Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Unisma [email protected]
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI Cepu. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru kelas.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi yang berjumlah 21 siswa di SMK PGRI Cepu tahun pelajaran 2016/2017 dan objek penelitian ini adalah kemampuan menulis teks negosiasi.
Prosedur pelaksanaan tindakan penelitian ada empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket, tes, wawancara, catatan lapangan, dan alat perekam gambar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif. Kriteria keberhasilan tindakan ditentukan berdasarkan proses dan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknik latihan berjenjang dapat meningkatkan kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI Cepu, baik secara proses maupun hasil. Pada proses, peningkatan tampak pada proses pembelajaran yang semakin baik dan menyenangkan. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Pada hasil, kemampuan menulis teks negosiasi siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus. Keberhasilan ini, ditunjukkan setelah implementasi tindakan selama dua siklus, kemampuan rata-rata siswa dalam menulis puisi menjadi berkategori baik.
Kata-kata Kunci: menulis, teks negosiasi, teknik latihan berjenjang PENDAHULUAN
Pengajaran bahasa Indonesia mem-punyai ruang lingkup dan tujuan menumbuhkan kemampuan mengung-kapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakikatnya pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa.
Guru dituntut mampu memotivasi siswa agar mereka dapat meningkatkan minat tulis.
Guru adalah orang yang bertanggung jawab akan perkembangan bahasa Indonesia. Berhasil tidaknya pengajaran bahasa Indonesia memang ditentukan oleh faktor guru, di samping faktor lainnya, seperti faktor murid,
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 31
metode pembelajaran, kurikulum, serta bahan pengajaran dan buku panduan.
Aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan dan keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai oleh pembelajar bahasa setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Dibandingkan dengan tiga kemampuan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai bahkan oleh penutur asli bahasa yang bersangkutan sekalipun. Hal ini disebabkan kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa yang akan menjadi isi tulisan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi haruslah terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan tulisan yang runtut dan padu.
Menulis bukan pekerjaaan yang sulit, melainkan juga tidak mudah.
Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu belajar menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untukmempratikannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.
Pada kenyataannya di dalam praktik pembelajaran menulisdi SMK PGRI Cepu, guru masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional dengan metode ceramah dan tanya jawab saja. Dalam proses pembelajaran menulis hanya berlangsung satu arah saja, tidak terjalin komunikasi antara guru dan siswa. Guru menjadi pusat
pembelajaran dan sering sebagai penentu segalanya di dalam kelas. Tidak lepas dari itu saja, pembelajaran yang terjadi disesuaikan dengan kondisi psikologis guru yang mengajar. Selain itu dengan kondisi semacam itu siswa dalam kelas cenderung pasif, kurang tanggap, dan hanya menggantungkan semua kepada guru. Karena pembelajaran hanya terjadi searah maka siswa cenderung mengobrol dengan teman daripada mendengarkan pelajaran dari guru. Tidak terjalinnya komunikasi dalam pembelajaran, baik hanya sekedar tatap mata, sentuhan maupun teguran halus dan pujian menyebabkan timbulnya jarak antara guru dan siswa yang semakin jauh. Dari kenyataan semacam ini menyebabkan hasil belajar siswa cenderung rendah.
Terbukti dari hasil penilaian formatif yang dilakukan di kelas X Akuntansi terhadap pembelajaran materi teks negosiasi dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan hanya 38,11% dari 21 siswa (perempuan semua) yang mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 61,89% dari 21 siswa mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan dengan Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) 75.
Dari kenyataanya tersebut ternyata model pembelajaran yang diterapkan guru selama ini kurang efektif. Guru hanya menggunakan model ceramah tanpa menggunakan media. Guru jarang memberikan kesempaatan siswa untuk bertanya dan berpendapat. Tidak ada interaksi antara siswa dengan siswa lainya dalam bentuk kerjasama serta strategi mengaitkan tema dalam
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 32
pembelajaran belum tercapai dengan baik, sehingga pencapaian pembelajaran kurang. Siswa belum memahami materi dan siswa tidak aktif.
Peneliti melakukan observasi pada waktu pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di SMK PGRI Cepu, serta berdasarkan wawancara guru yang mengajar bahasa Indonesia di sekolah tersebut bahwa rata-rata nilai ulangan harian bahasa Indonesia siswa pada tahun ajaran 2016/2017 pada materi teks negosiasi masih banyak yang di bawah rata-rata. Nilai rata-rata tersebut kurang dari nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum), yang diharapkan yaitu 75.
Dalam hal ini guru telah melakukan berbagai usaha agar nilai ulangan harian bahasa Indonesia siswa tersebut dapat meningkat, namun usaha yang dilakukan belum menunjukkan hasil yang optimal.
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara peneliti dengan guru bidang studi bahasa Indonesia pada tanggal 1 Februari 2017 di SMK PGRI Cepu Tahun Pelajaran 2016/2017 tersebut bahwa materi teks negoisasi masih sulit dipahami oleh siswa. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep teks negoisasi yang telah diajarkan. Siswa juga masih kesulitan dalam memahami struktur penulisan pada materi teks negoisasi.
Siswa masih kurang mampu menulis-kan apa yang diketahui, ditanyamenulis-kan dan menentukan struktur yang tepat untuk menyelesaikan masalah dalam materi teks negoisasi.
Selain itu, ada juga permasalahan kurangnya keberanian siswa untuk mengungkapkan kesulitan yang dialami-nya kepada guru dalam memahami materi yang diajarkan, sehingga siswa bersifat pasif dalam menerima materi pelajaran dan akhirnya siswa merasa malas untuk belajar. Dalam hal ini guru harus mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan mampu menyajikan model pembelajaran yang menarik. Saat ini penggunaan bermacam-macam metode dan model mengajar di sekolah masih sangat terbatas. Berbagai metode mengajar menyajikan sejumlah usaha yang dapat ditempuh oleh guru dalam merancang lingkungan belajar mengajar agar murid dapat menggunakan strategi yang lebih baik.Untuk memecahkan masalah keterampilan menulis yang terjadi di kelas X Akuntansi SMK PGRI Cepu, maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi pembelajaran dan agar dapat mencapai tujuan peningkatan hasil belajar siswa. Salah satu alternatif adalah dengan menggunakan model pembelajaran teknik latihan berjenjang berjenjang. Dengan ini diharapkan interaksi aktif antar siswa dalam memahami materi dapat mencapai jalan keluar, sehingga kekurangpahaman siswa akan standar kompetensi dapat teratasi secara menyeluruh. Dengan ini peneliti mencoba menerapkan dalam penelitian tindakan kelas yaitu metode latihan berjenjang.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 33
Metode latihan berjenjang merupakan cara yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggu-nakan cara berjenjang sebagai titik fokus pelaksanaannya. Dengan pene-rapan metode ini diharapkan dalam proses pembelajaran menulis lebih meningkatkan motivasi, kemampuan, dan kompetensi siswa terhadap materi menulis di kelas X Sekolah Menengah Kejuruan.
Berdasarkan pandangan di atas jelas bahwa pendidikan menuntut adanya keterkaitan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Jadi guru dituntut mampu mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang berdasarkan pada kompetensi yang harus dikuasai siswa, serta mampu menumbuhkan kreatifitas siswa. Salah satunya adalah pengajaran dengan teknik latihan berjenjang.
Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan di atas, ada dua tujuan dalam penelitian ini yaitu, mendeskripsikan peningkatan pembel-ajaran menulis teks negoisasi dengan menggunakan teknik berjenjang siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI Cepu dan mendeskripsikan hasil belajar menulis teks negoisasi dengan menggunakan teknik berjenjang siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI Cepu.
Ada dua manfaat dalam penelitianini, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis yaitu bagi akademisi atau lembaga pendidikan menjadi bahan informasi dalam pembangunan ilmu
pengetahu-an, dalam meningkatkan keterampilan menulis, khususnya bidang pendidik-an. Bagi peneliti, menjadi masukan dalam meneliti dan meningkatkan keterampilan menulis melalui teknik latihan berjenjang.
Manfaat yang kedua adalah manfaat Praktis, yaitu bagi sekolah dapat membantu meningkatkan kuali-tas pembelajaran. Memiliki siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar dan lebih menguasai materi pembelajaran khususnya pembelajaran menulis dan memiliki guru yang selektif dalam memilih strategi pem-belajaran. Bagi guru sebagai pertim-bangan mengajar pelajaran bahasa Indonesia dan merupakan cara alter-natif untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Dapat meningkat-kan kualitas pembelajaran menulis dan termotivasi untuk lebih kreatif dalam menentukan strategi pembel-ajaran. Bagi siswa meningkatkan minat, kreativitas, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
menulis.
METODE
Penelitian tindakan kelas yang dilakukan menggunakan metode diskriptif kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa uraian atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Yang dilakukan pertama kali oleh peneliti adalah mengidentifikasi permasalahan yang muncul di kelas yang diteliti bersama-sama guru dengan
mendis-NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 34
kusikan masalah yang sangat penting untuk segera diatasi.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian yang mengombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam proses perbaikan dan perubahan.
PTK adalah penelitian yang memaparkan terjadinya sebab akibat dari perlakuan, sekaligus memaparkan apa saja yang terjadi ketika perlakuan diberikan dan memaparkan seluruh proses sejak awal pemberian perlakuan sampai dengan dampak dari perlakuan yang diberikan kepada subjek tindakan (Arikunto dkk, 2016:4).