• Tidak ada hasil yang ditemukan

agar sesuai dengan kebenaran ilmiah.

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 99-101)

Relasi Dialogal Antara Nilai Kepemimpinan Dengan Nilai Pendidikan

tingkah laku. Pembentukan pola pikir dan tingkah laku inilah yang akan terkristal dalam proses pendidikan setiap individu beserta nilai- nilai yang melekat padanya.

Mengurai Konsep Paradoks Kepemimpinan

Pembicaraan tentang konsep kekuasaan berlanjut ke dalam ranah nyata yang mengkristal dalam konsep kepemimpinan. Hadirnya Jokowi sebagai pemimpin baru Indonesia sangat memberi inspirasi baru bagi kita soal konsep kepemimpinan ini. Kepemimpinan Jokowi telah mendobrak batasan formal yang cenderung berbau seremoni yang justru kerap mematikan esensi kepemimpinan itu sendiri. Kecerdasan budi yang ada dalam figur Jokowi menyiratkan benang merah hubungan antara nilai kepemim- pinan dengan keharmonisan relasi sang pemimpin dengan Tuhan sebagai sang Pencipta Kehidupan. Dengan demikian, pertanyaan selanjutnya yang perlu diajukan adalah kepemimpinan yang macam apakah yang mampu membawa peradaban manusia di dunia ini sampai kepada titik keharmonisan relasi antara Sang Pencipta dengan seluruh ciptaan- Nya tersebut? Jawaban spontan yang muncul atas pertanyaan itu adalah bahwa pemimpin harus berani melawan “dunia”. Sebuah paradoks yang tak diminati oleh banyak orang. Berikut ini ditelusuri paradoks tersebut lebih lanjut.

Paradoks pertama

Mengapa di Indonesia tokoh seperti R.A. Kartini, Ki Hajar Dewantara, Soekarno ataupun Joko Widodo menjadi begitu dikenal banyak orang? Jawabannya hanya satu. Mereka berani tampil beda dengan arus umum dunia di masa hidupnya. Mereka tidak takut memunculkan otentisitas dirinya sekalipun bertentangan dengan apa yang menjadi pemikiran dunia sekitarnya. Dengan kata lain, berani menjadi diri sendiri dan tidak melulu menjadi seorang pengekor.

Masing-masing tokoh itu mau dan rela memunculkan sesuatu yang baru yang sifatnya lebih positif. Mereka tidak takut menjadi pendobrak “status quo” sekalipun picingan mata ataupun celaan dunia senantiasa mereka dapatkan. Mereka bukan hanya sekedar

“tukang demo” yang hanya bisa berteriak tanpa pernah memberikan solusi nyata akan apa yang disuarakannya. Mereka mendobrak, dan mengganti kembali pintu yang didobrak itu dengan pintu pemikiran yang lebih luas dan lebih berwarna akan dunia ini. Sesungguhnya, sikap berani mendobrak kemapanan negatif dunia dapat diartikan pula sebagai sikap mendobrak sempitnya pola pikir manusia akan hidup ini. Di sinilah letak pentingnya kemampuan intelektualitas dan akal budi seseorang dalam melihat realitas.

Seorang pemimpin yang sejati haruslah orang yang mau dan rela untuk berubah di saat orang lain cenderung untuk senang mengikuti trend. Mereka yang berani dibilang “tidak up-to-

date” hanya karena mereka lebih mengedepan-

kan otentisitas diri, adalah calon pemimpin yang dibutuhkan dunia masa depan. Mentalitas yang harus muncul adalah mentalitas pencipta, bukan mentalitas pengekor. Mencipta adalah suatu proses yang berkesinambungan. Suatu penciptaan menuntut runtutan proses yang jelas dan terukur. Bukan proses yang instan yang tiba- tiba muncul dan secara tiba-tiba pula menghi- lang. Mencipta berarti mengerahkan seluruh kemampuan akal budi dan daya nalar manusia untuk menemukan kembali kebenaran sejati yang mungkin ikut terkubur dalam reruntuhan keputusasaan manusia lama atas kesulitan hidupnya. Pada titik inilah, sebuah proses penciptaan itu menuntut suatu konsekuensi logis atasnya, yaitu perubahan.

Menciptakan perubahan berarti mencipta- kan peluang yang luas untuk memecahkan misteri-misteri alam yang akan membawa kemajuan bagi peradaban manusia. Dengan menciptakan perubahan positif, manusia bisa terlepas dari keterkungkungan pola pikir sempitnya akan misteri kehidupan ini. Misteri kehidupan seperti kematian, kesulitan hidup, kesedihan, kegembiraan, keberhasilan, ataupun kegagalan. Dengan kata lain, seorang pemimpin yang sejati adalah ia yang mampu melihat sisi- sisi paradoksal dari setiap misteri hidup itu: keindahan di balik kegagalan, kegembiraan di balik pengalaman kesedihan; harapan di balik pengalaman kematian, dan kewaspadaan di balik pengalaman kegembiraan. Dengan begitu, ia akan mampu membawa orang-orang yang

Relasi Dialogal Antara Nilai Kepemimpinan dengan Nilai Pendidikan

dipimpinnya pada titik keharmonisan dan keseimbangan hidup ini.

Singkatnya, paradoks pertama nilai kepemimpinan adalah berani menciptakan perubahan di tengah arus dunia yang malas keluar dari zona nyamannya. Dalam dunia pendidikan, nilai ini menjadi sangat relevan bagi para guru. Selama ini, guru sebagai pendidik cenderung terbuai dengan cara pengajaran satu arah yang membuat para siswa merasa dalam “sebuah penjara” yang mengekang. Secara teoritis, kita akan mengamini bahwa cara pengajaran satu arah yang “menghujamkan” banyak informasi kepada para siswa, adalah cara yang tidak cocok bagi pengembangan diri siswa. Namun, dalam prakteknya, tetap saja masih banyak guru yang tak mau ambil pusing dan menjadikan cara pengajaran satu arah ini sebagai pola harian dalam mengajar. Berani mengubah untuk menciptakan perubahan hasil, adalah sikap yang mutlak harus ada pada guru dalam mencip-

takan para pe- mimpin baru

masa depan.

Dengan tekno- logi dunia yang semakin canggih dan keterbukaan akses informasi dunia, sudah saatnya para sis-

wa diarahkan untuk menjadi kritis dan mengkritisi pengetahuan yang diajarkan oleh para guru. Di saat situasi umum pendidikan Indonesia memberikan “ikan” untuk para siswanya, kita harus berani untuk memberikan “kail” kepada para siswa melalui cara pengajaran interaktif yang memberikan lebih banyak keleluasaan bagi siswa untuk meng- kritisi semuanya.

Alibi yang sering diberikan untuk lari dari pola pengajaran dua arah adalah ketidak- seimbangan antara jumlah materi dengan alokasi waktu yang ada. Haruskah demikian? Di sinilah, jiwa kepemimpinan seorang pendidik diuji. Pemimpin yang baik adalah ia yang berhasil menciptakan penerus yang baik bagi dunia. Ada suatu pengorbanan yang tersirat di dalamnya. Ketidakseimbangan tersebut tidak serta merta

membatasi setiap guru untuk mendidik. Tidak ada salahnya bila para guru menyediakan waktu tambahan di luar jam sekolah bagi para siswa untuk bertanya dan berdialog tentang penge- tahuan baru yang didapatkannya. Memang butuh pengorbanan di dalamnya. Dengan kata lain, mentalitas “Teng-Go”1 yang selama ini

masih banyak dimiliki oleh para guru, harus perlahan-lahan dikikis dan diubah menjadi

mentalitas “Teng-Stay” apabila memang

dibutuhkan oleh para siswa. Inilah nilai kepemimpinan yang pertama: Berani berubah dan mengubah untuk menciptakan sebuah perubahan positif.

Paradoks kedua

Apa yang menjadi konsekuensi logis seandainya seseorang diangkat menjadi pemimpin? Jawabannya adalah menjadi terkenal dan populer. Popularitas menjadi nilai tambah seorang pemimpin. Tidak ada orang yang tidak tahu siapa pemimpinnya. Ham- pir pasti, sebagian besar orang mengeta- hui siapa yang menja- di pemimpinnya. Karenanya, pemimpin dikatakan sebagai

public figure. Namun, pertanyaan selan- jutnya, apakah sebuah keharusan bagi seorang pemimpin mengenal lebih dalam siapa yang dipimpinnya? Jawaban- nya adalah itu sebuah keharusan yang mutlak. Sebagai seorang pemimpin yang sejati, Yesus senantiasa berusaha untuk mengenal siapa yang dipimpinnya. Ia senantiasa menyapa lawan bicaranya dengan menggunakan nama mereka. Menyapa orang dengan nama pribadinya, adalah suatu bukti akan adanya keinginan untuk mengenal lebih dalam siapa orang lain itu. Kebanyakan para pemimpin di dunia ini, enggan mengenal lebih dalam orang-orang yang dipimpinnya. Karenanya, tak mengherankan bila banyak aspirasi rakyat kecil yang tak pernah tersalurkan dan teraplikasikan sebagaimana seharusnya. Yang menyebabkan itu adalah ketidakberanian para pemimpin itu untuk menjadi rendah di hadapan dunia.

Tidak ada salahnya bila para

Dalam dokumen jurnal No23 Thn13 Des2014 (Halaman 99-101)