BAB IV: HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data
4.2.2 Implikatur dalam Pembelajaran
Implikatur adalah suatu hal yang mengandung maksud atau makna tersembunyi dalam tuturan yang dituturkan oleh penutur kepada mitra tutur. Melalui tuturan tersebut, penutur menyampaikan maksud kepada mitra tutur secara tersembunyi atau tidak tampak dalam tuturan. Hal ini merujuk Grice (1975) dalam artikelnya yang berjudul “Logic and Conversation” bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan bagian dari suatu tuturan. Hal ini menunjukkan bahwa suatu tuturan dapat mengimplikasikan suatu maksud yang lain. Hal tersebut akan dianalisis berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut, sehingga dapat diketahui maksud-maksud yang terdapat dalam tuturan berindikasi mengandung implikatur dalam pembelajaran di SMK Putra Tama, Bantul dan SMA Pangudi Luhur, Yogyakarta. Berikut ini akan disajikan perihal maksud implikatur
yang didasarkan pada wujud implikatur yang telah diuraikan pada sub bab sebelumnya.
4.2.2.1 Implikatur Konvensional
Berikut ini adalah penguraian mengenai maksud implikatur konvensional yang didapatkan dari wujud-wujud implikatur konvensional yang telah diuraikan sebelumnya. Dari hasil pengamatan, diperoleh 3 maksud yang terdapat di dalam ranah implikatur konvensional, yakni maksud memerintah, mengimbau, dan ngelulu. Hal tersebut akan disajikan sebagai berikut.
1) Maksud Memerintah
Berikut adalah tuturan yang mengandung maksud tersembunyi untuk memerintah. Tuturan (5)
Guru : “Yang tiduran atau yang sakit silahkan ke UKS saja!” (10/9/SMA)
Konteks: Situasi terasa santai dan terjadi di lapangan indoor. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid yang tidak memperhatikan tuturan guru dan tiduran untuk memperhatikan guru. Nada tuturan tersebut bernada rendah dan santai. Penggunaan “UKS” menjadi pengetahuan perihal murid yang sakit akan ditempatkan di UKS.
Tuturan (6)
Guru: Hayo! Yang maju bapak-bapak ini.
Konteks: Situasi terasa kecewa atau kesal yang ditunjukkan oleh sang guru. Peristiwa tutur terjadi di kelas. Peristiwa tutur terjadi antara guru dengan beberapa murid laki-laki. Keadaan di situ adalah beberapa murid laki-laki yang ramai dan tidak memperhatikan soal yang diberikan guru di papan tulis. Beberapa kali guru menawarkan kepada murid-murid untuk maju mengerjakan soal tersebut, tetapi tidak ada yang beranjak untuk mengerjakan. Apalagi ada beberapa murid laki-laki yang ramai sendiri, sehingga sang guru menuturkan tuturan tersebut.
Penggunaan piranti tuturan kata yang umum dipahami oleh banyak orang menjadi salah satu aspek dari implikatur percakapan konvensional. Pada data (5) berupa tuturan perintah yang lumrah dikatakan untuk situasi yang pas apabila
memang ada yang sakit untuk menuju UKS. Akan tetapi, guru menuturkan tuturan tersebut bermaksud untuk memerintah siswa yang tiduran dan sehat untuk duduk memperhatikan penjelasan guru olahraga. Tuturan (5) berbunyi “Yang tiduran atau yang sakit silahkan ke UKS saja!”. Singkatan “UKS” menjadi salah satu bagian dari kalimat yang disebut dengan kalimat sintetis. Dari tuturan tersebut secara literal berdasar dari Wijana (1996: 42) bahwa kalimat sintetis adalah kalimat yang kebenarannya bergantung pada fakta-fakta luar bahasa. Secara literal, UKS merupakan tempat yang dipahami oleh banyak orang sebagai ruang yang menampung siswa atau perangkat sekolah yang sakit untuk diobati. Akan tetapi, guru menggunakan awalan kalimat “yang tiduran atau yang sakit” padahal tampak semua murid tidak sakit, melainkan hanya tiduran dan tidak memperhatikan guru. Kemudian guru menyuruh murid yang tiduran untuk ke UKS. Dari hal ini, dapat ditemukan maksud implikatur, yakni maksud yang tak tampak dalam tuturan. Maksud tersebut adalah memerintah siswa yang tiduran untuk tidak tiduran dan memperhatikan penjelasan guru, sehingga beberapa murid langsung duduk dan memperhatikan guru. 2) Maksud Mengimbau
Tuturan (3)
Guru : “KD selanjutnya adalah wawancara.” (10/2/SMA) Murid : “Waduh”
Konteks Situasi pertuturan tersebu tampak santai, maksud dari tuturan tersebut adalah memperingatkan perihal aspek-aspek yang akan dilakukan pada KD wawancara. Nada yang terdengar cenderung tinggi dan jelas.
Tuturan data (3) memiliki wujud kalimat pernyataan atau deklaratif. Melalui wujud deklaratif tersebut, tuturan tersebut memiliki maksud yang tidak sekadar hanya
informasi semata, melainkan memerintahkan para siswa untuk bersiap menghadapi aktivitas-aktivitas dari KD wawancara. Sesuai dengan bentuk tuturannya, yakni “KD selanjutnya adalah wawancara.” Maksud yang ada dalam tuturan tersebut dirunut dari konteks yang melingkupinya. Hal ini berkaitan dengan lingkungan dari SMA Pangudi Luhur yang dekat dengan kraton, malioboro, dan alun-alun. Tempat-tempat tersebut akan menjadi lapangan berpraktik dalam wawancara, sehingga guru memiliki maksud untuk mengimbau para siswa untuk bersiap-siap melakukan segala aktivitas yang ada dalam KD wawancara.
3) Ngelulu Tuturan (4)
Guru : “Kalau mau olah mulut, iya silahkan di luar tidak apa-apa!” (7/3/SMA) Konteks: Situasi dari tuturan tersebut tampak marah, sedangkan mitra tutur tampak gaduh tak menghiraukan. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh para murid untuk tenang, kemudian murid nampak mulai tenang sedikit-demi sedikit. Nada bicara terdengar pasrah dan pelan.
Pada data (4) ditemukan wujud implikatur percakapan konvensional berupa kalimat deklaratif “ngelulu”. Hal ini tentu dirunut dari penggunaan frasa oleh penutur. Frasa “olah mulut” memiliki arti secara gramatikal adalah cerewet atau banyak berbicara. Tuturan implikatur dalam data (4) dapat dilihat dari dua aspek, yakni dari konteks yang melingkupi pertuturan dan kalimat lanjutan dari frasa “olah mulut”. Dari konteks yang menjadi dasar adalah situasi tuturan tampak kecewa oleh guru. Sejalan dengan Kartika, dkk (2014) mengatakan bahwa implikatur percakapan adalah sesuatu yang disembunyikan dalam sebuah percakapan, yakni sesuatu secara implisit dinyatakan dalam bahasa secara aktual. Waktu tuturan tersebut terjadi pasca
para murid menyelesaikan jam pelajaran olahraga. Selain itu, guru juga nampak kesal karena para murid tidak segera mengganti baju olahraga dengan seragam sekolah. Akan tetapi, nada yang dituturkan oleh guru tidak meninggi, melainkan datar. Dari konteks tersebut, dapat disimpulkan bahwa data (4) memiliki maksud untuk memerintah para murid yang ramai untuk tenang dan memperhatikan penjelasan dari guru.
4) Maksud Menyindir Tuturan (1)
Guru: “Bapak-bapak iki arisan ae.” (3/7/SMA) (bapak-bapak ini arisan terus)
Konteks: Situasi terasa tegang karena guru sedang menjelaskan materi, namun berubah ketika mengomentari aktivitas empat murid yang sedang ribut sendiri. Maksud dari pertuturan tersebut adalah untuk meminta para murid yang ribut untuk lebih kondusif. Bentuk tuturan tersebut adalah kalimat perintah yang bersifat mengomentari aktivitas sekelompok murid, bukan menyuruh untuk diam. Tetapi melalui sindiran aktivitas yang dianalogikan sebagai aktivitas arisan layaknya ibu-ibu yang ramai saling berbicara.
Tuturan (2)
Guru:“Utari, vokal dasarnya lembut, tapi kalau bercanda treble semua ya.” (28/6/SMK)
Konteks: Situasi dari tuturan tersebut tampak santai. Pelaku adalah guru dan salah satu siswi. Maksud dari tuturan tersebut menyuruh siswi tersebut membaca berita dengan volume lebih keras. Bentuk tuturan menggunakan tuturan lisan dan bernada tinggi. Penggunaan kata treble sebagai kata sindiran untuk siswi tersebut adalah kesehariannya yang selalu bicara keras ketika kondisi kelas ramai.
Pada data (1) dari segi wujudnya memiliki wujud pernyataan. Hal ini berdasarkan pada bentuk atau dari segi gramatikal tuturan tersebut. Konstruksi yang berwujud pernyataan tersebut dilihat secara langsung sebagai suatu pernyataan biasa terhadap muridnya. Akan tetapi, konstruktsi tuturan tersebut apabila dilihat dari konteks yang melingkupinya memiliki maksud yang tersembunyi. Maksud
tersembunyi tersebut dilihat dari keadaan saat tuturan itu diujarkan, yakni kondisi kelas yang harusnya tenang berubah menjadi gaduh oleh empat murid lelaki yang asyik berbicara tanpa menghiraukan penjelasan sang guru terhadap materi ajarnya. Apabila dirunut dari Pranowo (2015) yang menjelaskan perihal konteks dalam pragmatik, yakni konteks dalam implikatur selalu berada di luar teks. Penjelasan mengenai konteks di sini adalah memberikan pemahaman perihal kata-kata yang digunakan dalam ujaran sang guru. Ditilik dari kata “bapak-bapak” dan “arisan” memiliki makna yang literal, artinya memiliki kesinambungan. “bapak-bapak” mengarah pada empat murid yang gaduh, sedangkan kata “arisan” mengasosiasikan kegiatan gaduh layaknya aktivitas sekelompok orang melakukan arisan. Dilihat juga dari nada bicara sang guru yang seakan menyindir empat murid laki-laki tersebut, guru tidak mengeluarkan gaya yang marah atau memerintah, namun terdengar sekadar memberi komentar. Akan tetapi, reaksi yang muncul dari keempat murid laki-laki yang gaduh itu langsung merespon untuk tenang kembali dan memperhatikan guru. Dengan demikian, dapat ditemukan maksud dari tuturan guru adalah menyindir empat murid tersebut untuk kembali kondusif dan memperhatikan guru. Hal ini juga memberikan gambaran bahwa tanpa guru harus membentak-bentak murid untuk tenang, melalui sindiran sederhana.
Suatu komunikasi akan berjalan lancar apabila penutur dan mitra tutur saling memahami maksud yang hendak disampaikan. Melalui konteks, penutur akan bersinergi agar maksud yang disampaikan dapat dipahami oleh mitra tutur. Hal ini
terjadi pada kasus data (2), yakni penggunaan istilah “trebel” dalam kalimat “Utari, vokal dasarnya lembut, tapi kalau bercanda treble semua ya.” Tuturan tersebut diucapkan oleh guru wanita terhadap salah satu murid wanita yang telah membacakan berita di depan kelas. Akan tetapi, volume suara dan kejelasan suara sangat kurang, sehingga guru menuturkan data (2). Penggunaan istilah “trebel” sangat relevan dengan istilah yang sering digunakan para siswa jurusan komunikasi. Namun, istilah tersebut juga dipahami banyak orang sebagai sebutan sifat suara yang tinggi. Pada data (2) peran konteks sangat relevan dengan pengetahuan mitra tutur. Hal ini sejalan dengan artikel dari Rohmadi pada tahun 2014 yang berjudul Kajian Pragmatik Percakapan Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bahwa bahasa sebagai alat komunikasi dalam berbagai konteks kehidupan untuk menyampaikan amanat dan pesan kepada pembaca. Hal tersebut tentunya diimplementasikan kepada konteks penggunaan kata “trebel”, selain dari identitas penutur dan mitra tutur, keadaan saat tuturan terjadi, nada suara, dan juga setting-nya. Maka dari itu didapatkan maksud dari tuturan (2) adalah menyindir.
Tuturan data (3) memiliki wujud kalimat pernyataan atau deklaratif. Melalui wujud deklaratif tersebut, tuturan tersebut memiliki maksud yang tidak sekadar hanya informasi semata, melainkan memerintahkan para siswa untuk bersiap menghadapi aktivitas-aktivitas dari KD wawancara. Sesuai dengan bentuk tuturannya, yakni “KD selanjutnya adalah wawancara.” Maksud yang ada dalam tuturan tersebut dirunut dari konteks yang melingkupinya. Hal ini berkaitan dengan lingkungan dari SMA Pangudi
Luhur yang dekat dengan kraton, malioboro, dan alun-alun. Tempat-tempat tersebut akan menjadi lapangan berpraktik dalam wawancara, sehingga guru memiliki maksud untuk mengimbau para siswa untuk bersiap-siap melakukan segala aktivitas yang ada dalam KD wawancara.
4.2.2.2 Implikatur Percakapan
Yule (2014) mengungkapkan bahwa dalam implikatur percakapan terdiri atas tiga jenis, yakni implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus, dan implikatur percakapan berskala. Berikut ini adalah maksud implikatur percakapan yang didapatkan di lapangan dan penguraiannya.
1. Implikatur Percakapan Umum
Pada data tuturan implikatur percakapan umum, peneliti menemukan dua maksud yang terkandung, yakni maksud menyindir dan maksud memerintah. Berikut analisis perihal maksud implikatur percakapan umum.
1) Maksud Menyindir Tuturan (7)
Guru : “Gene bagus bajune dilebokke, opo maneh nganggo tali rafia.” (ternyata bagus bajunya dimasukkan, apalagi memakai tali rafia) (1/1/SMA)
Konteks: situasi menyenangkan atau tidak tegang pasca diberikan tugas. Guru mengingatkan murid tersebut untuk lebih rapi lagi dan tidak nanggung dalam hal merapikan pakaian yang digunakan. Karena murid tersebut memasukkan pakaian, tetapi menggunakan sabuk tali plastik (rafia). Tuturan dinyatakan dengan cara yang santai. Penutur dan mitra tutur berasal dari daerah jawa, sehingga menggunakan tuturan bahasa Jawa.
Berdasar pada analisis wujud implikatur percakapan pada sub bab sebelumnya, data tuturan (7) merupakan tuturan implikatur imperatif ngelulu. Hal ini
dilihat dari makna tuturan yang diucapkan guru yakni “Gene bagus bajune dilebokke, opo maneh nganggo tali rafia.” Pada situasi yang santai saat proses pembelajaran guru mengomentari gaya berpakaian murid laki-lakinya yang saat itu terlihat berbeda dari biasanya. Perbedaan tersebut dari seragam atas yang dimasukkan ke dalam celana atau terlihat rapi. Akan tetapi, murid tersebut tidak menggunakan sabuk celana semestinya, melainkan menggunakan tali plastik/ tali rafia. Komentar sang guru ditanggapi malu dan menutupi sabuk plastik tersebut. Dari kasus tuturan tersebut sang guru memiliki maksud untuk memerintah murid untuk mengganti sabuk dari plastik dengan sabuk yang semestinya diperuntukkan untuk celana seragam sekolah. Gaya tuturan yang berupa pujian-pujian dan membuat murid tidak tersinggung, bahkan mengerti maksud sang guru yang menyindirnya. Oleh karena itu, Tuturan tersebut memiliki dua alur maksud, yakni menyindir dan memerintah.
2) Maksud Memerintah Tuturan (8)
Guru : “Yang menyembunyikan tas dan jaket, tahun depan ngulang.” (3/12/SMA) Konteks: Situasi yang terjadi pada pertuturan tersebut tampak santai dan menjurus pada ramai. Maksud dari tuturan tersebut adalah memerintah bagi yang menyembunyikan tas dan jaket untuk segera mengembalikan. Bentuk tuturan berupa kalimat perintah. Penutur adalah guru sejarah, yang ditujukan kepada seluruh murid kelas XI IPS 1.
Tuturan (9)
Guru : “Kamu ndak ada catatan kan pasti? Ga papa, sampai ulangan sajakan enak malahan.” (29/10/SMK)
Konteks : Situasi tuturan tersebut terasa jengkel. Maksud dari tuturan tersebut adalah menunjukkan bahwa sang guru telah pasrah terhadap sikap murid. Nada suara guru terdengar tinggi. Guru wanita menuturkan kepada murid yang tidak dapat menyampaikan catatannya. Murid tampak tidak focus terhadap pelajaran.
Tuturan (10)
Guru : “Ini ada yang piket enggak ya?” Murid : “Ada kok bu, ada” (11/2/SMA)
Konteks : Situasi pada tuturan tersebut terasa tegang. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid untuk menghapus tulisan-tulisan di papan tulis. Tuturan bersifat tuturan lisan dua arah dan bernada tinggi.
Tuturan (11)
Guru : “Mas, apa kamu enggak nulis?”
Murid : “Bu, saya minta soft file.” (11/6/SMA)
Konteks : Situasi dalam pertuturan tersebut terasa lebih santai. Maksud dari tuturan tersebut adalah menunjukkan bahwa para murid malas untuk menulis catatan yang berasal dari slide PPT sang guru. Tuturan bersifat lisan dan bernada santai cenderung merajuk.
Tuturan (12)
Guru : “Gandhang udah selesai?” (5/2/SMK)
Konteks : Situasi terasa kesal. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid untuk tenang dan fokus mengerjakan tugas. Nada suara tuturan terdengar tinggi.
Tuturan (8) memiliki wujud pernyataan yang bermaksud memerintah. Data tuturan 2 dituturkan dengan nada meninggi kepada seluruh murid di dalam kelas. Tuturan tersebut terjadi kala ada salah satu tas murid yang disembunyikan oleh beberapa temannya. Akan tetapi tidak ada yang mengakuinya. Melihat hal tersebut guru merasa akan mengganggu proses pembelajarannya yang harusnya segera berjalan. Kemudian guru wanita tersebut menuturkan data tuturan (8) yakni “Yang menyembunyikan tas dan jaket, tahun depan ngulang.”. Tuturan tersebut bukanlah sebuah kalimat perintah, melainkan berupa kalimat pernyataan yang mengandung maksud memerintah. Lebih dalam, kalimat tersebut tidak secara langsung memerintah untuk mengembalikan tas yang disembunyikan. Kalimat tersebut secara gramatikal memang terlihat mengancam atau sebuah gertak “sambal” oleh sang guru
kepada para murid. Terbukti, setelah guru menuturkan tersebut salah satu murid mengeluarkan tas yang ia sembunyikan bersama teman-temannya, sehingga proses pembelajaran kembali berjalan. Maka dari itu, dapat ditentukan bahwa maksud yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah memerintah.
Data tuturan (9) merupakan sebuah tuturan implikatur percakapan umum yang berwujud imperatif ngelulu. Hal ini diidentifikasi dari wujud yang tampak dari tuturan tersebut, yakni “Kamu ndak ada catatan kan pasti? Ga papa, sampai ulangan sajakan enak malahan.” Dari tuturan tersebut, konteks yang melingkupinya berupa tuturan yang bernada tinggi. Tuturan tersebut juga dituturkan oleh guru wanita pengampu mata pelajaran akutansi. Tuturan itu ditujukan oleh salah satu siswa yang tampak tidak fokus dan terlihat tidak memperhatikan arahan sang guru. Oleh karena itu, dapat diinterpretasi perihal maksud yang ada pada data tuturan (9) adalah memerintah untuk aktif mengikuti pelajaran. Secara spesifik, tuturan tersebut terdapat dua kalimat, yakni kalimat tanya dan kalimat pernyataan. Pada tuturan pertanyaan, guru mencoba mengomentari dan menanyakan hal yang sudah diketahui oleh sang guru, perihal kebiasaan murid tersebut yang jarang mencatat. Kemudian, guru menanggapi seolah membolehkan tindakan tersebut, namun maksud guru adalah menyuruh untuk rajin mencatat agar tidak kesulitan nantinya. Pernyataan bersifat kebalikan dari sifat sesungguhnya yang merupakan maksud yang hendak disampaikan kepada murid. Maka dari itu, dapat ditemukan bahwa maksud dari tuturan tersebut adalah memerintah.
Berbeda dengan dua data sebelumnya, pada data tuturan (10) ini berwujud pertanyaan yang mengandung maksud untuk memerintah. Tuturan tersebut terjadi saat guru akan memulai pelajaran. Akan tetapi papan tulis yang hendak dipakai untuk menuliskan materi masih terdapat tulisan-tulisan untuk mata pelajaran sebelumnya, sehingga guru menuturkan data tuturan (10) yakni “Ini ada yang piket enggak ya?”. Tuturan tersebut ternyata mendapat dua respon dari para murid, yaitu menjawab dengan lisan dan petugas piket segera membersihkan papan tulis. Maka dari itu, unsur interogatif dari wujud tuturan dapat mengandung maksud untuk memerintah.
Sama dengan data tuturan (10), pada data tuturan (11) wujud dari tuturan berupa kalimat pertanyaan atau interogatif. Hal ini diidentifikasi dari sisi gramatikal atau bentuk tuturan yakni “Mas, apa kamu enggak nulis?”. Apabila dari segi maksud tuturan tersebut adalah memerintah muridnya untuk menulis materi yang diberikan oleh guru. Tuturan tersebut terjadi karena murid tidak mencatat materi yang guru berikan di tampilan slide power point. Hal ini sejalan dengan pengertian dari implikatur menurut Horn (2004: 3) bahwa Implicature is a component of speaker meaning that constitutes an aspects of what is meant in a speaker's utterance without being part of what is said. Oleh karena itu implikatur merupakan komponen makna pembicara yang merupakan aspek dari apa yang dimaksud dalam ucapan pembicara tanpa menjadi bagian dari apa yang dikatakan. Maka dari itu, ditemukan bahwa pada data tuturan (11) memiliki maksud untuk memerintah salah satu muridnya untuk mencatat materi dengan wujud tuturan berupa kalimat pertanyaan.
Brown & Yule (1996) menjelaskan bahwa implikatur digunkaan untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan berbeda dengan apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur. Hal ini sejalan dengan data tuturan (12) yang berwujud sebuah tuturan interogatif. Secara literal wujud tuturan tersebut memiliki maksud untuk menanyakan si murid perihal selesai atau belum penulisan materi dari guru. Akan tetapi, dari sisi implikatur, tuturan tersebut memiliki maksud yang lain. Hal ini berdasarkan pada konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Tuturan tersebut dituturkan oleh guru kepada salah satu murid laki-laki. Keadaan murid saat itu tampak ribut dengan murid yang lainnya dan tidak menulis catatan yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, guru menuturkan “Gandhang udah selesai?” kepada murid tersebut yang bernama Gandang. Pertanyaan tersebut mengindikasikan sebuah perintah untuk Gandhang untuk segera menyelesaikan proses mencatatnya. Jadi, dapat disimpulkan pada data tuturan (12) ini sebuah wujud pertanyaan memiliki maksud untuk memerintah.
2. Implikatur Percakapan Berskala
Proses analsis maksud implikatur percakapan berskala berdasar pada analisis wujud pada subbab sebelumnya. Berikut ini adalah paparan analisis data perihal maksud percakapan implikatur percakapan berskala. Pada tuturan dalam implikatur percakapan berskala ini, penutur menemukan dua maksud yang tersembunyi di balik peristiwa tutur, yakni maksud menyindir dan memerintah. Berikut adalah analisis maksud tersebut.
1) Maksud Menyindir Tuturan (14)
Guru : “Wah kamu 12 pertanyaan ya.” Murid : “Haha endak pak, belum selesai”
Konteks: Situasi dalam tuturan terasa menyenangkan dan ceria. Penutur adalah guru dan mitra tutur adalah satu murid perempuan. Guru memberikan tugas kepada murid untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan mengenai wawancara yang nantinya diajukan kepada teman sebangku. Beberapa murid ada yang kesulitan menyusun pertanyaan, sehingga dalam waktu yang lama belum menghasilkan pertanyaan yang banyak. Maksud yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah menyindir.
2) Maksud Memerintah Tuturan (13)
Guru : “Satu jam pelajaran selesai ya?” Murid: “satu setengah ya bu”
Guru: “Baik, tapi satu tulisan jadi semua ya.” (4/3/SMK)
Konteks: Situasi terasa menyenangkan. Maksud dari tuturan tersebut memerintah para murid untuk segera menyelesaikan dan menggunakan waktu dengan seefektif mungkin dalam menulis artikel.
Tuturan (15)
Murid : “Izin ke belakang bu.”
Guru : “Sak menit!” (satu menit) (3/8/SMA)
Konteks: situasi saat pertuturan itu agak santai dan tidak tegang. Maksud tuturan tersebut menunjukkan bahwa guru adalah orang yang disiplin dan ingin murid tersebut cepat kembali ke kelas. Bentuk tuturan berupa kalimat perintah yang tidak menjawab secara tersurat tuturan murid. Nada bicara tegas dan cepat.
Tuturan (16)
Guru : “Sudah lebih 10 menit ya?” (3/1/SMA)
Konteks: Situasi dari tuturan tampak kesal. Guru menuturkan pertanyaan yang bermaksud untuk menyindir para murid yang tidak disiplin untuk masuk kelas setelah istirahat pertama, sehingga terlambat menjadi 10 menit. Guru berharap agar kejadian