• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurikulum 2013 dan Filsafat Pendidikan

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 92-96)

Dalam inti sari pembahasan di sini, penulis akan menelaah secara mendalam berbagai filosofi Kurikulum 2013 yang dikaitkan dengan berbagai aliran filsafat pendidikan. Namun sebelum sampai pada titik pembahasan, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan filosofi.

Filosofi dapat diartikan sebagai sebuah pemikiran yang paling dalam yang mendasari suatu keputusan untuk dijalankan. Definisi lain menyebutkan, filosofi adalah persoalan-

persoalan yang paling mendasar yang harus diselesaikan dalam upaya mencapai tujuan yang lebih besar. Dalam konteks pendidikan Nasional, filosofi di sini secara normatif diartikan sebagai rumusan-rumusan fundamental berkaitan dengan konsep dan pelaksanaan pendidikan dalam bingkai Kurikulum 2013 yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Adapun landasan filosofi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. (1) pendidikan berakar pada budaya bangsa, kehidupan masa kini dan membangun landasan kehidupan masa depan; (2) pendidikan adalah proses pewarisan dan pengembang budaya; (3) pendidikan memberi- kan dasar bagi peserta didik untuk berpartisi- pasi dalam membangun kehidupan masa kini; (4) pendidikan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik; (5) pendidikan adalah proses ngembangan jati diri peserta didik; dan (6) Pendidikan menempatkan peserta didik sebagai subjek yang belajar.

Pendidikan berakar pada budaya bangsa, kehidupan masa kini dan membangun landas- an kehidupan masa depan

Filosofi ini merujuk pada pandangan filsafat pendidikan naturalisme dan materialisme terhadap pendidikan. Pandangan yang sangat mendasar dari filsafat pendidikan naturalisme yang dikemukan oleh salah satu tokohnya bernama Frobel adalah, pendidikan lebih dari sekedar persiapan kehidupan di masa mendatang bagi peserta didik. Artinya, manakala peserta didik mampu hidup mandiri akibat dari sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ia peroleh selama menyenyam pendidikan (bekerja); ia tidak hanya fokus bagaimama memenuhi kebutuhan hidupnya; melainkan ia tetap terpanggil untuk memberi warna kehidup- an di lingkungan sekitar dan kehadir-annya bermakna serta berguna bagi sesama.

Sedangkan pendapat filsafat pendidikan materialisme lebih menyoroti siapakah peserta didik itu. Mereka adalah manusia yang merupa- kan bagian dari alam dan berwujud zat yang terdiri atas darah, daging, dan tulang. Peserta didik beraktivitas dengan mengandalkan organ tubuhnya. Berdasarkan aliran filsafat maka pro- ses pendidikan harus memberi pengalaman bel-

Kurikulum 2013 dalam Perspektif Filsafat Pendidikan

ajar yang riil seperti praktik, unjuk kerja, perfor- mance, untuk melatih dimensi psikomotorik.

Pendidikan adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya

Rumusan folosofi ini berlandaskan pada pandangan filsafat pendidikan esensialisme. Filsafat ini menyatakan pendidikan harus harus berpijak pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama dan teruji, seperti kejujuran, religius, hormat-menghormati, saling menghargai, kedisiplinan, solidaritas, toleransi, gotong royong, integritas. Menurut William T. Harris, dalam Jalaluddin (1997:38), tugas pendidikan adalah mengarahkan terbukanya realitas, dan sekolah merupakan institusi yang memelihara dan mewariskan nilai-nilai luhur yang turun menurun serta menjadi penuntun bagi sesorang untuk menyesuaikan diri pada masyarakat.

Dalam perspektif ini, maka menjadi relevan ketika guru setiap kali menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP} diwajibkan untuk mencantumkan sejumlah nilai-nilai yang akan diwujudkan dalam pembelajaran. Nilai-nilai seperti kejujuran, saling menghargai perbedaan, tanggung jawab, kerja sama diharapkan melekat pada diri peserta didik yang tercermin dalam aktifitas pendidikan.

Pendidikan memberikan dasar bagi peserta didik untuk berpartisipasi dalam membangun kehidupan masa kini

Landasan filosofi ini adalah filsafat pendidikan

materialisme. Filsafat ini berpandangan, tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kemampuannya untuk bertanggung jawab dalam hidup sosial dan pribadi. Dalam konteks ini, maka jelas sekali bahwa eksistensi Kuriku- lum 2013 dengan berbagai perubahan dan penambahan dalam berbagai aspek bermaksud untuk mewujudkan apa yang dinyatakan oleh filsafat pendidikan materialisme.

Filosofi penyusunan Kurikulum 2013 dan aliran filsafat pendidikan di atas juga sejalan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 3 menyatakan: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdas- kan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang- nya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Rumusan ini bukan hanya berorientasi pada dimensi waktu kekinian, melainkan masa depan. Melalui pendidikan peserta didik dipersiapkan agar kelak sanggup dan mampu berpartisipasi dalam membangun kehidupan masa kini dan juga masa mendatang. Baik kehidupan yang berkaitan dengan kepentingan pribadi maupun sosial dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pendidikan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik

Landasan filosifi ini adalah filsafat pendidikan

eksitensialisme dan progresivisme. Beberapa pandangan penting dan relevan dari filsafat pendidikan eksistensialisme terhadap pendi- dikan di antaranya adalah: (1) praktik pendi- dikan harus sanggup mendorong individu mengembangkan semua potensi untuk peme- nuhan diri; dan (2) kurikulum yang diberikan kepada peserta didik harus memberikan ruang kebebasan individual, namun guru harus mam- pu membimbing dan mengarahkan peserta didik. Sedangkan pandangan aliran filsafat pendidikan progresivisme terhadap pendidikan di antaranya adalah: (1) pendidikan harus berpusat pada anak bukan pada guru atau muatan mata pelajaran; dan (2) pendidikan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktifitas, belajar dari dunia nyata dan pengalaman dari teman sebaya; (3) belajar berfungsi untuk mempertinggi arah kehidupan sosial;(4) kurikulum yang baik adalah kurikulum eksperimental, kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan/fleksibel; (5) Peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat orang lain (Djumransyah, 2006:41); (6) menghendaki mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, bukan mata pelajaran yang terpisah; dan 7) metode pembelajaran yang diutamakan adalah problem solving.

Kurikulum 2013 dalam Perspektif Filsafat Pendidikan

Aliran filsafat pendidikan progresivisme telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik dalam praktik pendidikan. Filsafat pendidikan progresivisme menentang praktik pendidikan yang otoriter. Oleh karena itu, guru harus mampu memberikan pengalaman belajar yang partisipatif, dialogis, interaktif, dan komunikatif.

Pendidikan adalah proses pengembangan jati diri peserta didik

Landasan filosofi ini adalah aliran filsafat pendidikan pherenialisme. Pherenialisme atau

perennial berarti abadi. Aliran ini mengehendaki supaya proses pendidikan membekali peserta didik dengan nilai-nilai kehidupan yang luhur guna menghadapi situasi dunia yang menurut

pandangannya penuh kekacauan,

ketidakpastian, dan ketidakteraturan; terutama dalam kehidupan moral, intelekual, sosio- kultural. Pendidikan harus lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Dengan kata lain, pendidikan merupakan proses mengembalikan keadaan manusia sekarang ke dalam kebudayaan ideal.

Menurut George R. Knight (2007:21), tuntutan tertinggi dalam belajar menurut pherenialisme, adalah latihan dan disiplin mental. Kebebasan berpikir hendaknya membantu manusia menjadi dirinya sendiri

(essential self) yang membedakannya dari makhluk yang lain. Mengedepankan learning to reason (belajar untuk berpikir). Perlu adanya penanaman pembiasaan pada diri anak sejak dini dengan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah bukan merupakan situasi kehidupan yang nyata. Sekolah bagi anak merupakan miniatur kehidupan dimana peserta didik bersentuhan dengan hasil yang terbaik dari warisan sosial budaya peradaban manusia.

Pendidikan menempatkan peserta didik seba- gai subjek yang belajar

Landasan filosifi ini adalah filsafat pendidikan

progresivisme. Seperti sudah dikemukakan di depan salah satu pandangan mendasar dari aliran ini adalah, pendidikan harus berpusat pada peserta didik bukan pada guru atau muatan mata pelajaran. Pendekatan ini ingin

menempatkan peserta didik sebagai pelaku utama proses pendidikan, pendidikan ingin memanusiakan manusia sebagaimana ia adalah citra Allah yang kemuliaannya harus dijaga.

Pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik menjadi pilihan yang tepat untuk merealisasikan perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu).

Kesimpulan

Dari berbagai uraian di atas, beberapa hal yang menjadi pokokpikiran dalam artikel ini.

1. Eksistensi sebuah kurikulum di dalam suatu

sistem pendidikan nasional di berbagai negara, termasuk Indonesia selalu berlandasakan pada filosofi tertentu. 2. Antara filsafat, filsafat pendidikan, dan

praktik pendidikan memiliki hubungan yang erat. Filsafat mempengaruhi cara pandang berbagai aliran filsafat pendidikan, dan berbagai aliran filsafat pendidikan mempengaruhi praktik pendidikan. Atau sebaliknya, praktik pendidikan dipengaruhi berbagai aliran filsafat pendidikan, dan berbagai aliran

filsafat pendidikan dipengaruhi

pandangan filsafat.

3. Penyusunan Kurikulum 2013 dilandasi atas

berbagai filosofi, yaitu: (1) pendidikan berakar pada budaya bangsa, kehidupan masa kini dan membangun landasan kehidupan masa depan; (2) pendidikan adalah proses pewarisan dan pengembang budaya; (3) pendidikan memberikan dasar bagi peserta didik untuk berpartisipasi dalam membangun kehidupan masa kini; (4) pendidikan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik; (5) Pendidikan adalah proses pengembangan jati diri peserta didik; dan (6) pendidikan menempatkan peserta didik sebagai subjek yang belajar.

4. Keenam landasan filosofi Kurikulum 2013

tersebut dipengaruhi oleh berbagai aliran filsafat pendidikan, seperti filsafat pendidikan materialisme, naturalisme, progresivisme, eksistensialisme, esensial- isme, pherenialisme.

Kurikulum 2013 dalam Perspektif Filsafat Pendidikan

Daftar Pustaka

Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Filsafat bahasa dan pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Barnadib, Imam. 1986. Filsafat pendidikan, suatu tinjauan. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta

Barnadib, Imam. 1987. Filsafat pendidikan: Sistem dan metode. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta

Depdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Depdiknas

Djumransyah. 2006. Filsafat pendidikan. Malang: Bayumedia

Henson, Kenneth T. (2001). Curricculum planning: Integrating multiculturalism, construction and education reform. New York: McGraw Hill

http://rositaoktavianirusma.blog.com/2009/ 11/07/sejarah-kurikulum-indonesia/ Jalaluddin & Abdullah Idi. 2007. Filsafat

pendidikan: Manusia, filsafat, dan pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media

Knight, George. 2007. Issues and alternatives in educational philosophy. Mahmud Arif (Penj.), Yogyakarta: Gama Media More, Kenneth D. 2005. Effective instructional

strategies; From theory to practice. London: SAGE Publications

Olivia, Peter. 1982. Developing the curriculum. Boston: Little Brown and Company. Simanjuntak, Junihot. 2013. Filsafat pendidikan

dan pendidikan Kristen. Yogyakarta: PT Andi Offset.

Suhartono, Suparlan. 2007. Filsafat pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media

Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Tyler, Ralp W. 1949. Basic principle of curriculum and instruction. Chicago: The University of Chicago Press

Uji Publik Kurikulum 2013

(http:www.kemendikbud.go.id)

Zais, Robert S. (1976). Curriculum: Principles and foundations. New York: Harper and Row, Publisher

Relasi Dialogal Antara Nilai Kepemimpinan Dengan Nilai Pendidikan

Relasi Dialogal Antara Nilai Kepemimpinan Dengan Nilai

Pendidikan Dalam Konteks Kemasyarakatan:

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 92-96)