Manusia ada untuk dicintai, bukan untuk digunakan -Budi Nugraha-
SEPENGGAL KISAH DI SUKASARI Estri Pintari
Ekspektasi dan Realita
Kuliah Kerja Nyata atau yang biasa disingkat dengan KKN merupakan salah satu kegiatan wajib di beberapa universitas, namun kegiatan ini tidak dilakukan oleh setiap fakultas di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya sendiri adalah salah satu mahasiswa dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora dimana KKN menjadi salah satu mata kuliah dengan 3 SKS di semester 7 yang wajib diambil sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana. KKN di UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta dijadwalkan pada saat libur semester 6 ke 7, KKN ini dilaksanakan selama sebulan penuh.
Kabupaten Bogor dan Tangerang adalah dua kabupaten yang menjadi lokasi KKN tahun ini. Saya tergabung dalam kelompok 127 dimana kami mendapatkan lokasi desa di Kabupaten Bogor. Nama desa yang saya tinggali adalah Desa Sukasari di Kecamatan Rumpin. Pada awalnya saya bersyukur karena mendapatkan lokasi di daerah Bogor, namun saya teringat pada saat pembekalan KKN, Pak Eva mengatakan bahwa pada KKN tahun ini tidak ada kelompok yang mendapatkan lokasi di daerah Bogor Puncak, yang ada yaitu di daerah Bogor Barat. Daerah Bogor Barat adalah daerah Parung Panjang dan sekitarnya. Seketika saya mengingat itu, angan-angan saya mengenai tinggal di desa yang sejuk dan asri pun sirna, mengingat daerah Parung Panjang adalah daerah yang sama panasnya dengan Jakarta. Walaupun begitu saya tetap berharap bahwa lokasi yang akan saya tinggali adalah desa yang memiliki banyak pepohonan nan rindang dan tentunya dengan warga sekitar yang juga ramah. Saya juga membayangkan keadaan sebuah desa dengan jalanan yang cukup baik dengan pepohonan di kanan kiri jalan.
Sebelum pergi survei ke lokasi Desa Sukasari, saya bercerita kepada keluarga saya mengenai pembagian lokasi KKN saya. Ada yang mengatakan bahwa Rumpin merupakan salah satu daerah yang kuat akan supranaturalnya. Tiba-tiba saya menjadi was-was, desa tersebut adalah desa dengan budaya Sunda sedangkan saya besar dengan budaya dan adat Jawa, saya tidak begitu mengenal budaya dan adat Sunda, saya berpikir
| 77 apakah berbeda jauh antara budaya dan adat Sunda dengan Jawa. Namun, Ayah saya yang merupakan orang Sunda mengatakan bahwa Sunda dan Jawa tidak jauh berbeda. Saya hanya perlu menjaga tata krama, perkataan, perbuatan dan tingkah laku. Saya juga dilarang untuk berbuat yang aneh-aneh, lebih baik diam jika tidak tahu. Selain itu, di desa sangatlah berbeda dengan daerah perkotaan seperti di lingkungan saya tinggal yaitu di Jakarta Selatan. Saya harus begitu ramah dengan warga sekitar dan tidak boleh terlihat sombong. Nasehat-nasehat itulah yang selalu saya ingat hingga saya tiba di Desa Sukasari.
Selain mengenai perbedaan adat dan budaya, kendala terbesar yang saya bayangkan di lokasi KKN adalah apakah para warga akan menerima dengan hangat kedatangan kami para mahasiswa atau justru sebaliknya. Terkadang di beberapa desa memiliki masyarakat yang tertutup dan cenderung tidak menerima kehadiran orang luar yang ingin berinovasi di desa mereka. Hal tersebut yang membuat saya khawatir. Apakah para wargadi Desa Sukasari akan menerima hal-hal baru yang akan kami laksanakan ataukah tidak. Saya juga merasa khawatir terhadap kelancaran jalannya beberapa program kerja yang telah kelompok saya rencanakan, karena beberapa dari program kerja tersebut harus bekerja sama dengan masyarakat.
Kendala yang terbesar lainnya yang saya pikirkan adalah mengenai dana, saya khawatir jika kami tidak mendapatkan cukup dana untuk menjalankan program kerja yang telah kami rencanakan, sehingga kegiatanpun menjadi terganggu dan tidak berjalan lancar.
Mengenal lebih GERGET
Ada yang berbeda dengan KKN tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, biasanya para mahasiswa di beri kebebasan untuk memilih teman sekelompoknya sendiri dengan syarat anggota kelompok terdiri dari 7 fakultas yang berbeda, selain itu mereka juga diberi kebebasan untuk menentukan lokasi KKN mereka yang kemudian diajukan ke PPM untuk disetujui. Namun pada tahun ini, kelompok dan lokasi KKN telah ditentukan oleh PPM secara acak.
Sejak akhir semester 5, saya sudah mulai ditawari untuk bergabung dengan kelompok KKN teman saya. Teman-teman mahasiswa lain pun juga sudah mulai mencari orang untuk menjadi bagian dari kelompok KKN mereka nanti. Sebagian besar mahasiswa mengira KKN
tahun ini akan sama dengan KKN tahun-tahun sebelumnya. Kelompok KKN yang telah saya dan teman-teman buat, telah membuat grup di salah satu media sosial dan melakukan pertemuan sekali walaupun tidak semua yang hadir, selain itu kami juga telah mmebicarakan banyak hal. Kebersamaan kami tidak bertahan lama, kabar dari PPM yang menyebutkan bahwa kelompok KKN akan dipilihkan oleh PPM membuat kami harus membubarkan grup yang telah kami buat. Kami harus menerima kelompok KKN yang dibuat oleh PPM yang berarti di kelompok yang baru tersebut berisi orang-orang yang belum kami kenal. Perbedaan berikutnya, KKN tahun ini dengan tahun sebelumnya adalah jumlah anggota kelompok KKN yang hanya 11 orang, berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu sekitar 15-20 orang tiap kelompok. Selain itu, pada tahun ini pula dalam 1 desa tidak hanya di tinggali oleh 1 kelompok namun 1 desa akan terdiri dari 3 kelompok KKN.
Saya tergabung dalam kelompok KKN 127 dimana saya ternyata satu kelompok dengan salah satu teman sekelas saya yang bernama Budi. Awalnya saya dan Budi bukan merupakan teman sekelas tetapi karena pada semester 6 di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris terdapat penjurusan atau konsentrasi, saya dan Budi pun menjadi sekelas karena memilih konsentrasi yang sama yaitu Translation atau Terjemahan. Selain Budi, tidak ada lagi yang anggota yang saya kenal. Semuanya terlihat asing dimata saya.
Pertemuan pertama saya dan Kelompok KKN adalah saat Pembekalan KKN pada tanggal 15 April 2016 di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta. Saya mengingat betul tanggal tersebut karena hari esoknya adalah hari ulang tahun saya. Seusai pembekalan, kami diharuskan berkumpul dengan kelompok kami. Disitu kami mulai berkenalan satu sama lain, menceritakan secara singkat biografi kami masing-masing. Saat itu pula kami mulai menentukan siapa yang akan menjadi ketua kami. Setelah melalui perundingan dengan saling menunjuk satu sama lain, akhirnya suara terbanyak jatuh kepada Rista Aslin Nuha. Walaupun laki-laki ini berbadan mungil, tetapi kami yakin akan kemampuan dia untuk memimpin kelompok kami mengingat pengalamannya yang sering menjadi ketua.
Sejak pertemuan pertama itu, kami mengenal lebih dekat melalui grup di WhatsApp. Dari awal, saya belum terlalu mengetahui karakter masing-masing karena menilai seseorang tidak cukup hanya dengan sekali
| 79 bertemu. Di pertemuan keduapun saya belum mampu mengenal lebih jauh mereka. Pertemuan kedua yang di hadiri oleh 9 orang ini diadakan di taman landmark UIN. Disitu kami membahas nama kelompok, uang kas dan survei pertama yang akan kami lakukan. Pada pertemuan kedua yang merupakan rapat pertama kami ini, kami masih belum menemukan nama. Walaupun ada pepatah yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama” namun nama sendiri memiliki makna dan simbol yang mencerminkan mengenai objek yang diberi nama. Hingga akhirnya dari kedua pilihan nama yaitu KKN MESUM (Membawa Semangat Untuk Masyarakat) dan KKN KETUPAT (Bekerja Tularkan Manpaat), kami tidak memilih keduanya karena Ketua kami memiliki usulan yang lebih bagus yaitu KKN GERGET (Gerakan Edukasi Rakyat Go Excellent Transformation). Akhirnya kami menerima usulan tersebut. Ketua kami memang orang yang tidak terduga.
Lebih kurang kami mengadakan rapat sebanyak 5x dan survei sebanyak 5x juga. Sejauh itu, karakter kami masing-masing belum terlalu terlihat, hanya beberapa orang saja yang karakter aslinya mulai nampak. Selama survei, mulai dari kepanasan, kehujanan hingga ban bocor beberapa kalipun kami lalui. Dari situ sudah mulai terlihat, ada salah satu anggota yang melakukan segala sesuatu dengan pamrih, ada yang memiliki karakter tidak sabaran, ada yang suka mengalah dan ada pula orang yang memiliki pendirian teguh. Walaupun begitu, saya belum dapat menilai mereka satu persatu. Hingga pada akhirnya hari yang kami tunggu-tunggupun tiba.
Hari itu adalah tanggal 25 Juli 2016. Kami semua berkumpul di UIN untuk melaksanakan upacara pelepasan KKN. Setelah itu, kami berangkat ke lokasi KKN. Dimulai hari itu, semua benar-benar terlihat jelas. Yudis adalah salah seorang anggota kelompok yang bisa dibilang rela berkorban. Dia membawa mobil milik saudara Sofi dan menjemput barang-barang kami masing-masing di beberapa kos teman hingga ke rumah Meilia. Tangan Yudis sempatterluka saat menata barang-barang kami di bagasi, namun dia masih tetap semangat untuk mengantar kami semua ke Desa Sukasari. Yudis adalah orang yang tidak pernah mengeluh dan melakukan semuanya dengan sukarela. Karakternya yang rela berkorban tersebut semakin terlihat saat memilih siapa yang akan menjadi penanggung jawab acara yang dapat dikatakan acara tersebut lumayan berat. Disaat tidak ada yang mau, dan kemudian suasana mulai
memanas, Yudis secara sukarela menawarkan diri dan meredamkan suasana.
Orang kedua yang tidak mungkin terlupakan bagi saya adalah Nadia Sofihara, biasa dipanggil Sofi. Dari awal pembekalan KKN, kami sudah duduk bersebelahan. Orangnya terlihat begitu supel dan ramah, namun pada saat mulai rapat, saya merasa bahwa dia orang yang begitu kuat pada pendiriannya hingga tidak mau mendengarkan saran orang lain, selain itu dia selalu mengatakan “menurut gue”. Walaupun begitu, hal yang dia katakan adalah hal-hal yang benar dan dia juga selalu memberikan ide bagi kami. Dia adalah orang yang paling menonjol dari kami semua, mungkin karena pengalaman dia berorganisasi yang sudah tidak dapat diragukan lagi. Saya sempat menjaga jarak dengannya karena sempat terjadi ketegangan di antara kami, namun semua jarak itu akhirnya sirna setelah kami memulai malam pertama kami di rumah penginapan kami di Kampung Jeruk, Desa Sukasari. Saya mulai dekat dengan Sofi, sifat-sifat dia yang sebelumnya ternyata tidaklah benar sepenuhnya. Seperti kesan pertama saya pada Sofi, Sofi memang orang yang ramah dan mudah bergaul. Segala ide yang dia katakan itu adalah demi kebaikan bersama. Sofi adalah orang yang humoris dan dapat menempatkan dirinya disaat serius atau pun sedang santai. Dan hingga saat ini, Sofi masih menjadi teman baik saya. Saya belajar begitu banyak hal dari dirinya.
Setelah Sofi, ada Erik dan Hasan. Erik adalah orang yang saya kira diawal adalah orang yang begitu perhatian terhadap kelompok, ternyata begitu berbeda pada saat di lokasi KKN. Dia adalah orang yang kurang peka terhadap kelompok, begitu juga dengan Hasan. Mereka kurang dapat memahami apa itu sebuah kebersamaan dan membedakan yang mana kepentingan kelompok dan yang mana kepentingan pribadi. Hasan sering kali mempermasalahkan sesuatu tetapi tidak memberi solusi. Sedangkan Erik, dia sering kali menyindir jika ada anggota kelompok yang salah. Walaupun begitu, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang juga sangat peduli terhadap Kelompok KKN. Pernah suatu hari, terjadi konflik di antara kelompok kami pun. Disaat Erik menggunakan dana sponsor untuk menjalankan program kerja KKN tanpa sepengetahuan pengurus kelompok KKN. Walaupun begitu,kami menganggap itu semua sebagai kesalahan karena semuanya tidak melalui
| 81 persetujuan bendahara dan ketua. Kami mengetahui hal tersebut setelah dana sponsor tersebut telah habis digunakan dan hanya tersisa sedikit.
Selanjutnya yaitu Piqri. Seminggu sebelum pelaksanaan KKN, Ayah Piqri meninggal dunia. Hal tersebut membuat Piqri begitu terpukul, namun hal tersebut ternyata mengubah dirinya. Kepergian Ayah Piqri membuat Piqri berubah menjadi sosok yang jauh lebih baik. Dia juga mendapat julukan “Bapak” di kelompok kami, karena dia sering mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan oleh Bapak-bapak, seperti memaku.
Kemudian, ada Meilia, Jannah dan Rosita. Mei adalah orang yang sering menjadi penyemangat kami. Kekhawatiran Mei akan sesuatu memicu kami untuk segera menyelesaikan suatu hal. Mei yang merupakan Divisi Konsumsi di kelompok kami justru bertukar peran dengan Rosita yang menjadi Bendahara. Rosita adalah “Bunda” di kelompok kami, dia adalah orang yang pintar memasak dan suka membersihkan rumah. Oleh karena itu, Mei lah yang mengatur uang dan Rosita yang mengurus konsumsi. Sedangkan Jannah adalah sosok yang pendiam dan tenang. Walaupun begitu, dia sempat membuat kami semua tidak tenang karena suatu sore Jannah mengalami astma. Mengingat Puskesmas, Bidan dan Rumah Sakit yang jauh dari lokasi kami, kami pun kalang kabut. Kami melakukan pertolongan pertama sebisa mungkin, hingga akhirnya dia di jemput oleh orang tuanya.
Dan yang terakhir ada Budi dan Rista. Sejak KKN, saya berteman baik dengan Budi. Selama di kelas sebelum KKN, saya hampir tidak pernah berbicara dengan Budi, namun berbeda semenjak KKN. Budi adalah orang yang memiliki karakter tidak jauh dengan Yudis. Budi juga sering mengalah dan dimintai tolong oleh kaum wanita di kelompok kami. Sedangkan Rista adalah sosok ketua yang begitu ramah dan berbaur dengan warga sekitar. Dia selalu menjadi penengah di antara kami. Dia selalu mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Hal yang paling diingat oleh kami semua adalah kekhasannya setiap memimpin rapat. Rista selalu menyampaikan pembukaan saat rapat lumayan yang lama.
Kampung Pasir Jeruk dan Lame, Desa Sukasari
Kami melakukan survei pertama pada hari Minggu, 1 Mei 2016. Kami mengikuti rute yang diberitahukan oleh kelompok lain. Di survei
pertama kami, jalan yang kami lalui begitu rusak, kami melewati kubangan-kubangan dan jalanan berkerikil serta beton-beton yang rusak dengan truk-truk besar yang berjalan berdampingan dengan kami. Pada survei pertama, kami menemui staff desa di Kantor Desa. Kami berkenalan dengan staff desa dan memohon ijin untuk melakukan KKN di desa tersebut. Pada kunjungan yang berikutnya, kami mencoba beberapa rute lain, yaitu melewati Parung dan Cisauk. Saat melewati Parung, saya mendapatkan pemandangan yang begitu indah, namun jalanannya berkerikil dan berbatu. Sedangkan jika melewati Cisauk, kami mendapati jalanan rusak yang kami lewati hanya saat memasuki Rumpin. Dan pada akhirnya, kami menggunakan jalur Cisauk setiap pergi ke Rumpin.
Ekspektasi memang sering tidak sesuai dengan realita. Saya membayangkan desa yang begitu sejuk nan asri, namun ternyata yang saya dapatkan tidaklah begitu jauh dengan ekspektasi saya. Walaupun hawa di Desa Sukasari tidak begitu sejuk, namun rimbunnya pepohonan membuat suasana disana menjadi sejuk dan asri. Jarak tempuh dari Kantor Desa ke Kampung Pasir Jeruk tempat saya menginap hanya sekitar 10-15 menit. Sepanjang jalan, saya disuguhi oleh pepohonan kelapa, karet, bambu dan singkong. Jalanan begitu sepi, rumah-rumahpun belum nampak terlihat. Barulah sekitar 10 menit dari Kantor Desa, pemukiman penduduk mulai terlihat. Rumah-rumah warga disana ternyata tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Sebagian besar rumah mereka sudah bagus dan beberapa berdesign minimalis dan ada beberapa dari mereka yang memiliki mobil pribadi.
Rumah penginapan yang saya tempatipun sudah bagus. Rumah dengan 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, dapur dan 1 kamar mandi. Belakang rumah kami adalah kebun, sedangkan depan rumah kami adalah halaman yang cukup luas dengan kebun pohon bambu di depannya. Hawa disana pada saat siang tidak jauh berbeda dengan di Jakarta, hanya saja pepohonan membuat hawa disana menjadi berbeda. Tetapi nyamuk selalu ada dimana-mana. Walaupun begitu, disana bukan lagi gedung-gedung tinggi yang saya lihat tetapi pepohonan yang begitu menyejukkan mata. Kemudian saat malam dan pagi hari, tidak ada lagi suara bising kendaraan namun suara binatang dan burung yang membuat hati kami lebih tentram.
Ketakutan saya akan penolakan wargapun terhapuskan, para warga disekitar rumah penginapan kami ternyata begitu ramah dan
| 83 menerima kehadiran kami dengan baik. Mereka mengatakan kedatangan kami merupakan hal yang berbeda dan memberikan suasana baru bagi warga disana. Lingkungan di RT 01 RW 03 pun menjadi lebih ramai karena kehadiran kami. Warga disana pun mendukung semua kegiatan yang kami lakukan. Sebagian besar dari warga RW 03 dan RW 04 menerima ide-ide baru dari kami para mahasiswa dan dengan senang hati membantu kami untuk menyukseskan kegiatan kami. Begitu pula dengan anak-anak di sekitar lingkungan kami tinggal, mereka begitu antusias ketika kami membuka Taman Baca dan Rumah Pintar di rumah kami. Anak-anak Desa Sukasari ternyata memiliki kemauan yang tinggi untuk belajar demi menggapai cita-cita mereka. Hal tersebut dibuktikan dengan kedatangan mereka setiap hari ke rumah untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dan belajar serta membaca.
Sebagian besar dari warga Desa Sukasari di RW 03 dan RW 04 memiliki pekerjaan sebagai petani, karyawan, buruh dan wiraswasta serta pedagang. Perekonomian mereka terhitung mampu. Walaupun begitu, tingkat pendidikan disana kebanyakan hanya sebatas SMP dan SMA. Warga yang melanjutkan ke perguruan tinggi masih dapat dihitung dengan jari. Berbeda pada bidang keagamaan, pengajian untuk bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak rutin dilakukan. Hampir di setiap RT terdapat masjid dan mushola. Di RW 04 terdapat RT yang anti speaker, dimana masjid disana tidak menggunakan speaker saat adzan maupun untuk kegiatan-kegiatan lain.
Jika Kami adalah Mereka
Tinggal di Desa Sukasari selama 1 bulan rasanya belum cukup dan belum dapat dikatakan saya telah menjadi bagian dari mereka. Sebulan berada disana, rasanya yang saya dapatkan hanya awal dari pengalaman hidup mereka. Walaupun begitu, dalam waktu sebulan saya sudah dapat merasakan kenyamanan dan bagaimana menjalani serta bertahan hidup disana. Disaat para suami bekerja, para istri dengan tekunnya membuat tusuk sate dari bambu. Hasilnya tidak seberapa, hanya sekitar 2500 rupiah tiap 200 tusuk sate. Namun hal tersebut dirasa lebih bermanfaat. Oleh karena itu, jika saya berada disana maka saya akan memberdayakan ibu-ibu untuk tetap membuat kerajinan tusuk sate. Selain itu, saya juga
ingin megajakan kepada ibu-ibu untuk membuat kerajinan tangan lainnya dari bambu, contohnya adalah anyaman.
Selain pohon bambu, di Desa Sukasari juga memiliki lahan pohon singkong yang luas. Hasil panen singkong mereka biasanya akan langsung dijual kepada pengepul. Menurut saya, harga jual singkong olahan lebih tinggi daripada yang belum diolah. Oleh karena itu, saya ingin memberikan keterampilan pada warga Desa Sukasari untuk membuat makanan yang berasal dari singkong, seperti keripik singkong. Keripik singkong saat ini begitu diminati oleh kalangan masyarakat di pedesaan maupun perkotaan.
Selama sebulan disana, saya telah melihat semangat anak-anak untuk belajar. Kami membuka perpustakaan kecil di rumah yang berisi buku-buku bacaan, seperti Bobo. Anak-anak begitu antusias untuk membaca. Selain itu, kami juga membuka Rumah Pintar, dimana anak-anak dapat mengerjakan PR atau pun belajar di dalam rumah dengan kakak-kakak mahasiswa yang mengajari. Jika saya dan teman-teman masih disana, setiap malam kami akan tetap membuka Rumah Pintar dan mengadakan kursus setiap mata pelajaran dengan gratis, tentunya hal ini kami lakukan supaya menghasilkan generasi penerus bangsa dari desa yang lebih kompeten dan mampu bersaing dengan pelajar di perkotaan.
KKN telah mengajarkan kami terutama saya banyak hal. Warga di Desa Sukasari membuat saya merasa seperti tinggal di rumah selama saya tinggal di sana. Kebersamaan warga membuat saya ingin tetap berada disana, belum lagi teman-teman KKN GERGET yang juga begitu baik dan saling membantu. Setelah ini, kami telah berjanji kepada warga di sana untuk sesekali mengunjungi Desa Sukasari lagi. Mereka selalu mengatakan bahwa kami juga merupakan bagian dari Desa Sukasari.
| 85 3
GREGETNYA KKN GERGET UIN SYARIF HIDAYATULLAH