• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.1 Wujud Implikatur Tuturan Guru di dalam Pembelajaran

Berdasarkan hasil analisis data, peneliti menemukan beberapa wujud implikatur yang terdeteksi dalam bentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat. Bentuk-bentuk tersebut didasarkan pada fungsi komunikatif dari tuturan yang dituturkan oleh guru kepada para muridnya. Hal ini juga memberikan pandangan tentang fungsi gramatikal yang ada pada tuturan guna memberikan makna dan maksud yang tidak tampak dalam tuturan. Hal tersebut peneliti lakukan dengan dasar analisis yang bersifat co-teks, selain tentunya menggunakan konteks sebagai alat untuk mengetahui maksud yang tidak tampak dalam sebuah tuturan berindikasi implikatur tersebut.

Tata cara peneliti menganalisis wujud implikatur percakapan adalah melakukan klasifikasi berdasarkan pada jenis implikatur. Jenis implikatur terdiri atas dua jenis, yakni implikatur konvensional dan implikatur percakapan. Secara khsusus, implikatur percakapan memiliki tiga jenis implikatur percakapan, yakni implikatur percakapan umum, implikatur percakapan berskala, dan implikatur percakapan khusus. Penjelasan tersebut didasari menurut pendapat dari Yule (2014) bahwa terdapat dua jenis implikatur, yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan. Setelah itu, dibagi lagi atas 3 jenis implikatur percakapan, yakni implikatur percakapan umum, implikatur percakapan berskala, dan implikatur percakapan khusus.

4.3.1.1 Implikatur Konvensional

Pada analisis wujud implikatur konvensional secara garis besar dan utama berdasarkan pada penggunaan fungsi gramatikal dalam tuturan. Hal ini merujuk pada Yule (2006: 78) bahwa implikatur konvensional tidak harus terjadi dalam percakapan dan tidak bergantung pada konteks khusus untuk menginterpretasinya. Maka dari itu, suatu maksud akan dapat dipahami berdasarkan pada penggunaan kata, frasa, klausa, atau kalimat yang digunakan oleh penutur. Hal tersebut mengarah pada lingkup semantik dalam memahami maksud yang terdapat dalam suatu tuturan. Hal ini merujuk pada penggunaan idiom atau ungkapan-ungkapan yang memiliki arti semantik. Artinya, pemahaman suatu maksud dari tuturan implikatur dapat dilihat dari kata, frasa, klausa, maupun kalimatnya. Hal itu tentu akan mempengaruhi wujud

yang digunakan oleh penutur untuk menuturkan tuturan yang hendak disampaikan kepada mitra tutur.

Mustafa (2010) dalam jurnal yang berjudul The Interpretation of Implicature: A Comparative Study between Implicature in Linguistics and Journalism mengungkapkan bahwa implikatur konvensional muncul dari makna kata-kata konvensional dan wacana yang terjadi. Hal ini tentu semakin menegaskan bahwa dalam memaknai suatu tuturan dapat melalui makna kata atau frase yang digunakan oleh penutur. Hal ini tentu menjadi pembeda dengan apa yang dikatakan oleh Yule (2006), bahwa implikatur konvensional tidak membutuhkan konteks untuk mengetahui maksud dari suatu tuturan. Konteks dalam tuturan implikatur konvensional secara tidak mutlak nyatanya masih berfungsi dalam memahami maksud suatu tuturan. Hal ini terbukti pada data penelitian yang peneliti temukan. Bahwa dalam memahami maksud suatu tuturan selain dari kata atau frase, peneliti juga menggunakan konteks yang berlaku saat peristiwa tutur tersebut terjadi. Dengan demikian, implikatur konvensional tetap menggunakan konteks dalam memahami maksud tuturan selain dari penggunaan makna gramatikalnya.

Dari hasil analisis data yang peneliti temukan, terdapat dua wujud tuturan dalam implikatur konvensional, yakni wujud implikatur deklaratif dan wujud implikatur imperatif. Secara fungsi komunikatif, wujud implikatur deklaratif adalah suatu bentuk gramatikal yang memiliki maksud untuk memberikan informasi atau maksud tertentu kepada mitra tutur. Rahardi (2008: 76) mengungkapkan sekalipun

wujud deklaratif itu bermacam-macam apabila dilihat dari nilai komunikatifnya semua tuturan itu, pada dasarnya memiliki maksud yang sama, yakni sama-sama mengandung makna menyatakan atau memberitahukan sesuatu. Hal ini tampak pada bentuk pernyataan yang digunakan oleh penutur. Secara normatif dan fungsinya, wujud deklaratif atau pernyataan mengandung maksud untuk memberikan informasi tanpa mengandung maksud yang lain. Akan tetapi, wujud deklaratif dalam implikatur konvensional ini mengandung maksud yang lain, yakni maksud memerintah. Levinson (1983) mengungkapkan implikatur dapat menyederhanakan substansial baik dalam struktur maupun deskripsi semantik. Jadi, pada konsep yang terdapat dalam wujud implikatur deklaratif, memiliki maksud memerintah. Selain itu juga terdapat wujud imperatif yang sejalan yakni memerintah, namun menggunakan ungkapan atau idiom yang menjadi ciri implikatur konvensional.

4.3.1.2 Implikatur Percakapan Umum

Implikatur percakapan umum merupakan implikatur yang tidak mempersyaratkan pengetahuan khusus untuk memahami maksud dibalik tuturan yang diutarakan oleh penutur. Hal ini sejalan dengan Yule (2006:70) yang mengungkapkan jika pengetahuan khusus tidak dipersyaratkan untuk memperhitungkan makna tambahan yang disampaikan dalam tuturan, maka disebut dengan implikatur percakapan umum. Pemahaman terhadap maksud yang tidak tampak juga dimengerti oleh orang ketiga atau partisipan diluar penutur dan mitra tutur. Seperti cuplikan tuturan “Ini ada yang piket enggak ya?” Hal ini merujuk pada penjelasan awal, bahwa

dalam memahami maksud yang tidak tampak pada suatu tuturan tidak membutuhkan pengetahuan khusus bagi mitra tutur. Hal ini lah yang menjadi awal penemuan tuturan tersebut merupakan implikatur percakapan umum. Dilihat dari wujud komunikatif yang digunakan dalam tuturan tersebut, berwujud interogatif atau pertanyaan yang ditujukan kepada para murid dalam kelas. Wujud interogatif tersebut juga berupa sindiran, karena kondisi papan tulis yang masih kotor, tetapi belum dibersihkan oleh petugas piket. Maka dari itu, beberapa murid yang sadar akan tuturan tersebut segera bereaksi dengan membersikhkan papan tulis. Kontruksi kalimat yang digunakan dalam tuturan juga lengkap untuk menjadi sebuah kalimat pertanyaan.

Perwujudan dari tuturan yang diindikasi mengandung implikatur percakapan umum tentu telah sesuai dengan kriteria prinsip implikatur. Bahwa apa yang diutarakan berbeda dengan maksud yang sebenarnya. Nugraheni (2010) dalam artikelnya yang berjudul Analisis Implikatur Pada Naskah Film Harry Potter And The Goblet of Fire mengungkapkan bahwa implikatur berasal dari sebuah fenomena dalam pertuturan, maka penutur dan mitra tutur disarankan untuk mematuhi kaidah-kaidah percakapan, namun demikian peserta pertuturan baik sengaja atau tidak, mungkin melanggar prinsip percakapan tersebut. Dari penjelasan tersebut, peneliti mencoba merekonstruksi perihal implikatur percakapan. Implikatur percakapan umum lahir dari peristiwa tutur yang telah terjadi pelanggaran prinsip kerja sama. Wujud dari tuturan yang telah dianalisis ternyata kembali ditegaskan berupa wujud

interogatif dan deklaratif. Astami (2014) dalam artikelnya yang berjudul Implikatur Percakapan Dalam Film Nihonjin No Shiranai Nihongo menghasilkan beberapa wujud yang diambil dari tindak tuturnya, yakni direktif, ekspresif, deklaratif, dan asertif. Dari penemuan tersebut, ternyata pada proses pembelajaran juga berlaku wujud deklaratif. Walaupun dalam penelitian tidak menemukan wujud interogatif, peneliti sendiri meyakini bahwa pada peristiwa tutur yang terjadi dalam proses pembelajaran selalu ditemukan wujud deklaratif dan interogatif.

Dirunut kembali perihal implikatur percakapan, bahwa sesuatu yang diartikan, disiratkan, atau dimaksudkan berbeda dengan apa yang dituturkan. Hal ini berlaku pada implikatur percakapan umum juga. Kompetensi berbahasa seharusnya tidak melulu mempelajari struktur yang tampak saja, melainkan juga memahami aspek-aspek di luar struktur bahasa, sehingga komunikasi akan berjalan dengan baik. Jaelani (2016) dalam artikelnya yang berjudul Implementasi Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Di Sekolah menyatakan bahwa dalam pembelajaran bahasa khususnya pada aspek pembelajaran berbicara, ketercapaian suatu kompetensi berbahasa yang tepat tidaklah hanya dengan mempelajari bahasa secara struktural, tetapi juga harus didukung oleh suatu pembelajaran tentang aspek-aspek yang ada di luar bahasa yang seringkali berpengaruh dalam proses komunikasi. Bahwa sebuah tuturan yang memiliki wujud tuturan interogatif atau pertanyaan memiliki pesan secara implisit untuk memerintah. Hal tersebut semakin menguatkan pemahaman bahwa tuturan yang secara wujud berupa pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban dapat menghasilkan maksud dan efek memerintah kepada mitra

tutur. Maka dari itu, wujud implikatur percakapan umum yang ditemukan adalah wujud interogatif dan wujud deklaratif yang memiliki maksud untuk memerintah. 4.3.1.3 Implikatur Percakapan Berskala

Pada penelitian ini, peneliti juga menemukan data implikatur percakapan berskala. Akan tetapi, peneliti tidak menemukan banyak penanda yang diutarakan oleh Yule (2014) yang menggunakan istilah-istilah dalam mengungkapkan kuantitas, seperti yang ditunjukkan pada daftar skala nilai tertinggi ke nilai terendah. Seperti “semua, sebagian besar, banyak, beberapa, sedikit, selalu, sering, kadang-kadang”. Oleh karena itu peneliti menggunakan penanda yang memiliki sifat sama pada penjelasan menurut Yule (2014) yakni menggunakan “bilangan bermakna”. Hal ini peneliti terapkan dalam analisis implikatur percakapan berskala, karena penanda ungkapan kuantitas sebagai skala tertinggi ke nilai terendah menggunakan patokan bilangan atau angka. Peneliti kutipkan tuturan “Sudah lebih 10 menit ya. Secara khusus pada data tuturan tersebut, guru menggunakan frasa “lebih 10 menit” sebagai penanda suatu skala tertinggi untuk memberikan estimasi keterlambatan murid yang terlambat masuk ke kelas. Apabila ditilik dari segi wujud, tuturan data dia atas memiliki wujud komunikatif berupa kalimat interogatif atau pertanyaan. Peneliti menempatkan tuturan tersebut sebagai sebuah wujud kalimat pertanyaan karena memiliki nada suara yang sama dengan orang lain ketika menuturkan sebuah pertanyaan. Hal ini tentu sepadan dengan tuturan data di atas, bahwa makna dari tuturan tersebut adalah menginginkan jawaban klarifikasi dari beberapa murid yang

terlambat masuk ke kelas. Akan tetapi, tuturan tersebut sejatinya adalah bermaksud untuk memerintah para murid untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut di lain waktu.

Pada penelitian ini, peneliti menemukan wujud kalimat deklaratif dan wujud kalimat imperatif yang terdapat dalam tuturan implikatur percakapan berskala. Dengan demikian, data implikatur percakapan berskala yang terdapat dalam penelitian ini berjumlah tiga wujud sesuai dengan fungsi komunikatif. Tiga wujud fungsi komunikatif tersebut adalah wujud deklaratif, imperatif, dan interogatif. Ketiga wujud tersebut memiliki maksud yang sama, yakni memerintah. Dengan demikian, kolaborasi antara fungsi komunikatif dan penggunaan kata / nominal bilangan dalam kalimat beriringan dengan konteks, sehingga diketahui maksud yang terdapat dalam suatu tuturan.

4.3.1.4 Implikatur Percakapan Khusus

Dirunut dari pengertian implikatur percakapan khusus bahwa dalam implikatur ini mengakomodasi pengetahuan atau pemahaman unsur-unsur lokal antara penutur dan mitra tutur. Oleh karena itu, antara penutur dan mitra tutur membutuhkan pemahaman yang sama dalam lingkup lokal atau khusus. Hal ini didasari dari Yule (2006: 74) bahwa implikatur percakapan khusus sangat khusus di mana kita mengasumsikan informasi kita ketahui secara lokal. Hal tersebut tentunya memiliki sifat pemahaman yang lebih kecil, karena hanya komunitas atau instansi tertentu yang mengetahui.

Bahasan ini muncul atas hasil analisis data yang telah dilakukan terhadap wujud-wujud tuturan yang terindikasi mengandung implikatur. Dari hasil analisis data penelitian, ditemukan beberapa wujud sesuai dengan fungsi komunikatif tuturan tersebut yakni imperatif (perintah), deklaratif (pernyataan), dan interogatif (pertanyaan). Ketiga wujud tuturan tersebut ditemukan sebagai wujud yang sering digunakan oleh guru dalam menuturkan pembicaraan kepada mitra tuturnya yakni murid. Sebelum lebih jauh pada maksud tuturan, secara garis besar maksud yang terdapat dalam tuturan tersebut mengandung perintah maupun larangan. Purwa (2015) dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Implikatur dan Retorika Pemakaian Bahasa pada Papan Iklan mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk tuturan suatu bahasa iklan yang mengandung implikatur terdiri atas lima fungsi kaidah retorik, yakni (a) iklan yang menggunakan kaidah pernyataan (pernyataan netral dan pernyataan yang disertai penilaian), (b) iklan yang menggunakan kaidah perkaitan konsep, (c) iklan yang menggunakan kaidah larangan, dan iklan yang menggunakan kaidah suruhan. Dari lima poin tersebut menunjukkan bahwa suatu wujud yang pada dasarnya berwujud suruhan juga mengandung suatu implikatur yang bermaksud menyuruh. Hal itu juga berlaku pada wujud imperatif yang juga memiliki maksud memerintah, melainkan pada maksud perintah terhadap hal lain. Hal tersebut mengacu pada prinsip implikatur, yakni apa yang dituturkan berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Maka dari itu, dalam implikatur percakapan khusus ini, perwujudan tuturan terdapat tiga, yakni imperatif, pernyataan, dan interogatif yang

kesemuanya memiliki maksud yang berbeda dengan apa yang diutarakan secara tersurat.