• Tidak ada hasil yang ditemukan

HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

4.4. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha

Hak pelaku usaha di bidang industri dalam UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian tidak diatur secara tegas. Sementara salah satu tujuan dibentuknya Peraturan Daerah dalam rangka mewujudkan hak masyarakat melakukan usaha di bidang industri serta memfasilitasi kewajiban pelaku usaha dalam melakukan kegiatan usaha di bidang industri. Meskipun demikian, berdasarkan definisi industri sebagaimana termuat dalam Pasal 1 angka 2 UU No. 3 Tahun 2014, dapat ditafsirkan bahwa kegiatan usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha di bidang industri menghasilkan “barang” yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk “jasa” industri. Barang dan/atau jasa dimaksud dapat berupa benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat.

Berdasarkan penafsiran tersebut di atas, pengertian pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 42 kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian penyelenggaraan kegiatan usaha bidang industri. Makna pelaku usaha berbentuk “badan hukum” maupun “bukan badan hukum” berupa korporasi, yaitu kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.59

Atas dasar uraian tersebut di atas, hak pelaku usaha industri dalam UU No.

3 Tahun 2013 tidak diatur secara tegas, namun dapat indentifikasi, antara lain: (a) mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum dalam melakukan usaha.

Perlindungan hukum dimaksud antara lain pelaku usaha yang telah mendapat legalitas atau izin dari Pemerintah Daerah untuk melakukan usaha penyediaan kawasan industri, karena perkembangan perkotaan menyebabkan kawasan industri terkena pelebaran jalan. Kondisi tersebut, memberikan gambaran tidak ada kepastian hukum dalam melakukan usaha; (b) memperoleh data dan informasi yang benar dan akurat serta tepat waktu dalam melakukan kegiatan usaha; (c) mendapatkan lingkungan yang bersih, indah, nyaman dan sehat dari Pemerintah Daerah dan/atau pengelola kawasan; (d) mendapatkan pelayanan secara baik dan berwawasan lingkungan dari Pemerintah Daerah dan/atau pengelola kawasan industri; (e) berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan usaha industri; (f) memperoleh pembinaan dalam penyelenggaraan kegiatan usaha industri dari Pemerintah Daerah dan/atau pengelola kawasan; (g) hak-hak lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan hak masyarakat antara lain mendapatkan perlindungan dari dampak negatif kegiatan usaha industri sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 116 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2014.

Kewajiban pelaku usaha berdasarkan UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian antara lain:

Pasal 64

(1) Setiap Perusahaan Industri wajib menyampaikan Data Industri yang akurat, lengkap, dan tepat waktu secara berkala kepada Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota

59 Lihat Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 43 Pasal 65

(1) Setiap Perusahaan Kawasan Industri wajib menyampaikan Data Kawasan Industri yang akurat, lengkap, dan tepat waktu secara berkala kepada Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota.

(2) Data Kawasan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan melalui Sistem Informasi Industri Nasional.

Pasal 105

(1) Setiap kegiatan usaha Kawasan Industri wajib memiliki izin usaha Kawasan Industri.

(5) Setiap Perusahaan Kawasan Industri yang melakukan perluasan wajib memiliki izin perluasan Kawasan Industri

Pasal 106

(1) Perusahaan Industri yang akan menjalankan Industri wajib berlokasi di Kawasan Industri.

Berdasarkan kewajiban perusahaan industri tersebut di atas, secara umum kewajiban pelaku usaha di bidang industri sebagai berikut: (a) memberikan data dan informasi yang benar dan akurat serta tepat waktu mengenai kegiatan usaha yang dilakukan; (b) jaminan barang dan/atau jasa yang dihasilkan sesuai standar mutu barang dan/atau jasa dan memberikan penjelasan penggunaan barang dihasilkan; (c) memberikan kesempatan kepada pengguna barang dan/atau jasa untuk menguji barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang dan/atau jasa diproduksi dan/atau dihasilkan; (d) memberikan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang produksi dan/atau dihasilkan; (e) melakukan pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses, yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup dan teknologi; (f) tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam hal kewajiban pelaku usaha pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses, yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup dan teknologi bersih dilakukan melalui produksi bersih.

Menurut Peraturan Menteri Perindustrian No. 75/M-IND/PER/7/2010 tentang

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 44 Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik (Good Manufacturing Practices) atau disingkat dengan CPPOB, bahwa penerapan CPPOB bertujuan untuk: (a) mencegah tercemarnya pangan olahan dari cemaran biologi, kimia/fisik yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia; (b) membunuh atau mencegah berkembangbiak jasad renik patogen serta mengurangi jumlah jasad renik lain yang tidak dikehendaki; (c) mengendalikan produksi melalui pemilihan bahan baku, penggunaan bahan penolong, penggunaan bahan pangan lainnya, penggunaan bahan tambahan pangan (BTP), pengolahan, pengemasan, dan penyimpangan/pengangkutan. Selain itu, produksi bersih sebagai upaya mengurangi limbah baik limbah padat maupun limbah cair dari sumbernya, melalui eliminasi yang merupakan metode pengurangan limbah secara total, bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge).

Di dalam konsep penerapan produksi bersih termasuk metode pencegahan pencemaran; (b) minimisasi limbah (mengurangi sumber limbah), strategi pengurangannya menjaga limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah memerlukan beberapa perubahan penting terhadap proses; (c) daur ulang (recycle), apabila timbul limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka strategi untuk meminimkan limbah sampai batas tertinggi yang mungkin dilakukan harus antara lain daur ulang dan/atau penggunaan kembali (re-use). Jika limbah tidak dapat dicegah, pengolahan limbah dapat dilakukan; (d) pengendalian pencemaran, jika terpaksa dilakukan karena dalam proses perancangan produksi belum dapat mengantisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas terjadinya limbah; (e) pengolahan dan pembuangan, merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program manajemen lingkungan; (f) remediasi, penggunaan kembali bahan yang terbuang bersama limbah dengan tujuan mengurangi kadar peracunan dan kuantitas limbah yang ada.

Sesuai tujuan produksi bersih sebagaimana diuraikan di atas terkait juga dengan minimisasi limbah padat atau sampah sebagaimana diatur dalam UU No.

18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menurut Pasal 15 undang-undang tersebut, produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang diproduksinya

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 45 yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.60 Atas dasar ketentuan tersebut pelaku usaha di bidang industri yang menimbulkan sampah yang alami proses penguraian sampah sulit dilakukan menjadi tanggung jawab pelaku usaha untuk membiayai seluruh proses pengelolaan sampah. Oleh sebab itu, pelaku usaha di bidang industri harus berupaya menggunakan bahan produksi (bahan baku, bahan penolong, bahan tambahan, atau kemasan produk) menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam.61 Demikian halnya dengan pengelola kawasan industri memiliki kewajiban antara lain menyediakan fasilitas pemilihan sampah, menyediakan tempat penampungan sampah sementara (TPS) terpilah atau disebut TPS-3R.62

Kewajiban lain pelaku usaha di bidang industri tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan, antara lain: larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999.

Praktek monopoli dimaksud adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan/atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Sedangkan yang dimaksud dengan persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.

60 Yang dimaksud dengan produsen menurut Pasal 1 angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, adalah pelaku usaha yang memroduksi barang yang menggunakan kemasan, mendistribusikan barang yang menggunakan kemasan dan berasal dari impor, atau menjual barang dengan menggunakan wadah yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.

61 Lihat Pasal 20 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

62 Tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) atau TPS 3R adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, dan pendauran ulang skala kawasan sebagaimana termuat dalam Pasal 1 angka 7 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 188,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5347).

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 46 4.5. Kawasan Industri dan Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM)

Pengertian kawasan industri menurut Pasal 1 angka 11 UU No. 3 Tahun 2014, adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan Industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh Perusahaan Kawasan Industri. Sedangkan pengertian sentra IKM UU No. 3 Tahun 2014 tidak mendefinisikan. Meskipun demikian, dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 78/M-IND/PER/9/2007 tentang Peningkatan Efektifitas Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Melalui Pendekatan Satu Desa Produk (One Village One Product – OVOP) di Sentra, yang dimaksud dengan sentra adalah suatu wilayah atau kawasan tertentu tempat sekelompok perusahaan IKM yang menghasilkan produk sejenis, menggunakan bahan baku sejenis, atau melakukan proses pengerjaannya sama. Dengan demikian yang dimaksud dengan Sentra IKM adalah kawasan tempat sekelompok perusahaan IKM yang menghasilkan produk sejenis, menggunakan bahan baku sejenis, atau melakukan proses pengerjaannya sama.

Dalam rangka peningkatan daya saing dan daya tarik investasi yakni terciptanya iklim usaha yang kondusif, efisiensi, kepastian hukum, dan pemberian fasilitas serta kemudahan lain dalam melakukan kegiatan usaha industri, antara lain tersedianya prasarana industri yang memadai berupa Kawasan Industri yang dikelola oleh Pengertian kawasan industri yaitu perusahaan yang mengusahakan pengembangan dan pengelolaan kawasan Industri.63

Berdasarkan PP No. 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987), tujuan penyediaan kawasan industri untuk: (a) mengendalikan pemanfaatan ruang; (b) meningkatkan upaya pembangunan industri yang berwawasan lingkungan; (c) meningkatkan daya saing industri; (d) meningkatkan daya saing investasi; (e) memberikan kepastian lokasi dalam perencanaan dan pembangunan infrastruktur, yang terkoordinasi antar sektor terkait.

63 Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 47 Menurut Pasal 7 PP No. 24 Tahun 2009 bahwa perusahaan industri yang akan menjalankan industri wajib berlokasi di Kawasan Industri, kecualikan bagi:

(a) perusahaan industri menggunakan bahan baku dan/atau proses produksinya memerlukan lokasi khusus; (b) industri mikro, kecil, dan menengah; (c) perusahaan industri yang akan menjalankan industri dan berlokasi di daerah kabupaten/kota yang belum memiliki kawasan industri atau yang telah memiliki kawasan industri namun seluruh kaveling industri dalam kawasan industrinya telah habis.

Kewajiban Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan kawasan industri dan sentra industri kecil dan menengah sesuai dengan kondisi wilayah Provinsi DKI Jakarta sebagaimana diatur dalam Pasal 14 UU No. 3 Tahun 2014, memperhatikan sekurang-kurangnya rencana tata ruang wilayah (RTRW) sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2012 tentang RTRW 2030 serta Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2014 tentang RDTR dan Peraturan Zonasi. Kawasan industri yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tersebut, sebagai berikut:

1. Kota Administrasi Jakarta Utara

Rencana pengembangan kawasan industri di Kota Administrasi Jakarta Utara dengan ketentuan: (a) pembatasan kegiatan industri di kawasan yang sudah ada di Penjaringan, Kelapa Gading, dan Cilincing; (b) pengembangan industri selektif di Marunda dan Cilincing. Pemanfaatan ruang kawasan industri dilaksanakan berdasarkan arahan sebagai berikut: (a) penataan industri kecil termasuk penyediaan pengelolaan limbah di Cilincing dan Kali Baru; (b) peningkatan teknologi guna mengurangi polusi pada kegiatan industri menengah dan besar di Ancol Barat, Marunda, dan Cilincing.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 48 2. Kota Administrasi Jakarta Barat

Rencana pengembangan kawasan industri di Kota Administrasi Jakarta Barat dilaksanakan berdasarkan arahan sebagai berikut: (a) pembangunan kawasan industri di Cengkareng, Kalideres dan sepanjang koridor Sungai Mookervart;

(b) pengembangan industri selektif dan ramah lingkungan di Cengkareng dan Kalideres; (c) pengembangan kawasan industri di Kapuk dan Kalideres untuk menampung kegiatan industri yang berkembang; (d) pengembangan pusat Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Semanan secara terbatas.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 49 3. Kota Administrasi Jakarta Selatan

Rencana pengembangan kawasan industri di Kota Administrasi Jakarta Selatan dilaksanakan pada kawasan industri di sebelah selatan jalan lingkar luar (outer ring road) dengan pembatasan pengembangan industri baru, peningkatan daya resap air, dan mengembangkan pengelolaan limbah agar tidak mencemari sungai/kali/waduk/situ.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 50 4. Kota Administrasi Jakarta Timur

Rencana pengembangan kawasan industri di Kota Administrasi Jakarta Timur dilaksanakan berdasarkan arahan sebagai berikut: (a) pengembangan industri besar di Kawasan Industri Pulo Gadung, Kecamatan Cakung, Kecamatan Ciracas dan Kecamatan Pasar Rebo; (b) pengembangan industri berteknologi tinggi yang tidak menggangu lingkungan dengan bangunan bertingkat tinggi di Kawasan Industri Pulo Gadung; (c) pengembangan kegiatan industri kecil yang tidak polutif terutama di Kelurahan Penggilingan dan Kramatjati; (d)

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 51 penataan kawasan industri sebagai kawasan industri selektif di Kawasan Industri Pulo Gadung, Kecamatan Cakung, Kecamatan Ciracas, dan Kecamatan Pasar Rebo; (e) penataan industri berlokasi dekat permukiman dengan penyediaan fasilitas pengolahan limbah terpadu di Kelurahan Penggilingan, Pondok Bambu, Duren Sawit, dan Kelurahan Kramatjati.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 52 Berdasarkan kebijakan tata ruang dalam penetapan lahan kawasan industri sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2012 dan Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2014, memberikan makna perusahaan kawasan industri berbentuk badan hukum (Badan usaha milik negara atau badan usaha milik

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 53 daerah, Koperasi, atau Badan usaha swasta),64 dapat melakukan usaha penyediaan kawasan industri sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam PP No.

24 Tahun 2009, antara lain harus mendapatkan izin Usaha Kawasan Industri.

Untuk mendapatkan Izin Usaha Kawasan Industri tersebut, Perusahaan Kawasan Industri wajib memperoleh Persetujuan Prinsip sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perusahaan yang telah memperoleh Persetujuan Prinsip dalam batas waktu 2 (dua) tahun wajib melaksanakan: (a) penyediaan/penguasaan tanah; (b) penyusunan rencana tapak tanah; (c) pematangan tanah; (d) penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan mendapatkan pengesahan; (e) perencanaan dan pembangunan prasarana dan sarana penunjang termasuk pemasangan instalasi/peralatan yang diperlukan; (f) penyusunan Tata Tertib Kawasan Industri; (g) pemasaran kaveling industri; (h) penyediaan, pengoperasian, dan/atau pemeliharaan pelayanan jasa bagi Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri. Dalam batas waktu untuk mempersiapkan pembangunan Kawasan Industri hanya dapat diperpanjang untuk satu kali dengan batas waktu paling lama 2 (dua) tahun.

Perusahaan kawasan industri yang telah memperoleh Persetujuan Prinsip wajib memperoleh Izin Lokasi Kawasan Industri dengan mengajukan permohonan kepada Gubernur. Pemberian Izin Lokasi Kawasan Industri kepada Perusahaan Kawasan Industri dilakukan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta, saat ini RTRW 2030 sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012.

Perusahaan Kawasan Industri wajib memiliki tata tertib kawasan industri sebagaimana diatur dalam Pasal 21 PP No. 24 Tahun 2009. Tata Tertib Kawasan Industri dimaksud paling sedikit memuat informasi mengenai:

(a) hak dan kewajiban masing-masing pihak;

(b) ketentuan yang berkaitan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sesuai hasil studi Analisis Dampak Lingkungan, Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan;

(c) ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait;

(d) ketentuan lain yang ditetapkan oleh pengelola Kawasan Industri.

64 Pasal 15 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 54 Selain itu, perusahaan kawasan industri wajib memfasilitasi perizinan dan hubungan industrial bagi perusahaan industri yang berada di kawasan industri dan wajib memenuhi pedoman teknis kawasan industri sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35/V-IND/PER/3/2010 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri.

Kawasan industri berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan hidup sehingga kewajiban Perusahaan Kawasan Industri melakukan upaya pencegahan pencemaran air sesuai baku mutu air limbah sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri. Yang dimaksud baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/atau kegiatan. Menurut Permen Lingkungan Hidup tersebut, bahwa setiap kawasan industri yang telah mempunyai IPAL terpusat wajib menaati baku mutu air limbah ditetapkan berdasarkan kadar dan kuantitas air limbah Maksimum. Sedangkan kawasan industri belum mempunyai IPAL terpusat, berlaku baku mutu air limbah bagi jenis usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan peraturan menteri yang mengatur mengenai baku mutu air limbah.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas bahwa setiap kawasan industri wajib memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah Terpusat (IPAL) terpusat, yaitu instalasi yang digunakan untuk mengolah air limbah yang berasal dari seluruh industri dan aktivitas pendukungnya yang ada dalam kawasan industri. Atas dasar itu, Penanggung jawab kawasan industri memiliki kewajiban sebagai berikut:

(a) menaati baku mutu air limbah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

(b) melakukan pengelolaan air limbah sehingga mutu air limbah yang dibuang ke sumber air tidak melampaui baku mutu air limbah yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;

(c) menggunakan saluran pembuangan air limbah yang kedap air sehingga tidak terjadi perembesan air limbah ke lingkungan;

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 55 (d) tidak melakukan pengenceran air limbah, termasuk mencampur buangan air bekas pendingin ke dalam aliran buangan air limbah yang berasal dari IPAL terpusat;

(e) memisahkan saluran buangan air limbah dengan saluran limpasan air hujan;

(f) menetapkan titik penaatan untuk pengambilan contoh uji;

(g) memasang alat ukur debit atau laju alir air limbah dan melakukan pencatatan debit harian air limbah tersebut;

(h) melakukan pemantauan harian kadar parameter baku mutu air limbah, untuk parameter pH dan COD;

(i) memeriksakan kadar parameter baku mutu air limbah secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan ke laboratorium yang telah terakreditasi dan teregistrasi di Kementerian Lingkungan Hidup;

(j) menyampaikan laporan debit harian air limbah, pemantauan harian kadar parameter air limbah, dan hasil analisa laboratorium terhadap baku mutu air limbah secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan kepada Gubernur dengan tembusan Meteri Lingkungan Hidup dan Badan Lingkungan Hidup Daerah sesuai dengan peraturan perundangan-undangan;

(k) melaporkan kepada Gubernur dengan tembusan Menteri Lingkungan Hidup mengenai terjadinya keadaan darurat dan/atau kejadian tidak normal yang mengakibatkan baku mutu air limbah dilampaui serta upaya penanggulangannya paling lama 2 x 24 jam.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 56

No. Parameter Satuan Kadar Max

15. Nikel (Ni) mg/L 0,5

16. Seng (Zn) mg/L 10

17. Kuantitas Air Limbah

Maksimum 0,8 L perdetik per Ha Lahan

Kawasan Terpakai Sumber : Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2010

Perusahaan industri yang berada di dalam Kawasan industri wajib memiliki Upaya Pengelolaan Lingkungan, dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Bagi perusahaan industri di dalam kawasan industri yang mengelola atau memanfaatkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan mendapat pengesahan. Perusahaan industri di dalam Kawasan Industri dikecualikan dari perizinan yang menyangkut Gangguan, Lokasi, dan pengesahan rencana tapak tanah. Kewajiban Perusahaan Industri di kawasan Industri sebagai berikut: (a) memenuhi semua ketentuan perizinan dan tata tertib kawasan industri; (b) memelihara daya dukung lingkungan di sekitar kawasan termasuk tidak melakukan pengambilan air tanah;

(c) melakukan pembangunan pabrik dalam batas waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak pembelian lahan; (d) mengembalikan kaveling Industri kepada Perusahaan Kawasan Industri apabila dalam batas waktu yang ditentukan sudah berakhir bagi tidak melakukan pembangunan pabrik. tata cara pengembalian kaveling industri diatur lebih lanjut dalam tata tertib kawasan industri masing-masing kawasan industri.

Penyediaan kawasan industri dan sentra IKM dapat dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui kerjasama dengan pihak swasta sesuai ketentuan yang ditetapkan PP No. 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerja Sama Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4761). Menurut PP tersebut, yang dimaksud kerjasama daerah adalah kesepakatan antara gubernur dengan gubernur atau gubernur dengan bupati/walikota atau antara bupati/

walikota dengan bupati/walikota lain, dan/atau gubernur, bupati/walikota dengan pihak ketiga, yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban.

Pelaksanaan kerjasama berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 57 Bentuk kerjasama yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan swasta (badan hukum) dalam penyediaan kawasan industri dan sentra IKM berdasarkan peraturan perundang-undangan, sebagai berikut:

1. Kerja sama Pemanfaatan (KSP)

Kerjasama pemanfaatan (KSP) berupa pendayagunaan barang milik daerah oleh “pihak lain” dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan

Kerjasama pemanfaatan (KSP) berupa pendayagunaan barang milik daerah oleh “pihak lain” dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan