• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM KADO PERNIKAHAN

Dalam dokumen Hukum Hutang Piutang Terlengkap (Halaman 130-136)

Definisi: barang (harta) yang diberikan oleh tetangga, sanak famili, dan orang yang dikenal. Seperti halnya seorang pemuda yang akan melangsungkan pesta pernikahan, kemudian orang-orang berduyun-duyun mendatanginya dan memberinya kado (hadiah) seumpama kran yang meneteskan air dan tetesan-tetesan itu kemudian berkumpul. Setelah itu, orang-orang itu duduk dan orang-orang yang memberikan kado dicatat namanya pada daftar tamu. Seorang resepsionis menjaga pintu masuk dan mengucapkan selamat datang kepada setiap orang yang hadir dan menunggu kalau-kalau ada orang yang tempat tinggalnya jauh datang terlambat. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, orang-orang itu datang dan

memberikana kado yang dikemudian hari, orang yang telah menerima kado itu akan memberikan kado juga ketika orang yang memberikan kado mengadakan acara..

Kado atau hadiah tidak hanya diberikan ketika seseorang melangsungkan pesta pernikahan, kado juga bisa diberikan ketika seseorang mengalami sesuatu, entah itu ketika seseorang merayakan kelahiran anaknya, ketika sedang melakukan selamatan untuk orang yang akan pergi atau telah datang menunaikan ibadah haji atau ketika sedang sakit, atau beberapa peristiwa lainnya yang berkaitan dengan interaksi sesame manusia.

Apakah pemberian kado merupakan pemberian hutang yang wajib dikembalikan, ataukah pemberian kado merupakan hadiah?

Masalah ini adalah masalah kontemporer yang belum terjadi pada masa Nabi SAW. Tidak ada nash atau dalil yang menjelaskannya, maka kemudian, kita mengembalikannya kepada adapt kebiasaan yang berlaku, apakah pemberian kado dianggap hutang yang wajib

dikembalikan atau kado tersebut dianggap hadiah? Dan apakah Urf (adat) diakui oleh syariat sebagai satu metode menggali hukum?

Agama islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Jika kemudian ada perbedaan-perbedaan yang terjadi, itu adalah bagian dari kedua aspek diatas.

Komprehensipnya hukum islam memudahkan para ulama dalam mengambil sebuah keputusan berkaitan dengan hukum tentang sebuah kejadian yang terjadi dan interaksi masyarakat serta adapt kebiasaan mereka. Urf (adat kebiasaan) adalah salah satu metode pengambilan hukum yang diakui keabsahannya oleh para ulama ushul. Dengan kaidah ini

(urf), Allah SWT membebankan hukum kepada hambanya. Misalnya hukum tentang pembatasan pemberian nafkah oleh suami kepada isteri. Hal ini dibolehkan oleh Allah berdasarkan Urf. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS: ath-Thalaq: 7)

Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Hindun binti ‘Utbah: “Ambillah sesuatu secukupnya untukmu dan anakmu”200

Ini adalah satu perkara dari beberapa perkara yang ada dalam bab-bab fiqh.

Menurut Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni: segala sesuatu yang tidak dihukumi syariat, maka dikembalikan sesuai adapt yang berlaku.

Menurut an-Nawawy dalam kitab Syarh Muslim (12/475) ketika berbicara tentang manfaat hadits diatas: pemberlakuan Urf sebagai metode pengambilan hukum untuk sebuah kasus yang tidak dihukumi syari’at.

Menurut al-Hafidz Ibn Hajar dalam kitab al-Fath (4/475): Urf boleh dipakai untuk sesuatu yang tidak dibatasi (dihukumi) oleh syari’at.

Al-Bukhari telah memasukkan hal ini dalam bab khusus pada kitab Buyu’: Bab orang yang memberlakukan adapt orang mesir terhadap sekian permasalahan yang mereka ketahui; baik itu dalam transaksi jual beli, sewa menyewa, takaran, dan timbangan. Kebiasaan itu tergantung dari niat dan madzhab mereka. Dan pendapat mereka didasarkan pada hadits Nabi tentang Hindun yang telah disebutkan sebelumnya.

Pemberlakuan ‘Urf memiliki beberapa syarat.

1. kebiasaan itu adalah kebiasaan yang lazimnya berlaku pada kalangan umum. Jadi, perkara (kebiasaan) itu dilakukan oleh mayoritas masyarakat dan berlaku secara umum. Dalam masyarakat kita, masalah ini (kado) sebagaimana kita ketahuyi bersama adalah adapt atau kebiasaan yang berlangsung terus menerus.

2. kebiasaan itu adalah kebiasaan umum. Para ulama berbeda pendapat tentang syarat ini, sebagian ulama memberlakukannya dan sebagian lagi tidal memberlakukannya sebagai syarat. Kebiasaan itu harus diketahui oleh mayoritas penduduk disemua negara (bagi

yang memberlakukannya), mereka tidak mengakui adanya Urf khass (kebiasaan khusus) pada satu Negara tertentu.

Imam Syafi’I termasuk dalam ulama yang membicarakan tentang Urf Khass. menurut beliau dalam kitab al-Umm: isi gudang tidak termasuk pada benteng yang menjaga kurma dan buah-buahan didalamnya karena pada dasarnya kurma dan buah yang ada dalam gudang itu boleh diambil siapapun. Jika ada orang yang mencuri barang yang ada di luar gudang, maka ia tidak dikenai hukum potong tangan. Namun jika barang tersebut telah berada dalam gudang, jelas pemilik barang itu tidak memperbolehkan orang lain untuk mencuri barang tersebut, dan pencuri itu akan dikenai hukuman potong tangan seperti yang kita ketahui bersama. Sesungguhnya gudang itu adalah benteng dan barang yang ada di dalamnya bukanlah benteng.

Kemudian beliau melanjutkan: sebagaimana kita ketahui bersama dan pada umumnya bahwasanya gudang adalah benteng tempat penyimpanan barang dan barang yang ada di dalamnya bukanlah benteng. Ini merupakan salah satu contoh dari urf khass yang dipegang teguh di kalangan mereka.201 Menurut Doktor Ahmad bin Ali Mubaraki dalam kitab al-Urf (95): ketika kita mengamati dan mencermati cabang-cabang dari ilmu fiqh dalam beberapa kitab ulama fiqh, maka kita akan menemukan adanya urf khass yang mereka gunakan untuk menggali dan menentukan sebuah hukum. Ibnu Najim al-Hanafi sependapat akan hal tersebut: para pengikut hanafi menggunakan Urf orang-orang kairo dan tidak menggunakan Urf lainnya, karena rumah-rumah mereka bertingkat-tingkat yang salah satu kegunaannya adalah untuk gudang penyimpanan makanan.

Urf yang dipakai oleh orang kairo merupakan urf khusus yang diakui dan dipakai oleh para ulama hanafiyah. Di tempat lain, para ulama malikiyah mengakui adanya urf khusus orang-orang madinah yang tidak diketahui orang-orang lain.

Maka dengan urf seperti inilah kita akan menyelesaikan masalah kita (tentang pemberian kado).

3. Urf tidak boleh bertentangan dengan nash-nash syariat, baik itu al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Syarat ini adalah syarat terpenting.

Kemudian dalam masalah pemberian kado tersebut, apakah hal itu bertentangan dengan syariat?

Mengenai hal ini, tidak ada pertentangan dengan syariat, bahkan universalitas syariat mendorong kita untuk melakukannya sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. (al-Maidah: 2)

dan sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Allah akan memberikan pertolongan pada hamba-Nya selama dia membantu saudaranya” 4. urf harus benar-benar ada dan terjadi. Urf itu masih terus berlangsung dan dilaksanakan

oleh masyarakat sampai adanya perbedaan tentangnya atau sampai masyarakat membutuhkan hukum baru yang lebih baik.

Maka tidak boleh memberlakukan dan atau menggunakan urf yang telah melewati masanya atau telah tiada.

Terkait dengan masalah sebelumnya, sebagaimana kita ketahui bersama masyarakat kita saat ini masih melakukan hal itu.

Menurut Imam Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan-Nadzair (96): urf merupakan indikasi dari masa lalu, bukan masa sekarang. Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Najim: Urf bukanlah sesuatu yang baru saja muncul.202

5. tidak adanya perbedaan dengan urf tersebut.

Kaidah Urf yang menjadi dasar dalam muamalah adalah: sesuatu yang diketahui sebagai urf seperti disyaratkannya suatu syarat. jika dua orang berakad dan keduanya tidak menyinggung masalah urf yang berlaku dalam muamalah ini dengan tidak adanya pertentangan antara keduanya, baik itu berupa penolakan atau penegasan, maka akad tersebut tetap berlangsung. Jika kemudian menyinggung masalah urf dan kemudian mereka berbeda pandapat, maka akad ini menjadi batal.

Menurut Izzu bin Abdussalam: jika syarat yang dibuat oleh orang yang berakad itu membedai urf namun maksudnya sama dengan urf, maka akad tesebut tetap sah misalnya andaikan ada orang yang menyewa pekerja memberi ketentuan bahwasanya dia harus bekerja tanpa diberi makan dan minum, tapi kemudian pekerja itu menyetujui syarat yang diberikan, maka akad tersebut tetap sah.

Hubungannya dengan masalah yang kita hadapi saat ini, kabiasaan masyarakat kita saat ini beranggapan bahwasanya kado itu merupakan hutang, akan tetapi andaikan seseorang menjelaskan bahwasanya kado dia itu bukanlah hutang, maka pemberian tersebut menjadi

hadiah, meskipun bertentangan dengan adapt yang berlaku, dan pada waktu itu, urf tidak berlaku pada ketentuan yang satu ini.

Biasanya, apakah masyarakat menganggap pemberian kado termasuk hutang atau tidak?

Untuk konteks saat ini, sesuai dengan kebiasaan dan adat yang masih berlaku, pemberian kado dianggap hutang oleh masyarakat. Orang yang menerima kado tersebut di kemudian hari harus memberikan kado serupa kepada orang yang telah memberinya.

Hal ini akan terus berlanjut, karena setiap orang yang memberikan kado namanya akan dicatat dan dikemudian hari ia akan diberi kado dan nama yang mengembalikan akan dicatat, kemudian dikembalikan lagi, begitu dan seterusnya.

Orang yang telah memberikan kado kepada orang lain, kemudian orang yang memberikan kado itu mengadakan sebuah acara. Jika pada acara yang diadakannya orang yang telah diberi kado olehnya tidak memberinya kado, maka dia boleh mendatangi dan memintanya. Praktek seperti inilah yang kemudian terjadi di masyarakat kita, bahwasanya kado dianggap hutang. Jika demikian, hukum yang berlaku untuk hal tersebut adalah hukum hutang piutang sebagaimana telah disebutkan sebelumnya:

1. wajib mengembalikan kado

2. jika hal tersebut tidak dilaksanakan, maka dia mendapatkan dosa dan sanksi atau denda.

3. orang yang berhak menerima kado boleh mengajukan hal itu kepada hakim untuk menindak lanjutinya. Jika orang yang berhak menerima kado telah meninggal, maka hak tersebut akan menjadi milik walinya.

Pada umumnya, orang mengembalikan kado biasanya melebihkan kado tersebut; baik nilai, takaran atau ukuran, maka apakah hukum penambahan tersebut?

Ada dua pemaknaan untuk hal tersebut:

Pertama: jika ditilik dari sisi hutang (jika dianggap hutang), maka lebihnya adalah kado

atau hutang baru yang menjadi tanggungan orang yang menerima kado. Bisa jadi, dikemudian hari jumlah atau nilai kado tersebut akan semakin banyak dan semakin tinggi.

Kedua: penambahan tersebut termasuk dalam kategori penambahan yang tidak disyaratkan,

kategori membaguskan pembayaran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Hal ini berdasarkan peristiwa dimana nabi Muhammad SAW memberikan seekor unta yang lebih tua kepada seseorang yang telah memberinya pinjaman berupa seekor unta, kemudian beliau bersabda: sebagus-bagusnya kamu sekalian adalah orang yang membaguskan pembayaran (hutang).

Jika kita termasuk orang yang masyarakatnya menganggap kado sebagai hutang, dan kita ingin memberikan kado sebagai hadiah, maka hendaknya kita membisikkan dan menegaskannya kepada orang yang kita tuju bahwasanya ini adalah hadiah, sehingga dia terbebas dari tanggungan hutang. Dan kita berusaha merubah tradisi tersebut dengan tradisi lain yang lebih baik.

HUKUM JUAL BELI SECARA ANGSURAN BESERTA PENAMBAHAN DALAM

Dalam dokumen Hukum Hutang Piutang Terlengkap (Halaman 130-136)