BAB V. PROFIL DESA LOKASI STUDI
5.8. Desa Bontobaru
5.8.1. Gambaran Umum Desa Bontobaru
Secara administratif, Desa Bontobaru termasuk dalam Kecamatan Pasimasunggu Timur. Desa Bontobaru memiliki luas sekitar 14,69 Km2 dengan panjang pantai sekitar 8.750 meter. Secara umum desa ini juga terdapat di Pulau Jampea. Desa Bontobaru memiliki 2 pulau yaitu Pulau Panjang dan Pulau Batu. Pulau tersebut tidak memiliki penghuni dengan luas sekitar 19 Ha. Potensi daerah pesisir dan pulau-pulau kecil dari desa ini berupa perikanan tangkap, budidaya tambak dan laut, sedangkan ikan karang, cumi-cumi, cakalang dan ikan pelagis merupakan jenis biota perikanan pesisir dan laut desa. Karakteristik fisik lahan pesisir di desa ini berupa pantai berpasir putih dan pasir gelap, berbatu, dan memiliki mangrove.
Aksesbility penduduk ke ibukota kabupaten tergolong lancar dengan tersedianya kapal reguler berupa kapal motor dengan frekuensi 1 kali per minggu. sedangkan antar pulau di sekitar Pulau Jampea dilakukan tergantung masyarakat yang hendak menyebarang pulau. Aksesblity ini di dukung pula dengan keberadaan dermaga yang terdapat di desa ini yang masih tergolong baik dengan konstruksi kayu. Sedangkan akses jalan desa masih berupa tanah dan jalan pengerasan dengan kondisi yang sudah rusak.
Kelembagaan Formal dan Informal di desa ini terdiri atas pemerintahan desa, LKMD, Remaja Masjid, dan kelompok swadaya masyarakat.
Kelembangaan dari COREMAP mulai terbentuk mulai dari keberadaan reef watcher, fasilitator, motivator dan Seto mulai berjalan.
Gambar 17. Situasi Masyarakat Desa 5.8.2. Demografi
Struktur populasi dan mata pencaharian di Desa Bontobaru di dominasi oleh petani (40%), nelayan (30 %), Pedagang (15 %) dan PNS/ABRI (10%).
Petani merupakan mata pencaharian utama di desa ini, karena terdapatnya sawah yang memiliki sistem pengairan yang cukup baik. Juga aktifitas budidaya ikan juga terdapat di desa ini baik budidaya air payau (tambak) dengan komoditas udang dan Ikan Bandeng, juga dilakukan dengan sistem budidaya keramba jaring apung.
Etnis di pulau ini mayoritas bersuku makasasar/selayar dan bugis.
Keseluruhan masyarakat di Desa Bontobaru beragama Islam. Jumlah penduduk di desa ini sekitar 1.104 orang dengan perincian laki-laki sebanyak 983 orang dan perempuan sekitar 121 orang. Jumlah kepala keluarga (KK) di desa ini sekitar 415 KK dengan kepadatan penduduk sekitar 87 orang per KM2 denga rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4 orang.
Tabel 5.43. Kondisi Responden di Desa Bontobaru
Sumber: Survey, 2006.
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa umumnya masyarakat Desa Bontobaru telah merasakan dunia pendidikan walaupun tingkat pendidikan masih rendah yakni tamat SD (83 %). Pekerjaan pokok sebagai nelayan (66%). Selain itu pekerjaan sampingan, umumnya mereka bertani seperti menanam jagung dan ubi kayu. Selain untuk dijual, juga untuk
kebutuhan sendiri. Penghasilan responden umumnya masih rendah yang menggambarkan kondisi umum desa ini masih miskin. Pendapatan masyarakat di desa ini sekitar dibawah Rp. 200.000 per bulan. Namun sekitar 33 % responden juga memiliki pendapatan diatas Rp. 1.000.000 per bulan dengan tingkat pengeluaran di bawah Rp. 200.000 per bulan.
5.8.3. Infrasturktur
Desa Bontobaru memilik jalan yang nasih berupa tanah dan pengerasan yang dilakukan secara swadaya. Namun keberadaan kendaraan beroda dua telah terdapat di desa ini. Sarana dermaga juga tergolong baik dengan konstruksi kayu. Penerangan yang terdapat di desa ini berfungsi baik dengan pengelolaan yang dilakukan oleh pihak swasta dengan sistem pembayaran tergantung dari jumlah pemakian listrik yang dihitung berdasarkan jumlah titik lampu dengan harga Rp. 10.000 per 1 buah titik lampu. Penerangan hanya dilakukan selama 4 jam yaitu dari pukul 18.00 – 22.00. namun ada juga beberapa warga yang memilki kemampuan financial mampu membeli generator listrik untuk kebutuhan rumah tangga mereka sendiri. Sedangkan sarana komunikasi di desa ini terdapat televisi satelit sebanyak 14 buah, radio sebanyak 49 buah dan juga desa ini telah dijangkau oleh saluran telepon satelit. Sedangkan untuk surat menyurat dilakukan melalui kantor desa.
Sarana sanitasi di Desa Bontobaru tergolong baik dengan hampir tiap rumah memilki sumber air, WC dan tempat pembuangan sampah. Ini menunjukkan tingkat kesehatan di Desa Bontobaru tergolong tinggi dibandingkan dengan desa pesisir yang lain.
Infrastruktur di Desa Bontobaru yang tersedia seperti sarana kesehatan, peribadatan, perhubungan, penerangan. Secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.44. Kondisi Infrastruktur di Desa Bontobaru
No Infrastruktur Jumlah Kondisi Status Ket 1. Sarana Ibadah 4 + 1 Baik Swadaya Masjid+
Musahallah 2. Sarana Pendidikan
- Sekolah Dasar 3 Baik Pemerintah 3. Sarana Kesehatan
-Posyandu 1 Baik Swadaya -Puskesmas
Pembantu
1 Baik Pemerintah
4. Sarana Perdagangan 6 Baik Milik Kios 5. Sarana Permodalan /
Koperasi
- - - -
6. Dermaga 1 Baik Swadaya Kayu
7. Sarana Jalan - Rusak Swadaya Tanah dan Pengerasan 8. Sarana Penerangan Genarator Diesel Swasta 18.00 –
22.00 menyala 9. Sarana Perumahan Rumah
Panggung
10. Sarana Komunikasi Televisi Hak Milik 1 buah 11. Sarana Sanitasi
- Air Bersih Sumur Baik
- WC Ada Baik
- Tempat Sampah Ada Baik 12. Sarana Penginapan - - 13. Industri Pengolahan
Ikan
- - Sumber: Survey, 2006.
5.8.4. Intensitas dan Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang
Eksploitasi sumberdaya terumbu karang di Desa Bontobaru masih dalam tingkat intensitas sedang. Penggunaan destructive fishing gear tergolong masih kurang karena adanya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang perlu dijaga agar ketersediaan sumberdaya ikan di wilayah perairan desa ini dapat terjaga. Hal ini juga dikarenakan karena aktifitas penangkapan tidak dilakukan secara eksploitatif karena mayoritas pencaharian masyarakat adalah bertani. Hanya pengaruh jangkar kapal yang menyebabkan kerusakan terumbu karang.
Tabel 5.45. Tingkat Intensitas Kerusakan Terumbu Karang di Desa Bontobaru
No Penyebab Utama
Tingkat Intensitas Kerusakan Tinggi Sedan
g Rendah 1 Bahan peledak/bom - - 2 Racun kimia/cyanida - -
3 Sedimentasi - -
4 Iklim global - -
5 Tsunami/gempa bumi - - 6 Jangkar perahu/kapal - - 7 Tangkap lebih/Over-fishing - -
8 Limbah Industri - -
9 Penambangan Karang batu - - 10 Bintang laut berduri/COT - - 11 Pengambilan Karang untuk
Aquarium
- -
Sumber: Survey, 2006
Pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di wilayah ini masih tergolong sedang dimana kawasan ini merupakan daerah fishing ground baik oleh penduduk desa dan merupakan lahan budidaya laut. Namun tingkat
intensitas masih rendah karena masyarakat lebih banyak beraktifitas di daratan, sedangkan di alut umumnya merupakan pekerjaan sampingan.
Tabel 5.46. Pemanfaatan Daerah Ekosistem Terumbu Karang dan Sekitarnya.
No Jenis Pemanfaatan
Luas Daerah
Peran kelembagaan baik informal maupun formal sangat mendukung keberhasilan pengelolaan terumbu karang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.47. Peran kelembagaan masyarakat terhadap pengelolaan Terumbu Karang.
No Jenis Pemanfaatan
Intensitas Pengelolaan
Berdasarkan tabel tersebut diatas menunjukkan peran kelembagaan adat dan agama memiliki pengaruh nyata dalam mendukung program pengelolaan terumbu karang. Umumnya masyarakat masih menghormati tokoh-tokoh adat karena mereka menggangap mereka sebagai pemberi petuah dan penolak bala dalam mejalani hidup.
5.8.5. Kondisi dan Potensi Sumbedaya Alam, Buatan dan Jasa Lingkungan Pesisir
Potensi sumberdaya alam, buatan dan jasa di Desa Bontobaru tergolong besar dan dengan pengelolaan yang terencana, efisien dan berkelanjutan yang dapat menggangkat taraf kesejahteraan masyarakat desa. Potensi tambak di desa ini sektitar 150 Ha dengan jumlah petakan sekitar 600 petak. Sistem budidaya yang dikelola masih tradisoinal dengan masa tanam 1 kali pertahun.
Begitu pula potensi wisata baik wisata pantai, pulau, budaya maupun diving dapat dilakukan secara optmal, sehingga kegiatan pendampingan sangat mendesak untuk dilakukan.
Tabel 5.48. Kondisi Potensi Sumbedaya Alam, Buatan dan Jasa Lingkungan Pesisir di Desa Bontobaru
No Sumberdaya Kondisi
Ada Tidak Ada
1 Terumbu Karang -
2 Mangrove -
3 Tambak -
4 Sawah -
5 Diving -
6 Wisata Lainnya -
Sumber: Survey, 2006