BAB V. PROFIL DESA LOKASI STUDI
5.17. Desa Kalaotoa
5.17.1. Gambaran Umum Desa Kalaotoa
Desa Kalaotoa secara administratif termasuk dalam Kecamatan Pasilambena dan berada di Pulau Kalaotoa sendiri. Desa ini memiliki luas sekitar 16,19 Km2 dengan panjang pantai sekitar 6.750 meter. Potensi dari segi jenis ikan ekonomis penting berupa Ikan Tuna Ekor Kuning (Madidihang), Triger, Cepa, Ikan Kwang, Ikan Katamba, Ikan Layang, Kerapu, dan Teripang.
Selain hal tersebut potensi Keramba Jaring Apung berpotensial untuk dikembangkan di perairan daerah ini. Karakteristik fisik lahan pesisir di desa/pulau ini berupa pantai small cliff, koral, batu, mangrove dan memiliki kawasan terumbu karang.
Selain potensi pesisir dan laut, desa ini memilki lahan kelapa untuk industri kopra yang cukup besar. Produksi kopra dari desa ini sekitar 1.000 ton per tahun. Selain potensi perkebunan tersebut, potensi lain seperti pisang, tembakau, coklat dan jambu mente terdapat di desa ini.
Aksesbility penduduk ke ibukota kabupaten tergolong lancar dengan adanya kapal reguler dengan rute Desa/Pulau Kalaotoa – Benteng. Sedangkan akses antar pulau menggunakan jasa kapal tradisional jolloro yang terdapat di di dermaga dan siap berangkat sesuai dengan kebutuhan. Desa ini juga merupakan daerah transit jalur Bira/Makassar menuju Flores/Maumere.
5.17.2. Demografi
Desa Kalaotoa memiliki jumlah penduduk ini sekitar 1.138 orang dengan perincian 547 laki-laki dan perempuan 591 orang. Jumlah kepala keluarga (KK) sekitar 258 KK dengan kepadatan penduduk sekitar 45 orang per KM2 dengan rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 3 orang. Mayoritas penduduk bersuku buton dan makassar/selayar. Keseluruhan masyarakat di Desa Kalaotoa beragama Islam.
Aktifitas masyarakat pada musim barat (Desember – Mei) dilakukan aktifitas bertani dan pada musim timur (Juni – November) melakukan aktifitas melaut. Alat yang digunakan umumnya alat sederhana berupa bubu, pancing dan lanra. Kepercayaan sebelum melaut dilakukan oleh masyarakat melakukan doa selamatan untuk lokasi penangkapan yang memerlukan waktu lama dan lokasi yang jauh. Penjulan hasil penangkapan umumnya salurkan ke daerah Makassar, Buton dan Maumere.
Gambar 24. Situasi Pulau Kaotoa
Tabel 5.97. Kondisi Responden di Desa Kalaotoa
No Jenis Data Jumlah % Keterangan
1. Usia Responden
- 15 – 24 Tahun 1 16 - 25 – 34 Tahun 2 33 - 35 – 44 Tahun 2 33 - 45 – 54 Tahun 1 16
2. Pendidikan
- Tidak Tamat SD 1 16
- Tamat SD 4 66
- SMP 2 33
- SMA -
- Sarjana -
3. Pekerjaan Utama
- Nelayan 5 83
- Pengumpul 1 16
4. Sampingan
- Tani 2 33
- Tukang Kayu 1 16
- Budidaya 2 33
- Ternak - -
- Jasa Transportasi 1 16 - Pembuat Perahu - -
- Tidak Ada - -
5. Penghasilan Perbulan - < Rp. 200.000 1 16 - Rp. 200.000 – Rp. 500.000 2 33 - Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 2 33 - > Rp. 1.000.000 1 16
6. Pengeluaran
- < Rp. 200.000 4 66 - Rp. 200.000 – Rp. 500.000 1 16 - Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 1 16
- > Rp. 1.000.000 - - Sumber: Survey, 2006
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Desa Kalaotoa ini secara umum sedang dimana pada tingkat sekolah menengah beberapa warga masyarakat telah mencapainya. Begitu pula pada tingkat pendapatan masyarakat penghasilan per bulan umumnya telah tinggi dengan tingkat pengeluaran yang cukup rendah. Hal ini didukung oleh pekerjaan warga selain sebagai nelayan juga merupakan petani kelapa (kopra) dan coklat yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
5.17.3. Infrasturktur
Infrastruktur di Desa Kalaotoa tergolong sederhana namun secara apresiasi oleh masyarakat, sarana tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Tabel 5.97. Kondisi Infrastruktur di Desa Kalaotoa
No Infrastruktur Jumlah Kondisi Status Ket 1. Sarana Ibadah 3 Baik Swadaya dan
Bantuan Pemerintah
Masjid
2. Sarana Pendidikan
- Sekolah Dasar 2 Baik Pemerintah 3. Sarana Kesehatan
4. Sarana Perdagangan 1 Baik Swadaya Pasar 8. Sarana Penerangan Genarator Diesel Swasta 18.00–24.00
menyala 9. Sarana Perumahan Rumah
Panggung 10. Sarana Komunikasi Televisi dan
Radio Hak Milik Mayoritas 11. Sarana Sanitasi
- Air Bersih Sumur Baik
- WC Ada Baik
- Tempat Sampah - -
Sumber: Survey, 2006.
Sarana jalan di Desa Kalaotoa terbuat dari tanah pengerasan. Sarana jalan ini merupakan swadaya dari masyarakat dan bantuan dari pemerintah.
Penerangan desa di suplai oleh PLN dengan lama menyala sekitar 6 jam, dari 18.00 – 24.00.
Sarana penerangan di desa ini dilakukan oleh pihak swasta (skala kecil) dengan membebankanbiaya produksi sebesar Rp. 7.000 per mata lampu per bulan.
Sarana sanitasi di Desa Kalaotoa tergolong baik dengan terdapatnya WC di hampir tiap rumah penduduk. Namun tempat pembuangan sampah belum dimiliki.
5.17.4. Intensitas dan Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang
Eksploitasi sumberdaya terumbu karang di Desa Kalaotoa masih dalam tingkat intensitas sedang. Penggunaan destruktive fishing gear (bom dan cyanida) dan jangkar kapal di kawasan terumbu karang masih menjadi penyebab rusaknya struktur terumbu karang. Aktifitas tersebut selain dilakukan oleh beberapa warga setempat dan nelayan pendatang. Selain itu akibat aktifitas pengolahan industri kopra yang menghasilkan limbah padat dan cair menyebabkan pengaruh negatif bagi kulaitas perairan.
Tabel 5.99. Tingkat Intensitas Kerusakan Terumbu Karang di Desa Kalaotoa
No Penyebab Utama Tingkat Intensitas Kerusakan Tinggi Sedang Rendah
1 Bahan peledak/bom - -
Sumber: Survey, 2006
Pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di wilayah ini masih tergolong tinggi dimana daerah baik pesisir maupun lautan merupakan daerah fishing ground baik oleh penduduk desa. Potensi wisata juga telah dikelola dengan baik dengan masuknya kawasan ini dalam Kawasan Nasional Takabonerate.
Hukum adat juga berlaku di Desa Kalaotoa ini dengan membakar kapal atau dikeluarkan dari pulau bila ditemukan warga/nelayan melakukan aktifitas menangkap ikan secara merusak (destruktive fishing).
Tabel 5.100. Pemanfaatan Daerah Ekosistem Terumbu Karang dan Sekitarnya.
No Jenis Pemanfaatan
Luas Daerah Pemanfaatan Tinggi Sedan
g
Renda h
1 Daerah penangkapan ikan - -
2 Wisata Bahari - -
3 Daerah penampungan karang - - 4 Daerah Budidaya ikan/Rumput laut - - 5 Tidak di manfaatkan/di konservasi - -
6 Di konservasi - -
Sumber: Survey, 2006
Peran aparat pemerintah, kelompok masyarakat dan tokoh adat dan kelembagaan, di mata masyarakat memilki peluang memotivasi mereka dan mengatur peraturan tentang aktifitas pengelolaan dan eksploitasi terumbu karang. Dimata masyarakat bahwa kebijakan yang dikeluarkan dan dikerjakan oleh ketiga komponen tersebut akan berpengaruh positif dimata masyarakat desa.
Tabel 5.101. Peran kelembagaan masyarakat terhadap pengelolaan Terumbu Karang.
No Jenis Pemanfaatan
Intensitas Pengelolaan
Peran lembaga adat, agama, pokmas, LSM serta aparat desa dapat mendorong terciptanya suasana kondusif dalam pengelolaan terumbu karang di Pulau Kalaotoa ini.
5.17.5. Kondisi dan Potensi Sumbedaya Alam, Buatan dan Jasa Lingkungan Pesisir
Potensi sumberdaya alam berupa kawasan wisata sangat baik dikembangkan di daerah ini.
Tabel 5.102. Kondisi Potensi Sumbedaya Alam, Buatan dan Jasa Lingkungan Pesisir di Desa Kalaotoa
No Sumberdaya Kondisi
Ada Tidak Ada
Desa ini memiliki potensi wisata karena memiliki keindahan alam dan budaya. Potensi wisata pantai, diving dan budaya sangat dipotensial dikembangkan karena didukung oleh kemauan masyarakat dan sifat terbuka menerima orang luar oleh masyarakat.