Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar sebagai dasar pondasi untuk mengembangkan potensi diri dan persiapan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Oleh karena itu pendidikan dasar dalam penyelang- garaannya harus bermutu. Pendidikan bermutu menekankan pada produk dengan mengacu pada kurikulum untuk menghasilkan mutu lulusan yang baik selain itu menekankan pada proses dengan melihat karya dari siswa dan diinformasikan pada orang tua oleh guru yang mengajar (Mulyasa, 2011:16).
Dalam pelaksanaan pendidikan tersebut, kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil belajar yang diharapkan yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan atau perkembangan pribadi dan kompetensi sosial anak didik. (Nasution, 2011:5). Kurikulum 2013 yang baru saja bergulir di Indoensia
menggunakan bentuk kurikulum Integrated
Curriculum yang terbagi dalam 3 bentuk (Nasution, 2011: 67) yaitu: Core Curriculum
(meniadakan batasan mata pelajaran dan menyajikan pelajaran dalam bentuk unit secara keseluruhan), Social Curriculum (pelajaran didasarkan pada akivitas dalam masyarakat dan
kebudayaannya), dan Activity Curriculum
(pengalaman langsung dan minat lebih diutamakan dalam proses belajar). Indonesia tahun 2010 sudah melaksanakan pembelajaran tematik di kelas 1-3 SD sedangkan tahun 2014 menggunakan pembelajaran tematik untuk kelas 1-6 SD. Pembelajaran di SD dilaksanakan sesuai dengan Permendiknas No. 23/2007 dan Permendikbud No. 65/2013.
Pembelajaran adalah interaksi yang bernilai positif antara siswa dan guru bertujuan adanya perubahan ke arah peningkatan kemampuan siswa. Upaya untuk melakukan proses pematangan siswa yang dikembangkan dengan cara membebaskan siswa dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidak- benaran, ketidakjujuran, dan dari buruknya akhlak dan keimanan. Pembelajaran yang baik ialah jika dapat memberikan makna bagi siwa. Artinya, siswa dapat mengonstruksi penge- tahuan dan berusaha memahami pengalaman- nya sendiri. Siswa perlu dikondisikan untuk dapat melakukan pengembangan kognitif secara aktif jika memerhatikan informasi relevan yang datang, menata informasi ini di otak menjadi sebuah gambaran yang koheren, dan memadu- kan informasi tersebut dengan pengetahuan yang tersimpan di otak. Strategi pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran seperti bagaimana cara mengorganisasikan materi pelajaran, menyampaikan atau menggu- nakan metode pembelajaran, mengelola pembel- ajaran agar optimal selama proses pembelajaran. Pandangan Silberman (1996: 45) pembelajaran PAIKEM memiliki 3 karakteristik seperti: belajar hanya terjadi jika yang belajar terlibat secara intelektual dan emosional dengan kadar yang optimal, siswa mempunyai potensi yang dapat dikembangkan, dan guru berperan sebagai fasilitator yang bertugas untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif. PAIKEM adalah Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Beberapa pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PAIKEM antara lain adalah pembelajaran kontekstual, pembelajaran terpadu (Tematik, IPA Terpadu, IPS Terpadu), pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Pembelajaran Tematik di SD
Pembelajaran tematik menurut Kostelnik, et.al (1991:3) adalah sebagai berikut:
Using themes to organize instruction for young children has been popular since Dewey first proposed that curriculum to be related to real life experiences. In developing a theme, teachers select topics they believe to be relevant and of interest
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD
to children, then build an array of lessons around that central idea. Such activities usually cut across the curriculum and take place either simultaneously or within a relative condensed period of time.
Kutipan ini menjelaskan, pembelajaran tematik terjadi ketika sebuah peristiwa otentik dengan mengeksplorasi sebuah tema. Dalam mengembangkan tema dibutuhkan kemampuan guru untuk memilih topik yang relevan dan menarik bagi siswa untuk dijadikan ide sentral. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran dapat lintas kurikulum. Hal ini dikarenakan saat mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam lintas kurikulum di situlah siswa belajar mengembangkan konsep daripada fakta yang tidak terkait. Siswa akan belajar melalui konstruksi secara holistik ketika mereka belajar membaca, Matematika, Ilmu pengetahuan alam dan Ilmu Sosial. Melalui program belajar berbasis tema, siswa membang- un hubungan antara informasi satu dengan lainnya untuk membentuk konsep-konsep abstrak dan semakin kompleks.
Menurut Fogarty (1991:1), dengan memadukan aspek keterampilan, tema, konsep, dan topik dalam berbagai mata pelajaran akan terhubung ide satu dengan ide lainnya. Kurikulum memiliki 2 dimensi, dimensi vertikal menyerupai spiral untuk tiap jenjang atau kelas, sedangkan dimensi horizontal mewakili luas dan kedalaman dari pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Untuk jelasnya Fogarty mengatakan sebagai berikut.
Curriculum has 2 dimensions; the vertical represents the ’spiraling’ curricula built into most text materials as content is integrated and revisited through the K-12 grades; the horizontal band represents the breadth and depth of learning in a given subject. As different subjects are approached, explored, and learned within each discipline, a cumulative effect is anticipated. The finally, circle represents the integration of skills, themes, concepts, and topics across disciplines as similarities are noted. These explicit connections are used to enhance the warning in a holistic manner as students link ideas from one subject to ideas in another subject.
Pembelajaran tematik diajarkan pada siswa SD karena mereka masih melihat segala sesuatu
sebagai satu kesatuan utuh (holistik) perkembangan fisiknya tidak pernah dapat dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional. Sesuai dengan perkem- bangan fisik dan mental anak usia SD, pembelajaran pada tahap ini mempunyai ciri sebagai berikut: berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung pada anak, pemisahan bidang pengembangan tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai bidang pengembangan dalam suatu proses pembel- ajaran, bersifat fleksibel, hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai minat dan kebutuhan anak (Kostelnik, et.al. 1991: 17-20).
Tema dalam pembelajaran tematik berguna untuk membangun pengetahuan anak dan mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Dalam mengembangkan tema, yang harus diperhatikan adalah bagaimana membangun pengetahuan secara sistematik dan holistik (Sujiono,2009:212). Selanjutnya, menurut Kostelnik (1991:17-257), pengembangan tema didasarkan pada konsep pengetahuan seperti: (1) konsep sain, yang berhubungan dengan tanaman, hewan, tata surya, energi, dll; (2) konsep sosial, yang berhubungan dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan, kebutuhan pokok manusia, dll; (3). Konsep matematika, yang berhubungan dengan berhi- tung dan angka misalnya mengukur, belanja, dll; (4) bahasa dan seni, yang berhubungan dengan bercerita, sandiwara, opera, sajak, dll. Guru dapat memilih berbagai tema dan subtema berdasarkan kesanggupan dalam menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan menyelenggarakan kegiatan yang mendukung tema tersebut (Sujiono (2009: 212).
Collins dan Kostelnik berpendapat bahwa tema sebagai jembatan untuk menghubungkan berbagai konsep, keterampilan, serta sikap, dan aspek perkembangan siswa harus disesuaikan dengan kondisi/peristiwa yang sedang terjadi, minat, budaya, sumber belajar setempat, buku, film, kaset, orang, dan karyawisata , kurikulum sekolah, usia, dan kebutuhan siswa, harapan masyarakat secara holistik. Dalam memilih tema harus ada kerja sama antara guru dengan siswa agar kepentingan, minat, dan kebutuhan siswa dapat tercapai.
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD
Clarify ideas, as this often leads to questions to explore.
Find out what children know and what they would like to know
Decide focus or topic and understanding/values/knowledge/ attitudes
A suggested planning proforma is provided as a blackline master Decide on ways to explore focus questions and consider skills will need to do this
These should only be related to the focus Collect resources
Make any necessary forward plans, eg excursions, speakers, sending for material
Consider range of resources needed
Investigated by teacher, students or special event Stimulate interest in topic
Continue to refer to focus questions
Gambar 1: Tahapan Perencanaan Pembelajaran Tematik (Dixon dan Collin, 1991:13)
Selanjutnya ada 3 tahap yang perlu dilakukan dalam mendesain pembelajaran tematik seperti yang diungkapkan oleh UNESCO dan UNICEF (2006:170-171): melakukan pemetaan kurikulum, menyusun program unit (program semester) dan menyusun silabus harian/ skenario pembelajaran (silabus dan RPP). Dixon dan Collin (1997: 5) menyebutkan 8 tahap dalam penyusunan pembelajaran tematik dapat dilihat pada Gambar 1.
Tahapan pertama, pemetaan kurikulum dengan mencari dan mengumpulkan SKD dan KD untuk semua mata pelajaran yang akan ditemakan. Tahapan kedua, menyusun program tahunan/semester dan tentukan tema apa saja yang akan diajarkan. Tahapan ketiga, menyusun program unit atau matriks tematik dan jaring laba-laba sesuai dengan program semester yang dibuat; tahapan keempat, Menyusun program silabus dan RPP sesuai dengan program semester yang dibuat; tahapan kelima, Mereflek-
sikan kegiatan belajar mengajar yang sudah dilaksanakan untuk direvisi.
Salah satu komponen dalam menyusun RPP adalah assessment penilaian). Menurut Stiggin (1994: 67) sasaran pencapaian penilaian meliputi 5 aspek yaitu: pengetahuan, berpikir dan menyelesaikan masalah, keterampilan yang terkait, produk, dan gagasan (afektif).
Sejalan dengan pandangan Stiggin (2000:24) mengemukakan bahwa :
Assessment is important for planning curriculum, identifying special needs children, and communicating a child’s progress to parents. Assessment needs to be a continuous process. It involves a process of observing children during activities throughout the day, recording their behaviors, and documenting their work.
Dari penjelasan di atas maka penilaian untuk pembelajaran tematik tidak hanya ditekankan pada segi kognitif saja tetapi aspek lainnya seperti psikomotor dan afektif pun diperhatikan da- lam proses pem- belajaran berlang- sung. Artinya pro- ses dan produk keduanya diukur saat proses pem- belajaran berlang- sung dan dilaku- kan secara terus menerus. Meng- ukur pengetahuan jauh lebih mudah daripada meng- ukur keterampilan dan moral siswa
karena perlu
pengamatan yang terus menerus dari guru untuk meli- hat tingkat per- kembangannya. Gambar 2 adalah contoh alat peni- laian dan bentuk kegiatan yang dapat dilaksana- kan dalam pem- belajaran tematik
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD
sesuai Permendikbud 66 /2013.
Pembahasan
Mutu pendidikan akan maksimal jika dalam menjalankan organisasi terutama kepala sekolah dan guru selalu fokus kepada pelanggan (utama: siswa; kedua: orang tua, sponsor; ketiga: pemerintah dan masyarakat). Pelaksanaan kegiatan pembelajaran mengalami perbaikan dan perubahan secara terarah terus menerus. Mutu lulusan tidak saja dilihat dari segi pengetahuan tetapi sikap dan keterampilan yang nantinya tercermin dalam kehidupan sehari- hari. Muara dari kegiatan proses di sekolah terutama di kelas adalah kegiatan belajar mengajar dalam bentuk interaksi siswa dan guru (Mulyasa, 2012: 7).
Penerapan pembelajaran tematik sudah dilaksanakan di kelas 1-3 SD tahun 2010 hingga sekarang sesuai Permendiknas 23/2007 untuk kelas 1-3 SD. Pada pelaksa-naannya ada bera-
Penilaian Diri Observasi Penilaian Antar Teman Jurnal B-S, Menjodohkan Jawaban Singkat PG, Isian Uraian Teknik Sikap Tugas Tulisan Lisan Praktik Proyek Portofolio Keterampilan Pengetahuan
Gambar 2: Teknik Penilaian (Permendikbud No 66 Tahun 2013)
gam model tematik yang digunakan dan masih ada beberapa sekolah yang tidak melaksanakan pem- belajaran tematik karena belum siap. Sesuai Permendikbud 65/2013, pembelajar- an tematik terpadu merupakan salah satu pembelajaran yang cocok diterap- kan pada siswa SD kelas 1-6. Tahun 2014 pemerintah menca- nangkan, SD yang berakreditasi A dan B wajib melaksanakan pembelajaran tematik terpadu. Guru wajib mendapat pelatihan selama 1 minggu un- tuk mengenal, mema- hami, melaksanakan
mikro teaching yang dilaksanakan oleh gugus atau kecama- tan setempat berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat. Pemerintah memfasilitasi penyusunan buku bahan ajar tematik untuk siswa dan guru sehingga semua sekolah mempunyai persepsi yang sama terhadap model tematik yang digunakan. Peme-rintah Pusat membagibagikan buku tersebut melalui dana BOS ke sekolah yang terdaftar. Program pendampingan untuk guru dan kepala sekolah dilakukan oleh pengawas dari dinas untuk memberikan masukan dan saran agar kegiatan dapat dilakukan secara maksimal.
Berikut ini akan dibahas apa saja perma- salahan yang muncul saat diimplemen- tasikannya pembelajaran tematik di 25 sekolah dasar swasta dan negeri yang ada di Jawa Barat. Dalam pembahasannya di bagi dalam 3 tahap yaitu permasalahan yang muncul pada tahap persiapan, pelaksanaan dan penilaian.
Dari hasil observasi, kuesioner dan doku- mentasi di 25 SD di Jawa Barat, guru memper- siapkan segala sesuatunya yang berkaitan
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD Tabel 1: Hasil Observasi, Kuesioner dan Dokumentasi
Tahap Perencanaan Tematik 25 SD di Jawa Barat No Nama Sekolah
Dasar dan Kota
Kuesioner Observasi Dokumentasi
1 Tri - Bandung Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal.
Guru kelas 4 dan 5 masih banyak bertanya kepada teman untuk susun RPP
Kartu soal dan bank soal tidak ada
2 P - Bandung Format penilaian disusun guru bersama teman
Guru kelas 5 bertanya kepada guru kelas 4 yang sudah pernah melakukan tematik untuk susun RPP
Dibuat semua karena pada kurikulum KTSP sudah buat
3 Fp - Bandung Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru mencopy paste dari teman
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 4 Al - Bandung Guru sulit buat RPP.
Format penilaian disusun oleh tim guru
Guru kelas 4 dan 5 masih bingung memadukan konsep
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 5 AK - Bandung Guru terbebani buat
RPP yang panjang
Guru mencopy paste dari teman
Dibuat semua karena pada kurikulum KTSP sudah buat
6 S - Bandung Guru sulit buat RPP dan format penilaian
Guru tidak antusias dan merasa terbebani
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
7 AR - Bandung Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru tidak antusias dan merasa terbebani
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 8 SR - Garut Guru sulit buat RPP
dan format penilaian
Guru menyediakan angklung dan nyayian sunda
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 9 AY - Garut Guru sulit buat RPP,
format penilaian, analisis soal
Guru kelas 4 dan 5 masih banyak bertanya kepada teman
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 10 C 1 - Tasik Guru sulit buat RPP
dan format penilaian
Guru kelas 4 dan 5 masih banyak bertanya kepada teman untuk susun RPP
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
11 C 2 - Tasik Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru mencopy paste dari bahan jadi
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 12 ST - Tasik Guru sulit buat RPP,
format penilaian, analisis soal
Guru mencopy paste dari teman
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
13 Y - Tasik Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru tidak antusias dan merasa terbebani
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD
No Nama Sekolah Dasar dan Kota
Kuesioner Observasi Dokumentasi
14 YS - Kerawang Guru sulit buat RPP dan format penilaian
Guru sulit buat RPP dan format penilaian
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 15 GD- Kerawang Guru sulit buat RPP,
format penilaian, analisis soal
Guru menyediakan angklung dan nyayian sunda
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
16 To- Kuningan Guru sulit buat RPP dan format penilaian
Guru sulit memadukan konsep untuk kelas 4 dan 5
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 17 Cil- Kuningan Guru sulit buat RPP,
format penilaian, analisis soal
Guru tidak antusias dan merasa terbebani
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 18 DS- Kuningan Guru sulit buat RPP,
format penilaian, analisis soal
Guru mencopy paste dari bahan jadi
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
19 AS- Kuningan Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru kelas 4 dan 5 masih banyak bertanya kepada teman
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 20 PN- Cirebon Guru sulit buat RPP.
Format penilaian disusun sendiri oleh tim guru
Guru menyediakan angklung dan nyayian Sunda
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
21 Pen- Cirebon Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru menyediakan angklung dan nyayian sunda
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
22 SM- Cirebon Guru sulit buat RPP dan format penilaian
Guru tidak antusias dan merasa terbebani
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 23 Ks- Cirebon Guru sulit buat RPP
dan format penilaian
Guru menyediakan angklung dan nyayian sunda
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
24 P - Cirebon Guru sulit buat RPP, format penilaian, analisis soal
Guru menyediakan angklung dan nyayian sunda
Analisis soal, kartu soal, kisi soal, dan bank soal tidak ada 25 KS - Cirebon Guru sulit buat RPP
dan format penilaian
Guru kelas 4 dan 5 masih banyak bertanya kepada teman untuk susun RPP
Analisis soal, kartu soal dan bank soal tidak ada
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD Rotasi 10% Kelas 4-5 25% Kaku dan dangkal 47% Karakter 18% Guru SD
Gambar 3: Keterampilan Guru Mengajar dalam Pelaksanaan Tematik
dengan pembelajaran tematik seperti menyusun RPP termasuk format penilaian sikap, kartu soal, bank soal, analisis soal, silabus, dan kisi-kisi soal ulangan. Data itu dapat dilihat pada Tabel 1.
Tahap perencanaan mengajar merupakan kunci utama agar kegiatan yang dilaksanakan sesuai tujuan pembelajaran. Namun muncul beberapa masalah. Pertama, kesulitan guru ketika mempersiapkan tema atau sub tema yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan dan sekolah. Perbedaan kultur dan kondisi dari tiap sekolah yang berada di Jawa Barat relatif berbeda, sehingga ada beberapa kegiatan yang ada pada buku tematik tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Misalnya dibahas dalam buku kesenian alat dari Bandung yaitu angklung sedangkan di Cirebon keseniannya adalah
tarling. Guru belum terbiasa kreatif dan inovatif mengembangkan tema atau sub tema, serta cenderung kaku melakukan perubahan karena terbiasa dengan instruksi. Hal tersebut berdampak kepada siswa dan orang tua yang bingung karena kurikulum baru ini.
Kedua, administrasi yang dibebankan pada guru dianggap terlalu banyak dan membingungkan karena ada beberapa guru yang belum mengenalnya seperti menganalisis soal, membuat kartu soal dan membuat bank soal. Selain itu, menuliskan rencana kegiatan secara detail pada RPP menjadi beban guru karena dianggap membutuhkan waktu lebih panjang. Belum terbiasanya guru mengungkapkan pikiran melalui menulis merupakan kunci kesulitannya menyusun RPP. Oleh karena itu, guru berdiskusi dengan teman yang separalel
atau teman sejawat. Ada guru yang men-copy
paste dari teman atau membeli RPP yang sudah jadi. Namun, ada beberapa sekolah yang sudah menerapkan format RPP seperti yang dicanangkan oleh pemerintah sehingga mereka tidak terlalu mengalami kesulitan. Sekitar 80% SD melakukan keberagaman administrasi yang diminta dari pihak sekolah atau dinas.
Ketiga, hampir 90% sekolah yang baru mengenal dan melaksanakan penilaian autentik sehingga untuk merencanakan bagaimana format penilaian proses guru masih bingung. Beberapa guru yang latar belakangnya bukan dari keguruan mengalami kesulitan untuk memahami konsep penilaian proses dan produk,
karena yang diketahuinya adalah penilaian produk pun terbatas pada penilaian tertulis ulangan saja. Guru dengan latar keguruan tapi sudah berusia lanjut mengalami kesulitan untuk memahami penilaian autentik secara tertulis. Ada sekolah yang mempunyai inisiatif sendiri untuk menyusun format penilaian autentik sendiri karena dianggap paling tepat untuk kebutuhan siswanya.
Hasil observasi, kuesioner dan studi dokumentasi di 25 SD di Jawa Barat menunjukkan antara lain, ketika guru melaksanakan pembelajaran tematik timbul permasalahan pada aspek keterampilan guru mengajar, latar belakang pendidikan, metode mengajar, dan media pembelajaran akan diuraikan satu persatu pada Gambar 3.
Dari gambar 1 dapat diuraikan bahwa permasalahan yang muncul pada tahap pelaksanaan adalah rotasi guru dari kelas tinggi (4-6) menjadi guru kelas rendah (1-3). Karakteristik anak usia kelas rendah berbeda dengan karakteristik anak usia kelas tinggi, sehingga saat mengajar suasana kelas akan berbeda. Bagaimana mengelola kelas, mengelola siswa, dan mengelola kegiatan belajar mengajarpun berbeda. Kesulitan guru saat menyanyi atau menari dan mengajarkan baca tulis permulaan menjadi kesulitan utama saat tahun ajaran dimulai. 10 % guru mengajar siswa kelas rendah dianggap seperti siswa kelas tinggi duduk manis, mendengarkan dan berusaha untuk mencatat. Padahal siswa kelas rendah belum bisa membaca, menulis dan berhitung
Permasalahan Penerapan Pembelajaran Tematik di SD Pendidikan Guru SD, 32% Pendidikan Guru SD, 18% Pendidikan Guru SD, 39% Pendidikan Guru SD, 11% Pendidikan Guru SD
Gambar 4: Latar Belakang Pendidikan Guru SD dalam Pelaksanaan Tematik
(calistung) dengan baik. Guru menjadi resah dan pesimis dan siswanya juga tidak antuasias untuk belaja,r malah cenderung takut ke sekolah. Padahal usia siswa kelas 1 dan 2 ada pada masa
golden age untuk mengembangkan dan menggali potensi dirinya.
Permasalahan lain pada pengenalan dan pembiasaan karakter masih dirasakan kurang untuk beberapa SD. Hal ini terlihat 18% guru