TINJAUAN PUSTAKA A. Tenaga Kerja
B. Variabel-variabel yang Berpengaruh Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Kerja
1. Hubungan PDB Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Salah satu indikator pertumbuhan ekonomi adalah PDB yang menunjukkan kenaikan tingkat output total yang dihasilkan oleh negara tersebut. Peningkatan output bisa dilakukan melalui peningkatan kesempatan kerja. Kesempatan kerja meningkat akan berpengaruh pada peningkatan daya beli masyarakatnya dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi adalah satu mesin paling tangguh untuk menghasilkan peningkatan jangka panjang standar hidup yang terjadi kepada standar hidup materi seseorang atau masyarakat yang bergantung pada pertumbuhan pendapatan nasional dengan diukur oleh Produk Domestik Bruto (PDB) dalam kaitannya dengan pertumbuhan penduduk (Lipsey, dkk, 1999: 24).
Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara tradisional dianggap sebagai faktor yang positif dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti menambah jumlah tenaga produktif dan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti menambah jumlah tenaga produktif dan pertumbuhan
commit to user
penduduk yang lebih besar berarti semakin besar ukuran pasar domestiknya.
Dalam penelitian ini, PDB yang digunakan adalah PDB atas dasar harga konstan, yang merupakan PDB atas dasar harga berlaku yang tidak memperhitungkan pengaruh perubahan harga. Hal ini mengandung maksud bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar merupakan pertumbuhan volume barang dan jasa, bukan nilai yang masih mengandung perubahan harga. Selain itu dalam penelitian ini, data PDB yang digunakan adalah PDB atas harga konstan pada sektor industri pengolahan karena penelitian ini menganalisis mengenai penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan.
a. Teori Pertumbuhan PDB (Output) dan Tenaga Kerja: Argumen Konflik
Eksistensi teori Keynes yang mendominasi berbagai teori pembangunan pada tahun 1950-an dan tahun tahun 1960-an berfokus pada kebijaksanaan-kebijaksanaan meningkatkan tingkat output nasional secara cepat dengan cara mempercepat pertumbuhan modal. Karena model Keynes yang statis, maka model ini menghubungkan tingkat penyediaan tenaga kerja dengan tingkat produk nasional bruto (GNP), maka negara-negara dunia ketiga dapat memaksimalkan tingkat penyerapan tenaga kerja. Alat teoritis yang dipergunakan untuk menjelaskan proses pertumbuhan adalah teori Harrod-Domar.
commit to user
Pertumbuhan Ekonomi dijelaskan sebagai hasil dari penjumlahan tabungan dan akumulasi modal fisik dan rasio modal-output. Oleh karena itu, untuk rasio modal output tertentu, tingkat output nasional dan pertumbuhan tenaga kerja dapat dinaikkan dengan cara memaksimalkan tingkat tabungan dan investasi (Todaro, 1999: 332). b. Teori Pertumbuhan PDB (Output) dan Tenaga Kerja: Argumen
Kesesuaian
Pada umumnya, kenaikan dalam produktivitas tenaga kerja sangat diharapkan. Akan tetapi apa yang lebih diharapkan itu sebenarnya adalah peningkatan jumlah faktor produktivitas output per unit dari semua sumber daya. Produktivitas tenaga kerja dapat ditingkatkan dengan berbagai cara diantaranya yaitu pendidikan yang lebih baik dan pelatihan-pelatihan manajemen. Akan tetapi, peningkatan dalam bidang produktivitas tenaga kerja sebagai hasil dari substitusi modal untuk tenaga kerja dalam proses produksi atau sebagai hasil dari adanya impor peralatan dan mesin-mesin yang mengakibatkan pengurangan penggunaan tenaga kerja. Hal ini akan merugikan negara-negara yang padat penduduknya.
Akumulasi modal ini tidak hanya membuang-buang sumber keuangan dalam negeri dan devisa, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan kesempatan kerja baru. Lebih lagi impor barang modal yang mengakibatkan penghematan tenaga kerja dalam kenyataannya
commit to user
justru akan mengurangi total faktor produktivitas sehingga akan menaikkan biaya produksi rata-rata. Dengan kata lain, jumlah biaya produksi rata akan meningkat walaupun biaya tenaga kerja rata-rata menurun sebagai akibat dari kapasitas produksi tenaga kerja yang tidak dipergunakan yang seringkali terjadi apabila peralatan mekanisme yang harganya mahal dan dirancang untuk produksi dalam skala besar di negara-negara yang sudah maju kemudian diimpor oleh negara-negara yang sedang berkembang yang pasaran dalam negerinya masih terlalu kecil untuk bisa memanfaatkan peralatan yang canggih ini secara efisien (Todaro, 1999: 333-334).
c. Teori Pertumbuhan PDB (Output) dan Tenaga Kerja: Hukum Okun (Okun Law)
Salah satu teori yang menjelaskan hubungan kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi adalah Hukum Okun. Hukum Okun menjelaskan antara output dan tingkat pekerja dengan asumsi bahwa output dan pekerja bergerak sama, jadi perubahan pada output akan menghasilkan perubahan yang sama pada pekerja juga.
Hukum Okun menerangkan mengenai hubungan output aktual dan potensial (GDP) dan pengangguran. Dimana Hukum Okun menyatakan bahwa untuk setiap penurunan 2 persen GDP yang berhubungan dengan GDP potensial, angka pengangguran meningkat sekitar 1 persen (Samuelson dan Nordhaus, 2001: 365).
commit to user
Hukum Okun menyediakan hubungan yang sangat penting antara pasar output dan pasar tenaga kerja, yang menggambarkan asosiasi antara pergerakan jangka pendek pada GDP nyata dan perubahan angka pengangguran. Menurut Hukum Okun kapanpun output berkembang sebanyak 2 persentase lebih cepat daripada GDP potensial, angka penganggurannya akan menurun 1 persentase (Samuelson dan Nordhaus, 2001: 366).
Menurut Arthur M. Okun ada kaitan yang erat antara tingkat pengangguran dengan Produk Domestik Bruto (PDB), hubungan antara Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pengangguran bersifat negatif. Pernyataan tersebut dapat diartikan antara Produk Domestik Bruto (PDB) kesempatan kerja memiliki hubungan yang positif atau dengan kata lain apabila terjadi kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), maka akan diikuti dengan kenaikan jumlah tenaga kerja. Sebaliknya jika Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan, maka jumlah tenaga kerja juga akan mengalami penurunan (Mankiw, 1997: 39).
Salah satu konsekuensi Hukum Okun adalah PDB riil harus tumbuh secepat PDB potensial untuk menjaga agar tingkat pengangguran stabil. Jika pengangguran ingin diturunkan, PDB riil sebenarnya harus tumbuh lebih cepat dari PDB potensial (Mankiw,
commit to user
2007). Dengan kata lain, dengan meningkatnya PDB maka akan meningkatkan jumlah tenaga kerja.
Oleh karena itu, hubungan antara jumlah output dengan penyerapan tenaga kerja adalah apabila terjadi kenaikan permintaan output yang dihasilkan suatu sektor ekonomi atau perusahaan, maka sektor ekonomi atau perusahaan tersebut cenderung akan meningkatkan jumlah tenaga kerjanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut atau dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang ada.