bimbingan Farida Ratna Dewi.
PT Pertamina (Persero) merupakan perusahaan perminyakan nasional terbesar di Indonesia. Dalam pengalokasiannya PT Pertamina (Persero) membutuhkan perhitungan anggaran biaya yang matang dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran biaya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi faktor- faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan anggaran dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero), (2) Menganalisis penyimpangan antara anggaran dengan realisasi dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero), (3) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan antara anggaran dengan realisasi program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero).
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari - April 2010 bertempat di PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur No. 1 A Jakarta Pusat. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah analisis varians dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007, analisis one sample t-test dengan menggunakan SPSS versi 15, dan analisis deskriptif.
Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan penyusunan anggaran program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) meliputi faktor internal dan eksternal.
Faktor internal terdiri dari kebijakan Dewan Direksi, kebijakan manajemen, sumber dana, sumber daya manusia, integrasi dengan anak perusahaan, dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Faktor eksternal terdiri dari kebijakan pemerintah, keadaan penduduk sekitar perusahaan, letak geografis, lingkungan sosial (pendidikan, kesehatan, dan bencana).
Prosedur penyusunan anggaran dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) diawali dengan melakukan penyusun konsep anggaran oleh masing-masing asisten manajer kemudian dibahas dalam rapat divisi, hasil rapat diserahkan kepada direksi untuk disetujui, direksi melakukan rapat dan menghasilkan keputusan yang kemudian keputusan diserahkan kepada Direktorat Keuangan untuk dicairkan, Direktorat Keuangan menyampaikan dana kepada masing-masing divisi.
Persentase penyimpangan pada divisi CSR tahun 2007 unfavorable sebesar 78,55 %, pada tahun 2008 penyimpangan favorable sebesar 17,85 %, dan tahun 2009 penyimpangan favorable terjadi sebesar 22,55 %. Pada divisi PKBL penyimpangan tahun 2007 favorable sebesar 12,88 %, pada tahun 2008 penyimpangan unfavorable sebesar 1,38 %, dan pada tahun 2009 penyimpangan yang terjadi unfavorable sebesar 17,54 %.
Penyimpangan dengan menggunakan one sample t test pada divisi CSR tahun 2007 nilai ttabel sebesar 2,353, thitung sebesar -0,771. Pada tahun 2008 thitung sebesar 1,360, ttabel
sebesar 2,353. Tahun 2009 thitung sebesar 1,937, ttabel sebesar 2,132. Nilai thitung lebih rendah dari ttabel maka H0 diterima. Pada divisi PKBL tahun 2007 nilai ttabel sebesar 2,015, thitung sebesar 0,716 ; tahun 2008 thitung sebesar -0,91, ttabel sebesar 2,015 ; tahun 2009 thitung sebesar -0,421, ttabel sebesar 1,943. Nilai thitung lebih rendah dari ttabel maka hipotesis H0 diterima (penyimpangan dalam batas pengendalian).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan antara lain : faktor individu organisasi (perilaku disfungsional, latar belakang pendidikan, kemampuan dalam mengendalikan biaya, partisipasi dalam menyusun anggaran), faktor organisasi (informasi yang asimetris, ketidakjelasan tugas, keadaan ekonomi perusahaan, konsistensi perusahaan terhadap program, keputusan pimpinan), faktor lingkungan (tingkat bencana alam, perayaan event-event penting, jangkauan lokasi sasaran kegiatan, dan sebagainya), faktor pihak ke III (pengajuan proposal bantuan, jenis usaha yang dilakukan, dan tingkat ekonomi penerima bantuan), dan faktor prioritas kebutuhan (jumlah individu yang membutuhkan, tingkat pengaruh bantuan terhadap perusahaan, dan sebagainya).
(Studi Kasus : PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat, Jakarta)
Oleh
CECILIA LABERTA H24063099
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
(Studi Kasus : PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat, Jakarta)
Skripsi
Sebagai salah satu syarat dalam penyelesaian tugas akhir untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
CECILIA LABERTA H24063099
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Jakarta.
Nama : Cecilia Laberta NRP : H24063099
Menyetujui :
Dosen Pembimbing,
(Farida Ratna Dewi, SE. MM.) NIP : 19710307 200501 2 001
Mengetahui : Ketua Departemen,
(Dr. Ir. Jono M Munandar, M.Sc.) NIP : 19610123 198601 1 002
Tanggal Lulus :
iii
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan kuasaNya atas kesehatan, kesabaran, ketekunan, dan anugerah sehingga pembuatan skripsi yang berjudul “Analisis Anggaran Dana Tanggung Jawab Sosial PT Pertamina (Persero) Studi Kasus PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat, Jakarta” dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penyusunan skripsi ini dibantu oleh berbagai pihak, baik secara moril maupun materiil dan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada :
1. Farida Ratna Dewi, SE. MM, selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semangat, kesabaran dalam membimbing, memotivasi, dan memberikan pengarahan kepada penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.
2. Dr. Ir. Jono M. Munandar, M. Sc, selaku Ketua Departemen Manajemen.
3. Dra. Siti Rahmawati dan Yusrina Permanasari, S.Sos. MM, selaku dosen penguji saat berlangsungnya Ujian Sidang. Terima kasih atas segala masukan dan saran yang membangun.
4. Pihak PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat, khususnya kepada divisi CSR dan PKBL, Bapak Guntara selaku Manajer CSR serta Ibu Susilawati, Bapak Julian Iskandar, serta Bapak/Ibu selaku asisten manajer pada divisi CSR.
Tidak lupa kepada Ibu Yoke Syamsidar selaku Manajer PKBL serta Ibu Dini, Bapak Haryanto, dan Bapak/Ibu selaku asisten pada divisi PKBL yang telah memberikan kemudahan kepada penulis selama masa penelitian.
5. Orangtuaku tercinta, saudara-saudaraku tersayang Abang Leo, Kak Clara, Kak Cresensia, dan adikku Ricky atas ketulusan doa restu, kesabaran, keceriaan, semangat, motivasi, perhatian, nasehat, cinta, dan kasih sayang yang terus diberikan kepada penulis.
ii
Penulis lahir di Bandung tanggal 1 Juni 1988. Penulis merupakan anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Bapak S. Situmorang dan Ibu N. Girsang.
Penulis memulai pendidikannya di SD Negeri Babakan Tarogong IV Bandung pada tahun 1994 dan lulus pada tahun 2000. Kemudian penulis melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP di Yos Sudarso Bandung dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Santa Maria 3 Cimahi dan lulus pada tahun 2006. Penulis meneruskan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Selama menjalani perkuliahan, penulis berpartisipasi aktif dalam kepanitiaan di beberapa kegiatan kampus, peserta berbagai seminar dan pelatihan, menjadi pengajar di mata kuliah mayor Manajemen, seksi Publikasi dan Dokumentasi pada acara seminar dan pelatihan MOVE. Penulis juga aktif mengikuti seminar dan pelatihan leadership yang dilaksanakan di luar kampus.
Penulis sempat melaksanakan magang di PT Krakatau Steel Cilegon-Banten pada divisi Operasi Pendanaan. Dan untuk melakukan penelitian ini, penulis juga melaksanakan magang di PT Pertamina (Persero) Jakarta Pusat.
v
DAFTAR ISI
Halaman ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 6
1.5. Ruang Lingkup Penelitian... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1. Corporate Social Responsibility ... 7
2.1.1. Definisi Corporate Social Responsibility ... 7
2.1.2. Konsep Corporate Social Responsibility ... 10
2.1.3. Prinsip-prinsip Corporate Social Responsibility ... 12
2.1.4. Model-model Corporate Social Responsibility ... 13
2.1.5. Tahap-tahap Penerapan CSR ... 15
2.1.6. Manfaat Melakukan CSR dan Ukuran Keberhasilannya ... 17
2.2. Perkembangan CSR di Indonesia ... 19
2.2.1. CSR dan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT) ... 20
2.2.2. Isu-isu CSR ... 22
2.3. Anggaran ... 24
2.3.1. Pengertian Anggaran ... 24
2.3.2. Tujuan Anggaran ... 25
2.3.3. Manfaat Anggaran ... 25
2.3.4. Karakteristik Anggaran ... 27
2.3.5. Fungsi Anggaran ... 27
2.3.6. Organisasi Penyusun Anggaran ... 28
2.3.7. Keterlibatan Anggaran ... 30
2.3.8. Metode Pembuatan Anggaran ... 31
2.4. Analisis Varians (Selisih) Anggaran ... 32
2.5. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu ... 33
III. METODOLOGI PENELITIAN ... 35
3.1. Kerangka Pemikiran ... 35
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 37
3.3. Metode Penelitian ... 37
vi
3.3.1. Pengumpulan Data ... 37
3.3.2. Pengolahan dan Analisis Data ... 38
3.3.2.1. Analisis Deskriptif ... 38
3.3.2.2. Analisis Varians ... 38
3.3.2.3. Analisis One Sample t-test ... 39
IV. PEMBAHASAN ... 40
4.1. Gambaran Umum Perusahaan ... 40
4.1.1. Sejarah PT Pertamina ... 40
4.1.2. Visi, Misi, dan Tata Nilai PT Pertamina ... 46
4.1.3. Struktur Organisasi ... 47
4.1.4. Fungsi Organisasi CSR ... 48
4.1.5. Fungsi Organisasi PKBL ... 50
4.2. Konsep CSR ... 51
4.2.1. Gambaran Umum CSR ... 51
4.2.1.1. Kebijakan CSR Pertamina ... 53
4.2.1.2. Misi dan Tujuan CSR Pertamina ... 54
4.2.1.3. Kriteria Program Tanggung Jawab Sosial ... 55
4.2.2. Program Tanggung Jawab Sosial ... 56
4.2.3. Anggaran Dana Tanggung Jawab Sosial ... 62
4.3. Faktor-faktor yang Menjadi Bahan Pertimbangan dalam Penyusunan Anggaran Program CSR PT Pertamina (Persero) ... 63
4.4. Analisis Penyimpangan dengan Menggunakan Analisis Varians ... 68
4.4.1. Corporate Social Responsibility (CSR) ... 69
4.4.2. Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) ... 79
4.5 Analisis Penyimpangan dengan one sample t-test ... 90
4.5.1. Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) ... 90
4.5.2. Divisi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) ... 92
4.6. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Penyimpangan Anggaran Dana Program CSR PT Pertamina (Persero) ... 93
4.7. Implikasi Manajerial ... 101
KESIMPULAN DAN SARAN ... 103
1. Kesimpulan ... 103
2. Saran ... 105
DAFTAR PUSTAKA ... 106
LAMPIRAN ... 108
iv membantu penulis.
7. Teman-teman satu bimbingan Tiya, Tiara, Diah Ayu, Ayuningtyas, dan Alik terima kasih atas kebersamaan, kekompakan, semangat, dan motivasinya.
Perjalanan kita masih sangat panjang, jadi jangan pernah menyerah dan tetaplah berjuang demi masa depan yang lebih baik.
8. Sahabat-sahabat satu perjuangan di Manajemen 43 yang telah memberikan kenangan kebersamaan yang tidak akan pernah terlupakan selamanya.
9. Sahabat-sahabat satu perjuangan magang dan penelitian di PT Pertamina (Persero), persahabatan yang terjalin begitu singkat. Masukan, dukungan, dan keceriaan yang diberikan telah menjadikan penulis lebih bijak dan mandiri.
10. Sahabat-sahabat satu perjuangan di kostan tercinta Wisma Asri, Mey, Frida, Septi, dan semuanya. Perjalanan selama empat tahun bersama kalian sangat mewarnai hari-hari penulis.
11. Komandan Benny Silalahi yang sangat setia menemani penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semangat, nasehat, dorongan, motivasi, perhatian, serta dukungan yang telah diberikan sangat berarti bagi penulis.
12. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah ikut membantu selama penyusunan skripsi ini.
Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, banyak hal yang telah didapat penulis. Tidak hanya terkait dalam bidang penelitian, namun juga berbagai masukkan bagi pengembangan diri penulis, terutama pembentukan attitude dan softskills yang baik.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan pihak-pihak yang berkepentingan.
Bogor, Juni 2010
Penulis
vii
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Sasaran Pelaksanaan Program CSR Kedepan ... 55
2. Analisis Varians Corporate Social Responsibility Tahun 2007 ... 70
3. Analisis Varians Corporate Social Responsibility Tahun 2008 ... 73
4. Analisis Varians Corporate Social Responsibility Tahun 2009 ... 76
5. Analisis Varians Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun 2007 ... 80
6. Analisis Varians Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun 2008 ... 84
7. Analisis Varians Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun 2009 ... 88
viii
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Struktur Organisasi Penyusunan Anggaran (Mulyadi, 2001) ... 28
2. Bagan Kerangka Pemikiran... 36
3. Evolusi Logo Pertamina dari Periode ke Periode ... 45
4. CSR keterlibatan dengan tiga pihak ... 52
5. Bagan Pengelolaan CSR Pertamina ... 53
6. Grafik Penyebaran Penduduk Propinsi DKI Jakarta ... 67
ix
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Daftar Pertanyaan Wawancara ... 108
2. Struktur Organisasi PT Pertamina (Persero) ... 110
3. Hasil One Sample t-test Penyimpangan Anggaran Dana CSR ... 111
4. Hasil One Sample t-test Penyimpangan Anggaran Dana PKBL ... 113
5. Foto-foto publikasi program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) ... 115
1.1. Latar Belakang
Sejak awal tahun 1980an dunia ekonomi dan usaha berkembang dengan sangat pesat. Hal ini ditunjang dengan perkembangan pesat di dunia teknologi yang memudahkan komunikasi diantara pelaku dunia usaha baik antarkota, antarnegara, bahkan antarbenua. Kemajuan teknologi ini melahirkan globalisasi yang kemudian memicu semakin kompetitifnya tingkat persaingan di dunia usaha. Perkembangan dunia usaha khususnya di Indonesia kini mengalami perubahan paradigma dalam menghadapi persaingan yang kompetitif. Dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan (single bottom line), tetapi juga meliputi aspek sosial dan lingkungan yang biasa disebut triple bottom line. Sinergisitas dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Konsep Triple Bottom Line atau “3P” (profit, people, dan planet) diterjemahkan oleh John Elkington dalam Wibisono (2007) menjelaskan jika perusahaan ingin sustain, selain mengejar keuntungan, perusahaan juga harus memberi kontribusi positif kepada masyarakat dan ikut aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dalam dunia usaha, paradigma baru inilah yang mendorong perusahaan untuk melakukan kegiatan tertentu sebagai wujud tanggung jawab perusahaan kepada lingkungannya yang dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) dimana perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap stakeholdernya. Stakeholder yang berbeda menghasilkan konsekuensi tanggung jawab yang berbeda pula tergantung dari bentuk hubungan yang muncul antara perusahaan dengan stakeholder tersebut.
Awal 1970-an, Corporate Social Responsibility (CSR) mulai diperkenalkan yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktek yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan.
Menurut Petkoski dan Twose (2003), definisi CSR adalah komitmen bisnis untuk berperan dalam mendukung pembangunan ekonomi, bekerjasama dengan karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan masyarakat luas, untuk meningkatkan mutu hidup mereka dengan berbagai cara yang menguntungkan bagi bisnis dan pembangunan.
Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an.
Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (Corporate Social Activity) atau aktivitas sosial perusahaan. Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual aksinya mendekati konsep CSR yang merepresentasikan bentuk peran serta dan kepedulian perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan. Melalui konsep investasi sosial perusahaan, sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada berbagai perusahaan nasional.
Berdasarkan riset Swa (2006) atas 45 perusahaan di Indonesia menunjukan bahwa tanggung jawab sosial bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan citra perusahaan (37.38 persen), hubungan baik dengan masyarakat (16.82 persen), dan mendukung operasional perusahaan (10.28 persen). Berdasarkan hasil survey 226 perusahaan di 10 kota yang dilakukan oleh PIRAC pada tahun 2001, keterlibatan peusahaan dalam kegiatan sosial di Indonesia masih sangat konvensional, berjangka pendek, dan didasari motivasi untuk menolong anggota masyarakat yang dalam kesulitan ; dengan kata lain menyelesaikan masalah sesaat (Saidi, 2003). Pada saat ini telah banyak perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan besar yang telah melakukan berbagai kegiatan tanggung jawab sosial. Ada perusahaan yang memandang tanggung jawab sosial sebagai komponen biaya, ada yang menilai praktek CSR akan membawa dampak positif terhadap usahanya karena merupakan investasi. Dan ada pula yang menempatkan tanggung jawab sosial sebagai strategi inti dan jantung bisnisnya (Untung, 2008).
PT Pertamina merupakan salah satu perusahaan Badan Hukum Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam industri minyak (minyak mentah dan produk BBM), gas bumi (LNG, LPG, dan BBG), panas bumi, petrokimia dan
energi. Sebagai perusahaan strategis PT Pertamina memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat terutama masyarakat sekitar lingkungan perusahaan. PT Pertamina telah melakukan berbagai kegiatan tanggung jawab sosial di berbagai bidang seperti pada tahun 2009 kegiatan tanggung jawab sosial dalam bidang pendidikan memiliki dua tujuan utama yaitu peningkatkan mutu dan akses pendidikan dengan kegiatan seperti:
Pembangunan/Rehabilitasi Sekolah dan Universitas, Beasiswa Pendidikan, Taman Pintar Yogyakarta, Olimpiade Sains Nasional (OSN). Selain itu tanggung jawab sosial PT Pertamina juga berperan dalam bidang kesehatan, lingkungan hidup, infrastruktur dan bencana alam, serta pemberdayaan masyarakat.
Pedoman Tata kelola Perusahaan merupakan acuan penerapan Good Corporate Governance dalam membuat keputusan, menjalankan tindakan dengan dilandasi moral yang tinggi, patuh kepada Peraturan Perundang- undangan dan kesadaran akan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders). Pedoman Tata kelola Perusahaan PT. Pertamina (Persero) menjadi landasan penerapan prinsip- prinsip Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas/pertanggungjawaban, Independensi/kemandirian, dan Fairness/kewajaran untuk meningkatkan kinerja dan citra perusahaan. Salah satu tujuan penerapan GCG adalah terlaksananya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stakeholder disamping perusahaan harus memaksimalkan nilai perusahaan. Salah satu tujuan program tanggung jawab sosial PT Pertamina adalah untuk meningkatkan nilai dan budaya perusahaan yang terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan. Selain itu program tanggung jawab sosial yang diberikan juga bertujuan untuk meningkatkan citra dan reputasi perusahaan. Hal tersebut mengarahkan pada suatu pembangunan yang berkelanjutan bagi perusahaan.
Menurut Mulyadi (2001) anggaran merupakan suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif, yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran lain, yang mencakup jangka waktu satu tahun. Governmental Accounting Standarts Board (GASB) menyatakan bahwa anggaran
merupakan rencana operasi keuangan yang mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan, dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk membiayainya dalam periode waktu tertentu. Dalam mengalokasikan dana untuk setiap kegiatan tanggung jawab sosial membutuhkan kesesuaian dengan kriteria yang disyaratkan serta meminimalisir kebocoran anggaran untuk program CSR sehingga tidak terjadi penganggaran dana yang berlebihan atau bahkan kekurangan dana yang berakibat pada efektivitas kegiatan CSR dan kemudian berdampak pada keuntungan perusahaan.
Dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial yang sudah dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) terjadi penyimpangan antara anggaran dengan realisasinya. Penyimpangan alokasi dana tersebut merupakan masalah internal dan menjadi perhatian perusahaan sehingga perlu dilakukan evaluasi penyimpangan yang menjadi batas pengendalian yang masih wajar diterima perusahaan dan faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan anggaran terhadap realisasinya, serta dampaknya dalam efektivitas kegiatan yang dijalankan. Hal ini mendorong penulis untuk menganalisis anggaran dana tanggung jawab sosial yang telah dilakukan oleh PT Pertamina (Persero).
1.2. Rumusan Masalah
PT Pertamina merupakan salah satu perusahaan BUMN yang menghasilkan minyak dan gas. PT Pertamina telah banyak melakukan aktivitas-aktivitas tanggung jawab sosial terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Sesuai dengan ketentuannya, setiap Perseroan Terbatas harus mengalokasikan biaya untuk kegiatan CSR dan berdasarkan keputusan Menteri BUMN harus mengalokasikan 2% labanya untuk kegiatan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), yang keduanya dipergunakan untuk program tanggung jawab sosial. Tetapi angka ini tidak terpatok pada angka maksimal. Hal ini menyangkut pada pertimbangan proyeksi efektivitas penyaluran dan tingkat pengembalian pada Program Kemitraan atas dana pinjaman yang diberikan kepada usaha kecil dan Koperasi. Dilihat dari sisi pertanggungjawaban keuangan atas setiap investasi yang dikeluarkan dari program CSR menjadi lebih jelas dan tegas, sehingga pada akhirnya
keberlanjutan yang diharapkan akan dapat terimplementasi berdasarkan harapan semua stakeholder.
Belum optimalnya pemanfaatan laporan dana-dana tanggung jawab sosial, sangat mungkin disebabkan karena rendahnya kesadaran perusahaan dalam mengungkapkan permasalahan sosial dan lingkungan yang terjadi serta kurang memonitor dana-dana yang telah disalurkan kepada stakeholdernya. Adapun dana yang disalurkan untuk program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN yang tidak dikembalikan karena berbentuk bantuan seperti bantuan korban bencana alam, bantuan pendidikan dan atau pelatihan, peningkatan kesehatan masyarakat, pengembangan prasarana dan atau sarana umum, bantuan untuk sarana ibadah, dan bantuan untuk pelestarian alam, namun tetap ada monitoring.
Dalam perencanaannya semua kegiatan tanggung jawab sosial dimasukan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Program (RKAP) perusahaan baik secara korporat maupun pada masing-masing bagian yang terkait. Namun dalam pelaksanaannya alokasi dana tanggung jawab sosial dalam pemberian bantuan kepada masyarakat tidak sesuai dengan anggaran yang telah direncanakan.
Terjadi selisih antara anggaran dengan realisasinya sehingga perlu diukur tingkat batas pengendalian yang masih ditoleransi dan faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan untuk meminimalkan selisih tersebut sehingga tercipta program tanggung jawab sosial yang sesuai dengan program kerja yang telah dianggarkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Apakah faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan anggaran dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero)?
2) Bagaimana penyimpangan antara anggaran dengan realisasi dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero)?
3) Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan antara anggaran dengan realisasi program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero)?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan diatas, maka tujuan dari penelitian ini antara lain adalah:
1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan anggaran dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero).
2) Menganalisis penyimpangan antara anggaran dengan realisasi dana tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero).
3) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan
antara anggaran dengan realisasi program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero).
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil yang diperoleh melalui kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1) Perusahaan
Sebagai salah satu bahan masukan atau saran positif untuk mengetahui kebaikan dan kelemahan program tanggung jawab sosial yang telah dilakukan. Serta sebagai bahan pertimbangan dan perbaikan dalam penggunaan dana-dana tanggung jawab sosial yang lebih efektif terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan.
2) Umum
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan informasi serta referensi bagi peneliti dan pihak lain yang berkepentingan.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini berfokus pada anggaran dana tanggung jawab sosial terhadap efektivitas program tanggung jawab sosial pada PT Pertamina (Persero) yaitu menganalisis antara anggaran dengan realisasi dana tanggung jawab sosial.
Analisis terutama ditujukan kepada bagian internal perusahaan yang menjalankan program CSR dan PKBL. Beberapa variabel yang membatasi penelitian ini adalah laporan Rencana Kerja dan Anggaran Program (RKAP) CSR dan PKBL, serta laporan realisasi biaya CSR dan PKBL. Analisis pada bagian eksternal perusahaan tidak diperlukan dalam penelitian ini sehingga tidak melakukan analisis kepada stakeholder yang menerima bantuan.
2.1. Corporate Social Responsibility
2.1.1. Definisi Corporate Social Responsibility
Secara umum Corporate Social Responsibility (CSR) atau corporate citizenship merupakan segala upaya dalam dunia usaha untuk mencari pola-pola kemitraan (partnership) dengan seluruh stakeholder agar dapat berperan dalam pembangunan, sekaligus meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat bertahan dan bahkan berkembang menjadi perusahaan yang mampu bersaing. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan di bentuknya dunia usaha. Perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders perusahaan dengan menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa, serta sekaligus memelihara keseimbangan nilai tambah yang di ciptakannya.
The International Organization of Employers (IOE) mendefinisikan CSR sebagai "initiatives by companies voluntarily integrating social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders." Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pertama, CSR merupakan tindakan perusahaan yang bersifat sukarela dan melampaui kewajiban hukum terhadap peraturan perundang-undangan Negara. Kedua, definisi tersebut memandang CSR sebagai aspek inti dari aktivitas bisnis di suatu perusahaan dan melihatnya sebagai suatu alat untuk terlibat dengan para pemangku kepentingan.
Menurut World Business Council on Sustainable Development adalah komitmen dari bisnis atau perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,
sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas (Wibisono, 2007). Sedangkan definisi tanggung jawab sosial yang digunakan Indonesia Business Links (IBL) adalah strategi atau upaya manajemen yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan berdasarkan keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif dari pilar.
CSR didefinisikan secara berbeda oleh masing-masing perusahaan, akan tetapi secara umum artikulasinya mengandung banyak persamaan.
Kesamaan artikulasi tersebut terletak pada ketatalaksanaan suatu perusahaan dalam mengelola bisnisnya agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Crane, dkk (2008) menyatakan bahwa CSR berarti perusahaan melakukan internalisasi-eksternalitas dalam kegiatan usahanya.
Eksternalitas adalah dampak positif dan negatif aktivitas perusahaan yang ditanggung oleh pihak lain, namun tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan perusahaan, sehingga tidak tercermin dalam harga produk. Seluruh pakar CSR tidak bisa menerima adanya perusahaan yang mengaku ber-CSR namun tidak melakukan manajemen yang optimal atas eksternalitas. Konsekuensinya, apabila perusahaan hendak dianggap berkinerja sosial yang tinggi, ia berturut-turut harus memastikan tiga hal berikut: dampak negatifnya telah ditekan hingga seminimal mungkin, dampak residual (dampak negatif yang masih tersisa setelah ditekan) telah dikompensasi dengan proporsional, dan dampak positifnya telah dikelola semaksimal mungkin. Pemahaman ini didukung oleh Jalal (Aktivis Lingkar Studi CSR, Senior Associate di Kiroyan Partners) bahwa CSR adalah manajemen dampak. CSR terutama berkaitan dengan bagaimana keuntungan dibuat oleh perusahaan, bukan sekadar berapa dan kepada siapa keuntungan itu disebarkan. Citra positif adalah hasil menjalankan CSR dalam jangka panjang, namun citra bukanlah tujuan menjalankan CSR itu sendiri.
Ada berbagai pendapat mengenai aktivitas-aktivitas yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas sosial yang menunjukkan bentuk keterlibatan sosial perusahaan terhadap masyarakat. Kotler dan Lee (2005) merumuskan aktivitas yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial dalam 6 kelompok kegiatan, antara lain :
a. Promotion, adalah aktivitas sosial yang dilakukan melalui komunikasi yang meyakinkan dalam rangka meningkatkan perhatian dan kepedulian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan isu sosial yang sedang berkembang.
b. Marketing, dilakukan melalui komitmen perusahaan untuk menyumbangkan sebesar persentase tertentu hasil penjualannya untuk kegiatan sosial.
c. Corporate Social Marketing, dilakukan dengan cara mendukung atau pengembangan dan atau penerapan suatu perubahan perilaku dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.
d. Corporate Philantropy, merujuk pada kegiatan yang diberikan langsung.
e. Community Volunteering, merupakan bentuk aktivitas sosial yang diberikan perusahaan dalam rangka memberikan dukungan bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Dukungan tersebut dapat diberikan berupa keahlian, talenta, ide, dan atau fasilitas laboratorium.
f. Social Responsibility Business Practices, merupakan kegiatan penyesuaian dan pelaksanaan praktik-praktik operasional usaha dan investasi yang mendukung peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan melindungi atau menjaga lingkungan, misalnya membangun fasilitas pengolahan limbah, memilih supplier dan atau kemasan yang ramah lingkungan, dan lain-lain.
Terdapat 3 (tiga) jenis tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dapat dibedakan, antara lain :
1. Ethical corporate social responsibility, pandangan Lantos yang dikutip oleh Paryati (2006) yaitu bahwa perusahaan memiliki
tanggung jawab untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan atau sosial masyarakat akibat kegiatan bisnis perusahaan.
2. Altoristik corporate social responsibility, adalah aktivitas sosial perusahaan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat tanpa terkait langsung dengan keputusan perusahaan.
3. Strategic corporate social responsibility, adalah aktivitas perusahaan yang ditujukan untuk meningkatkan citra perusahaan pada target pasarnya sehingga meningkatkan pendapatan perusahaan.
2.1.2. Konsep Corporate Social Responsibility
Dari berbagai definisi di atas dapat diketahui bahwa pentingnya sustainability (berkesinambungan/berkelanjutan) yaitu dilakukan secara terus-menerus untuk efek jangka panjang dan bukan hanya dilakukan sekali saja. Konsep CSR memang sangat berkaitan erat dengan konsep sustainability development (pembangunan yang berkelanjutan).
Dengan demikian, konsep CSR mengandung arti selain memiliki tanggung jawab untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemegang saham dan untuk menjalankan bisnisnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku, suatu perusahaan juga memiliki tanggung jawab moral, etika, dan filantropik. Pandangan tradisional mengenai perusahaan melihat bahwa tanggung jawab utama (jika bukan satu-satunya) perusahaan adalah semata-mata terhadap pemiliknya, atau para pemegang saham.
Adanya konsep CSR mewajibkan perusahaan untuk memiliki pandangan yang lebih luas yaitu bahwa perusahaan juga memiliki tanggung jawab terhadap pihak-pihak lain seperti karyawan, supplier, konsumen, komunitas setempat, masyarakat secara luas, pemerintah, dan kelompok-kelompok lainnya. Dalam hal ini, jika sebelumnya pijakan tanggung jawab perusahaan hanya terbatas pada sisi finansial saja (single bottom line), kini dikenal konsep triple bottom line, yaitu tanggung jawab perusahaan berpijak pada 3 dasar, yaitu : finansial, sosial, dan lingkungan.
CSR suatu perusahaan harus memiliki tiga konsep dasar yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Lines (Wibisono, 2007) yaitu profit, people, dan planet :
1. Profit (Keuntungan)
Profit merupakan unsur terpenting dan menjadi utama dari setiap kegiatan usaha. Pada hakekatnya profit merupakan tambahan pendapatan yang digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Sedangkan aktivitas yang dapat ditempuh antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi biaya, sehingga perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif yang dapat memberikan nilai tambah semaksimal mungkin. Pada intinya profit berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan melakukan perkembangan.
2. People (Masyarakat Pemangku Kepentingan)
Masyarakat merupakan stakeholder penting bagi perusahaan, karena dukungan mereka sangat diperlukan bagi keberadaan, keberlangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Intinya berorientasi pada kepedulian terhadap kesejahteraan manusia seperti pemberian beasiswa bagi pelajar, pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan, bantuan modal usaha, dan balai pelatihan keterampilan.
3. Planet (Lingkungan)
Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang kehidupan manusia. Semua kegiatan yang manusia lakukan berhubungan dengan lingkungan. Konsep ini mencakup kegiatan peduli terhadap lingkungan hidup dan berkelanjutan keragaman hayati. Prinsip ini biasanya berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan pemukiman, dan pengembangan pariwisata.
2.1.3. Prinsip-prinsip Corporate Social Responsibility
Secara umum prinsip-prinsip CSR berlandaskan pada konsep pembangunan berkelanjutan dan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Warhust dalam Wibisono (2007) mengajukan prinsip-prinsip CSR sebagai berikut :
1. Prioritas korporat. Mengakui tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi korporat dan penentu utama pembangunan yang berkelanjutan. Dengan begitu korporat bisa membuat kebijakan, program, dan praktek dalam menjalankan operasi bisnisnya dengan cara yang bertanggung jawab secara sosial.
2. Manajemen terpadu. Mengintegrasikan kebijakan, program, dan praktek ke dalam setiap kegiatan bisnis sebagai satu unsur manajemen dalam sebuah fungsi manajemen.
3. Proses perbaikan. Secara berkesinambungan memperbaiki kebijakan, program, dan kinerja sosial korporat berdasarkan temuan riset mutakhir dan memahami kebutuhan sosial serta menerapkan kriteria sosial tersebut secara internasional.
4. Pendidikan karyawan. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan karyawan serta memotivasi karyawan.
5. Pengkajian. Melakukan kajian dampak sosial sebelum memulai kegiatan atau proyek baru dan sebelum menutup satu fasilitas atau meninggalkan lokasi pabrik.
6. Produk dan jasa. Mengembangkan produk atau jasa yang tidak berdampak negatif secara sosial.
7. Informasi publik. Memberikan informasi dan (bila diperlukan) mendidik pelanggan, distributor, dan publik tentang pengunaan yang aman, transportasi, penyimpanan dan pembuangan produk, begitu pula dengan jasa.
8. Fasilitas dan operasi. Mengembangkan, merancang, dan mengoperasikan fasilitas serta menjalankan kegiatan yang mempertimbangkan temuan kajian dampak sosial.
9. Penelitian. Melakukan atau mendukung penelitian dampak sosial bahan baku, produk, proses, emisi, dan limbah yang terkait dengan kegiatan usaha dan penelitian yang menjadi sarana untuk mengurangi dampak negatif.
10. Prinsip pencegahan. Memodifikasi manufaktur, pemasaran, atau penggunaan, produk atau jasa sejalan dengan penelitian mutakhir untuk mencegah dampak sosial yang bersifat negatif.
11. Siaga menghadapi darurat. Menyusun dan merumuskan rencana menghadapi keadaan darurat, dan bila terjadi keadaan berbahaya maka bekerja sama dengan layanan gawat darurat, instansi berwenang, dan komunitas lokal. Sekaligus mengenali potensi bahaya yang muncul.
12. Transfer best practise. Berkontribusi pada pengembangan dan transfer praktek bisnis yang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik.
13. Memberi sumbangan. Sumbangan untuk usaha bersama, pengembangan kebijakan publik dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen pemerintah, serta lembaga pendidikan yang akan meningkatkan kesadaran tentang tanggung jawab sosial.
14. Keterbukaan. Menumbuhkembangkan keterbukaan dan dialog dalam pekerja dan publik, mengantisipasi dan memberi respons terhadap potencial hazard dan dampak operasi, produk, limbah, atau jasa.
15. Pencapaian dan pelaporan. Mengevaluasi kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secara berkala, serta mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria korporat dan peraturan perundang-undangan dalam menyampaikan informasi tersebut pada Dewan Direksi, pemegang saham, pekerja, dan publik.
2.1.4. Model-model Corporate Social Responsibility
Menurut Saidi dan Abidin (2004) terdapat 4 (empat) model CSR yang umum diterapkan oleh perusahaan di Indonesia, antara lain :
1. Keterlibatan langsung
Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini biasanya perusahaan menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate secretary atau public affair manajer atau menjadi bagian dari tugas pejabat public relation.
2. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan
Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau grupnya. Model ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan perusahaan-perusahaan di negara maju. Biasanya perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin, atau dana abadi yang dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan yayasan.
3. Bermitra dengan pihak lain
Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan lembaga sosial/organisasi non pemerintah (Ornop), instansi pemerintah, universitas atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.
4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium
Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.
Dibandingkan dengan model lainnya, pola ini lebih berorientasi pada pemberian hibah perusahaan yang bersifat “hibah pembangunan”.
Pihak konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercayai oleh perusahaan-perusahaan yang mendukungnya secara proaktif mencari mitra kerja sama dari lembaga operasional.
Sedangkan menurut Wibisono (2007), terdapat 2 (dua) model atau pola CSR yang umum diterapkan oleh perusahaan dalam melakukan kegiatan CSR, antara lain :
1. Self managing
Pola keterlibatan secara langsung dan melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan. Kelebihannya adalah pelaksanaan kegiatan lebih
sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan, lebih mudah di kontrol dan di monitor, lebih efisien untuk kegiatan jangka pendek, dan perusahaan dapat belajar langsung merancang program CSR.
Kekurangan self managing adalah keterampilan karyawan yang umumnya masih kurang, membutuhkan sumber daya khusus dengan jumlah yang cukup dan berpotensi pada pembengkakan anggaran.
2. Outsourching
Outsourching memiliki dua pola. Pola pertama adalah bermitra dengan pihak lain, LSM, instansi pemerintah, universitas, media massa, dan sebagainya. Pola kedua dengan bergabung atau mendukung kegiatan bersama baik jangka pendek ataupun jangka panjang. Kelebihan pola Outsourching adalah perusahaan bisa memilih mitra profesional yang sesuai dengan karakter program, tidak memerlukan SDM dengan kapasitas khusus dan kinerja program dapat dengan mudah di evaluasi. Sedangkan kekurangannya yaitu anggaran yang dikeluarkan perusahaan relatif besar, seringkali perusahaan tidak dapat mengikuti perkembangan secara langsung dan diperlukan mekanisme kontrol yang baik.
2.1.5. Tahap-tahap Penerapan CSR
Menurut Wibisono (2007) perusahaan yang telah berhasil dalam menerapkan CSR menggunakan tahapan sebagai berikut :
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan terdiri atas tiga langkah utama yaitu Awareness Building, CSR Assessement, dan CSR manual building.
Awareness Building merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai arti penting CSR dan komitmen manajemen.
Upaya ini dapat dilakukan antara lain melalui seminar, lokakarya, diskusi kelompok, dan lain-lain.
CSR Assessement merupakan upaya untuk memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapatkan prioritas perhatian dan langkah-langkah yang tepat
untuk membangun struktur perusahaan yang kondusif bagi penerapan CSR secara efektif.
Langkah selanjutnya adalah membangun CSR manual building.
Hasil penelitian merupakan dasar penyusunan manual atau pedoman implementasi CSR. Upaya yang mesti dilakukan antara lain melalui benchmarking, menggali dari referensi atau bagi perusahaan yang menginginkan langkah praktis, penyusunan manual ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan tenaga ahli independen dari luar perusahaan.
Manual ini merupakan inti dari perencanaan karena memberikan petunjuk pelaksanaan CSR bagi komponen perusahaan. Penyusunan manual CSR di buat sebagai acuan, pedoman, dan panduan dalam pengelolaan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh perusahaan. Pedoman ini diharapkan mampu memberikan kejelasan dan keseragaman pola pikir dan pola tindak seluruh elemen perusahaan guna tercapainya program yang terpadu, efektif, dan efisien.
2. Tahap Implementasi
Suatu perencanaan harus diimplementasikan atau dilaksanakan.
Tahap implementasi terdiri atas tiga langkah utama yakni sosialisasi, pelaksanaan, dan internalisasi. Sosialisasi diperlukan untuk memperkenalkan berbagai aspek yang terkait dengan implementasi CSR khususnya mengenai pedoman penerapan CSR. Tujuan utama sosialisasi adalah program CSR mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen perusahaan, sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan lancar.
Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya harus sejalan dengan pedoman CSR yang ada, berdasarkan pada roadmap yang telah di susun. Sedangkan internalisasi adalah tahap jangka panjang.
Internalisasi mencakup upaya-upaya memperkenalkan CSR di dalam seluruh proses bisnis perusahaan misalnya melalui sistem manajemen kinerja, prosedur pengadaan, proses produksi,
pemasaran, dan proses bisnis lainnya. Sehingga penerapan CSR menjadi strategi perusahaan bukan lagi sebagai upaya untuk compliance tapi sudah beyond compliance.
3. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi adalah tahap yang diperlukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektivitas penerapan CSR. Evaluasi dilakukan untuk pengambilan keputusan. Misalnya keputusan untuk menghentikan, melanjutkan atau memperbaiki dan mengembangkan aspek-aspek tertentu dari program yang telah diimplementasikan.
Evaluasi juga bisa dilakukan dengan meminta pihak independen untuk melakukan audit implementasi atas praktek CSR yang telah dilakukan. Langkah ini tidak terbatas pada kepatuhan terhadap peraturan dan prosedur operasi standar tetapi juga mencakup pengendalian risiko perusahaan. Evaluasi dalam bentuk assessment audit atau scoring juga dapat dilakukan secara mandatori.
4. Tahap Pelaporan
Pelaporan ditentukan dalam rangka membangun sistem informasi baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material yang relevan mengenai perusahaan. Jadi selain berfungsi untuk keperluan shareholder juga untuk stakeholder lainnya yang memerlukan.
2.1.6. Manfaat Melakukan CSR dan Ukuran Keberhasilannya
Kotler dan Lee (2005) menyatakan bahwa partisipasi perusahaan dalam berbagai bentuk tanggung jawab sosial dapat memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, antara lain :
1. Meningkatkan penjualan dan market share 2. Memperkuat brand positioning
3. Meningkatkan image dan pengaruh perusahaan
4. Meningkatkan kemampuan untuk menarik hati, memotivasi, dan mempertahankan (retain) karyawan
5. Menurunkan biaya operasional
6. Meningkatkan hasrat bagi investor untuk berinvestasi.
Satyo (Media Akuntansi, Edisi 47/Tahun XII/Juli 2005) menyatakan penyajian laporan berkaitan aktivitas sosial dan lingkungan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan antara lain meningkatkan citra perusahaan, di sukai konsumen, dan di minati investor. Tanggung jawab sosial perusahaan tersebut memberikan keuntungan bersama bagi semua pihak, baik perusahaan sendiri, karyawan, masyarakat, pemerintah maupun lingkungan.
Dari segi perusahaan terdapat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR (Susanto, 2007), antara lain :
1. Mengurangi resiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang di terima perusahaan
2. Perlindungan dan membantu perusahaan meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis
3. Ketertiban dan kebanggaan karyawan
4. Memperbaiki dan mempererat hubungan perusahaan 5. Meningkatkan jumlah penjualan
6. Insentif-insentif lainnya.
Terdapat 2 (dua) indikator keberhasilan yang dapat digunakan untuk mengetahui efektivitas program CSR (Wibisono, 2007), yaitu : 1. Indikator internal
a. Ukuran Primer/Kualitatif (M-A-O terpadu)
1) Minimize (M) : Meminimalkan perselisihan/konflik/potensi konflik antara perusahaan dengan masyarakat dengan harapan terwujudnya hubungan yang harmonis dan kondusif.
2) Asset (A) : Aset perusahaan yang terdiri dari pemilik/pemimpin perusahaan, karyawan, pabrik, dan fasilitas pendukungnya terjaga dan terpelihara dengan aman.
3) Operational (O) : Seluruh kegiatan operasional berjalan aman dan lancar.
b. Ukuran sekunder
1) Tingkat penyaluran dan kolektibilitas.
2) Tingkat compliance pada aturan yang berlaku.
2. Indikator eksternal a. Indikator ekonomi
1) Tingkat pertambahan kualitas sarana dan prasarana umum.
2) Tingkat peningkatan kemandirian masyarakat secara ekonomis.
3) Tingkat peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat secara berkelanjutan.
b. Indikator sosial
1) Frekuensi terjadinya gejolak/konflik sosial.
2) Tingkat kepuasan masyarakat.
2.2. Perkembangan CSR di Indonesia
Perkembangan signifikan tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan di Indonesia ditandainya dengan adanya Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 (UU PT), disahkan pada tanggal 20 Juli 2007 yang mengharuskan perseroan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial (CSR). Pada pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan adanya ini, perusahaan khususnya perseroan terbatas yang bergerak di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam harus melaksanakan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat.
Menurut Wibisono (2007) perusahaan memperoleh beberapa keuntungan karena menerapkan tanggung jawab sosialnya antara lain: untuk mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan;
layak mendapatkan ijin untuk beroperasi (social license to operate), mereduksi risiko bisnis perusahaan; melebarkan akses ke sumber daya;
membentangkan akses menuju pasar; mereduksi biaya; memperbaiki
hubungan dengan stakeholders, memperbaiki hubungan dengan regulator; dan meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan.
Pada awal perkembangannya, bentuk tanggung jawab sosial yang paling umum adalah pemberian bantuan terhadap organisasi-organisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Pendekatan CSR yang berdasarkan motivasi karitatif dan kemanusiaan ini pada umumnya dilakukan secara parsial dan tidak melembaga. CSR pada tataran ini hanya berbuat baik agar terlihat baik. Perusahaan yang melakukannya termasuk dalam kategori perusahaan impresif yang lebih mementingkan promosi dibanding pemberdayaannya (Suharto, 2008).
Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang kurang menyukai pendekatan karitatif semacam itu, karena tidak mampu meningkatkan keberdayaan atau kapasitas masyarakat lokal. Pendekatan community development kemudian semakin banyak diterapkan karena lebih mendekati konsep penguasaan dan perbaikan berkelanjutan. Prinsip-prinsip good corporate governance, seperti kejujuran, keterbukaan, akuntabilitas, dan responsibilitas kemudian menjadi pijakan untuk mengukur keberhasilan program CSR.
Kegiatan tanggung jawab sosial yang dilakukan saat ini juga sudah mulai beragam, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Mulai dari pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, pemberian pinjaman modal bagi UKM, pemberian beasiswa, penyuluhan HIV/AIDS, penguatan kearifan lokal, pengembangan skema perlindungan sosial berbasis masyarakat dan seterusnya. CSR pada tataran ini tidak sekadar berbuat baik agar terlihat baik, melainkan menciptakan kebaikan atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2.2.1. CSR dan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT)
Di Indonesia telah banyak perusahaan melakukan berbagai kegiatan CSR, sehingga pemerintah perlu mengeluarkan undang-undang yang terkait dengan pelaksanaan CSR beserta dengan sanksi apabila perusahaan tidak menjalankan CSR. Isi Undang-undang PT No. 40 pasal 74 yang mewajibkan pelaksanaan CSR bagi perusahaan-
perusahaan yang terkait terhadap SDA dan yang menghasilkan limbah antara lain :
Ayat 1, dijelaskan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Ayat 2, dijelaskan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan itu merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatuhan dan kewajaran.
Ayat 3, menggariskan perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana Pasal 1 dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat 4, menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan diatur dengan peraturan pemerintah.
Undang-Undang tersebut memiliki multitafsir dan berpotensi tumpang tindih dengan aturan pada tingkat bawahnya. Misalnya, peraturan tentang lingkungan hidup mengharuskan limbah dari kegiatan produksi dikelola oleh perusahaan sesuai dengan standar yang dimasukan oleh pemerintah, belum jelas apakah masuk dalam bentuk tanggung jawab sosial yang dimasukkan dalam UU PT atau ada bentuk lain. Multitafsir tanggung jawab sosial dalam UU PT ini terjadi karena dalam UU PT ini tidak mendefinisikan tanggung jawab sosial secara jelas, belum ada kesamaan persepsi mengenai tanggung jawab sosial dikalangan pelaku usaha, pemerintah, dan DPR. Apalagi pengaturan tanggung jawab sosial dalam UU PT disahkan oleh DPR tanpa proses partisipatif pelaku usaha. Untuk itu pemerintah dan pelaku usaha perlu mengupayakan komunikasi lebih baik untuk menjembatani kesenjangan persepsi tentang tanggung jawab sosial.
Peraturan lain yang menyentuh tanggung jawab sosial adalah UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa ”Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung
jawab sosial perusahaan.” Meskipun UU ini telah mengatur sanksi- sanksi secara terperinci terhadap badan usaha atau usaha perseorangan yang mengabaikan tanggung jawab sosial (Pasal 34), UU ini baru mampu menjangkau investor asing dan belum mengatur secara tegas perihal tanggung jawab sosial bagi perusahaan nasional.
Jika dicermati, peraturan tentang tanggung jawab sosial yang relatif lebih terperinci adalah UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN. UU ini kemudian dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan Menteri Negara BUMN No. 4 Tahun 2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tata cara pelaksanaan CSR. Seperti kita ketahui, tanggung jawab sosial milik BUMN adalah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).
Dalam UU BUMN dinyatakan bahwa selain mencari keuntungan, peran BUMN adalah juga memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada pengusaha golongan lemah, koperasi dan masyarakat.
Selanjutnya, Peraturan Menteri Negara BUMN menjelaskan bahwa sumber dana PKBL berasal dari penyisihan laba bersih perusahaan sebesar 2 % yang dapat digunakan untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Peraturan ini juga menegaskan bahwa pihak-pihak yang berhak mendapat pinjaman adalah pengusaha beraset bersih maksimal Rp 200 juta atau beromset paling banyak Rp 1 miliar per tahun (Majalah Bisnis dan CSR, 2007).
2.2.2. Isu-isu Tanggung Jawab Sosial
Berdasarkan pendapat dari penelitian 73 pakar CSR yang mengamati perkembangan tanggung jawab sosial di wilayah Asia-Pasifik terdapat 5 (lima) urutan isu-isu terbesar sepanjang sepuluh tahun kedepan (Arisyono, 2009) antara lain :
1. Perubahan iklim
Isu ini dinyatakan sebagai isu yang paling utama dipilihkan oleh para pakar. Pada isu ini terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu keperluan untuk mitigasi dan adaptasi, keperluan seluruh perusahaan untuk menurunkan dampak yang mereka timbulkan atas perubahan iklim, dan keperluan untuk menjalin kerjasama dengan
berbagai pihak dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut. Pilihan para pakar ini sejalan dengan terus meningkatnya bukti-bukti bahwa perubahan iklim disumbangkan terutama oleh sebab-sebab antropogenik, dan perusahaan memainkan peran yang sangat signifikan didalamnya. Bukti-bukti terbaru juga menimbulkan interpretasi bahwa dampak perubahan iklim akan lebih parah daripada yang diramalkan sebelumnya.
2. Tata kelola perusahaan
Merupakan isu terbaru yang akan terjadi dalam sepuluh tahun mendatang. Dengan meluasnya krisis ekonomi baru yang dipicu oleh kecerobohan dan kerakusan sektor finansial, maka isu tata kelola perusahaan yang baik menjadi sangat penting. Di dalam isu ini termasuk transparansi dan akuntabilitas serta kepentingan untuk melibatkan pemangku kepentingan di dalam struktur tata kelola perusahaan. Ide yang paling belakang ini mungkin ekstrim untuk kebanyakan perusahaan, Sesungguhnya sangatlah logis untuk berharap ada pihak-pihak di luar perusahaan yang bisa menyumbangkan pemikiran bagi keputusan-keputusan penting perusahaan, yaitu pemangku kepentingan, karena mereka mampu mempengaruhi dan atau terpengaruh oleh keputusan dan tindakan perusahaan.
3. Pekerjaan dan Sumber Daya Manusia
Isu pekerja dan sumber daya manusia yang mencakup juga hak-hak pekerja dalam rantai pemasok serta isu keragaman dan inklusi. Salah satu kasus menarik adalah bagaimana perusahaan-perusahaan membuat kebijakan dan prosedur tindakan manakala ada calon pekerja dan pekerja yang secara jujur menyatakan mengidap HIV/AIDS, atau mengaku homoseksual. Kebanyakan perusahaan di Asia-Pasifik masih dengan jujur melakukan tindakan eksklusi atas mereka yang memiliki masalah-masalah demikian. Di masa mendatang, kemungkinan akan lebih banyak lagi tuntutan hukum atas perusahaan didasarkan pada tindakan eksklusif seperti itu.
4. Air, keanekaragaman hayati, dan perubahan tata guna lahan
Kelangkaan atau buruknya manajemen air memang telah menjadi isu yang lama di kawasan ini, begitu pula pada keanekaragaman hayati. Namun karena perubahan tata guna lahan seperti dari hutan menjadi penyebab perubahan iklim dan berdampak pada susutnya keanekaragaman hayati, maka isu keanekaragaman hayati menjadi perhatian kembali.
5. Kemitraan
Ada dua yang dicakup disini, yaitu pentingnya kemitraan untuk mendorong penyelesaian masalah-masalah ditingkat global serta strategi inovatif terkait dengan investasi di masyarakat. Tentu saja, isu ini menjadi sangat penting mengingat bahwa perusahaan bukanlah satu-satunya aktor pembangunan, dan tak mungkin menyelesaikan berbagai masalah pembangunan yang rumit itu secara sendirian.
2.3. Anggaran
2.3.1. Pengertian Anggaran
Menurut Machintosh dan Williams (1992) dalam Syakhroza (2000) mendefinisikan anggaran sebagai alat utama bagi manajer untuk menjalankan fungsi manajemen planning, coordinating, dan controlling dengan mengacu kepada target dan strategi perusahaan dalam rangka mencapai tujuan jangka pendek perusahaan.
Menurut Adisaputro dan Asri (2003) bussiness budget adalah suatu pendekatan yang formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.
Menurut Harahap (1997) menyatakan bahwa budget sebagai suatu konsep yang membantu manajemen dalam mencapai tujuannya melalui upaya menuangkannya secara tertulis sasaran yang akan tercapai perusahaan mulai dari sasaran utama, sasaran khusus, sampai rincian dan penyebabnya.
Menurut Nafarin (2007) anggaran adalah suatu rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program-program yang telah disahkan. Anggaran (budget) merupakan rencana tertulis mengenai
kegiatan suatu organisasi yang direncanakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu.
Anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan. Jadi anggaran bukan merupakan tujuan dan tidak dapat menggantikan manajemen.
2.3.2. Tujuan Anggaran
Tujuan penyusunan anggaran menurut Nafarin (2007), antara lain : 1. Untuk digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih
sumber dan investasi dana.
2. Untuk mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan digunakan.
3. Untuk merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana sehingga dapat memudahkan pengawasan
4. Untuk merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil yang maksimal.
5. Untuk menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan anggaran lebih jelas dan nyata terlihat.
6. Untuk menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan dengan keuangan.
2.3.3. Manfaat Anggaran
Manfaat penyusunan anggaran menurut Nafarin (2007) adalah sebagai berikut :
1. Segala kegiatan dapat terarah pada pencapaian tujuan bersama.
2. Dapat digunakan sebagai alat menilai kelebihan dan kekurangan pegawai.
3. Dapat memotivasi pegawai.
4. Menimbulkan tanggung jawab tertentu pada pegawai.
5. Menghindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu.
6. Sumber daya seperti tenaga kerja, peralatan, dan dana dapat dimanfaatkan seefisien mungkin.
7. Alat pendidikan bagi para manajer.
Menurut Ahyari (2002), penggunaan anggaran dalam perusahaan akan mendapatkan beberapa manfaat diantaranya :
1. Terdapatnya perencanaan terpadu.
Dengan menggunakan anggaran, perusahaan akan dapat menyusun perencanaan seluruh kegiatan secara terpadu. Tidak ada satupun kegiatan yang dilakukan dalam perusahaan yang terlepas dari anggaran, karena seluruh kegiatan yang dilaksanakan tersebut akan memerlukan biaya.
2. Terdapatnya pedoman pelaksanaan kegiatan perusahaan.
Dengan adanya anggaran perusahaan, maka pelaksanaan kegiatan yang ada dalam perusahaan tersebut dapat dilaksanakan dengan lebih pasti, karena dapat mendasarkan diri kepada anggaran yang telah ada. Pelaksanaan dengan mempergunakan anggaran yang telah ditetapkan akan menghasilkan kegiatan yang sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dalam perusahaan tersebut.
3. Terdapatnya alat koordinasi dalam perusahaan.
Penyusunan anggaran akan meliputi seluruh kegiatan yang ada, dengan demikian akan melibatkan seluruh bagian dalam perusahaan. Pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan anggaran sebagai pedoman akan berarti melakukan kegiatan dalam perusahaan tersebut di bawah koordinasi yang baik.
4. Terdapatnya alat pengawasan yang baik.
Jika perusahaan sedang menyelesaikan suatu kegiatan, maka manajemen perusahaan akan dapat membandingkan pelaksanaan kegiatan tersebut dengan anggaran yang telah ditetapkan dalam perusahaan tersebut, dalam hal ini anggaran akan dapat digunakan sebagai alat pengawasan kegiatan yang sedang dilaksanakan dalam perusahaan.
5. Terdapatnya alat evaluasi kegiatan perusahaan.
Perusahaan yang mempunyai anggaran untuk kegiatan pelaksanaan kegiatan operasionalnya, akan dapat melaksanakan evaluasi rutin setiap kali selesai melaksanakan kegiatan tersebut. Seberapa jauh
penyimpangan pelaksanaan kerja dari rencana yang telah disusun serta penyebab apa saja yang menimbulkan penyimpangan kerja tersebut dapat didiskusikan di dalam perusahaan serta dicarikan jalan keluarnya.
2.3.4. Karakteristik Anggaran
Menurut Mulyadi (2001) karakteristik anggaran sebagai berikut : 1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain
keuangan.
2. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu satu tahun.
3. Anggaran berisikan komitmen atau kesanggupan manajemen, yang berarti bahwa para manajer setuju untuk menerima tanggung jawab untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam anggaran.
4. Usulan anggaran di-review dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi dari penyusun anggaran.
5. Sekali disetujui, anggaran hanya dapat berubah pada kondisi tertentu.
6. Secara berkala, kinerja keuangan sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran selisihnya dianalisis dan dijelaskan.
2.3.5. Fungsi Anggaran
Anggaran memiliki fungsi yang sama dengan manajemen yang meliputi fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Hal ini disebabkan anggaran mempunyai fungsi sebagai alat manajemen dalam melaksanakan fungsinya. Menurut Nafarin (2007) fungsi anggaran diantaranya :
1. Fungsi Perencanaan
Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis yang menuntut pemikiran teliti, karena anggaran memberikan gambaran yang lebih nyata/jelas dalam unit dan uang.
2. Fungsi Pelaksanaan
Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan (laba). Jadi anggaran penting untuk menyelaraskan