BAB V KESEHATAN DASAR DAN KESEJAHTERAAN ANAK
5.5 Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan yang dilakukan pemerintah dalam pembangunan kesehatan nasional. Melalui program imunisasi, Indonesia dinyatakan bebas penyakit cacar sejak tahun 1974. Sejak saat itu program-program pemerintah diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi Dalam Rangka Pencegahan Penularan Terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu tuberkolosis, difteri, pertusus, campak, polio, tetanus, dan hepatitis B.
Gambar 5. 11 Persentase Balita yang Pernah Diberi Imunisasi menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2016 94,99 92,53 93,79 94,89 92,63 93,78 94,94 92,58 93,78
61
Profil Anak Indonesia 2017
59
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
Imunisasi diberikan agar bayi yang relatif masih rentan terhadap penyakit dapat terhindar dari penyakit berbahaya, kecacatan dan bahkan kematian. Gambar 5.11 memperlihatkan persentase balita yang pernah mendapatkan imunisasi sebesar 93,78 persen pada tahun 2016. Persentase balita yang pernah diimunisasi lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan, yaitu 94,94 persen berbanding 92,58 persen. Perbedaan yang relatif tinggi ini perlu mendapat perhatian agar orang tua di daerah perdesaan mengerti bahaya penyakit yang dapat menyerang bayi dan manfaat imunisasi untuk mencegahnya. Sedangkan menurut jenis kelamin, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam capaian pemberian imunisasi laki-laki dan perempuan.
Tabel 5.2 Persentase Balita yang Pernah Diberi Imunisasi menurut Provinsi, dan Jenis Kelamin, 2016
Provinsi Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
(1) (2) (3) (4) Papua 69,62 73,16 71,35 Aceh 85,24 84,41 84,83 Maluku 87,23 91,09 89,11 Sumatera Utara 90,39 88,9 89,66 Sumatera Barat 90,83 89,66 90,24 Riau 89,91 91,07 90,47 Maluku Utara 90,97 92,81 91,88 Banten 92,49 91,28 91,90 Jambi 92,81 91,22 92,02 Kalimantan Barat 91,69 92,42 92,04
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
Meskipun secara nasional 93,78 persen balita pernah diberi imunisasi, namun masih ada provinsi yang cakupannya masih relatif rendah. Tabel 5.2 memperlihatkan persentase balita yang pernah diberi imunisasi pada 10 provinsi dengan cakupan terendah. Provinsi yang terendah adalah Papua sebesar 71,35 persen, yang berarti sekitar 28,65 persen balita di Papua tidak pernah diberi imunisasi. Provinsi lainnya yang cakupannya juga rendah adalah Aceh sebesar 84,83 persen dan Maluku sebesar 89,11 persen. Pemberian imunisasi yang masih rendah perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah mengingat imunisasi dapat meningkatkan kesehatan anak dan meningkatkan kekebalan tubuh anak agar tidak tidak mudah tertular penyakit.
Profil Anak Indonesia 2017
58
Gambar 5.10 memperlihatkan bahwa perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang melakukan IMD pada anak lahir hidupnya yang terakhir sebanyak 45,57 persen. Persentase PPK umur 15-49 tahun yang melakukan IMD di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan, yaitu 47,95 persen berbanding 43,04 persen. Persentase ini meningkat dari tahun sebelumnya, namun masih ada kelompok yang tidak tahu terkait IMD meskipun persentasenya menurun. Provinsi dengan persentase tertinggi PPK umur 15-49 tahun yang melakukan IMD adalah NTB sebesar 57,25 persen, Jawa Tengah sebesar 55,69 persen, dan DKI Jakarta sebesar 52,39 persen. Sedangkan provinsi dengan persentase terendah adalah Maluku sebesar 24,24 persen, Sulawei Utara sebesar 27,24 persen, dan Maluku Utara sebesar 31,77 persen Lampiran Tabel L-5.18.
5.5 Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan yang dilakukan pemerintah dalam pembangunan kesehatan nasional. Melalui program imunisasi, Indonesia dinyatakan bebas penyakit cacar sejak tahun 1974. Sejak saat itu program-program pemerintah diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi Dalam Rangka Pencegahan Penularan Terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu tuberkolosis, difteri, pertusus, campak, polio, tetanus, dan hepatitis B.
Gambar 5. 11 Persentase Balita yang Pernah Diberi Imunisasi menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2016 94,99 92,53 93,79 94,89 92,63 93,78 94,94 92,58 93,78
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Profil Anak Indonesia 2017
Saat ini program imunisasi diberikan secara gratis oleh pemerintah di puskesmas dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian bayi. Ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun yaitu hepatitis B, BCG, Polio, DPT dan campak, kemudian dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan pada balita dan anak usia sekolah. Imunisasi lengkap adalah seorang balita pada usia satu tahun memperoleh lima imunisasi dengan komposisi satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi polio, empat kali imunisasi hepatitis B, dan satu kali imunisasi campak.
Gambar 5.12 Persentase Balita yang Pernah Diberi Imunisasi menurut jenis Imunisasi dan Tipe Daerah, 2016
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
Gambar 5.12 memperlihatkan bahwa persentase balita yang pernah memperoleh imunisasi polio sebesar 90,54 persen, BCG sebesar 90 persen, DPT sebesar 84,80 persen, hepatitis B sebesar 84,32 persen, dan campak sebesar 72,75 persen.
Gambar 5.13 memperlihatkan bahwa sebesar 69,82 persen balita sudah mendapat imunisasi lengkap. Menurut tipe daerah, persentase balita yang mendapat
91,90 88,03 90,00 92,05 88,97 90,54 87,16 82,34 84,80 87,34 81,18 84,32 73,98 71,47 72,75 Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
63
Profil Anak Indonesia 2017
61 perbedaan yang signifikan antara persentase balita laki-laki dan perempuan yang mendapatkan imunisasi lengkap.
Gambar 5.13 Persentase Balita yang Mendapat Imunisasi Lengkap menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2016
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
Tiga provinsi dengan persentase tertinggi Balita yang mendapat imunisasi lengkap adalah DI.Yogyakarta sebesar 88,36 persen, Bali sebesar 85,10 persen, dan Jawa Tengah sebesar 81,63 persen. Sedangkan yang terendah adalah Papua sebesar 44,64 persen, Aceh sebesar 46,65 persen, dan Sumatera Utara sebesar 54,74 persen, Lampiran Tabel L-5.23.
Saat ini dunia kesehatan harus mulai melakukan antisipasi kembali terhadap kemunculan penyakit-penyakit lama yang selama ini dianggap sudah bebas dari virus, bakteri maupun toksin, namun penyakit ternyata kembali muncul. Pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat memberikan vaksinasi terhadap penyakit-penyakit tertentu, selanjutnya tugas kita sebagai masyarakat untuk mengikuti program-program pemerintah dalam meminimalisir kondisi terburuk akibat penyebarluasan penyakit. 73,88 65,84 69,94 73,55 65,72 69,70 73,72 65,78 69,82
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
Profil Anak Indonesia 2017
60
Saat ini program imunisasi diberikan secara gratis oleh pemerintah di puskesmas dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian bayi. Ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun yaitu hepatitis B, BCG, Polio, DPT dan campak, kemudian dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan pada balita dan anak usia sekolah. Imunisasi lengkap adalah seorang balita pada usia satu tahun memperoleh lima imunisasi dengan komposisi satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi polio, empat kali imunisasi hepatitis B, dan satu kali imunisasi campak.
Gambar 5.12 Persentase Balita yang Pernah Diberi Imunisasi menurut jenis Imunisasi dan Tipe Daerah, 2016
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
Gambar 5.12 memperlihatkan bahwa persentase balita yang pernah memperoleh imunisasi polio sebesar 90,54 persen, BCG sebesar 90 persen, DPT sebesar 84,80 persen, hepatitis B sebesar 84,32 persen, dan campak sebesar 72,75 persen.
Gambar 5.13 memperlihatkan bahwa sebesar 69,82 persen balita sudah mendapat imunisasi lengkap. Menurut tipe daerah, persentase balita yang mendapat imunisasi lengkap di perkotaan sebesar 73,72 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan sebesar 65,78 persen. Menurut jenis kelamin, tidak terlihat
91,90 88,03 90,00 92,05 88,97 90,54 87,16 82,34 84,80 87,34 81,18 84,32 73,98 71,47 72,75 Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Profil Anak Indonesia 2017
5.6 Kesehatan AnakKesehatan merupakan syarat seorang anak tumbuh sesuai dengan pola tumbuh kembang yang ideal. Seorang anak yang tidak sehat akan mengalami gangguan pola makan yang dapat berakibat pada kurangnya nutrisi untuk tumbuh kembang. Susenas mendefinisikan seseorang mengalami keluhan kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik karena penyakit akut, penyakit kronis, kecelakaan, kriminal atau hal lain. Seorang dikatakan sakit apabila memiliki keluhan kesehatan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan hasil Susenas 2016 anak umur 0-17 tahun yang mengalami keluhan kesehatan sebesar 29,50 persen (Gambar 5.14). Anak-anak yang mengalami keluhan kesehatan di daerah perkotaan sebesar 31,57 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan di perdesaan sebesar 27,45 persen. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara anak laki-laki dan perempuan yang memiliki keluhan kesehatan baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Gambar 5.14 Persentase Anak Berumur 0-17 Tahun yang Memiliki Keluhan Kesehatan dalam Sebulan Terakhir menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2016
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
Tahun 2016 persentase anak yang sakit atau yang dikenal dengan angka kesakitan anak adalah 17,55 persen. Angka kesakitan (morbiditas) anak di perkotaan sebesar 18,33 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan sebesar 16,79 persen. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam persentase anak perempuan
31,69 27,39 29,53 31,45 27,51 29,48 31,57 27,45 29,50
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
65
Profil Anak Indonesia 2017
63
Gambar 5.15 Persentase Anak Berumur 0-17 Tahun yang Sakit dalam Sebulan Terakhir menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2016
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
5.6.1 Berobat Jalan
Berobat jalan merupakan upaya seseorang yang mengalami keluhan kesehatan untuk memeriksakan diri agar mendapatkan pengobatan dengan mendatangi tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa menginap, termasuk juga mendatangkan petugas kesehatan ke rumah. Gambar 5.16 memberikan informasi bahwa sebesar 62,11 persen anak mengalami keluhan kesehatan dan berobat jalan. Persentase anak yang mengalami keluhan kesehatan dan berobat jalan di daerah perkotaan sebesar 63,21 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan sebesar 60,85 persen.
Gambar 5.16 Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan dalam sebulan Terakhir Menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2016
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, BPS
18,45 16,81 17,63 18,20 16,76 17,48 18,33 16,79 17,55
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
63,53 61,07 62,38 62,88 60,61 61,82 63,21 60,85 62,11
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
Profil Anak Indonesia 2017
62