Bolehkah orang yang memberi pinjaman hutang mengambil cek yang dibayarkan orang yang berhutang kemudian menjualnya karena orang yang berhutang
menunda-nunda pembayaran atau karena sebab yang lain?
Jawaban secara jelas-wallahu a’lam- bahwa jual beli yang seperti ini dilarang karena beberapa hal.
Pertama, jual beli seperti itu sesungguhnya termasuk dalam kategori penipuan (gharar)
yang dilarang sebagaimana atsar yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: sesungguhnya rasulullah SAW melarang jual beli (arab) Dan jual beli yang mengandung penipuan.194
Menurut an-Nawawy RA: larangan bagi jual beli yang mengandung penipuan adalah suatu pokok hal yang utama dalam bab kitab fiqh seperti yang dijelaskan oleh Ibn Qudamah dan Imam Muslim. Disana dijelaskan banyak hal termasuk di dalamnya adalah jual beli Abiq (budak yang melarikan diri dari tuannya), jual beli yang diketahui, yang tidak diketahui, yang tidak diketahui penyerahannya, jual beli yang kepemilikannya masih belum sempurna, sampai jual beli ikan dalam air.
Kedua: jual beli ini merupakan bagian dari jual beli yang barangnya bukan miliknya, dan
hal ini tidak diperbolehkan. Nabi SAW bersabda:
“hutang piutang, jual beli, pensyaratan dalam jual beli dan pengambilan keuntungan tidak boleh, kecuali ada yang menanggungnya. Juga tidak boleh menjual sesuatu yang bukan menjadi milik kamu”195 dalam riwayat lain disebutkan “janganlah kamu menjual sesuatu yang bukan milik kamu”196
Ketiga: hal ini tidak bisa dimasukkan dalam kategori jual beli. Hal ini murni riba, karena
harta itu adalah harta yang menjadi imbalan bagi harta yang lain dengan selembar kertas yang disebut dengan cek. Jika harta itu telah diterima, maka lebih dari harta tersebut adalah riba, dan sesungguhnya harta itu menjadi imbalan bagi penundaan orang yang memberikan hutang, dan hal itu termasuk dalam kategori riba nasi’ah yang diharamkan Allah dan Rasulnya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:
194 Muslim, Buyu’ (10/396) dan an-Nawawy, Abu Daud (bab Buyu’/3378), at-Turmudzi (bab Buyu’/1230), an-Nasa’I (bab Buyu’ 7/262), Ibn Majah (bab Tijarat/4530), Ahmad (1/116, 302).
195 Diriwayatkan oeh Amr bin Syuaib cari Ayahnya dari Kakeknya.
196 Diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, diriwayatkan oleh Abu Daud (bab Buyu’/ 3503), an-Nasa’I (bab Buyu’/ 789) dan at-Turmudzi (bab Buyu’/ 1232)
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (al-Baqarah: 275)
Dan orang-orang yang mempraktekkan riba itu telah diancam oleh Allah SWT dalam al-Qu’an.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 278-279)
Bagaimanakah hukumnya membayar hutang jika harga barang itu bertambah mahal atau bertambah murah?
Ini adalah problem besar yang sering dihadapi oleh orang yang berhutang ataupun orang yang memberi hutang, bahkan hal ini tak jarang menjadi sebab enggannya orang-orang kaya untuk memberikan pinjaman kepada orang-orang yang tidak mampu dan menyurutkan keinginan mereka untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah SWT.
Sebagian umat islam juga terseret dalam perkara-perkara yang diharamkan oleh syariat ketika dihadapkan pada permasalahan ini.
Masalah ini dapat dibagi dalam dua keadaan:
Pertama: Barang itu memiliki harga tersendiri seperti emas dan perak.
Sepertihalnya seseorang yang memiliki ukuran atau takan tersendiri untuk
menentukan harga emas atau barang lainnya. Penyelesaian dari perermasalahan ini adalah dengan mengembalikan harga barang tersebut sesuai dengan harga pasar.maka sewaktu-waktu, bisa jadi harga barang itu mahal di pasaran atau bisa jadi harga barang itu anjlok.
Menurut imam Syafi’I RA dalam kitab al-Umm (3/33): jika seseorang
membelanjakan –baik secara tunai atau tidak- uang atau dinarnya untuk sebuah barang, kemudian dia membatalkannya, maka dia akan menerima uangnya yang digunakan untuk memesan atau membeli sebuah barang tersebut. Dan para ulama sepakat akan hal ini.197
197 Dikutip oleh Ibn Abidin dalam kitabnya Tanbih ar-Ruqud ‘ala Mas’alah an-Nuqud (2/64) dari kitab Dirasat fi Ushul al-Mudayanat karya Nazih Hammad. Beliau berkata: mata uang orang Eropa atau emas murni. Jika dua orang bertransaksi atas dua barang itu, kemudian barang tersebut menjadi mahal, atau menjadi lebih murah. Seperti halnya ketika seseorang membeli baju seharga 10 real atau berhutang dengan dua barang
Kedua: barang itu tidak memiliki harga tersendiri seperti mata uang yang sekarang
berlaku seperti Riyal Saudi Arabia, Dolar, dan sebagainya. Hal ini terbagi menjadi dua bagiian:
1. jika nilai (kurs) mata uang itu menurun, seperti yang sekarang terjadi kepada beberapa mata uang di dunia, maka bagaimana hukumnya jika seseorang ingin melunasi hutangnya ketika dalam keadaan seperti ini?
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (6/441): jika barang tersebut berupa uang atau sesuatu yang gisa dipecah, maka hakim mengharamkan dan mencegah transaksi itu. Barang menjadi hak pemberi hutang tetapi hal tersebut bukanlah satu ketetapan pasti baik barang tersebut masih berada ditangannya atau telah lenyap. Ahmad telah menegaskan hal ini dalam masalah dirham yang dapat dibagi.
Kemudian dia berkata: kapankah hal itu sama ketika hari dimana pengambilan? Kemudian dia memberikannya meski harganya telah naik atau turun secara drastic.
Menurut saya, hal ini layak dilakukan sebab universalitas syari;at dan karena telah disebutkan dalam al-Qur’an. Allah SWT telah berfirman:
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (ar-Rahman: 60)
dan Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidak ada kemudlaratan dan tidak pula yang membahayakan198
2. adanya mata uang yang menyempurnakan pembayaran dan interaksi meskipun harganya melonjak atau malah menurun. Ada beberapa pendapat ulama dalam menyikapi masalah ini:
menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (6/442): meski dalam keadaan menurun, hal ini tidak menjadi alasan untuk melunasi hutang, baik banyak –misalnya sepuluh dirham dengan 1/6 dirham menjadi sepuluh dirham dengan 1/6 dirham- atau lebih sedikit karena tidak terjadi apa-apa, lain halnya dengan harga gandum jika murah atau mahal.
Menurut as-Suyuthi dalam kitab Risalah Qath’u al-Mujadalah (1/97): sebagaimana telah dijelaskan berulangkali, bahwasanya barang yang akan dikembalikan haruslah sama dengan barang yang dipinjam. Jika seseorang memberi pinjaman barang satu ritl (+- 8 ons), maka
tersebut, maka dia harus mengembalikan barangnya baik itu bertambah mahal atau murah. Dia menambahkan: kita harus tahu bahwasanya perbedaan antara Abu Yusuf itu terdapat pada barang yang bentuk Emas dan perak. Dan harus mengembalikan barang tersebut (‘Ain), bukan cabangnya (Furu’)
orang yang berhutang wajib mengembalikan/ melunasi hutangnya dari jenis dan ukuran itu juga meskipun harganya naik atau turun.
Pendapat para pengikut imam Hanafi: menurut Ibnu Abidin dalam kitab Tanbih ar-Ruqud (2/60): dari fatwa-fatwa Abu Yusuf kepada para pengikut madzhab hanafi: orang yang berhutang wajib membayar/melunasi hutangnya pada hari yang telah ditentukan sesuai dengan harga pasar yang berlaku yang tiba-tiba saja mengalami kenaikan atau penurunan Menurut para pengikut imam Malik dalam kitab hasyiah al-Mudni (5/118): jika perubahan harga itu sangat tajam dan tiba-tiba, maka pembayaran itu harus memenuhi standar pasar yang berlaku, jika tidak, maka diganti dengan yang sama.199