• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 5 Balikpapan Semester I Tahun Pembelajaran 2015 / 2016. Siswa yang menjadi subjek penelitian adalah sisawa Kelas VII–1 yang berjumlah 40 siswa. Pengamat dalam proses pembelajaran atau sebagai observer adalah salah satu guru di SMP Negeri 5 Balikpapan untuk mengamati aktifitas peneliti dalam menyampaikan materi dan untuk mengamati

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 18, September 2017)

182

aktifitas seuruh siswa dalam prses pembelajaran dilakukan oleh peneliti bersama observer/pengamat.

Secara garis besar, hasil yang di peroleh dari penelitian ini adalah hasil observasi dan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diperoleh dari rata-rata nilai tugas dan nilai tes pada tiap akhir siklus.

Hasil observasi secara keseluruhan dapat dilihat seperti pada tabel 2.

Selanjutnya pengkatagorian hasil belajar metematika siswa pada setiap siklus direkapitulasi pada tabel 3.

Tabel 2. Hasil Observasi Secara Keseluruhan Pelaksanaan

Tabel 3. Pengkatagorian Hasil Belajar Metematika Siswa Setiap Siklus

Jumlah Nilai

Rata-Rata Ketuntasan Belajar Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Individual Klasikal

2005 50,13 Belum

Setelah kegiatan penelitian tindakan kelas dilakukan dari satu siklus I sampai pada siklus III aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar terdapat perubahan prestasi yang sangat signifikan, hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai pada siklus ke I rata-rata nilai siswa hanya mencapai 50,13 % dengan nilai rata-rata yang diperoleh oleh siswa di kelas VII–1 belum mencapai standar kriteria ketuntasan minimal yang di tetapkan oleh sekolah yaitu 75. Tetapi pada siklus ke

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 18, September 2017)183 II setelah kegiatan penelitian tindakan kelas dilakukan dan di terapkan sesuai dengan kaidah dan aturan dalam penelitian tindakan kelas terdapat kenaikan prestasi dengan rata-rata nilai yang dicapai oleh siswa kelas VII-1 adalah 66,13%.

Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode latihan soal terbimbing pada silus I, masih banyak kekurangan, sebagai contoh masih terkesan kaku dalam menjalankan langkah-langkah pembelajaran yang telah di susun dalam rencana pembelajaran berdasarkan metode latihan soal terbimbing.Selain itu guru juga belum maksimal mengelola kelas dan masih banyak siswa yang belum mengikuti tahapan-tahapan dalam latihan soal terbimbing.Guru juga belum sepenuhnya mampu memanagemen waktu pembelajaran sehingga ada fase pembelajaran yang terlewatkan yaitu fase latihan soal lanjutan. Berdsarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran meningkat pada setiap siklusnya.

Pada siklus I siswa belum menunjukkan kesungguhan dala belajar hal ini karena siswa masih terbiasa siswa dengan metode pembelajaran langsung yang selalu diterapkan oleh guru matyematika selama proses pembelajaran terhadap siswa. Hal ini membuat siswa merasa bosan dalam belajar matematika. Karena merode yang di gunakan monoton dan semua aktifitas belajar didominasi oleh guru, sehingga siswa hanya pasif mendengarkan guru mempresentasikan materi pelajaran, kemudian siswa mencatat apa yang ditulis oleh guru sehingga siswa kurang aktif dan tidak di libatkan dalam pembelajaran.

Walaupun pada siklus I ke siklus II hanya terdapat kenaikan presentase kenaikan nilai rata-rata 16, 00 % siswa sudah mulai ada peningkatan prestasi belajar dan kemauan belajar yang lebih giat, karena seluruh siswa sudah mengikuti petunjuk guru dalam menyelesaikan latihan soal dengan metode latihan soal terbimbing.Namun pada siklus ke II belum mencapai nilai sesuai standar KKM yaitu 75.

Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan dalam pengajaran dengan latihan soal terbimbing maka dari siklus 1 ke siklus 2 terdapat kenaikan presentase nilai sebesar 16,00 %.

Pada siklus ke II aktivitas siswa sudah mulai meningkat dengan baik sudah menerapkan latihan soal dengan metode terbimbing sesuai dengan petunjuk guru matematika atau penelti,

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 18, September 2017)

184

tetapi belum sempurna secara menyeluruh dan hasil pada siklus II sudah lebih baik dari pada siklus I. Sehingga pada siklus ke III nilai yang diperoleh siswa kelas VII – 1 sudah dapat mencapai ketentuan dari Kriteria Ketuntasan Minimal yang di tetapkan oleh sekolah karena nilai yang diperoleh oleh siswa kelas VII-1 sudah bisa melampaui KKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75, karena pada siklus ke III tersebut presentase perolehan nilai siswa dapat mencapai rata-rata 93,13 %. Dari siklus 2 ke siklus 3 terdapat kenaikan presentase nilai 27, 00 % secara klasikal siswa di dalam kelas.

Dengan demikian penelitian tindakan kelas ini dapat dipakai oleh seluruh guru matematika karena peda penelitian ini terdapat kenaikan dan pencapain prestasi nilai siswa yang selalu meningkat dari siklus 1 hanya diperoleh nilai rata-rata siswa 53,42 % dan pada siklus ke 2 diperoleh nilai rata-rata siswa 71,33 % dan pada siklus ke 3 nilai rata-rata yang diperoleh oleh siswa kelas VII-1 dapat meningkat menjadi 91,78 %. Dari antar siklus tersebut presentase yang diperoleh kenaikan 17,91 % dari siklus 1 ke siklus 2, sedangkan dari siklus 2 ke siklus 3 terdapat kenaikan rata-rata presentase nilai 20,45 %. Aktivitas seluruh siswa dari siklus 1, siklus 2 dan siklus ke 3 selalu terdapat perubahan antara seluruh tersebut hal ini ditunjukkan dengan perubahan sikap siswa dan nilai yang semakin meningkat anta siklus. Mengapa hal ini terjadi pada dasar pada siklus 1 atau pada siswa awal siswa belum begitu tertarik dan termotivasi dalam belajarnya .

Dikarenakan siswa belum mencintai teknik pembelajaran dan penyelesaian soal matematika dengan metode latihan soal terbimbing, setelah mereka menemukan dan mencintai metode tersebut merasa termotivasi sehingga setiap siklus yang diberikan oleh guru selalu ada perubahan-perubahan yang signifikan dakam memperoleh nilai antar siklus tersebut.Setelah metode latihan soal terbimbing dilakukan dan di laksanakan ternyata seluruh siswa lebih aktif, kreatif dan mereka merasa lebih senang dan dapat termotivasi dalam belajarnya sehingga para siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang di berikan oleh guru dapat diselesaikan dengan mudah.

Dalam hal ini seluruh siswa sudah dapat menemukan metode dengan gagasan mereka sendiri untuk menyelesaikan soal atau materi pelajaran matematika yang di berikan oleh guru. Teknik yang dilakukan berbagai siswa tidak sama walupun metode yang di berikan

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 18, September 2017)185 oleh guru sama namun siswa juga dapat menyelesaikan soal dengan cara mereka temukan sendiri setelah banyak berbagai contoh dalam latihan soal terbimbing diberikan oleh guru matematika di dalam pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. Diharapkan dalam menyelesaikan materi-materi pembelajaran matematika pada nahasan yang lain dapat pula digunakan dengan metode latihan soal terbimbing yang dapat memudahkan seluruh siswa dalam pembelajaran matematika di dalam kelas maupun tugas-tugas pekerjaan rumah atau tugas latihan soal yang lain dapat mereka selesaikan sendiri dengan mudah.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dengan menerapkan Metode Latihan Soal Terbimbing dalam pembelajaran Matematika pada siswa kelas VII-1 di SMP Negeri 5 Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2015/2016 dapat: Meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII-1 di SMP Negeri 5 Balikpapan yang dapat mencapai dan melampaui nilai KKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75, secara keseluruhan siswa dapat memperoleh nilai rata-rata 93.13.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan kepada: (1) Guru mata pelajaran matematika agar mengkaji materi pelajaran yang cocok, untuk diterapkan dengan latihan metode soal terbimbing. (2) Guru mata matematika diharapkan untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memilih strategi pembelajaran yang relevan dengan materi untuk menciptakan lingkungan belajar lebih menyenangkan dan lebih menarik sehingga dapat memacu dan dapat memotivasi siswa dalam belajar. (3) Pihak sekolah agar dapat memfasilitasi semua kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran melalui penerapan strategi pembelajaran yang di gunakan. (4) Pihak sekolah agar memberikan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam pembelajaran matematika seperti alat peraga dan media pembelajaran yang lain termasuk buku mata pelajaran matematika yang relevan dalam menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar di dalam kelas.

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 18, September 2017)

186

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2005, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi Aksara.

Aqib Zainal, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : Yrama Widya.

Depdiknas, 2004, Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Djamarah, SB, 1994, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta. PT Rineka Cipta.

Hamalik, 2008, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, PT Bumi Aksara.

Herman, H. 2008, Murid Belajara Mandiri, Bandung, CV Remaja Karya.

Kunandar, 2007, Guru Profesional, Jakarta, PT raja Grafindo Persada.

Rahaju, Endah Budi, dkk. 2008, Contectual Teaching and Learning Matematika

IX Sekolah Menenhah Pertama/Madrash Tsanawiyah Kelas VII, VIII dan Edisi 4, Jakarta, Pusat Perbukuan.

Simanjuntak, 2003, Metode Mengajar Matematika, Jakarta, Rineka Cipta.

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 18, September 2017)187 UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE