• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Konsepsi Beras Organik

Model Community Sosial System Data Interoperability Outer Islands Indonesia Fadjri Alihar1, Sri Hargiono2

HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Konsepsi Beras Organik

Beras organik sebagai komoditas ekonomi bernilai tinggi di Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu inovasi yang diinisiasi oleh para pengusaha eksportir yang dalam perjalananya melibatkan pemerintah daerah.

Permintaan beras organik yang berasal dari luar negeri menjadi faktor pendorong bagi pengusaha (eksportir) dalam negeri untuk memulai bisnis beras organik. Disadari bahwa beras organik tidak dapat diproduksi layaknya beras biasa yang pada saat produksinya banyak menggunakan pupuk dan pestisida kimia, eksportir tersebut berusaha menggandeng kelompok tani untuk melakukan kerjasama usaha memproduksi beras yang bersertifikat organik. Pada fase ini nilai ekonomi adalah penarik utama karena harga beras organik di pasaran lebih tinggi dibandingkan dengan beras pada umumnya yang banyak dijumpai di pasar (Lingkar R1 pada Gambar 1).

Beras merupakan hasil dari proses pengolahan agroindustri yang sebelumnya berbentuk gabah. Sehingga untuk memperoleh beras yang bersertifikat organik, sebelumnya diperlukan gabah yang bersertifikat organik. Tanpa ada gabah organik, maka tidak akan dapat dihasilkan beras organik.

Pemenuhan gabah organik kemudian diserahkan sepenuhnya kepada kelompok tani yang sudah sejak lama mengusahakan padi sebagai komoditas utamanya. Pengetahuan budidaya organik petani yang membudidayakan padi menjadi kendala yang harus dihadapi karena selama ini petani terbiasa dengan penggunaan bahan sarana produksi yang terbuat dari bahan kimia, terutama untuk pupuk dan pestisida. Sementara itu, standar suatu produk dikatakan organik apabila tidak sama sekali menggunakan bahan-bahan kimia, baik secara langsung maupun kontaminasi.

Kebutuhan pengetahuan usahatani sistem pertanian organik menjadi modal dasar yang harus dimiliki oleh seorang petani apabila ingin menerapkan usahatani sistem organik (Lingkar R2). Selama ini, pengetahuan petani mengenai usahatani padi organik masih minim, kesenjangan/gap mengenai pengetahuan ini memerlukan upaya untuk mengurangi kesenjangan pengetahuan antara yang dibutuhkan dengan realitasnya.

Semakin besar kesenjangan pengetahuan, maka semakin besar pula upaya yang dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuannya. Teknologi yang digunakan oleh petani mencerminkan pengetahuan yang dimiliki oleh petani. Oleh karena itu teknologi yang digunakan menjadi sangat penting dalam suatu inovasi (Rogers, 1995). Diperlukan upaya untuk mengidentifikasi teknologi-teknologi apa saja yang diperlukan dalam sistem usahatani padi organik, salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pengetahuan dan teknologi petani adalah dengan mengembangkan lahan demonstrasi plot (demoplot). Keberadaan lahan demoplot tersebut merupakan media sebagai tempat riset petani untuk mengetahui bagaimana cara budidaya padi dengan sistem organik.

Keputusan menggunakan inovasi akan berlanjut apabila individu memiliki pengetahuan yang cukup (Rogers, 1995). Pada awal teknologi organik diperkenalkan kepada petani (melalui demo plot), proses tersebut masih berada tahap konsepsi karena belum memberikan manfaat kepada petani. Teknologi organik di Kabupaten Tasikmalaya pada tahap ini masih bersifat invensi, yang apabila tidak memberikan manfaat kepada hanya akan berhenti sampai pada tahap invensi saja (Yuliar, 2009). Pada tahap tersebut, kondisi sosial ekonomi petani dan saluran komunikasi yang digunakan akan sangat mempengaruhi proses konsepsi agar berlanjut ke tahap adopsi.

Setelah demoplot selesai, masih sangat jarang petani yang berani menerapkan sistem pertanian organik ini pasca dilakukan demoplot. Satu kali percobaan masih belum cukup untuk meyakinkan banyak petani, hanya segelintir petani saja yang berani mencoba mengubah pola sistem pertaniannya dari konvensional ke organik. Tahap ini merupakan fase yang cukup kritis dalam proses transisi dari konsepsi ke adopsi.

Setelah panen, gabah organik hasil panen petani dijual kepada kelompok tani untuk diolah menjadi beras. Kementerian Pertanian berkontribusi besar terhadap gabungan

kelompok tani (Gapoktan) dengan memberikan bantuan mesin penggilingan padi agar proses pengolahan dapat dilakukan oleh gabungan kelompok tani (Lingkar R7).

Pada tahap konsepsi dibuat suatu sistem bahwa petani menjual gabah kepada kelompok tani (Poktan), kemudian kelompok tani menjual gabah yang dibeli dari petani kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk diolah menjadi beras menggunakan mesin penggilingan padi yang diberikan melalui program dari Kementerian Pertanian. Selanjutnya dari Gapoktan, eksportir membeli beras organik yang sudah dikemas (Lingkar R3 an R7).

Proses Adopsi Beras Organik

Sebagaimana dijelaskan oleh Rogers (1995), keputusan menggunakan inovasi akan berlanjut apabila individu memiliki pengetahuan yang cukup. Fase adopsi membentuk suatu konfigurasi sosioteknis yang baru (Yuliar, 2009), dimana sarana produksi pertanian organik adalah objek teknis dan pengetahuan adalah akumulasi yang dimiliki petani dan melekat pada objek sosial petani padi. Perubahan objek teknis selalu menimbulkan perubahan pada objek sosial yang menerima perubahan objek teknis tersebut.

Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya dan beberapa pendamping swasta memiliki peran besar dalam upaya meningkatkan pengetahuan usahatani padi organik melalui berbagai program yang dibiayai baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat serta swasta. Media pembelajaran melalui lahan percobaan (demonstrasi plot) lebih masif digelar di beberapa lokasi yang menjadi sentra produksi padi (Lingkar B1 pada Gambar 3) dengan harapan dapat mengurangi kesenjangan pengetahuan usahatani organik seiring dengan pemanfaatan teknologi padi organik.

Semakin banyak petani yang dilatih diberikan pengetahuan mengenai usahatani padi organik diharapkan dapat mempercepat proses adopsi atau difusi inovasi padi organik sehingga dapat meningkatkan jumla produksi gabah organik (Lingkar R4 pada Gambar 3). Hal tersebut merupakan salah satu pola adopsi yang dijalankan di sektor hulu (on-farm).

Selanjutnya pada lingkar R6, R7 dan R8 adalah proses adopsi yang berjalan di sektor hilir pada tingkat kelompok tani (Poktan) (lingkar R6) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) (lingkar R7 dan R8). Proses adopsi di sektor hilir terbentuk secara bertingkat, dimana pada tingkat kelompok tani terjadi transaksi jual beli gabah

dan di tingkat gabungan kelompok tani terjadi transaksi beli gabah dan menjual beras.

Harga beli gabah organik dalam proses fase adopsi ditetapkan berdasarkan mekanisme penentuan pertemuan yang diikuti eksportir, Gapoktan dan Poktan. Pada pertemuan tahun 2012 disepakati bahwa harga beli gabah di tingkat petani oleh Poktan sebesar Rp 5.000 per kilogram dan di tingkat Gapoktan kepada eksportir sebesar Rp 13.000 per kilogram. Harga tersebut berada di atas rata-rata harga gabah yang diusahakan secara konvensional (non-organik).

Harga merupakan perangsang bagi petani untuk menaikan produksi hasil bergantung kepada perbandingan antara harga yang diterimanya dengan biaya untuk memproduksi

hasil-hasil itu (Mosher, 1978). Apabila perbedaan pendapatan antara usahatani padi organik dengan konvensional tidak signifikan, akan sangat jarang petani beralih ke sistem usahatani padi organik.

Perpindahan barang yang bersifat transaksi tersebut kemudian mengakibatkan persoalan lain karena terkait dengan penentuan harga beli gabah dari Gapoktan ke Poktan dan dari Poktan ke petani. Penguasaan barang oleh pelaku yang ada di hilir petani (Poktan dan Gapoktan) mengakibatkan Poktan dan Gapoktan memiliki kekuasaan yang penuh terhadap gabah petani. Pada saat penentuan harga beli gabah, pendapatan yang diterima oleh Poktan dan Gapoktan ikut menentukan harga beli gabah sampai ke tingkat petani.

Gambar 1. Struktur Diagram Sebab Akibat Proses Adopsi Inovasi Beras

Harga Beras Organik

Harga Beli Gabah Organik di petani Penjualan Beras Organik Penjualan Gabah Organik Poktan Pendapatan Gapoktan + + Gabah diolah ke Beras Organik + + Operasional Penggilingan Padi + + Stok Beras Organik Eksportir + Permintaan Beras Organik LN Permintaan Eksportir Beras Organik Permintaan Gabah Organik + + Kebutuhan Lahan Padi Organik + Lahan Padi Organik Produksi Gabah Organik + Penjualan Gabah Organik Petani Stok Gabah Organik di Poktan + + + Lahan Padi Konvensional Peralihan ke Lahan Padi Organik + + + Kebutuhan Pengetahuan UT Organik SDM Petani Organik Peralihan SDM ke Petani Organik -+ SDM Petani Konvensional -+ Pengetahuan UT Padi Organik + + Penerimaan Petani Organik + + Pendapatan Petani Organik Biaya UT Organik + -+ Perbandingan Pendapatan UT Organik dgn Konvensional + + Pendapatan Petani UT Konvensional -Kualitas Ekosistem Sawah + Produktivitas Padi Organik + + -Pendapatan Poktan Pembelian Gabah Poktan + + + -Upaya meningkatkan pengetahuan UT organik + Gap Pengetahuan UT Organik -+ Ekspor Beras Organik + -Pendapatan Eksportir + + Harga Beras Organik Eksportir Profit yg diinginkan eksportir + + R1 R2 R3 R4 B1 B2 R5 B3 R6

R7 Harga Beli Gabah

Poktan +

Efek Thdp Harga Beli Gabah di Poktan + + Efek Thdp Harga Beli di Petani + + B4 Pembelian Gabah Gapoktan + + R8 Target Pendapatan Gapoktan Target Pendapatan Poktan + +

-Walaupun harga beli gabah sudah ditetapkan dan tidak fluktuatif, tetapi pada saat penentuan harga beli gabah, semakin besar target pendapatan yang diinginkan oleh Poktan dan Gapoktan akan menekan harga pembelian gabah di Poktan (Lingkar B4) dan merambat ke harga gabah di petani (Lingkar B3), sehingga berdampak kepada harga gabah yang diterima petani (Lingkar B2). Konsekuensi tersebut adalah yang tidak diinginkan dan terjadi disebabkan oleh sistem transaksional antar kelembagaan pelaku ekonomi.

Kondisi ini mengakibatkan petani berada pada posisi yang lemah, karena harga yang diterima petani hanya bersifat residual, tidak didasarkan kepada asas saling menguntungkan. Perbedaan harga Rp 200 per kilogram antara gabah yang diproduksi konvensional dengan dengan harga gabah yang diproduksi secara organik tidak menarik bagi petani. Oleh karena itu bagi petani padi yang memiliki kekuasaan penuh terhadap lahan yang diusahakannya lebih memilih melakukan sistem budidaya secara konvensional (non-organik).

Hal ini akan berbeda apabila petani yang melakukan aktivitas budidaya adalah petani penggarap. Penguasaan lahan dalam usahatani memiliki peran yang besar dalam penentuan keputusan pengusahaan lahan. Struktur penguasaan lahan ikut berperan dalam menentukan keputusan pengusahaan lahan sawah (Heryanto, 2012). Moral hazard pada tingkat kelompok tani dan gabungan kelompok tani mengakibatkan petani tidak menerima insentif yang seharusnya diterima karena harga beli yang tidak signifikan antara gabah organik dan konvensional. Keinginan untuk memperolah pendapatan secara kelembagaan mengakibatkan keputusan untuk menekan harga beli menjadi pilhan yang paling mudah.

Oleh karena itu, secara ekonomi diperlukan suatu upaya untuk mengubah kondisi ini agar proses adopsi inovasi padi organik dapat terus berlanjut. Rekayasa struktur dengan menggunakan prinsip sistem archetype dapat dilakukan dengan mengenali persoalan yang disebabkan oleh sistem.

Interaksi Antar Pelaku Adopsi Beras Organik

Matriks sosial (SFM) digunakan untuk melihat berbagai interaksi dan keterkaitan antar unsur yang ada dalam proses adopsi inovasi beras organik. Unsur-unsur yang terlibat dibagi ke dalam beberapa katagori: 1) kelembagaan sosial, 2) teknologi, 3) lingkungan, 4) norma, dan 5) nilai (Hayden, 1982). Dari berbagai unsur

tersebut dengan menggunakan SFM dapat diketahui unsur yang memiliki interaksi paling banyak dalam proses adopsi beras organik.

Persoalan utama dalam proses adopsi atau difusi inovasi beras organik berdasarkan metode berpikir sistem adalah kurangnya insentif bagi para pelaku di hulu (petani) untuk melakukan usahatani padi organik. Selisih harga yang tipis antara gabah organik dan konvensional (Rp 200 per kilogram) tidak menarik bagi petani dibandingkan dengan usaha yang dikerahkan untuk menanam padi secara organik.

Reaksi yang diberikan oleh para petani merupakan akibat yang disebabkan oleh sistem kelembagaan pelaku di hilir, karena dalam posisi ini petani hanya bertindak sebagai price taker. Walaupun dilakukan pertemuan (musyawarah) untuk menentukan harga beli gabah dari Gapoktan dan Poktan ((26,22) dan (26,23) pada Tabel 1), namun penentuan tersebut tidak didasarkan kepada kalkulasi ekonomi yang transparan di setiap tingkat pelaku.

Sementara itu dari sisi korbanan yang dikeluarkan oleh petani, sistem organik memerlukan curahan waktu yang lebih lama untuk membuat sarana produksi (pupuk dan pestisida), berbeda dengan sistem konvensional dimana pupuk dan pestisida telah tersedia secara instan buatan pabrik kimia (11,20 pada Tabel 1). Sebagai konsekuensi dari proses adopsi padi organik, biaya tenaga kerja menjadi membengkak (11,21). Walaupun secara ekonomi petani tidak mengeluarkan biaya untuk pembelian pupuk dan pestisida, tetapi pembengkakan biaya untuk tenaga kerja dirasakan oleh petani lebih besar dampaknya terhadap biaya total usahatani.

Media belajar petani dalam bentuk lahan percobaan (demoplot) secara akumulasi cukup efektif membangun pengetahuan petani mengenai sistem pertanian organik, sehingga petani memiliki kapasitas untuk melakukan usahatani padi organik. Pengetahuan dalam hal ini didefinisikan sebagai kapasitas untuk bertindak (Ritzer dan Smart, 2001). Dalam beberapa kasus, meningkatnya kapasitas pengetahuan petani akan pertanian organik cukup untuk menggulirkan fase konsepsi menuju fase adopsi, tetapi sebagai pelaku ekonomi faktor harga tidak kalah penting sebagai insentif yang efektif untuk mendorong para petani mengadopsi sistem pertanian organik (22,3).

Kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani seharusnya mempunyai peran yang besar sebagai kekuatan menentukan harga gabah (22,4) (5,22). Sebagai pelaku yang

membeli produk petani (transaksional), Poktan seharusnya mampu memberikan insentif kepada anggotanya. Pada prakteknya Poktan masih lebih tunduk kepada Gapoktan dan eksportir sebagai pelaku di hilir yang memiliki pasar. Idealnya, penentuan harga pembelian gabah di petani memperhitungkan biaya-biaya dan resko yang ditanggung oleh petani termasuk perbandingan harga dengan usahatani padi konvensional agar proses adopsi / difusi dapat berlangsung.

Interaksi antar unsur dalam proses adopsi inovasi beras organik terutama antara unsur-unsur kelembagaan sosial, teknologi dan norma menjadi kunci keberlangsungan proses adopsi (Gambar 4). Sejalan dengan Yuliar (2009), diperlukan suatu konfigurasi sosioteknis yang baru yang mampu beradaptasi dengan

inovasi beras organik yang diintroduksi kepada petani melalui penyuluh pemerintah dan penyuluh swasta melalui kelembagaan kelompok tani.

Secara umum, proses adopsi inovasi yang terjadi pada komoditas beras organik berdasarkan perkembangan luas panen padi organik (Gambar 1) dapat berjalan cukup baik dilihat dari pertumbuhan luas panen yang menunjukan peningkatan. Penurunan luas panen padi organik pada tahun 2010 dan tahun 2012 merupakan perilaku sebagai hasil akibat dari interaksi antara kelembagaan sosial, teknologi, lingkungan, norma, dan nilai selama kurun waktu tahun 2005 sampai 2012.

Kelembagaan sosial dalam kasus adopsi inovasi beras organik memiliki peran yang sentral sebagai aktor penentu keputusan

teknologi dan keputusan yang terkait dengan nilai dan norma. Para pelaku ekonomi dalam fase adopsi inovasi beras organik memiliki kekuasaan untuk

menentukan teknologi yang akan digunakan (3,10) (3,11) (5,9) dan nilai ekonomi dari output yang dihasilkan (4,21) (4,22).

Nilai ekonomi yang dihasilkan dari penggunaan artefak teknis (teknologi) kemudiam akan kembali diterima oleh para pelaku yang terlibat.

Gambar 2. Interaksi Antar Unsur Adopsi