• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.5 Gambaran Umum Informan Penelitian

Adapun informan yang dilibatkan dalam proses wawancara untuk memperoleh data dalam penelitian ini berjumlah 10 (sepuluh) orang. Berikut adalah gambaran umum dari informan yang telah penulis wawancarai.

Tabel 4.2

Gambaran Umum Informan Kunci Informan Kunci

No. Nama Jabatan/Posisi Usia Keterangan 1. Robinson Sumber: Data diolah Penulis (2019)

Tabel 4.3

Gambaran Umum Informan Utama Informan Utama

No. Nama Jabatan/Posisi Usia Keterangan

2. Ria Staf Bagian

- Bertempat tinggal di Karangsari,

Pematangsiantar 4. Helena

Napitupulu

Quality Control 53 - Telah bekerja selama 25 tahun.

- Bertempat tinggal di Huta Parbalogan.

Sumber: Data diolah Penulis (2019)

Tabel 4.4

Gambaran Umum Informan Tambahan Informan Utama

No. Nama Status Usia Keterangan

1. Alfredo Julian Konsumen 26 - Karyawan swasta.

- Bertempat tinggal di Pasar I Tanjung Sari.

- Telah menjadi konsumen sejak SMP.

2. Jimmy Andrew Konsumen 34 - Karyawan swasta.

- Bertempat tinggal di Jl. Pintu Air Gg. Selamat.

- Telah menjadi konsumen sejak SMP

3. Suwandi Konsumen 31 - Wiraswasta

- Bertempat tinggal di Jl.

Simalingkar B.

- Telah menjadi konsumen selama 1 tahun.

4. Samantha Konsumen 22 - Mahasiswa

- Bertempat tinggal di Jl. Karya Wisata Johor.

- Telah menjadi konsumen selama 18 tahun

Sumber: Data diolah Penulis (2019) 4.2 Penyajian Data

4.2.1 Strategi Mempertahankan Eksistensi

a. Strategi Mempertahankan Eksistensi dan Implementasinya

Melalui hasil wawancara, penulis mendapat penuturan dari informan yang terlibat langsung dengan kegiatan yang ada di PT. Pabrik Es Siantar bahwa strategi yang digunakan oleh PT. Pabrik Es Siantar dalam mempertahankan eksistensinya sampai saat ini adalah dengan mempertahankan mutu / kualitas minuman. Artinya, resep minuman Cap Badak dari pendiri perusahaan ini yang merupakan seorang berkebangsaan Swiss tetap dipertahankan sejak dahulu hingga sekarang. Mutu tetap dijaga dengan mempertahankan gugus kendali mutu (GKM). Kegiatan produksi tetap mengikuti peraturan-peraturan yang lama, karena informan merasa standar

yang lama juga masih sangat baik untuk tetap dijadikan panduan dan bertahan sebagaimana produk yang asli dibuat. Menurut informan-informan, kualitas bahan baku sangat mempengaruhi produk yang dihasilkan. Jika bahan baku bagus maka hasil produksi juga akan bagus. Begitu pula kebalikannya. Untuk itu para pegawai selalu menjaga agar tetap menggunakan bahan baku pilihan.

Selain itu hal terpenting bagi perusahaan ini adalah kegiatan investasi botol.

Investasi botol tetap dilakukan karena botol adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan ini agar produksi minuman tetap berjalan lancar untuk kemudian dipasarkan kepada konsumen Cap Badak. Investasi botol dilakukan dua kali setahun, yaitu pada bulan Januari dan bulan Juni setiap tahunnya. Investasi botol tersebut dilakukan dengan tetap melakukan order yaitu dengan purchase order ke pabrik botol yang bernama PT. Iglas Surabaya sebagai supplier botol ke pabrik.

Perusahaan memasarkan produk Cap Badak dengan menjual isinya, bukanlah botolnya. Untuk itu botol-botol Cap Badak ini harus dikembalikan ke pabrik oleh konsumen maupun penjual minuman Cap Badak. Dampak kerugian akan dirasakan oleh PT. Pabrik Es Siantar jika botol-botol tersebut pecah, hilang, atau tidak kembali. Produksi minuman jadi terhambat, dan hasil produksi pasti menjadi lebih sedikit dikarenakan kurangnya botol.

Strategi berikutnya dalam menjaga eksistensi produk ini adalah tetap melakukan perawatan mesin-mesin yang ada di PT. Pabrik Es Siantar, khususnya pembangkit listrik dan sumber mata airnya yang jernih. Meskipun mesin-mesin yang dipakai dalam produksi merupakan mesin tua, pihak PT. Pabrik Es Siantar selalu melakukan perawatan mesin. Hal ini tampak dari tersedianya bagian teknik dan memiliki bengkel sendiri yang rutin melakukan perawatan mesin-mesin. PT.

Pabrik Es tidak menggunakan listrik dari PLN karena perusahaan ini memiliki turbin sendiri yang menghasilkan energi listrik milik sendiri yang didapatkan dengan memanfaatkan sungai Bah Bolon dalam menggerakkan turbin untuk produksi di pabrik dan begitu juga dengan air yang tidak dibeli dari PDAM, melainkan diolah sendiri dari mata air yang mengalir sejak pabrik ini dibangun hingga sekarang, yang tersedia di alam secara cuma-cuma dan kuantitasnya saat ini sangat besar.

Strategi berikutnya adalah selalu meningkatkan sumber daya manusia, khususnya di bidang karyawan/pegawai. Hal ini ditunjukkan dari penuturan informan mengenai penyelesaian masalah yang selalu dikonsultasikan kepada pimpinan agar tidak ada kesulitan dalam menjalankan kegiatan produksi. Pimpinan juga menuturkan bahwa perusahaan ini memiliki pegawai yang khusus menangani SDM dan memperhatikan kedisiplinan karyawan dalam masuk kerja, penggunaan jam istirahat, penggunaan jam kerja, dan pengawasan di tempat produksi selalu diawasi dan dijaga oleh mandor produksi untuk tetap memperhatikan kinerja para karyawan yang ada di bagian produksi. Setiap kelalaian, keteledoran, dan ketidak seriusan karyawan akan diberikan peringatan/warning, dan perusahaan memberikan reward kepada karyawan yang berprestasi dan memiliki kinerja yang bagus berupa kenaikan gaji. Banyak dari karyawan di perusahaan ini merupakan karyawan yang telah bekerja puluhan tahun dan mengakui bahwa perusahaan ini memperlakukan karyawan dengan baik dengan pendekatan kekeluargaan sehingga karyawan selalu merasa betah bekerja puluhan tahun dan kegiatan produksi di pabrik selalu menyenangkan.

Menjaga eksistensi perusahaan ini tentu dilakukan dengan memperhatikan higienitas/kebersihan produk. Kebersihan produk selalu dijaga dengan baik sebagaimana yang dipesankan oleh pendiri perusahaan ini, Bapak Heinrich Surbeck yang selalu menjadikan kebersihan air sebagai faktor utama agar produk ini tetap terjaga kualitasnya. Meskipun air yang digunakan berasal dari mata air yang sangat jernih, pabrik tetap selalu melakukan pemasakan air dengan boiler dengan selalu melakukan filtrasi berkali-kali dan selalu dilakukan pengecekan kadar gas agar tidak kurang dan tidak berlebihan. Untuk keamanan bahan yang digunakan dalam produksi sudah sangat aman. Setiap dua bulan sekali, minuman selalu diperiksa oleh petugas BPOM yang dipandu oleh staf Quality Control untuk memastikan agar produk selalu sesuai standar dan aturan yang ditetapkan oleh BPOM.

Selanjutnya, PT. Pabrik Es Siantar menjaga higienitas produknya dengan baik. Hal ini tampak dari proses pematangan air hingga pencucian botol yang dilakukan secara teliti dan berulang kali sampai air dan botol benar-benar steril.

Bahan baku seperti sirup juga dijaga higienitasnya. Tampak dari tersedianya ruangan khusus pengolahan sirup yang hanya bisa diakses oleh staf bagian syrup room saja, sehingga ruangan ini terisolasi dari lingkungan produksi dan pengemasan.

b. Hambatan-Hambatan yang dihadapi PT. Pabrik Es Siantar

Hambatan yang dihadapi PT. Pabrik Es Siantar dalam menjalankan strategi perusahaannya adalah mesin yang dipakai dalam produksi merupakan mesin peninggalan dari pendiri awal perusahaan ini, yaitu Bapak Heinrich Surbeck.

Artinya, mesin belum modern atau konvensional. Beberapa informan memaparkan kesulitan yang mereka hadapi selama bekerja di perusahaan ini adalah mesin-mesin

yang tua sehingga terkadang menyebabkan kendala. Namun kendala ini selalu dapat diatasi dengan perbaikan dan pemeliharaan mesin-mesin secara berkala oleh bagian teknik pabrik. Pimpinan memaparkan bahwa pihak manajemen/owner belum memiliki niat untuk meregenerasi mesin-mesin, namun hal ini akan terus direncanakan dan diusulkan oleh pimpinan agar mesin-mesin segera diperbaharui dengan mesin yang lebih modern.

Hambatan selanjutnya adalah botol yang tidak dikembalikan ke pabrik.

Banyak para pengecer, pedagang, dan reseller yang membeli produk Cap Badak dan mengatakan bahwa produk Cap Badak hanya akan mereka pasarkan di daerah Sumatera saja, seperti Medan, Lampung, Bengkulu dan Pekanbaru, namun ternyata dibawa ke pulau Jawa. Sampai di Jawa botolnya dijual dan tidak kembali ke pabrik.

Karena botolnya banyak yang berada di pulau Jawa dan tidak kembali, akhirnya produksi menjadi sedikit. Walaupun para pengecer, pedagang dan reseller yang menjual produk tersebut di pulau Jawa tersebut berjanji untuk segera mengembalikan botol ke Pematangsiantar, waktu yang diperlukan untuk pengiriman dari pulau Jawa ke Sumatera tersebut memakan waktu yang lama, sehingga menghambat proses produksi.

c. Perencanaan Terbaru

Berdasarkan penuturan dari pimpinan PT. Pabrik Es Siantar, mulai tahun 2012 produk Cap Badak mulai mengalami kebangkitan lagi, dan puncak kebangkitan tersebut ada di tahun 2018. Banyak konsumen yang di luar pulau Sumatera, contohnya konsumen yang berasal dari pulau Kalimantan, Jawa, Bali dan Papua memesan minuman Cap Badak. Setelah pesanan-pesanan dari luar pulau Sumatera tersebut mulai menunjukkan peningkatan yang baik, maka pihak direksi

memutuskan untuk segera membuat minuman Cap Badak dalam kemasan botol plastik (PET) terlebih dahulu daripada perencanaan pembuatan minuman Cap Badak dengan kemasan kaleng. Alasan belum dibuat minuman dalam kemasan plastik (PET) di tahun 2000-an adalah karena memang pangsa pasar minuman Cap Badak pada saat itu memang masih khusus pulau Sumatera saja, khususnya Sumatera Utara. Karena penjualan memuncak sekarang ini, maka direksi memutuskan untuk segera melaksanakan rencana untuk membuat minuman Cap Badak dengan kemasan plastik terlebih dahulu. Selanjutnya akan dibuat dengan kemasan kaleng jika penjualan kemasan plastik (PET) juga baik. Botol plastik PET (Polyethylene Therepthalate) adalah botol dengan tingkat kejernihan yang tinggi, kaku, dan memiliki sifat sebagai gas barrier. Botol PET memiliki pori-pori yang kecil dan membuatnya mampu menyimpan gas dan aroma yang lebih lama dibanding beberapa material botol plastik lainnya.

d. Perawatan Lingkungan Sekitar (Environmental Care) dan Pengelolaan Limbah Pabrik

Peneliti menanyakan ke beberapa masyarakat di desa Pematang mengenai dampak yang ditimbulkan oleh pabrik ini. Masyarakat di desa Pematang mengungkapkan bahwa perusahaan PT. Pabrik Es Siantar tidak pernah merusak air sungai Bah Bolon dengan limbah produksi mereka, terlebih lagi masyarakat desa Pematang masih mengandalkan sungai Bah Bolon untuk membantu kegiatan sehari-hari mereka seperti mencuci pakaian dan piring. Masyarakat desa Pematang menyatakan bahwa air tidak pernah tercemar dengan limbah cair dari perusahaan ini. Justru, PT. Pabrik Es Siantar yang membuat dan mengkontrol bendungan sungai Bah Bolon dinilai sangat membantu masyarakat, sehingga sungai Bah Bolon

tidak pernah meluap di desa Pematang. PT. Pabrik Es Siantar selalu membuka dan menutup kanal-kanal di bendungan sungai secara tepat waktu sehingga air dapat mengalir dengan baik.

Sekretaris perusahaan PT. Pabrik Es Siantar mengemukakan tentang bagaimana PT. Pabrik Es Siantar berupaya untuk tidak merusak lingkungan sekitar pabrik, yaitu desa Pematang, dimana daerah ini dikelilingi oleh aliran sungai Bah Bolon. Perusahaan ini memiliki dua jenis limbah, yaitu limbah padat dan limbah cair. Perusahaan juga sudah menetapkan pegawai-pegawai untuk menangani limbah-limbah ini, sehingga pegawai-pegawai tersebutlah yang bertanggung jawab mengelola limbah pabrik. Limbah padat berupa botol-botol kaca yang pecah, retak, kotor, dan tidak layak pakai lagi, sedangkan limbah cair berupa limbah yang dihasilkan dari proses produksi minuman Cap Badak yang berupa sisa buangan air hasil produksi dari syrup room dan juga peracikan minuman. Cara pengolahan limbah-limbah tersebut ialah:

1. Limbah Padat

Limbah yang dihasilkan berupa botol-botol yang sudah rusak, akan dimasukkan kedalam peti-peti boks yang disimpan di bagian pergudangan, untuk kemudian dibawa lagi ke perusahaan pembuat botol kaca langganan perusahaan untuk akhirnya dilebur dan dibuat botol kembali.

2. Limbah Cair

Tahap pengolahan limbah cair yaitu pertama melalui penyaringan (filtrasi) dimana limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan alat penyaring untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah. Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan

ke suatu bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat lain dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel-partikel pasir jatuh ke dasar bak sementara air limbah terus dialirkan untuk kemudian dilakukan pengendapan partikel. Endapan partikel-partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Endapan partikel dari air limbah tersebut akan dibakar, sementara air yang dialirkan dan sudah bersih dari partikel-partikel akan dijadikan air untuk pengairan kolam pemeliharaan ikan di kolam-kolam milik PT. Pabrik Es Siantar yang berada di sebelah lingkungan pabrik. Sekretaris PT.

Pabrik Es Siantar mengatakan, jika air tersebut bersih, maka air tersebut tentunya bisa menjadi air untuk mengisi kolam-kolam ikan setiap harinya. Dan hal ini selalu terbukti dan dilakukan tanpa meracuni ikan-ikan. Air yang terlihat di kolam-kolam ikan ini juga tampak sangat jernih dan bersih.

4.2.2 Formulasi Strategi Alternatif 4.2.2.1 Strategi Masa Lalu dan Sekarang

Strategi yang digunakan PT. Pabrik Es Siantar sebelum menggunakan strategi yang sekarang adalah memasarkan produk Cap Badak hanya untuk Sumatera Utara saja, strategi ini berjalan di tahun 80 hingga 90an, dan perusahaan ini melakukan promosi di radio, media cetak, dan promosi melalui baliho/banner.

Namun sekarang strategi mereka sudah tidak hanya memasarkan produk di Sumatera Utara saja, namun memasarkan di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Papua demi mencapai citra sebagai perusahaan multinasional.

Sekarang ini promosi tidak dilanjutkan. Ketika sudah berada di tangan direktur yang sekarang, yaitu anak dari Bapak Julianus Hutabarat, promosi diberhentikan.

Hal ini disampaikan pemilik (owner) sebagai kebijakan perusahaan meskipun staf-staf dan pengurus/pimpinan PT. Pabrik Es selalu berupaya membujuk pemilik (owner) untuk melakukan promosi. Pemilik (owner) mengatakan bahwa tanpa promosi sudah banyak orang yang datang ke pabrik untuk memesan, apalagi kalau promosi, tentu perusahaan akan menerima banyak permintaan, sementara kapasitas mesin masih menggunakan kapasitas mesin yang lama dan perusahaan akan kewalahan. Bahkan sekarang meskipun perusahaan telah menerapkan sistem dua shift, mereka tidak sanggup untuk melayani banyaknya permintaan. Jadi promosi akan dilakukan segera jika mesin-mesin sudah di recovery atau diregenerasi.

4.2.2.2 Kinerja Masa Lalu dan Sekarang

Cap Badak dahulunya merupakan raja minuman di tahun 60-an sejak perusahaan berpindah dari kepemilikan orang Swiss ke pribumi. Kepemilikannya menjadi milik Bapak Julianus Hutabarat. Tahun 60-an sampai tahun 80-an, minuman Cap Badak ini adalah rajanya di pemasaran minuman. Namun sejak tahun 90-an, Coca-Cola melakukan promosi besar-besaran hingga tahun 2000-an yang mengakibatkan omzet PT. Pabrik Es Siantar ini menurun.

Namun, di era tahun 2000-an hingga sekarang, kembali lagi minuman Cap Badak ini menjadi ‘raja di kolam kecil’. Artinya, kenapa minuman ini bisa kembali menjadi raja—disebabkan sekarang prinsipnya adalah ‘kesehatan itu lebih penting dari segalanya’. Setelah ada beberapa masyarakat yang mulai mengerti mengenai kesehatan, melakukan penelitian-penelitian ke minuman Coca-Cola tadi, ditemui bahwa minuman Coca-Cola itu memiliki bahan-bahan yang persentase bahan kimianya lebih banyak dibandingkan dengan minuman Cap Badak. Jadi, lebih banyaklah isu-isu yang timbul yang menyebabkan penyakit dari minuman

Coca-Cola, dan diselidiki bahwa minuman Cap Badak tidak banyak mengandung risiko jika diminum, karena bahan bakunya yang masih alami. Jadi sudah banyak masyarakat yang lebih percaya meminum Cap Badak ketimbang Coca-Cola sehingga pasarnyapun semakin meningkat lagi.

Seiring dengan perkembangan teknologi seperti informasi dan komunikasi yang cukup pesat, PT. Pabrik Es Siantar juga sudah memanfaatkan teknologi internet yang dikelola oleh salesman dalam mengupayakan penjualan Cap Badak semakin meningkat sehingga omzetnya naik dengan cara memasukkannya ke sosial media, internet, dan aplikasi-aplikasi online lainnya.

4.2.2.3 Sasaran Jangka Panjang dan Jangka Pendek

Sasaran jangka panjang minuman Cap Badak adalah membuat produk Cap Badak di kemasan plastik (PET) namun tetap memasarkan kemasan botol kaca juga. Sementara untuk sasaran jangka pendeknya, perusahaan akan menambah mesin produksi minuman agar pemasaran di daerah lokal tetap terjaga pangsa pasarnya. Pangsa pasar yang ada pada saat ini dijaga dengan tetap melakukan sistem distributor, dimana ada sistem yang langsung memasarkan ke outlet-outlet, grosir, atau pembeli, dan perusahaan menjaga pangsa pasar dengan pendekatan kekeluargaan berupa komunikasi via telepon, pendekatan diri dengan konsumen melalui salesman.

4.2.2.4 Analisis SWOT a. Kekuatan (Strengths)

Kekuatan pertama yang dimiliki oleh PT. Pabrik Es Siantar adalah sumber daya alam yang dimiliki serta lokasi yang strategis untuk mendirikan dan menjalankan pabrik minuman. Air yang dimiliki perusahaan ini sebagai bahan

dasar pembuatan minuman Cap Badak selalu menggunakan mata air yang bersih dan berasal dari mata air pilihan dan temuan sang pendiri yaitu Bapak Heinrich Surbeck yang airnya sudah diuji dan diketahui sangat jernih dan tidak menimbulkan penyakit. Mata air ini selalu mengalirkan air jernih dan tersedia di alam dalam jumlah yang besar sejak pertama kali pabrik ini dibuka hingga sekarang, sehingga tidak perlu membeli air dari PDAM.

Kekuatan selanjutnya perusahaan ini memiliki sumber energi yang tersedia di alam secara cuma-cuma, yaitu turbin, alat pembangkit listrik yang diciptakan oleh Bapak Heinrich Surbeck. Mesin turbin tersebut diputar melalui aliran air dari sungai Bah Bolon yang deras dan telah dibendung oleh Heinrich Surbeck.

Bendungan tersebut dapat dilihat di sekeliling wilayah pabrik, bendungan inilah yang membantu pengairan turbin agar selalu berputar menghasilkan tenaga listrik, sehingga tidak perlu menggunakan listrik yang disediakan oleh PLN.

Kemudian, minuman Cap Badak ini sudah menjadi primadona di kota Pematangsiantar dan Medan, sehingga banyak masyarakat yang mempercayai minuman ini untuk dikonsumsi, dan merk Cap Badak ini sudah dianggap legenda bagi kota Pematangsiantar yang memiliki sejarah penting dalam kemajuan ekonomi kota Pematangsiantar. Perusahaan ini sudah mendapat consumer trust terhadap produknya, sehingga tidak perlu lagi melakukan upaya membangun kepercayaan.

Selain itu perusahaan ini diakui oleh Indonesia Living Legend Brands 2012 sebagai produk asli Indonesia yang berhasil mencapai umur 96 tahun pada tahun 2012, yang artinya untuk tahun 2019, perusahaan ini telah berumur 103 tahun. Pepsi-Cola International juga pernah memberikan penghargaan terhadap PT. Pabrik Es Siantar

pada tahun 1988 atas Quality Excellence atau kualitas yang luar biasa dari produk Cap Badak.

Cita rasa minuman ini juga dianggap merupakan sebuah kekuatan bagi perusahaan ini karena resep aslinya hanya diketahui oleh perusahaan ini saja karena yang memperkenalkan rasa ini adalah Bapak Heinrich Surbeck sebagai pendiri perusahaan ini. Sebagai seorang yang juga ahli botani, rasa sarsaparilla menurut beliau adalah rasa yang berasal dari sebuah tumbuhan herbal dari Meksiko, sehingga perusahaan ini tidak pernah mencemaskan jika ada perusahaan lain yang meniru rasa sarsaparilla ini, karena satu-satunya penghasil minuman sarsaparilla terbaik di Indonesia adalah PT. Pabrik Es Siantar, bahkan jika dibandingkan dengan produk sarsaparilla dari A&W dan tidak menganggap A&W sebagai pesaing.

b. Kelemahan (Weaknesses)

Kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan ini adalah mesin-mesinnya yang tua dan belum adanya niat dari pihak manajemen (owner) dalam meregenerasi mesin-mesin yang sudah tua. Mesin yang digunakan merupakan mesin peninggalan dari pendiri pabrik ini.

Sistem botol yang diterapkan oleh perusahaan ini juga merupakan kelemahan bagi perusahaan ini, karena botol kaca bisa pecah, hilang dan tidak dikembalikan oleh pembeli. Artinya, pembeli tidak bisa memiliki botol, botol harus kembali ke pabrik agar produksinya tidak terhambat. Jika banyak botol yang dikembalikan, maka produksi akan banyak dan berjalan lancar. Namun jika banyak yang tidak mengembalikan botol, maka produksi juga akan berkurang.

Sedangkan menurut salah satu informan, produk Cap Badak ini cukup sulit ditemui, hanya tersedia di tempat-tempat tertentu saja.

c. Peluang (Opportunities)

Pimpinan PT. Pabrik Es menjelaskan bahwa peluang pasar yang sekarang dirasakan oleh PT. Pabrik Es Siantar adalah sudah banyaknya pesanan dari luar pulau Sumatera. Banyak masyarakat-masyarakat dari luar pulau Sumatera berdatangan ke PT. Pabrik Es Siantar yang datang untuk meminta agar minuman Cap Badak dipasarkan di luar pulau Sumatera. Maka perusahaan ini melihat peluang. Jika perusahaan ini bisa mensuplai produk ini ke luar pulau Sumatera sesuai dengan pesanan yang dibutuhkan dan berhasil meraih pangsa pasar baru, maka perusahaan ini bukanlah menjadi perusahaan lokal lagi melainkan sudah menjadi perusahaan multinasional.

Peluang selanjutnya menurut karyawan PT. Pabrik Es Siantar bisa didapatkan dari pengadaan minuman Cap Badak dengan kemasan plastik (PET).

Lalu, peluang selanjutnya bisa diterima dari investasi botol yang berjalan lancar yang dapat memaksimalkan hasil produksi.

Menurut konsumen Cap Badak, peluang yang dapat dicapai oleh PT. Pabrik Es Siantar adalah dengan menyegerakan memproduksi minuman Cap Badak dengan kemasan botol plastik agar pemasarannya lebih luas lagi hingga ke swalayan-swalayan atau toko-toko. Selanjutnya, rasa dari Cap Badak ini merupakan sebuah peluang, karena rasanya tidak pernah berubah, unik, disukai masyarakat dan sudah memiliki pelanggan tetap. Peluang juga bisa datang melalui promosi agar produk lebih dikenal masyarakat.

d. Ancaman (Threats)

Berdasarkan pemaparan dari pimpinan, ancaman yang dirasakan oleh PT.

Berdasarkan pemaparan dari pimpinan, ancaman yang dirasakan oleh PT.