BAB IV: HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data
4.2.1 Wujud Implikatur dalam Pembelajaran
4.2.1.1 Wujud Implikatur Konvensional
Pada bagian analisis wujud implikatur konvensional, peneliti menemukan dua wujud, sehingga akan diklasifikasikan atas dua wujud tersebut. Wujud-wujud implikatur konvensional tersebut berupa wujud tuturan deklaratif dan wujud tuturan imperatif yang akan disajikan sebagai berikut.
1. Wujud Tuturan Deklaratif
Wujud tuturan deklaratif akan dilihat dari segi gramatikal serta pengucapan yang dilakukan oleh penutur. Kalimat deklaratif dalam bahasa Indonesia mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada si mitra tutur (Rahardi, 2005:74). Pada tuturan deklaratif akan terdapat beberapa tuturan yang memiliki maksud selain apa yang tampak dengan tuturan langsung. Berikut ini adalah analisis perihal wujud tuturan deklaratif dalam implikatur konvensional.
Tuturan (1)
Guru: “Bapak-bapak iki arisan ae.” (3/7/SMA) (bapak-bapak ini arisan terus)
Konteks: Situasi terasa tegang karena guru perempuan sedang menjelaskan materi, namun berubah ketika mengomentari aktivitas empat murid laki-laki yang sedang ribut sendiri. Maksud dari pertuturan tersebut adalah untuk meminta para murid yang ribut untuk lebih kondusif. Bentuk tuturan tersebut adalah kalimat perintah yang bersifat mengomentari aktivitas sekelompok murid, bukan menyuruh untuk diam. Tetapi melalui sindiran aktivitas yang dianalogikan sebagai aktivitas arisan layaknya ibu-ibu yang ramai saling berbicara.
Tuturan (2)
Guru: “Utari, vokal dasarnya lembut, tapi kalau bercanda treble semua ya.” (28/6/SMK)
Konteks: Situasi dari tuturan tersebut tampak santai. Pelaku adalah guru dan salah satu siswi. Maksud dari tuturan tersebut menyuruh siswi tersebut membaca berita dengan volume lebih keras. Bentuk tuturan menggunakan tuturan lisan dan bernada tinggi. Penggunaan kata treble sebagai kata sindiran untuk siswi tersebut adalah kesehariannya yang selalu bicara keras ketika kondisi kelas ramai.
Tuturan (3)
Guru : “KD selanjutnya adalah wawancara.” (10/2/SMA) Murid : “Waduh”
Konteks: Situasi pertuturan tersebu tampak santai, maksud dari tuturan tersebut adalah memperingatkan perihal aspek-aspek yang akan dilakukan pada KD wawancara. Nada yang terdengar cenderung tinggi dan jelas.
Implikatur konvensional sejatinya adalah implikatur yang memiliki maksud secara gramatikal diketahui oleh masyarakat umum. Mulyana (2001) mengungkapkan implikatur konvensional merupakan implikasi atau pengertian yang bersifat umum. Hal tersebut tampak pada data tuturan 1, ditemukan kata “arisan”. Kata tersebut memiliki makna yang telah diketahui banyak orang. Kata “arisan” memiliki arti kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota
memperolehnya (KBBI). Secara gramatikal, kata “arisan” telah dijelaskan sebelumnya, namun penggunaan kata “arisan” dalam tuturan tersebut dilihat dari keadaan saat proses arisan dan pengetahuan bersama oleh masyarakat mengenai hal itu. Pengetahuan tersebut merujuk pada keadaan anggota arisan erat kaitannya dengan berisik, gaduh, dan ramai oleh percakapan-percakapan apapun di dalamnya. Maka dari itu, banyak masyarakat umum yang mengetahui arisan adalah kondisi berisik atau gaduh antarsesamanya. Jadi, guru menganalogikan keadaan tersebut dengan kata “arisan” dan menuturkan tuturan dengan wujud deklaratif atau pernyataan yang terkesan menyindir.
Penggunaan istilah asing juga digunakan dalam tuturan data (2), yang mana merupakan tuturan yang diawali dengan memuji dan diakhiri dengan sindiran. Hal ini juga sering disebut dengan majas ironi. Penggunaan kata “treble” pada seseorang sebenarnya berlebihan, mengingat “treble” merupakan bagian dari pengaturan suatu audio elektronik. “Treble” sendiri merupakan bagian audio yang mengatur nada tinggi pada suara. Maka dari itu, penempatan kata “treble” pada tuturan tersebut menempatkan siswi sebagai pemilik suara yang tinggi dan nyaring. Akan tetapi, pada saat peristiwa tersebut, siswi hanya berbicara pelan dan bukan seperti biasanya, sehingga guru menggunakan istilah “treble” bagi siswi tersebut. Dari segi wujud keseluruhan tuturan tersebut merupakan sebuah wujud deklaratif yang terkesan menyindir mitra tutur.
Chaer (2011:349) menyatakan bahwa kalimat berita adalah kalimat yang isinya menyatakan berita atau pernyataan untuk diketahui oleh orang lain (pendengar atau pembaca). Data tuturan (3) adalah tuturan berwujud pernyataan atau berita yang hendak menginformasikan bahwa KD selanjutnya adalah KD wawancara. Hal ini merujuk pada pesan yang hendak disampaikan oleh sang guru kepada para muridnya perihal aspek-aspek yang akan dilakukan oleh para murid ketika melakukan aktivitas wawancara. Maka dari itu, maksud tuturan “KD selanjutnya adalah wawancara.” Merupakan makna suatu imbauan guru kepada para murid yang berjenis tuturan nonimperatif yang berwujud kalimat berita atau kalimat deklaratif atau pernyataan yang terkesan memperingatkan.
2. Wujud Tuturan Imperatif
Wujud tuturan imperatif ditunjukkan dengan bentuk kalimat imperatif. Rahardi (2005: 79) menyatakan bahwa kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia dapat berkisar antara suruhan yang sangat keras atau kasar sampai dengan permohonan yang sangat halus atau santun. Berikut ini adalah tuturan yang merupakan wujud tuturan imperatif.
Tuturan (4)
Guru : “Kalau mau olah mulut, iya silahkan di luar tidak apa-apa!” (7/3/SMA) Konteks: Situasi dari tuturan tersebut tampak marah, sedangkan mitra tutur tampak gaduh tak menghiraukan. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh para murid untuk tenang, kemudian murid nampak mulai tenang sedikit-demi sedikit. Nada bicara terdengar pasrah dan pelan.
Tuturan (5)
Konteks: Situasi terasa santai dan terjadi di lapangan indoor. Maksud dari tuturan tersebut adalah menyuruh murid yang tidak memperhatikan tuturan guru dan tiduran untuk memperhatikan guru. Nada tuturan tersebut bernada rendah dan santai. Penggunaan “UKS” menjadi pengetahuan perihal murid yang sakit akan ditempatkan di UKS.
Tuturan (6)
Guru: Hayo! Yang maju bapak-bapak ini!
Konteks: Situasi terasa kecewa atau kesal yang ditunjukkan oleh sang guru. Peristiwa tutur terjadi di kelas. Peristiwa tutur terjadi antara guru dengan beberapa murid laki-laki. Keadaan di situ adalah beberapa murid laki-laki yang ramai dan tidak memperhatikan soal yang diberikan guru di papan tulis. Beberapa kali guru menawarkan kepada murid-murid untuk maju mengerjakan soal tersebut, tetapi tidak ada yang beranjak untuk mengerjakan. Apalagi ada beberapa murid laki-laki yang ramai sendiri, sehingga sang guru menuturkan tuturan tersebut.
Selanjutnya, data tuturan (4) menggunakan frasa penanda “olah mulut” untuk tuturannya kepada murid. Frasa tersebut hampir sama dengan frasa “olahraga” yakni mengolah raga untuk semakin kuat. Akan tetapi, wujud implikatur dalam tuturan (4) berwujud kalimat deklaratif. Secara gramatikal, frasa tersebut merupakan jenis frasa kerja berkontruksi D-M. Dirunut dari Chaer (2011:320) bahwa frase kerja berkontruksi D-M yang unsurnya terdiri dari kata kerja dan kata benda hanya ada (atau ada dalam bahasa Indonesia) dalam makna idiomatikal. Dilihat dari wujudnya, tuturan tersebut berwujud kalimat imperatif ngelulu. Rahardi (2005: 116) mengungkapkan bahwa kata “ngelulu” berasal dari bahasa Jawa, yang bermakna seperti menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu namun sebenarnya yang dimaksud adalah melarang melakukan sesuatu. Guru menggunakan frasa ”olah mulut” bukan berarti untuk menguatkan mulut. Guru dapat menggunakan pilihan kata atau frasa seperti “ramai”, “berisik”, atau ”bicara terus” yang menunjukkan maksud yang sama dengan “olah mulut”. Pada kalimat yang dituturkan oleh guru, frasa”olah mulut”
diikuti oleh “Di luar saja, tidak apa-apa” menunjukkan bahwa satu tuturan tersebut guru menggunakan implikatur yang sebenarnya melarang murid untuk ramai dan tidak memperhatikan oleh sang guru. Maka dari itu, wujud yang tampak dari tuturan tersebut adalah berwujud imperative atau perintah yang terkesan untuk mengimbau.
Selain frasa seperti tuturan (4), terdapat juga bentuk tuturan dalam tuturan (5) menggunakan singkatan “UKS” yakni Unit Kesehatan Sekolah dalam kalimat yang digunakan guru. Pengetahuan umum yang dipahami masyarakat mengenai UKS adalah salah satu tempat di sekolah guna menampung, tempat, atau mengatasi murid yang sakit ringan saat di sekolah. Dirunut dari makna kalimatnya, bahwa kalimat tersebut merupakan jenis kalimat sintetis. Kalimat sintetis adalah kalimat yang kebenarannya bergantung pada fakta-fakta luar bahasa (Wijana, 1996:42). Hal ini tentu dilihat dari uraian kalimat yang dituturkan oleh penutur yang berunsur untuk menghimbau bagi yang tiduran dan sakit untuk ke UKS. Hal tersebut merujuk pada wujud implikatur yang berupa perintah dengan unsur himbauan.
Data tuturan (6) menggunakan penanda kata “bapak-bapak” sebagai acuan untuk diklasifikasikan dalam implikatur konvensional. Hal ini diproyeksikan bahwa kata tersebut diketahui oleh khalayak menganai spesifikasinya. Kata “bapak” sendiri memiliki pengertian seorang pria dewasa yang telah memiliki istri, serta anak. Kemudian penyebutan dari kata “bapak” dituturkan berulang, sehingga menjadi “bapak-bapak” yang berarti banyak bapak. Dari konteks yang terdapat dalam peristiwa tutur tersebut, guru menganalogikan beberapa murid laki-laki ke dalam
sebutan “bapak-bapak”. Oleh karena itu, orang di luar lingkungan kelas itu pun mengetahui makna kata tersebut. Selanjutnya, makna tuturan (6) dianalisis melalui penggunaan kata dan konteksnya memiliki makna menyindir dan memerintah beberapa murid laki-laki yang tidak kondusif. Sindiran tersebut muncul melalui efek penggunaan kata “bapak-bapak”, padahal sejatinya murid-murid tersebut belum memiliki istri dan anak. Dengan demikian, disimpulkan bahwa tuturan tersebut memiliki wujud imperatif yang menggunakan piranti kata konvensional yang terkesan menyindir mitra tutur.
Pada analisis wujud imperatif implikatur konvensional ditemukan bahwa penggunaan kata dan frasa dalam sebuah tuturan dapat menentukan makna yang ingin disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur. Hal ini sesuai dengan sifat implikatur konvensional yang menggunakan makna arti kata atau frasa. Selain itu, ditemukan pula bahwa pengucapan atau penuturan dirasakan lebih meningkat volumenya. Hal ini menjadi salah satu indikator tuturan tersebut merupakan bentuk perintah, sehingga transkripsi tuturan menggunakan tanda seru yang merupakan salah satu sifat kalimat perintah. Dengan demikian, pemahaman maksud suatu tuturan dalam wujud imperatif implikatur konvensional melalui kata dan frasa yang digunakan disertai kecepatan dan volume tuturan.
Dengan demikian, dari hasil analisis wujud implikatur konvensional yang terdapat pada tuturan percakapan guru dan murid terdiri atas dua wujud. Pertama adalah implikatur yang memiliki wujud pernyataan atau deklaratif. Dari wujud
tersebut dikhususkan kembali bahwa terdapat kesan yang dirasakan dari makna literal atau makna yang tampak dari tuturan tersebut, yakni kesan menyindir dan mengimbau. Oleh karena itu, dari wujud deklaratif atau pernyataan dalam implikatur konvensional mengandung kesan menyindir dan mengimbau. Kedua, implikatur yang memiliki wujud imperatif atau perintah dalam tuturan guru dan murid. Hal ini sama dengan wujud deklaratif yang memiliki kesan, kesan dari tuturan yang berwujud imperative tersebut adalah menyindir dan mengimbau.