• Tidak ada hasil yang ditemukan

HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

4.1. Maksud dan Tujuan Penyelenggaraan Perindustrian

Undang-Undang (UU) No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian meletakkan industri sebagai salah satu pilar ekonomi dan memberikan peran yang cukup besar kepada pemerintah untuk mendorong kemajuan industri nasional secara terencana. Peran tersebut diperlukan dalam rangka mengarahkan perekonomian nasional untuk tumbuh lebih cepat dan mengejar ketertinggalan dari negara lain yang lebih dahulu maju. Maksud diselenggarakan pembangunan nasional35 di bidang industri termuat dalam Konsideran Menimbang huruf b dan huruf c dalam UU No. 3 Tahun 2014 berikut ini:

b. bahwa pembangunan nasional di bidang ekonomi dilaksanakan dalam rangka menciptakan struktur ekonomi yang kukuh melalui pembangunan industri yang maju sebagai motor penggerak ekonomi yang didukung oleh kekuatan dan kemampuan sumber daya yang tangguh;

c. bahwa pembangunan industri yang maju diwujudkan melalui penguatan struktur industri yang mandiri, sehat, dan berdaya saing, dengan mendayagunakan sumber daya secara optimal dan efisien, serta mendorong perkembangan industri ke seluruh wilayah Indonesia dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional yang berlandaskan pada kerakyatan, keadilan, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa dengan mengutamakan kepentingan nasional.

Mencermati maksud pembangunan industri secara nasional tersebut di atas, memberikan pandangan kepada Pemerintah Daerah, bahwa penyelenggaraan perindustrian dalam satu kesatuan sistem yang terarah dan terpadu untuk mewujudkan struktur ekonomi yang kokoh melalui pembangunan industri yang maju sebagai motor penggerak ekonomi yang didukung dengan kekuatan dan

35 Yang dimaksud dengan pembangunan nasional menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 2 kemampuan sumber daya yang tangguh melalui penguatan struktur industri yang mandiri, sehat, dan berdaya saing, dengan mendayagunakan sumber daya secara optimal dan efisien dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional yang berlandaskan pada kerakyatan, keadilan, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa dengan mengutamakan kepentingan nasional.

Tujuan penyelenggaraan perindustrian ditetapkan dalam Pasal 3 UU No. 3 Tahun 2014 sebagai berikut:

a. mewujudkan industri nasional sebagai pilar dan penggerak perekonomian nasional;

b. mewujudkan ke dalaman dan kekuatan struktur industri;

c. mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing, dan maju, serta industri hijau;

d. mewujudkan kepastian berusaha, persaingan yang sehat, serta mencegah pemusatan atau penguasaan industri oleh satu kelompok atau perseorangan yang merugikan masyarakat;

e. membuka kesempatan berusaha dan perluasan kesempatan kerja;

f. mewujudkan pemerataan pembangunan industri ke seluruh wilayah indonesia guna memperkuat dan memperkukuh ketahanan nasional;

dan

g. meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan.

Berdasarkan tujuan penyelenggaraan perindustrian tersebut di atas, bahwa penyelenggaraan perindustrian di Provinsi DKI Jakarta bertujuan untuk: (a) mewujudkan industri sebagai pilar dan penggerak perekonomian daerah; (b) mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing, dan maju; (c) mewujudkan kepastian berusaha, persaingan usaha yang sehat,36 serta mencegah pemusatan atau penguasaan industri oleh satu kelompok atau perseorangan yang merugikan masyarakat;37 (d) membuka kesempatan berusaha dan perluasan kesempatan kerja; (e) mewujudkan industri guna memperkuat dan memperkukuh ketahanan industri daerah dan nasional; (f) meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan.

36 Apabila pelaku usaha di bidang industri melakukan persaingan tidak sehat, maka tindakan tersebut termasuk dilarang menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, yang dimaksud dengan persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.

37 Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, yang dimaksud dengan pemusatan kekuatan ekonomi adalah penguasaan yang nyata atas suatu pasar bersangkutan oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 3 4.2. Jenis Kegiatan Industri

Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian tidak menetapkan jenis industri secara tegas. Meskipun demikian, Pasal 101 ayat (2) menyatakan bahwa kegiatan usaha industri meliputi: (a) industri kecil; (b) industri menengah;

(c) industri besar. Atas dasar itu, dapat ditafsirkan bahwa pembagian industri berdasarkan kegiatan yang dilakukan usaha industri. Selanjutnya dalam Pasal 102 menyatakan sebagai berikut:

(1) Industri kecil ditetapkan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan nilai investasi tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

(2) Industri menengah ditetapkan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan/atau nilai investasi.

(3) Industri besar ditetapkan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan/atau nilai investasi.

(4) Besaran jumlah tenaga kerja dan nilai investasi untuk Industri kecil, Industri menengah, dan Industri besar ditetapkan oleh Menteri.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, UU No. 3 Tahun 2014 definisi industri kecil, industri menengah, dan industri besar didelegasikan kepada Menteri Perindustrian. Menurut Peraturan Menteri Perindustrian No 37/M-IND/PER/6/2006 tentang Pengembangan Jasa Konsultansi Industri Kecil dan Menengah (IKM), besaran jumlah tenaga kerja dan nilai investasi untuk Industri kecil, industri menengah, dan industri besar, sebagai berikut:

1. Industri kecil adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi paling banyak Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Industri menengah adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi lebih besar dari Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

3. Industri besar adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi lebih besar dari Rp. 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 4 Berdasarkan definisi tersebut di atas, dapat ditafsirkan bahwa Industri Kecil dan Menengah (IKM) berbentuk badan hukum (perusahaan).38 Untuk menghindari tumpang-tindih dalam pembinaan antara IKM dengan UKM, dalam Rancangan Peraturan Daerah seyogyanya menggunakan nomenklatur badan usaha industri, karena badan usaha merupakan kesatuan yuridis dan ekonomis dari faktor-faktor produksi yang dilakukan industri dengan tujuan mencari laba atau memberi layanan kepada masyarakat. Kesatuan yuridis dimaksud badan usaha industri pada umumnya berbadan hukum. Sedangkan yang dimaksud kesatuan ekonomis karena faktor produksi yang terdiri dari sumber daya alam, modal, dan tenaga kerja untuk mendapat barang dan/atau jasa yang diperlukan oleh masyarakat.

Dengan demikian pengertian badan usaha industri adalah badan usaha yang kegiatannya mengolah dari bahan mentah menjadi barang jadi untuk siap digunakan. Contohnya: perusahaan tekstil, industri logam, kerajinan tangan, dan sebagainya.

Ditinjau dari kepemilikan modal, badan usaha dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: (a) badan usaha milik swasta, yaitu badan usaha yang seluruh modalnya dimiliki swasta, dapat berbentuk perseorangan atau persekutuan.

Contoh: firma, persekutuan komanditer, perseroan terbatas, koperasi, dan sebagainya; (b) Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/D), yaitu badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya milik negara atau daerah, yang berasal dari kekayaan negara/daerah yang dipisahkan. BUMN atau BUMD bergerak di bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak; (c) badan usaha campuran, yaitu badan usaha yang modalnya sebagian milik pemerintah dan sebagian milik swasta. Contohnya Persero dimana modal yang dimiliki oleh badan usaha ini adalah 51% atau lebih dimiliki pemerintah dan paling banyak 49%

dimiliki oleh swasta atau investor.

38 Dalam berbagai literatur menyatakan bahwa dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia menggunakan barang dan jasa yang merupakan hasil kegiatan produksi. Kegiatan produksi tersebut yang dilakukan secara terorganisir dengan menggunakan faktor-faktor produksi umumnya dilakukan oleh perusahaan. Dengan demikian perusahaan diartikan sebagai bagian teknis dari kesatuan organisasi modal dan tenaga kerja yang bertujuan menghasilkan barang atau jasa. Sedangkan usaha adalah kegiatan yang dilakukan manusia untuk mendapatkan penghasilan baik berupa uang, barang mapun jasa yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup guna mencapai kemakmuran.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 5 Jenis badan usaha berdasarkan jumlah pekerjanya, abdan usaha dapat menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: (a) badan usaha kecil, yaitu badan usaha yang mempekerjakan kurang dari 5 orang pekerja; (b) badan usaha sedang, yaitu badan usaha yang mempekerjakan lebih dari 5 orang pekerja dan kurang dari 51 orang pekerja; (c) badan usaha besar, yaitu badan usaha yang mempekerjan lebih dari 50 orang pekerja.

Pengelompokan badan usaha menurut bentuk hukum atau yuridis berkaitan dengan tanggung jawab pemilik badan usaha tersebut terhadap kewajiban atau utang-utang badan usaha, dikelompok dalam 5 (lima) jenis, yaitu: (a) badan usaha perseorangan (Po), yaitu perusahaan yang didirikan, dimiliki, dipimpin, dan dipertanggungjawabkan oleh perseorangan; (b) firma (Fa), yaitu badan usaha yang didirikan dua orang atau lebih yang menjalankan kegiatan usaha dengan satu nama. Masing-masing sekutu (firmant) ikut memimpin perusahaan dan bertanggungjawab penuh terhadap hutang perusahaan; (c) persekutuan komanditer (CV), yaitu badan usaha yang terdiri dari satu atau beberapa sekutu komanditer. Sekutu komanditer adalah sekutu yang hanya menyerahkan atau menyertakan modal, dan tidak turut campur dalam pengelolaan perusahaan.

Pada CV dikenal dua macam sekutu yaitu: Sekutu aktif, yaitu sekutu yang ikut menyertakan modal sekaligus aktif mengelola jalannya usaha. Sekutu pasif atau sekutu komanditer, yaitu sekutu yang hanya menyertakan modal saja dan tidak terlibat dalam pengelolaan usaha; (d) perseroan terbatas (PT), yaitu badan usaha yang dari persekutuan antara dua orang atau lebih yang modalnya diperoleh dengan cara menjual saham. Pemilik saham disebut juga persero, yang memiliki tanggung jawab terbatas terhadap perusahaan. Tanggung jawab terbatas artinya bertanggungjawab sebatas modal yang disetor (saham yang dimiliki). Saham adalah surat berharga dengan nilai nominal tertentu sebagai bukti kepemilikan perusahaan. Saham dapat diperjualbelikan/dipindahtangankan melalui bursa/

pasar saham sesuai dengan besar kecilnya permintaan dan penawaran. Pemilik saham memperoleh pembagian keuntungan perusahaan yang disebut deviden;

(e) koperasi.

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 6 Dengan menggunakan badan usaha industri termasuk untuk kecil dan menengah membedakan dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dilakukan oleh orang perorang atau badan usaha dengan pendekatan koperasi.39 Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, pengertian UKM sebagai berikut:

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar,40 dengan kriteria sebagai berikut:41

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga

ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan,42 dengan kriteria sebagai berikut:43

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua

milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.

50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Sesuai perkembangan industri kecil dan menengah, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian melakukan retruknisasi sarana yang dimiliki industri kecil dan menengah sehingga berpengaruh terhadap nilai investasi pada industri tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Perindustrian No.

11/M-IND/PER/3/2014 tentang Program Retrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Kecil dan Menengah, sebagai berikut:

39 Yang dimaksud dengan koperasi menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Koperasi, adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip Koperasi.

40 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 41 Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 42 Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 43 Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 7 Kriteria industri kecil dan industri menengah sebagai berikut:

a. Industri kecil yaitu industri dengan nilai investasi paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan

b. Industri menengah yaitu industri dengan nilai investasi paling besar dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2014 tersebut di atas, nilai investasi pada kecil dan menengah mengalami perubahan.

Dengan demikian definisi industri kecil dan menengah sebagai berikut:

a. Industri Kecil adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

b. Industri Menengah adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi paling besar dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Sedangkan industri besar tidak mengalami perubahan, yaitu perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi lebih besar dari Rp. 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Tugas dan kewenangan Pemerintah Daerah dalam pembinaan industri sesuai Peraturan Menteri Perindustrian No. 64/M/IND/PER/7/2011 tentang Jenis-Jenis Industri Dalam Pembinaan Direktorat Jenderal dan Badan Di Lingkungan Kementerian Perindustrian, tidak sepenuhnya jenis industri kecil dan industri menengah menjadi tugas dan wewenang Pemerintah Daerah. Jenis industri kecil dan menengah yang menjadi tugas dan wewenang Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perindustrian sebagai berikut:

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 8 Tabel-4.1

Jenis Industri Kecil dan Menengah Pembinaannya Sepenuhnya Dilakukan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah dan

Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri

KBLI44 Kelompok Industri

10211 Industri Penggaraman/Pengeringan Ikan 10214 Industri Pemindangan Ikan

10291 Industri Penggaraman/Pengeringan Biota Air Lainnya 10294 Industri Pemindangan Biota Air Lainnya

10311 Industri Pengasinan/Pemanisasi Buah-Buahan dan Sayuran 10391 Industri Tempe Kedelai

10392 Industri Tahu Kedelai

10615 Industri Pengupasan dan Pembersihan dan Kecang2-an 10616 Industri Pengupasan dan Pembersihan Umbi-Umbian

termasuk Rizoma 10722 Industri Gula Merah 13122 Industri Kain Tenun Ikat

13133 Industri Pencetakan Kain terutama motif batik dan tradisional 13134 Industri Batik untuk batik tulis

13911 Industri Kain Rajutan Khususnya Renda 13912 Industri Kain Sulaman/Bordir

14111 Industri Pakian Jadi (Konveksi) dari Tekstil terutama mukena, selendang, kerudung, dan pakaian tradisional lainnya

16103 Industri Pengawetan Rotan, Bambu, dan Sejenisnya 16292 Industri Barang Anyaman Dari Tanaman Bukan Rotan dan

Bambu, yang memiliki kekayaan khas khasana budaya daerah, nilai seni yang menggunakan bahan baku alamiah dan imitasi

16293 Industri Kerajinan Ukiran Dari Kayu Bukan Mebeller, yang memiliki kekayaan khas khasanah budaya daerah, nilai seni yang menggunakan bahan baku alamian dan imitasi

16294 Industri Alat Dapur Dari Kayu, Rotan dan Bambu, yang memiliki kekayaan khas khasanah budaya daerah, nilai seni yang menggunakan bahan baku alamian dan imitasi

16299 Industri Barang Dari Kayu, Rotan, Gabus Lainnya Yang Tidak Diklasifikasikan Di Tempat Lain, yang memiliki kekayaan khas khasanah budaya daerah, nilai seni yang menggunakan bahan baku alamian dan imitasi.

23932 Industri Perlengkapan Rumah Tangga Dari Tanah Liat/Kramik Untuk Gerabah

44 KBLI Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 57 Tahun 2009

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 9

KBLI44 Kelompok Industri

25931 Industri Perkakas Tangan Untuk Pertanian, yang diperlukan untuk persiapan lahan, proses produksi, permanen, pasca panen, dan pengolahan kecuali cangkul dan sekop

25932 Industri Perkakas Tangan Pertukangan, Untuk yang diproses secara manual atau semi mekanik untuk pertukangan dan pemotongan

25933 Industri Perkakas Tangan Yang Digunakan Dalam Rmhan Tangga, yang diproses secara manual atau semi mekanik untuk pertukangan dan pemotongan

25934 Industri Peralatan Umum, Untuk industri perkakas tangan yang diproses secara manual atau semi mekanik untuk pertukangan dan pemotongan

32201 Industri Alat Musik Tradisional, yang memiliki kekayaan khas khasanah budaya daerah, nilai seni yang menggunakan bahan baku alamian dan imitasi.

33119 Jasa Reparasi Produk Logam Pabrikasi Lainnya

45407 Reparasi dan Perawatan Sepeda Motor, Khusus industri jasa pemeliharaan dan perbaikan sepeda moto kecuali yang terintegrasi dengan bidang usaha penjualan sepeda motor (agen/distributor) dan industri reparasi barang-barang keperlian pribadi dan rumah tangga

95220 Jasa Reparasi Peralatan Rumah Tangga dan Peralatan Rumah dan Kebun, khususnya industri jasa pemeliharaan dan perbaikan sepeda motor kecuali yang terintegrasi dengan bidang usaha penjualan sepeda motor

(agen/distributor) dan industri reparasi barang-barang keperlian pribadi dan rumah tangga

95230 Jasa Reparasi Alas Kaki dan Barang Dari Kulit, khususnya industri jasa pemeliharaan dan perbaikan sepeda motor kecuali yang terintegrasi dengan bidang usaha penjualan sepeda motor (agen/distributor) dan industri reparasi barang-barang keperlian pribadi dan rumah tangga

95240 Jasa Reparasi Furnitur dan Perlengkapan Rumah Tangga 95290 Jasa Reparasi Barang Rumah Tangga dan Pribadi Lainnya.

71201 Jasa Sertifikasi

71202 Jasa Pengujian Laboratorium 71203 Jasa Inspeksi

Sumber : Peraturan Menteri Perindustrian No. 64/M/IND/PER/7/2011

Jenis industri lain yang termuat dalam UU No. 3 Tahun 2014 adalah Industri Kreatif. Pengertian industri kreatif sebagaimana termuat dalam penjelasan Pasal 43 ayat (3) huruf b UU No. 3 Tahun 2014, adalah industri yang mentransformasi dan memanfaatkan kreativitas, keterampilan, dan kekayaan intelektual untuk

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 10 menghasilkan barang dan jasa. Pengembangan industri kreatif sangat dibutuhkan dalam persaingan global karena memberikan kontribusi terhadap ekonomi yang signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, berbasis pada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, serta memberikan dampak sosial yang positif.

Dalam rangka mendorong pengembangan industri kreatif Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perindustrian telah mengembangan jenis industri kreatif di Provinsi Bali dengan membentuk Unit Pelaksana Teknis Industri Kreatif dibawah Kementerian Perindustrian sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 72/M-IND/PER/9/2015 tentang Peta Panduan Pengembangan Pusat Pengembangan Industri Kreatif (Bali Creative Industry Center) Tahun 2015-2019. Jenis industri kreatif dimaksud sebagaimana disajikan dalam Tabel berikut ini.

Tabel-4.2.

Jenis Industri Kreatif menjadi Bali Creative Industry Center (BCIC) Yang Dikembangkan oleh Kementerian Perindustrian

Berdasarkan KBLI 2009

KODE JENIS INDUSTRI KOMODITI/CABANG

INDUSTRI 13121 Industri Pertenunan (Bukan Pertenunan Karung Goni

dan Karung Lainnya) Kerajinan

13122 Industri Kain Tenunan Ikat Kerajinan/Fesyen

13123 Industri Bulu Tiruan Tenunan Kerajinan/Fesyen

13133 Industri Percetakan Kain Kerajinan/Fesyen

13134 Industri Batik Fesyen

13911 Industri Kain Rajutan Kerajinan/Fesyen

13912 Industri Kain Sulaman/Bordir Kerajinan/Fesyen

13913 Industri Bulu Tiruan Rajutan Fesyen

13922 Industri Barang Jadi Tekstil Sulaman Fesyen 13924 Industri Barang Jadi Rajutan dan Sulaman Fesyen

13930 Industri Karpen dan Permadani Kerajinan

14111 Industri Pakain Jadi (Konveksi) dari Tekstil Fesyen 14112 Industri Pakaian Jadi (Konveksi) dari Kulit Fesyen 14120 Penjahitan dan Pembuatan Pakaian sesuai Pesanan Fesyen 14131 Industri Perlengkapan Pakian dari Tekstil Fesyen 14132 Industri Perlengkapan Pakaian dari Kulit Fesyen 14200 Industri Pakaian Jadi dan Barang dari Kulit Fesyen

14301 Industri Pakaian Jadi Rajutan Kerajinan/Fesyen 14302 Industri Pakaian Jadi Sulaman/Bordir Kerajinan/Fesyen 14303 Industri Rajutan Kaos Kaki dan Sejenisnya Fesyen

Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 11

KODE JENIS INDUSTRI KOMODITI/CABANG

INDUSTRI 15121 Industri Barang dari Kulit dan Kulit Buatan untuk

Keperluan Pribadi Fesyen

15123 Industri Barang dari Kulit dan Kulit Buatan untuk Teknik/Industri

Fesyen 15129 Industri Barang dari Kulit dan Kulit Buatan untuk

Keperluan Hewan Fesyen

Industri Barang dari Kulit dan Kulit Buatan untuk

Keperluan Lainnya Kerajinan

15201 Industri Alas Kali untuk Keperluan sehari-hari Fesyen

15202 Industri Sepatu Olahraga Fesyen

15203 Industri Sepatu Teknik Lapangan/Keperluan Industri Fesyen

15209 Industri Alas Kaki Lainnya Fesyen

16291 Industri Barang Anyaman dari Rotan dan Bambu Kerajinan 16292 Industri Barang Anyaman dari Tanaman Bukan Rotan

dan Bambu Kerajinan

16293 Industri Barang Anyaman dari Kayu Bukan Mebeller Kerajinan 23932 Industri Perlengkapan Rumah Tangga dari Tanah

Liat/Keramik Kerajinan

32111 Industri Permata Kerajinan

32112 Industri Barang Perhiasan dari Logam Mulia untuk Keperluan Pribadi

Kerajinan

32115 Industri Perhiasan Mutiara Kerajinan

32119 Industri Barang Lainnya dari Logam Mulia untuk

Keperluan Pribadi Kerajinan

32903 Industri Kerajinan YTDL Kerajinan

59111 Produk Film, Video dan Program Televisi oleh

Pemerintah Animasi, Games,

Perangkat Lunak 59112 Produksi Film, Video dan Program Televisi oleh Swasta Animasi, Games, Perangkat Lunak 59121 Pasca Produksi Film, Video dan Program Televisi oleh

Pemerintah Animasi, Games,

Perangkat Lunak 59122 Pasca Produksi Film, Video dan Program Televisi oleh

Perangkat Lunak 59122 Pasca Produksi Film, Video dan Program Televisi oleh