memungkinkan terjadinya proses komunikasi yang bersifat global dari dan ke seluruh penjuru dunia sehingga batas wilayah suatu negara sekalipun menjadi tiada dan memungkinkan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang disebut distance learning. Melalui pemanfaatan TIK, siapa saja dapat memperoleh layanan pendidikan dan institusi pendidikan mana saja, dimana saja, dan kapan saja dikehendaki. Secara khusus, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran dipercaya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan keterampilan siswa dalam memperluas akses terhadap sumber-sumber belajar, menjawab tuntutan “ICT Literate” (melek teknologi informasi dan komunikasi), mengurangi biaya pendidikan,
Kehadiran TIK dalam dunia
pendidikan bukan saja sebagai
mata pelajaran tetapi lebih dari itu
telah melebur dalam semua mata
pelajaran yakni dengan
memanfaatkan TIK dalam kegiatan
Pembelajaran dengan Kelas Maya
dan meningkatkan rasio biaya manfaat dalam pendidikan.
Sejalan dengan hal di atas, bahwa dalam pembelajaran digital siswa dapat belajar di mana saja dan kapan saja sesuai yang diinginkan. Materi pelajaran dalam bentuk digital dapat diunduh (download)dan diunggah (upload) via internet. Aktivitas pembelajaran didukung oleh telekonferensi berbasis internet, sehingga guru dapat menjawab pertanyaan siswa, mendiskusikan materi dan membantu memecahkan permasalahan tanpa harus datang ke sekolah.
Dalam kenyataannya, pembelajaran dengan kelas maya belum bisa menggantikan peranan kelas tradisional (tatap muka) yang mempunyai keunggulan dapat mewadahi terjadinya interaksi antar individu satu dengan yang lain,
sehingga terjadilah proses benchmarking,
terjadinya kompetisi, yang akhirnya terjadilah transformasi tidak hanya pada pengetahuan melainkan juga mental pribadi siswa itu sendiri.
Menurut Jalaludin Rakhmat dalam
biskom.web.id (2014 : 1), Indonesia harus sudah menyelenggarakan sistem pembelajaran menggunakan teknologi informasi ini. Sebab saat ini manusia tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Banyak keunggulan yang diraih dengan menggunakan metode pembelajaran model ini. Apalagi keahlian dalam pembelajaran digital harus memadukan antara kreativitas, komunikasi, dan berpikir kritis.
Menurut Jalaludin Rakhmat dalam biskom.web.id (2014 : 1) karakteristik pembelajaran kelas maya adalah (1) peserta didik sering memegang kendali, mereka tidak suka belajar di sekolah, tapi mereka lebih suka belajar di mana saja dengan menggunakan perangkat digital, (2) mereka senang pilihan, misalnya dalam mengerjakan tugas mereka lebih senang menggunakan teknologi, (3) mereka bekerja secara sosial dan berorientasi pada kelompok, rata-rata mereka bekerja dalam jejaring sosial dan sangat berkolaboratif.
Jenis-Jenis Pengelolaan Kelas Maya
Menurut Priowirjanto dan team (2013 : 10), pengelolaan kelas maya dapat dilakukan menggunakan berbagai aplikasi antara lain sebagai berikut:
1. Learning Management System (LMS)
LMS adalah salah satu aplikasi perangkat lunak untuk perencanaan, pengiriman, dan pengelolaan kegiatan dalam sebuah organisasi pembelajaran, termasuk pembelajaran daring (online), ruang kelas virtual, dan program instruktur yang terpimpin. Contoh dari LMS antara lain; Moodle, Dokeos, dan aTutor.
2. Learning Content Management System (LCMS) LCMS merupakan pengembangan lebih lanjut dari LMS. LCMS adalah sebuah aplikasi perangkat lunak untuk mengelola konten pembelajaran dalam berbagai bidang pelatihan dan pengembangan. LCMS tidak hanya dapat membuat, mengelola, dan memberikan modul pelatihan saja, tetapi juga mengelola dan menyunting semua bagian yang membentuk sebuah katalog pelatihan. Aplikasi LCMS memungkinkan pengguna membuat, mengimpor, mengelola, mencari, dan menggunakan kembali unit kecil dari konten pembelajaran digital dan aset, yang sering pula disebut sebagai objek pembelajaran. Aset ini dapat mencakup file media yang
dikembangkan dalam penilaian item,
simulasi, teks, gambar atau benda lain yang membentuk konten dalam kursus tersebut diciptakan. Contoh LCMS antara lain;
Claroline, dan e-doceo solutions.
3. Social Learning Network (SLN)
SLN adalah jejaring sosial untuk pembelajaran yang terjadi pada skala yang lebih luas daripada kelompok belajar. Mengingat skala sosialnya yang lebih besar, media ini bagi sebagian peserta dapat menyebabkan pengubahan sikap dan perilaku, sedangkan bagi sebagian lain tidak menimbulkan dampak apa-apa. Penggunaan jejaring sosial untuk pembelajaran di Indonesia merupakan hal yang baru. Jika di negara lain sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, kita baru akan mulai menerapkan dan mensosialisasikan. Suka atau tidak suka harus kita hadapi bersama adalah kenyataan bahwa penggunaan komputer atau laptop masih jauh dari merata di tanah air kita.
Pembelajaran dengan Kelas Maya
Berikut ini beberapa contoh-contoh Social Learning Network (SLN).
a. Edmodo (www.edmodo.com) adalah
sebuah media untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Edmodo menggabungkan sebagian fitur LMS dan sebagian fitur dari jejaring sosial, menjadi sebuah media pembelajaran yang menarik dan mudah digunakan, kemudian lebih dikenal dengan SLN.
b. Einztein (www.einztein.com) merupakan
SLN yang ditujukan bagi pemelajar dewasa dan pemelajar seumur hidup,
c. Sophia (www.sophia.org) merupakan SLN
yang menyediakan ribuan tutorial akademik yang diajarkan oleh guru dengan berbagai model instruksional, dan dapat diikuti oleh pembelajar dengan berbagai model belajar,
d. RemixLearning (www.remixlearning.com) yang juga didukung oleh The Bill & Melinda Gates Foundation menyediakan sebuah SLN yang dapat diatur sesuai selera oleh sekolah, perpustakaan, museum, dan institusi lainnya yang membutuhkan.
e. Schoology (www.schoology.com) merupa- kan LMS yang dilengkapi dengan SLN.
Pemanfaatan Kelas Maya
Menurut Priowirjanto dan team (2013 : 9), kelas maya adalah sebuah lingkungan belajar berbasis
web yang (a) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi khususnya jejaring pembel-
ajaran sosial untuk pembelajaran dan
manajemen kelas serta (b) memuat konten digital yang dapat diakses dan dipertukarkan di mana saja, dari mana saja, dan kapan saja.
Maksud dari pembelajaran dengan kelas maya disini adalah siswa belajar mandiri yang berbasiskan web atau social media learning. Pada kelas maya ini siswa akan mendapatkan materi, tugas dan tes secara online. Sedangkan guru akan memperoleh kemudahan dalam memeriksa tugas dan menilai hasil ujian siswa, terutama hasil ujian siswa akan dinilai secara otomatis. Sebenarnya banyak bentuk pemanfaatan teknologi informasi lainnya yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam proses belajar mengajar, tetapi semuat itu tergantung dari kreativitas dan keahlian guru dalam
memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan.
Sejalan dengan hal di atas, di dalam pembelajaran kelas maya juga dapat diketahui kemajuan proses belajar, yang dapat dipantau baik oleh guru, siswa, maupun orang tua. Selain digunakan untuk proses pendidikan jarak jauh, sistem tersebut juga dapat digunakan sebagai penunjang kelas tatap muka. Selain itu juga dalam pembelajaran kelas maya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pembelajaran, meningkatkan kecepatan belajar, dan meningkatkan efisiensi pembelajaran, Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Menurut Sudarman dalam academia.edu (2014 : 1) ada enam potensi kunci dari pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran.
a. Konektivitas – akses terhadap beraneka ragam informasi ‘tersedia’ dalam skala global. Selama siswa memanfaatkan koneksi internet, maka akan mendapatkan informa-si apapun yang tersedia dalam world wide web (www). Dalam mencari informasi, siswa juga tidak akan merasa kesulitan dengan bantuan mesin pencari seperti
google atau yahoo.
b. Fleksibilitas - belajar dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja.
Dengan cara belajar yang terjadwal dalam kelas tradisional (konvensional), guru adalah sumber belajar utama bagi siswa, akan tetapi dengan kelas tradisional yang diperkaya dengan TIK, siswa akan memiliki kebebasan dalam menentukan waktu yang tepat dan tempat belajar, selama siswa dapat menggunakan komputer dan mengakses internet.
c. Interaksi – evaluasi belajar dapat dilaksana- kan seketika dan mandiri.
Dengan memanfaatkan TIK, siswa dapat mengerjakan tugas, menjawab pertanyaan, maupun mengerjakan ujian di manapun dan kapanpun. Dalam beberapa model ujian, siswa juga dimungkinkan untuk mendapatkan hasil penilaian maupun umpan balik secara otomatis, sehingga siswa tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hasil penilaian ujiannya.
Pembelajaran dengan Kelas Maya
d. Kolaborasi – penggunaan perangkat diskusi
dapat mendukung pembelajaran kolaborasi di luar ruang kelas. Dengan memanfaatkan internet, siswa telah berada dalam sebuah jaringan yang luas. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan perangkat diskusi melalui internet, siswa dapat berkomunikasi, berdiskusi, bertukar pendapat, baik mengenai sebuah ide, permasalahan, maupun solusi dengan rekannya atau gurunya.
e. Peluang pengembangan – konten digital
dapat terus-menerus dikembangkan sehingga dapat memperkaya pembelajaran dalam kelas konvensional.Dalam kelas tradisional, guru dan siswa harus berada dalam ruangan yang sama. Akan tetapi dengan memanfaatkan TIK, guru dapat memberikan instruksi dari tempat tertentu dan siswa tetap dapat mengikuti instruksi guru tersebut walaupun berada di tempat yang berbeda.
f. Motivasi – multimedia dapat membuat
pembelajaran lebih menarik. Dengan TIK, siswa akan mendapatkan berbagai sumber belajar. Salah satu sumber belajar tersebut adalah video atau animasi yang menjelaskan konsep atau peristiwa tertentu. Dengan bantuan media ini, siswa akan mendapatkan ilustrasi/gambaran yang lebih nyata dan dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar.
Pemanfaatan kelas maya dapat menunjang proses pembelajaran peserta didik secara lebih efektif dan produktif. Di masa-masa mendatang isi tas peserta didik bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa (1) Komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah dan sekolah, kalkulator, (3) videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan musik, dan televisi. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan juga perlu mengembangkan
dan menerapkan teknologi informasi dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan kulitas pendidikan.
Saatnya Terapkan Pembelajaran Kelas Maya
Menurut Yusuf Fish dalam biskom.web.id (2014: 1) pembelajaran dengan kelas maya dapat mengadopsi perangkat digital, agar proses transfer ilmu pengetahuan menyenangkan dan terjalin emosi kreatif antara pengajar dan yang diajar (siswa). Dengan partisipasi guru kepada murid lewat fasilitas digital, itu bisa membawa dampak besar dalam menyampaikan pengajar- annya. Selain itu guru dapat menggunakan teknologi pembelajaran digital seperti: notebook,
gadget, display, interactive media, digital library, digital lab, internet dan masih banyak lagi. Penggunaan perangkat teknologi ini dapat melahirkan budaya “digital creative” dan “cyber atractive” di dunia pendidikan. Kongkritnya perkembangan ini menjadi salah satu pendorong penggunaan konten digital di sekolah.
Di sisi lain, pembelajaran dengan kelas maya lahir untuk meneruskan cara belajar konvensional, yang dalam proses pembelajaran masih menggunakan alat tradisional, contohnya papan tulis hitam, dan kapur. Seiring perkembangannya, proses pembelajaran seperti tadi kian hari kian berubah, dari papan tulis hitam menjadi papan tulis putih dan menggunakan spidol. Bahkan ada sebagian yang mengunakan over head projector (OHP), dan menggunakan proyektor atau yang lebih dikenal dengan nama infocus. Bahkan kini sudah mulai menerapkan perangkat smart board.
Sedangkan untuk efisiensi dan efektivitas pemanfaatan kelas maya dalam pembelajaran, belakangan ini Pemerintah mengembangkan penggunaan buku sekolah elekronik yang berarti berkembang dari buku cetak menjadi buku elektronik. Di samping itu, media belajar yang digunakan juga berkembang ke arah media elektronik atau digital, antara lain internet, intranet, satelit, cloud computing, audio/video tape, TV interaktif, dan CD-Rom. Aktivitas e- learning ini memang tidak bisa dipisahkan dengan infrastruktur yang mumpuni.
Untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan menuju pembelajaran dengan kelas
Pembelajaran dengan Kelas Maya
maya, yaitu (1) metodologi, artinya guru harus menggunakan metode yang dapat mengako- modasi seluruh siswa, yakni guru harus berkomunikasi dan berinteraksi dengan murid, (2) kurikulum yang menggunakan kemampuan membaca, menulis, arithmatika, berpikir logis dan dapat belajar dengan teknologi), (3) prasarana yang harus dilengkapi dengan perangkat TIK, karena pembelajaran dengan kelas maya pasti membutuhkan prasarana yang mumpuni.
Selain itu, peran guru dalam proses pembelajaran yang mengintegrasikan TIK berubah peran, yaitu sebagai fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar serta dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar. Sementara itu, peran siswa dalam proses pembelajaran yang mengintegrasikan TIK memungkinkan siswa menjadi partisipan aktif, menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keteram- pilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli, belajar secara individu dan berkolaboratif dengan siswa lain.
Oleh sebab itu, sudah selayaknya lembaga- lembaga pendidikan yang ada segera memperkenalkan dan memulai penggunaan TIK sebagai basis pembelajaran dengan kelas maya. Hal ini menjadi penting mengingat penggunaan TIK merupakan salah satu faktor penting yang memungkinkan kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, generasi bangsa ini secara lebih luas. Dalam konteks yang lebih spesifik, dapat dikatakan bahwa kebijakan penyelenggaraan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat harus mampu memberikan akses pemahaman dan penguasaan teknologi mutakhir yang luas kepada peserta didik.
Simpulan
Kesimpulan
Dalam pembelajaran dengan kelas maya dapat diketahui kemajuan proses belajar, yang dapat dipantau baik oleh guru, siswa, maupun orang tua. Selain digunakan untuk proses pendidikan
jarak jauh, sistem pembelajaran tersebut juga dapat digunakan sebagai penunjang kelas tatap muka. Selain itu juga dalam pembelajaran dengan kelas maya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pembelajaran, meningkatkan kecepatan belajar, dan meningkatkan efisiensi pembelajaran.
Pembelajaran dengan kelas maya disini adalah siswa dapat belajar mandiri yang berbasiskan web atau social media learning. Pada kelas maya ini siswa akan mendapatkan materi, tugas dan tes secara online. Sedangkan guru akan memperoleh kemudahan dalam memeriksa tugas dan menilai hasil ujian siswa, terutama hasil ujian siswa akan dinilai secara otomatis dan online.
Oleh sebab itu, pembelajaran kelas maya di sekolah tentunya dapat menekan biaya menggandakan dokumen pendukung proses belajar mengajar. Aktivitas belajar pun dapat menjadi menyenangkan, karena siswa merupakan generasi digital yang telah berubah menjadi peserta didik yang aktif dan kreatif dan melalui pemanfaatan TIK, siapa saja dapat memperoleh layanan pendidikan dan institusi pendidikan mana saja, dimana saja, dan kapan saja dikehendaki. Secara khusus, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran dipercaya dapat meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan, meningkatkan keterampilan siswa dalam memperluas akses terhadap sumber-sumber belajar, menjawab tuntutan “ICT Literate” (melek teknologi informasi dan komunikasi), mengu- rangi penggunaan kertas (paper less) dan mengurangi biaya pendidikan,
Saran
Peralihan kultur dari pembelajaran konven- sional ke pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi hanya bisa terjadi kalau komunitas pendidikan memiliki komitmen yang kuat untuk memanfaatkan TIK. Kelompok komunitas tersebut adalah para praktisi pendidikan baik yang berkaitan dengan manajemen maupun proses belajar mengajar pada semua tingkatan dan unit pendidikan, yang terdiri atas guru, dosen, instruktur, kepala sekolah, pengawas, staff administrasi, dan pejabat dalam lingkungan departemen penddikan. Yang tak kalah pentingnya adalah para subjek pendi-
Pembelajaran dengan Kelas Maya
dikan di semua jenjang dari TK sampai SLTA. Dalam konteks ini, pemanfaatan TIK harus direalisasikan untuk: (1) pengelolaan pendidi- kan melalui otomasi sistem informasi manaje- men dan akademik berbasis TIK; (2) sistem pengelolaan pembelajaran baik sebagai materi kurikulum, suplemen dan pengayaan maupun sebagai media dalam proses pembelajaran yang interaktif serta sumber belajar mandiri yang inovatif dan menarik.
Beberapa hal yang harus dilakukan menuju pembelajaran dengan kelas maya, yaitu (1) metodologi, artinya guru harus menggunakan metode yang dapat mengakomodasi seluruh siswa yakni guru harus berkomunikasi dan berinteraksi dengan murid, (2) kurikulum yang menggunakan kemampuan membaca, menulis, arithmatika, berpikir logis dan dapat belajar dengan teknologi), (3) prasarana yang harus dilengkapi dengan perangkat TIK, karena pembelajaran dengan kelas maya pasti membutuhkan prasarana yang mumpuni.
Selain itu, guru dapat memperkenalkan dan memulai penggunaan TIK dan media pembelajaran sebagai basis pembelajaran dengan kelas maya, dan guru juga harus mampu memberikan akses pemahaman dan penguasaan teknologi mutakhir yang luas kepada peserta didik. Karena pemanfaatan kelas maya dapat menunjang proses pembelajaran peserta didik secara lebih efektif dan produktif.