Manusia ada untuk dicintai, bukan untuk digunakan -Budi Nugraha-
HARAPAN YANG TAK SETINGGI KENYATAAN Nadia Sofihara
Pertama
Hari itu Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) UIN Jakarta mengumumkan lokasi dan kelompok saya untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Karena tahun ini begitu berbeda dari tahun sebelumnya, dengan kebijakan PPM yang menentukan langsung lokasi dan kelompok KKN kami, saya merasa sangat tidak setuju. Begitu saya melihat pengumuman, saya ditempatkan di Desa Sukasari, Rumpin, Bogor dan masuk ke kelompok 127. Dari apa yang saya dengar dan ketahui, Rumpin merupakan daerah pedesaan yang masih dipenuhi hutan dan terletak di jauh dari perkotaan, selain itu Rumpin terkenal dengan cuaca panasnya, dan akses yang cukup sulit karena jalanannya yang jelek. Belum lagi ada rumor yang mengatakan bahwa daerah Rumpin dikatakan berkeliaran banyak siluman dan kejahatan begal. Saya memiliki banyak harapan dengan lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang saya dapat. Saya harap apa yang saya dengar dari kebanyakan orang mengenai Rumpin salah, saya harap lokasi kami bukan di pelosok, dekat dengan kota, mudah akses kemana saja, serta membuat saya dan teman – teman merasa nyaman meskipun hanya untuk satu bulan. Saya mulai tidak tertarik dengan Kuliah Kerja Nyata ini. Dengan berbagai hal di dalamnya, dengan lokasi yang jauh dan sudah pasti pedesaan, dengan kelompok yang sama sekali tidak saya kenal. Dan dengan kegiatan satu bulan disana yang saya fikir akan terlalu lama dan membosankan.
Kemudian, hari yang ditunggu datang. Dengan merencanakan survei pada hari-hari sebelumnya, hari itu saya bersama kelompok KKN saya melakukan survei ke Desa Sukasari, Rumpin, Bogor. Kami berkumpul terlebih dahulu di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah semua berkumpul, saya dan teman-teman melakukan perjalanan menuju desa kami bermodalkan google maps. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam menggunakan sepeda motor. Jalan yang kami lewati sarat dengan truk yang ukurannya luar biasa besar, debu di mana-mana serta kontur jalanan yang sangat buruk. Pemandangan ini sempat membuat saya berfikir bahwa Rumpinadalah daerah yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Saya dan teman – teman sempat berhenti
dan bertanya beberapa kali mengenai alamat yang kami tuju. Alhasil kami telah sampai di Kantor Desa Sukasari dengan selamat. Kantor Desa Sukasari terletak di pinggir jalan desa, namun yang warga Desa Sukasari sebut dengan jalan desa ini benar-benar memprihatinkan, karena licin, penuh dengan lumpur, rusak, tidak terurus dan menurut penilaian saya, tidak layak disebut dengan jalan provinsi. Mulai banyak pendapat yang bermunculan ketika saya dan teman – teman telah sampai di desa. Kami segera masuk dan menemui staf desa yang berada di dalam kantor Desa Sukasari. Tidak banyak staf desa yang ada, karna kami melakukan survei di hari minggu, sedangkan hari minggu bukan hari aktif kerja. Kami membuka pertemuan dengan perkenalan, dan menjelaskan bahwa kami akan melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukasari selama satu bulan nanti, dimulai sejak tanggal 25 Juli 2016. Pihak desa menyambut dengan suka cita atas kedatangan dan niat baik kami yang akan melakukan kegiatan tersebut. Pada survei pertama ini, kami meminta informasi – informasi mengenai Desa Sukasari serta membicarakan hal-hal yang perlu ditanyakan yang berkaitan dengan kelancaran jalannya program kerja pada Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan kami laksanakan. Selesai melakukan pertemuan pertama dengan pihak desa, tadinya kami ingin menindak lajuti survei dengan turun lapangan ke desa langsung, namun pihak desa tidak menyanggupi untuk mengantar kami berkeliling dikarenakan Kantor Desa sedang libur, sehingga kami memutuskan untuk pulang. Setelah melakukan beberapa kali rapat kembali dengan kelompok KKN saya, kami merencanakan untuk melaksanakan survei selanjutnya. Pada survei selanjutnya, kami turun langsung ke desa, berkeliling di RW 03 dan RW 04, yaitu daerah yang kami tuju untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sejak survei-survei berikutnya, saya telah mengetahui lebih pasti bahwa lokasi kelompok KKN yang kami dapat berada di tengah perkebunan dan hutan, bahwa lokasi KKN kami jauh dari perkotaan, bahwa akses jalan menuju lokasi KKN kami kurang penerangan dan melewati jalan yang rusak, bahwa Desa Sukasari RW 03 dan RW 04 akan menjadi tempat tinggal dan kebiasaan kami selama satu bulan nanti.
Dari survei pertama yang saya dan kelompok KKN saya lakukan, saya mulai penasaran dengan kegiatan selanjutnya yang akan kami laksanakan. Walaupun saya sempat kecewa melihat kenyataan mengenai Desa Sukasari, Rumpin yang benar adanya, dengan cuaca panasnya,
| 133 daerah pedesaannya, jalan yang cukup buruk, akses yang sulit tanpa kendaraan umum, dan hal lain yang membuat saya cukup khawatir memikirkan nasib saya dan teman - teman nanti ketika melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Desa Sukasari ini.
11 Warna dalam Berlembar Hari-hariku
Ketika saya membaca ulang pengumuman mengenai pembagian kelompok KKN, saya merasakan ketidakadilan di tahun ini. Sebab, tahun ini bukan hanya lokasi yang secara sepihak ditentukan oleh pihak PPM, Bahkan kelompok KKN di tahun ini turut serta ditentukan oleh PPM. Saya masuk ke kelompok 127, yang dengan jelas bahwa 11 anggota di dalamnya berasal dari fakultas yang berbeda-beda. Banyak harapan saya terhadap nama-nama yang tertera di daftar kelompok 127. Walaupun sudah bisa di prediksi, menyatukan pemikiran dari 11 kepala dengan latar belakang pendidikan yang berbeda merupakan hal yang tidak mudah, tetapi saya masih terus berharap bahwa kelompok ini akan membawa saya kepada pengalaman KKN yang tidak biasa.
Pertama kali kami dikumpulkan oleh PPM bersama kelompok masing-masing, saya mencari bangku deretan kelompok 127. Ketika saya menemukannya, saya menelaah satu per satu setiap wajah yang ada disana. Saat itu saya telah mengetahui wajah – wajah mana yang akan hidup bersama saya sebulan nanti. Di hari itu pula, saya dan teman-teman secara aklamasi memilih ketua kelompok KKN 127. Berdasarkan pertemuan dan perkenalan pertama, maka telah disetujui bersama, Rista Aslin Nuha dari Fakultas Syariah dan Hukum terpilih sebagai ketua. Dengan begitu, besar harapan saya dan teman – teman terhadap ketua yang telah kami setujui untuk memimpin KKN 127.
Sebelum Kuliah Kerja Nyata (KKN) dilaksanakan, saya bersama kelompok saya beberapa kali mengadakan rapat. Pertama kali nya kami melaksanakan rapat, saya dan teman – teman membahas nama untuk kelompok KKN kami. Dan tercetus - lah nama ‘gerget’ yang berarti “Gerakan Edukasi Rakyat Go Excellent Transformation”. Hari-hari berikutnya kami berkumpul beberapa kali untuk mempersiapkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Desa Sukasari. Dari beberapa kali rapat tersebut, sedikit banyak saya telah mengenal setiap karakter yang dimiliki oleh teman sekelompok saya. Namun, pertemuan singkat yang kami lakukan di sela-sela kesibukan masing-masing, belum cukup untuk
membangun kekeluargaan dan kekompakan untuk hidup satu bulan nantinya. Selain mempersiapkan beberapa hal untuk kegiatan KKN GERGET, kami juga menyusun kepanitiaan untuk kegiatan kuliah kerja nyata kami. Saya sendiri, ditempatkan di divisi dekorasi dan dokumentasi. Saya sangat bersedia ditempatkan di divisi ini karena saya sering ditempatkan di divisi dekorasi dan dokumentasi dalam berbagai kepanitiaan. Namun saya belum memikirkan kendala yang akan terjadi nantinya pada saat kegiatan kuliah kerja nyata dilaksanakan. Nyatanya, dalam persiapan pra kegiatan kuliah kerja nyata ini masih terjadi beberapa kendala. Seperti, kurangnya komitmen terhadap kehadiran rapat, perbedaan pendapat dalam menentukan keputusan sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai tujuan, atau pun kesulitan untuk memahami sifat dan karakter masing-masing.
Pada tanggal 25 Juli 2016, kami berkumpul lapangan Student Center UIN Jakarta untuk melaksanakan pelepasan yang diadakan oleh PPM, serta melakukan persiapan keberangkatan. Setelah melaksanakan pelepasan, kami berangkat menuju Desa Sukasari. Beberapa menggunakan sepeda motor, dan yang lain menuju desa menggunakan mobil sekaligus mengangkut barang-barang keperluan kami untuk sebulan nanti di Desa Sukasari. Saya ikut rombongan mobil, berdesakan dengan barang-barang yang jika dilihat seperti orang pindahan rumah. Namun, ada cerita dibalik mobil yang kami bawa ini. Awalnya kami kesulitan mencari kendaraan untuk berangkat ke desa. Malamnya, saya mendapat kabar bahwa mobil
jadul paman saya bisa dipinjam untuk berangkat ke desa. Saya sudah
menawarkan ke teman sekelompok saya, bahwa ada mobil gratis yang bisa dipinjam, dengan konsekuensi mobil ini tidak memiliki alat pendingin, dan keluaran tahun 90-an. Semua setuju dengan penawaran ini. Ketika hari-H, teman sekelompok saya, yudis mengambil mobil kerumah paman saya, kemudian kami berangkat menuju UIN untuk mengangkut barang-barang. Pada awalnya, saya sempat berfikir bahwa tidak semua bisa menerima keadaan mobil yang kami bawa ke desa untuk mengangkut barang dengan hati dan pikiran yang legowo. Namun saya berusaha untuk tidak ambil pusing pada hal tersebut. Benar saja, sesampainya di UIN beberapa melihat dengan biasa saja dan tak protes, beberapa menunjukkan mimik mengejek karena mobil ini terlihat seperti mobil tua, beberapa berusaha menerima karena kita tidak punya pilihan kendaraan lagi. Saya cukup bersyukur, karena jika dilihat mungkin lebih
| 135 banyak teman sekelompok saya yang bersyukur terhadap keadaan ketimbang mengejek tanpa aksi. Saya mulai banyak berfikir, kalau waktu keberangkatan saja sudah ada masalah, bagaimana nanti? Saya hanya banyak berharap dan berdoa.
Perjalanan menggunakan mobil memakan waktu sekitar 2 jam, karena kita terjebak macet di daerah Pamulang. Sedangkan rombongan motor sudah tiba terlebih dahulu. Teman-teman yang sudah sampai di Desa Sukasari membersihkan rumah tinggal kami sebelum rombongan mobil datang. Akhirnya sesampainya rombongan mobil disana, kami menurunkan barang-barang dan menentukan spot-spot untuk melakukan kegiatan. Seperti, kamar utama hanya untuk perempuan, laki-laki tidur di ruang tengah atau kamar kosong dekat dapur dan ruang depan digunakan sebagai tempat belajar anak-anak desa nanti. Kami menyewa rumah sebagai tempat tinggal di RW 03 Desa Sukasari, rumah tinggal kami ini rencananya sekaligus kami jadikan taman baca dan rumah pintar untuk anak-anak. Malam pertama di Desa Sukasari ini kami manfaatkan untuk beristrirahat dan mempersiapkan kegiatan untuk esok hari.
Keesokan harinya, kami mengadakan rapat persiapan pembukaan dengan 2 kelompok lain yang juga melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukasari, yaitu kelompok 125 dan 126. Saya ikut serta untuk menghadiri rapat dirumah tinggal kelompok 126. Disana kami semua berdiskusi untuk menentukan rundown acara, teknisnya serta menentukan tamu undangan yang akan hadir. Kami merencanakan pembukaan sebaik mungkin. Namun, kadang kenyataan tak berjalan sesuai rencana. Kami melaksanakan pembukaan tanpa mikrofondan
speaker. Mengundang hanya beberapa staf desa dan pihak RW serta RT.
Namun dengan awal yang seperti ini bukan berarti segalanya akan berlalu dengan tidak baik.
Hari berikutnya kami jalani dengan melakukan kegiatan mengajar, melaksanakan pelatihan dan lain-lain. Namun banyak proses yang saya dan teman – teman lalui untuk berhasil melaksanakannya. Setiap pagi saya dan teman-teman perempuan yang lain melakukan kegiatan memasak. Meskipun saya tidak mahir dalam memasak, saya tidak ragu untuk membantu kalau hanya memotong-motong sayuran atau mengupas bawang. Kadang, beberapa laki-laki yang tinggal makan saja tanpa harus memasak terlebih dahulu, sering memprotes masakan kami. Entah itu kurang garam, kurang matang, kurang air atau apapun itu. Kadang gondok
rasanya meladeni yang seperti itu. Ada juga pengalaman di mana satu rumah tidak sempat makan karena sedang repot mengurus acara yang akan segera dimulai, namun beberapa anggota KKN GERGET marah-marah karena tidak ada makanan ketika yang lain sedang bersusah payah mengurus ini itu agar acara berjalan dengan lancar. Ada masanya kami memasak makanan enak, tapi ada juga masanya kami memasak 2 telur untuk dimakan ber-sebelas. Jika diingat, meskipun sedikit tapi saya sendiri cepat merasa kenyang ketika makan bersama mereka.
Malam hari biasanya kami melaksanakan evaluasi untuk membahas kegiatan yang sudah berlangsung sebelumnya. Di momen tersebut biasanya kami bisa merasakan atmosfer yang kurang nyaman. Karena akan terjadi hal – hal seperti entah itu perdebatan, atau sekedar
uneg-uneg yang ingin disampaikan kepada salah satu atau seluruh anggota
KKN GERGET. Kalau sedang tak terkendali, evaluasi ini bisa jadi hingga menumpahkan air mata. Saya termasuk yang doyan berdebat, karena menurut saya, apa yang perlu disampaikan ya harus disampaikan demi memperbaiki hal-hal kedepannya. Satu bulan dengan evaluasi di sana – sini membuat saya dan teman-teman semakin mengenal satu sama lain. Tapi nyatanya, banyak hal yang bisa kami saling tukar, entah itu cerita, pengalaman, tawa, emosi atau bahkan air mata. Hari terakhir disana, kami saling mengingat kembali masa-masa pertama datang di Desa Sukasari. Rasanya segalanya berlalu dengan cepat. Kebiasaan kami sebulan untuk masak bersama, makan bersama, satu atap dengan 10 orang lainnya adalah hal yang tidak bisa dipaksa untuk jadi sama. Tapi kami bisa memadukan tiap warna dari pribadi masing-masing untuk keberhasilan pengabdian KKN kami, yaitu KKN GERGET.
Desa yang Kucinta
Perjalanan lelah yang saya pikirkan di satu bulan kedepan ternyata salah. Bersama dengan Desa Sukasari saya mendapat banyak hal yang jauh berbeda dengan hidup di Ciputat menjadi mahasiswi. Meskipun dari awal saya tak bersemangat untuk menjalaninya, saya harus tetap menjalaninya karena ini kewajiban yang semestinya dijalankan untuk syarat kelulusan. Tapi ternyata mengabdi tidak boleh hanya sekedar meluruhkan kewajiban. Saya dan teman-teman sudah merencanakan banyak hal untuk desa ini. Sore itu setelah pembukaan, pertama kalinya saya dan teman-teman KKN GERGET keluar dari rumah tinggal untuk berjalan-jalan
| 137 sekedar menyapa warga RW 03 Desa Sukasari. Mereka menyambut kami dengan baik, dengan senyum yang tulus. Biasanya mereka memanggil saya dan teman-teman perempuan KKN GERGET dengan panggilan “tehh”. Kedatangan saya dan teman-teman KKN Gergetsepertinya menjadi harapan baru untuk mereka. Dimulai dari hari itu, saya dan teman-teman menyusun buku pelajaran, dan majalah anak-anak diruang depan rumah tinggal kami. Kemudian saya membuat selebaran untuk meresmikan taman baca dan rumah pintar kami untuk Desa Sukasari. Siapa saja boleh kemari, siapa saja boleh datang kerumah kami.
Pada hari pembukaan taman baca dan rumah pintar, belum ada tanda-tanda kehadiran anak - anak desa yang saya dan teman-teman tunggu-tunggu. Akhirnya hari itu, saya dan teman saya Estri, mengajak beberapa anak yang bermain didekat rumah kami untuk main kerumah tinggal kami. Awalnya mereka takut dan malu terhadap kami, tapi semakin lama diajak bicara, mereka mulai mau dekat dengan saya dan teman-teman. Akhirnya anak anak ini menjadi target kami untuk diajari menari. Oiya, rumah tinggal kami tidak hanya dijadikan tempat membaca, tidak juga hanya main-main, disini mereka bisa belajar, menanyakan pekerjaan rumah dari sekolah mereka, atau juga belajar menari. Malamnya, kami kedatangan lebih dari 20 anak-anak yang ingin belajar. Kami kaget dan tidak disangka anak – anak ini begitu antusias untuk belajar dirumah tinggal kami. Malam itu materi yang saya ajarkan yaitu matematika. Karena di Desa Sukasari ini, anak-anak berpikir bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit. Tapi saya yakin saya bisa membantu mereka untuk menyukai matematika. Mereka tidak hanya diajarkan matematika, ada juga Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Ilmu Komputer, mengaji, dan lain - lain. Begitu pula dengan keesokan harinya dan hari-hari berikutnya. Setiap hari kami kedatangan sekitar 40 anak yang belajar. Sampai - sampai ada yang belajar dikamar karena ruangan sudah tidak muat dan anak-anak begitu banyak. Tapi itu merupakan kebahagiaan kami, karena niat baik kami disambut dengan antusias. Kami menentukan rumah pintar dibuka setiap malam hari setelah isya, tetapi taman baca setiap waktu dibuka. Sehingga dimulai dari pengalaman itu, kami sudah terkesan dengan semangat Desa Sukasari.
Selain berkegiatan dirumah tinggal, kami juga mengajar di sekolah, tepatnya di SDN Sukasari RW 04. Pertama kali hadir disana, kami mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan di pagi hari. Usai Upacara
dilaksanakan, Kepala Sekolah SDN Sukasari RW 04 memperkenalkan kami kepada murid - murid serta guru – guru yang hadir. Saya memperkenalkan diri saya melalui mic, “Adek-adek, selamat pagi! Perkenalkan saya Kak Sofi, satu bulan kedepan kakak-kakak yang didepan ini akan sama sama belajar bareng kalian di kelas ya, jadi belajarnya harus lebih semangat lagi oke?”. Mereka menyambut baik kehadiran kami. Mereka seperti tak sabar untuk kami ajar. Hari mengajar pun tiba, mereka bukan anak – anak yang mengenal kata disiplin. Namun, saya berusaha mendisiplinkan anak – anak tersebut dengan cara saya sendiri, saya membuat mereka mendengarkan saya, namun senang belajar dengan saya. Hari itu saya mengajar kelas 5 bersama Estri, kami mengajarkan mereka untuk menyanyikan lagu nasional yaitu lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri. Kami mengajarkannya karena Indonesia Raya versi Desa Sukasari berbeda dengan aslinya. Kadang kalau mereka bernyanyi, kami sering tak bisa menahan tawa. Namun, melihat semangat mereka untuk bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan baik membuat saya dan teman – teman tanpa ragu mengajarkan mereka apa yang kami bisa kami bagi kepada mereka.
Kami juga melaksanakan pelatihan keterampilan untuk wanita dan ibu – ibu warga Desa Sukasari RW 03 dan RW 04. Pelatihan ini mengajarkan mereka untuk mendaur ulang sampah sampah plastik rumah tangga. Awalnya kami menargetkan peserta pelatihan ini sekitar 40 orang. Namun, warga Desa Sukasari terutama ibu – ibu dengan berbondong - bondong hadir ke acara kami. Kurang lebih 60-70 orang meng hadiri acara tersebut. Mereka merasa senang dapat mempelajari hal baru yang ternyata mudah, menyenangkan dan menghasilkan. Selain itu, kami juga melaksanakan turnamen sepak bola antar RW se-Desa Sukasari. Saya dan teman – teman turut disambut dengan baik, menurut warga desa, turnamen ini merupakan sarana mempersatukan warga tiap RW di Desa Sukasari. Meskipun ada hal-hal yang tidak direncanakan terjadi seperti bentrok dari pemain dengan lawannya karena keputusan yang menurut salah satu pihak kurang adil, tapi tim kami berhasil menyelesaikannya. Turnamen ini menjadi salah satu agenda akhir kami di Desa Sukasari. Hari terakhir menginap di Desa Sukasari, kami melaksanakan makan lesehan sederhana bersama warga sekitar rumah tinggal kami. Saya merasa waktu terlalu cepat berlalu hingga malam itu adalah malam terakhir kami berada disana. Banyak yang hadir, banyak juga yang berpesan pada saya dan
| 139 teman - teman untuk tidak melupakan Desa Sukasari nantinya. Malam itu, kami bersama sama saling membagi cerita untuk terakhir kalinya sebelum saya dan teman – teman kembali ke rutinitas kami selama ini yaitu menjadi mahasiswa.
Satu bulan bersama Desa Sukasari ternyata terasa singkat. Kami tak sempat membagi banyak hal kepada desa ini, namun banyak yang saya pelajari melalui anak – anak, warga, dan Desa Sukasari ini. Banyak hal yang tak bisa saya temui jika hanya sekedar menjadi mahasiswi penuntut ilmu di kelas. Saya akan rindu dengan desa ini. Saya akan mengingat satu persatu setiap hal yang saya alami, entah susah, sepi, senang, jenuh, bahagia, dan semangat yang pernah saya dan teman - teman KKN GERGET tanamkan di tanah Desa Sukasari ini.
Jika Aku Warga Sukasari
Desa Sukasari memiliki semangat yang berbeda. Mereka jauh lebih kuat dari orang-orang kota di luar sana. Namun, pendidikan yang kurang memadai tidak mendukung kemampuan yang mereka miliki. Sehingga kemampuan tersebut tidak disalurkan dengan baik. Jika saya menjadi warga Desa Sukasari, tanpa ragu saya tidak akan menyia-nyiakan semangat belajar anak-anak desa tersebut. Memberikan langkah kreatif pada pendidikannya, dengan begitu mereka akan merasa senang ketika belajar. Saya juga akan membantu mereka untuk membiasakan membaca buku, karena tanpa mereka mengelilingi dunia, mereka sudah bisa menengoknya melalui jendela dunia yang satu ini. Saya akan membantu desa untuk membuka perpustakaan umum sehingga siapapun dapat kesana untuk membaca. Selain itu, desa ini merupakan desa yang lahan pertaniannya cukup terurus dengan baik, saya akan membantu warga desa untuk memperbaiki perekonomiannya dengan mempromosikan hasil-hasil bumi Desa Sukasari melalui teknologi yang kini semakin canggih, juga menaikkan nilai wisata nya, karena desa ini masih asri,