BAB IV: HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data
4.2.1 Wujud Implikatur dalam Pembelajaran
4.2.1.2 Wujud Implikatur Percakapan
Yule (2014) mengungkapkan bahwa dalam implikatur percakapan terdiri atas tiga jenis, yakni implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus, dan implikatur percakapan berskala. Berikut ini adalah wujud implikatur percakapan yang didapatkan di lapangan dan penguraiannya.
1. Wujud Implikatur Percakapan Umum
Pada bagian analisis wujud implikatur percakapan umum. Peneliti menemukan tiga, sehingga akan diklasifikasikan atas tiga wujud tersebut. Berikut ini adalah penguraian mengenai wujud-wujud implikatur percakapan umum yang akan disajikan sebagai berikut.
1) Wujud Tuturan Deklaratif
Seperti pada penjelasan sebelumnya, bahwa secara fungsi komunikatif wujud deklaratif memiliki tujuan untuk menyampaikan informasi bagi mitra tuturnya.
Berikut ini adalah beberapa data tuturan yang memiliki wujud deklaratif atau wujud pernyataan yang terdapat dalam jenis implikatur percakapan umum.
Tuturan (7)
Guru : “Gene bagus bajune dilebokke, opo maneh nganggo tali rafia.” (1/1/SMA) (ternyata bagus bajunya dimasukkan, apalagi memakai tali rafia)
Konteks: situasi menyenangkan atau tidak tegang pasca diberikan tugas. Guru mengingatkan murid tersebut untuk lebih rapi lagi dan tidak nanggung dalam hal merapikan pakaian yang digunakan. Karena murid tersebut memasukkan pakaian, tetapi menggunakan sabuk tali plastik (rafia). Tuturan dinyatakan dengan cara yang santai. Penutur dan mitra tutur berasal dari daerah jawa, sehingga menggunakan tuturan bahasa Jawa.
Tuturan (8)
Guru : “Yang menyembunyikan tas dan jaket, tahun depan ngulang.” (3/12/SMA) Konteks: Situasi yang terjadi pada pertuturan tersebut tampak santai dan menjurus pada ramai. Maksud dari tuturan tersebut adalah memerintah bagi yang menyembunyikan tas dan jaket untuk segera mengembalikan. Bentuk tuturan berupa kalimat perintah. Penutur adalah guru sejarah, yang ditujukan kepada seluruh murid kelas VIII IPS 1.
Tuturan (9)
Guru : “Kamu ndak ada catatan kan pasti? Ga papa, sampai ulangan sajakan enak malahan.” (29/10/SMK)
Konteks : Situasi tuturan tersebut terasa jengkel. Maksud dari tuturan tersebut adalah menunjukkan bahwa sang guru telah pasrah terhadap sikap murid. Nada suara guru terdengar tinggi.
Pada data tuturan (7), wujud tuturan berupa bahasa jawa, karena penutur dan mitra tutur memiliki latar belakang budaya jawa. Bentuk tuturan berupa kalimat pernyataan. Tuturan tersebut mengandung pujian, komentar, dan melarang bagi muridnya. Tuturan (7) merupakan wujud dari imperatif “ngelulu”, yakni mengandung maksud melarang, namun berbentuk imperatif biasa yang lebih kepada mengomentari. Rahardi (2005: 117) mengungkapkan bahwa imperatif yang bermakna “ngelulu” di dalam bahasa Indonesia lazimnya tidak diungkapkan dengan penanda
kesantunan itu, melainkan berbentuk tuturan imperatif biasa. Selain itu, tuturan (7) secara gramatikal atau penyusunan kalimat merupakan jenis kalimat majemuk setara. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut memiliki wujud perintah atau imperatif dengan kesan menyarankan.
Pada tuturan (8) merupakan jenis implikatur percakapan umum yang berwujud kalimat pernyataan. Tuturan di atas ditujukan kepada pelaku atau subjek, yakni “yang menyembunyikan tas dan jaket”. Ditilik dari wujud tuturan adalah pernyataan. Akan tetapi, dari segi fungsi kalimat adalah suatu perintah atau imperatif. Sejalan dengan Rahardi (2005: 94) bahwa Imperatif yang demikian (wujud nonimperatif) dapat disebut dengan imperatif tidak langsung yang hanya dapat diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang mewadahinya. Hal tersebut tentunya dapat dilihat dalam tuturan (8) yang mengandung maksud imperatif, namun berwujud pernyataan atau bukan imperatif. Dilihat dari kesan wujud tuturan tersebut dapat diperoleh kesan memperingatkan.
Data tuturan (9) dan data tuturan (7) memiliki kesamaan wujud, yakni wujud imperatif ngelulu. Akan tetapi dalam tuturan data (9) terdiri dua bentuk kalimat, yakni kalimat tanya dan kalimat pernyataan. Kalimat tanya dalam tuturan tersebut mengandung makna klasrifikasi serta menyindir murid. Hal itu juga menguatkan tuturan selanjutnya atau yang mengikutinya, yakni pernyataan yang dikenal sebagai imperatif ngelulu. Yakni guru memerintah murid melakukan sesuatu, namun maksud
yang sebenarnya adalah melarang murid tersebut melakukan tindakan tersebut. Dari segi kesan yang didapatkan dari wujud tuturan tersebut adalah terkesan menyarankan.
Pada analisis di atas ditemukan bahwa penggunaan wujud kalimat pernyataan dalam suatu tuturan menimbulkan berbagai macam maksud tuturan. Melalui wujud deklaratif, tuturan terasa lebih diterima oleh mitra tutur. Hal ini tampak pada reaksi atas tuturan deklaratif yang memiliki maksud lainnya. Oleh karena itu, dalam suatu tuturan deklaratif, tidak hanya menunjukkan makna memberi suatu informasi, melainkan juga terdapat kesan, yakni menyarankan dan memperingatkan.
2) Wujud Tuturan Interogatif
Wujud tuturan interogatif merupakan bentuk kalimat yang mengandung pertanyaan atau interogatif. Hal ini ditilik dari nada suara dan dari sisi gramatikal penggunaan kalimat dalam tuturannya. Berikut ini adalah wujud tuturan interoatif atau pertanyaan yang ditemukan.
Tuturan (10)
Guru : “Ini ada yang piket enggak ya?” Murid : “Ada kok bu, ada” (11/2/SMA)
Konteks : Situasi pada tuturan tersebut terasa tegang. Penutur adalah guru dan mitra tutur adalah para murid. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid untuk menghapus tulisan-tulisan di papan tulis. Tuturan bersifat tuturan lisan dua arah dan bernada tinggi.
Tuturan (11)
Guru : “Mas, apa kamu enggak nulis?”
Murid : “Bu, saya minta soft file.” (11/6/SMA)
Konteks : Situasi dalam pertuturan tersebut terasa lebih santai. Maksud dari tuturan tersebut adalah menunjukkan bahwa para murid malas untuk menulis catatan yang berasal dari slide PPT sang guru. Tuturan bersifat lisan dan bernada santai cenderung merajuk.
Tuturan (12)
Guru : “Gandhang udah selesai?” (5/2/SMK)
Konteks : Situasi terasa kesal. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid untuk tenang dan fokus mengerjakan tugas. Nada suara tuturan terdengar tinggi.
Selanjutnya, selain berbentuk pernyataan untuk fungsi memerintah. Ternyata pada data tuturan (10) dalam fungsi suruhan menggunakan wujud tuturan pertanyaan atau interogatif. Wujud interogatif tersebut adalah “ini ada yang piket enggak ya?” yang mana merupakan jenis implikatur percakapan umum. Tuturan tersebut merujuk pada sistem yang telah disepakati bersama dalam kelas tersebut yakni kata “piket”. Piket sendiri merupakan sistem yang disetujui oleh setiap murid dalam kelas untuk jadwal kebersihan. Landasan ini merujuk dari Rahardi (2005: 96) bahwa makna imperatif suruhan dapat diungkapkan dengan bentuk tuturan deklaratif dan tuturan interogatif. Dengan demikian, dalam data tuturan (10) merupakan data implikatur percakapan yang memiliki wujud kalimat interogatif dengan kesan yang literal yakni bertanya.
Penggunaan wujud tuturan interogatif tidak hanya digunakan pada data tuturan (10), melainkan juga pada data tuturan (11) yang mana maksud memerintah dituturkan dengan wujud pertanyaan atau interogatif. Hal ini dilihat dari struktur kalimat atau secara literal menunjukkan keinginan untuk sekadar klarifikasi dengan bentuk tuturan “Mas, apa kamu enggak nulis?”. Secara literal, dapat saja dijawab oleh murid “tidak” atau “iya”. Akan tetapi, selain dari penggunaan wujud interogatif dalam tuturan tersebut, terjadi pelanggaran maksim. Yakni, murid tidak menjawab
apa yang diinginkan oleh penutur. Akan tetapi, melalui pertanyaan yang diajukan oleh guru tersebut memiliki kesan untuk mengklarifikasi.
Data tuturan (12) dan data tuturan (10) memiliki kesamaan dalam wujud tuturan, yakni berwujud pertanyaan atau interogatif. Data tuturan (12) merupakan jenis implikatur percakapan umum, yang mana memiliki maksud untuk memerintah. Hal ini merujuk Rahardi (2005: 96) bahwa makna imperatif suruhan dapat diungkapkan dengan bentuk tuturan deklaratif dan tuturan interogatif. Maka dari itu, pertuturan berupa tuturan interogatif atau pertanyaan dapat dijadikan sebagai tuturan yang bermaksud untuk memerintah. Pada data tuturan (12) efek yang terjadi dari wujud pertanyaan tersebut adalah tenang dan melanjutkan mengerjakan soal. Dari wujud pertanyaan tersebut terkesan penutur ingin mengklarifikasi mitra tutur.
Pada analisis wujud interogatif dalam implikatur percakapan umum didapatkan bahwa bentuk tuturan berupa kalimat pertanyaan yang secara makna membutuhkan jawaban dari mitra tutur. Dengan demikian, wujud interogatif yang guru sampaikan telah dipahami oleh murid. Beberapa kesan yang terdapat dari wujud interogatif implikatur percakapan umum adalah menanyakan dan mengklarifikasi.
2. Wujud Implikatur Percakapan Berskala
Pada tuturan yang berindikasikan implikatur percakapan berskala ditunjukkan dengan adanya unsur-unsur skala. Skala suatu nilai dilihat dari unsur perbandingan atas batasan tertinggi atau terendah. Menurut Yule (2014) bahwa ciri-ciri implikatur berskala adalah nilai tertinggi ke nilai terendah, seperti skala semua, sebagian besar,
banyak, beberapa, sedikit, dan skala selalu, dan skala “keharusan” antara lain sering, kadang-kadang. Akan tetapi, peneliti juga menggunakan penanda angka sebagai acuan suatu skala selain penanda skala dari Yule. Hal ini berdasar pada maksud yang ada pada tuturan, yakni angka yang bermakna demi kelancaran pemahaman terhadap maksud dalam komunikasi. Dalam analisis data implikatur percakapan berskala terdapat tiga macam wujud, yakni data tuturan wujud deklaratif, imperatif, dan interogatif. Berikut ini adalah penguraian mengenai wujud implikatur percakapan berskala yang akan disajikan sebagai berikut.
1) Wujud Tuturan Deklaratif
Pada analisis implikatur percakapan berskala terdapat wujud tuturan deklaratif. Wujud dengan fungsi komunikatif untuk menyampaikan sebuah informasi tersebut juga memiliki dua sifat, yakni sifat langsung dan sifat tak langsung untuk menyampaikan sebuah informasi. Berikut ini data tuturan yang telah didapat dan merupakan wujud sebuah tuturan deklaratif atau pernyataan.
Tuturan (13)
Guru: “Satu jam pelajaran selesai ya?” Murid: “satu setengah ya bu”
Guru: “Baik, tapi satu tulisan jadi semua ya.” (4/3/SMK)
Konteks: Situasi terasa menyenangkan. Penutur awal adalah guru, sedangkan mitra tutur adalah para murid di kelas. Maksud dari tuturan tersebut memerintah para murid untuk segera menyelesaikan dan menggunakan waktu dengan seefektif mungkin dalam menulis artikel.
Tuturan (14)
Guru : “Wah kamu 12 pertanyaan ya.” Murid : “Haha endak pak, belum selesai”
Konteks: Situasi dalam tuturan terasa menyenangkan dan ceria. Penutur adalah guru dan mitra tutur adalah satu murid perempuan. Guru memberikan tugas kepada murid
untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan mengenai wawancara yang nantinya diajukan kepada teman sebangku. Beberapa murid ada yang kesulitan menyusun pertanyaan, sehingga dalam waktu yang lama belum menghasilkan pertanyaan yang banyak. Maksud yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah menyindir dan memerintahkan untuk lebih cepat menyusun pertanyaan.
Pada data tuturan (13) terdapat kata yang menjadi acuan dari implikatur percakapan berskala menurut Yule, yakni kata “semua”. Data tuturan (13) terjadi kala guru baru memberikan tugas untuk menulis sebuah artikel berita dalam pelajaran broadcasting. Sebelum terjadi tuturan yang menunjukkan sebuah acuan dari implikatur percakapan berskala menurut Yule, yakni “semua”. Terdapat proses tawar menawar yang terjadi antara murid dan guru dalam menentukan waktu untuk penyelsaian sebuah tugas menulis artikel. Pada tuturan “baik, tapi satu tulisan jadi semua ya” memiliki makna literal atau yang tampak adalah guru setuju dengan permohonan para murid, namun guru menambahkan kata “semua” yang memiliki arti skala tidak beberapa maupun sebagian, sehingga maksud yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah guru memerintah para murid untuk efektif menggunakan kesempatan yang diberikan oleh guru. Hal ini dilatarbelakangi oleh murid yang sering menggunakan waktu yang lama dalam menyelesaikan tugas untuk gaduh atau ramai. Dengan demikian, wujud yang terdapat dalam data tuturan (13) adalah berwujud pernyataan atau deklaratif yang memiliki kesan literal menghimbau.
Pada tuturan (14) terdapat penanda yang menyebabkan tuturan tersebut merupakan implikatur percakapan berskala. Yakni pada penyebutan angka “12”, sehingga penanda sebuah skala atau suatu pengukuran berpatok pada angka “12”.
Wujud dari tuturan tersebut merupakan sebuah pernyataan yang ditujukan kepada salah satu murid. Dilihat dari konteks tuturannya, diketahui bahwa pemberian waktu yang lama oleh sang guru tidak dimanfaatkan oleh murid untuk segera menyelesaikan tugas. Maka dari itu, tuturan (14) memiliki sifat kebalikan dari kenyataan. Kenyataan yang ada adalah soal-soal yang dibuat oleh murid tidak banyak dan tidak mencapai 12. Oleh karena itu, wujud pernyataan dari tuturan (14) merupakan sebuah bentuk sindiran halus yang ditujukan kepada muridnya. Argumen yang menguatkan bahwa tuturan (14) adalah sebuah sindiran terdapat pada tuturan balasan dari murid, yakni “Haha, endak pak, belum selesai.” Maka dari itu, pernyataan dari guru yang tidak sesuai dengan kenyataan merupakan sebuah tindakan menyindir.
Dari kedua analisis data (13) dan (14) di atas didapatkan bahwa implikatur percakapan berskala yang berwujud deklaratif atau pernyataan dapat memperhalus tuturan. Selain itu juga dapat mengakomodasi beberapa maksud tersembunyi di luar tuturan yang tampak. Secara khusus, wujud dari tuturan implikatur berskala dilihat dari penggunaan kata dan frasa nominal angka secara langsung. Hal ini merupakan bagian pengembangan teori dari Yule (2014) bahwa ciri-ciri implikatur berskala adalah nilai tertinggi ke nilai terendah, seperti skala semua, sebagian besar, banyak, beberapa, sedikit, dan skala selalu, dan skala “keharusan” antara lain sering, kadang-kadang. Oleh karena itu, pengukuran sebuah skala menggunakan angka atau nominal bilangan secara langsung terdapat dalam wujud tuturan. Kesan secara literal yang dari
wujud tuturan deklaratif implikatur percakapan berskala adalah menghimbau dan menyindir.
2) Wujud Tuturan Imperatif
Pada analisis implikatur percakapan berskala terdapat wujud tuturan imperatif. Berikut ini data tuturan yang telah didapat dan merupakan wujud sebuah tuturan imperatif atau perintah.
Tuturan (15)
Murid : “Ijin ke belakang bu.”
Guru : “Sak menit!” (satu menit) (3/8/SMA)
Konteks: situasi saat pertuturan itu agak santai dan tidak tegang. Maksud tuturan tersebut menunjukkan bahwa guru adalah orang yang disiplin dan ingin murid tersebut cepat kembali ke kelas. Bentuk tuturan berupa kalimat perintah yang tidak menjawab secara tersurat tuturan murid. Nada bicara tegas dan cepat.
Pada data tuturan (15) guru menuturkan tuturan yang diindikasikan mengandung implikatur percakapan berskala dengan patokan angka atau bilangan yang terbilang. Angka yang terbilang tersebut adalah “sak menit” (satu menit). Tuturan tersebut merupakan implikatur percakapan berskala dengan piranti batas skala satu menit. Hal ini tentu sejalan dengan Yule (2014) bahwa implikatur percakapan berskala memerikan skala tertinggi ke skala terendah. Pada data (15) penutur menggunakan patokan skala tertinggi yakni satu menit. Secara literal tuturan tersebut dipahami atau memiliki makna terlihat untuk memerintahkan murid yang izin ke belakang selama satu menit. Akan tetapi maksud yang tak tampak adalah memerintah murid untuk ke belakang dan segera kembali ke kelas untuk mengikuti
pelajaran. Dengan demikian, didapatkan bahwa data tuturan (15) memiliki wujud tuturan imperatif secara literal memiliki kesan menginformasikan.
3) Wujud Tuturan Interogatif
Pada analisis implikatur percakapan berskala terdapat wujud tuturan interogatif. Berikut ini data tuturan yang telah didapat dan merupakan wujud sebuah tuturan interogatif atau pertanyaan.
Tuturan (16)
Guru : “Sudah lebih 10 menit ya?” (3/1/SMA)
Konteks: Situasi dari tuturan tampak kesal. Guru menuturkan pertanyaan yang bermaksud untuk menyindir para murid yang tidak disiplin untuk masuk kelas setelah istirahat pertama, sehingga terlambat menjadi 10 menit. Guru berharap agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.
Tuturan (17)
Guru : “Kira-kira berapa lama untuk baca artikel?” Murid : “Satu jam bu”
Guru : “Wah 15 menit cukup ya?” (29/2/SMK)
Konteks: Situasi dalam tuturan tersebut terasa santai. Maksud dari tuturan tersebut adalah negosiasi waktu yang menandakan bahwa guru ingin murid membaca artikel dengan cepat dan fokus, karena hanya artikel singkat.
Data tuturan (16) merupakan tuturan yang berjenis implikatur percakapan berskala. Hal ini didukung atas penanda yang tampak pada tuturan tersebut. Penanda tersebut adalah frasa “lebih 10”. Penanda tersebut memiliki makna bahwa ketentuan secara makna adalah patokan aktivitas 10 menit. Apabila dikombinasikan dengan pengertian secara luas terhadap implikatur percakapan berskala menurut Yule, tuturan tersebut dapat diasumsikan sebagai batas maksimal suatu nilai. Ditilik dari wujud yang digunakan oleh penutur, yakni berwujud kalimat interogatif dengan tuturan “Sudah lebih 10 menit ya?”. Wujud interogatif dalam tuturan tersebut terjadi kala
para murid terlalu lama dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh sang guru, sehingga makna yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah komentar atau bentuk permohonan klarifikasi dari para murid. Akan tetapi dari segi maksud guru mengutarakan tuturan tersebut adalah memerintah para murid untuk segera menyelesaikan soal yang diberikan oleh sang guru. Dengan demikian, didapatkan wujud dari data tuturan (16) adalah berwujud tuturan interogatif yang memiliki kesan secara literal mengklarifikasi.
Pada data tuturan (17), terjadi dua kali tuturan implikatur percakapan berskala dalam satu kali momen. Momen atau peristiwa tersebut dimunculkan oleh guru dan murid menggunakan piranti angka bermakna dalam bertutur. Murid menuturkan “satu jam bu.” Yang mana, murid menuturkan suatu pernyataan perihal waktu yang diinginkan untuk membaca artikel singkat dari sang guru. Piranti skala yang digunakan oleh para murid apabila dirunut dari teori Yule perihal implikatur berskala merujuk pada skala tertinggi dengan menyatakan satu jam sebagai acuan waktu aktivitas. Hal ini dimaknai murid ingin memiliki waktu yang banyak untuk membaca artikel yang singkat tersebut selama satu jam. Hal ini dibalas dengan tuturan implikatur percakapan berskala dari sang guru dengan menuturkan “15 menit cukup ya?” tuturan dari guru tersebut memiliki wujud yang berbeda dengan tuturan dari murid yang berwujud pernyataan, sedangkan tuturan dari guru berwujud interogatif atau pertanyaan. Secara literal, makna yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah para murid menyelesaikan pembacaan artikel yang singkat dalam periode waktu batas
maksimal selama 15 menit. Akan tetapi, maksud yang sebenarnya adalah guru memerintahkan murid untuk membaca artikel dengan efektif dan penuh fokus tidak bertele-tele dengan segala aktivitas gaduh di dalam kelas. Dengan demikian, pada data tuturan (17) terdapat dua wujud tuturan dalam penerapan implikatur percakapan berskala, yakni berwujud pernyataan dan berwujud interogatif yang memiliki kesan literal menawar.
Dengan demikian pada implikatur percakapan berskala memiliki wujud pertanyaan atau interogatif dari tuturan (16) dan (17). Secara khusus ternyata ditemukan dua wujud, yakni deklaratif dan interogatif. Kemudian dilihat dari kesan literal yang diperoleh dari wujud interogatif adalah mengklarifikasi dan menawar. 3. Wujud Implikatur Percakapan Khusus
Dalam analisis data implikatur percakapan khusus terdapat tiga macam wujud, yakni data tuturan wujud imperatif, deklaratif, dan interogatif. Berikut ini adalah penguraian mengenai wujud implikatur percakapan khusus yang akan disajikan sebagai berikut.
1) Wujud Tuturan Imperatif
Pada analisis implikatur percakapan khsusus terdapat wujud tuturan imperatif. Berikut ini data tuturan yang telah didapat dan merupakan wujud sebuah tuturan imperatif atau perintah.
Tuturan (18)
Guru : “Ojo ngono, gon kene lho!” (7/2/SMA) (Jangan kayak gitu, seperti gini lho!)
Konteks : Situasi dari pertuturan tersebut tampak menyenangkan. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyindir gaya rambut Qoza yang terlihat unik, kemudian guru mengomentari gaya rambut tersebut dengan menambahkan gaya rambut yang lebih parah. Hal ini merujuk pada aturan sekolah Pangudi Luhur yang menerapkan kerapian dalam berpenampilan serta bergaya rambut.
Pada data tuturan (18) terdapat dua makna yang tampak dalam satu tuturan, yakni perintah negatif dan perintah positif. Tampak pada tuturan “ Ojo ngono” yang berarti jangan begitu, lalu dilanjutkan dengan “ngene lho” yang berarti “begini lho”. Apabila dirunut dari wujud imperatifnya, tuturan tersebut merupakan bentuk imperatif aktif transitif. Ketentuan dalam imperatif aktif transitif terdapat dalam Rahardi (2005:90) bahwa imperatif aktif transitif untuk membentuk imperatif aktif transitif, verbanya harus dibuat tanpa berawalan me-N. Hal ini menjadi dasar kuat, karena pada data tuturan (18) mengandung makna perintah atau imperatif dari sang guru terhadap muridnya untuk merapikan rambutnya sesuai dengan aturan di sekolah tersebut.
2) Wujud Tuturan Deklaratif
Pada analisis implikatur percakapan khsusus terdapat wujud tuturan deklaratif Berikut ini data tuturan yang telah didapat dan merupakan wujud sebuah tuturan deklaratif atau pernyataan.
Tuturan (19)
Guru : “Kalau mejanya bersih kan enak dipandang” Murid : “Kejauhan bu tasnya.” (28/10/SMK)
Konteks: Situasi dalam pertuturan tersebut terasa santai. Situasi tersebut daat jam mata pelajaran sejarah. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid untuk tidak menaruh tas mereka di atas meja, karena sering digunakan untuk menyembunyikan aktivitas bermain HP dan alas kepala untuk tidur di SMK Putra Tama khsuusnya kelas XI Otomotif.
Tuturan (20)
Guru :
“Alhamdulillah, Pilipus tumben masuk ya.”Konteks : Situasi dalam pertuturan tersebut adalah santai. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyindir murid yang sangat jarang masuk, walaupun dibubuhkan “Alhamdulillah” sebagi wujud syukur dan diikuti “tumben”.
Tuturan (21)
Guru : “Mending balik ke Jakarta kan enak, daripada di sini malah kamu buang waktu.” (29/9/SMK)
konteks: Situasi tuturan tersebut terasa tegang dan marah. Maksud dari tuturan tersebut adalah menandakan sang guru sudah tidak menaruh perhatian terhadap murid tersebut kala mengikuti pelajarannya. Sang murid tampak tidak menghiraukan perkataan sang guru.
Tuturan (22)
Guru: “Tenang saja Putra Tama itu baik hati, nanti bisa nyicil hape dan macam- macam.” (5/4/SMK)
Konteks: Situasi dalam tuturan tersebut terasa santai. Tuturan diutarakan oleh guru perempuan dari Jawa kepada murid-muridnya yang mayoritas dari wilayah timur Indonesia.. Maksud dari tuturan tersebut adalah SMK Putra Tama Bantul dapat memberikan beasiswa kepada para murid. Nada suara terdengar tinggi, tetapi bukan marah, melainkan terkesan menyindir.
Data tuturan (19) menunjukkan bahwa suatu komunikasi untuk pelarangan dapat berupa tuturan yang berwujud deklaratif. Kebiasaan dari para murid di kelas XI