PENEGASAN HUTANG
1. Pencatatan/Dokumentasi
Dalil yang mensyariatkan pencatatan;
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, …”(Al-Baqarah : 282).
Ibn ‘Arabi (Ahkam al-Qur’an 1/248), “Ayat yang berbunyi “Hendaklah kamu menuliskannya”, maksudnya adalah dokumentasi hutang agar orang yang mempunyai hutang tidak lupa untuk membayarnya ketika sudah sampai waktunya. Hal ini bertujuan agar dia tidak mengelak pada saat ditagih atau lupa bahwa dia mempunyai hutang. Karena lupa adalah tabiat manusia yang tidak bisa dihilangkan. Syaitan juga terkadang tiba-tiba menggoda manusia untuk mengingkarinya dan melupakannya dari kematian. Karena itulah, Allah mensyariatkan pencatatan/dokumentasi dan persaksian.
Dari Muhammad bin Basyar dan Sofwan bin Isa dai al-Harits bin Abdurrahman ibn Abi Dzubab dari Said bin Abi Said al-Maqbari dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW bersabda: “Saat Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh pada jasadnya, dia bersin lalu mengucap alhamdulillah (segenap pujian hanya bagi Allah), dengan izin-Nya dia dapat memuji-Nya. Allah berfirman pada Adam, “Wahai Adam, Allah memberkatimu, pergilah pada para malaikat yang sedang duduk di sana.” Adam lalu pergi, “Assalamu’alaikum,”
Adam menyapa para malaikat. “Wa’alaikum salam warahamtullah,” jawab mereka. Adam kembali pada Allah. Allah lalu berfirman, “Salam ini adalah bentuk doa dan penghormatanmu serta anak-cucumu.” Allah kembali berfirman dengan kedua tangan terdekap, “Pilihlah salah satu dari dua tanganku ini.” Adam menjawab, “Saya memilih tangan kanan Tuhanku, kedua tangan Tuhanku ini adalah tangan kanan yang diberkati.” Lalu Adam merentangkan kedua tangan itu, tiba-tiba dia melihat sekumpulan orang. Dengan heran Adam bertanya, “Wahai Tuahnku, pe ketentuanku dan aku telah mencatatnya.” “Ya Tuhanku, tambahlah umurnya enam puluh tahun lagi, ambilkanlah dari umurku.” Allah menjawab, “Baiklah. Kalau begitu, tinggallah di surga seseuai kehendakku, kemudian tutunlah dari sana.” Lalu Adam menghitung-hitung umurnya. Ketika Malaikat Maut mendatangi Adam untuk mencabut nyawanya, Adam protes, “Kamu terlalu cepat mengambil nyawaku, Allah memberiku umur seribu tahun.” “Benar demikian, tetapi kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada Daud,” jawab malaikat maut. Adam tidak mengakuinya, begitu pula anak cucunya, ingkar dan lupa. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, “Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar kita mencatat dan mempersaksikan.”89
Apakah dokumentasi itu wajib?
Al-Qurthubi (Al-jami’ Liahkam al-Qur’an 3/381), “Sebagian ulama berpendapat
bahwa dokumentasi adalah wajib berdasarkan ayat 282 surat al-Baqarah, baik dokumentasi jual beli atau hutang, tujuannya adalah untuk mengantisipasi bila kelak ingkar atau lupa. Inilah pendapat yang dipilih oleh at-Thabari.”90
Jumhur Ulama. Perintah mengenai dokumentasi/pencatatan adalah perintah sunnah,
bukan wajib. Hal ini bertujuan untuk melindungi harta dan menghilangkan keragu-raguan. Jika orang yang berhutang termasuk orang yang saleh dan bertakwa, maka pencataran tidak
89 Hasan dilihat dari semua jalur: HR. Tirmidzi, hal. 3368, HR. At-Thabari dalam Tarikh al-Kubra, vol. 1, hal. 98, HR. An-Nasai dalam al-Kubra, vol. 6 hal. 63, HR. Baihaqi, vol 10, hal. 147. semua riwayat ini dari jalur Shafwan Ibn ‘ais dari al-Harits dari Abu Dzubab dari Sa’id al-Maqbari dari Abu Hurairah. HR. An-Nasai dari jalur Abu Khalid al-Ahmar dari al-Harits, setelah mengeluarkan hadits, an-Nasai mengatakan bahwa hadits ini adalah munkar. Berbeda dengan Ibn ijlan dari Sa’id dari ayahnya dari Abdullah bin Salam sebagai hadits mauquf, al-Kubra, vol. 6, hal. 649 dari Qutaibah dari al-Laits dari Ibn Ijlan. Menurut saya: Shafwan bin Isa dan Abu Khalid al-Ahmar Anas ibn Iyadl mengikuti Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah, vol. 1 hal. 90. Ibn Abi Dzubab Ismail bin Rafi’ juga mengikuti Abu Ya’la, hal. 6580, HR. Tirmidzi, hal. 3076 dari Abu na’im dari Hisyam bin Saad dari Zaid ibn Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah.
90 Dia mengatakan ini dalam tafsirnya, vol. 3, hal. 120. demikian pula ulama Madzhab Dhahiriyah seperti Ibn Hazm. At-Thabari meriwayatkan dengan sanad sampai Ibn Jirij dan ad-Dhahak dan ar-Rabi’. Mereka
perlu dilakukan, tetapi jika sebaliknya maka perlu dilakukan pencatatan untuk menjamin hak atas hutang itu, dan ini adalah kebutuhan orang yang mempunyai hak.
Sebagian Ulama. Jika dipersaksikan, maka orang yang berhutang akan merasa
terkekang. Tetapi jika dia diberi kepercayaan, maka dia akan merasa lapang dan leluasa. Inilah yang benar, dan hal ini tidak menasakh91 (menggugurkan) ketentuan ayat sebelumnya. Menurut kesepakatan, Allah menganjurkan agar pencatatan dilakukan bila terdapat tanda-tanda pengingkaran pada orang yang berhutang. Anjuran ini bertujuan untuk meringankan urusan manusia.
2. Persaksian
Dalil yang mensyariatkan persaksian;
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari laki-laki (di antaramu). Jika tidak ada dua oang laki-laki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu setujui, supaya jika seorang lupa, maka yang seorang mengingatkannya…” (Al-Baqarah: 282)
Ayat di atas menunjukkan disyariatkannya persaksian dan anjuran untuk melakukannya. Persaksian diumpamakan sebagai pengikat, yakni untuk melindungi hak dain (orang yang membei hutang) jika madin (orang yang berhutang) ingkar atau lupa pada hutang yang menjadi tanggungannya, agar perkelahian dan perselisihan antara keduanya dapat dihindari.
Hukum Mempersaksikan Hutang;
Sunnah sebagaimana hukum melakukan pencatatan, sebab dalil yang menjadi dasar hukum adalah sama. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur ulama, yakni: ‘perintah dalam ayat di atas adalah sebagai bimbingan dan anjuran.
Di antara dailil yang mengindikasikan bahwa ayat tersebut menunjukkan anjuran adalah perbuatan yang dilakukan nabi SAW saat berhutang pada Jabir ra92. Jabir
91 Yakni ayat “faktubuh” dinasakh dengan “fain amina ba’dlukum ba’dla”, dari as-Syu’ba, Ibn Jarir at-Thabari meriwayatkan dalam tafsirnya dengan berbagai macam sanad. Menurut saya, yang dimaksud nasakh oleh Syu’ba adalah berpindah, yakni berpindah dari hukum wajib ke sunnah dan irsyad (bimbingan). Hal ini dapat dilihat dari riwayat at-Thabari dengan sanad yang shahih, “Dari Ya’qub dari Ibn ‘alaih dari Daud dari Syu’ba tentang ‘fain amina ba’dlukum ba’dla’: jika dalam keadaan terdesak, maka dokumentasi bersifat mendesak, jika tidak maka seseorang boleh tidak melakukannya.
mengatakan bahwa Nabi tidak menghadirkan orang untuk mempersaksikan transaksinya. Abu Bakar al-Jashash (Ahkam al-Qur’an 1/657), “Para ahli fiqh Mesir telah menyepakati bahwa pencatatan, persaksian, dan persewaan yang penggadaian yang termuat dalam dalam ayat ini hanya merupakan anjuran dan bimbingan Allah untuk kepentingan, kebaikan dan kehati-hatian kita dalam urusan agama dan dunia, bukan suatu kewajiban yang harus kita lakukan.
Ulama kotemporer Mesir telah mengutip pendapat ulama klasik, yakni apabila tidak ditemukan indikasi seseorang akan ingkar, maka tidak diperlukan persaksian dalam urusan hutang-piutang, makanan-minuman, dan jual-beli. Seandainya persaksian itu wajib, maka mereka tidak akan mempedulikan perihal pengingkaran meskipun mereka mengetahui indikasi pengingkaran berada pada diri seseorang. Hal ini menjadi bukti bahwa para ulama sepakat dengan hukum sunnah mengenai hal ini, juga berdasarkan praktik yang berlangsung mulai zaman Nabi SAW sampai sekarang. Seandainya para sahabat dan tabi’in mempersaksikan praktik jual beli dan makanan-minuman mereka, maka pasti terdapat bukti mutawatir dan dapat dipertanggungjawabkan yang menjelaskan hal tersebut dan orang yang tidak melakukan persaksian pasti tidak diperbolehkan. Karena tidak ada bukti mutawair dan jelas tentang perbuatan sahabat yang melakukan persaksian itu, maka pencatatan dan persaksian dalam hutang-piutang dan jual-beli tidak dihukumi wajib.
Jumlah Saksi dalam Hutang-Piutang;
Firman Allah;
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari laki-laki (di antaramu)” (Al-Baqarah: 282)
Ayat ini menunjukkan bahwa saksi berjumlah dua orang laki atau seorang laki-laki , dengan syarat harus adil dan beragama Islam. Maka orang non Islam tidak boleh menjadi saksi dalam transaksi orang Islam, begitu pula orang fasik dan orang yang selalu berbuat maksiat. Hal ini berdasarkan firman Allah;
“…dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah.”
Apakah perkara hutang dimenangkan oleh orang yang mempunyai hak atas hutang bila saksinya hanya seorang laki-laki?
Imam Muslim ra meriwayatkan hadits dari Abu baker bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Namir dari Zaid ibn Hibban dari Saif bin Sulaiman dari Qais bin Saad dari Amr bin Dinar dari Ibn Abbas, “Bahwasanya Rasulullah memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi.93
93 Shahih dilihat dari semua jalurnya: HR. Muslim, hal. 4447. Hadits ini mempunyai banyak jalur, dan setiap jalur tidak lepas dari pendapat ulama dan alasan yang menyertai. Berikut saya sebutkan:
Pertama, jalur yang secara sekilas tidak ada cacatnya. Dalam jalur ini hanya ditemukan satu cacat, yakni
keterputusan antara Amr dan Ibn abbas. Tirmidzi (al-Ilal al-Kubra, hal. 361) mengayakan, “Saya pernah menanyakan pada Imam Bukhari perihal hadits ini, beliau menjawab: menurut saya, Amr bin Dinar tidak pernah mendengar hadits ini dari Ibn Abbas. Yahya bin Mu’in (kitab Tarikh-nya riwayat ad-Dauri, hal. 1706) mengatakan, “Riwayat Ibn Abbas mengenai hadits ini tidak dapat dibuat pegangan.” Menurut saya, “Dalam riwayat ad-Darqathni, ada yang menengah-nengahi antara Amr dan Ibn Abbas, yakni Thawus (4448), tetapi jalurnya lemah, karena salah satu perawinya dlaif, yakni Abdullah Muhammad bin Rabi’ah dari Muhammad bin Muslim dari Amr. Abdurrazq berbeda dengan periwayatan ini, yakni dari riwayat Abu Daud (3609) dari Muhammad bin Muslim ari Amr dari Ibn Abbas, tetapi masih tetap ada cacat dalam hadits ini. Riwayat baihaqi meriwayatkan hadits ini dari jalur lain dari Ibn Abbas, vol. 10, hal. 168, tetapi riwayat ini dlaif dilihat dari riwayat as-Syafi’I dari Ibrahim bin Muhammad dari Rabi’ah bin Utsman dari Mu’adz bin Abdurrahman dari Ibn Abbas. Menurut saya, “Periwayatan Ibrahim bin Muhamamd di sini ditolak, sedangkan Rabi’ah bun Utsman masih dirsgukan. Ibn Abdil Barr (at-tamhid, vol. 2, hal. 138), “Hadits tentang sumpah dan seorang saksi memilki banyak sanad mutawatir, hasan dan tsabit. Sanad paling shahih adalah dari Ibn Abbas, sebab tidak ada seorang perawi pun yang cacat dalam sanad, para ahli hadits pun telah sepakat akan ke-tsiqah-han para perawinya.
Kedua, jalur Abu Hurairah: HR. Abu Daud, hal. 3610 dari Abu Mus’ib az-Zuhri dari ad-Darawardi dari
Rabi’ah bin Abu Abdurrahman dari Sahil bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi
SAW……al-Hadits. HR. Tirmidzi, hal. 1343 dari Ya’qub bin Ibrahim dari ad-Darawardi, juga HR. Ibn Majah, hal. 2368, dari jalur Ahmad bin Abdurrahman az-Zuhri dari ad-Darawardi. HR. At-Thahawi dalam Syarh
Ma’ani al-Atsar, vol. 4, hal. 144, HR. baihaqi, vol. 10, hal. 168 dari jalur as-Syafi’I dari ad-Darawardi. HR.
Abu Daud, hal. 3611, HR. Baihaqi, dari jalur Abu Daud dari Sulaiman bin Bilal dari Rabi’ah dari Sahil, cacat sanad hadits ini hanya terletak pada jalur Sahil, ketika Sahil ditanya, dia menjawab, “Saya tidak
mengetahuinya.” Setelah mentakhrij hadits, Abu Daud (4/34) mengatakan, “Ar-Rabi’ bin Sulaiman
menambah Al-Muadzin dalam sanad ini.” As-syafi’I dari Abdul Aziz ad-Darawardi, “Saya menyebut hadits ini pada Sahil, dia lalu mengatakan, “Rabi’ah meriwayatkannya padaku, menurut saya, dia percaya kalau saya hanya mengatakan, tidak sampai hafal.” Abdul Aziz, “Sahil pernah tertimpa musibah sampai membuat akalnya terganggu dan sebagian hafalan haditsnya hilang, tetapi hal ini terjadi setelah rabiah dari ayahnya meriwatkan hadits darinya.” Abu Daud (4/34), “Setelah meriwayatkan, Sulaiman bin Bilal mengatakan: Saya pernah menanyakan pada Sahil perihal hadits ini, tetapi dia menjawab tidak tahu, lalu saya mengatakan bahwa Rabiah meriwayatkan padaku dari dia, lalu jawabnya:jika benar demikian, hadits ini memang benar dariku. Ibn Abi Hatim (1/463-1392), “Ayahku pernah ditanya tentang keshahihan hadits Abu Hurairah tentang sumpah dan seorang saksi. Ayahku diam sejenak lalu berkata, “Apa yang telah dikatakan ad-Darawardi?” dia mengatakan bahwa dia telah menanyakan hadits ini tetapi Sahil menjawab tidak tahu. Lalu ad-Dawardi mengatakan bahwa lupanya Sahil tidak menjadi penghalang bagi riwayat Rabiah, karena dia tsiqah, hanya saja yang meriwayatkan padanya terkadang lupa saat setelah meriwayatkan. Ayahku lalu mengatakan, “Benarlah demikian, tetapi tidak ada yang mengikuti periwayatan hadits ini, sekelompok perawi bahkan tidak menyebut hadits ini. Menurut saya (Ibn Abi Hatim), “Beliau memberi pernyataan hanya berdasarkan satu berita, yakni: benarlah demikian, tetapi sama sekali saya tidak tahu riwayat dari Abu Hurairah. Ini adalah asal usul tidak ikutnya Rabi’ah. Setelah ditanya tentang hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW memutuskan hanya berdasarkan sumpah dan seorang saksi, ad-Darqathni (al-ilal, vol. 10. hal. 138)
Perkataan Sahabat dan Tabi’in; Muawiyah;
At-Thahawi, “Dari Wahban dari Abu Hamam dari Ibn al-Mubarak dari Ibn Abi Dza’b dari az-Zuhri: bahwa Muawiyah adalah orang pertama yang memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi.94
Syarih al-Qadli ra.
Imam an-Nasa’I ra dari Muhammad bin Rafi’ dari Abu Bakar Ibn Abi Uwais dari
oleh Sulaiman bin Bilal. Tetapi ada riwayat yang berbeda, yakni al-uqba dan Ismail binAbu Uwais dan Yahya al-Himani dan Ziyad bin Yunus dan Abdulah bin Wahab dari Sulaiman dari Rabiah dariSahil dari ayahnya dari Abu Hurairah, berbeda pula Abu baker bin Abu Uwais dan Imran bin Aban dari Sulaiman bin Bilal dari Sahil tanpa menyebut Rabiah. Sanad yang benar adalah: dari Sulaiman bin Bilal bin Rabiah. Ziyad ibn Yunus telah menjelaskan hal ini dalam riwayatnya dari Sulaiman, “Sulaiman mengatakan: Saya pernah bertemu Sahil, saya tanyakan perihal hadits ini tetapi dia tidak mengetahuinya. Lalu saya katakana bahwa Rabiah meriwayatkan pada saya dari kamu, dia menajwab: hadits yang diriwayatkan Rabiah dari saya dan riwayat seseorang dari Sahil dari Rabiah dari Sahil dari ayahnya dari Abu Hurairah, serta riwayat seseorang dari Sahil dari ayahnya dari Zaid bin Tsabit, adalah tidak shahih. (riwayat at-Thahawi dalam Syarh ma’ani al-Atsar, vol. 4, hal. 144) salah satu perawinya dlaif, yakni Zuhair bin Muhammad (demikian pula riwayat Abu az-Zanad dari dari al-A’raj dari Abu Hurairah) HR. Baihaqi dalam as-Sunan, vol. 10, hal. 168 dari jalur Mughirah bin Abdurrahman dari Abu az-Zanad dari al-A’raj dari Abu Hurairah, Mughirah juga meriwayatkan hadits-hadits gharib, dalam at-Tahdzib, al-Hafidh ibn Hajar mengutip dari Ibn Udai dalam bibliografi al-Mughirah bahwa riwayat ini adalah gharib, dan cacat bila dilihat dari riwayat Ibn Ijlan dan banyak perawi dari Abu az-Zanad dan dari Abu Shafiyyah ari Syarih al-Qadli. HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 173. Menurut ad-Darqathni, yang dijadikan pegangan adalah hadits Rabiah dari Sahil. Al-Hafidh ibn Hajar dalam al-Fath, vol. 5, hal. 333 mengatakan keshahihan semua jalur hadits. Di antaranya adalah hadits Abu Hurairah bahwa Nabi SAW memutuskan berdasarkan sumpah dan seorang saksi. Menurut para pemiliki kitab as-Sunan, para perawi hadits Sahil adalah tsiqah, lupanya Sahil bin Abu Shalih setelah meriwayatkan pada Rabiah tidaklah menjadi masalah, karena dengan demikian, dia telah dianggap menjadi perawi, yakni Rabiah dari dia dari ayahnya. Hal ini telah banyak diterangkan dalam Sunan Abu daud dan lainnya.
Ketiga, jalur Jabir bin Abdullah: HR. Ahmad, al-Musnad, vol. 3, hal. 305 dari Abdul Wahab ats-Tsaqafi dari
Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir, HR. Tirmidzi, hal. 1344 dari Muhammad bin Baysar dan Muhammad bin Aban dari Abdul Wahab, HR. Ibn Majah, hal. 2369, “Kecatatan jalur ini adalah sebab putusnya sanad, Abdul Wahab at-Tsaqafi berbeda dengan riwayat para perawi tsiqat lainnya, dia
meriwayatkan dari Ja’far dari ayahnya. Para perawi tsiqah itu adalah: Malik. Al-Muwatha’, hal. 555, Sufyan ats-Tsauri yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, vol. 5, hal. 360, Ibn Juraij, Ismail bin Ja’far, Umar ibn Muhammad, Yahya bin Ayub dan Ibrahim bin Abu Yahya yang semuanya tedapat dalam Sunan Baihaqi, vol. 10, hal. 169-170. Dalam al-Musnad, vol. 3, hal. 305 Abu Abdurrahman Abdulah bin Ahmad mengatakan, “Ayahku –Ahmad bin Hanbal- menolak hadits ini, beliau mengatakan: tidak satu perawi
tsiqah-pun yang sama dengan riwayat Jabir, hal ini berlangssung sampai dia membaca dan menulisnya, bahwa
hadits ini adalah shahih. Dalam al-Ilal, hal. 202, Tirmidzi mengatakan, “Saya pernah menanyakan hadits ini pada Muhammad, dia menajwab:riwayat manakah yang paling shahih? Riwayat yang paling shahih adalah riwayat Ja’far dari ayahnya ari Ali (HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 170) dari jalan Abbas ad-Dauri dari Syabbabah dari Abdul Aziz bin Abu Salamah dari Ja’far dan yang sejalan dengan jalur ad-Darqathni (44441). Demikian pula dari jalur Syaiban dari Thalhah bin Zaid, Muhammad bin Sami’ dari Abdullah bin Umar, keduanya dari Ja’far dari ayahnya dari Ali, Tirmidzi menggantungkan jalur ini pada Yahya bin Salim dari Ja’far, cacat dari jalur ini karena berbeda dengan riwayat yang mempunyai ketetapan sanad, yakni seperti jalur Jabir
sebagaimana pernyataan Bukhari (dan Muhammad bin Ali dari Ali sebagai hadits mursal) dan Ja’far dari ayahnya dari Jabir dan Ja’far dari ayahnya bahwa Nabi SAW, “Hadits yang paling shahih adalah hadits Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Nabi SAW sebagai hadits mursal. Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain selain jalur ja’far, yakni riwayat Khalid Ibn Abi Karimah dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain sebagai hadits mursal. Juga Rabi’ah dari Abu Ja’far yang diriwayatkan oleh Baihaqi, vol. 10, hal. 177, HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, vol. 5, hal. 360 dari Waqi’ ari Ibn Abi karimah. Dalam al-Ilal, hal.
Sulaiman bin Bilal dari Muhammad Ibn ‘Ijlan dari Tsaur dari Abi az-Zanad dari Ibn Abi Shafiyah al-Kufi bahwa pada suatu kesempatan Syarih menghadiri mesjid Kuffah: beliau memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi.95
Umar bin Abdul Aziz;
Imam Malik ra (Al-Muwatha’), “Dari Abi az-zanad bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada Abdul Hamid bin Zaid bin al-Khathab seorang pegawai di
1402, Ibn Abi hatim mengatakan, “Saya pernah bertanya pada ayah Abu Hatim dan Abu Zar’ah perihal hadits riwayat Abdul Wahab ats-Tsaqafi dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bahwa Nabi SAW pernah memutuskan berdasarkan sumpah dan seorang saksi, lalu keduanya menjawab: dalam hadits ini, Abdul Wahab melakukan kesalahan, karena setelah dari ayahnya, jalur dari Jabir langsung pada Nabi. Setelah ditanya mengenai hadits Husain dari Ali dari ayahnya dari Nabi, Ad-Darqathni, al-Ilal, hal. 301, mengatakan, “Ini adalah hadits yang diriwayatkan Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan ada riwayat yang berbeda dengan ini, yakni: kemungkinan Ja’far bin Muhammad memutus sanad hadits ini, tetapi kemungkinan dia juga menyambungnya pada Jabir, karena para perawi tsiqah menghafal hadits ini dari ayahnya dari Jabir, al-Hikam juga telah menegaskan hadits ini, sebab terdapat banyak perawi tsiqah pula, dan ini menunjukkan bahwa hadits ini dapat diterima. Dalam al-Fath, vol. 5, hal. 333, al-Hafidh ibn Hajar mengatakan, “Ada pula yang menyamai jalur Abu Hurairah, yakni jalur Ajbir, HR. Tirmidzi dan Ibn Majah, Ibn Khazimah dan Abu Umanah menganggap shahih hadits ini.
Keempat, jalur Saad bin Ubadah ra, HR. Ahmad, vol. 5, hal. 285, HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 168, dari jalur
Sulaiman bin Bilal dari Rabiah bin Abu Abdurrahman dari Ismail bin Amr bin Qais dari Amr bin Qais bin Saad, “Saya pernah menemukan sebuah tulisan Saad, isinya: Rasulullah SAW memerintah Amr bin Hazm agar memutuskan berdasarkan seorang saksi ditambah dengan sumpah. HR. Ad-Darqathni, hal. 4447 dari jalur yang bersambung pada Ibn Mas’ud dan ad-Dauraqi dari ad-Darawardi dari Rabiah dari Ibn Saad bin Ubadah,