Paparan dan penemuan kohesi berdasarkan piranti yang tidak dijelaskan dalam kajian teori adalah sebagai berikut.
1) Kohesi Gramatikal
(Va.3) Najwa : Sudah hadir lengkap narasumber mata najwa, saya mau kasih peringatan ke para menteri yang malam hari ini hadir, kalau sudah berani ke mata najwa artinya harus siap untuk buka-bukaan dan kita akan mulai dengan membuka rahasia paling pribadi dari 3 perempuan yang ada disini. (09.07)
Kepaduan wacana yang didukung oleh kohesi gramatikal berupa referensi pronomina persona pertama tunggal yang ditemukan dalam data (Va.3) saya, (Vb.1) saya, (Vb.14) saya, (Vc.1) saya, (Vc.3) saya, (Vc.10) saya, (Vc.16) saya, (Vd.1) saya, (Vd.4) saya, (Vd.8) saya, (Vd.14) saya, (Vd.20) saya, (Ve.13) saya, (vg.1) saya, (Vg.17) saya, pronomina berupa orang pertama tunggal tersebut mengacu pada satu unsur acuan yang sama yaitu Najwa Shihab.
(Vb.15) Khofifah: Saya melihat bahwa komitmen perempuan ketika mendapat mandat dan amanat itu lahir batin. (06.22)
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 136
Pada data tersebut terdapat penanda kohesi gramatikal yaitu substitusi nominal, kata itu pada kalimat tersebut menggantikan posisi nomina yakni perempuan pada dialog sebelumnya, sehingga kata itu dapat dianggap sebagai substitusi nomina.
(Vc.12) Najwa: Apakah itu membuat anda mantap ibu? Karena pasti ada banyak yang menyesalkan jikalau anda mundur. (04.57)
Pada data tersebut terdapat kohesi gramatikal berupa elipsis verbal.Pada data Vc.12 mengalami pelesapan, klausa yang dilesapkan adalah mundur.
Sehingga apabila dilengkapi secara utuh maka kalimat tersebut menjadi
“Apakah itu membuat anda mantap untuk mundur ibu? Karena pasti ada banyak yang menyesalkan jikalau anda mundur.”
(Va.8) Najwa: Mbak puan pernah menjadi jurnalis magang? Ngaku paling enak jadi politisi atau jurnalis? (12.55)
Pada data Va.8 kata atau berfungsi sebagai penambah informasi pada klausa sebelumnya. Kata atau menjelaskan pemilihan antara politisi atau wartawan.
2) Kohesi Leksikal
(Vb.23)Puan: Perempuan lebih detail, perempuan itu ingin semuanya itu sempurna, dan kita itu cerewet kelebihannya itu. Dan kita tidak pernah bosan untuk cerewet, cerewet dalam artian positif karena kita mau hasilnya maksimal. (06.53)
Pada data tersebut termasuk repetisi bagian dari reiterasi yang terdapat
pengulangan leksem perempuan yang sama dalam dialog Puan. Repetisi dalam data Vb.23 tersebut menekankan pada peranan perempuan yang tidak bisa dilemahkan, karena peranan perempuan ikut menentukan nasib bangsa ini. Peran repetisi sebagai penegas, penciptaan gaya bahasa, dan pengungkapan perasaan emosi karena repetisi bukan hanya pengulangan bentuk tetapi berperan pragmatis yang maknanya bergantung pada konteks.
(Vb.8) Susi: Kalau tanggungjawab sama kayak beban itu sangat besar apalagi lautan Indonesia sangat luas.
Saya merasa semua berharap bahwa saya bisa bikin magic semua nelayan jadi sejahtera gitu kan dalam satu begini. Tetapi hal itu tidak mudah dan mengawasi laut segini besar juga tidak mudah tapi alhamdulillah pak Presiden kan sangat mendukung jadi kita pakai eksekusi undang-undang kita, tenggelamkan kapal. Tidak enaknya saya setiap hari mendapat whatsapp dari semua grup, tidak jumatan tenggelamkan, malam ming-gu tidak keluar malam tengge-lamkan, semua tenggelamkan. Lalu semua foto yang ada dikoran, dimajalah, ditelevisi, pasti yang diambilnya saya lagi melototlah, yang saya lagi teriaklah, jadi saya bilang mana foto saya yang cantik, tidak ada. (04.01)
Pada data tersebut, kata koran, majalah, televisi merupakan kolokasi dari media massa. Kolokasi mengguna-kan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Semua bentuk tersebut adalah kolokasi, arena sama-sama media massa.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 137
Vg.21 Najwa: “Sangat banyak perempuan Indonesia yang berbakat namun tak gampang jadi perempuan dengan capaian hebat. dibebani kewajiban sebagai ibu sekaligus istri kendala perempuan dua kali lebih berat dari laki-laki. Maka jika ada perempuan yang benar-benar berprestasi percayalah kalau usahanya sungguh tak terperi.
mustahil mengabaikan peran perempuan dan kontribusi anak muda Indonesia sulit berderap jika hanya ditangani pria dan kaum tua.
sudah banyak perempuan dan anak muda yang memberi bukti bahwa usia jenis kelamin bukan halangan berkontribusi. Sebab jika perempuan dan anak muda makin berdaya niscaya kian hebat sebuah bangsa.” (07.03)
Pada data tersebut, kata (1) perempuan antonim dari laki-laki, (2) kaum tua antonim dari anak muda mempunyai arti yang berlawanan.
Antonimi merupakan satuan lingual yang maknanya berlawan/berposisi dengan satuan lingual yang lain. Suatu wacana yang dinamis juga sering menempatkan kohesi leksikal secara fleksibel dan variatif dengan mempertentangkan makna yang berlawanan.
3) Latar Belakang Penggunaan Kohesi Gramatikal dan Leksikal
Kemunculan kohesi gramatikal lebih dominan dibandingkan kohesi leksikal.
Karena dalam setiap dialog disebutkan siapa yang menuturkan dialog tersebut, sehingga aspek referensi dapat ditemukan dihampir seluruh kalimat data dalam wacana. Sedangkan kohesi leksikal digunakan untuk menghindari
penggu-naan bahasa yang monoton serta menciptakan variasi bahasa dan membuat talkshow ini menjadi lebih menarik.
Pembahasan
1) Kohesi Gramatikal
Dominasi referensi yang sering muncul adalah referensi pronomina persona (kata ganti orang). Dominasi substitusi yang sering muncul adalah subtitusi verba dan nomina.Dominasi elipsis yang sering muncul adalah elipsis nomina.Dominasi konjungsi yang sering muncul adalah konjungsi koordinatif dan subordinatif.
2) Kohesi Leksikal
Reiterasi yang muncul dalam perca-kapan adalah repetisi, sinonimi, dan hipernimi.Kolokasi yang masih dalam satu lingkup diwujudkan dengan kata koran, majalah, televisi merupakan kolokasi dari media massa. Kolokasi menggunakan pilihan kata yang cende-rung digunakan secara berdampingan.
Antonimi yang diwujudkan dengan kata (1) perempuan antonim dari laki-laki, (2) kaum tua antonim dari anak muda mempunyai arti yang berlawanan. Suatu wacana yang dinamis juga sering menempatkan kohesi leksikal secara fleksibel dan variatif dengan memper-tentangkan makna yang berlawanan.
3) Latar Belakang Penggunaan Kohesi Gramatikal dan Leksikal
Secara kuantitas, kohesi gramatikal lebih didominasi oleh kemunculan referensi yang berbanding sangat jauh dari tiga aspek gramatikal lainnya.
Dominasi penggunaan aspek gramatikal berupa referensi dalam wacana ini
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 138
dilatar-belakangi oleh beberapa alasan.
Pertama, wacana ini merupakan sebuah wacana lisan berupa dialog yang ditulis kembali oleh peneliti. Dalam setiap dialog disebutkan siapa yang menuturkan dialog tersebut, sehingga aspek referensi persona dapat ditemukan dihampir seluruh kalimat data dalam wacana. Penutur dalam talkshow ini sering menggunakan kata saya, kita, anda,dan sebagainya sebagai pengganti nama untuk menginndari penyebutan kembali nama penutur yang sama secara berulang.
Penggunaan kohesi leksikal dalam wacana lisan ini jumlahnya cenderung lebih seimbang antara satu dengan yang lainnya. Penggunaan penanda kohesi leksikal ini juga bertujuan untuk beberapa alasan. Pertama, dalam pengacuan leksikal berupa repetisi terdapat penyebutan beberapa nomina atau frasa secara berulang-ulang.
Penyebutan secara berulang-ulang tersebut bertujuan untuk menegaskan maksud yang diutarakan penutur.
Selain itu, penggunaan penanda kohesi leksikal ini juga bertujuan untuk menghindari penggunaan bahasa yang monoton serta menciptakan variasi penggunaan bahasa yang membuat talkshow ini lebih menarik. Hal ini terlihat dalam penggunaan pasangan dan kelompok kata yang membentuk relasi semantik berupa reiterasi, kolokasi, dan antonimi.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan dari paparan temuan data dan pembahasan pada penelitian ini yakni Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam Talkshow Metro TV“Mata Najwa”.
Bentuk kohesi gramatikal dalam talkshow di acara “Mata Najwa”
ditemukan dengan berbagai jenis yakni referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi. Adapun perwujudan dari penggunaan kohesi referensi juga terbagi menjadi pronomina persona (kata ganti orang), posesif, demontratif, komparatif, interogatif, dan tak taktif. Setiap perca-kapan mengandung makna gramatikal sehingga lebih menarik penggunaan katanya.
Bentuk kohesi leksikal dalam talkshow di acara “Mata Najwa”
ditemukan dengan berbagai jenis yakni reiterasi, kolokasi, dan antonimi.Adapun perwujudan dari penggunaan kohesi reiterasi juga terbagi menjadi repetisi, sinonimi, dan hipernimi. Setiap percakap-an yang mengandung makna leksikal sebagai cara untuk memper-indah dan menegaskan.
Latar belakang penggunaan kohesi gramatikal dan leksikal pada talkshow di acara “Mata Najwa” yaitu Najwa Shihab tidak hanya sebagai pembawa acara dan penanggung jawab yang memiliki ciri khas dalam beretorika atau berbicara, baik verbal maupun non verbal. Seperti ekspre-si wajah, nada suara, dan sebagainya dengan memperhatikan kode etik jurnalistik munculnya kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang mengandung makna yang kemungkinan hanya diketahui oleh penutur ataupun mitra tutur saja. Pertanyaan-pertanyaaan yang diajukan oleh Najwa Shihab dikenal sangat tajam dan kritis, tidak peduli siapapun yang menjadi narasumbernya sehingga terkadang sulit dijawab oleh narasumber dan perta-nyaannya memiliki makna tersembunyi dibalik pertanyaan yang dilontarkan.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 139
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardiri. 2008. Penelitian: Pembelajaran Bahasa Indonesia.Jember :
Universitas Muhammadiyah Jember.
Darma, Yoce Aliah. 2014. Analisis Wacana Kritis. Bandung: PT.
Refika Aditama.
Departemen Pendidikan Nasional.2014.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hasan & Badrih. 2015. Linguistik Indonesia (Pengantar Memahami Hakikat Bahasa). Malang : Universitas Negeri Malang.
Junaedi, Fajar. 2013. Jurnalistik Penyiaran dan Reportase Televisi.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Lamin. 2010. Koherensi dan Kohesi Wacana Berita Utama Media Cetak Jawa Pos. Malang: Universitas Islam Malang.
Lubis, A. Hamid Hasan. 2015. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung:
Penerbit Angkasa.
Moleong. 2006. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:
PT Remaja Offset.
Oramahi, Hasan Asy’ari. 2015.
Jurnalistik Televisi. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Ratnanto, Nowo. 2010. Kohesi
Gramatikal dan Leksikal Editorial The Jakarta Post. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
Sudaryat, Yayat. 2014. Makna dalam Wacana (Prinsip-prinsip Semantik dan Pragmatik). Bandung: CV.
Yrama Widya.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Tarigan, Henry Guntur. 2009.
Pengajaran Wacana. Bandung:
Angkasa.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 140
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN ARGUMENTATIF