GAMBARAN UMUM
3.3. Perkembangan Industri Kreatif
Definisi industri kreatif menurut Kementerian Perdagangan, adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeskploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Sementara ekonomi kreatif didefinisikan sebagai sistem kegiatan manusia berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran serta konsumsi barang dan jasa yang bernilai kultural, artistik dan hiburan. Ekonomi kreatif bersumber pada kegiatan ekonomi dari industri kreatif. Dari definisi tersebut, nilai ekonomi dari suatu produk atau jasa dimasa mendatang (era kreatif) tidak lagi ditentukan oleh bahan baku atau sistem
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 11 produksi seperti pada era industri, tetapi pada pemanfaatan kreativitas dan inovasi. Industri tidak dapat lagi bersaing di pasar global hanya mengandalkan harga atau mutu produk saja melainkan bersaing berbasiskan inovasi, kreativitas, dan imajinasi.
Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia tidak memiliki sumber daya alam seperti daerah lain, namun memiliki potensi dalam pengembangan industri kreatif, karena memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai, dengan mobilitas yang tinggi, suasana kota Jakarta yang torelan dan multibudaya, serta atmosfer kerja yang kondusif oleh wirausaha muda dengan inovasi baru, menjadikan industri kreatif dapat tumbuhberkembang dan memberikan kontribusi berarti bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi DKI Jakarta.
Daya tarik kota Jakarta bagi pendatang muda dari luar daerah DKI Jakarta, keberadaan berbagai perguruan tinggi secara tidak langsung memberikan dukungan pengadaan calon pekerja berpengetahuan dan berketerampilan tinggi, sekaligus potensi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan kota Jakarta sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. Kemitraan dengan perguruan tinggi untuk menyiapkan SDM yang kreatif dengan fokus pada penyiapan wirausaha muda yang inovatif dan profesional.
Menurut Richard Florida dalam bukunya The Creative Class Theory, bahwa keberhasilan suatu kota menjadi kota kreatif ditentukan oleh 3 (tiga) faktor, yaitu talenta, toleransi, dan teknologi (3T). Faktor talenta meliputi aspek pekerja kreatif, aspek budaya meneliti, dan aspek modal, sumber daya manusia (SDM).
Kreativitas merupakan jantungnya inovasi, maka pekerja kreatif menentukan kelangsungan industri kreatif. Pekerja dibagi ke dalam dua kategori, yaitu pekerja kreatif (creative class) dan pekerja biasa (working class) yaitu pekerja di bidang pelayanan dan pekerja di bidang pertanian. Semakin tinggi proporsi pekerja "inti superkreatif", semakin tinggi kinerja ekonomi industri kreatif dari kota kreatif. Akan tetapi, Richard mengingatkan, sekalipun pekerja kreatif pengendali pertumbuhan utama, kelas-kelas pekerja lain juga dibutuhkan. Faktor toleransi meliputi aspek sikap, aspek nilai, dan aspek ekspresi diri. Aspek sikap dinilai dari sikap terhadap minoritas, keterbukaan orang-orang asalnya berbeda, kesempatan pekerjaan
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 12 yang tersedia bagi warga bukan putra daerah. Aspek nilai diukur dari sejauh mana nilai-nilai tradisional asli daerah bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan nilai-nilai modern dan sekuler. Aspek ekspresi diri diukur dari sejauh mana suatu kota menghormati hak individu dan kebebasan mengekspresikan dirinya. Aspek tersebut dimiliki Provinsi DKI Jakarta.
Industri kreatif cocok bagi wirausaha inovatif muda dari perguruan tinggi mengawali kariernya di dunia usaha, namun berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional lebih dari 80% lulusan S-1 memilih bekerja dan hanya 4% memilih memulai usaha, bahkan cenderung dalam beberapa tahun terakhir lebih memilih menjadi pengawai negeri sipil (PNS).
Kenyataan tersebut diperkuat hasil riset Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional salah satu kesimpulannya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin rendah kemandiriannya. Hal tersebut dapat dipahami mengapa lulusan perguruan tinggi kurang tertarik berkarier menjadi wirausaha karena dituntut kemandirian yang tinggi.
Di masa mendatang diperlukan pekerjaan yang memiliki keahlian atau keterampilan tertentu. Pekerja kontrak yang fleksibel dan mobile, self-employed, dan freelances, semakin meluas pada usaha mikro, kecil, dan menengah, serta usaha besar membutuhkan spesialisasi operasi/produksi untuk menghasilkan suatu jenis barang/jasa tertentu. Prospek industri kreatif menjanjikan kesempatan kerja, kesejahteraan, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan demikian, pembelajaran life skills seperti pendidikan kewirausahaan inovatif menjadi arah dan strategi dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang industri dalam rangka menunjang terwujudnya tujuan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa setiap daerah perlu berkompetisi secara positif dengan daerah lain dalam meraih perhatian (attention), pengaruh (influence), pasar (market), tujuan bisnis dan investasi.
Di beberapa negara saat ini sedang berkompetisi mengembangan industri kreatif dengan cara masing-masing sesuai kemampuan yang ada pada negara bersangkutan, seperti Singapura memasang iklan dalam surat kabar Indonesia edisi bahasa Inggris beberapa tahun lalu, mengundang generasi muda Indonesia
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 13 yang memiliki bakat menjadi warga negara Singapura asal memiliki konsep bisnis yang kuat dan dituangkan dalam rencana bisnis yang komprehensif. Contoh lain, iklan salah satu televisi di Australia mengundang orang muda dari negara manapun berimigrasi ke kota Adelaide Australia Selatan sebagai wirausaha inovatif dengan menjanjikan berbagai kemudahan dan dukungan menggiurkan.
Ada yang menitikberatkan pada industri usaha kreatif dan budaya (creative cultural industry), ada yang menitikberatkan pada lapangan usaha kreatif (creative industry), dan juga hak kekayaan intelektual seperti hak cipta (copyright industry).
Indonesia mengembangkan industri kreatif dengan pendekatan ekonomi kreatif sebagaimana termuat dalam buku ”Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025: Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015”, antara lain menyatakan bahwa “industri kreatif merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi kreatif”. Dengan kata lain ekonomi kreatif adalah ekonomi yang ditopang antara lain industri kreatif. Pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya menekankan pada pengembangan industri yang termasuk dalam kelompok industri kreatif, melainkan juga pada pengembangan berbagai faktor yang signifikan dalam ekonomi kreatif, yaitu sumber daya manusia, bahan baku, teknologi, tatanan institusi, dan lembaga pembiayaan menjadi komponen pengembangan.
Begitu besarnya dampak positif dari industri kreatif terhadap perekonomian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan perhatian khusus dan memajukan industri kreatif di DKI Jakarta. Selain alasan tersebut potensi industri kreatif sangat besar dan membutuhkan sentuhan kreatif dari generasi muda agar dapat tereksploitasi dan terkelola dengan baik. Penduduk DKI Jakarta ± 9,5 juta jiwa (BPS, 2010) memiliki potensi industri kreatif yang sangat besar, karena sebagian besar penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja berpendidikan menengah ke atas.
Pada Tahun 2007, nilai PDRB Industri Kreatif DKI Jakarta sebesar Rp 89,813 trilyun rupiah dan memberikan kontribusi kepada perekonomian sebesar 15,51% dari PDRB DKI Jakarta. Dengan membandingkan nilai industri kreatif DKI Jakarta tahun 2007 dengan industri kreatif nasional pada tahun 2002-2006,
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 14 nilainya mencapai Rp 104,637 trilyun, dan memberikan kontribusi kepada PDB sebesar 6,28%, maka nilai industri kreatif di DKI Jakarta adalah besar.
Tabel 3.8
Kontribusi Industri Kreatif terhadap PDRB DKI Jakarta Tahun 2007 Menurut Sektor Primer, Sekunder dan Tersier
PDRB Rata-rata
No. Sektor (Jutaan Rp) Kontribusi
Thd PDRB 1. Primer:
Tidak ada industri kreatif yang masuk
dalam golongan industri kreatif - -
2. Sekunde:
Industri pengolahan 6.627.358 11,45
3. Tersier:
Perdagangan produk industri 20.726.802 35,81
Jasa Kreatif 62.458.888 10,79
JUMLAH 89.813.048 15,51
Sumber: Hasil Pengolahan
Struktur perekonomian DKI Jakarta mengarah pada jasa, maka industri kreatif di DKI Jakarta lebih dominan pada sektor yang bersifat tersier. Kontribusi tersebut juga terlihat dari nilai PDB yang dihasilkan oleh masing-masing sektor.
Selain itu dengan membandingkan nilai tambah industri kreatif terhadap PDRB atau PDB suatu wilayahnya, maka perekonomian di DKI Jakarta terdapat industri kreatif yang besar pula. Namun, bila dibandingkan seluruh sektor di dalam perekonomian, nilai kontribusi industri kreatif di DKI Jakarta menempati peringkat kedua setelah sektor jasa keuangan seperti bank, non bank dan jasa penunjang keuangan lainnya sebesar 19,52% bagi PDRB DKI Jakarta. Pada peringkat ketiga, kontribusi terhadap perekonomian diberikan oleh sektor kontruksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 11,88%
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 15
Tabel 3.9
Industri Kreatif Yang Penyerapan Tenaga Kerja dan Produktivitas Di Atas Rata-rata Perekonomian DKI Jakarta
Tenaga Kontribusi Indeks
Sektor Kerja Penyerapan Jml TK Jenis Industri Produktivitas Indeks
(TK) TK
103.738 2.928 1,669 Jasa kegiatan radio dan televisi
Dalam penyerapan tenaga kerja, jumlah seluruh tenaga kerja yang terserap dalam industri kreatif mencapai 616.605 orang, sedangkan jumlah tenaga kerja seluruh DKI Jakarta sebanyak 3.543.028 orang, penyerapan tenaga kerja pada indusri kreati di DKI Jakarta sebesar 17,40%. Penyerapan tenaga industri kreatif dan produktivitas yang dihasilkan industri kreatif terbesar atau di atas angka indeks satu.
Jika diperhatikan perkembangan industri kreatif saat ini di Provinsi DKI Jakarta menjadi pilar utama dalam mengembangkan ekonomi kreatif daerah, karena memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Jakarta dan pendapatan daerah. Oleh sebab itu, potensi industri kreatif memiliki peluang besar bagi Provinsi DKI Jakarta untuk dikembangkan baik di pasar domestik maupun internasional merupakan modal bagi eksistensi industri tersebut. Industri kreatif memberikan harapan baru akan muncul suatu usaha atau kegiatan ekonomi yang lebih banyak mengandalkan sentuhan kreatif individu yang akan membawa ke level kehidupan masyarakat Jakarta yang lebih baik. Produktivitas
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 16 sektor industri kreatif lebih tinggi dari keseluruhan produktivitas tenaga kerja, karena ekonomi kreatif membawa segenap talenta, bakat, dan hasrat individu menciptakan “nilai tambah” melalui hadirnya produk/jasa yang kreatif.
Kemajuan industri kreatif dapat didorong antara lain dengan 5 (lima) cara.
Pertama, promosi industri kreatif akan mendorong membesarnya pasar bagi pelaku industri kreatif. Konsumen semakin sadar akan kemampuan industri kreatif Jakarta untuk memenuhi kebutuhannya. Potensi pasar ekspor hasil industri kreatif masyarakat Jakarta di pasar internasional terbuka lebar. Mendayagunakan staf diplomatik negara sahabat yang ada di Jakarta atau pimpinan kantor perusahaan Indonesia yang ada di luar negeri sebagai pemasar, salah satu cara untuk memperbesar pasar bisnis kreatif Jakarta. Kedua, peningkatan daya saing.
Pengembangan teknologi, ide kreatif, kebijakan dan lingkungan bisnis yang kondusif termasuk “perlindungan bagi personel kreatif” serta peningkatan kompetensi pelaku bisnis terus dilakukan untuk meningkatkan daya saing. Ketiga, penambahan pengalaman. Pengalaman merupakan sumber daya yang tidak bisa ditukar dengan pengetahuan yang didapat secara instan. Melalui proses pembelajaran dari hasil kreasi akan memberi modal bagi penambahan pengalaman berkreasi pelaku bisnis kreatif. Keempat, peningkatan nilai tambah.
Kemajuan bisnis industri kreatif akan mendorong peningkatan nilai tambah perekonomian dan bisnis pada umumnya. Kelima, pengembangan kreativitas.
Pelaku usaha industri kreatif membutuhkan kreativitas dan inovasi, maka dari itu harus dapat mengeksplorasi potensi kreatif yang dimilikinya untuk menghasilkan karya terbaik.
Pemerintah Pusat telah mengembangkan 14 (empat belas) jenis industri kreatif yang menjadi prioritas untuk menjadi perhatian, yaitu:
1. Periklanan
Industri periklanan didefinisikan sebagai industri jasa yang mengemas bentuk komunikasi tentang suatu produk, jasa, ide, bentuk promosi, informasi:
layanan masyarakat, individu maupun organisasi yang diminta pemasang iklan (individu, organisasi swasta/pemerintah) melalui media tertentu (misal: televisi, radio, cetak, digital signage, internet) bertujuan untuk mempengaruhi,
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 17 membujuk target individu/masyarakat untuk membeli, mendukung atau sepakat atas hal yang ingin dikomunikasikan.
Jenis pekerjaan periklanan merupakan jenis pekerjaan yang mem-butuhkan serta menuntut pengetahuan serta kreativitas yang tinggi. Secara umum klasifikasi pekerja subsektor ini dibedakan dalam 2 (dua) kelompok utama, yaitu: pekerja kreatif serta pekerja pendukung (services). Dalam sebuah biro iklan, umumnya akan memiliki departemen sebagai berikut: account services, creative & interactive, media & public relations dan traffic. Pada perusahaan besar, setiap fungsi dapat dilakukan individu berbeda, tetapi di perusahaan kecil tidak menutup karena beberapa fungsi dapat dilakukan oleh individu yang sama.
Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu), meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya: riset pasar, perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atau samples, serta penyewaan kolom untuk iklan.
2. Film/Video dan Fotografi
Industri kreatif film/video dan forografi merupakan kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa fotografi, produksi film (termasuk penulisan skenario, sinematografi, dan lain-lain).
3. Musik
Semua aktivitas yang menyangkut proses produksi album lagu, rekaman suara, komposisi musik termasuk pertunjukan musik.
4. Arsitektur
Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa desain bangunan, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan, pengawasan konstruksi baik secara menyeluruh dari level makro (town planning, urban design, landscape
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 18 architecture) sampai pada level mikro (detail konstruksi, misalnya: arsitektur taman, desain interior).
5. Pasar Seni dan Barang Antik
Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet, misalnya: alat musik, percetakan, kerajinan, automobile, film, seni rupa dan lukisan. Industri kreatif pasar seni dan barang antik berkaitan dengan pengerjaan maupun perdagangan produk-produk antik termasuk di dalamnya hiasan.
6. Kerajinan
Industri kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Produk kerajinan pada umum-nya diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil (bukan produksi massal).
7. Desain
Industri kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan.
8. Desain Fashion
Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.
9. Permainan Interaktif
Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Subsektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi.
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 19 10. Seni Pertunjukan
Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film, pertunjukan tarian tradisional, kontemporer, drama, musik tradisional, teater, opera, dan lain-lain.
11. Penerbitan dan Percetakan
Kegiatan kreatif yang terkait dengan dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita dan pencari berita. Subsektor ini juga mencakup penerbitan perangko, materai, uang kertas, blanko cek, giro, surat andil, obligasi surat saham, surat berharga lainnya, passport, tiket pesawat terbang, dan terbitan khusus lainnya.
Juga mencakup penerbitan foto-foto, grafir (engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi, percetakan lukisan, dan barang cetakan lainnya, termasuk rekaman mikro film.
12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak
Kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengolahan data, pengembangan database, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal termasuk perawatannya.
13. Televisi dan Radio
Kegiatan kreatif berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment, dan lainnya), penyiaran, dan transmisi konten acara televisi dan radio, termasuk kegiatan pemancar kembali (station relay) siaran radio dan televisi.
14. Riset dan Pengembangan
Kegiatan kreatif terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan
Naskah Akademik Raperda tentang Perindustrian Bab 3 - 20 pasar; termasuk dengan humaniora seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra, dan seni; serta jasa konsultansi bisnis dan manajemen
Ke-14 kelompok industri kreatif tersebut di atas, ada yang membutuhkan bahan baku (resources) yang secara langsung berasal dari atau menggunakan objek sumber daya alam, yakni industri kerajinan (crafts), barang seni (arts), serta riset dan pengembangan apabila diarahkan pengembangan dengan objek sumber daya alam. Industri kreatif memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di DKI Jakarta, namun masih banyak kendala yang dihadapi oleh industri, antara lain regulasi belum ada aturan yang rinci guna mendorong pelaku industri kreatif menjual hasil karyanya. Minimnya infrastruktur dan kelembagaan seperti hak cipta intelektual berikut perangkat hukum dan penanganan pembajakan.
Perlindungan Hak Cipta35 merupakan kunci peningkatan insentif untuk berkarya serta memberi hak kepada para pelaku industri kreatif untuk menciptakan nilai ekonomi dari karyanya. Masalah utama yang dihadapi pelaku usaha industri kreatif adalah modal, industri kreatif termasuk sektor yang kurang dilirik perbankan karena tidak ada jaminan. Hingga saat ini belum ada lembaga penjamin bagi industri tersebut untuk mendapat pembiayaan dari perbankan. Hal lain yang dihadapi pelaku usaha industri kreatif adalah harga dan kualitas.
Kualitas industri kreatif seringkali tidak konsisten seperti pengemasan tidak sesuai dengan standar mutu. Ketidaktepatan dalam memenuhi order terutama dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat juga menjadi kendala.