ASEAN Community
Isu Mutakhir
Peralihan Kurikulum dengan Kurikulum Peralihan
Kurikulum Nasional 2013 telah diterapkan secara nasional berdasarkan
Permendikbud No.81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum. Dalam buletin Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) edisi 3 tahun 2014 (http://bsnp- indonesia.org/id/wp- content/uploads/2014/12/ Buletin-Edisi-3-2014.pdf) tercantum, K13 mulai diimplementasikan pada tanggal 15 Juli 2013 secara bertahap dan terbatas, yaitu untuk Kelas I, Kelas IV, Kelas VII, dan Kelas X. Sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 juga masih dibatasi pada 6.221 sekolah dari lebih dari 200.000 sekolah yang ada di Indonesia. Bahkan, untuk madrasah yang secara manajemen dan administrasi di bawah Kementerian Agama, pada tahun 2013, K13 belum diterapkan sama sekali. Mulai tahun pelajaran baru, Juli 2014, K13
diimplementasikan di Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI, di
seluruh sekolah/madrasah. Banyak permasalahan yang muncul dalam implementasi ini, namun dalam tulisan ini hanya akan dibahas beberapa hal saja yang memungkinkan untuk ditindaklanjuti menjadi suatu kajian ilmiah.
Pada tahun pelajaran 2013/2014, dilakukan piloting
pada sekolah-sekolah terpilih. Sekolah yang berinisiatif ikut menerapkan, diwajibkan mendaftar untuk bisa masuk dalam program piloting. Pada kenyataannya banyak sekolah swasta yang tidak mendapat persetujuan untuk melakukan piloting dengan berbagai alasan, salah satunya adalah keterbatasan dana piloting.
Sekolah yang menjadi piloting, sudah menerapkan kurikulum ini pada tahun ajaran sebelumnya, yaitu pada kelas I dan IV, sehingga menjadi logis bila pada tahun ajaran berikutnya ditambah- kan penerapan pada kelas II dan V. Namun bagi sekolah- sekolah lain, maka penerapan pada kelas II, IV, dan V menjadi sesuatu yang perlu dikaji. Sebagaimana diketahui
Isu Mutakhir: Implementasi Kurikulum Nasional 2013
bahwa kurikulum disusun agar kemampuan siswa dibangun secara bertahap dan berjenjang, tahun demi tahun. Penerapan pada pertengahan jenjang pendidikan selalu menjadi masalah tersendiri bagi guru pelaksana. Apalagi dalam kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada soft skill
selain penguasaan materi/ konsep ilmu. Kompetensi soft skill sendiri belum dibangun secara terstruktur pada kurikulum sebelumnya, yang dialami siswa kelas II, IV, dan V. Tampaknya ini menjadi salah satu faktor yang perlu dikaji dalam penerapan kurikulum 2013 di SD, khususnya kelas II, IV, dan V. Sebenarnya penerapan perubahan pada pertengahan jenjang bisa dilakukan dengan sebuah disain versi peralihan agar terjadi
kesinambungan belajar siswa, sehingga misalnya kelas III yang sebelumnya
menggunakan kurikulum lama akan menggunakan kurikulum baru versi peralih- an hingga siswa mencapai kelas VI. Dampak ketidak- sinambungan ini membutuh- kan penelitian dan pengkajian lebih mendalam agar kita dapat belajar dari pengala- man dan mempersiapkan antisipasinya ketika siswa naik ke jenjang SMP.
Demikian juga pemberlakuan kurikulum baru di jenjang SMP dan SMA perlu memperhatikan bahwa siswa belum mendapatkan bekal kurikulum tersebut pada jenjang pendidikan
sebelumnya. Oleh karena itu, perlu suatu kurikulum versi
peralihan untuk minimal 3 tahun hingga terjadi kesinambungan bekal pendidikan.
Disain Tema
K13 untuk SD menggunakan model tematik yang berarti, siswa belajar tidak lagi dalam mata pelajaran-mata pelajaran terpisah, melainkan
pembelajaran dilakukan berdasarkan suatu tema, sedangkan berbagai ilmu terkait mata pelajaran di ajarkan secara implisit. Hal ini dimaksudkan agar berbagai konsep mata pelajaran menjadi suatu pengetahuan yang bermakna dan kontekstual bagi siswa. Tema menjadi wadah sekali- gus tujuan untuk memberi makna riil bagi siswa. Tema dibagi menjadi sub-sub tema yang isinya saling berkaitan membangun tema tersebut.
Pada kondisi lapangan, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) setahun dengan format baru, walau- pun silabus telah diberikan dari otoritas pendidikan Indonesia (Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan). Dalam rangka memecahkan beban administrasi tersebut, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Kelompok Kerja Guru (KKG) secara kreatif membagi tugas penyusunan RPP tersebut di antara sekolah-sekolah di wilayah kerjanya. Alhasil, seorang guru mengerjakan tema/sub tema yang satu, guru lain dari sekolah lain mengerjakan tema/sub tema lain pula. Pembelajaran yang
seharusnya kontekstual dengan lingkungan sekolah masing-masing, berubah menjadi pembelajaran yang terpetak-petak dalam tema/ sub tema yang mungkin kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah masing- masing. Dengan demikian, kontekstualitas tema melemah.
Di sekolah swasta unggul, biasanya tema dibungkus menjadi sebuah proyek siswa yang bahkan menjadi proyek sekolah yang benar-benar kontekstual sesuai dengan kondisi setempat dan tingkat umur siswa. Misalnya, kampanye kebersihan, bazaar karya siswa, kampanye anti NAPZA, dll. Setiap sub tema diarahkan untuk secara bertahap menjadi persiapan proyek tersebut. Siswa diajarkan untuk merencana- kan dan melaksanakan proyek tersebut, bahkan juga berinteraksi dengan
masyarakat setempat. Dengan demikian, tema menjadi sesuatu yang bertujuan dan memotivasi pencapaian tujuan tersebut.
ASEAN Community
Di dalam dokumen Bahan Uji
Publik Kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada November 2012, pada bagian Alasan Pengembangan Kurikulum sub Tantangan Masa Depan, tercantum mengenai globalisasi (WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA), dan kebangkitan industri kreatif. Presiden Joko Widodo dalam kampanye
Isu Mutakhir: Implementasi Kurikulum Nasional 2013
kepresidenannya juga menye- butkan pentingnya pengem- bangan ekonomi kreatif. ASEAN Community terdiri atas tiga pilar, yaitu Komu-
nitas Keamanan ASEAN
(ASEAN Security Community/
ASC), Komunitas Ekonomi
ASEAN (ASEAN Economic
Community/AEC), dan Komu- nitas Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Commu- nity/ASCC). Dari ketiga pilar itu, AEC sudah di depan mata karena diberlakukan mulai Januari 2015. Sangat perlu dicermati hal-hal apa yang akan terjadi dan berpengaruh terhadap pendidikan di Indonesia. Dalam cetak biru AEC, yang sudah ditanda- tangani semua Kepala Negara ASEAN maupun berita resmi ASEAN di situs resminya, hal yang akan terjadi adalah
“…the AEC will transform ASEAN into a region with free movement of goods, services, investment, skilled labour, and freer flow of capital.” Walau- pun sektor pendidikan tidak secara langsung terpenga- ruhi1, dunia pendidikan tetap
harus mempersiapkan peserta didiknya untuk menghadapi tantangan tersebut. Peluang tenaga kerja Indonesia yang besar, hanya bisa diraup dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya angkatan kerja masa kini dan masa depan.
Siswa, sebagai calon angkatan kerja masa depan, perlu dipersiapkan
menghadapi tantangan abad 21 tersebut. Oleh karena itu, sangat perlu dibangun kompetensinya dalam (1) bidang Teknologi Informasi
(TI), yang merupakan dasar dari ekonomi kreatif, (2) penguasaan bahasa Inggris, dan (3) karakter budaya. Ada tiga hal yang akan disorot di sini, yaitu pembelajaran TI, bahasa Inggris, dan bahasa daerah.
Pembelajaran TI
Di samping sarana TI yang sangat terbatas, pada kenyataan di lapangan kebanyakan sekolah
mengartikan TI sebagai mata pelajaran komputer dengan muatan pengenalan
penggunaan program aplikasi dan membuat pemrograman. Sebagian besar guru
mengartikan kompetensi IT sebagai pembelajaran dengan menggunakan program presentasi dan pemutaran film menggunakan LCD Projector. Padahal di samping hal di atas, siswa perlu mampu, terampil, dan terbiasa menelusur internet secara efisien untuk memperoleh informasi, memilah dan menyaring informasi yang dapat dipercaya,
menggunakan internet untuk komunikasi serta menerapkan netika (etika berinternet).
Penggunaan internet secara online memang ada resikonya, yaitu siswa mudah teralih ke situs yang tidak berhubungan, bahkan situs porno. Akan tetapi, resiko buta internet perlu disadari. Lagipula, tugas pendidiklah untuk membimbing siswa ke jalan yang baik dan benar.
Pembelajaran Bahasa Inggris
Teori mengenai golden period
(critical period hypothesis,
http://en.wikipedia.org/ wiki/Critical period hypothesis), menyatakan bahwa seorang anak lebih sukses belajar bahasa kedua/ bahasa asing bila dimulai sedini mungkin hingga usia 6- 7 tahun. Berbagai penelitian telah membuktikan hal ini. Banyak sekolah swasta unggul yang menerapkan pembelajaran bahasa Inggris dengan sistem imersi (bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tanpa
diterjemahkan) sejak usia dini, dan menyatakan hasil yang memuaskan. Walaupun teori tersebut hingga saat ini masih diperdebatkan, kita melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia sendiri, sebagian besar lancar berbicara dalam dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia sejak usia sangat dini. Sangat kecil kemungkinannya seorang ibu mengajarkan bahasa daerah dengan menjermahkan ke bahasa Indonesia atau sebaliknya, ketika anaknya masih kecil (dalam golden period).
Kenyataan di lapangan justru sebaliknya, guru mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa usia golden periode dengan menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Bahkan
pembelajaran bahasa yang seharusnya ditujukan untuk komunikasi, direduksi menjadi pelajaran tata bahasa yang sesungguhnya lebih sesuai untuk mahasiswa jurusan sastra Inggris. Program imersi paling baik dilakukan pada usia golden period, tetapi pada jenjang pendidikan lebih tinggi juga
Isu Mutakhir: Implementasi Kurikulum Nasional 2013
berpengaruh positif. Menurut Asrori, M dan T.
Hastutiningsihpenerapan
program imersi bahasa Inggris yang dimulai ketika siswa telah menginjak pendidikan lanjut adalah positif walau kurang efektif.Mengingat masyarakat Indonesia yang pada umumnya telah berbicara dalam dua bahasa, penelitian lebih lanjut terhadap metode imersi bahasa Inggris pada siswa usia golden periode di Indonesia (yang telah berbicara dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah) akan memberikan informasi yang sangat berharga.
Pembelajaran Bahasa Daerah
Sejak diberlakukannya desentralisasi dan otonomi daerah, pemerintah daerah berwenang menetapkan mata pelajaran muatan lokal. Banyak pemerintah daerah yang akhirnya mewajibkan pembelajaran bahasa daerah sebagai salah satu muatan lokal wajib. Sekolah
menindaklanjuti ini dengan memberikan pelajaran bahasa daerah. Ditinjau dari
kacamata tantangan abad 21, hal ini menjadi sesuatu yang dapat diperdebatkan.
Ada fenomena menarik di suku Tionghoa Indonesia. Kebanyakan suku Tionghoa yang lahir dan besar di Pulau Jawa tidak dapat lagi
berbahasa Mandarin. Namun nilai positif budaya Tionghoa tetap dipegang erat, antara lain: kerja keras, pantang menyerah, etos kerja, tata karma, hemat, dan mau
beradaptasi. Demikian juga seharusnya muatan lokal diarahkan untuk
menanamkan nilai luhur/ kearifan budaya setempat, bukan direduksi menjadi pelajaran bahasa saja. Menitikberatkan pendidikan karakter adalah sesuai program yang dicanangkan Kemendiknas tahun 2011 tentang pendidikan budaya dan karakter bangsa (http:// perpustakaan.kemdiknas.go.id/ download/ PENDIKAR%20 PAUDNI.pdf ), juga sudah diterbitkan dua buku pedo- man (http://tunas63.
wordpress.com/2011/07/24/ buku-pedoman-pendidikan- budaya-dan-karakter-bangsa) “Anak-anak adalah milik Masa Depan oleh karena itu apa yang dialami oleh mereka sekarang harus dapat
mencerminkan benih-benih untuk mampu MANDIRI dan jadi Pemenang di Masa Depan”(Antonius Tanan).
Daftar Pustaka
Asrori, M. 2006. Kajian Tentang Implementasi Program Imersi Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (Studi Kasus di SMA 4 Surakarta). http:// sirine.uns.ac.id/ penelitian.php?act= detail&idp=219&judul =Kajian Tentang Implementasi Program Imersi Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (Studi Kasus di SMA 204 Surakarta accessed 27 November 2014 http://www.setneg.go.id/ index.php?option= com_content &task= view&id=7911, acces- sed 27 November 2014 http://www.asean.org/ archive/5187-10.pdf , accessed 27 November 2014 http://www.asean.org/ communities/asean- economic-community , accessed 27 November 2014 http://en.wikipedia.org/ wiki/Critical_period_ hypothesis, accessed 27 November 2014
Kathleen Peets. 2009. Critical period hypothesis for
second language
acquisition: A review of the literature. York University Faculty of Health. http:// www.academia.edu/ 290567/ Critical_Period_Hypothesis _for_Second_Language_ Acquisition_A_Review_of_t he_Literature, accessed 27 November 2014 Tanan, A. 2012. Presentasi
Generasi Abad 21 dan Pendidikan Abad 21. Makalah tidak di terbitkan. Banjarmasin. UCEC T. Hastutiningsih. (2007). Pengelolaan Program
Kelas Imersi Oleh Kepala Sekolah (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Kota Magelang). http:// lib.unnes.ac.id/16723/ 1/1103505058.pdf, accessed 27 November 2014
Resensi buku: Guruku Matahariku
Resensi buku
agaimana matahari menyinari bumi, demikian pun guru senantiasa membe- ri tak pernah berharap kembali. Berprofesi sebagai guru merupakan
pekerjaan yang luar biasa, hanyaorang-orang
terpilih dan mendapat “panggilan”, yang dapat menjadi guru. Sehingga profesi guru juga merupakan “panggilan”.
Merenungi, memaknai, meng- kritisi dan menertawai profesi diri adalah langkah awal memasuki kesejatian panggil- an, demikian pun halnya dengan guru. Tulisan-tulisan kecil dalam buku ini merupa- kan renungan, kritik dan refleksi berdasarkan rekaman peristiwa keseharian di
sekitar penulis ketika
menjalani panggil-annya sebagai guru.
Tulisan penuh kritik kons-truktif sekaligus reflektif, yang memicu sekaligus menginspirasi orang dewasa terutama para guru dan orangtua dalam mendidik manusia muda. Buku ini
memberikan pencerahan untuk berbenah dan berubah sebelum terjebak ke dalam rutinitas sebagai “tukang” mengajar. Temukan kiat-kiat seorang guru sejati dalam buku ini. (Herman J.P. Maryanto)
Pada awal buku ini,
penulis menceritakan
pengalaman yang terjadi pada tahun tujuh puluhan, ketika penulis duduk di bangku Sekolah Dasar. Syair lagu Kasih Ibu selalu ada pada pikirannya. Penulis memaparkan bagai- mana sosok ibu guru di masa kecilnya mengajarkan penulis menghormati, ber- sikap sopan dan setia pada sosok ibu. Diceritakan juga, penulis merasakan kasih dari ibu guru tersebut yang menatap dan menyalami dengan tulus muridnya seusai pelajaran berakhir. Guru tersebut telah menanamkan nilai kehidupan bagi penulis, terutama nilai ketulusan, keikhlasan, dan terutama nilai cinta kasih yang
Judul Buku :
Guruku Matahariku
Pengarang :
Herman J.P. Maryanto
Penerbit : OBOR (Yayasan IKAPI) Tahun Terbit: Mei 2011 Cetakan : Pertama Jumlah Halaman : 179 halaman ISBN: 978 – 979 – 565 – 576 - 3 Resensi oleh : Hendy Wasmita E-mail: [email protected]
UDIKLAT BPK PENABUR Bandung
Resensi buku: Guruku Matahariku
membuat relasi antara guru dan murid menjadi hangat dan nyaman.
Sosok guru yang diharapkan oleh penulis haruslah seperti matahari yang tidak pilih kasih dalam memancarkan cahaya dan menjadi energi yang membantu mengeluarkan seluruh potensi kepada seluruh muridnya. Potensi yang dimaksud oleh penulis adalah aktif, atraktif, adaptif, agresif, kreatif, kuriositif, demonstratif, eksploratif, imajinatif, dan inovatif.
Penulis mengutip Andrias Harefa, dalam bukunya Pembelajar di Era Serba Otonomi (2002: 72), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yaitu sebagai berikut.
a. Guru merupakan panggilan jiwa yang tidak
mungkin “hilang”.
b. Menjadi guru merupakan pilihan moral
spiritual.
c. Guru tidak mengejar penghasilan
melainkan mengejar kepuasan hatinya.
d. Guru memiliki peran mengajar-belajar,
bukan belajar-mengajar.
e. Guru mensosialisasikan nilai-nilai luhur untuk hidup dan kehidupan.
f. Guru berfokus pada minat, bakat, dan
talenta murid.
g. Guru menempatkan muridnya sebagai mitra
belajar yang potensial.
h. Guru memiliki kemampuan mengajar di
atas rata-rata sampai luar biasa;
i. Guru adalah seorang pembelajar seumur
hidup.
j. Guru sejati tidak memandang gelar
akademis sebagai hal terpenting.
Profesi guru bukanlah menjadi tujuan hidup seseorang untuk mendapatkan penghasilan semata, namun yang lebih dititikberatkan adalah profesi guru itu sebagai panggilan hati. Tidak sedikit orang dapat menjadi guru, tetapi hanya orang tertentu saja yang memiliki panggilan hati untuk dapat menjadi guru sejati.
Herman J.P. Maryanto memiliki kerinduan untuk menyampaikan hal yang lebih dalam mengenai karakter. Guru adalah role model yang tampak jelas bagi murid, sosok guru adalah teladan yang nyata di hadapan mereka, karena itu penulis mengambil kata-kata indah dari Robert Fulghum (1937) “Don’t worry that children
never listen to you. Worry that they are always watching you.”
Dalam Bab 8 dipaparkan lebih jelas seorang guru harus mampu mengeluarkan potensi yang ada di dalam diri setiap muridnya. Berikut ini adalah potensi – potensi yang dimaksud oleh penulis.
Untuk mendorong pembelajaran yang kreatif perlu diterapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga belajar menjadi proses yang aktif dan dinamis. Karakteristik dari sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa tersebut dapat dibaca pada halaman 80-82.
Pada buku ini dipaparkan juga bahwa anak sangat mudah meniru kelakuan orang tuanya daripada mendengarkan nasihat dari orangtuanya (James Baldwin, “Children have never been very good to listening to their elders,
Tabel 1: Potensi yang Ada di dalam Diri Setiap Murid
No Potensi Tujuan
1 Aktif Menumbuhkan sikap giat, bersemangat, dan hidup. 2 Atraktif Menumbuhkan sikap jujur,
tulus, terbuka, menarik. 3 Adaptif Menumbuhkan kemampuan
beradaptasi / menyesuaikan diri.
4 Agresif Menumbuhkan sikap penuh inisiatif
5 Kreatif Memiliki daya cipta. 6 Kuriositif Mengembangkan rasa ingin
tahu.
7 Demonstratif Pengembangan kemampuan berekspresi baik pendapat, ide, keinginan, dan pemikirannya. 8 Eksploratif
Menggugah rasa ingin tahu.
9 Imajinatif Mengembangkan ekspresi imajinasi.
10 Inovatif Mengembangkan rasa suka pada hal-hal baru.
Resensi buku: Guruku Matahariku but they have never failed to imitate them.”). Kata-
kata tersebut sangat menggugah dan memberikan getaran yang begitu luar biasa dalam hati orangtua dan guru. Bagaimana mungkin siswa dapat disiplin, saat mereka melihat guru yang menjadi sosok untuk ditiru dan digugu itu datang terlambat, melontarkan kata-kata kasar yang melecehkan, berpakaian tidak rapi, merokok di warung dekat sekolah, dan lain sebagainya? Oleh karena itu, guru perlu berhati-hati dalam bertindak, bertutur kata, dan miliki ketulusan hati dalam mengajar.
Penulis ingin mengajak seluruh guru untuk memiliki terobosan, berani berpikir di luar rambu, dan berani berpikir beda, tidak hanya
berorentasi pada buku teks. Hal tersebut
dilengkapi dengan permasalahan yang sering timbul di sekolah
sehingga jelas bagi seorang guru, pe- kerjaannya bukan sekedar pekerjaan otak dan tenaga, melainkan peker- jaan yang melibat- kan hati, perhatian
dan ketulusan
dalam menjalan- kan tugas dan tanggung jawab- nya.
Ada hal yang menarik dalam buku ini perihal guru yang pengalaman tidak dilihat dari lamanya waktu mengajar, tetapi dari banyak-nya dia belajar. Guru perlu memutakhirkan wawasannya, se-hingga mempunyai kompetesi yang baik, mampu mengajar dengan kreatif, menginspirasi dan dapat menggali potensi anak didiknya. Buku ini dilengkapi dengan berbagai ilustrasi tentang kekhidupan guru, antara lain cerita Pak Larijo, guru senior, yang menuntut kenaikan gaji atas kesetiaannya dan Pak Gajito yang meminta penghargaan atas dirinya karena ada siswanya menjadi juara lomba IPA se- Kabupaten. Hal ini sangat menyedihkan bagi dunia pendidikan karena dalam proses pembelajaran, tujuan yang utama adalah keberhasilan anak didik, bukan pencapaian target pribadi seorang guru. Guru digambarkan oleh penulis sebagai pemandu yang membawa
si penakluk gunung tertinggi, bidan yang membantu ibu melahirkan, dan pecinta kupu- kupu yang sabar menunggu kepompong bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik.
Guru sejati akan merasa bangga walaupun ia hanya ada di belakang layar. Penghargaan tidak perlu dicari atau diminta, namun akan datang sendiri saat seorang guru melakukan hal yang baik, bermanfaat, dan dapat memuliakan orang lain, dalam hal ini tentu saja anak didiknya.
Dalam buku ini dipaparkan dengan baik bagaimana kualifikasi lebih penting daripada sekedar memiliki sertifikat bagi guru terserti- fikasi. Tidak sedikit guru melakukan kecurangan demi mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Sertifikasi yang dijalankan seka- rang lebih ketat dan memiliki intel
(dalam bahasa k e p o l i s i a n ) , sehingga proses yang dilalui tidak mudah. Persyarat- an mendapat ser- tifikasi pun dibuat
secara ketat,
sehingga guru yang berhasil disertifikasi sangat selektif, karena tunjangan yang diperoleh dari hasil sertifikasi itu adalah penghargaan atas kinerja dan ke- mampuan guru.
Guru wajib memiliki kemam-puan mengelola kelas, mengelola kinerja diri sendiri, menilai diri, keterampilan menangani siswa (berkebutuhan khusus), dan lain sebagainya. Hal ini sangat jelas dipaparkan dalam buku ini dan dilengkapi pula dengan ilustrasi guru renang yang hanya mengantarkan muridnya berenang tanpa ada pengajaran/praktik di kolam renang. Guru yang hanya mengandalkan pemberian teori di kelas dan tidak melakukan pendampingan di tempat praktek pada akhirnya ditegur oleh Kepala Sekolah.
Herman J.P. Maryanto menjelaskan empat langkah penting yang perlu dilakukan guru yaitu :
(a) melakukan persiapan /perencanaan,