• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

PETA SEBARAN HUTAN DI PULAU WANGI-WANGI KAB WAKATOB

VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKAS

7.2.2. Implikasi Teori Metodolog

Penelitian tentang Kaindea dalam perspektif adaptasi pengelolaan sumberdaya hutan masyarakat merujuk pada Teori “Cultural Ecology”

Steward (1955). Steward telah menjelaskan penguatan organisasi sosial dan penyesuaian teknologi sebagai strategi adaptasi dalam merespon tekanan penduduk. Tetapi Steward tidak menjelaskan perubahan ekonomi dan dinamika politik sebagai konsep lingkungan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam penelitian ini, konsep-konsep yang dikembangkan oleh Geertz (1983); Kuntowijoyo (2002); Fox (1996) membantu menjelaskan strategi adaptasi masyarakat Wangi-Wangi akibat pengaruh perubahan

ekonomi dan dinamika politik di pulau-pulau kecil, yaitu pengaturan tenaga kerja keluarga dan pengembangan ragam mata pencaharian di luar pertanian. Steward juga menjelaskan bagaimana inti kebudayaan (cultural core) yang responsif terhadap adaptasi tetapi tidak menjelaskan sampai sejauh mana inti kebudayaan itu akan tetap adaptif terhadap perubahan lingkungan dalam waktu yang panjang (evolusi).

Kendati Steward tidak menganalisis pengaruh ekonomi (pasar) dan politik serta faktor-faktor manusiawi, tetapi dalam konteks pengelolaan

Kaindea di Pulau Wangi-Wangi, tampak bahwa adaptasi kebudayaan masyarakat disamping terjadi karena tekanan penduduk (ekologis) juga karena perubahan lingkungan yang lain (perubahan ekonomi dan dinamika politik). Hal ini sesuai dengan Teori Steward tentang “Perubahan Sosial”. Asumsi dasarnya adalah perubahan sosial yang evolutif tidak berlangsung linear dan satu arah, melainkan multi-linear. Perubahan tidak selalu akibat dari adopsi terhadap inovasi dari luar, melainkan juga karena faktor ekologi. Pembuktiannya melalui analisis organisasi sosial dan teknologi, tetapi tidak berhenti sampai ini saja; Steward sampai pada kesimpulan tentang cultural core yang menentukan “wajah” dari suatu kelompok masyarakat.

Penjelasan Steward diatas menggambarkan apa yang terjadi di Pulau Wangi-Wangi. Secara kultural menunjukkan bahwa strategi adaptasi internal (penguatan organisasi sosial dan teknologi) merupakan strategi yang lebih adaptif dalam pengelolaan Kaindea. Dengan demikian bahwa “inti kebudayaan” masyarakat Pulau Wangi-Wangi adalah “agricultural” atau “Hekoranga” (berkebun). Hal ini tampak pada interaksi antara sistem pertanian Hekoranga (lingkungan) dengan pola-pola budaya yang dikembangkan masyarakat. Walaupun masyarakat Wangi-Wangi melakukan pengaturan tenaga kerja keluarga dan pengembangan ragam mata pencaharian, namun pola-pola budaya seperti sistem nilai, organisasi dan hubungan sosial tidak banyak berubah khususnya pada masyarakat Mandati. Penegasan ini didasarkan pada perbandingan dua kelompok masyarakat pengelola Kaindea dengan kinerja yang berbeda, yang terletak pada cara masyarakat Mandati dan Wanci dalam menyesuaikan organisasi sosialnya. Adanya variasi respon masyarakat Wangi-Wangi akibat perubahan lingkungan menunjukkan pula bahwa organisasi sosial dan teknologi juga

tidak berdiri sendiri, tetapi ada aspek lain dari kebudayaan yang berubah. Ini menunjukkan bahwa adaptasi internal pada kondisi tertentu tidak menutup kemungkinan diikuti juga dengan adaptasi eksternal. Artinya bahwa perubahan kebudayaan bukan sekedar menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi, tetapi bisa lebih dari itu karena terkait dengan aspek sejarah dan orientasi masyarakat.

Perubahan ekonomi dan dinamika politik juga berkaitan tekanan penduduk. Ini dapat menunjukkan bahwa tekanan penduduk merupakan ancaman utama daya dukung. Strategi adaptasi eksternal dengan mengembangkan pola baru seperti pengaturan tenaga kerja dan ragam mata pencaharian menunjukkan bahwa daya dukung ekologi Pulau Wangi-Wangi sangat terbatas. Ini sejalan dengan temuan Kuntowijoyo (2002) bahwa migrasi merupakan adaptasi ekologi masyarakat Madura; Fox (1996) dan Sundawati (2001) tentang adaptasi ekologi di Savu dengan maksimalisasi pohon lontar; Geertz (1983) penyebab “involusi pertanian” karena masyarakat tidak mengembangkan adaptasi eksternal; dan Suharjito (2002) tentang strategi adaptasi kebun-talun masyarakat Buniwangi.

Untuk mengkaji bagaimana perubahan berpengaruh terhadap masyarakat dari waktu ke waktu (evolusi), analisis sejarah, sebab akibat, kinerja dan kelestarian pada dua kelompok masyarakat di Wangi-Wangi, telah membantu menjelaskan konteks perubahan lingkungan dan perbedaan respon masyarakat Pulau Wangi-Wangi pada ekologi yang sama. Hal yang sama dilakukan untuk memahami realitas yang tidak tertangkap, dengan pendekatan emik. Ini mempertegas bahwa hubungan fungsional antara variabel lingkungan dan kebudayaan terjadi secara dialektika. Dalam perspektif metodologi, perbandingan menurut waktu dan tempat merupakan penajaman dan jawaban atas kritikan112 yang ditujukan pada Teori Steward.

112

Pengembangan Teori “Cultural Ekologi” Steward di kritik karena dianggap tidak mampu menjelaskan adaptasi dalam konteks evolusi dan tidak mampu menjelaskan hal-hal yang tersembunyi. Termasuk “keraguan” Steward untuk menjawab apakah hubungan korelasi lingkungan dengan unsur kebudayaan merupakan unsur yang mutlak ada dalam adaptasi. Metode dan kesimpulan yang diambil dipertanyakan karena tidak menggunakan studi perbandingan budaya yang ketat (Muchtar 1994:4). Penelitian ini membuktikan bahwa yang

dikritik bukan teori dasar “Ekologi Budaya”, tetapi pada metodologi. Penelitian ini

mengembangkan berbagai metode dan analisis serta menggali pengetahuan lokal Kaindea.

Dengan demikian bahwa kendati terdapat banyak bentuk-bentuk adaptasi sebagaimana yang

Dengan kata lain, bahwa kritikan terhadap Steward bukan pada aspek teori dasar “ekologi budaya”, tapi lebih pada aspek metode. Secara metodologis menunjukkan bahwa pendekatan sejarah dan silang budaya lokal dalam perspektif emik merupakan metode untuk menemukan gambaran dan proses (tersembunyi) yang tegas dalam menjelaskan “makna” mengapa dan bagaimana konteks perubahan dan cara masyarakat meresponnya. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa sejarah menjelaskan perubahan (Abdullah 1995; Kuntowijoyo 2002; Geertz 1983; Muchtar 1994).

Secara ekologi dan latar budaya, Mandati dan Wanci mempunyai kemiripan namun mempunyai respon yang berbeda yang ditunjukkan kinerja dan kelestarian Kaindea. Steward (1955) menyatakan bahwa lingkungan yang berbeda, masyarakat mempunyai respon yang berbeda, tapi pada lingkungan sama “belum tentu” respon akan sama karena ada variabel kebudayaan tertentu yang responsif perubahan. Suatu perubahan kebudayaan yang diakibatkan oleh faktor ekologis, akan menimbulkan suatu upaya pengaturan kembali yang berpengaruh pada struktur sosial. Perbedaaan respon masyarakat Mandati dan Wanci karena faktor kesejarahan yang membentuk variasi sistem sosial oleh Steward disebut sebagai “kultural historis” (Geertz 1983:7). Sejarah kebudayaan tidak hanya menceritakan peristiwa dan perubahan, tetapi menentukan “cara” masyarakat memaknai perubahan. Keputusan Meantu’u Mandati melepaskan “ketergantungan” Kadie, merupakan penjelasan mengapa masyarakat Mandati mempunyai organisasi sosial yang kuat dalam menjaga tatanan sosial dan sumberdaya (Kaindea) pada saat perubahan sistem politik pemerintahan tahun 1960.

Secara sosial, budaya dan ekonomi, masyarakat Pulau Wangi-Wangi telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam kurun waktu lebih dari 25 tahun terakhir. Ini mengindikasikan bahwa manusia dan kebudayaannya mempunyai kelebihan dibandingkan mahluk yang lain. Responsifnya kebudayaan oleh Steward (1955) karena ada faktor “kind of technological determinism” dimana fenomena agama dapat dipertimbangkan sebagai cara

proses adaptasi, namun pendekatan perbandingan (waktu dan ruang) dalam perspektif emik dapat melengkapi metodologi Steward.

masyarakat beradaptasi (Muchtar 1994:5). Masyarakat Wangi-Wangi sebagai bagian dari Kesultanan Buton selama ratusan tahun telah menempatkan nilai moral agama sebagai landasan kehidupan bermasyarakat dan telah mengilhami kebudayaan berlandaskan pada nilai-nilai Agama Islam. Dalam konteks kemajuan Pulau Wangi-Wangi sebagai pulau-pulau kecil dan cara masyarakat beradaptasi, maka definisi tentang kekhasan pulau-pulau kecil yang selama ini dipercaya oleh DKP (2007), tidak seluruhnya berlaku untuk Pulau Wangi-Wangi, kecuali pada kekhasan ekologi. Bahwa kesamaan ciri khas pulau-pulau kecil di Indonesia hanya terletak pada aspek ekologi, sementara pada aspek sosial, budaya dan ekonomi tidak seluruhnya tepat. Secara metodologis menegaskan bahwa pendekatan pengelolaan pulau- pulau kecil harus mempertimbangkan aspek-aspek kekhasan lokalitas yang mencerminkan hubungan antara potensi ekologi dan kebudayaan (ekonomi, sosial-budaya, dan politik).

Implikasi penelitian ini mendukung dan sekaligus melengkapi Teori “Ekologi Budaya” mengenai stabilitas113 “inti kebudayaan” yang berkaitan dengan kelembagaan dalam menentukan responsifnya unsur kebudayaan terhadap perubahan. Masyarakat Mandati merespon perubahan lingkungan secara lebih efektif karena penguatan kelembagaan (penyesuaian organisasi sosial dan kekerabatan yang diperluas). Secara teoritis menunjukkan bahwa dalam kelembagaan pengelolaan hutan bukan hanya melengkapi struktur, personalia dan aturan main, tetapi harus dibarengi penguatan nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis kebudayaan sebagai modal sosial bersama. Sehingga dalam proses transformasi kelembagaan yang diharapkan adalah disamping berdimensi fisik-material juga harus berdimensi moral-spritual untuk menjamin bahwa aturan (rules), peranan (roles) dan kerjasama (social network) dijalankan atas dasar kepercayaan (trust). Sehingga dalam jangka panjang eksistensi hutan akan terjaga walaupun pada kondisi masyarakat yang heterogen.

113

Lihat Soetarto (2003:22) tentang stabilitas inti kebudayaan sangat tergantung pada aspek proses interaksi yang melembaga diantara kelompok etnis untuk menciptakan atmosfir bersama dalam pembentukan sentimen kolektif di tingkat desa. Jika hubungannya adalah “sesuai”, maka inti kebudayaan akan stabil dan sebaliknya, jika “tidak sesuai”, maka inti kebudayaannya tidak akan stabil.