• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Desa Bontobulaeng

Dalam dokumen PEMANTAUAN KONDISI SOSIAL EKONOMI (Halaman 110-118)

BAB V. PROFIL DESA LOKASI STUDI

5.9. Desa Bontobulaeng

5.9.1. Gambaran Umum Desa Bontobulaeng

Secara administratif, Desa Bontobulaeng termasuk dalam Kecamatan Pasimasunggu Timur. Desa Bontobulaeng memiliki luas sekitar 11,45 Km2

dengan panjang pantai sekitar 10.650 meter. Secara umum desa ini juga terdapat di Pulau Jampea. Potensi daerah pesisir dan lautan dari segi jenis ikan berupa ikan Sunu, Kerapu, Kalohong, Cumi-Cumi, Katamba dan Ikan Teri.

Karakteristik fisik lahan pesisir di desa ini berupa pantai berpasir putih dan batu.

Aksesbility penduduk ke ibukota kabupaten tergolong lancar dengan tersedianya kapal reguler sebanyak 5 buah berupa kapal motor dengan frekuensi 3 kali per minggu. Jadwal pemberangkatan umumnya merupakan hasil negosiasi antar pemilik kapal dengan syahbandar di Kota Benteng.

Aksesblity ini di dukung pula dengan keberadaan dermaga yang terdapat di desa ini yang masih tergolong baik dengan konstruksi kayu. Sedangkan akses jalan desa masih berupa tanah dan beberapa terdapat jalan beton yang merupakan swadaya masyarakat.

Kelembagaan Formal dan Informal di desa ini terdiri atas pemerintahan desa, LKMD, Remaja Masjid, dan kelompok swadaya masyarakat.

Kelembangaandari COREMAP mulai terbentuk mulai dari keberadaan reef watcher, fasilitator, motivator dan Seto mulai berjalan.

Kegiatan budaya dan olahraga yang terdapat Di desa ini berupa pesta panen, peringatan kemerdekaan RI dan sepokbola antar desa.

5.9.2. Demografi

Struktur populasi dan mata pencaharian di Desa Bontobulaeng didominasi oleh petani, petambak, nelayan, pedagang (15 %) dan PNS/ABRI.

Petani dan Petambak merupakan mata pencaharian utama di desa ini, karena terdapatnya sawah yang memiliki sistem pengairan yang cukup baik. Aktifitas budidaya ikan juga terdapat Di desa ini baik budidaya air payau (tambak) dengan organisme udang dan Ikan bandung, juga dilakukan dengan sistem budidaya keramba jaring apung. Sedangkan nelayan di desa ini umumnya merupakan nelayan bagang, pancing dan pukat. 2 alat tangkap terakhir merupakan alat tangkap mayoritas di desa ini.

Etnis di pulau ini mayoritas bersuku makasasar/selayar dan bugis.

Keseluruhan masyarakat di Desa Bontobulaeng beragama Islam. Jumlah

penduduk di desa ini sekitar 2.475 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sekitar 555 KK dengan kepadatan penduduk sekitar 250 orang per KM2 denga rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4 orang.

Tabel 5.49. Kondisi Responden di Desa Bontobulaeng

No Jenis Data Jumlah % Keterangan

- Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 - - > Rp. 1.000.000 - Sumber: Survey, 2006

Seperti halnya dengan desa sekitar yang tergabung dalam Pulau Jampea penduduk yang memilki mata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Secara persentase pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan utama. Hanya aktifitasnya tergantung pada musim yang berlaku. Untuk musim timur umumnya mereka sebagai nelayan sedangkan pada musim barat umumnya masyarakat sebagai petani. Pendidikan masyarakat umumnya tamat SD ( 83

%). Penghasilan masyarakat juga tergolong cukup dengan adanya pekerjaan sampingan baik sebagai petani bila melaut, tukang kayu,budidaya ikan/rumput laut, peternak, jasa transportasi maupun sebagai pembuat perahu. Sedangkan pengeluarannya umumnya masih kecil dengan asumsi kebutuhan pokok sehari-hari masih dapat disuplai dari hasil pekerjaan sampingan. Secara umum pengeluaran masyarakat dibawah Rp. 200.000 perbulan.

5.9.3. Infrasturktur

Infrastruktur di Desa Bontobulaeng tergolong maju dan lengkap. Ini merupakan salah satu penggambaran bahwa tingkat kesejahtraan di desa ini tergolong sejahtera.

Desa Bontobulaeng memiliki jalan berupa tanah dan beton yang dilakukan secara swadaya dan bantuan pemerintah daerah. Sarana dermaga juga tergolong baik dengan konstruksi kayu. Penerangan yang terdapat Di desa ini berfungsi baik dengan pengelolaan yang dilakukan oleh pihak swasta dengan sistem pembayaran tergantung dari jumlah pemakian listrik yang dohitung berdasarkan jumlah titik lampu dengan harga Rp. 10.000 per 1 buah titik lampu. Penerangan hanya dilakukan selama 4 jam yaitu dari pukul 08.00 – 22.00. namun ada juga beberapa warga yang memilki kemampuan financial mampu membeli generator listrik untuk kebutuhan rumah tangga mereka sendiri. Sedangkan sarana komunikasi di desa ini berupa televisi satelit dan radio hampir ditemui di setiap rumah penduduk. Sedangkan untuk surat menyurat dilakukan melalui kantor camat. Begitu pula dengan telepon sudah terdapat di desa ini dengan menggunakan telepon satelit.

Tabel 5.50. Kondisi Infrastruktur di Desa Bontobulaeng

No Infrastruktur Jumlah Kondisi Status Ket 1. Sarana Ibadah 4 Baik Swadaya Masjid 2. Sarana Pendidikan

- Sekolah Dasar 3 Baik Pemerintah - SMP/MTS 2 Baik Pemerintah - SMA 1 Baik Pemerintah 3. Sarana Kesehatan

-Posyandu 4 Baik Swadaya -Puskesmas 1 Baik Pemerintah

4. Sarana Perdagangan 1 Baik Swadaya Pasar

8. Sarana Penerangan Genarator Diesel Swasta 18.00 – 22.00

menyala 9. Sarana Perumahan Rumah

Panggung

10. Sarana Komunikasi Televisi Hak Milik 11. Sarana Sanitasi

- Air Bersih Sumur Baik

- WC Ada Baik

- Tempat Sampah Ada Baik 12. Sarana Penginapan - - 13. Industri Pengolahan

Ikan

- - Sumber: Survey, 2006.

Sarana pendidikan di desa ini tergolong maju dengan adanya sekolah mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA. Peserta didik bukan hanya berasal dari desa ini namun juga berasal dari luar desa. Begitu pula dengan sarana perdagangan, Di desa ini terdapat pasar desa yang telah dibangun secara permanen.

Sarana sanitasi di Desa Bontobulaeng tergolong baik dengan hampir tiap rumah memilki sumber air, WC dan tempat pembuangan sampah. Ini menunjukkan tingkat kesehatan di Desa Bontobulaeng juga tergolong tinggi dibandingkan dengan desa pesisir yang lain.

5.9.4. Intensitas dan Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang

Eksploitasi sumberdaya terumbu karang di Desa Bontobulaeng masih dalam tingkat intensitas sedang. Penggunaan destructive fishing gear tergolong masih kurang karena adanya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang perlu dijaga agar ketersediaan sumberdaya ikan di wilayah perairan desa ini dapat terjaga. Hal ini juga dikarenakan karena aktifitas penangkapan tidak dilakukan secara eksploitatif karena mayoritas pencaharian masyarakat bertani dan bertambak. Menurut pengakuan masyarakat hasil yang diperoleh masih lebih baik dari hasil bertani dan bertambak dibandingkan dengan tangkapan.

Tabel 5.51. Tingkat Intensitas Kerusakan Terumbu Karang di Desa Bontobulaeng

No Penyebab Utama

Tingkat Intensitas 11 Pengambilan Karang untuk

Aquarium

- -

Sumber: Survey, 2006

Pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di wilayah ini masih tergolong sedang dimana daerah baik pesisir maupun lautan merupakan daerah fishing ground baik oleh penduduk desa dan merupakan lahan budidaya laut. Namun tingkat intensitas tinggi dilakukan dari aspek budidaya.

Tabel 5.52. Pemanfaatan Daerah Ekosistem Terumbu Karang dan Sekitarnya.

No Jenis Pemanfaatan

Luas Daerah

Peran kelembagaan baik informal maupun formal sangat di desa ini umumnya memiliki pengaruh nyata bagi pengelolaan terumbu karang.

Tabel 5.53. Peran kelembagaan masyarakat terhadap pengelolaan Terumbu Karang.

No Jenis Pemanfaatan

Intensitas Pengelolaan

Berdasarkan tabel tersebut diatas menunjukkan peran diseluruh komponen dapat dijadikan penggerak dan motivasi untuk menggalakkan program pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. Dengan prinsif kebersamaan diharapkan program COREMAP ini dapat berjalan mulus di desa ini.

5.9.5. Kondisi dan Potensi Sumbedaya Alam, Buatan dan Jasa Lingkungan Pesisir

Potensi sumberdaya alam, buatan dan jasa di Desa Bontobulaeng tergolong besar dan dengan pengelolaan yang terencana, efisien dan berkellanjutan dapat menggangkat taraf kesejahteraan masyarakat desa.

Potensi tambak di desa ini sektitar 200 Ha dengan jumlah petakan sekitar 800 petak. Sistem budidaya yang dikelola masih tradisional dengan masa tanam 1 kali pertahun. Hasil yang diperoleh secara rata-rata sekitar 400 kuital untuk ikan Bandeng dan 1 Kuintal produksi udang. Begitu pula potensi wisata baik wisata, pantai, pulau, budaya maupun diving dapat dilakukan secara optmal, sehingga kegiatan pendampingan sangat mendesak untuk dilakukan.

Tabel 5.54. Kondisi Potensi Sumbedaya Alam, Buatan dan Jasa Lingkungan Pesisir di Desa Bontobulaeng

No Sumberdaya Kondisi

Ada Tidak Ada

1 Terumbu Karang -

2 Mangrove -

3 Tambak -

4 Sawah -

5 Diving -

6 Wisata Lainnya -

Sumber: Survey, 2006

Aspek budidaya yang diperlukan pembinaan di desa ini berupa penanganan penyakit udang terutama penyakit white spot yang mewabah di hampir petakan tambak. Juga diperlukan pembinaan baku mutu dan standar

pengelolaan yang ramah lingkungan sesuai dengan carryng capacity sangat dibutuhkan oleh petani ikan di desa ini.

Dalam dokumen PEMANTAUAN KONDISI SOSIAL EKONOMI (Halaman 110-118)