BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Hipotesis
Ho = Tidak ada perbedaan kadar vitamin D dalam darah penderita DM tipe 2 dengan TB paru, penderita DM tipe 2, penderita TB paru, dan kontrol sehat di Medan, Sumatera Utara, Indonesia.
H1 = Ada perbedaan kadar vitamin D dalam darah penderita DM tipe 2 dengan TB paru, penderita DM tipe 2, , penderita TB paru, dan kontrol sehat di Medan, Sumatera Utara, Indonesia.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan case control mengukur kadar vitamin D pada kelompok penderita DM tipe 2 dengan TB paru dan kemudian membandingkannya dengan hasil pengukuran kadar vitamin D pada kelompok DM tipe 2, TB paru , dan kontrol sehat di Medan, Sumatera Utara, Indonesia.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di tiga pelayanan kesehatan, yaitu: RSUP H.
Adam Malik Medan, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Medan (BP4), dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan. Penelitian direncanakan selama 12 bulan dan untuk pengumpulan data selama 8 bulan.
3.3. Populasi, Subjek Penelitian dan Besar Subjek Penelitian 3.3.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah penderita DM tipe 2 dengan TB paru, penderita DM tipe 2, dan penderita TB paruyang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Medan, dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan pada periode pengambilan data.
3.3.2. Subjek Penelitian
A. Kasus.
Subjek penelitian penderita DM tipe 2 dengan TB paru yang berobat ke RSUP H.
Adam Malik Medan, BP4 Medan, dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan yang memenuhi kriteria.
1. Kriteria inklusi:
a) Penderita DM tipe 2 sesuai kriteria American Diabetes Association 2015 dengan TB paru kasus baru yang belum diobati dengan pemeriksaan hapusan langsung pada sputum BTA positif.
b) Umur 18-65 tahun.
c) Bersediamengikuti penelitian yang dinyatakan secara tertulis setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian ini (informed consent).
2. Kriteria eksklusi :
a) Menderita komplikasi atau penyulit dari DM tipe 2 seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, dan penyakit hati serta keganasan.
b) Penderita TB paru yang memiliki penyakit berat lainnya seperti penyakit ginjal, penyakit hati dan keganasan.
c) Menderita TB ekstra paru dengan tanda klinis kelainan TB ekstra paru dan adanya hasil histopatologi anatomi.
d) Menderita TB paru dengan riwayat pengobatan sebelumnya seperti putus berobat, kasus kambuh, lalai dan gagal dalam pengobatan TB.
e) Sedang mengkonsumsi obat yang berhubungan dengan metabolisme vitamin D seperti suplemen vitamin D, preparat kalsium, kortikosteroid dan kemoterapi kanker.
f) Wanita sedang hamil dan menyusui.
B. Kontrol.
1. Subjek penelitian penderita DM tipe 2 yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan, BP4 Medan, dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan (Kontrol 1), yang memenuhi kriteria.
Kriteria inklusi:
a) Penderita DM tipe 2 sesuai kriteria American Diabetes Association 2015.
b) Umur 18-65 tahun.
c) Bersediamengikuti penelitian yang dinyatakan secara tertulis setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian ini (informed consent).
Kriteria eksklusi :
a) Menderita komplikasi atau penyulit dari DM tipe 2 seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, dan penyakit hati serta keganasan.
b) Penderita TB paru yang memiliki penyakit berat lainnya seperti penyakit ginjal, penyakit hati dan keganasan.
c) Menderita TB ekstra paru dengan tanda klinis kelainan TB ekstra paru dan adanya hasil hitopatologi anatomi.
d) Menderita TB paru dengan riwayat pengobatan sebelumnya seperti putus berobat, kasus kambuh, lalai dan gagal dalam pengobatan TB.
e) Sedang mengkonsumsi obat yang berhubungan dengan metabolisme vitamin D seperti suplemen vitamin D, preparat kalsium, kortikosteroid dan kemoterapi kanker.
f) Wanita sedang hamil dan menyusui.
2. Subjek penelitian penderita TB paru yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan, BP4 Medan, dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan (Kontrol 2), yang memenuhi kriteria.
Kriteria inklusi:
a) Penderita TB paru kasus baru yang belum diobati dengan pemeriksaan hapusan langsung pada sputum BTA positif.
b) Umur 18-65 tahun.
c) Bersediamengikuti penelitian yang dinyatakan secara tertulis setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian ini (informed consent).
Kriteria eksklusi :
a) Menderita komplikasi atau penyulit dari DM tipe 2 seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, dan penyakit hati serta keganasan.
b) Penderita TB paru yang memiliki penyakit berat lainnya seperti penyakit ginjal, penyakit hati dan keganasan.
c) Menderita TB ekstra paru dengan tanda klinis kelainan TB ekstra paru dan adanya hasil hitopatologi anatomi.
d) Menderita TB paru dengan riwayat pengobatan sebelumnya seperti putus berobat, kasus kambuh, lalai dan gagal dalam pengobatan TB.
e) Sedang mengkonsumsi obat yang berhubungan dengan metabolisme vitamin D seperti suplemen vitamin D, preparat kalsium, kortikosteroid dan kemoterapi kanker.
f) Wanita sedang hamil dan menyusui.
3. Kontrol sehat (Kontrol 3).
Subjek dipilih secara purposif dari keluarga penderita DM tipe 2 dengan TB paru, penderita DM tipe 2, dan penderita TB paru yang berobat ke RSUP H.
Adam Malik Medan, BP4 Medan, dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan.
Kriteria inklusi:
a) Tidak memiliki gejala TB paru dengan hasil foto toraks tidak ada kelainan.
b) Tidak menderita DM tipe 2 yang sesuai kriteria American Diabetes Association 2015.
c) Berusia18-65 tahun.
d) Bersedia untuk mengikuti penelitian yang dinyatakan secara tertulis setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian ini (informed consent).
3.3.3. Besar Subjek Penelitian
Besar subjekyang digunakan pada satu subjek tunggal untuk estimasi proporsi suatu populasi pada simple random sampling. Dari literatur yang ada data proporsi nilai P didapatkan dari penelitian sebelumnya oleh Chaudhary S, et al10 dan ditentukan dengan menggunakan rumus pada tabel dibawah ini :
Tabel.3.1. Besar subjek penelitian.
No Sampel Rumus Zα2 P Q
(1-P)
d2 Hasil
1 DM tipe 2 dengan TB paru
n = Zα2 P Q d2
1,96 87,5%
(0,875)
0,125 (0,1)2 42
2 DM tipe 2
80,5%
(0,805)
0,195 60
3 TB paru 93,4%
(0,934)
0,066 24
4 Sehat 61,5%
(0,615)
0,385 91
Berdasarkan rumus studi perbedaan subjek mean dari dua populasi untuk populasi TB paru dengan menghitung besar subjek yang dilakukan pada penelitian sebelumnya, yaitu:
n = 2. SD2 (Z1-α + Z 1-β)2/ (μ1 – μ2)2
Dimana : SD1= 28,1
SD2= 24,1 ( SD1 dan SD2 diambil dari penelitian Banda dkk) α = 0,05 → Zα= 1,96 β = 0,10 → Zβ = 1,28
μ 1 – μ 2 = 22,5 (diambil dari penelitian Sashidaran dkk.)
Maka SD gabungan adalah (SD12 + SD22)/2 = (28,12 + 24,12)/2 = 685,21 Maka :
n = 2 x 685,21 x (1,96 + 1,28)2 / 22,52 = 28 subjek
n = 28 ditambah 10% (2,8) = 28 + 2,8 = 30,8 = 31 subjek.
Dari perhitungan data di atas dan pada penelitian yang saya akan lakukan bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin D antara masing-masing kelompok serta khususnya pada kelompok TB paru pada perhitungan proporsi populasi didapatkan nilai 31 dan 24, maka besar sampel kelompok TB paru yang diambil adalah nilai tertinggi 31. Sehingga pada penelitian ini besar subjek untuk masing-masing kelompok antara lain:
a. Besar subjek kelompok DM tipe 2 dengan TB paru (kasus) adalah 42 orang.
b. Besar subjek kelompok DM tipe 2 (kontrol 1) adalah 60 orang.
c. Besar subjek kelompok TB paru (kontrol 2) adalah 31 orang.
d. Besar subjek l kelompok sehat (kontrol 3) adalah 91 orang.
Sehingga dalam penelitian ini total besar subjek penelitian berjumlah 224 orang.
3.4. Kerangka Operasional
Untuk menilai perbedaan kadar vitamin D dalam darah pada penderita DM tipe 2 dengan TB paru, penderita DM tipe 2, penderita TB paru, dan kontrol sehatdi Medan, Sumatera Utaramaka ada 2 jenis variabel yaitu:
a. Variabel bebas (independen) : Kadar vitamin D serum.
b. Variabel tergantung (dependen) : Diabetes melitus tipe 2 dengan TB paru, DM tipe 2, TB paru dan kontrol sehat.
Pasien DM tipe 2 dengan TB paru BTA + , penderita DM tipe 2, penderita TB paru, dan kontrol sehat.
Kriteria inklusi dan eksklusi
Informed consent
Pengambilan sampel darah
Data
Uji Statistik
Hasil Penelitian Kadar Vitamin D serum
3.5. Definisi Operasional BTA per 1 lapangan pandang
B. 2+ Bila dijumpai 1-10 BTA per 1 lapangan pandang
C. 1+ Bila dijumpai 10-99 BTA per 100 lapang pandang
D. Ditulis jumlah BTA bila dijumpai 1-9 BTA per 100 lapangan
B. Sufisien, kadar 25-OH darah 20-30 ng/ml.
C. Insufisiensi, kadar 2 OHD darah
10-Nominal
kandungan (foto thoraks PA dan GDS).
C. Tidak menderita DM tipe 2 (GDS).
D. Tidak menderita TB paru (GDS).
paru,
G. Kurus sedang IMT 16,00-16,99.
9 Pekerjaan Aktivitas yang
penderita
10 Pendapatan Jumlah uang (income)
A. Di atas UMR provinsi Sumatera Utara tahun
3.6. Prosedur Pengumpulan Data
A. Sebelum penelitian dimulai, peneliti meminta keterangan lolos kaji etik (ethical clearance) kepada Panitia Tetap Penilai Etik Penelitian Fakultas Kedokteran USU.
B. Setiap penderita yang diikutsertakan dalam penelitian harus dibuat surat informed consent, yang harus ditandatangani oleh penderita dan peneliti.
C. Penderita DM tipe 2 sesuai kriteria American Diabetes Association dengan penderita TB paru yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan foto toraks dan pemeriksaan dahak kuman Basil Tahan Asam (BTA) positip melalui apusan langsung serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian.
D. Penderita DM tipe 2 sesuai kriteria American Diabetes Association dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian.
E. Penderita TB paru yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan foto toraks dan pemeriksaan dahak kuman Basil Tahan Asam (BTA) positip melalui apusan langsung serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian.
F. Dilakukan pemeriksaan laboratorium darah rutin, ureum-creatinin (penyakit ginjal), EKG (kelainan jantung), dan foto toraks.
G. Anamnesa ulang tentang riwayat penyakit yang dulu seperti kriteria suspek riwayat TB sebelumnya, TB ekstra paru, hamil atau menyusui, pemakaian obat yang mempengaruhi metabolisme vitamin D, riwayat penyakit hati, dan HIV, tidak diikutsertakan dalam penelitian.
H. Kemudian diambil darah penderita DM tipe 2 dengan TB paru sebagai kasus.
Dan DM tipe 2, TB paru, serta orang sehat sebagai kontrol dari vena mediana kubiti untuk pemeriksaan kadar vitamin D.
I. Hasil data yang didapat dicatat dan dimasukkan ke dalam tabel untuk dianalisa.
3.6.1. Prosedur Pemriksaan Kadar Glukosa Darah
A. Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler. Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai.
B. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kaliberasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan.
C. Waktu yang dianjurkan adalah pada saat sebelum makan, 2jam setelah makan (menilai ekskursi maksimal glukosa), menjelang waktu tidur (untuk menilai resiko hipoglikemia, dan di antara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala).
3.6.2. Prosedur Pemeriksaan Sediaan Hapusan Langsung Kuman Bakteri Tahan Asam dari Sputum
A. Persiapan pasien
1. Pasien dianjurkan untuk mengosok gigi dan berkumur sebanyak 3 kali dengan menganti air hangat setiap kali berkumur.
2. Jika pasien belum dapat mengeluarkan sputum dapat diberikan tablet gliseril guaicolat 200 mg.
3. Jika dahak kental dan sulit dikeluarkan dapat diberikan obat mukolitik atau ekspektoransia.
B. Waktu pengumpulan dahak
1. Sewaktu hari 1 pada saat pasien datang kunjungan pertama.
2. Pada hari ke 2 penderita mengumpulkan dahak setelah hari kedua pada saat bangun tidur.
3. Sewaktu ke 3 pada saat mengumpulkan dahak dihari kedua.
C. Pengecatan sputum dengan pewarnaan Ziehl Neelsen.
1. Ambil sputum kental dengan lidi.
2. Hapuskan specimen pada kaca objek dengan ukuran 2x3cm.
3. Keringkan pada suhu kamar.
4. Difiksasi 3 kali.
5. Lumuri dengan karbol fucsin 6. Lalu fiksasi preparat.
7. Biarkan selama 5 menit Cuci dengan air mengalir.
8. Tuangkan preparat dengan asam alkohol 3 % selama 2 menit.
9. Bilas dengan air lalu tuangkan methylen blue 0,3 % selama 10-30 detik.
10. Cuci dengan air mengalir sampai bersih lalu keringkan.
11. Preparat siap dibaca (berdasarkan Skala IUATLD).
3.6.3. Prosedur Pemeriksaan Kadar Vitamin D
Kadar vitamin D yang diukur adalah kadar 25(OH) serum. Pemeriksaan kadar 25(OH) serum mempergunakan metode enzym linked immunosorbent assay (ELISA). Berikut cara kerja pemeriksaan tersebut:
A. Masukkan sebanyak 25 μl larutan standar, kontrol, dan sampel yang akan diperiksa ke dalam vial, dengan ujung mikropipet yang baru setiap kali.
B. Masukkan sebanyak 50 μl buffer denaturasi ke dalam masing-masing vial.
C. Tutup vial dan inkubasi selama 30 menit pada suhu 37oC.
D. Tambahkan 200 μl buffer netralisasi ke dalam vial.
E. Tambahkan 50 μl enzim konjugasi ke dalam vial.
F. Tambahkan 50 μl enzim kompleks ke dalam vial.
G. Campurkan larutan dalam masing-masing vial selama 10 detik.
H. Gunakan sebanyak 200 μl larutan dari vial untuk proses selanjutnya.
I. Masukkan 200 μl larutan standar, kontrol, dan sampel ke dalam sumur plate.
J. Tutup vial dan inkubasi selama 60 menit pada suhu 37oC.
K. Kocok cepat sumur plate, cuci sebanyak 4 kali dengan wash solution (300 μl per sumur). Ketokkan sumur pada kertas absorben untuk mrnghilangkan sisa residual.
L. Tambahkan 200 μl substrate solution ke dalam masing-masing sumur.
M. Inkubasi selama 15 menit dalam suhu kamar.
N. Hentikkan reaksi enzimatik dengan menambahkan 100 μl stop solution ke dalam sumur.
O. Tentukan absorbansi masing-masing sumur dengan pembacaan pada panjang gelombang 450 ± 10 nm. Direkomendasikan pembacaan dilakukan dalam 10 menit setelah penambahan stop solution.
3.6.4. Prosedur Pemeriksaan Rongent Thoraks
Pemeriksaan paru dengan rongent standar foto thoraks PA pada penderita sebagai kasus dan kontrol yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini yang dilakukan di bagian radiologi RSUP HAM Medan.
3.7. Analisa Data
Data akan dianalisa secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik. Kemudian akan dilanjutkan dengan analisa inferensial untuk melihat perbedaan kadar vitamin D pada keempat kelompok dengan menggunakan uji anova jika data terdistribusi normal atau kruskal wallis jika tidak terdistribusi normal, dengan nilai kebermaknaan < 0,05. Hasil analisa akan ditampilkan dalam bentuk tabulasi.
3.8. Jadwal Penelitian
Tabel.3.3. Jadwal penelitian.
Uraian Bulan
IX X XI XII I II III IV V VI VII VIII Persiapan √ √
Pengumpulan Data
√ √ √ √ √ √ √ √
Analisis Data √ √
Penulisan Laporan
√ √
Seminar √
3.9. Biaya Penelitian
A. Pengumpulan kepustakaan Rp. 500.000,- B. Pembuatan proposal Rp. 500.000,-
C. Seminar proposal Rp. 1.500.000,-
D. Kit kadar vitamin D (3 kit x Rp. 10.000.000) Rp. 30.000.000,- E. Pembuatan dan penggandaan laporan Rp. 700.000,- F. Foto thoraks (224 x Rp.100.000) Rp. 22.400.000,- G. Dana kompensasi (224 x Rp. 30.000) Rp. 6.720.000,- H. Biaya tim penelitian Rp. 1.500.000,- I. Seminar hasil penelitian
Jumlah Rp. 65.820.000,- Rp. 2.000.000,-
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2016 selama 8 bulan dan untuk pengolahan data selama 2 bulan. Populasi penelitian adalah penderita DM tipe 2 dengan TB paru (TBDMT2), penderita DM tipe 2 (DMT2), penderita TB paruyang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Medan, dan Klinik Dokter Spesialis Paru Swasta di Medan serta subjek kontrol orang sehat pada periode pengambilan data.
Masing-masing kelompok subjek penelitian harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria penelitian dan bersedia ikut dalam penelitian ini dengan menandatangani surat tanda persetujuan (informed consent) kemudian dilakukan pemeriksaan vitamin D darah.
4.1.1. Karakteristik Demografi Subjek Penelitian
Data yang didapatkan pada penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik demografi subjek penelitian dan hasil analisis akan ditampilkan dalam bentuk tabulasi. Total besar subjek kasus dan kontrol berjumlah 224 orang yang terdiri dari masing-masing kelompok yaitu kelompok DM tipe 2 dengan TB paru (kasus) adalah 42 orang, kelompok DM tipe 2 (kontrol 1) adalah 60 orang, kelompok TB paru (kontrol 2) adalah 31 orang, dan kelompok sehat (kontrol 3) adalah 91 orang.
Berikut di bawah ini tabel-tabel hasil penelitian berdasarkan karakteristik demografi pada masing-masing kelompok subjek penelitian terhadap kelompok jenis kelamin, kelompok umur, kelompok IMT, kelompok pendidikan, kelompok pekerjaan, kelompok pendapatan, kelompok riwayat DM dalam keluarga dan kadar vitamin D serta nilai rata-rata (mean), nilai tengah (median), standar deviasi
(SD), minimal dan maksimal sampel berdasarkan umur, IMT, kadar glukosa darah sewaktu, dan kadar vitamin D.
Tabel. 4. 1. Karakteristik demografi subjek penelitian.
Variabel
• SMP dan sederajat
• SMA dan sederajat
• S1 dan sederajat
Kadar vitamin D
Tabel. 4. 2. Nilai rata-rata (mean), nilai tengah (median), nilai standar deviasi (SD), nilai minimal dan nilai maksimal subjek penelitian.
Variabel Mean Median SD Minimal Maksimal
4.1.2. Perbedaan Rerata Kadar Vitamin D Antara Kelompok
Data yang didapatkan pada penelitian ini setelah dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik demografi subjek penelitian, kemudian dilanjutkan dengan analisis inferensial untuk melihat perbedaan kadar vitamin D antara keempat kelompok dengan menggunakan uji Kruskal Wallis karena dari hasil analisis yang digunakan didapatkan data tidak terdistribusi normal dengan nilai kebermaknaan p < 0,05. Setelah itu dilanjutkan untuk melihat perbedaan kadar vitamin D antara dua kelompok dengan menggunakan uji Mann Whitney dengan nilai kebermaknaan p < 0,05. Hasil analisis tersebut akan ditampilkan dalam bentuk tabulasi.
Tabel. 4. 3. Perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok.
Kelompok Nilai p
Kadar vitamin D antar 4 kelompok 0.039*
Kadar vitamin D antar kelompok
TBDMT2 TB 0.832
Kontrol sehat 0.022*
DMT2 0.532
TB Kontrol sehat 0.042*
DMT2 0.580
Kontrol sehat DMT2 0.045*
*. Terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05)
Dari tabel. 4. 3. di atas dalam penelitian ini didapatkan hasil yaitu terdapat perbedaan signifikan rerata kadar vitamin D antara keempat kelompok dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan nilai kebermaknaan p 0,039. Sedangkan perbedaan rerata kadar vitamin D antara dua kelompok dengan menggunakan uji Mann Whitney dengan nilai kebermaknaan p< 0,05, antara lain : ada perbedaan signifikan kadar vitamin D antara TBDM dengan kontrol sehat dengan nilai kebermaknaan p 0,022, yang mana kadar vitamin D pada penderita TBDM (30,53±14,20 ng/dl) lebih tinggi daripada kontrol sehat (24,49±6,52 ng/dl), ada perbedaan signifikan vitamin D antara TB dengan kontrol sehat dengan nilai kebermaknaan p 0,042, yang mana kadar vitamin D pada penderita TB (28,98±10,36 ng/dl) lebih tinggi daripada kontrol sehat (24,49±6,52 ng/dl), dan ada perbedaan signifikan kadar vitamin D antara kontrol sehat dengan DM dengan nilai kebermaknaan p 0,045, yang mana kadar vitamin D pada penderita DM (28,09±11,64 ng/dl) lebih tinggi daripada kontrol sehat (24,49±6,52 ng/dl).
4.2. Pembahasan Hasil Penelitian
Angka beban kejadian DM telah diperkirakan secara global sangat besar dan akan meningkat lebih dari 550 juta pada tahun 2030. Seseorang dengan penyakit DM memiliki resiko yang meningkat secara signifikan untuk terjadinya perkembangan TB aktif sebanyak 3 kali lebih tinggi daripada seseorang tanpa DM. Diabetes melitus itu sendiri merupakan suatu kondisi kronis yang ditandai dengan tubuh tidak dapat menghasilkan cukup kadar insulin atau tidak dapat menggunakan insulin tersebut secara efektif yang akibatnya seseorang dengan DM tidak dapat memanfaatkan ataupun memetabolisme glukosa dengan baik sehingga kadar glukosa di dalam darah tinggi (hiperglikemia) dan menyebabkan kerusakan jaringan. Mayoritas penderita DM berada pada usia kelompok 40-59 tahun tetapi terdapat perbedaan dalam hal jenis kelamin. Mengingat hubungan antara DM dan gaya hidup seperti diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan tinggal diperkotaan yang diperkirakan bahwa hampir lebih dari 50% seseorang yang memiliki DM sebagian besar merupakan DM tipe 2 dan tidak terdiagnosis.
Sedangkan penyakit TB itu sendiri merupakan penyakit menular yang sudah terjadi sejak jaman beberapa ribu tahun sebelum masehi. Mekanisme hubungan antara DM dengan TB masih belum jelas, tetapi berdasarkan penelitian lebih lanjut bahwa faktor yang berperan dalam mekanisme tersebut diperantarai oleh sistem imunitas, hiperglikemik kronis, dan defisiensi kadar vitamin D. (Harries AD et al, 2013) (Chaudhary S, 2013)
Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok jenis kelamin pada total subjek diikuti oleh laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Begitu juga pada masing-masing kelompok lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Achanta S, et al(2013) bahwa kejadian TBDM, TB, maupun DM lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Tetapi dari beberapa penelitian lain seperti Manjareeka ,(2016)yang dilakukan secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin laki-laki maupun perempuan terhadap kejadian TBDM, TB, dan DM.
Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok umur pada total subjek didapati umur 18 tahun sampai 30 tahun lebih banyak daripada umur di atas 50 tahun, umur 31 tahun sampai 40 tahun, dan umur 41 tahun sampai 50 tahun. Tetapi pada masing-masing kelompok umur hasil penelitian ini didapati berbeda. Hal tersebut menjelaskan bahwa penelitian ini dibandingkan dengan penelitian Achanta S et al(2013) kelompok kasus TBDM dan kelompok DM lebih banyak didapati pada umur diatas 50 tahun. Menurut penelitian Bailey SL, et al(2016) kasus DM secara epidemiologi banyak didapati umur di atas 40 tahun karena umur di atas 40 tahun merupakan salah satu faktor yang memiliki berhubungan signifikan terhadap prevalensi terjadinya TBDM dan TB. Selain itu, bahwa umur 50-59 tahun terdapat adanya hubungan positif yang signifikan terhadap kadar glukosa di dalam darah yang tinggi pada kasus DM terhadap prevalensi kejadian TB. Pada penelitian ini secara rerata bila kelompok umur pada kelompok kasus TBDM dibandingkan dengan kelompok TB, pada umur tua kelompok TBDM (48,62±9,83 tahun) dan kelompok DM (53,37±8,04 tahun) memiliki prevalensi tinggi yang signifikan terhadap kejadian DM maupun TB dibandingkan dengan umur muda pada kelompok TB (32,26±11,09 tahun).
(Manjareeka M, 2016) Sedangkan kelompok TB pada penelitian ini lebih banyak didapati pada umur 18-30 tahun dengan nilai 32,26±11,09 tahun, tetapi pada penelitian Augusto CJ(2013) bahwa kelompok umur 20-49 tahun memiliki angka kejadian TB yang tinggi dan merupakan kelompok populasi ekonomi aktif (Economically active population).
Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok IMT pada total subjek didapati IMT normal lebih banyak daripada IMT preobesitas, IMT kurus ringan, IMT obesitas kelas 1, IMT kurus sedang, IMT kurus berat, dan IMT obesitas kelas 2. Nilai IMT normal pada masing-masing kelompok didapati kelompok TBDM dengan IMT 20,50±3,05 kg/m2, kelompok TB dengan IMT 19,20±2,42 kg/m2, kelompok DM dengan IMT 23,02±3,84 kg/m2, dan kelompok kontrol sehat dengan IMT 24,48±4,44 kg/m2. Terlihat bahwa IMT pada kelompok TB adalah paling kecil dibandingkan dengan kelompok lain, walaupun masih dalam kategorik IMT normal. Di negara-negara
berkembang, status gizi (IMT) setiap orang terjadi peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Penelitian Cai J et al(2017) telah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara berat badan berlebih atau obesitas dengan resiko DM dan berpengaruh terhadap penyakit karena penurunan daya tahan tubuh (immunocompromised disease) seperti TB. IMT rendah merupakan faktor resiko yang signifkan untuk perkembangan TB paru aktif tetapi pasien yang memiliki kelebihan berat badan memiliki insidensi penurunan TB. Sebuah studi epidemiologi terbaru Rao RH et al (1984) menunjukkan bahwa pasien DM yang
berkembang, status gizi (IMT) setiap orang terjadi peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Penelitian Cai J et al(2017) telah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara berat badan berlebih atau obesitas dengan resiko DM dan berpengaruh terhadap penyakit karena penurunan daya tahan tubuh (immunocompromised disease) seperti TB. IMT rendah merupakan faktor resiko yang signifkan untuk perkembangan TB paru aktif tetapi pasien yang memiliki kelebihan berat badan memiliki insidensi penurunan TB. Sebuah studi epidemiologi terbaru Rao RH et al (1984) menunjukkan bahwa pasien DM yang