• Tidak ada hasil yang ditemukan

mail: [email protected] Universitas Negeri Jakarta

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 50-52)

Tinjauan Pustaka

E- mail: [email protected] Universitas Negeri Jakarta

Penelitian

D

Abstrak

alam abad 21 ini laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat

cepat dan banyak dimanfaatkan sebagai sumber belajar untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keterampilan di pendidikan formal dan non formal. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bagaimana pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan yang diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 2013, menggunakan TIK dalam menulis naskahnya. Penelitian deskriptif ini dilakukan Oktober sampai dengan Desember 2013 di Puskurbuk dengan menggunakan metode survei dan diperdalam dengan wawancara kepada pemenang Sayembara. Data diolah dengan menggunakan statistik sederhana dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan pemenang Sayembara pada umumnya belum menggunakan TIK sebagai sumber informasi memperluas wawasannya. Mengingat pentingnya TIK sebagai sumber informasi dan sumber belajar, penelitian ini menyarankan agar dalam pelatihan/penataran pendidik dan tenaga kependidikan diberikan keterampilan menggunakan TIK dan memotivasi mereka belajar mandiri untuk meningkatkan profesionalismenya.

Kata-kata kunci: Sayembara, buku pengayaan, teknologi informasi dan komunikasi, sumber belajar

Usage of Implementation and Communication Technologi to Improve the Ability to Write Manuscript

Abstract

In the 21st century, information and communication technology (ICT) is developing tremendously fast and

used a lot as learning resources to facilitate learning in formal and non-formal education. This research aimed at describing how the winners of supplementary textbook writing competition conducted by The Center for Curriculum and Book Development of Ministry of Education and Culture in 2013, benefitted ICT to improve their performance. The descriptive research was carried out as from October through December 2013. The data collected using questionair and interviewing the winners as the respondent, were analyzed qualitatively. This research concludes the winners have low use of ICT as a learning resource to broaden their knowledge and develop their skills. Based on the research finding, it is recommended that in the teachers’ trainings, the teachers should be encouraged to use ICT to improve their professional competence.

Keywords: writing competition, supplementary textbook, information and communication technology, learning resources.

Keywords: Writing competition, supplementary textbook, information and communication technology, learning resources.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Pendahuluan

Di era teknologi informasi dan komunikasi (TIK) abad ke-21 ini, berbagai informasi dapat diperoleh dengan cepat dan mudah. Informasi itu tersedia dan terbuka untuk umum dengan mempergunakan berbagai produk teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan belajar dewasa ini banyak dipengaruhi oleh keteram- pilan dan kecepatan seseorang menggunakan TIK, yang antara lain adalah internet. Begitu melimpahnya informasi dalam berbagai bidang dan untuk berbagai keperluan yang dapat diperoleh di internet, sehingga dapat dikatakan bahwa informasi itu kini berada pada ujung jari. Persoalannya sekarang, sejauh mana seseorang melek teknologi informasi serta cekatan memakai ujung jarinya mengklik tombol pencari dan penemu informasi serta mampu memilah, memilih, serta menggunakan informasi itu sebagai pengetahuan.

Sebagaimana teknologi pada umumnya, TIK juga berkembang cepat dan semakin canggih. Kalau ilmu pengetahuan berkembang dua kali lipat dalam dua sampai tiga tahun (Marquard, 2002: xiii), teknologi berkembang hampir setiap tiga bulan dan hampir setiap hari muncul produk teknologi baru yang kemampuan dan kecang- gihannya terus menerus semakin tinggi (Walker, 1988: 12). Kalau perkembangan yang demikian sudah terjadi pada dekade akhir abad ke 20, dalam abad ke 21 ini tentu teknologi berkembang lebih cepat dan lebih canggih lagi. Mening- katnya kemampuan dan kecanggihan TIK membuat jenis dan jumlah informasi yang diproses dan dikomunikasikan semakin banyak dan semakin cepat. TIK juga membuat batas ruang komunikasi semakin luas dan terbuka sehingga memberikan pengaruh yang berarti terhadap ekonomi, politik, budaya, dan keamanan setiap negara di dunia.

Perkembangan pesat TIK seperti yang diperkirakan oleh Raymond S (1988: 2-8) lebih dari 2 (dua) dekade lalu, dewasa ini telah menjadi kenyataan dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Perkembangan yang sangat berpengaruh terhadap cara orang berpikir dan bekerja itu antara lain ialah (a) kecepatan alat menghitung dan memperoses informasi dengan ukuran alat yang semakin kecil dan mengguna-

kan semakin sedikit sumber daya/listrik serta dengan harga semakin murah; (b) sistem

komputer yang menggunakan multi processor

architecture semakin bekembang; (c) terminal nirkabel dipergunakan untuk mengakses jaringan komputer; (d) berbagai perangkat lunak berkembang untuk memenuhi berbagai kebutuh- an termasuk untuk pendidikan; (e) berkembang- nya perangkat lunak memperkaya teks konven- sional dengan grafik dinamis, gambar, dan animasi; (f) fasilitas multimedia dapat mengin- tegrasikan teks, gambar, dan suara; (g) penggu- naan bahasa berorientasi kepada pemakai sehingga dapat mengoperasi-kannya dengan mudah tanpa pelatihan khusus; (h) pelayanan informasi berbasis komputer untuk berbagai keperluan; dan (i) peralatan semakin canggih dan berkemampuan tinggi untuk berinteraksi dengan pangkalan data yang semakin luas.

Dalam dua dekade akhir abad ke 20, laju perkembangan teknologi sangat cepat dan gadget

baru muncul terus menerus termasuk telepon seluler, TV kabel, website, IM, iPod, Blogs, MySpace, Facebook, dan Youtube. TIK semakin merambah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Generasi yang lahir tahun 1980-an sampai 1990- an disebut Generasi Net (Net berasal dari kata Internet), karena generasi ini memiliki kebiasaan menggunakan internet sebagai media informasi dan komunikasi. Sedangkan generasi yang lahir sesudah tahun 1990-an disebut generasi-i atau

iGeneration (berasal dari kata “i” dalam iphone, ipod, ipad dan lain-lain). Generasi ini lahir dan tumbuh di lingkungan perkembangan berbagai jenis teknologi.

Kemajuan TIK juga mempengaruhi proses pendidikan pada umumnya, pembelajaran pada khususnya. Guru yang tidak tanggap dan tidak terampil menggunakan internet akan ketinggal- an informasi tentang berbagai perkembangan dan kemajuan di dunia. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, peserta didiknya yang rajin men- jelajahi internet memiliki lebih banyak pengeta- huan dalam hal tertentu. Di samping itu, pembel- ajaran yang dilakukan guru sama sekali tanpa memanfaatkan kemajuan TIK dan tetap memper- tahankan sumber belajar tradisional, akan membosankan dan melelahkan peserta didik sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi digital native. Generasi-i lahir di lingkungan

peralatan teknologi dan dari waktu ke waktu mendapat dan menggunakan berbagai jenis teknologi baru. Mereka menghabiskan banyak waktu dengan bermain, berkomunikasi, dan belajar menggunakan media elektronik. Mereka lihai melakukan multitasking, menggunakan media sosial dan media elektronik, serta hidup dalam jaringan sosial seperti Facebook, My Space,

dan Second Life. Kehidupan yang demikian membuat mereka lebih senang menyendiri, sibuk dengan telepon genggamnya ngobrol dengan temannya atau saling mengirim pesan singkat (texting), sambil bersilancar di internet. Akibatnya, lambat laun mereka membenci sekolah jika sekolah tidak menggunakan TIK semaju mereka. Dengan proses pembelajaran yang tradisional di

sekolah, mereka me- rasa bosan (Rosen, 2010: 3).

Ilustrasi seperti yang diuraikan di atas, menuntut guru mengikuti perkem- bangan TIK serta menggunakannya tidak semata-mata

menjadi media

sosial, tetapi terutama untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesionalnya. Terampil menggu- nakan TIK berarti tahu bagaimana cara dengan mudah, cepat, dan tepat mendapatkan informasi yang diperlukan. Apabila memiliki kemampuan yang demikian, guru tidak akan mengalami ketergantungan pada orang lain dalam meningkatkan pengetahuannya dan prinsip belajar sepanjang hayat dapat dilakukannya secara mandiri.

Sungguhpun TIK maju pesat dan dapat dipergunakan sebagai sumber informasi, media cetak seperti buku masih diandalkan sebagai salah satu sumber belajar. Penggunaan buku sangat praktis serta harganya relatif murah. Akan tetapi, ternyata jumlah dan jenis buku baru yang terbit di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Dalam tahun 2010 jumlah buku baru yang diterbitkan tidak termasuk buku

terjemahan dan cetak ulang hanya berkisar 10.000 judul. Masing-masing judul dicetak dengan tiras rata-rata sekitar 3.000 eksemplar. Jumlah itu diperkirakan tidak banyak berubah sampai tahun 2013. Dengan demikian, diperkirakan jumlah buku baru berkisar 30 juta eksemplar. Sementara itu penduduk Indonesia yang memiliki kemampuan membaca diperkira- kan mencapai 60 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 140 juta orang. Dengan perhitungan yang demikian maka rasio buku baru terhadap penduduk Indonesia yang melek baca hanya 0,21 atau satu buku untuk 5 orang. Sedikitnya jumlah buku terbitan baru di Indonesia juga terlihat pada koleksi perpusta- kaan sekolah dan perpustakaan umum yang kekurangan buku terbitan baru hasil penerbit

Indonesia. Di samping jumlahnya ma- sih kurang, mutu buku juga belum sebaik yang dike- hendaki khu- susnya untuk keperluan pendi- dikan. Hal ini terlihat dari kebi- jakan pemerin- tah yang sejak tahun 1980 sampai sekarang ini menilai buku yang sasarannya sekolah, baik sebagai buku teks pelajaran maupun sebagai buku pengayaan. Dari hasil penilaian yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, setiap tahun tidak sampai 50% buku non-teks (buku untuk perpustakaan) dinyatakan memenuhi syarat. Sedangkan hasil penilaian untuk buku teks pelajaran sejak tahun 1995 menunjukkan, belum pernah ada buku yang dapat langsung dipakai di sekolah tanpa perbaikan.

Untuk mendorong penulisan buku pelajaran, setiap tahun Pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (yang sekarang bernama Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah) menyeleng- garakan Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan sejak tahun 1989. Pada awalnya Sayembara ini diadakan untuk mendorong kalangan pendidik dan tenaga kependidikan

Dari hasil penilaian yang dilakukan

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 50-52)