II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu
Dedeh (2009) menganalisis faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun anggaran operasional, menganalisis prosedur penyusunan anggaran, menganalisis penyimpangan yang terjadi antara anggaran dengan realisasi pada PDAM TPKB. Faktor-faktor yang menjadi
bahan pertimbangan dalam menyusun anggaran operasional PDAM TPKB adalah realisasi kegiatan usaha semester II tahun berjalan, estimasi kegiatan yang dapat dicapai pada semester II tahun berjalan, rencana jangka panjang dan faktor penting lainnya yang tertuang dalam program-program tahunnya.
Prosedur penyusunan anggaran diawali dengan pengarahan dari direksi kepada kepala bagian, tiap-tiap bagian menyusun konsep anggarannya, konsep anggaran diserahkan kepada tim penyusun anggaran untuk selanjutnya dibahas dalam rapat koordinasi, dilakukan perbaikan dalam penetapan anggaran, dan selanjutnya direksi mengajukan anggaran tahunan definitif kepada Badan Pengawas untuk mendapat pengesahan. Berdasarkan uji t pada penyimpangan anggaran operasional tahun 2006 dan 2007 diperoleh kesimpulan bahwa penyimpangan total pendapatan, total biaya langsung, total biaya tidak langsung, dan laba bersih anggaran operasional PDAM TPKB masih dalam batas pengendalian manajemen.
Kustiani (2008) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran CSR pada Unit Pengolahan II PT Pertamina (Persero) yang kemudian menganalisis penyimpangan antara anggaran dengan realisasi pada anggaran CSR serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan tersebut. Unit Pengolahan II PT Pertamina (Persero) mempunyai program CSR pada bagian Hubungan Pemerintahan dan Masyarakat (Hupmas) dan bagian Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan anggaran program CSR adalah faktor internal dan faktor eksternal. Selama tahun 2005 sampai tahun 2007 terjadi penyimpangan antara anggaran dengan realisasinya, namun penyimpangan ini masih dalam batas pengendalian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan tersebut yaitu faktor prioritas kebutuhan dan faktor pihak ke III (penerima bantuan).
3.1. Kerangka Pemikiran
PT Pertamina (Persero) merupakan salah satu perusahaan perminyakan terbesar di Indonesia. PT Pertamina (Persero) juga merupakan salah satu perusahaan perseroan yang telah menetapkan perencanaan dana untuk program tanggung jawab sosial sebagai salah satu strategi bisnisnya. Dalam mengalokasikan dana-dana untuk kegiatan tanggung jawab sosial membutuhkan suatu perhitungan yang matang agar lebih efektif terhadap peningkatan profit perusahaan. Dalam pengalokasiannya PT Pertamina (Persero) membutuhkan perhitungan anggaran biaya yang matang dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran biaya. Program tanggung jawab sosial pada PT Pertamina (Persero) awalnya berada pada Divisi Kelembagaan yang dijalankan oleh bagian Hubungan Pemerintahan dan Masyarakat (Hupmas) dan bagian Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang masing-masing bagian memiliki program khusus. Kegiatan tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) kini semakin berkembang pesat sehingga pada akhir 2008 program tanggung jawab sosial dilaksanakan oleh Divisi CSR dan PKBL.
Selama pelaksanaan program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) masih sering ditemukan penyimpangan antara anggaran yang direncanakan dengan realisasi yang terjadi, sehingga perlu dilakukan evaluasi anggaran agar tercipta efektivitas program yang baik. Penelitian ini juga digunakan untuk mengukur penyimpangan anggaran dana tanggung jawab sosial dalam batas pengendalian yang masih bisa diterima oleh perusahaan.
Penganggaran dana tanggung jawab sosial yang baik akan memberikan hasil kegiatan program yang lebih efektif. Selain itu memberi nilai bagi stakeholder dalam hal ini pemerintah dan masyarakat sekitar. Disamping itu, akan mendukung sustainability (keberlanjutan) perusahaan dalam jangka panjang. Gambar berikut menjelaskan kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini.
Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran
Keterangan : : Menunjukan Hubungan : Menunjukan Alat Analisis
PT Pertamina (Persero)
CSR
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan PKBL
Faktor-faktor Pertimbangan dalam Penyusunan Anggaran
Anggaran Dana CSR
Penyimpangan
Analisis Deskriptif
Anggaran Dana yang telah ditetapkan
Realisasi Anggaran Dana
Program CSR Analisis Varians
One Sample t-test
Analisis Deskriptif
Hasil Analisis Tanggung Jawab Sosial
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-April 2010 dengan bertempat di PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur No. 1 A Jakarta Pusat.
3.3. Metode Penelitian 3.3.1. Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
Merupakan data yang didapat dari sumber atau pihak pertama. Data primer diperoleh melalui hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak perusahaan atau pihak lainnya yang berhubungan dengan masalah perusahaan (key-informants), pencatatan di lapangan seperti laporan tahunan perusahaan, laporan Rencana Kerja dan Anggaran Program (RKAP).
2. Data Sekunder
Merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram. Data sekunder diperoleh dari pengumpulan data program tanggung jawab sosial pada divisi CSR dan divisi PKBL, serta berbagai sumber kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan melakukan wawancara kepada 7 (tujuh) orang yang berada pada divisi CSR dan PKBL. Pada divisi CSR dilakukan wawancara kepada Manajer CSR, Asisten Manajer bidang Pendidikan, Asisten Manajer bidang Lingkungan, Asisten Manajer bidang Kesehatan, serta Asisten Manajer bidang Infrastruktur dan Bencana Alam. Sedangkan untuk divisi PKBL dilakukan wawancara kepada Penanggungjawab Program Kemitraan dan Penanggungjawab Program Bina Lingkungan.
3.3.2. Pengolahan dan Analisis Data 3.3.2.1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan suatu analisis yang dilakukan dengan memaparkan suatu aktivitas atau proses yang diteliti.
Salah satu bentuk analisis ini adalah dengan menyimpulkan suatu data mentah dalam jumlah besar sehingga hasilnya mudah ditafsirkan (Kuncoro, 2003).
Statistika deskriptif berusaha menjelaskan atau menggambarkan berbagai karakteristik data seperti rata-rata, median maupun variasi data.
3.3.2.2. Analisis Varians
Dasar penilaian dalam evaluasi anggaran yaitu dengan penyelidikan selisih antara realisasi dengan sasaran yang direncanakan. Dalam anggaran biaya, jika biaya realisasi lebih besar daripada anggaran maka dianggap tidak menguntungkan (unfavorable). Sebaliknya jika realisasi lebih rendah dari anggaran maka dianggap menguntungkan (favorable).
Analisis varians memberikan gambaran tingkat efektivitas kegiatan CSR yang telah dilakukan perusahaan, mengukur tingkat efisien kegiatan CSR yang telah dilakukan terhadap keluaran tertentu, serta mampu digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi untuk kegiatan CSR tahun anggaran berikutnya.
Perbaikan dilakukan tidak berdasarkan penyimpangan tersebut harus menjadi penyimpangan yang positif (favorable), tetapi perlu dilakukan upaya meminimalisasi persentase penyimpangan tersebut. Semakin kecil persentase penyimpangan yang terjadi maka semakin baik penggunaan anggaran dana terhadap realisasi yang terjadi.
Pengolahan data untuk analisis varians menggunakan software komputer Microsoft Excel 2007.
3.3.2.3. Analisis One Sample t-test
Uji hipotesis dengan menggunakan one sample t-test untuk mengukur apakah penyimpangan anggaran dengan realisasi masih dalam batas pengendalian. Tujuan dari one sample t-test adalah untuk membandingkan apakah antara anggaran dan realisasi dana menunjukan nilai yang sama atau berbeda.
Analisis one sample t-test digunakan dalam penelitian ini untuk melihat apakah penyimpangan anggaran dana tanggung jawab sosial tiap tahun dan setiap program yang direncanakan terhadap realisasinya masih dalam batas pengendalian perusahaan. Jika masih dalam batas pengendalian perusahaan, penyimpangan yang terjadi masih dianggap wajar. Namun jika berada di luar batas pengendalian perusahaan, maka penyimpangan tersebut harus dilakukan pengawasan dan perbaikan.
Pengolahan data menggunakan software SPSS 15 for windows. Langkah-langkah dalam one sample t-test yaitu : 1. Buatlah H0 dan H1 dalam uraian kalimat
H0 : Penyimpangan yang terjadi antara anggaran dana tanggung jawab sosial dengan realisasinya masih dalam batas pengendaliaan.
H1 : Penyimpangan yang terjadi antara anggaran dana tanggung jawab sosial dengan realisasinya tidak dalam batas pengendalian
2. Mencari thitung
3. Tentukan terlebih dahulu taraf signifikan (α) Taraf signifikan yang digunakan yaitu α = 5%
4. Tentukan kriteria pengujian
Jika thitung < ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Jika thitung > ttabel H0 ditolak dan H1 diterima.
5. Buat kesimpulan
4.1. Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1. Sejarah PT Pertamina
Pertamina merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditugaskan Pemerintah untuk mengelola kegiatan migas dan panas bumi di Indonesia. Terbentuknya Pertamina berlangsung melalui serangkaian proses panjang dan tidak terlepas dari semangat perjuangan bangsa Indonesia.
Pada zaman penjajahan Belanda abad XIX yaitu tepatnya pada tahun 1871, dimulai proses pencarian dan penemuan minyak di wilayah Indonesia. Berawal dengan proses pemboran minyak bumi di lereng Gunung Ceremai Jawa Barat selama tiga tahun oleh Jan Reenink tidak membuahkan hasil yang memuaskan dari pemboran tersebut. Bangsa Indonesia menjadikan hal ini sebagai proses eksplorasi pertama minyak bumi di Indonesia.
Beberapa tahun kemudian, seorang Belanda yang bernama Aelko Jans Zijlker menemukan ladang minyak pertama di Indonesia yaitu sumur Telaga Said, Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Pemboran yang dilakukan oleh Zijlker pada tanggal 15 Juni 1885 itu menjadi sejarah awal produksi minyak bumi di Indonesia. Setelah keberhasilan ini, ladang-ladang minyak bumi lain ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, antara lain di Wonokromo-Jawa Timur, Cepu-Jawa Tengah, Muara Enim, Talang Akar, dan Plaju-Sumatera Selatan, Sanga-sanga (Kalimantan Timur), Banyu dan Jambi, serta Lapangan Teluk Aru (Sumatera Selatan). Selama masa penjajahan tersebut, perusahaan asing milik Belanda, Inggris, Jepang dan Amerika Serikat saling memperebutkan kekuasaan untuk mengurus minyak bumi yang dimiliki Indonesia.
Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kembali keutuhan negara Indonesia dari tangan penjajah berhasil pada tahun 1945.
Namun, perjuangan bangsa Indonesia tidak terhenti begitu saja, perjuangan untuk menguasai kembali ladang-ladang minyak pun terus berjalan. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, bangsa asing tidak lagi menjadi penjajah melainkan mitra kerja.
Segera setelah Jepang menyerahkan ladang-ladang minyak yang dulu dikuasainya, dibentuklah Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia (PTMRI) pada bulan Januari 1951. PTMRI mempunyai daerah kerja yang meliputi Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Hadirnya PTMRI ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan pemerintah dan golongan politisi mengenai nasib tambang minyak Sumatera Utara.
Setelah dipelajari permasalahannya, dikeluarkanlah mosi DPR oleh Teuku Mohammad Hasan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi Perdagangan dan Industri Dewan Perwakilan Rakyat. Mosi DPR ini berisi sebagai berikut :
1. Mengusulkan kepada pemerintah agar dalam jangka waktu satu bulan membentuk komisi negara urusan pertambangan.
2. Menyarankan kepada pemerintah supaya menunda pemberian izin konsensi dan eksploitasi menunggu hasil kerja komisi negara urusan pertambangan.
Pada bulan April tahun 1954, pemerintah menunjuk koordinator dan memutuskan untuk memberikan subsidi guna merehabilitasi lapangan minyak Sumatera Utara dalam rangka mencapai target produksi satu ton per tahun. Pada tahun itu juga lapangan minyak Sumatera Utara, Langkat dan Langsa (Aceh) digabungkan di bawah satu perusahaan yang diberi nama Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU). Pada tanggal 22 Juli 1957 pemerintah memutuskan untuk menyerahkan lapangan minyak Sumatera Utara kepada Kepala Staff Angkatan Darat (KASAD). Seluruh saham TMSU berdasarkan Keputusan Pemerintah, pengusahaannya diserahkan kepada KASAD yang kemudian diubah menjadi PT Eksplorasi Tambang Minyak Sumatera Utara (PT ETMSU).
PT Pertamina (Persero) yang sekarang ini berdiri kokoh telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Selain perubahan nama, perkembangan ini juga ditandai dengan perkembangan tugas yang dijalaninya. Berikut beberapa kronologis perkembangan hingga menjadi PT Pertamina (Persero) antara lain :
a. PN Permigan
Peraturan Pemerintah Nomor 199 Tahun 1961 (Tanggal 5 Juni 1961) Pemerintah Republik Indonesia membentuk Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas Nasional (PN Permigan).
Peraturan Pemerintah tersebut juga menetapkan PTMRI dilebur ke dalam PN Permigan termasuk hak dan kewajiban, perlengkapan serta kekayaan dan usaha PTMRI ditetapkan beralih kepada PN Permigan.
b. PN Permina
Menegaskan bahwa minyak bumi adalah milik nasional dan bahwa perusahaan yang baru dibentuk itu bukan perusahaan daerah dan tidak bersifat kedaerahan, maka diadakan pergantian nama.
Sebuah nama baru diusulkan dan sejak tanggal 10 Desember 1957 PT ETMSU diubah menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional (PT Permina). Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahir perusahaan minyak nasional yang setiap tahun diperingati oleh Pertamina.
Kemudian pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1960 dan mencabut keputusan Nomor 17 Tahun 1975, terhitung sejak tanggal 1 Juli 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 198 Tahun 1961 agar PT Permina dilebur menjadi Perusahaan Negara Minyak Nasional (PN Permina).
Pada tahun PN Permina membeli aset PT Shell Indonesia, sejak itu bangsa Indonesia memiliki kilang di Plaju dan Balikpapan. Pada bulan Maret 1966 Menteri Minyak Bumi dan
Gas telah menetapkan lima daerah eksplorasi dan produksi PN Permina, yaitu :
1) Unit I meliputi daerah Sumatera Utara dan Aceh dengan kantor pusat di Pangkalan Brandan.
2) Unit II meliputi daerah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Jambi dengan kantor pusat di Plaju.
3) Unit III meliputi daerah Jawa dan Madura dengan kantor pusat di Jakarta.
4) Unit IV meliputi daerah Kalimantan termasuk Tarakan dan Bunyu dengan kantor pusat di Balikpapan.
5) Unit V meliputi daerah Irian Jaya, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara dengan kantor pusat di Sorong.
c. PN Pertamin
Perusahaan minyak Pertamin bermula dari perusahaan campuran Nederlandsche Indische Aardolic Maatschappij (NIAM) yang didirikan pada tahun 1921, yang sahamnya dipegang pemerintah Hindia Belanda dan BPM.
Pada tanggal 1 Januari 1959 NIAM diubah namanya menjadi PT Pertambangan Minyak Indonesia (Permindo). Pemerintah Indonesia tidak bersedia melanjutkan usaha bersama ini ketika kegiatan Permindo berakhir. Maka, perusahaan tersebut dilikuidasi dan kekayaan menjadi hak pemerintah Indonesia dijadikan sebagai bagian modal perusahaan minyak baru, yaitu Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia (PN Pertamin).
PN Pertamin ini di bentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1961 sebagai landasan usaha pertambangan PN Pertamin meliputi eksplorasi pemurnian, pengolahan, pengangkutan, dan penjualan.
d. PN Pertamina
Pada tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1968 telah dibentuk “Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi Nasional (PN Pertamina)” yang menampung segala kegiatan pengurusan dan perusahaan minyak dan gas bumi dari PN Permina dan PN Pertamin. Pada tahun 1969 PN Pertamina berhasil memiliki kilang sungai Gerong.
Maksud dan tujuan penyatuan ini adalah agar benar-benar dapat ditingkatkan baik produktivitas maupun efektivitas serta efisiensi di bidang perminyakan nasional dalam wadah suatu integrated oil company dengan suatu manajemen yang sempurna.
e. Pertamina
Perkembangan dan kemajuan pesat yang dicapai PN Pertamina mendorong diperlukannya dengan segera landasan kerja baru guna meningkatkan kemampuan dan menjamin usaha.
Pada tanggal 15 September 1971 telah diundangkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 mengenai Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Undang-undang Pertamina).
Sejak saat itu PN Pertamina berubah menjadi Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina). Modal Pertamina adalah kekayaan negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar yang ditanam dalam PN Pertamina sampai saat diundangkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971.
Perjalanan rekonstruksi Pertamina sejak tahun 1994 telah menghasilkan milestone dan yang terakhir adalah yang tumbuh dan berkembang menuju Pertamina baru ditahun 2010. Untuk itu setiap langkah, daya dan upaya rekonstruksi yang dilakukan harus membantu mewujudkan visi, misi, dan tata nilai Pertamina yang dicita-citakan dan telah disahkan oleh Direksi Pertamina melalui surat keputusan Direksi Nomor 120/C0000/2000-SO pada tanggal 8 Desember 2000.
f. PT Pertamina (Persero)
Terbitnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 adalah yang mengubah status badan hukum Pertamina menjadi persero
dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003 yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 18 Juni 2003. Pertamina adalah Badan Usaha Milik Negara yang telah berubah bentuk menjadi PT. Persero yang bergerak di bidang energi, petrokimia dan usaha lain yang menunjang bisnis Pertamina, baik di dalam maupun di luar negeri yang berorientasi pada mekanisme pasar.
Pada 17 September 2003 Pertamina resmi menjadi PT.
Pertamina (Persero). Tanggal 10 Desember 2005 Pertamina hadir dengan logo baru dan semangat baru yang “Selalu Hadir Melayani”. Persiapan menuju pasar terbuka, dimulai dengan melepaskan peran regulator, menjamin pasokan BBM selama transisi, dan tetap sebagai supplier of last resort. Dampak dari perubahan UU Pertamina tersebut adalah Pertamina bukan pemegang kuasa pertambangan migas dan bukan pelaku usaha migas satu-satunya baik di Sektor Hulu maupun Hilir di Indonesia.
Kemudian, perusahaan swasta nasional dan asing juga bebas masuk ke Sektor Migas Indonesia. Oleh karena itu, Pertamina menyadari perlunya bersaing dengan semua itu dan meningkatkan kualitas produk serta layanannya terhadap masyarakat Indonesia.
Di dalam setiap perubahannya, Pertamina juga melakukan perubahan terhadap logo atau simbol yang mencirikan perusahaannya. Berikut digambarkan evolusi logo Pertamina hingga saat ini.
Gambar 3. Evolusi Logo Pertamina dari Periode ke Periode
Logo PT Pertamina (Persero) berubah sejak 10 Desember 2005.
Elemen logo Pertamina saat ini menggambarkan bentuk huruf P yang secara keseluruhan merupakan representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai Pertamina yang bergerak maju dan progresif. Setiap warna yang membangunnya mengandung makna tersendiri sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menjalankan bisnis Negara. Warna-warna yang berani menunjukan langkah besar yang diambil Pertamina dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis. Warna biru melambangkan andal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab. Warna hijau melambangkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan.
Sedangkan warna merah melambangkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
4.1.2. Visi, Misi, dan Tata Nilai PT Pertamina
Dalam menjalanan usahanya PT Pertamina memiliki visi dan misi agar perusahaan memiliki arah tujuan dimasa yang akan datang.
Adapun visi perusahaan yaitu Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia. Sedangkan Misi perusahaan yaitu Menjalankan usaha inti minyak, gas, dan bahan bakar nabati secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat. PT Pertamina memiliki komitmen untuk menerapkan Tata Nilai perusahaan dalam rangka mencapai visi dan misinya tersebut, antara lain :
• Clean (Bersih): Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.
• Competitive (Kompetitif): Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja.
• Confident (Percaya Diri): Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.
• Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan): Beorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
• Commercial (Komersial): Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.
• Capable (Berkemampuan): Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan 4.1.3. Struktur Organisasi
Sejak PT Pertamina (Persero) diresmikan pada tanggal 10 Desember 1957, berbagai perubahan direksi telah dilakukan dalam rangka memajukan bisnis perusahaan sebagai perusahaan BUMN.
Berdasarkan Keppres No. 169/M/2000 yang diresmikan pada tanggal 11 Desember 2000 yang berlaku mulai 1 Januari 2001 maka struktur organisasi Pertamina terdiri dari: Direktur Utama, Wakil Direktur Utama, Sekertaris Perseroan, Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI), Kepala Bidang Usaha Lingkungan, Kepala Hukum Korporat, Direktur Hulu, Direktur Pengolahan, Direktur Pemasaran dan Niaga, Direktur Umum dan SDM, Direktur Keuangan, berbagai Divisi, dan Staf.
Berdasarkan SK DIRUT No. 40/C00000/2008-S0 Tanggal 4 Agustus 2008 dan SK No. 42/C00000/2008-S Tanggal 12 Agustus 2008 dan SK DIRUM No. 10/I00000/2008-S Tanggal 10 September 2008, Divisi yang berada langsung dibawah Sekertaris Perseroan antara lain:
Wakil Pimpinan Komunikasi, Wakil Pimpinan Hubungan, Manajer Compliance, Manajer CSR, Manajer BOD Support, dan Manajer BOC Support.
Sudah sejak lama perusahaan memiliki kegiatan tanggung jawab sosial (CSR) tetapi namanya berbeda. Kegiatan ini lebih dikenal Community Development yang merupakan kegiatan-kegiatan sosial berupa permintaan langsung dari masyarakat. Kegiatan Community Development dilaksanakan oleh Divisi Kelembagaan pada unit
Hubungan Masyarakat (Humas). Semakin berkembangnya kegiatan tanggung jawab sosial Pertamina dan sejak ditetapkannya Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007 Pasal 74, menuntut perusahaan untuk melakukan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan secara resmi dimana perusahaan harus menyadari kondisi masyarakat Indonesia dan membantu tanpa perlu diminta oleh masyarakat. Akhir tahun 2008, tanggung jawab sosial Pertamina membentuk divisi sendiri menjadi Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) yang posisinya langsung berada dibawah Direktorat Sekertaris Perseroan (Sekper) yang mana memiliki salah satu tugas pokok dalam membangun dan meningkatkan citra perusahaan secara korporat sesuai Visi, Misi, dan Tata Nilai perusahaan. Sehingga memiliki tujuan terlaksananya kepedulian perusahaan terhadap masyarakat.
Pada divisi Corporate Social Responsibility (CSR), terdapat berbagai posisi dan jabatan, yakni : manajer CSR dan sekertarisnya, asisten manajer pada posisi Administrasi dan Pelaporan, asisten manajer CSR bidang Pendidikan, asisten manajer CSR bidang Lingkungan, asisten manajer CSR bidang Kesehatan, asisten manajer CSR bidang Infrastruktur dan Bencana Alam, serta masing-masing bidang didampingi oleh staf. Pada divisi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) terdiri dari 7 orang dengan tugas dan tanggung jawab yang sama seperti pada divisi CSR.
4.1.4. Fungsi Organisasi CSR a. Manajer CSR
Fungsi Manajer CSR antara lain : Memutuskan, mengendalikan dan mengarahkan program-program kegiatan bidang Pendidikan, Kesehatan Masyarakat, Lingkungan, Sarana Prasarana Umum dan Manajemen Bencana serta Pelaporan kegiatan CSR yang tepat sasaran dan efektif, untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar daerah operasi Pertamina dalam rangka membangun dan meningkatkan citra serta kredibilitas perusahaan.