II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Perkembangan CSR di Indonesia
Perkembangan signifikan tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan di Indonesia ditandainya dengan adanya Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 (UU PT), disahkan pada tanggal 20 Juli 2007 yang mengharuskan perseroan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial (CSR). Pada pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan adanya ini, perusahaan khususnya perseroan terbatas yang bergerak di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam harus melaksanakan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat.
Menurut Wibisono (2007) perusahaan memperoleh beberapa keuntungan karena menerapkan tanggung jawab sosialnya antara lain: untuk mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan;
layak mendapatkan ijin untuk beroperasi (social license to operate), mereduksi risiko bisnis perusahaan; melebarkan akses ke sumber daya;
membentangkan akses menuju pasar; mereduksi biaya; memperbaiki
hubungan dengan stakeholders, memperbaiki hubungan dengan regulator; dan meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan.
Pada awal perkembangannya, bentuk tanggung jawab sosial yang paling umum adalah pemberian bantuan terhadap organisasi-organisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Pendekatan CSR yang berdasarkan motivasi karitatif dan kemanusiaan ini pada umumnya dilakukan secara parsial dan tidak melembaga. CSR pada tataran ini hanya berbuat baik agar terlihat baik. Perusahaan yang melakukannya termasuk dalam kategori perusahaan impresif yang lebih mementingkan promosi dibanding pemberdayaannya (Suharto, 2008).
Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang kurang menyukai pendekatan karitatif semacam itu, karena tidak mampu meningkatkan keberdayaan atau kapasitas masyarakat lokal. Pendekatan community development kemudian semakin banyak diterapkan karena lebih mendekati konsep penguasaan dan perbaikan berkelanjutan. Prinsip-prinsip good corporate governance, seperti kejujuran, keterbukaan, akuntabilitas, dan responsibilitas kemudian menjadi pijakan untuk mengukur keberhasilan program CSR.
Kegiatan tanggung jawab sosial yang dilakukan saat ini juga sudah mulai beragam, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Mulai dari pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, pemberian pinjaman modal bagi UKM, pemberian beasiswa, penyuluhan HIV/AIDS, penguatan kearifan lokal, pengembangan skema perlindungan sosial berbasis masyarakat dan seterusnya. CSR pada tataran ini tidak sekadar berbuat baik agar terlihat baik, melainkan menciptakan kebaikan atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2.2.1. CSR dan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT)
Di Indonesia telah banyak perusahaan melakukan berbagai kegiatan CSR, sehingga pemerintah perlu mengeluarkan undang-undang yang terkait dengan pelaksanaan CSR beserta dengan sanksi apabila perusahaan tidak menjalankan CSR. Isi Undang-undang PT No. 40 pasal 74 yang mewajibkan pelaksanaan CSR bagi
perusahaan-perusahaan yang terkait terhadap SDA dan yang menghasilkan limbah antara lain :
Ayat 1, dijelaskan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Ayat 2, dijelaskan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan itu merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatuhan dan kewajaran.
Ayat 3, menggariskan perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana Pasal 1 dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat 4, menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan diatur dengan peraturan pemerintah.
Undang-Undang tersebut memiliki multitafsir dan berpotensi tumpang tindih dengan aturan pada tingkat bawahnya. Misalnya, peraturan tentang lingkungan hidup mengharuskan limbah dari kegiatan produksi dikelola oleh perusahaan sesuai dengan standar yang dimasukan oleh pemerintah, belum jelas apakah masuk dalam bentuk tanggung jawab sosial yang dimasukkan dalam UU PT atau ada bentuk lain. Multitafsir tanggung jawab sosial dalam UU PT ini terjadi karena dalam UU PT ini tidak mendefinisikan tanggung jawab sosial secara jelas, belum ada kesamaan persepsi mengenai tanggung jawab sosial dikalangan pelaku usaha, pemerintah, dan DPR. Apalagi pengaturan tanggung jawab sosial dalam UU PT disahkan oleh DPR tanpa proses partisipatif pelaku usaha. Untuk itu pemerintah dan pelaku usaha perlu mengupayakan komunikasi lebih baik untuk menjembatani kesenjangan persepsi tentang tanggung jawab sosial.
Peraturan lain yang menyentuh tanggung jawab sosial adalah UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa ”Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung
jawab sosial perusahaan.” Meskipun UU ini telah mengatur sanksi-sanksi secara terperinci terhadap badan usaha atau usaha perseorangan yang mengabaikan tanggung jawab sosial (Pasal 34), UU ini baru mampu menjangkau investor asing dan belum mengatur secara tegas perihal tanggung jawab sosial bagi perusahaan nasional.
Jika dicermati, peraturan tentang tanggung jawab sosial yang relatif lebih terperinci adalah UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN. UU ini kemudian dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan Menteri Negara BUMN No. 4 Tahun 2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tata cara pelaksanaan CSR. Seperti kita ketahui, tanggung jawab sosial milik BUMN adalah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).
Dalam UU BUMN dinyatakan bahwa selain mencari keuntungan, peran BUMN adalah juga memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada pengusaha golongan lemah, koperasi dan masyarakat.
Selanjutnya, Peraturan Menteri Negara BUMN menjelaskan bahwa sumber dana PKBL berasal dari penyisihan laba bersih perusahaan sebesar 2 % yang dapat digunakan untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Peraturan ini juga menegaskan bahwa pihak-pihak yang berhak mendapat pinjaman adalah pengusaha beraset bersih maksimal Rp 200 juta atau beromset paling banyak Rp 1 miliar per tahun (Majalah Bisnis dan CSR, 2007).
2.2.2. Isu-isu Tanggung Jawab Sosial
Berdasarkan pendapat dari penelitian 73 pakar CSR yang mengamati perkembangan tanggung jawab sosial di wilayah Asia-Pasifik terdapat 5 (lima) urutan isu-isu terbesar sepanjang sepuluh tahun kedepan (Arisyono, 2009) antara lain :
1. Perubahan iklim
Isu ini dinyatakan sebagai isu yang paling utama dipilihkan oleh para pakar. Pada isu ini terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu keperluan untuk mitigasi dan adaptasi, keperluan seluruh perusahaan untuk menurunkan dampak yang mereka timbulkan atas perubahan iklim, dan keperluan untuk menjalin kerjasama dengan
berbagai pihak dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut. Pilihan para pakar ini sejalan dengan terus meningkatnya bukti-bukti bahwa perubahan iklim disumbangkan terutama oleh sebab-sebab antropogenik, dan perusahaan memainkan peran yang sangat signifikan didalamnya. Bukti-bukti terbaru juga menimbulkan interpretasi bahwa dampak perubahan iklim akan lebih parah daripada yang diramalkan sebelumnya.
2. Tata kelola perusahaan
Merupakan isu terbaru yang akan terjadi dalam sepuluh tahun mendatang. Dengan meluasnya krisis ekonomi baru yang dipicu oleh kecerobohan dan kerakusan sektor finansial, maka isu tata kelola perusahaan yang baik menjadi sangat penting. Di dalam isu ini termasuk transparansi dan akuntabilitas serta kepentingan untuk melibatkan pemangku kepentingan di dalam struktur tata kelola perusahaan. Ide yang paling belakang ini mungkin ekstrim untuk kebanyakan perusahaan, Sesungguhnya sangatlah logis untuk berharap ada pihak-pihak di luar perusahaan yang bisa menyumbangkan pemikiran bagi keputusan-keputusan penting perusahaan, yaitu pemangku kepentingan, karena mereka mampu mempengaruhi dan atau terpengaruh oleh keputusan dan tindakan perusahaan.
3. Pekerjaan dan Sumber Daya Manusia
Isu pekerja dan sumber daya manusia yang mencakup juga hak-hak pekerja dalam rantai pemasok serta isu keragaman dan inklusi. Salah satu kasus menarik adalah bagaimana perusahaan-perusahaan membuat kebijakan dan prosedur tindakan manakala ada calon pekerja dan pekerja yang secara jujur menyatakan mengidap HIV/AIDS, atau mengaku homoseksual. Kebanyakan perusahaan di Asia-Pasifik masih dengan jujur melakukan tindakan eksklusi atas mereka yang memiliki masalah-masalah demikian. Di masa mendatang, kemungkinan akan lebih banyak lagi tuntutan hukum atas perusahaan didasarkan pada tindakan eksklusif seperti itu.
4. Air, keanekaragaman hayati, dan perubahan tata guna lahan
Kelangkaan atau buruknya manajemen air memang telah menjadi isu yang lama di kawasan ini, begitu pula pada keanekaragaman hayati. Namun karena perubahan tata guna lahan seperti dari hutan menjadi penyebab perubahan iklim dan berdampak pada susutnya keanekaragaman hayati, maka isu keanekaragaman hayati menjadi perhatian kembali.
5. Kemitraan
Ada dua yang dicakup disini, yaitu pentingnya kemitraan untuk mendorong penyelesaian masalah-masalah ditingkat global serta strategi inovatif terkait dengan investasi di masyarakat. Tentu saja, isu ini menjadi sangat penting mengingat bahwa perusahaan bukanlah satu-satunya aktor pembangunan, dan tak mungkin menyelesaikan berbagai masalah pembangunan yang rumit itu secara sendirian.