• Tidak ada hasil yang ditemukan

di SD Versi Kurikulum 2013 Hilda Karl

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 62-64)

E-mail: [email protected] Universitas Terbuka-Bandung Penelitian

D

Abstrak

alam rangka implementasi Kurikulum 2013, Permendiknas No. 23/2007 dan Permendikbud No. 65/2013 mewajibkan kelas 1 – 6 Sekolah Dasar yang berakreditasi A dan B, tahun 2014/2015 melaksanakan pembelajaran tematik. Dalam kenyataannya masih banyak SD yang belum siap melaksanakan pembelajaran tematik yang dimaksud. Peneltian yang dilakukan di Jawa Barat Agustus – September 2014, memilih 25 SD secara acak sebagai sampel dengan tujuan mengidentifikasi berbagai masalah dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran tematik terpadu. Penelitian yang bersifat diskriptif ini berhasil mengenali berbagai masalah pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran tematik terpadu di SD. Di samping berbagai masalah yang pada hakikatnya muncul karena kekurangpahaman guru atas pembelajaran tematik terpadu, penelitian ini memberikan alternatif pemecahannya.

Kata-kata kunci: Kurikulum terintegrasi, pembelajaran tematik, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian pembelajaran

Thematic Learning Implementation Issues The SD Version of Curriculum 2013 Abstract

In relation to the implementation of 2013 Curriculum, the regulations issued in Permendiknas No. 23/ 2007 and Permendikbud No. 65/2013, required the 1 – 6 grades of Elementary Schools accredited A and B to implement thematic instruction as from 2014/2015 school year. In fact, a lot of schools are not ready to implement the thematic instruction due to a number of obstacles. This research aimed to discover and identify the problems faced by the elementary schools in West Java. Data were collected from 25 Elementary Schools chosen randomly to be analyzed descriptively. As the result, the research conducted in August and September 2014 discovered a number of problems faced by the teachers in implementing thematic instructions. The problems were mainly caused by the teachers’ insufficient knowledge of the thematic instruction. As the alternative solutions, the research proposed a set of recommendation.

Keywords: Integerated curriculum, thematic instruction, instructional planning, instructional implementation, instructional evaluation

Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD

Pendahuluan

Memasuki era millenium ketiga, masyarakat mengalami banyak perubahan seperti (a) perkembangan era globalisasi melalui teknologi dan informatika yang berkembang sangat pesat, (b) perubahan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan serta pertahanan negara, dan (c) banyak permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat. Tuntutan zaman seperti ini tidak dapat dihindari oleh berbagai negara termasuk Indonesia. Pengaruh budaya dan sosial dengan cepat diakses melalui berbagai media yang pada akhirnya menjadikan masyarakat Indonesia luntur budaya dan kehidupan sosial karena meniru tanpa menya- ringnya terlebih dahulu. Pada akhirnya bermu- ara pada hilangnya karakter bangsa Indonesia. Pendidikan diharapkan mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak melalui proses belajar yang tepat dan efektif. Fungsi pendidikan itu bukan hanya sekedar memberikan banyak pengetahuan melainkan menggali dan mengem- bangkan potensi kecakapan serta karakteristik pribadi ke arah yang lebih baik bagi dirinya maupun lingkungan sesuai tuntutan zaman. Harapan masyarakat, pendidikan membentuk manusia unggul bermoral dan pekerja keras yang menjadi tuntutan masyarakat global. Artinya, manusia di abad ini dituntut untuk tahu banyak, berbuat banyak, mencapai keung- gulan, menjalin hubungan dan kerjasama dengan orang lain, serta teguh nilai-nilai moral. Agar proses pendidikan bermutu maka dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan. Misalnya, Standar Proses menya- takan, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memoti- vasi siswa berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikis siswa (Permendiknas 41/2006 jo Permendikbud 64/ 2013). Dalam proses pembelajaran guru harus dapat memberikan keteladanan dan menjadi fasilitator.

Dari hasil studi pendahuluan penulis pada Juni-Juli 2014 di beberapa SD di kota Bandung, dapat digambarkan bahwa penerapan pembel-

ajaran tematik tahun pelajaran 2014/2015 membuat guru dan kepala sekolah resah dan bingung karena pelatihan dan lokakarya untuk guru belum optimal dilaksanakan. Selain itu, pembagian buku tematik untuk siswa dan guru yang dikoordinasi oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah juga terlambat datang sehingga guru semakin gelisah dan seperti menanggung beban berat karena tidak biasa mengajar tanpa buku. Banyaknya isu di surat kabar atau media elektronik lainnya yang memberitakan Kurikulum 2013 sulit dilaksa- nakan membuat mental guru semakin menurun menyambut pembelajaran tematik di kurikulum baru ini.

Perumusan Masalah

Salah satu faktor penyebab belum optimalnya proses pembelajaran adalah kurangnya interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar di lingkungan belajar. Oleh karena itu, proses pembelajaran perlu dikemas fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar sehingga peserta didik termotivasi belajar. Pembelajaran Tematik Terpadu merupakan sebuah pembelajaran yang berazas pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) serta sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa di SD. Berdasarkan pembatasan latar belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Masalah apa yang muncul dalam implementasi pembelajaran tematik terpadu di SD di Jawa Barat?” Masalah tersebut dirinci sebagai berikut.

1. Masalah apa yang muncul dalam perenca-

naan pembelajaran tematik di SD?

2. Masalah apa yang muncul dalam pelak-

sanaan pembelajaran tematik di SD?

3. Masalah apa yang muncul dalam penilaian

pembelajaran tematik di SD?

Metode Penelitian

Penelitian ini bermaksud mengidentifikasi berbagai masalah dalam implementasi pembelajaran tematik di SD dengan menggambarkan keadaan guru SD yang menerapkan pembelajaran tematik SD di Jawa Barat. Dilihat dari tujuannya, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Sebanyak 25 SD dijadikan sampel yang dipilih secara random (Syaodih, 2005: 6) dengan rincian 7 di Bandung,

Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD

2 di Garut, 4 di Tasikmalaya, 2 di Karawang, 4 di Kuningan dan 6 di Cirebon. Guru SD kelas 1, 2 ,4, dan 5 berjumlah 100 orang dari 25 SD tersebut. Teknik pengumpulan data mengguna- kan wawancara, kuesioner, observasi, dan studi dokumentasi. Penelitian dilakukan Agustus- September 2014. Responden dalam penelitian adalah kepala sekolah, guru,dan siswa SD.

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 62-64)