BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, menurut Bogdan dalam Sugiyono (2014: 427), analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting
dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.
3.7.1 Analisis Deskriptif Kualitatif dengan Model Miles and Huberman Data yang diperoleh pada penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Tujuannya untuk memberikan gambaran secara sistematis, aktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diteliti. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan konsep ilmu manajemen strategis. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui strategi perusahaan dalam mempertahankan eksistensi, mengetahui implementasi dan evaluasi strategi tersebut dan hambatan yang dihadapi perusahaan dalam menjalankan strategi tersebut. Menurut Miles dan Huberman dalam buku Metode Penelitian Bisnis oleh Sugiyono (2014: 430), aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data terdiri dari langkah-langkah berikut ini:
Gambar 3.1
Analisis Deskriptif Kualitatif Miles dan Huberman
Sumber: Metode Penelitian Bisnis (Sugiyono, 2014)
Data Collection (Pengumpulan Data)
Data Display (Penyajian Data)
Data Reduction (Reduksi Data)
Conclusion:
Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan
dan Verifikasi)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks, dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal-hal-hal yang penting, dicari pola dan tema dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
Selanjutnya, penyajian data memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Selanjutnya disarankan, dalam melakukan penyajian data, selain dengan teks yang naratif, juga dapat berupa grafik, matriks, jejaring kerja (network), dan chart.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih gelap sehingga sehingga diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
3.7.2 Analisis Matriks SWOT
Analisis matriks SWOT digunakan untuk mengetahui strategi apa yang akan digunakan setelah melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki industri. Pada dasarnya, alternatif strategi yang diambil harus diarahkan pada usaha-usaha untuk menggunakan kekuatan dan memperbaiki kelemahan, memanfaatkan peluang-peluang bisnis, serta mengantisipasi ancaman. Analisis matriks SWOT dimulai dengan identifikasi aspek positif, yaitu strength (kekuatan) dan aspek negatif, yaitu weakness (kelemahan) dari internal perusahaan. Sedangkan dari eksternal perusahaan dilakukan identifikasi opportunities (peluang) dan threat (ancaman).
Sebuah matriks SWOT terdiri atas Sembilan sel, dimana terdapat empat sel faktor utama, empat sel strategi, dan satu sel yang dibiarkan kosong (sel kiri atas).
Keempat sel strategi, yang diberi nama SO, WO, ST, dan WT, dikembangkan setelah melengkapi keempat sel faktor utama, yang diberi nama S, W, O, dan T.
Langkah-langkah dalam membentu sebuah matriks SWOT adalah sebagai berikut:
1) Buat daftar peluang-peluang eksternal utama perusahaan.
2) Buat daftar ancaman-ancaman eksternal utama perusahaan.
3) Buat daftar kekuatan-kekuatan internal utama perusahaan.
4) Buat daftar kelemahan-kelemahan internal utama perusahaan.
5) Cocokkan kekuatan internal dengan peluang eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi SO.
6) Cocokkan kelemahan internal dengan peluang eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi WO.
7) Cocokkan kekuatan internal dengan ancaman eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi ST.
8) Cocokkan kelemahan internal dengan ancaman eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi WT.
Tabel 3.3 Matriks SWOT
Sumber: Teknik Membedah Kasus Bisnis Analisis SWOT, (Freddy Rangkuti, 2015)
3.7.3 Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal Factor Evaluation – IFE Matrix)
Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi, suatu Matriks IFE disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka strength and weakness perusahaan. Tahapannya adalah:
1. Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan dalam kolom 1.
2. Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1,0 (paling penting) sampai 0,0 (tidak penting), berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. (Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1,00).
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Kekuatan-S Kelemahan-W
Peluang-O SO Strategi WO Strategi
Ancaman-T ST Strategi WT-Strategi Daftar-daftar
3. Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersikap negatif, kebalikannya. Contohnya, jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri, nilainya adalah 1, sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri, maka nilainya adalah 4.
4. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skala pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4,0 (outstanding) sampai dengan 1,0 (poor).
5. Jumlahkan skor pembobotan pada kolom 4 untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya.
Bobot ditentukan sebagai berikut:
Bobot Keterangan Rating Keterangan
>0,20 Sangat kuat 4 Major strength
0,11 - 0,20 Kekuatan diatas rata-rata 3 Minor strength
0,06 - 0,10 Kekuatan rata-rata 2 Minor weakness
0,01 - 0,05 Kekuatan dibawah rata-rata 1 Major weakness
Tabel 3.4 Matriks IFE Faktor-Faktor
Strategi Internal Bobot Rating Bobot x Rating Kekuatan:
1.
2.
Kelemahan:
1.
2.
Total 1.00
Sumber: Teknik Membedah Kasus Bisnis Analisis SWOT (Freddy Rangkuti, 2015) 3.7.4 Analisis Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (External Factor Evaluation - EFE Matrix)
Sebelum membuat matriks faktor strategi eksternal, maka perlu diketahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal yang berupa peluang dan ancaman. Berikut adalah penentuan EFAS:
1. Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai 10 peluang dan ancaman).
2. Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.
3. Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4, tetapi jika peluangnya kecil, diberi rating +1). Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya.
Misalnya, jika nilai ancamannya sangat besar ratingnya adalah 1. Sebaliknya, jika nilai ancamannya sedikit maka ratingnya adalah 4.
4. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4,0 (outstanding) sampai dengan 1,0 (poor).
5. Jumlahkan skor pembobotan pada kolom 4 untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama. Bobot ditentukan sebagai berikut:
Bobot Keterangan Rating Keterangan
>0,20 Sangat kuat 4 The respon is superior
0,11 - 0,20 Kekuatan diatas rata-rata 3 The respon is above average
0,06 - 0,10 Kekuatan rata-rata 2 The respon is average 0,01 - 0,05 Kekuatan dibawah rata-rata 1 The respon is poor
Tabel 3.5 Matriks EFE Faktor-Faktor
Strategi Eksternal Bobot Rating Bobot x Rating Peluang:
1.
2.
Ancaman:
1.
2.
Total 1.00
Sumber: Teknik Membedah Kasus Bisnis Analisis SWOT (Freddy Rangkuti, 2015)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1 Sejarah PT. Pabrik Es Siantar
Pada abad ke-20, Pematangsiantar merupakan kota kedua yang terpenting dan terbesar di Sumatera Utara setelah kota Medan. Pihak asing seperti Belanda melihat kota ini mempunyai nilai positif dan berpotensi untuk berinvestasi karena lokasinya dianggap aman, tertib, penduduknya juga banyak serta sumber daya nya melimpah sehingga bahan baku mencukupi. Investasi yang dilakukan berupa membuka perkebunan-perkebunan sehingga mendatangkan banyak pendatang untuk bekerja ataupun sekedar berkunjung, hal inilah yang membuat jumlah penduduknya bertambah banyak. Dengan kata lain, kota Pematangsiantar berkembang dengan cepat dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Sumatera Utara akibat dari pertambahan penduduk dan industrialisasi.
PT. Pabrik Es Siantar berdiri sejak tahun 1916 di kota Pematangsiantar dengan nama awal NV Ijs Fabriek. NV merupakan singkatan kata dari Bahasa Belanda yaitu Naamloze Vennootschap yang berarti Perseroan Terbatas. NV Ijs Fabriek didirikan oleh seorang sarjana teknik kimia berkebangsaan Swiss bernama Heinrich Surbeck yang pertama kali dating ke Sumatera Utara pada tahun 1902.
Surbeck mendirikan pabrik gambir di Gunung Melayu (Asahan), pembangkit listrik, hotel, dan pabrik es dan minuman di kota Pematangsiantar di bawah nama NV Ijs Fabriek yang memperoleh es batangan.
Pada penetapan lokasi dibangunnya pabrik minuman ini, Surbeck yang merupakan seorang ahli kimia dan ahli botani, tentu telah melakukan sejumlah
perjalanan ke beberapa daerah di Sumatera Utara untuk mencari lokasi dimana sumber daya nya bagus. Akhirnya Surbeck menemukan air di kota Pematangsiantar sangat jernih dan keluar langsung dari mata airnya, dan Surbeck telah menguji air dari mata air tersebut dan Surbeck menyimpulkan air tersebut sangat aman dikonsumsi. Pertimbangan Surbeck yang selanjutnya adalah karena di sebelah lokasi pabrik ditemukan sungai Bah Bolon yang mengalir deras sehingga baik dimanfaatkan untuk menciptakan tenaga listrik dengan turbin. Oleh karena itu, pihak NV Ijs Fabriek membendung sungai Bah Bolon yang mengalir mengelilingi wilayah pabrik itu. Keunggulan NV Ijs Fabriek dalam menciptakan sumber tenaga listrik pada saat itu membuat NV Ijs Fabrik menjadi pemasok listrik bagi kota Pematangsiantar sebelum PLN.
Bisnis es batangan, pembangkit listrik dan hotel yang dibangun Surbeck berjalan dengan baik. Pabrik yang dimiliki oleh Surbeck mengalami peningkatan pada produk yang diproduksi pada tahun 1920-an, NV Ijs Fabriek mulai merambah ke produksi minuman berkarbonasi yang terdiri dari delapan varian rasa yaitu Orange Pop, Sarsaparilla, Raspberry, Nanas, Grape Fruit Soda, American Ice Cream Soda, Coffee Bear dan Soda Water dengan nama Cap Badak sebagai label produk dan produk-produk tersebut menjadi primadona dan melekat di masyarakat.
Pemilihan nama Cap Badak memiliki filosofi sendiri selain karena Surbeck merupakan seorang yang tertarik kepada alam, badak dianggap sebagai hewan yang memiliki kulit dan tanduk yang keras, sehingga filosofinya adalah pabrik ini akan tetap kuat dan tidak akan membuat eksistensinya surut dalam memproduksi minuman Cap Badak dan es batangan.
NV Ijs Fabriek tetap terus beroperasi dan eksis hingga pendudukan Jepang.
Bahkan setelah kemerdekaan Indonesia, pabrik ini tetap bertahan dengan nama yang sama dan produksi yang sama tanpa mengubah sedikitpun resep mereka.
Kemudian situasi berubah sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Terjadi pemberontakan antara Heinrich Surbeck dengan laskar rakyat yang memberontak terhadap pemerintahan Belanda, sehingga Surbeck dibunuh, dan dua anaknya segera diungsikan ke Eropa sehingga mereka selamat. Meski tanpa kehadiran Surbeck, NV Ijs Fabriek tetap beroperasi. Pihak keluarga Surbeck mempercayakan Elman Tanjung yang merupakan office boy kepercayaan Surbeck di NV Ijs Fabriek untuk melanjutkan operasi pabrik ini.
Elman Tanjung sudah menjadi pegawai tetap dan pegawai kepercayaan Surbeck. Tanjung sudah bekerja pada Surbeck sejak pabrik didirikan. Pabrik ini dititipkan sementara pada Tanjung untuk dioperasikan hingga akhirnya pada tahun 1947 anak dari Surbeck yaitu Lydia Rosa kembali ke Pematangsiantar dan kembali mengelola pabrik tersebut. Lydia Rosa menikah dengan pria berkebangsaan Belanda bernama Otto, dan mereka berdua mengelola NV Ijs Fabriek bersama-sama hingga tahun 1959. Pasca kemerdekaan, Indonesia dipenuhi isu-isu nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing, dan membuat Otto dan Lydia Rosa menyerahkan kembali NV Ijs Fabriek kepada Elman Tanjung. Hingga tahun 1963, Otto dan Lydia masih berada di Indonesia, namun pada akhirnya mereka keluar dari Indonesia menuju Swiss.
Kemudian Elman Tanjung menjadi pengelola sah NV Ijs Fabriek. Tanjung kemudian menawarkan NV Ijs Fabriek kepada sahabatnya yang merupakan seorang pengusaha bernama Julianus Hutabarat atas persetujuan Otto dan Lydia. Hutabarat
dan saudara-saudaranya adalah pengusaha yang memiliki perusahaan bernama Barat Trading Company akhirnya tertarik dengan tawaran tersebut.
Pasca isu nasionalisasi perusahaan asing dan dekrit presiden dimana perusahaan asing diberikan kepada pihak pribumi, Tanjung menyarankan agar secepatnya memindahtangankan NV Ijs Fabriek. Pada tahun 1969 NV Ijs Fabriek beserta aset seperti Siantar Hotel sudah dibeli dan menjadi milik keluarga Julianus Hutabarat. Setelah dikelola oleh Julianus Hutabarat, nama NV Ijs Fabriek berubah menjadi PT. Pabrik Es Siantar dengan hasil produksi yang sama.
Peranan Elman Tanjung dalam mempertahankan eksistensi perusahaan ini membuatnya mendapatkan hadiah dari keluarga Julianus Hutabarat yaitu berupa rumah yang letaknya disebelah Siantar Hotel. Bersama Julianus Hutabarat, pabrik dan hotel tersebut bertambah maju, ditunjukkan dengan penambahan gedung dan kamar-kamar baru, penggantian mesin, dan fasilitas lainnya.
Pada tahun 1990 PT. Pabrik Es Siantar mengalami dampak negatif dari globalisasi yang mengakibatkan bertambahnya pesaing dipasaran seperti Coca-Cola, sehingga hal ini membuat PT. Pabrik Es Siantar mengalami pengurangan produksi minuman. Pada awalnya terdapat delapan rasa minuman yang diproduksi, dan berubah menjadi tiga rasa minuman yaitu Sarsaparilla, Soda Water dan produk es batangan.
4.1.2 Visi, Misi, dan Tujuan PT. Pabrik Es Siantar
Visi menurut Pardede (2011: 78) menunjukkan suatu keadaan atau tingkat prestasi yang diinginkan atau diharapkan oleh organisasi atau perusahaan akan terwujud pada suatu titik waktu tertentu di masa yang akan datang.
Misi menurut Pardede (2011: 77) menunjukkan apa yang akan dilakukan oleh organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuannya. Misi merupakan dan menunjukkan alasan bagi keberadaan setiap perusahaan setiap perusahaan di pasar.
Tujuan menurut Pardede (2011: 77) menunjukkan apa yang akan dicapai atau diwujudkan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mendirikan organisasi atau perusahaan.
a. Visi PT. Pabrik Es Siantar
Menjadikan PT. Pabrik Es Siantar menjadi perusahaan es dan minuman yang berkelas dunia.
b. Misi PT. Pabrik Es Siantar
1. Mengembangkan dalam kemajuan perusahaan infrastruktur perusahaan secara terintegrasi.
2. Mengembangkan kualitas SDM perusahaan sebagai aset terpenting dalam kemajuan perusahaan.
3. Meningkatkan kesejahteraan para karyawan PT. Pabrik Es Siantar.
c. Tujuan PT. Pabrik Es Siantar
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perusahaan.
2. Memperoleh keuntungan untuk jangka waktu panjang.
3. Meningkatkan eksistensi perusahaan di era globalisasi.
4.1.3 Struktur Organisasi PT. Pabrik Es Siantar
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang diharapakan dan diinginkan.
Gambar 4.1
Struktur Organisasi PT. Pabrik Es Siantar
Sumber: PT. Pabrik Es Siantar (2019)
Manager
4.1.3.1 Deskripsi Pekerjaan
Deskripsi pekerjaan adalah suatu pernyataan tertulis tentang apa yang senyatanya dilakukan oleh pemegang jabatan, bagaimana melakukannya, dan dalam kondisi seperti apa jabatan tersebut dilaksanakan. Berikut adalah deskripsi pekerjaan di PT. Pabrik Es Siantar:
Adapun bidang-bidang kerja yang terdapat dalam PT.Pabrik Es Siantar adalah sebagai berikut:
a. Manajer
Manajer bertugas mengambil keputusan dan kebijaksanaan yang berkaitan dengan tujuan dan arah perusahaan, mengkoordinir semua kegiatan perusahaan dan memberikan arahan kepada pegawai agar pegawai dapat bekerja secepatnya dalam proses pencapaian sasaran atau target yang telah ditetapkan.
b. Kepala Bagian Produksi
Kepala bagian produksi minuman Cap Badak bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran proses produksi minuman Cap Badak maupun kualitas produk. Tanggung jawab seorang kepala bagian produksi terdiri dari sebagai berikut:
1. Bertanggung jawab terhadap pengawasan kualitas produksi.
2. Bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pengawasan keamanan mesin dan alat serta bahan baku yang dipakai dalam produksi di dalam lingkup pengawasannya.
3. Bertanggung jawab terhadap pemeliharaan keamanan dan ketenangan bekerja dari setiap pegawai yang terlibat dengan produksi di dalam lingkup pengawasannya.
4. Bertanggung jawab terhadap pemeliharaan kebersihan, keserasian, keindahan, dan keteraturan lingkungan pengawasannya.
5. Merawat mesin-mesin dan alat-alat produksi.
6. Merealisasikan target produksi yang telah ditentukan.
7. Menghindari ganjaran produksi yang mungkin timbul sebagai akibat dari teknik operasional manual/sistematis dan waktu yang terbuang.
Dalam melakukan tanggung jawab ini, kepala bagian produksi dibantu oleh sub bagian yang bertugas sebagai berikut:
a) Sub Quality Control: memeriksa, mengawasi dan menilai kualitas minuman yang dibuat oleh syrup room, mempertahankan standar sesuai dengan prosedur kesehatan/sebagai penunjuk kepada BPOM, bertanggung jawab atas pelaksanaan sanitasi/kebersihan dari komponen produksi, bertanggung jawab atas kualitas dan kuantitas produksi awal sampai akhir, bertanggung jawab atas laporan mingguan dan bulanan pada Ka. Produksi.
b) Sub Bagian Mandor Produksi: mengarahkan dan mengawasi pegawai dalam menjalankan tugas masing-masing, memelihara kebersihan ruangan produksi, mengevaluasi hasil kerja anggota tim, bekerja sama dengan Quality Control dan Maintenance dalam penanggulangan kualitas maupun kelancaran proses produksi dan bertanggung jawab terhadap laporan jumlah produksi harian.
c) Sub Bagian Produksi: membantu Kepala Bagian Produksi.
c. Kepala Bagian Personalia
Kepala bagian personalia bertanggung jawab kepada dua sub bagian yang menjalankan tugas sebagai berikut:
1. Sub Bagian Personalia: menerima, mengadakan seleksi dan mendapatkan karyawan yang ada sesuai dengan tingkat pendidikannya dan keterampilan yang dimiliki karyawan tersebut.
2. Sub Bagian Keamanan: menjaga keamanan tenaga kerja, keselamatan pegawai dan harta perusahaan.
d. Bagian Administrasi dan Keuangan
Bagian Administrasi dan Keuangan berfungsi dalam menjalankan tugas administrasi seperti berikut ini:
1. Menjalankan kegiatan administrasi PT. Pabrik Es Siantar dan mengurus keluar atau masuknya surat.
2. Mengurus penerimaan dan pengeluaran uang 3. Mengurus penyetoran dan penarikan uang ke Bank 4. Mengurus laporan keuangan perusahaan secara periodik.
Dalam menjalankan tugas, kepala administrasi dan keuangan dibantu oleh beberapa sub bagian yaitu:
a) Sub Bagian Kredit: mengurus administrasi kredit dan bertanggung jawab atas kebijaksanaan pemberian kredit dan tagihan kredit.
b) Bagian Kasir: mengurus penerimaan setoran dan mengeluarkan uang yang telah mendapat persetujuan dari Kepala Administrasi dan Keuangan. Kasir juga bertugas wajib dalam membuat laporan uang masuk dan uang keluar.
c) Sub Bagian Administrasi: mengurus administrasi dan keuangan dan pembukuan seperti: administrasi pajak perusahaan, penataan kartu biaya-biaya dll.
d) Bagian Gudang dan Bahan Baku: menerima dan mengeluarkan bahan baku.
e) Bagian Gudang Bahan Jadi: menerima, mencatat dan menyimpan persediaan barang jadi yang masuk ke gudang, memeriksa apakah persediaan yang diterima sesuai dengan hasil bagian produksi, memeriksa apakah terdapat kerusakan atas barang yang diterima, mencatat dan mengeluarkan barang dari gudang sesuai dengan jumlah yang disetujui.
e. Kepala Bagian Pengadaan
Kepala Bagian Pengadaan bertugas untuk menjamin ketersediaan bahan-bahan yang diperlukan perusahaan baik bahan baku maupun bahan pendukung. Dalam menjalankan tugas, kepala bagian pengadaan dibantu oleh sub bagian:
a) Sub Bagian Pembelian Bahan: mengadakan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proses produksi, waktu, jumlah dan mutu yang tepat.
b) Sub Bagian Penerimaan: menerima bahan baku yang dibeli dan menyerahkan kepada bagian gudang bahan
f. Kepala Bagian Penjualan
Kepala Bagian Penjualan bertugas dalam pengurusan laporan bulanan maupun harian penjualan. PT. Pabrik Es Siantar dibantu oleh PT. Jasa Harapan Barat dalam memasarkan hasil produksi. PT. Jasa Harapan Barat adalah anak perusahaan PT. Pabrik Es, dan perusahaan inilah yang melaporkan penjualan pada PT. Pabrik Es Siantar.
g. Kepala Bagian Teknik
Dalam menjalankan tugas, kepala bagian teknik dibantu oleh beberapa sub bagian yaitu:
1. Sub Bagian Bengkel: menjaga kelancaran jalannya mesin-mesin produksi pembuat atau pengolah bahan baku, dan melaksanakan perbaikan alat transportasi apabila mengenai kerusakan.
2. Sub Bagian Transportasi: membawa bahan baku dan barang jadi, mengeluarkannya dari perusahaan, dan menjamin kelancaran alat-alat transportasi.
4.1.4 Produk PT. Pabrik Es Siantar
Sejak PT. Pabrik Es Siantar didirikan, PT. Pabrik Es Siantar hanya memproduksi es batangan dan kemudian merambah ke produksi minuman bersoda,
Sejak PT. Pabrik Es Siantar didirikan, PT. Pabrik Es Siantar hanya memproduksi es batangan dan kemudian merambah ke produksi minuman bersoda,