HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
4.13. Peran serta Masyarakat
Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan perindustrian diatur dalam Pasal 115 dan Pasal 116 UU No. 3 Tahun 2014. Secara lengkap Pasal 115 dan Pasal 116 sebagai berikut:
Pasal 115
(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan Industri.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk:
a. pemberian saran, pendapat, dan usul; dan/atau b. penyampaian informasi dan/atau laporan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peran serta masyarakat dalam pembangunan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 98 Pasal 116
(1) Masyarakat berhak mendapatkan perlindungan dari dampak negatif kegiatan usaha Industri.
(2) Ketentuan mengenai perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4.14. Pembinaan
Untuk mewujudkan tujuan penyelenggaraan perindustrian perindustrian di Provinsi DKI Jakarta sebagaimana termuat dalam Pasal 3 UU No. 3 Tahun 2014, dilakukan pembinaan yang terarah dan terpadu mulai perencanaan, pelaksanaan atau penerapan sampai pengawasan. Berdasarkan PP No. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, yang dimaksud pembinaan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah dan/atau Gubernur selaku Wakil Pemerintah di daerah dalam rangka mewujudkan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah.
Lingkup pembinaan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 PP No. 79 Tahun 2005, meliputi: (a) koordinasi; (b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan pemerintahan; (c) pemberian bimbingan dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan; (d) pendidikan dan pelatihan; (e) perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan.
Lingkup pembinaan tersebut secara rinci sebagai berikut:
a. Koordinasi
Dalam manajemen, koordinasi merupakan suatu usaha untuk meng-harmonisasikan atau menserasikan seluruh kegiatan, sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.91 Keharmonisan dan keserasian dilakukan baik terhadap tugas bersifat teknis, finansial, kepegawaian maupun administrasi. Dengan terciptanya koordinasi, beban tugas antar satuan kerja menjadi seimbang, dan tercipta keseimbangan keadaan atau suasana kelembagaan secara keseluruhan menjadi harmonis dan selaras. Keselarasan
91 Gitosudarmo Indriyo dan Mulyon Agus, Prinsip Dasar Manajemen : Edisi 3, BPFE Jogyakarta, 1996.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 99 akan membawa akibat terjadinya kewajiban di dalam melaksanakan tugas dalam mencapai tujuannya.
Oleh karena itu, koordinasi merupakan usaha menciptakan keadaan yang disebut “3S”, singkatan dari “serasi, selaras, dan seimbang”. Dalam penyelenggaraan perindustrian, yang dimaksud dengan “3S”, adalah : (1) serasi, adanya suatu perbandingan sesuai antara beban tugas dengan pelaksanaan tugas guna merealisasikan maksud tujuan penyelenggaraan pembangunan perindustrian, sehingga terwujud pemuda sebagai generasi penerus bangsa dan negara; (b) selaras, yaitu sinkronisasi antara kebijakan dengan operasional dalam melaksanakan program dan kegiatan dan/atau upaya yang dilakukan dalam memberikan pelayanan kepada pemuda sesuai tugas dan fungsi masing-masing SKPD terkait guna mewujudkan maksud dan tujuan pembangunan perindustrian; (c) seimbang, yaitu adanya pembebanan yang proporsional dalam pelaksanaan tugas baik di Dinas Perindustrian dan Energi maupun SKPD lain guna merealisasikan tujuan penyelenggaran pembangunan perindustrian.
Dalam pelaksanaan teknis operasional, makna koordinasi dapat dikelengkapi dengan 2S sehingga menjadi 5S, yaitu “seragam dan serentak”. Seragam, adanya kesamaan pandang atau persepsi atau prinsip di dalam penyelenggaraan pembangunan perindustrian. Keseragaman memberikan kemudahan dalam pelaksanaan tugas. Oleh sebab itu, koordinasi tingkat pimpinan dan staf diperlukan selain bertujuan memudahkan pelaksanaan operasional di lapangan juga untuk meningkatkan efisiensi. Serentak, yang dimaksud dengan serentak adalah dalam upaya memberikan perlindungan baik kepada remaja dan pemuda secara bersama-sama dalam arti saling menjaga dan menghormati. Hal ini membuat penyelenggaraan pembangunan perindustrian bergerak searah untuk mencapai tujuan yang sama, dan memudahkan untuk digerakkan searah dan sejalan dengan usaha yang dilakukan untuk merealisasikan tujuan yang ditetapkan dan/atau diinginkan.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 100 Berdasarkan uraian di atas, secara garis besar memberikan gambaran bahwa tujuan koordinasi untuk mewujudkan satu visi, misi, dan tujuan melalui program dan kegiatan yang ditetapkan. Karena visi, misi dan tujuan merupakan salah satu komponen dari kebijakan, maka dengan koordinasi terwujud kesatuan tindakan untuk mencapai visi dan misi, serta maksud dan tujuan pembangunan perindustrian.
Suatu program yang direncanakan secara terpusat dalam hal ini menjadi tugas dan fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), sehingga ada unsur pengendalian untuk menjamin harmonisasi dalam pelaksanaan program dan kegiatan baik yang dilakukan Dinas maupun SKPD lain. Tanpa adanya pengendalian bisa berakibat Dinas (Dinas Perindustrian dan Energi) dan SKPD lain bergerak sendiri-sendiri, sehingga terjadi penyimpangan dari tujuan yang ingin dicapai.
Keterpaduan menunjukkan adanya keadaan yang saling mengisi dalam melaksanakan tugas. Dengan prinsip saling isi-mengisi, saling memberi dan saling menerima, maka tugas menjadi semakin efektif dan efisien serta pencerminan dari keterpaduan.
Sarana koordinasi antara lain komunikasi. Pendekatan komunikasi dilakukan untuk mengarahkan, menyatukan tindakan, mewujudkan, menciptakan disiplin untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan yang ditentukan. Keterpaduan antar SKPD/UKPD, instansi vertikal terkait (seperti Kepolisian), dan asosiasi dalam penyelenggaraan pembangunan perindustrian menjadi penting. Fungsi koordinasi tersebut, menjadi tugas Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, untuk mewujudkan visi, misi, serta maksud dan tujuan pembangunan perindustrian, koordinasi menjadi salah satu tokok ukur keberhasilan, maka peran dan fungsi Gubernur dalam koordinasi yang secara teknis menjadi tugas Sekretaris Daerah menjadi penting dalam pembangunan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 101 b. Pemberian pedoman dan standar
Dalam pemberian pedoman dan standar, mulai perencanaan, pelaksanaan, tata laksana, pendanaan, kualitas, pengendalian, dan pengawasan. Pedoman dan standar tersebut disusun dan ditetapkan Gubernur dengan Peraturan Gubernur sesuai pedoman atau aturan yang ditetapkan Pemerintah Pusat, menjadi acuan bagi Dinas dan SKPD lain di dalam penyelenggaraan pembangunan perindustrian, bagi masyarakat dan pelaku usaha.
c. Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi
Bimbingan, supervisi, dan konsultasi, mencakup perencanaan, pelaksanaan, tata laksana, pendanaan, kualitas, pengendalian, dan pengawasan merupakan tugas, wewenang, dan tanggung jawab Kepala Dinas sebagai SKPD pembina yang diberi tugas oleh Gubernur melalui Peraturan Gubernur No. 267 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Perindustrian Dan Energi. Selain itu, Dinas Perindustrian dan Energi juga sebagai pelaksana teknis dapat melakukan pembinaan sesuai kebutuhan kepada pelaku usaha di bidang industri dan anggota masyarakat. Pembinaan yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan pelaku usaha di bidang industri.
d. Pemantauan dan evaluasi
Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan sesuai fungsi dan kewenangan Daerah. Pelaksanaan kegiatan pemantauan dan evaluasi dilakukan sesuai pedoman yang ditetapkan oleh Gubernur. Jika tidak ada Kepala Dinas dapat menyusun pedoman pemantauan dan evaluasi pembangunan perindustrian sebagai bahan perumusan kebijakan oleh Gubernur atau Kepala Dinas.