HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
4.7. Pemberdayaan Industri Kecil, Menengah, dan Kreatif
Pemberdayaan industri kecil dan menengah tidak hanya menjadi kewajiban Pemerintah Daerah melainkan juga Pemerintah Pusat sebagaimana diatur dalam Pasal 72 UU No. 3 Tahun 2014, bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah melakukan pembangunan dan pemberdayaan industri kecil dan industri menengah untuk mewujudkan industri kecil dan industri menengah yang berdaya saing, berperan signifikan dalam penguatan struktur industri, berperan dalam pengentasan kemiskinan melalui perluasan kesempatan kerja, dan menghasilkan barang dan/atau jasa industri untuk diekspor, maka dilakukan perumusan kebijakan, penguatan kapasitas kelembagaan, dan pemberian fasilitas.
Penguatan kapasitas kelembagaan pada industri kecil dan industri menengah menurut Pasal 72 UU No. 3 Tahun 2014, dilakukan melalui: (a) peningkatan kemampuan sentra, unit pelayanan teknis, tenaga penyuluh lapangan, serta konsultan Industri kecil dan Industri menengah; (b) kerja sama dengan lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan pengembangan, serta asosiasi Industri dan asosiasi profesi terkait.
Pemberian fasilitas kepada industri kecil dan menengah menurut Pasal 75 UU No. 3 Tahun 2014, dalam bentuk: (a) peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan sertifikasi kompetensi; (b) bantuan dan bimbingan teknis; (c) bantuan Bahan Baku dan bahan penolong; (d) bantuan mesin atau peralatan; (e) pengembangan produk; (f) bantuan pencegahan pencemaran lingkungan hidup untuk mewujudkan industri hijau; (g) bantuan informasi pasar, promosi, dan pemasaran; (h) akses pembiayaan, termasuk mengusahakan penyediaan modal awal bagi wirausaha baru; (i) penyediaan kawasan industri untuk Industri kecil dan Industri menengah yang berpotensi mencemari lingkungan; dan/atau (j)
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 70 pengembangan, penguatan keterkaitan, dan hubungan kemitraan antara Industri kecil dengan Industri menengah, Industri kecil dengan Industri besar, dan Industri menengah dengan Industri besar, serta Industri kecil dan Industri menengah dengan sektor ekonomi lainnya dengan prinsip saling menguntungkan.
Dalam pengembangan industri kreatif menurut Pasal 43 UU No. 3 Tahun 2014, bahwa Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat sesuai kewenangannya memfasilitasi pengembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi masyarakat dalam pembangunan industri dilakukan dengan memberdayakan budaya Industri dan/atau kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat. Sehubungan itu, dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi masyarakat tersebut, Pemerintah Daerah melakukan: (a) penyediaan ruang dan wilayah bagi masyarakat dalam berkreativitas dan berinovasi; (b) pengembangan sentra Industri kreatif; (c) pelatihan teknologi dan desain; (d) konsultasi, bimbingan, advokasi, dan fasilitasi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual khususnya bagi Industri kecil; (e) fasilitasi promosi dan pemasaran produk Industri kreatif di dalam dan luar negeri.
Pembiayaan pengembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi masyarakat tersebut di atas, menurut Pasal 44 UU No. 3 Tahun 2014 dari Pemerintah Daerah, badan usaha dan/atau masyarakat (orang perseorangan)78. Pembiayaan yang berasal dari Pemerintah Daerah hanya dapat diberikan kepada perusahaan industri yang berbentuk badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah dalam bentuk pemberian pinjaman, hibah dan/atau penyertaan modal.
Pemberdayaan IKM sesuai anjuran Pemerintah Pusat melalui Menteri Perindustrian dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 142/M-IND/PER/10/2009 tentang Pedoman Pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Industri Kecil dan Menengah.
Pembentukan UPT IKM tersebut bertujuan sebagai berikut: (a) membangun, mengerakkan dan mengembangkan kelompok usaha dan/atau perusahaan IKM
78 Pasal 44 ayat (1) Pemerintah memfasilitasi ketersediaan pembiayaan yang kompetitif untuk pembangunan Industri.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 71 serta calon usaha baru; (b) mengembangkan kemampuan daya saing dan produktivitas kelompok usaha dan/atau perusahaan IKM melalui layanan keteknikan dan inovasi teknologi atau peralatan; (c) mengembangan sarana produksi dalam rangka perkuatan usaha IKM.
Peran UPT IKM menurut Peraturan Menteri 142/M-IND/PER/10/2009 sebagai berikut: (a) sebagai agen pembangunan sarana pembinaan dan pelatihan, pelayanan masyarakat IKM dalam mendukung produktivitas kerja IKM, serta menggali sumber dana pembiayaan operasional; (b) sebagai fasilitator, inovator, dinamisator, dan motivator pengembangan potensi produksi serta pemecahan masalah kewirausahaan bagi kelompok usaha dan/atau perusahaan IKM.
Jenis layanan yang diberikan oleh UPT IKM meliputi: (a) pengembangan kopetensi sumber daya manusia, meliputi: pendidikan dan pelatihan industri dan kewirausahaan baik secara klasikal, praktek, magang maupun workshop;
percontohan mesin/peralatan dan teknologi produksi; pengorganisasian, dan pengembangan wawasan; (b) dukungan produksi, meliputi: bantuan dan layanan produksi; jasa pemeliharaan dan reperasi kerusakan alat produksi; bimbingan teknis bidang permesinan/alat produksi; bimbingan teknis bidang proses produksi;
(c) dukungan pemasaran dan layanan bisnis lainnya, berupa penyediaan show room atau fasilitas pameran produk; penerbitan brosur, leaflet dan sejenisnya;
publikasi film dan media masa; fasilitasi temu bisnis; mediasi dengan sumber daya produktif lainnya; (d) jasa konsultasi pengembangan usaha, berupa: jasa pendampingan usaha atau manajemen; jasa konsultasi (diagnosa makro dan mikro); jasa studi kelayakan untuk investasi; bimbingan teknis dan menajemen;
dan fasilitasi layanan hak kekayaan intelektual (HKI); (e) jasa penelitian dan pengembangan, berupa penelitian dan pengembangan untuk inovasi teknologi (produk, desain, dan teknis produksi); inkubator usaha untuk pengujian hasil penelitian dan pengambangan skala UPT IKM; pemberian layanan pengujian atau laboratorium uji sederhana bagi produk IKM.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 4 - 72 Kelembagaan UPT IKM minimal terdiri dari: (a) Kepala UPT dengan tugas mengoordinasikan seluruh operasionalisasi atau kegiatan pelayanan; (b) Kepala Bagian Tata Usaha, tugasnya melaksanakan urusan ketatausahaan guna menunjang kelancaran kegiatan pelayanan UPT IKM; (c) Sub Bidang Konsultasi dengan tugas memberikan layanan konsultasi, mediasi, atau fasilitasi yang diperlukan IKM bindaan dalam mengatasi permasalahan usahanya; (d) operator dengan tugas memberikan layanan teknis melalui pengoperasian mesin dan peralatan.
Pembentukan UPT IKM sebagaimana dianjurkan Kementerian Perindustrian tersebut di atas, diharapkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh IKM selama ini dapat diatasi, sehingga IKM memiliki berdaya saing, berperan signifikan dalam pembangunan daerah dan pengentasan kemiskinan melalui perluasan kesempatan kerja, serta mampu menghasilkan barang dan/atau jasa industri untuk diekspor yang berkualitas. Demikian halnya dengan Industri Kreatif, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat membentuk UPT Industri Kreatif dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal dan pemberdayaan industri kreatif di Provinsi DKI Jakarta.