VIII SMP NASIONAL MALANG TAHUN 2016/2017
2) Sub Vokalisasi
Ada orang membaca tanpa suara di bibir, tapi di hati.
3) GerakanBibir.
Ada juga yang tidak bersuara, tapi bibir seperti orang berbicara dan melafalkan sesuatu.
4) GerakanKepala.
Banyak orang ketika membaca kepalanya ikut bergerak mengikuti
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 153
kata demi kata dalam bahan bacaan.
Dengan demikian kepala bergerak secara teratur darikiri ke kanan kembali lagi ke kiri dan seterusnya.
5) Regresi (pengulangan ke bela-kang). Membaca suatu kalimat atau paragraf kemudian tidak yakin dengan isinya atau merasa kurang paham kemudian balik lagi dan mengulang kalimat atau paragraf tersebut.
Kecepatan membaca dapat diukur.
Menurut Soedarso (2004:15) untuk mengetahui kecepatan membaca, sebelum membaca, lebih dahulu dicatat waktu mulai membaca dan setelah menyelesaikan bacaan segera dilihat jam dan dicatat setepat-tepatnya. Setelah itu hitung berapa jumlah menit dan detik, kemudian diteruskan dengan mengukur pemahaman anda dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia.
Kecepatan membaca pembaca dapat
diukur dengan cara
menghitung/mengukur berapa banyak kata yang terbaca setiap menitnya.
Berikut ini adalah cara menghitung kecepatan membaca menurut Soedarso (2004:14).
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑎𝑐𝑎
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑐𝑎𝑥 60 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑝𝑚
Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan yang dibaca, hitung jumlah rata-rata per baris dalam lima baris dahulu, lalu bagi lima. Hasilnya merupakan jumlah rata-rata per baris dari bacaan itu. Lalu hitung jumlah baris yang dibaca dan kalikan dengan jumlah rata-rata dan hasilnya merupakan jumlah kata yang dibaca. Misalnya:
Jumlah kata per baris rata-rata = 11 Jumlah baris yang dibaca = 60
Jumlah kata yang dibaca = 11 x 60 = 660 kata
Jika kata tersebut dibaca dalam 2 menit dan 10 detik atau total 130 detik maka kecepatan membaca (660 kata/130detik) x 60 = 342 kata per menit.
Sejalan dengan pendapat di atas, Nurhadi (2010:41) menjelaskan proses/
langkah-langkah menghitung kecepatan membaca sebagai berikut.
I. Saat akhir membaca: jam ... menit ... detik ...
Saat mulai membaca: jam ... menit ... detik ...
Waktu yang diperlukan : ...detik.
II. Jumlah kata X 60 = jumlah total kata.
III. Jumlah total kata : waktu yang diperlukan = jumlah kata per menit.
Contoh :
I. Saat akhir membaca: jam 08 : 15 : 00 Saat mulai membaca : jam 08 : 17 : 30 Waktu yang diperlukan : 150 detik.
II. Jumlah kata 400 X 60 = 144.000.
III. Jumlah total kata 144.000 : 150 = 960 kata per menit.
Menurut Noer (2010:36) kece-patan membaca dihitung dengan satuan jumlah kata per menit atau word per minute (WPM). Adapun rumus penghitungannya sebagai berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑎𝑐𝑎
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑘𝑎𝑛 (𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘)𝑥 60 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑊𝑃𝑀
Misalnya,
Tulisan yang dibaca terdiri dari 1176 kata
Waktu yang digunakan untuk membaca 3 menit 30 detik sama dengan 210 detik
Jumlah kata yang dibaca 336 per menit
Kategori Good
Hasil yang diperoleh kemudian dico-cokan dengan tabel kecepatan membaca.
Kecepatan membaca dan pema-haman membaca merupakan satu kesa-tuan yang tidak terpisah. Wainwright (dalam Hariyati,2010) mengemukakan bahwa kecepatan membaca jelas mengacu pada kecepatan memahami bacaan. Oleh sebab itu, dapat diketahui
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 154
bahwa kecepatan membaca yang rendah biasanya menghasilkan pemahaman yang lebih buruk sementara kecepatan membaca yang tinggi biasanya menghasilkan pemahaman yang lebih baik.
Wainwright (dalam Hariyati, 2010) juga mengemukakan bahwa pembaca bisa memperbaiki kuantitas dan kualitas pemahamannya terhadap materi bacaan dengan tiga cara utama, yaitu (1) membaca materi bacaan dengan tema luas dan beragam, (2) diskusi, dan (3) tes. Untuk mengukur tingkat pemahaman dinyatakan dalam bentuk persentase. Adapun cara menghitungnya dengan menghitung jumlah skor jawaban yang benar dibagi skor jawaban ideal dari tes pemahaman bacaan.
Rumus mengukur pemahaman bacaan sebagai berikut.
Pemahaman = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙x100%
Salah satu penentu keberhasilan membaca cepat adalah metode. Untuk tujuan tertentu, seseorang perlu meng-gunakan kemampuan membaca cepat untuk mendapatkan informasi dari bahan bacaan secara efektif dan efisien (Nurhadi, 2016a:96). Untuk itu diper-lukan teknik atau metode tertentu dalam membaca cepat. Terdapat beberapa metode yang pernah dikembangkan dalam membaca cepat, yaitu (1) metodekosakata, (2) metode motivasi, (3) metode bantuan alat, dan, (4) metode gerak mata. Metode yang berhubungan dengan penelitian ini adalahmetode bantuan alat.
Metode bantuan alat yang dikem-bangkan oleh Doyle adalah metode Self-pacing. Metode Self-pacing merupakan salah satu metode yang bertujuan untuk meningkatkan kemampaun membaca cepat. Metode ini memberikan
latihan-latihan membaca cepat dan mengajarkan teknik-teknik mudah yang dapat membantu memfokuskan perhatian dengan baik pada apa yang sedang dibacanya. Mata digerakkan mengikuti metode tertentu untuk memfokuskan gerakan mata pada halaman yang sedang dibaca.
Pada metode Self-pacing, siswa diajak mengorganisasikan diri dalam upaya menjadi seorang pembaca yang dapat membaca cepat. Pengorganisasian diri ini meliputi langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membaca cepat seperti yang tertuang dalam metode Self-pacing yaituThe Hand, The Card, The Sweep, dan The Zig-zag or The Loop.
Teknik-teknikmembaca cepat ini membantu memfokuskan gerakan mata hanya pada halaman yang sedang dibaca (Doyle, 2013).Menurut Doyle, dari kelima teknik ini dapat digunakan salah satu yang paling disukai atau yang paling efektif menurut pembacanya.
Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik The Card.
Metode Self-pacing dengan teknik The Card adalah menggunakan kartu atau lembaran kertas yangdilipat dan diletakkan di atas kalimat-kalimat yang telahdibaca. Kemudian ketikatelah mem-baca, kartu tersebut ditarik ke bawah secara perlahan-lahan dan teratur.
Penggunaan kartu untuk menutup kalimat-kalimat yang telah dibaca ini, diusahakan membaca bagian-baris sebelum menutupnya. Hal ini akan membantu untuk menghindari kebiasaan membaca bagian yang samaberulang-ulang. Hal inijuga akan membantu untuk lebih memfokuskan perhatian pada bagian yang dibaca. Kartu dapat ditarik dengan cepat jika memang dapat membaca dengan cepat.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 155
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain Control Group Pretes-Postes Design.
Metode ini digunakan karena peneliti ingin mengetahui efektivitas dari perlakuaan tertentu. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode Self-pacingteknik The Card. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII SMP Nasional Malang tahun pelajaran 2016/2017 yang dijabarkan menjadi (1) kecepatan membaca dan (2) pemahaman membaca.
Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada desain ini, kelas eksperimen menggunakan pembelajaran membaca cepat dengan metode Self-pacingteknik The Cardsedangkan kelas kontrol menggunakan metode konvensional. Setelah terpilih kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dilakukan dengan teknik populatif sampling kemudian dilakukan pengambilan data dengan langkah-langkah (1) pemberian pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diberi perlakuan, (2) melakukan kegiatan pembelajaran dengan perlakuan yang berbeda. Pada kelas eksperimen menggunakan metode self-pacing teknik The Card sedangkan kelas kontrol menggunakan metode konvensional (tanpa perlakuan tertentu), dan (3) pemberian postes untuk mengetahui kemampuan akhir setelah diberi perlakuan.
Sebelun pengambilan data dilaksanakan, terlebih dahulu disusun intrumen berupa teks bacaan dan tes untuk pretes dan postes. Selanjutnya
dibuat rencana pembelajaran membaca cepat dengan perlakuan menggunakan metode Self-pacingteknik The Carddan rencana pembelajaran membaca cepat dengan metode konvensional (tanpa perlakuan tertentu).
Langkah berikutnya melakukan uji coba intrumen.Adapun hal-hal yang diujicobakan adalah (1) uji validitas, (2) uji reliabelitas, (3) uji tingkat kesukaran, dan (4) uji daya beda.
Uji validitas tes bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian soal-soal.Wahyuni dan Ibrahim (2012:86) menyatakan bahwa validitas merupakan suatu keadaan apabila suatu instrumen evaluasi dapat mengukur apa yang sebenarnya harus diukur secara tepat.
Ditambahkan oleh Grondlund (dalam Wahyuni dan Ibrahim, 2012:86), validitas mengarah pada ketepatan interpretasi hasil penggunaan suatu prosedur evaluasi sesuai dengan tujuan pengukurannya.
Uji Reliabelitas merupakan kriteria ukuran apakah suatu alat ukur dapat mengukur secara konsisten sesuatu yang akan diukur dari waktu ke waktu (Wahyuni dan Ibrahim, 2012:104).
Reliabelitas merujuk pada derajat keajekan alat dalam mengukur suatu tes.
Artinya tidak berubah bila digunakan secara berulang-ulang pada sasaran yang sama. Tingkat reliabelitas tes dapat diukur dengan berbagai teknik. Untuk mengetahui reliabelitas penelitian ini, skor hasil uji coba diperiksa dengan menggunakan rumus K-R 21.
Uji tingkat kesukaran.Soal tes yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Oleh karena itu, perlu diadakan analisis tingkat kesukaran. Dikatakan oleh Wahyuni dan Ibrahim (2012:129), tingkat kesulitan tes menunjukkan seberapa sukar atau mudahnya butir-butir tes yang telah diselenggarakan.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 156
Dengan analisis ini dapat diketahui secara umum, apakah suatu tes tergolong mudah, sedang, atau sulit.
Uji daya beda bertujuan untuk mengukur sejauh mana butir soal mampu membedakan siswa yang pandai dan kurang pandai berdasarkan kriteria tertentu.Daya beda atau tingkat deskriminasi merupakan ciri bukti tes yang digunakan untuk menunjukkan adanya tingkat kemampuan antara kelompok peserta tes yang berkemampuan tinggi dan rendah.
Setelah melalui berbagai uji intrumen, dilanjutkan pengumpulan data.
Dalam penelitian ini data berupa angka-angka. Data yang dikumpulkan dibedakan menjadi dua kelompok berikut.
1) Skor pretes dan postes kecepatan membaca pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol.
2) Skor pretes dan postes pemahaman membaca pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan instrumen tes membaca cepat yang terdiri atas intrumen-intrumen tes (1) kecepatan membaca dan (2) pemahaman membaca.
Intrumen tersebut berupa teks bacaan yang disertai dengan pertanyaan.
Prosedur tes dilakukan dengan cara (1) intrumen tes dibagikan kepada siswa, (2) siswa membaca dengan tenang agar bisa memahami, (3) selesai membaca, siswa memjawab pertanyaan yang terdapat dalam intrumen, dan (4) intrumen tes dikumpulkan.
Sebelum dilaksanakan postes, masing-masing kelas yang telah terpilih diberi perlakuan. Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen adalah metode Self-pacing teknik The Card yang berguna untuk melatih memfokuskan perhatian dengan baik
pada apa yang dibacanya.Perlakuan yang diberikan pada kelas kontrol adalah metode konvensional yaitu konsentrasi dan mengingat-ingat kembali.
Langkah berikutnya adalah analisis data. Untuk menganalisis data penelitian yang sudah didapatkan dari hasil tes awal dan tes akhir digunakan analisis uji data. Sebelum menganalisis untuk menguji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.
Setelah serangkaian uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas dilaksanakan selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui adakah efektivitas metode Self-pacing The Card, pengujian hipotesis dilakukan dengan metode pengujian hipotesis alternatif. Metode statistik yang digunakan adalah uji- t dua pihak dan uji Anova dengan taraf signifikansi 0,005.
Uji-t dilaksanakan pada data skor postes siswa. Uji-t ini untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar atau tidak. Untuk pengujian ini menggunakan bantuan SPSS 20 for windows dengan uji t-tes independent sample dengan taraf signifikansi 0,05.
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode statistik uji-t dua pihak dengan df=(n1+n2-2) pada taraf signifikansi 0,05. Penghitungan analisis menggunakan analisis Compare Mean dan Independent Sample T-test. Kriteria pengujian hipotesis dengan uji-t dua pihak pada taraf signifikansi ∝=0,05, df=(n1+n2-2) dijabarkan sebagai berikut:
1. Apabila thitung≤ ttabel (∝=0,05, df=(n1+n2-2) maka hipotesis (Ha) ditolak
2. Apabila thitung≥ttabel (∝=0,05, df=(n1+n2-2) maka hipotesis (Ha)diterima
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 157
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Paparan hasil analisis data meliputi (1) kemampuan membaca cepat pada kelas eksperimen pada pretes dan postes, (2) kemampuan membaca cepat pada kelas kontrol pada pretes dan postes, dan (3) perbandingan kemampuan membaca cepat antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol pada pretes dan postes. Pengujian hipotesis yang dipaparkan meliputi (1) uji normalitas, (2) uji
homogenitas, dan (3) uji hipotesis.
Setelah dilakukan pengumpulan data, ditentukan rata-rata nilai tes pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
Hasil keseluruhan tampak pada tabel berikut.
Tabel 4.5 Perbandingan Nilai Kemampuan Membaca Kelas Eksperimen dengan Kelas Kontrol
Dari tabel tersebut dapat dilihat perbandingan nilai pretes kecepatan membaca antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Perolehan nilai pretes kecepatan membaca pada kelas eksperimen sebesar 5201 dengan rata-rata kecepatan 152,97 kata per menit.
Perolehan nilai pretes kecepatan membaca pada kelas kontrol sebesar 5149 dengan rata-rata kecepatan 151,44 kata per menit. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata nilai pretes kecepatan membaca pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.
Dari tabel itu pula dapat dilihat perbandingan nilai postes kecepatan membaca antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Perolehan nilai postes kecepatan membaca pada kelas eksperimen sebesar 5491 dengan rata-rata kecepatan 161,50 kata per menit.
Perolehan nilai postes kecepatan membaca pada kelas kontrol sebesar 5251 dengan rata-rata kecepatan 154,44 kata per menit. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata nilai postes kecepatan membaca pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.
Dari tabel tersebut tampak pula perbandingan nilai pretes pemahaman membaca antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Perolehan nilai pretes pemahaman membaca pada kelas eksperimen sebesar 2220 dengan rata-rata pemahaman 65,29%. Perolehan nilai pretes pemahaman membaca pada kelas kontrol sebesar 2350 dengan rata-rata pemahaman 69,12 %. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata nilai pretes pemahaman membaca pada kelas eksperimen lebih rendah daripada kelas kontrol.
Dari tabel itu pula dapat dilihat perbandingan nilai postes pemahaman membaca antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Perolehan nilai postes pemahaman membaca pada kelas eksperimen sebesar 2780 dengan rata-rata pemahaman 81,76 %. Perolehan nilai postes pemahaman membaca pada kelas kontrol sebesar 2725 dengan rata-rata pemahaman 80,15 %. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata nilai postes pemahaman membaca pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.
Dari perolehan hasil rata-rata nilai tersebut kemudian dilakukan uji-t dan uji Anova dengan menggunakan
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 158
hasil yang dapat disimpulkan bahwa metode Self-pacing teknik The Card efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat pada siswa kelas VIII SMP Nasional Malang.
Pembahasan
Berdasarkan catatan dan pengamatan peneliti, hasil penelitian dijabarkan sebagai berikut.
Kemampuan Membaca Cepat pada Kelas Eksperimen pada Pretes dan Postes.
Total nilai pretes kecepatan membaca yang diperoleh 5201 dengan nilai rata-rata kecepatan 152,97 kata per menit untuk kecepatan membaca.
Kecepatan membaca yang dicapai siswa tersebut termasuk kategori average atau sedang. Pengakategorian ini sejalan dengan kutipan Noer (2010:36) dari Teach Yourself Speed Reading oleh Tina Konstant yang dinyatakan dalam tabel kecepatan baca. Kecepatan baca seseorang di antara kisaran 150-300 wpm termasuk kategori average (sedang).
Berbeda dengan Nurhadi (2004:29) memberi batasan untuk seluruh jenjang pendidikan, yakni untuk tingkat SD/SLTP kecepatan membaca yang memadai adalah 200 kata per menit. Dengan demikian kecepatan membaca siswa pada pretes belum memadai.
Hasil kecepatan membaca yang termasuk sedang bahkan kurang memadai ini tentu saja ada penyebabnya.
Menurut hasil pengamatan peneliti, penyebabnya antara lain (1) siswa tidak tertarik dengan pembelajaran membaca cepat, (2) siswa bosan dengan metode yang digunakan, dan (3) siswa tidak tahu tujuan membaca.
Selain yang telah disebutkan di atas, siswa bersuara ketika membaca.
Ada siswa yang membaca dengan mengeja (membaca kata demi kata) bahwa beberapa siswa membaca sambil mengerak-gerakkan kepala. Ini semua bisa menghambat kecepatan membaca siswa. Hal ini juga diungkapkan Nurhadi (2004:31) bahwa ada beberapa faktor yang dapat menghambat kecepatan membaca. Beberapa faktor tersebut adalah (1) menyuarakan apa yang akan dibaca, (2) membaca kata demi kata, (3) menggerak-gerakkan kaki, tangan, dan kepala, (4) bergumam atau bersenandung dan lain-lain.
Total nilai pretes pemahaman membaca 2220 dengan rata-rata 65,29%.
Nilai ini dapat dikategorikan kurang karena belum mencapai pemahaman 70%. Menurut Soedarso (2004:14) ukuran ideal membaca cepat adalah apabila siswa telah mencapai pemahaman 70%, sejalan dengan Noer (2013:38) Anda telah berhasil menguasai minimal 70% dari bahan bacaan tersebut. Apabila ditinjau perolehan nilai pemahaman secara invidu, siswa yang telah mencapai pemahaman baik (70%) sebanyak 15 siswa. Siswa yang memperoleh nilai kurang sebanyak 19 siswa.
Selain tingkat kecepatan membaca siswa yang sedang atau bahkan kurang memadai ternyata juga diikuti dengan rendahnya pemahaman membaca siswa. Nilai rata-rata yang dicapai oleh siswa 65, 29 %.
Pemahaman membaca siswa belum mencapai batas ketuntasan belajar karena masih di bawah 70 %. Sejalan dengan Noer (2013:38) jika telah berhasil menguasai minimal 70% dari bahan bacaan berarti kemampuan menyerap dan menangkap hal-hal penting dari tulisan sudah cukup baik.
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 159
Dari pengamatan peneliti, hasil pemahaman siswa masih di bawah 70%
disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, ketika siswa disodori teks yang panjang, mereka tampak kebingungan sehingga konsentrasi siswa menurun dan hilangnya pemahaman. Kedua, motivasi membaca siswa rendah. Ketika menghadapi teks yang panjang siswa malas membaca sehingga mereka membaca dengan lambat. Ketiga, menghadapi teks yang terlalu panjang ada rasa khawatir mengalami kesulitan dalam memahaminya. Dalam proses membaca mereka merasa memikul beban berat dan terpaksa melakukan.
Keempat, siswa sering mengulang kembali kalimat atau baris-baris yang telah dibaca (regresi). Kesalahan keempat inilah yang paling sering dilakukan siswa. Seperti diungkapkan Noer (2013:40) banyak orang memiliki kebiasaan buruk dalam membaca sehingga memperlambat
kecepatan termasuk membuat tingkat pemahaman lebih rendah.
Nilai yang dicapai siswa pada saat pretes bisa dikatakan belum memadai. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Saat berlangsung pretes, peneliti mengamati dan mencatat perilaku siswa berkaitan dengan membaca. Ketika guru membagi teks, siswa riuh. Namun ketika diminta membaca teks, siswa menjadi tenang dan mulai membaca. Ada beberapa siswa membaca sambil bersuara, membaca kata demi kata, membaca dengan ogah-ogahan, melihat ke kiri dan ke kanan, dan berhenti di tengah-tengah baris yang dibaca. Hal-hal semacam itulah yang diduga menghambat kemampuan membaca. Noer (2013:41) juga menyatakan ada beberapa hal yang menghambat seseorang dalam membaca cepat yakni (1) kurangnya konsentrasi, (2) rendahnya motivasi, (3) khawatir
tidak memahami bahan bacaan, dan (4) memiliki kebiasaan buruk dalam membaca.
Setelah siswa diberi perlakuan dengan metode Self-pacingThe Card dan diakhiri dengan postes, nilai yang diperoleh siswa lebih meningkat.
Perolehan nilai postes kecepatan membaca sebesar 5491dengan rata-rata nilai 161,50 kata per menit lebih tinggi daripada perolehan nilai pretes sebesar 5201 dengan rata-rata nilai 152,97 kata per menit. Peningkatan nilai kecepatan membaca belum kelihatan karena masih kategori average (sedang).
Setelah siswa diberi perlakuan dengan metode Self-pacingThe Card dan diakhiri dengan postes, nilai pemahaman membaca yang diperoleh siswa juga lebih meningkat. Perolehan nilai postes pemahaman membaca sebesar 2780 dengan rata-rata nilai 81,78% lebih tinggi daripada perolehan nilai pretes pemahaman membaca sebesar 2220 dengan rata-rata nilai 65,29%. Perolehan peningkatan nilai pemahaman membaca sudah bagus karena nilai-rata pemahaman sudah mencapai 73,97%.
Hal ini bisa ditafsirkan bahwa siswa sudah menguasai materi sebesar 70%.
Peningkatan nilai postes ini diduga karena perlakuan dengan metode Self-pacing yang dipilih, yakni The Card. Metode Self-pacing merupakan salah satu metode untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan memfokuskan gerakan mata hanya pada halaman yang dibaca.
Dari catatan dan pengamatan guru, selama pelaksanaan latihan membaca dengan metode Self-pacing The Card, siswa bisa memusatkan perhatian pada bidang baca yang dihadapi. Mereka tidak menggerakkan kepala untuk melihat dan membaca latihan. Mereka memusatkan perhatian pada baris-baris yang dibaca dan tidak
NOSI Volume 5, Nomor 4 Agustus 2017 _________________________________________ Halaman 160
berusaha untuk melihat kembali baris-baris yang telah dibaca. Mereka duduk dengan tenang namun mata mereka bergerak mengikuti kartu atau kertas yang menutup baris-baris yang sedang dibaca. Sejalan dengan pendapat Doyle (2009), mereka memfokuskan gerakan mata hanya pada halaman yang sedang dibaca.
Kemampuan Membaca Cepat pada Kelas Kontrol pada Pretes dan Postes.
Total nilai pretes kecepatan membaca yang diperoleh 5149 dengan nilai rata-rata kecepatan 151,44kata per menit untuk kecepatan membaca.
Kecepatan membaca yang dicapai siswa tersebut termasuk kategori average atau sedang.Total nilai pretes pemahaman bacaan 2350 dengan rata-rata 69,12%.
Nilai ini dapat dikategorikan kurang karena belum mencapai pemahaman 70%.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Ada beberapa siswa membaca sambil bersuara, membaca kata demi kata, membaca dengan ogah-ogahan, melihat ke kiri dan ke kanan,dan berhenti di tengah-tengah baris yang dibaca. Faktor-faktor lain yang diduga menghambat kecepatan membaca di kelas ini adalah siswa tidak bisa konsentrasi sehingga daya ingatnya berkurang. Siswa tidak bisa konsentrasi karena tidak bisa tenang. Mereka sering melakukan hal-hal yang menghambat konsentrasi, misal bicara sendiri, banyak bergerak, dan ada siswa kelas lain yang lalu lalang di depan kelas, dan lain-lain.
Setelah siswa diberi perlakuan dengan metode konvensional dan diakhiri dengan postes, nilai yang diperoleh siswa lebih meningkat.
Perolehan nilai postes kecepatan membaca sebesar 5251dengan rata-rata nilai 154,44 kata per menit lebih tinggi daripada perolehan nilai pretes sebesar 5149 dengan rata-rata nilai 151,44 kata
Perolehan nilai postes kecepatan membaca sebesar 5251dengan rata-rata nilai 154,44 kata per menit lebih tinggi daripada perolehan nilai pretes sebesar 5149 dengan rata-rata nilai 151,44 kata