• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Kondisi Umum

Dalam dokumen Prosiding pagi 2019 (Halaman 181-185)

Kabupaten Garut merupakan daerah dengan iklim tropis basah (humid tropical climate), memiliki suhu rata-rata harian 24oC. Kabupaten Garut terdiri atas 42 Kecamatan dan salah satu kecamatan yang

banyak terdapat tanaman Kecondang adalah Kecamatan Cikelet. Tepatnya di Desa Desa Cijambe dan Desa Cigadog. Habitus tumbuh pada ketinggian antara 5-15 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata dan kelembaban pada wilayah tersebut yaitu berkisar 28oC dan kelembaban 88-90%. Sesuai pernyataan Setyowati (2012) bahwa lokasi pantai disinyalir sebagai habitus tanaman Kecondang.

3.2. Morfologi Tanaman Kecondang

3.2.1. Akar dan Umbi

Tanaman Kecondang memiliki akar serabut, akar kecondang berwarna putih kekuningan. Akar-akar banyak tumbuh pada bagian atas umbi. Umbi Kecondang yang ditemukan di Garut memiliki bobot antara 200–700 gram, namun ada yang mencapai berat lebih dari 1 kg. Diameter umbi antara 7-15 cm dengan panjang umbi 17-20 cm. Warna kulit umbi putih kekuningan dan daging umbi putih. Tinggi tanaman pada fase semai rata-rata sekitar 15-20 cm dengan jumlah daun 2 hingga tiga helai. Berikut adalah Gambar akar dan umbi Kecondang.

Gambar 1. Akar dan Umbi Kecondang 3.2.2. Daun

Daun tanaman Kecondang yang dewasa berwarna hijau dan daun muda warnanya hijau kekuningan atau kecoklatan. Pada permukaan daun terdapat bulu-bulu sehingga tampak permukaan daun kasar. Warna lapisan atas daun lebih hijau dari lapisan bagian bawah daun. Permukaan daun bergelombang. Berikut adalah Gambar bentuk daun tanaman Kecondang.

Rawiniwati dan Yani. Prospek dan Persebaran Tanaman Kecondang di Kabupaten Garut

P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9 | 165 3.2.3. Bunga

Bunga Kecondang berwarna hijau ketika masih muda dan hijau keunguan setelah dewasa.

Gambar 3. Bunga Tanaman Kecondang 3.2.4. Batang

Batang tanaman Kecondang berbentuk bulat dengan permukaan bersalur-salur. Warna batang hijau muda dan terdapat bintik-bintik berwarna putih. Diameter batang antara 2-4 cm, dengan Panjang batang 80-120 cm. Pada batang mengandung kadar air yang cukup banyak. Bentuk permukaan batang dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 4. Batang Kecondang

3.3. Pertumbuhan dan Budidaya

Kecondang

Tanaman Kecondang ditemukan tumbuh secara liar di wilayah pesisir pantai di Desa Cijambe dan Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut. Kebanyakan tumbuh di bawah naungan tanaman pandan, tanaman kelapa atau tanaman gamal. Namun demikian ditemukan juga tanaman kecondang yang dibudidayakan oleh sebagian kecil masyarakat. Tanaman tersebut terlihat ditumbuhkan pada bagian pematang lahan atau juga ditanam dengan pola tumpangsari bersama kacang-kacangan. Penggunaan umbi kecondang oleh sebagian masyarakat yaitu untuk bahan makanan selingan, tepungnya diolah menjadi aneka kue tradisional.

Berdasarkan penelusuran pada Instansi pemerintah (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Garut), tanaman kecondang belum termasuk sebagai tanaman sumber karbohidrat yang sejajar dengan kelompok umbi-umbian lainnya (ubi jalar, ubi kayu, talas). Hal ini diduga terdapat beberapa kendala dalam budidayanya maupun proses pasca panen menjadi tepung. Terkait umur panen tanaman kecondang cukup panjang (umur

panen 12 bulan) dan diantara waktu tersebut ada fase-fase dormansi. Umbi-umbi yang berada di dalam tanah akan tumbuh kembali pada awal-awal musim penghujan. Faktor kedua adalah proses pengolahan umbi menjadi tepung membutuhkan tahapan dan waktu yang cukup lama karena dilakukan secara tradisional. Jika tidak ada masukan teknologi yang tepat maka efisiensi dalam pasca panen rendah karena rendemen tepung yang dihasilkan rendah. Solusinya adalah penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan rendemen tepung yang dihasilkan.

Radiasi matahari dan faktor fisik tanah merupakan faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan dan hasil umbi kecondang. Tanaman kecondang tidak tahan terhadap penyinaran yang terik karena daunnya akan mudah terbakar dan mengering jika terkena sinar langsung. Media yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan umbi adalah tanah yang berpasir. Pada kondisi demikian memiliki porositas baik untuk perkembangan umbi.

3.4. Persebaran Tanaman Kecondang

Hasil pengamatan terhadap habitat tanaman Kecondang, yaitu banyak ditemukan tumbuh di pesisir pantai pada kedua Desa (Cijambe dan Cigadog). Areal tumbuhnya kebanyakan di bawah naungan tanaman pandan, kelapa, dan tanaman gamal. Berikut peta Kecamatan Cikelet areal persebaran tanaman Kecondang.

Gambar 5. Peta Letak Kecamatan Cikelet Hasil analisis terhadap pola persebaran tanaman Kecondang di Kabupaten Garut, disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut.

Tabel 1. Rekapitulasi Densitas Sebaran Spesies Tanaman Kecondang (Tacca leontopetaloides)

Jumlah individu

0 1 2 3 4 5

To-tal Jumlah Plot 5 7 14 17 23 34 100

Analisis harapan jumlah kuadrat dengan X tumbuhan dengan rumus :

= (𝑒 − 𝑚)(𝑚 𝑥!⁄ )(100)

Hasil analisis terhadap penyebaran tanaman Kecondang di Kabupaten Garut diperoleh nilai X2

hitung sebesar 39,94. Nilai X hitung lebih besar dari X Tabel yaitu sebesar 11,07, artinya

Rawiniwati dan Yani. Prospek dan Persebaran Tanaman Kecondang di Kabupaten Garut

166 | P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9

penyebaran tanaman dengan pola berkelompok. Ditemukan kebanyakan tanaman tumbuh secara liar. Meskipun terdapat beberapa masyarakat yang menyisipkan Kecondang diantara tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman pokok. Penanamannya dilakukan pada bagian pematang lahan. Menurut petani daya adaptasi dan pertumbuhannya lebih baik jika ditanam pada bagian pematang. Hal ini diduga karena bagian pematang umumnya kandungan bahan organiknya tinggi sehingga struktur tanah menjadi lebih remah dan ini akan memudahkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Pendapat ini didukung oleh Wijaya (1996) dan Mansur et al. (2015), yang mengatakan bahwa penggunaan bahan organik memperbaiki struktur tanah sehingga akar lebih mudah menyerap unsur hara dan memperbaiki pertumbuhan tanaman. Beberapa tanaman yang ditanam dengan pola tumpang sari disajikan pada Gambar 6.

Tabel 2. Analisis Poison Hasil Pengamatan Spesies Tacca leontopetaloides Jumlah Tumbuhan per kuadrat Pengamatan jumlah kuadrat dengan x tumbuhan Harapan jumlah kuadrat dengan x tumbuhan X2= (pengamatan-harapan)2 harapan 0 5 0 3.078 1.2000 1 7 7 10.7128 1.2867 2 14 28 18.6403 1.1551 3 17 51 21.6228 0.9883 4 23 92 18.8118 0.9324 5 34 170 13.0931 33.3838 100 348 ∑X2=38.94

Gambar 6. Pola Penanaman Tanaman Kecondang Tanaman Kecondang belum sepopuler seperti tanaman umbi-umbian yang lain. Menurut informasi dari masyarakat tepung Kecondang memiliki cita rasa yang enak. Permintaan terhadap tepung Kecondang meningkat pada menjelang hari raya, namun persediaan masih terbatas. Oleh karena itu upaya domestikasi tanaman yang kebanyakan tumbuh secara liar di alam dapat terus diupayakan. Perbaikan teknologi budidaya diharapkan dapat meningkatkan hasil tanaman.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tanaman Kecondang/Tacca banyak ditemukan di Desa Cigadog dan Desa Cijambe, habitusnya pada pesisir pantai. Kebanyakan tumbuh dibawah naungan tanaman pandan, gamal, pisang atau kelapa, memiliki pola persebaran mengelompok. Budidayanya hanya dilakukan dalam pola tumpangsari dengan kacang-kacangan. Prospeknya sangat baik sebagai pangan alternatif karena memiliki kandungan gizi yang memadai.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional yang telah mendukung dalam hal pendanaan, Ibu Ella selaku penyuluh pertanian Lapangan (PPL) kecamatan Cikelet yang membantu selama kegiatan di lapangan untuk koleksi tanaman Kecondang sehingga penelitian dapat berjalan lancar dan dapat diselesaikan sesuai rencana yang telah disusun.

DAFTAR PUSTAKA

Barbour, G.M., Burk, H.J. dan Pitt, W. D. (1987). Terrestial Plant Ecology. The Benjamin Publishing Company, London.

Mansur S., Henry N.Barus., Ichwan M., (2015). Respon Pertumbuhan dan Hasil Ubi Banggai(Dioscorea alata) Jenis”Baku Pusus” Terhadap Pemberian Pupuk Anorganik, Organik dengan Mulsa Jerami Padi. Jurnal Agroland, 22(2): 131-137. ISSN: 0854-641X.

Mueller-Dombois, D. dan H. Ellenberg. (1974). Aims And Methods Of Vegetation Ecology. New York. Muharam, (2011). Jalawure (Tacca leontopetaloides)

Tumbuhan liar sumber pangan alternatif prospektif Nasional Dari Kabupaten Garut. Setyowati N, Siti Susiarti, dan Rugayah, (2012). Tacca

leontopetaloides: Persebaran dan Potensinya sebagai sumber Pangan Lokal di Jawa Timur. Jurnal. Teknologi Lingkungan. Ed. Khusus Hari Bumi, ISSN 1441-318X:p 31-40.

Ubwa., S.T., B.A., Anhwange and J.T. Chia. (2011) Chemical Analysis of Tacca leontopetaloides Peels. American Journal of Food Techonolgy 6(10): 932-938. ISSN 1557-4571.

Ujowundu, C.O.,C.U, Igwe, V.H.A.Enemor, L.A.Nwaogu & O. E. Okafor. (2008). Nutritive and antinutritive properties of Boerhavia diffusa and Commelina nudiflora leaves. Park. Jurnal Nutr., 7:90-92.

Ukpabi, U.J., Ukenye, E., & Olojede, A.O. (2009). Raw Material Potentials of Nigerian Wild Polynesian Arrowroot (Tacca leontopetaloides) Tubers and Starch. Journal of Food Technology. 7 (4): 135-138.

Rawiniwati dan Yani. Prospek dan Persebaran Tanaman Kecondang di Kabupaten Garut

P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9 | 167 Ukpabi, UJ., E. Ukenye and A.O. Olojede. (2009).

Raw-Material Potentials of Nigerian Wild Polynesian Arrowroot (Tacca leontopetaloides) Tubers and Starch. Journal of Food Technology, 7: 135-138.

Wijaya. (1996). Penemu Effectivitas Mikroorganisme (EM-4). Trubus. 309:231.

Aguzaen et al. Keanekaragaman Genetik dan Identifikasi Padi Gogo Kultivar Lokal Kabupaten OKU

168 | P r o s i d i n g S e m l o k n a s V P A G I - F A P E R T A U N A N D 2 0 1 9

Keanekaragaman Genetik dan Identifikasi Padi Gogo Kultivar Lokal

Dalam dokumen Prosiding pagi 2019 (Halaman 181-185)