I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejak awal tahun 1980an dunia ekonomi dan usaha berkembang dengan sangat pesat. Hal ini ditunjang dengan perkembangan pesat di dunia teknologi yang memudahkan komunikasi diantara pelaku dunia usaha baik antarkota, antarnegara, bahkan antarbenua. Kemajuan teknologi ini melahirkan globalisasi yang kemudian memicu semakin kompetitifnya tingkat persaingan di dunia usaha. Perkembangan dunia usaha khususnya di Indonesia kini mengalami perubahan paradigma dalam menghadapi persaingan yang kompetitif. Dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan (single bottom line), tetapi juga meliputi aspek sosial dan lingkungan yang biasa disebut triple bottom line. Sinergisitas dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Konsep Triple Bottom Line atau “3P” (profit, people, dan planet) diterjemahkan oleh John Elkington dalam Wibisono (2007) menjelaskan jika perusahaan ingin sustain, selain mengejar keuntungan, perusahaan juga harus memberi kontribusi positif kepada masyarakat dan ikut aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dalam dunia usaha, paradigma baru inilah yang mendorong perusahaan untuk melakukan kegiatan tertentu sebagai wujud tanggung jawab perusahaan kepada lingkungannya yang dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) dimana perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap stakeholdernya. Stakeholder yang berbeda menghasilkan konsekuensi tanggung jawab yang berbeda pula tergantung dari bentuk hubungan yang muncul antara perusahaan dengan stakeholder tersebut.
Awal 1970-an, Corporate Social Responsibility (CSR) mulai diperkenalkan yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktek yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan.
Menurut Petkoski dan Twose (2003), definisi CSR adalah komitmen bisnis untuk berperan dalam mendukung pembangunan ekonomi, bekerjasama dengan karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan masyarakat luas, untuk meningkatkan mutu hidup mereka dengan berbagai cara yang menguntungkan bagi bisnis dan pembangunan.
Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an.
Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (Corporate Social Activity) atau aktivitas sosial perusahaan. Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual aksinya mendekati konsep CSR yang merepresentasikan bentuk peran serta dan kepedulian perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan. Melalui konsep investasi sosial perusahaan, sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada berbagai perusahaan nasional.
Berdasarkan riset Swa (2006) atas 45 perusahaan di Indonesia menunjukan bahwa tanggung jawab sosial bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan citra perusahaan (37.38 persen), hubungan baik dengan masyarakat (16.82 persen), dan mendukung operasional perusahaan (10.28 persen). Berdasarkan hasil survey 226 perusahaan di 10 kota yang dilakukan oleh PIRAC pada tahun 2001, keterlibatan peusahaan dalam kegiatan sosial di Indonesia masih sangat konvensional, berjangka pendek, dan didasari motivasi untuk menolong anggota masyarakat yang dalam kesulitan ; dengan kata lain menyelesaikan masalah sesaat (Saidi, 2003). Pada saat ini telah banyak perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan besar yang telah melakukan berbagai kegiatan tanggung jawab sosial. Ada perusahaan yang memandang tanggung jawab sosial sebagai komponen biaya, ada yang menilai praktek CSR akan membawa dampak positif terhadap usahanya karena merupakan investasi. Dan ada pula yang menempatkan tanggung jawab sosial sebagai strategi inti dan jantung bisnisnya (Untung, 2008).
PT Pertamina merupakan salah satu perusahaan Badan Hukum Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam industri minyak (minyak mentah dan produk BBM), gas bumi (LNG, LPG, dan BBG), panas bumi, petrokimia dan
energi. Sebagai perusahaan strategis PT Pertamina memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat terutama masyarakat sekitar lingkungan perusahaan. PT Pertamina telah melakukan berbagai kegiatan tanggung jawab sosial di berbagai bidang seperti pada tahun 2009 kegiatan tanggung jawab sosial dalam bidang pendidikan memiliki dua tujuan utama yaitu peningkatkan mutu dan akses pendidikan dengan kegiatan seperti:
Pembangunan/Rehabilitasi Sekolah dan Universitas, Beasiswa Pendidikan, Taman Pintar Yogyakarta, Olimpiade Sains Nasional (OSN). Selain itu tanggung jawab sosial PT Pertamina juga berperan dalam bidang kesehatan, lingkungan hidup, infrastruktur dan bencana alam, serta pemberdayaan masyarakat.
Pedoman Tata kelola Perusahaan merupakan acuan penerapan Good Corporate Governance dalam membuat keputusan, menjalankan tindakan dengan dilandasi moral yang tinggi, patuh kepada Peraturan Perundang-undangan dan kesadaran akan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders). Pedoman Tata kelola Perusahaan PT. Pertamina (Persero) menjadi landasan penerapan prinsip-prinsip Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas/pertanggungjawaban, Independensi/kemandirian, dan Fairness/kewajaran untuk meningkatkan kinerja dan citra perusahaan. Salah satu tujuan penerapan GCG adalah terlaksananya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stakeholder disamping perusahaan harus memaksimalkan nilai perusahaan. Salah satu tujuan program tanggung jawab sosial PT Pertamina adalah untuk meningkatkan nilai dan budaya perusahaan yang terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan. Selain itu program tanggung jawab sosial yang diberikan juga bertujuan untuk meningkatkan citra dan reputasi perusahaan. Hal tersebut mengarahkan pada suatu pembangunan yang berkelanjutan bagi perusahaan.
Menurut Mulyadi (2001) anggaran merupakan suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif, yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran lain, yang mencakup jangka waktu satu tahun. Governmental Accounting Standarts Board (GASB) menyatakan bahwa anggaran
merupakan rencana operasi keuangan yang mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan, dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk membiayainya dalam periode waktu tertentu. Dalam mengalokasikan dana untuk setiap kegiatan tanggung jawab sosial membutuhkan kesesuaian dengan kriteria yang disyaratkan serta meminimalisir kebocoran anggaran untuk program CSR sehingga tidak terjadi penganggaran dana yang berlebihan atau bahkan kekurangan dana yang berakibat pada efektivitas kegiatan CSR dan kemudian berdampak pada keuntungan perusahaan.
Dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial yang sudah dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) terjadi penyimpangan antara anggaran dengan realisasinya. Penyimpangan alokasi dana tersebut merupakan masalah internal dan menjadi perhatian perusahaan sehingga perlu dilakukan evaluasi penyimpangan yang menjadi batas pengendalian yang masih wajar diterima perusahaan dan faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan anggaran terhadap realisasinya, serta dampaknya dalam efektivitas kegiatan yang dijalankan. Hal ini mendorong penulis untuk menganalisis anggaran dana tanggung jawab sosial yang telah dilakukan oleh PT Pertamina (Persero).