Perkembangan pertumbuhan tinggi tanaman padi umur 1-10 MST memperlihatkan padi sawah pada umur 1–5 MST setelah pruning anakan terjadi peningkatan tinggi tanaman yang relatif sama, tetapi pada minggu ke 6–9 MST setelah pruning terjadi peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman padi (Gambar 1), namun pada akhir pertumbuhan vegetatif (umur 10 MST) tinggi tanaman padi tidak berbeda dengan perlakuan waktu pruning anakan dan pemberian dosis pukan sapi (Tabel 1). Tabel 1. Tinggi tanaman padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata –rata 0.0 0,8 1,6 ... cm ... Tanpa Pruning 113,0 108,8 116,3 112,7 30 102,0 110,0 109,0 107,0 40 109,7 116,0 115,8 113,8 50 111,3 112,2 113,2 112,2 Rata-rata 109,0 111,8 113,6
Sunadi et al. Pengaruh Waktu Pruning Anakan dan Pupuk Kandang pada Padi Sawah
88 | P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9
Tabel 1 memperlihatkan bahwa waktu dan dosis pukan sapi tidak menghasilkan tinggi tanaman padi yang berbeda. perlakuan pruning terhadap anakan menghasilkan tinggi tanaman antara 107,00 cm sampai 113,83 cm demikian juga dengan pemberian pukan sapi sampai dosis 1,6 kg polybag-1 tidak menghasilkan tinggi tanaman yang berbeda, yakni antara 109,00 cm sampai 113,58 cm.
Gambar 1. Grafik perkembangan tinggi tanaman padi umur 1-10 MST dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning anakan dan dosis pukan sapi.
3.2. Jumlah Anakan Total
Jumlah anakan total per rumpun padi sawah dipengaruhi oleh dosis Pukan sapi tetapi tidak dipengaruhi oleh waktu pruning, waktu pruning dan dosis Pukan sapi pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah anakan total rumpun-1 padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata –rata 0.0 0,8 1,6 ... batang rumpun-1 ... Tanpa Pruning 34,00 47,33 55,33 45,53 30 34,00 33,00 48,00 38,33 40 34,67 46,00 50,67 43,78 50 35,33 37,67 53,67 42,22 Rata-rata 34,50C 41,00B 51,91A
Keterangan : Angka sebaris diikuti huruf besar sama tidsk berbeda menurut DNMRT α 0.05.
Tabel 2 memperlihatkan jumlah anakan total waktu pruning berpengaruh tidak nyata dengan pemberian dosis Pukan sapi, dimana tanpa pruning jumlah anakan total pada pemberian Pukan sapi 38,33, pada pruning 30 HST 45,33, pada pruning 40 HST, dan pada pruning 50 HST yaitu 42,22 HST dimana pruning dan pemberian Pukan sapi belum mampu memberikan hasil jumlah anakan total pada jumlah anakan yang berbeda. Tabel 2 juga menunjukkan pemberian pukan sapi dengan dosis yang berbeda terhadap jumlah anakan total pada pruning menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan total pada dosis pukan 0 kg polybag-1 menghasilkan sejumlah 34,5 anakan, pada pemberian pukan sapi
0,8 kg polybag-1 menghasilkan sejumlah 41,00 anakan yang jauh berbeda dengan dosis pukan sapi 1,6 kg polybag-1.
3.3. Jumlah Anakan Produktif
Jumlah anakan produktif dipengaruhi oleh waktu pruning dan dosis pukan sapi. Hasil rata-rata jumlah anakan produktif disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Jumlah anakan produktif per rumpun tanaman padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg.polybag-1) Rata – rata
0.0 0,8 1,6
... batang rumpun-1... Tanpa Pruning 30,3Cc 37,3Aa 37,7Aa 31,1 30 31,7Cb 33,0Bb 35,0Ac 32,2 40 31,0Cb 33,0Bb 36,3Ab 33,4 50 31,0Cb 33,0Bb 35,3Ac 33,1 Keterangan : Angka sebaris diikuti huruf besar sama dan angka sekolom diikuti huruf kecil sama tidak berbeda menurut DNMRT α 0.05.
Tabel 3 memperlihatkan waktu pruning pada jumlah anakan produktif pada 0 HST pada dosis pukan sapi 0 kg polybag-1 yaitu 30,33 HST. Pada dosis pukan sapi 0,8 kg polybag-1 menghasilkan waktu pruning 37,33 HST dan pada dosis pukan sapi 1,6 kg polybag-1 menghasilkan jumlah anakan produktif 37,67 HST. Pada waktu pruning 30 HST pada dosis pukan sapi 0 kg polybag-1 menghasilkan jumlah anakan produktif 31,67 HST, pada dosis pukan sapi 0,8 kg polybag-1 menghasilkan jumlah anakan produktif 33,00 HST, sedangkan pada dosis pukan sapi 1,6 kg polybag-1 jumlah anakan pruning lambat yaitu 35,00 HST.
Pada pruning 40 HST dengan dosis pupuk kadang sapi 0 kg polybag-1 menghasilkan jumlah anakan produktif 31,00 HST, yang berbeda dengan dosis pukan sapi 0,8 kg polybag-1 yaitu 33,00 HST yang berbeda dengan dosis pukan sapi 1,6 kg polybag-1 dengan pruning 40 menghasilkan jumlah anakan produktif lebih lambat yaitu 36,33 HST. Pada pruning 50 HST pada dosis pukan sapi 0 kg polybag-1 menghasilkan jumlah anakan produktif dengan umur 31,00 HST, pada dosis pukan sapi 0,8 kg polybag-1 menghasilkan jumlah anakan produktif yaitu 33,00 HST dan paling lambat waktu pruning pada jumlah anakan produktif yaitu pada dosis pukan sapi 1,6 kg polybag-1 yaitu 35,33 HST.
Jumlah anakan produktif menunjukkan bahwa semakin tinggi pemberian Pukan sapi maka jumlah anakan produktif semakin cepat. Hal ini dikarenakan semakin besar takaran Pukan sapi yang diberikan maka semakin banyak kandungan unsur hara yang tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Unsur hara yang digunakan sebagai proses asimilasi didalam tubuh tanaman, asimilasi yang dihasilkan berupa karbohitrat yang digunakan sebagai energi oleh tanaman. Salah
Sunadi et al. Pengaruh Waktu Pruning Anakan dan Pupuk Kandang pada Padi Sawah
P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9 | 89 satu unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan
anakan produktif adalah unsur P. Harran (2005) menyatakan bahwa unsur P yang diserap tanaman berperan dalam aktifitas pembelahan sel. Pembentukan sel akan membantu anakan padi, maka dengan semangkin meningkatnya penyerapan P oleh tanaman padi yang disumbangkan oleh masing-masing bahan organik sama saja pengaruhnya pada pembentukan jumlah anakan produktif tanaman padi.
3.4. Umur Muncul Malai dan Panen
Umur munculnya malai dipengaruhi oleh dosis pukan tetapi tidak dipengaruhi oleh waktu pruning dan interaksinya dengan dosis pukan. Umur muncul malai dipercepat dengan peningkatan dosis pukan sampai 1,6 kg polybag-1 (Tabel 4), sedangkan umur panen tidak dipengaruhi oleh waktu pruning dan dosis pukan (Tabel 5).
Tabel 4. Umur muncul malai padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata–rata 0.0 0,8 1,6 ...HST... Tanpa Pruning 73,7 72,7 71,0 72,4 30 74,0 70,0 70,3 71,4 40 74,0 73,3 71,7 73,0 50 75,0 72,0 71,0 72,7
Rata-rata 74,2A 72,0AB 71,0B
Tabel 5. Umur panen padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata–rata 0.0 0,8 1,6 ...HST... Tanpa Pruning 107,7 106,3 107,7 107,2 30 108,3 107,0 107,0 107,4 40 108,3 108,3 105,7 107,4 50 107,0 109,0 109,0 108,3 Rata-rata 107,8 107,7 107,3
3.5. Panjang Malai
Waktu pruning dan dosis pukan sapi berpengaruh tidak nyata terhadap panjang malai. Data panjang malai disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Panjang malai padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata–rata 0.0 0,8 1,6 ...cm... Tanpa Pruning 28,00 27,00 27,67 27,55 30 28,00 28,33 28,33 28,22 40 27,67 28,67 29,17 28,50 50 27,67 27,50 27,83 27,66 Rata-rata 27,83 27,87 28,25
Tabel 6 memperlihatkan bahwa panjang malai tidak berbeda dengan perbedaan waktu pruning dan dosis pukan sapi. Panjang malai dengan perbedaan waktu pruning berkisar antara 27,55–28.5 cm, sedang dengan perbedaan dosis pukan sapi menghasilkan panjang malai 27,83– 28,25 cm.
3.6. Bobot 1000 Gabah dan Bobot
Gabah Rumpun
-1dan Indeks
Panen
Waktu pruning dan dosis pukan sapi tidak berpengaruh pada bobot 1000 gabah (Tabel 7), tetapi menghasilkan bobot gabah per rumpun dan indeks panen (IP) yang berbeda pada tanaman padi yang dibudidayakan dengan metode SRI (Tabel 8 dan Tabel 9).
Tabel 7. Bobot 1000 gabah bernas padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata–rata 0.0 0,8 1,6 ...g GKG ... Tanpa Pruning 21.10 21.10 18.90 20.20 30 19.42 19.42 21.83 20.73 40 19.48 19.48 20.57 20.01 50 18.70 18.70 21.62 19.91 Rata-rata 19.68 19.68 20.73 20.21 Tabel 8. Bobot gabah per rumpun padi sawah dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata–rata 0.0 0,8 1,6
... g GKG rumpun-1 ... Tanpa Pruning 62.01Ba 69.71Bb 81.39Aa 71.04
30 61.62Ba 76.96Aa 76.82Aa 71.80 40 60.67Ba 67.17Bbc 78.35Aa 68.73 50 64.02Ba 61.45Bc 77.88Aa 67.78 Rata-rata 62.08 68.82 78.61
Keterangan : Angka sekolom diikuti huruf kecil sama dan angka sebaris diikuti huruf besar sama tidak berbeda menurut DNMRT α 0.01.
Peningkatan dosis pukan 1,6 kg polybag-1 tanpa pruning, dengan pruning mulai umur 30, 40 dan 50 HSS mampu meningkatkan bobot gabah per rumpun. Pemberian dosis pukan 0,8 kg menghasilkan bobot gabah tertinggi pada pruning mulai 30 HSS, Sedangkan pruning tanpa pemberian pukan dan pemberian pukan 1,8 kg polybag-1 tidak meningkatkan bobot gabah. Secara keseluruhan hasil gabah tertinggi diperoleh pada dosis pukan 1,6 kg polybag-1, baik dengan pruning maupun tanpa pruning, yakni antara 76,82 – 81,39 g GKG rumpun-1, tetapi waktu pruning dan dosis pukan optimal adalah
Sunadi et al. Pengaruh Waktu Pruning Anakan dan Pupuk Kandang pada Padi Sawah
90 | P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9
pada pruning mulai 30 HSS dan pemberian pukan 0,8 kg polybag-1 dengan produksi gabah 76,96 g GKG rumpun-1 (Tabel 8).
Tabel 9. Indeks Panen tanaman padi dalam metode SRI dengan perlakuan waktu pruning dan dosis pukan sapi.
Waktu Pruning (HST)
Pukan Sapi (kg polybag-1)
Rata –rata
0.0 0,8 1,6
Tanpa Pruning 0,43Ba 0,45Ba 0,48Aab 0,45 30 0,44Ba 0,46Aba 0,47Ab 0,46 40 0,45Bab 0,46Ba 0,49Aa 0,47 50 0,47Bb 0,46Ba 0,47Bb 0,47 Rata-rata 0,45 0,46 0,48
Peningkatan dosis pukan 1,6 kg polybag-1 tanpa pruning, dengan pruning mulai umur 30, 40 dan 50 HSS mampu meningkatkan IP. Pemberian dosis pukan 0,8 kg menghasilkan IP tertinggi pada pruning mulai 30 HSS, Sedangkan pruning tanpa pemberian pukan dan pemberian pukan 1,8 kg polybag-1 tidak meningkatkan IP. Secara keseluruhan IP tertinggi diperoleh pada dosis pukan 1,6 kg polybag-1, baik dengan pruning maupun tanpa pruning, yakni IP antara 0,43- 0,49, tetapi waktu pruning dan dosis pukan optimal adalah pada pruning mulai 30 HSS dan pemberian pukan 0,8 kg polybag-1 dengan IP 0,46 dan pada pruning mulai 40 HST dengan pemberian pukan 1,8 kg polybag-1 dengan IP 0,49 (Tabel 9).
SIMPULAN
Waktu pruning dan pemberian pukan sapi pada tanaman padi dalam metode SRI berpengaruh secara interaksi pada jumlah anakan produktif, produksi gabah rumpun-1 dan indeks panen, tetapi tidak berinteraksi pada parameter pertumbuhan dan hasil lainnya. Waktu pruning anakan secara tunggal tidak berpengaruh pada komponen pertumbuhan dan hasil padi dalam metode SRI. Peningkatan dosis pukan sapi secara tunggal mampu meningkatkan jumlah anakan rumpun-1
dan dan mempercepat munculnya malai. Pruning anakan terbaik diperoleh mulai umur 30 HSS dan pemberian pukan 0,8 kg polybag-1 dengan produksi gabah 76,96 g GKG rumpun-1.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini didukung oleh Universitas Tamansiswa dengan memfasilitasi lahan percobaan Fakultas Pertanian di Kelurahan Ampang, Kota Padang dan laboratorium dasar sehingga penelitian ini dapat berjalan lancar. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor, Dekan, dan Ketua LPPM Universitas Tamansiswa, serta kepada mahasiswa kami Meliana yang telah membantu dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Berkelaar, D. (2001). Sistem Intensifikasi Padi (The System of Rice Intensification- SRI): Sedikit Dapat Memberi Lebih Banyak. Buletin ECHO Development Notes, Januari 2001. ECHO Inc. 17391 Durrance Rd. North Ft. Myers Fl.33917 USA.pp.1-6.
BPS. (2016). Statistik Indonesia 2016. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Harran. (2005). Uji Daya Tembus Akar Untuk Seleksi Somaklon Toleran Padi IR 64. Penelitian Tanaman Pangan. 24(2), 97-103.
Katambara, Z., Kahimba, F.C., Mahoo, H.F., Mbungu, W.B., Mhenga, F., Reuben,P., Maugo, M., & Nyarubamba, A. (2013). Adopting the system of rice intensification (SRI) in Tanzania: A review. Agricultural Sciences. 4(6), 369-375.
Mutakin, J. (2008). Budidaya dan keunggulan padi organik budidaya S.R.I. Diakses dari http://www.garutkab.go.id/downloadfiles/artikel% 20S.R.I..pdf./11.02.2009.
Sunadi, Kasim, M. Syarif, A., & Akhir, N. (2006). Pertumbuhan dan hasil padi sawah dalam metode SRI dengan pengaturan jumlah bibit per rumpun sistem tanam satu-satu. Gakuryoku 12 (1), 120 – 123.
Triwulanan. (2017). Pedoman Bercocok Tanam Padi Palawija Sayur-sayuran. Departemen Pertanian Satuan Pengendalian BIMAS. Jakarta.125p. Uphoff, N. (2001). The System of Rice Intensification:
Agricultural Opportunities for Small Farmers. ILEIA Newsletter.
Uphoff, N., Yang, K.S., Gypmantasiri, P., Prinz, K., & Kabir, H. (2002, January). The System of Rice Intensification (SRI) and its relevance for food security and natural resource management in Southeast Asia. Proc. International Symposium Sustaining Food Security and Managing Natural Resources in Southeast Asia, Challenges for the 21st Century, January 8-11,2002 Chiang Mai, Thailand.
Ningsih et al. Pengaruh Pemupukan dan Pemangkasan terhadap Kadar Inulin Bengkuang
P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9 | 91