lingkungan hidup sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam

Undang-Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 10 Undang Nomor 32 Tahun 2009, seperti: dalam pengelolaan kawasan industri harus memenuhi ketentuan berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sesuai hasil studi Analisis Dampak Lingkungan, Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan, dan penyediaan fasilitas pengelolaan limbah yang dihasilkan. Oleh sebab itu, UU No. 32 Tahun 2009 menjadi dasar hukum dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian.

11. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234).

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan tidak hanya menjadi pedoman dalam penyusunan Raperda melainkan juga sebagai dasar hukum bagi Pemerintahan Daerah bahwa Peraturan Daerah merupakan bagian dari peraturan perundang-undangan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 7 UU No. 12 Tahun 2011 dan mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi setiap orang. Oleh sebab itu, UU tersebut menjadi dasar hukum kedudukan Peraturan Daerah bagian dari peraturan perundang-undangan sifatnya mengikat dan harus dipatuhi.

12. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5492).

Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 menjadi dasar hukum utama dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian, karena dalam Undang-Undang tersebut mengatur tugas, wewenang, dan tanggung jawab Pemerintah Daerah serta kewajiban pelaku usaha di bidang industri.

13. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 120,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5317) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679).

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 11 Undang-Undang No. 23 Tahun 2014, mengatur hak dan kewajiban serta wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Daerah (dalam hal ini Gubernur dan Perangkat Daerah) sebagai eksekutif dan DPRD sebagai legislatif dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Oleh sebab itu, UU tersebut harus termuat dalam Konsiderans Mengingat.

14. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 89,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5305).

Peran serta Perseroan Terbatas dalam mengatasi berbagai persoalan sosial dan lingkungan di DKI Jakarta menjadi penting melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau corporate social responsibility (CSR) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012.

Tidak hanya masalah sosial melalui program CSR, melainkan lingkungan seperti sampah yang dihasilkan atas produk yang dihasilkan industri menjadi tanggung jawab pelaku usaha industri atau disebut Extended Producer Responsibility (EPR). EPR salah satu strategi yang ditetapkan dalam UU No.

18 Tahun 2008 dalam mengurangi timbulan sampah. Strategi EPR dimaksud produsen bertanggungjawab terhadap seluruh life cycle produk dan/atau kemasan dari produk dihasilkan sebagaimana diatur dalam Pasal 14 dan Pasal 15 UU No. 18 Tahun 2008. Oleh sebab itu, PP tersebut menjadi dasar hukum terhadap materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian. Oleh sebab itu termuat dalam Konsiderans Mengingat.

15. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerja Sama Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4761).

Dalam penyediaan prasarana dan sarana perindustrian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat melakukan melalui kerjasama dengan pihak swasta dalam seperti penyediaan kawasan industri dan sentra industri kecil dan menengah dengan cara: (a) kerja sama pemanfaatan (KSP) barang milik daerah oleh

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 12 pihak swasta dalam jangka waktu tertentu; (b) Bangun Guna Serah (BGS) dan Bangun Serah Guna (BSG). Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah lain yang memiliki potensi sumber daya alam untuk kebutuhan bahan baku atau bahan penolong industri kecil dan menengah. Mekanisme bentuk kerja sama diatur dalam PP No. 50 Tahun 2007. Oleh sebab itu, PP No. 50 Tahun 2007 menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan perindustrian di DKI Jakarta, maka PP tersebut harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

16. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987).

PP No. 24 Tahun 2009 memberikan tugas dan wewanang kepada Gubernur selaku Kepala Daerah dalam rangka optimalisasi pemanfaatan Kawasan Industri, antara lain memberikan: (a) insentif dan kemudahan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; (b) kemudahan dalam perolehan/pembebasan lahan pada wilayah yang diperuntukkan bagi Kawasan Industri; (c) pengarahan kegiatan Industri ke dalam Kawasan Industri. Oleh sebab itu, PP No. 24 Tahun 2009 menjadi dasar hukum dalam materi muatan Rancangan Peraturan Daerah, maka harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

17. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5285).

Menurut Pasal 2 PP No. 27 Tahun 2012, menyatakan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki AMDAL atau UKL-UPL wajib memiliki Izin Lingkungan yang diperoleh melalui tahapan kegiatan yang meliputi: (a) penyusunan AMDAL dan UKL-UPL; (b) penilaian AMDAL dan pemeriksaan UKL-UPL; (c) permohonan dan penerbitan Izin Lingkungan. Persyaratan tersebut, menjadi persyaratan dalam mendapatkan izin usaha industri di DKI Jakarta. Oleh sebab itu, PP No. 27 Tahun 2012 menjadi dasar hukum

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 13 terhadap materi muatan Rancangan Peraturan Daerah, maka Peraturan Pemerintah tersebut harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

18. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 89,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5305).

Berbagai kebijakan Daerah telah menetapkan tanggung jawab sosial dan lingkungan Perseroan Terbatas baik dalam bentuk Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur, antara lain Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2013 tentang Kesejahteraan Sosial, dan Peraturan Gubernur Nomor 112 Tahun 2013 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Dunia Usaha. Agar Rancangan Peraturan Daerah selaras dengan kebijakan yang ada, maka tanggung jawab sosial dan lingkungan menjadi bagian yang harus dilakukan oleh pelaku usaha di bidang industri dan menjadi materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian. Sehubungan itu, PP No. 47 Tahun 2012 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

19. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 333, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5617).

Gubernur telah menetapkan Peraturan Gubernur No. 76 Tahun 2009 tentang Pelaksanaan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, antara lain berasal dari kegiatan industri dan kegiatan industri yang memafaatkan Limbah B3, harus mendapatkan izin dari Gubernur. Sehubungan itu, pengelolaan limbah B3 menjadi bagian dari materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perindustrian. Oleh sebab itu, PP No. 101 Tahun 2014 harus termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 5 - 14 20. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5671).

Berdasarkan ketentuan Pasal 10 UU No. 3 Tahun 2014, menyatakan Gubernur menyusun Rencana Pembangunan Industri Provinsi (dalam hal ini Rencana Induk Penyelenggaraan Perindustrian) mengacu kepada Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional dan Kebijakan Industri Nasional.

Rencana Induk Penyelenggaraan Perindustrian merupakan bagian dari materi muatan Raperda Penyelenggaraan Perindustrian, maka PP No. 14 Tahun 2015 termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

21. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5708).

Sumber daya Industri menjadi materi muatan Raperda, maka PP No. 41 Tahun 2015 termuat dalam Konsiderans Mengingat Rancangan Peraturan Daerah.

22. Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 62).

Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 mengatur kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur yang diperlukan dalam penyelenggaraan perindustrian. Dengan demikian, dapat mempercepat penyediaan infrastruktur yang dibutuhkan industri, guna menciptakan iklim investasi, untuk mendorong keikutsertaan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur industri dan layanan berdasarkan prinsip-prinsip usaha yang sehat.

23. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1986 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tahun 1986 Nomor 86).