• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen TESIS BEN BEN IRWANDI NIM: (Halaman 119-0)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian

Angka beban kejadian DM telah diperkirakan secara global sangat besar dan akan meningkat lebih dari 550 juta pada tahun 2030. Seseorang dengan penyakit DM memiliki resiko yang meningkat secara signifikan untuk terjadinya perkembangan TB aktif sebanyak 3 kali lebih tinggi daripada seseorang tanpa DM. Diabetes melitus itu sendiri merupakan suatu kondisi kronis yang ditandai dengan tubuh tidak dapat menghasilkan cukup kadar insulin atau tidak dapat menggunakan insulin tersebut secara efektif yang akibatnya seseorang dengan DM tidak dapat memanfaatkan ataupun memetabolisme glukosa dengan baik sehingga kadar glukosa di dalam darah tinggi (hiperglikemia) dan menyebabkan kerusakan jaringan. Mayoritas penderita DM berada pada usia kelompok 40-59 tahun tetapi terdapat perbedaan dalam hal jenis kelamin. Mengingat hubungan antara DM dan gaya hidup seperti diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan tinggal diperkotaan yang diperkirakan bahwa hampir lebih dari 50% seseorang yang memiliki DM sebagian besar merupakan DM tipe 2 dan tidak terdiagnosis.

Sedangkan penyakit TB itu sendiri merupakan penyakit menular yang sudah terjadi sejak jaman beberapa ribu tahun sebelum masehi. Mekanisme hubungan antara DM dengan TB masih belum jelas, tetapi berdasarkan penelitian lebih lanjut bahwa faktor yang berperan dalam mekanisme tersebut diperantarai oleh sistem imunitas, hiperglikemik kronis, dan defisiensi kadar vitamin D. (Harries AD et al, 2013) (Chaudhary S, 2013)

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok jenis kelamin pada total subjek diikuti oleh laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Begitu juga pada masing-masing kelompok lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Achanta S, et al(2013) bahwa kejadian TBDM, TB, maupun DM lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Tetapi dari beberapa penelitian lain seperti Manjareeka ,(2016)yang dilakukan secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin laki-laki maupun perempuan terhadap kejadian TBDM, TB, dan DM.

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok umur pada total subjek didapati umur 18 tahun sampai 30 tahun lebih banyak daripada umur di atas 50 tahun, umur 31 tahun sampai 40 tahun, dan umur 41 tahun sampai 50 tahun. Tetapi pada masing-masing kelompok umur hasil penelitian ini didapati berbeda. Hal tersebut menjelaskan bahwa penelitian ini dibandingkan dengan penelitian Achanta S et al(2013) kelompok kasus TBDM dan kelompok DM lebih banyak didapati pada umur diatas 50 tahun. Menurut penelitian Bailey SL, et al(2016) kasus DM secara epidemiologi banyak didapati umur di atas 40 tahun karena umur di atas 40 tahun merupakan salah satu faktor yang memiliki berhubungan signifikan terhadap prevalensi terjadinya TBDM dan TB. Selain itu, bahwa umur 50-59 tahun terdapat adanya hubungan positif yang signifikan terhadap kadar glukosa di dalam darah yang tinggi pada kasus DM terhadap prevalensi kejadian TB. Pada penelitian ini secara rerata bila kelompok umur pada kelompok kasus TBDM dibandingkan dengan kelompok TB, pada umur tua kelompok TBDM (48,62±9,83 tahun) dan kelompok DM (53,37±8,04 tahun) memiliki prevalensi tinggi yang signifikan terhadap kejadian DM maupun TB dibandingkan dengan umur muda pada kelompok TB (32,26±11,09 tahun).

(Manjareeka M, 2016) Sedangkan kelompok TB pada penelitian ini lebih banyak didapati pada umur 18-30 tahun dengan nilai 32,26±11,09 tahun, tetapi pada penelitian Augusto CJ(2013) bahwa kelompok umur 20-49 tahun memiliki angka kejadian TB yang tinggi dan merupakan kelompok populasi ekonomi aktif (Economically active population).

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok IMT pada total subjek didapati IMT normal lebih banyak daripada IMT preobesitas, IMT kurus ringan, IMT obesitas kelas 1, IMT kurus sedang, IMT kurus berat, dan IMT obesitas kelas 2. Nilai IMT normal pada masing-masing kelompok didapati kelompok TBDM dengan IMT 20,50±3,05 kg/m2, kelompok TB dengan IMT 19,20±2,42 kg/m2, kelompok DM dengan IMT 23,02±3,84 kg/m2, dan kelompok kontrol sehat dengan IMT 24,48±4,44 kg/m2. Terlihat bahwa IMT pada kelompok TB adalah paling kecil dibandingkan dengan kelompok lain, walaupun masih dalam kategorik IMT normal. Di negara-negara

berkembang, status gizi (IMT) setiap orang terjadi peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Penelitian Cai J et al(2017) telah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara berat badan berlebih atau obesitas dengan resiko DM dan berpengaruh terhadap penyakit karena penurunan daya tahan tubuh (immunocompromised disease) seperti TB. IMT rendah merupakan faktor resiko yang signifkan untuk perkembangan TB paru aktif tetapi pasien yang memiliki kelebihan berat badan memiliki insidensi penurunan TB. Sebuah studi epidemiologi terbaru Rao RH et al (1984) menunjukkan bahwa pasien DM yang lazim akan berkembang menjadi populasi status gizi kurang, meskipun tidak hanya obesitas sebagai penentu etiologi. Status gizi kurang yang kronis tersebut mungkin menjadi faktor resiko yang menggantikan obesitas pada predisposisi populasi DM dan begitu juga intoleransi glukosa serta malnutrisi dari energi dan protein yang diketahui terkait dengan perubahan stuktur dan semakin merusak fungsi dari sel beta pankreas atau dengan meningkatkan kerentanan individu terhadap genetik dan pengaruh lingkungan atau proses diabetogenik lainnya.

Selain itu, kekurangan gizi merupakan faktor resiko penting untuk perkembangan TB, malnutrisi sangat mempengaruhi proses imunitas seluler (cellular mediated immunity atau CMI), dimana imunitas seluler tersebut merupakan prinsip pertahanan tubuh terhadap infeksi TB. (Cegielski JP, 2004) Dengan demikian kelebihan berat badan dan obesitas pada pasien TB tidak boleh diabaikan karena dengan IMT > 23,41 kg/m2 memberikan hubungan positif yang signifikan dengan prevalensi DM dan mempengaruhi kadar glukosa darah serta terjadinya TB.

Tetapi bila status gizi dengan IMT sekitar 19,82-21,45 kg/m2 memberikan hubungan negatif yang signifikan terkait dengan DM dan TB. Pada penelitian Cai J et al(2017) menjelaskan bahwa terdapat beberapa perbedaan dalam disosiasi IMT yang secara khusus ketika IMT < 19,82 kg/m2 memberikan prevalensi DM dan TB sangat sedikit meskipun perbedaannya tidak signifikan, sehingga hal tersebut menjelaskan bahwa IMT yang rendah merupakan faktor resiko terjadinya TB dan mekanisme biologi yang mendasari hubungan tersebut dengan adanya patogenesis dari proses penurunan imunitas seluler. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian berdasarkan kelompok IMT terhadap kelompok TBDM,

kelompok TB, dan kelompok DM pada penelitian ini bila dibandingkan dengan penelitian Cai J et al(2017) terdapat perbedaan dalam klasifikasi IMT. Pada penelitian ini IMT dibagi berdasarkan klasifikasi WHO yaitu obesitas kelas 3 IMT

≥ 40,00, obesitas kelas 2 IMT 35,00-39,99, obesitas kelas 1 IMT 30,00-34,99, preobesitas IMT 25-29,99, normal IMT 18,50-24,99, kurus ringan IMT 17,00-18,49, kurus sedang IMT 16,00-16,99, dan kurus berat IMT < 16,00. Sedangkan IMT penelitian sebelumnya dibagi menjadi yaitu IMT < 18,50 kg/m2 (gizi kurang), IMT 18,50-23,90 kg/m2 (gizi normal), dan IMT ≥ 24,00 kg/m2 (gizi lebih atau obesitas).

Berdasarkan kelompok pendidikan dalam penelitian ini pada total subjek didapati kelompok pendidikan SMA dan sederajat lebih banyak daripada kelompok pendidikan SMP, kelompok pendidikan S1 dan sederajat serta kelompok pendidikan SD. Pada kelompok pendidikan pada masing-masing kelompok paling banyak pada kelompok TBDM dengan pendidikan SMA dan sederajat, kelompok TB dengan pendidikan SMA dan sederajat, kelompok DM dengan pendidikan SMA dan sederajat, serta kelompok kontrol sehat dengan pendidikan SMA dan sederajat juga. Apabila penelitian ini dibandingkan dengan penelitian Cai J et al(2017) menjelaskan bahwa presentase pasien dengan tingkat pendidikan sekolah dasar (primary school) dan sekolah menengah atas (high school) pada kelompok TBDM maupun DM. Tetapi pasien TB dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah atau illiteracy) dengan nilai p ,0,05. Pada pasien TB dengan umur muda dan tingkat pendidikan tinggi serta memiliki kadar glukosa darah yang tinggi memberikan angka kejadian DM secara signifikan yang rendah dengan nilai odds rasio (OR <1,0) dan p<0,05.

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok riwayat pekerjaan yang merupakan aktivitas fisik sehari-hari yang dilakukan oleh subjek penelitian. Riwayat pekerjaan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu pekerjaan di dalam ruangan (indoor) dan kelompok pekerjaan di luar ruangan (outdoor). Pekerjaan di dalam ruangan (indoor) yaitu hampir > 50%

pekerjaan dilakukan di dalam ruangan, misalkan pelajar/mahasiswa, pegawai negeri sipil (PNS), wiraswasta, ibu rumah tangga (IRT), petugas

kebersihan(cleaning service), dosen, karyawan pabrik, karyawan swasta.

Sedangkan kelompok pekerjaan di luar ruangan (outdoor) yaituhampir > 50%

pekerjaan dilakukan di luar ruangan, misalkan petani, buruh bangunan, pedagang, tukang becak, sopir. Berdasarkan kelompok riwayat pekerjaan didapatkan kelompok pekerjaan pada total sampel yaitu pekerjaan di dalam ruangan (indoor) lebih banyak daripada pekerjaan di luar ruangan (outdoor). Menurut Lee JH(2008) prevalensi defisiensi vitamin D meningkat pada proporsi dengan jarak khatulistiwa karena meningkatnya penyaringan atmosfir sinar radiasi ultra violet B yang disebabkan oleh karena sudut miring dari sinar matahari di lintang yang lebih tinggi. Seperti yang sudah dijelaskan olehHarries AD et al(2015) bahwa pekerjaan tersebut memberikan kontribusi pajanan sinar matahari di kulit terhadap kebutuhan akan vitamin D yang berfungsi sebagai imunomodulator pada sistem kekebalan tubuh. Pasien DM dengan dan tanpa TB harus memiliki aktivitas fisik sehari-hari, yang mana aktivitas fisik tersebut merupakan sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan karena kondisi fisik dari pasien tersebut.Oleh sebab itu pasien DM dengan dan tanpa TB harus segera melatih aktiviats fisik yang terpapar sinar matahari supaya kondisi pasien akan lebih baik.Sehingga kebutuhan vitamin D dipenuhi melalui diet dan pajanan sinar matahari di kulit. Pajanan sinar matahari ke kulit menginduksi konversi fotolitik dari 7-dehidrokolesterol menjadi previtamin D3 yang diikuti oleh isomerisasi termal vitamin D3. Secara epidemiologi Battersby AJ(2012)membuktikan bahwa defisiensi vitamin D banyak melanda daerah dengan empat musim terutama Amerika Uatara dan Eropa. Hal ini disebabkan oleh defisit dari makanan ditambah lagi dengan kurangnya pajanan sinar matahari yang saat ini diindikasikan dengan meluasnya penggunaan krim tabir cahaya matahari sintesa dan metabolisme vitamin D dalam pengaturan kalsium, fosfor, dan metabolisme tulang. Kurangnya paparan sinar matahari pada subjek penelitian ini kemungkinan penyebab kurangnya kadar vitamin D pada penelitian ini yang menyatakan bahwa pada kelompok kontrol orang sehat didapatkan kadar vitamin D yang rendah, bahkan lebih rendah dari kelompok lain.

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok pendapatan keuangan (income) yang menggambarkan sosial-ekonomi pada sampel. Kelompok pendapatan pada total sampel didapatkan pendapatan di bawah UMR lebih banyak daripada pendapatan di atas UMR. Sedangkanpada masing-masing kelompok berdasarkan pendapatan didapatkan paling banyak dengan pendapatan di bawah UMR seperti kelompok TBDM, kelompok TB, kelompok DM, dan kontrol sehat. Hal ini menjelaskan bahwa sebagian besar TB dipengaruhi oleh sebagian besar usia produktif yang secara ekonomi memiliki presentasi pendapatan atau gaji yang rendah seperti pekerjaan buruh, pensiunan, penganguran, ibu rumah tangga, petani, dan pelajar yang dibandingkan dengan presentasi pendapatan atau gaji yang tinggi seperti pekerjaan pembisnis ataupun profesional lainnya. Hal itu telah dijelaskan pada penelitian oleh Gupta S, (2011) bahwa prevalensi secara signifikan terhadap lebih tinggi kejadian TB dengan nilai p <0,0001. Oleh karena itu, TB memberikan dampak yang besar dan semakin meningkat pada pasien yang menderita DM terutama dengan sosial-ekonomi kelas bawah atau kemiskinan.

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok riwayat DM dalam keluarga pada total subjek didapati kelompok tidak ada riwayat DM lebih banyak daripada kelompok ada riwayat DM. Kelompok riwayat DM dalam keluarga pada masing-masing kelompok dengan terdapat riwayat DM dalam keluarga paling banyak pada kelompok TBDM, sedangkan kelompok tidak ada riwayat DM dalam keluarga didapati pada kelompok TB, kelompok DM, dan kelompok kontrol sehat. Selain itu, pada hasil penelitian ini riwayat DM dalam keluarga dibandingkan dengan kadar glukosa darah bahwa kelompok TBDM terdapat riwayat DM dalam keluarga dan kelompok DM didapati tidak ada riwayat DM dalam keluarga. Apabila hasil penelitian ini dibandingkan dengan penelitian Mahishale V, (2017)yang membandingkan riwayat DM dalam keluarga dengan tingkat keparahan kadar glukosa darah dengan melihat kontrol atau tidak terkontrolnya kadar glukosa darah berdasarkan nilai HbA1C (HbA1C >7% DM tidak terkontrol atau terkontrol buruk dan HbA1C

<7% DM terkontrol optimal) dengan riwayat kadar glukosa darah sewaktu yang

tinggi (GDS > 200 mg/dl) bahwa penelitian tersebut menjelaskan bahwa tidak ada hubungan riwayat DM dalam keluarga dengan keparahan kadar glukosa darah dengan nilai p 0,36. Sehingga kelemahan pada penelitian ini tidak adanya data nilai HbA1C pada masing kelompok tetapi penelitian ini pada masing-masing kelompok hanya menilai kadar glukosa darah sewaktu (GDS > 200 mg/dl) terlihat dalam nilai rerata kadar glukosa darah sewaktu pada tabel. 4. 2.

Dalam penelitian ini nilai rata-rata subjek penelitian berdasarkan gula darah sewaktu didapati bahwa kelompok TBDM dengan kadar glukosa darah sewaktu 345,88±108,76 mg/dl, kelompok DM dengan kadar glukosa darah sewaktu 278,92±97,96 mg/dl, kelompok TB dengan kadar glukosa darah sewaktu 122,61±26,56 mg/dl, dan kelompok kontrol sehat dengan kadar glukosa darah sewaktu 105,79±24,95 mg/dl. Dari hasil penelitian ini menjelaskan bahwa sampel kelompok TBDM dan kelompok DM positif terdiagnosa DM dengan kesan hiperglikemia dengan nilai kadar glukosa darah sewaktu pada kelompok TBDM 345,88±108,76 mg/dl dan pada kelompok DM dengan kadar glukosa darah sewaktu 278,92±97,96 mg/dl. Sehingga apabila dibandingkan dengan penelitian Chiang CY et al(2015) yang membandingkan kontrol keparahan kadar glukosa dalam darah berdasarkan nilai HbA1C terhadap frekuensi prevalensi faktor resiko terjadinya TB pada pasien dengan DM ataupun pasien TB. Pada penelitian tersebut dibagi dalam 3 kategorik nilai HbA1C yaitu HbA1C <7% DM terkontrol optimal, HbA1C 7-9% DM kurang terkontrol dan HbA1C >9% DM tidak terkontrol, dimana nilai HbA1C > 9% atau kontrol glukosa yang buruk. Sehingga dari hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa terjadinya hiperglikemik reaktif terdapat hubungan yang signifikan terhadap terjadinya TB ataupun DM dan frekuensi yang tinggi terhadap gejala dan kepositifan nilai BTA yang tinggi.

Meskipun mekanisme DM tersebut dapat menyebabkan manifestasi presentansi terjadinya TB masih belum jelas dipahami, tetapi beberapa penelitian lainnya seperti Chiang CY et al(2015) telah menjelaskan bahwa hiperglikemia yang tejadi pada pasien DM dengan TB terjadi karena disfungsi dari proses imunitas seluler yaitu imunitas bawaan dan imunitas adaptif. Selain itu juga, komplikasi DM yang merupakan komplikasi ataupun penyulit kronik berupa hiperglikemik kronik yang

berpengaruh terhadap efek akumulasi kejadian TB, dimana hiperglikemik kronik tersebut berpengaruh terhadap inisiasi imunitas adaptif yang mengakibatkan bakteri M. tuberculosis lebih tinggi dan menambah proses peradangan yang lebih luas yang ditandai dengan respon imunitas bawaan dan respon sitokin tipe 1 ataupun peningkatan frekuensi respon mediated seluler (Th1-andTh-17-mediated cellular responses) seperti sel helper-T1 dan sel helper-T17 yang berkontribusi peningkatan imunitas tubuh terhadap patologi dari infeksi M. tuberculosis. Oleh karena itu, kontrol glukosa darah yang tepat dapat mengurangi dampak dari DM pada TB, termasuk resiko TB, keparahan TB, dan hasil pengobatan. Oleh karena itu, kelemahan pada penelitian ini tidak adanya data nilai HbA1C pada masing-masing kelompok tetapi penelitian ini pada masing-masing-masing-masing kelompok hanya menilai kadar glukosa darah sewaktu (GDS > 200 mg/dl) terlihat dalam nilai rerata kadar glukosa darah sewaktu pada tabel. 4. 2.

Dalam penelitian ini didapatkan hasil perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok dan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya terlihat pada tabel. 4. 4.

Tabel. 4. 4. Perbandingan hasil penelitian kadar dan status vitamin D dengan penelitian Chaudhary, S et al (2013) dan Zhan, Y dan Jiang, L (2015).

Kelompok Hasil penelitian

Peneliti lain

TBDM 30,53±14,20 Optimal 15,96±12,87 Insufisiensi 11,36±4,85 Insufisiensi TB 28,98±10,36 Sufisiensi 16,11±9,16 Insufisiensi 12,04±6,08 Insufisiensi DM 28,09±11,64 Sufisiensi 19,42±11,32 Insufisiensi - - Kontrol

sehat

24,49±6,52 Sufisiensi 29,47±18,29 Sufisiensi 17,49±7,50 Insufisiensi

Dari tabel. 4. 4. di atas terlihat perbandingan hasil penelitian ini dengan penelitian Chaudhary, S et al (2013) dengan Zhan, Y dan Jiang, L(2015) bahwa penderita TBDM pada penelitian ini didapatkan kadar vitamin D lebih tinggi daripada penelitian Chaudhary, S et al (2013) dengan Zhan, Y dan Jiang, L (2015) dengan kadar vitamin D pada penelitian ini 30,53±14,20 ng/dl (status vitamin D ~ optimal) sedangkan kadar vitamin DChaudhary, S et al (2013) 15,96±12,87 ng/dl (status vitamin D ~ insufisiensi) serta kadar vitamin D Zhan, Y dan Jiang, L (2015) 11,36±4,85 ng/dl (status vitamin D ~ insufisiensi). Pada penderita TB penelitian ini didapatkan kadar vitamin D lebih tinggi daripada penelitian oleh Chaudhary, S et al (2013) dengan Zhan, Y dan Jiang, L (2015) dengan kadar vitamin D 28,98±10,36 ng/dl (status vitamin D ~ sufisiensi) sedangkan kadar vitamin DChaudhary, S et al (2013) 16,11±9,16 ng/dl (status vitamin D ~ insufisiensi) serta kadar vitamin DZhan, Y dan Jiang, L (2015) 12,04±6,08 ng/dl (status vitamin D ~ insufisiensi). Pada penderita DM penelitian ini didapatkan kadar vitamin D lebih tinggi daripada penelitian oleh Chaudhary, S et al (2013) dengan kadar vitamin D 28,09±11,64 ng/dl (status vitamin D ~ sufisiensi) sedangkan kadar vitamin D Chaudhary, S et al (2013) 19,42±11,32 ng/dl (status vitamin D ~ insufisiensi). Pada kontrol sehat penelitian ini didapatkan kadar vitamin D lebih tinggi daripada penelitian oleh Chaudhary, S et al (2013) dengan Zhan, Y dan Jiang, L (2015) dengan kadar vitamin D penelitian ini 24,49±6,52 ng/dl (status vitamin D ~ sufisiensi) sedangkan kadar vitamin DChaudhary, S et al (2013) 29,47±18,29 ng/dl (status vitamin D ~ sufisiensi) serta kadar vitamin DZhan, Y dan Jiang, L (2015) 17,49±7,50 ng/dl (status vitamin D ~ insufisiensi).

Beberapa faktor-faktor resiko penyebab kekurangan vitamin D antara lain usia tua, kulit berpigmen gelap, bekerja didalam gedung atau rumah (work indoor atau institutionalized dan homebound), berada jauh dari garis equator, musin dingin, pakaian yang menutup badan dan atau pemakaian krim tabir surya, polusi udara, merokok, kegemukan (obesitas), malabsorbsi, penyakit ginjal, penyakit hati, dan obat-obat (misalkan: obat anti kejang, obat glukokortikoid, dan obat HIV). (Lee JH, 2008; Friis H, et al, 2008)

Dalam penelitian ini distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan kelompok kadar vitamin D pada totalsubjek didapati kelompok sufisiensi lebih banyak daripada kelompok defisiensi, kelompok insufisiensi dan kelompok optimal. Kelompok kadar vitamin D yang paling banyak pada masing-masing kelompok pada pasien TBDM didapati kelompok optimal sebanyak 18 orang (42,86%), pasien TB didapati kelompok optimal sebanyak 14 orang (45,16%), pasien DM didapati kelompok sufisiensi sebanyak 27 orang (45,00%), dan kontrol sehat didapati kelompok sufisiensi sebanyak 50 orang (54,95%). Tetapi apabila hasil rerata sampel berdasarkan kadar vitamin D pada masing-masing kelompok sebagai berikut kelompok TBDM dengan status vitamin D optimal dengan kadar vitamin D 30,52±14,20 ng/dl, kelompok TB dengan status vitamin D sufisiensi dengan kadar vitamin D 28,98±10,36 ng/dl, kelompok DM dengan status vitamin D sufisiensi dengan kadar vitamin D 28,09±11,64 ng/dl, dan kelompok kontrol sehat dengan status vitamin D sufisiensi dengan kadar vitamin D 24,49±6,52 ng/dl. Meskipun mekanisme patofisiologi efek DM terhadap TB ataupun sebaliknya belum diketahui pasti tetapi ada beberapa hipotesis pada penelitian oleh Baghaei P(2013) yang mungkin mendukung mekanisme patofisiologi tersebut. Hipotesis tersebut adalah berkurangnya imunitas seluler, disfungsi makrofag alveolar, rendahnya tingkat interferon gamma, proses mikroangiopati paru, dan defisiensi mikronutrien seperti defisiensi kadar vitamin D dalam darah.Bukti bahwa vitamin D terlibat dalam mengatur berbagai komponen dari sistem kekebalan tubuh bawaan manusia terhadap infeksi. Data awal yang menghubungkan vitamin D dan kekebalan bawaan muncul dari studi metabolisme vitamin D dan khususnya vitamin D yang mengaktifkan enzim CYP27B1. Dalam pengaturan fungsi klasik ginjal, ekspresi dan aktivitas CYP27B1 diatur secara sensitif oleh faktor endokrin terkait dengan homeostasis kalsium dan fosfat seperti hormon paratiroid dan pertumbuhan faktor fibroblast. Namun faktor-faktor yang itu tidak sama muncul yang berperan dalam mengatur mengatur CYP27B1 ekstra ginjal. Sebaliknya, penjelasan dari mekanisme yang berbeda yang menghubungkan monosit CYP27B1 dan patogen memberikan terobosan besar

dalam pemahaman kita tentang hubungan antara metabolisme vitamin D dan kekebalan bawaan. (Chiu KC, 2004; Kumar A, 2013)

Vitamin D pada DM diduga mempengaruhi fungsi sel beta pankreas (sintesis insulin dan sekresi) dan respon imun. Konsentrasi rendah vitamin D berhubungan dengan resistensi insulin dan intoleransi glukosa. Pada penyakit kronis, vitamin D digunakan untuk memulihkan kesehatan pada sistem organ.

Kekurangan vitamin D dikaitkan dengan TB aktif (odds rasio 2-9, 95% CI), defisiensi terkait DM yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi TB dan sebaliknya. Penelitian secara in vitro, oleh Handel AE, (2010) dan Kapur A, (2009) bahwa monosit dan makrofag pada M. tuberculosis sangat tergantung pada konsentrasi vitamin D, jika konsentrasi ini terlalu rendah maka proses fagositosis tidak dapat terjadi.

Dalam penelitian ini didapatkan hasil terdapat perbedaan yang signifikan rerata kadar vitamin D antara keempat kelompok dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan nilai kebermaknaan p 0,039. Sedangkan perbedaan rerata kadar vitamin D antara dua kelompok dengan menggunakan uji Mann Whitney dengan nilai kebermaknaan p< 0,05. Hasil tersebut adalah ada perbedaan signifikan kadar vitamin D antara TBDM dengan kontrol sehat dengan nilai kebermaknaan p 0,022 dengan kadar vitamin D pada penderita TBDM (30,53±14,20 ng/dl) lebih tinggi daripada kontrol sehat (24,49±6,52 ng/dl), ada perbedaan signifikan vitamin D antara TB dengan kontrol sehat dengan nilai kebermaknaan p 0,042 dengan kadar vitamin D pada penderita TB (28,98±10,36 ng/dl) lebih tinggi daripada kontrol sehat (24,49±6,52 ng/dl), dan ada perbedaan signifikan kadar vitamin D antara kontrol sehat dengan DM dengan nilai kebermaknaan p 0,045 dengan kadar vitamin D pada penderita DM (28,09±11,64 ng/dl) lebih tinggi daripada kontrol sehat (24,49±6,52 ng/dl). Pada hasil penelitian ini terlihat bahwa terdapat perbedaan kadar vitamin D antara kelompok dimana kadar vitamin D pada kontrol sehat lebih kecil daripada kadar vitamin D kelompok lainnya seperti pada penderita TBDM, penderita TB dan penderita DM.

Sehingga kemungkinan adanya keterbatasan dalam penelitian ini seperti tidak diketahuinya faktor-faktor penyebab yang dapat menurunkan kadar vitamin D

tersebut seperti sumber atau jenis makan dan jumlah vitamin D yang terkandung di dalam makanan yang dikonsumsi, letak geografis, lama waktu pajanan sinar matahari, cuaca (musim), obat-obatan, serta masalah malabsorbsi vitamin D pada

tersebut seperti sumber atau jenis makan dan jumlah vitamin D yang terkandung di dalam makanan yang dikonsumsi, letak geografis, lama waktu pajanan sinar matahari, cuaca (musim), obat-obatan, serta masalah malabsorbsi vitamin D pada

Dalam dokumen TESIS BEN BEN IRWANDI NIM: (Halaman 119-0)