• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen PROFIL ANAK INDONESIA 2017 (Halaman 31-34)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia berkomitmen untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) pada tahun 2030 khususnya terkait pembangunan anak. Tujuan TPB adalah untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak merupakan salah satu target dalam TPB. Dari 17 target yang ditetapkan dalam TPB, beberapa tujuan yang terkait dengan anak antara lain: penghapusan kemiskinan anak; tidak ada lagi anak-anak kekurangan gizi dan meninggal karena penyakit yang bisa diobati; menciptakan lingkungan yang ramah terhadap anak; memenuhi kebutuhan pendidikan anak khususnya pendidikan di usia dini; dan target lainnya. Nasib masa depan anak-anak di Indonesia pada kurun waktu 13 tahun ke depan ditentukan oleh sejauh mana strategi yang sudah disusun oleh pemerintah dapat diimplementasikan secara berkesinambungan sejak saat ini. Dengan demikian Pemerintah menyadari akan pentingnya ketersediaan berbagai indikator anak yang dibutuhkan.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa 32,24 persen atau 83,4 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2016 adalah anak-anak berusia 0-17 tahun. Diprediksikan proporsi anak di Indonesia pada beberapa kurun waktu ke depan juga tidak akan mengalami perubahan signifikan. Ini artinya hampir satu diantara tiga penduduk Indonesia adalah anak-anak.

Visi pemerintah di masa mendatang adalah memperbaiki produktifitas penduduk dan meningkatkan daya saing di tingkat internasional dalam rangka memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Untuk mencapai hal tersebut, maka pemerintah perlu berinvestasi secara intensif pada kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di Indonesia. Bagaimana dengan tumbuh kembang anak

Profil Anak Indonesia 2017

terkait dengan kesehatan dan nutrisi yang diperlukan, pendidikan dan kesejahteraan anak, lingkungan tempat anak- tumbuh dan berkembang dan faktor-faktor lainnya. Beberapa hal tersebut merupakan penentu masa depan anak. Untuk itu sangat penting mengetahui sejauh mana indikator-indikator tersebut mencapai kemajuan atau belum. Dari indikator-indikator yang disajikan, kita akan mendapatkan gambaran lebih akurat tentang kondisi anak di masa sekarang dan membuka peluang yang lebih besar bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa akan datang.

Profil Anak Indonesia tahun 2017 ini menggambarkan beberapa dimensi pembangunan anak di Indonesia. Buku ini diharapkan dapat melengkapi berbagai macam publikasi lainnya tentang anak. Sehingga pemerintah dan berbagai kementerian maupun lembaga terkait dapat memberikan manfaat lebih optimal terhadap pemenuhan hak anak. Optimalisasi berbagai macam anggaran di tiap-tiap kementerian maupun lembaga yang mempunyai program pemenuhan hak anak diharapkan mampu memberikan akselerasi tercapainya berbagai macam target yang ada dalam TPB, utamanya yang peduli anak.

Hingga saat ini salah satu masalah yang masih dihadapi oleh anak-anak di Indonesia adalah kesenjangan. Pemerintah sudah melakukan berbagai hal untuk mengatasi masalah tersebut. Namun demikian, hingga saat ini kesenjangan masih dialami oleh sebagian anak-anak di Indonesia. Pemerintah sebagai pengemban amanat pembangunan bangsa sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 berkewajiban menghapus kesenjangan tersebut. Data dan informasi tentang kesenjangan sosial ini bisa diagregasikan menurut provinsi, jenis kelamin, umur, daerah tempat tinggal dan lainnya. Dengan agregasi tersebut diharapkan pemetaan kesenjangan antar wilayah bisa dilihat dan menjadi prioritas program ke depan sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan berbagai macam kesenjangan yang ada antar anak di Indonesi.

Topik lain yang menjadi perhatian utama pemerintah dalam beberapa tahun terakhir adalah tentang perlindungan anak. Pemerintah menyadari akan pentingnya menjamin hak-hak anak khususnya hak atas perlindungan dari segala bentuk kekerasan, fisik, mental dan lainnya. Hal ini diterjemahkan oleh pemerintah dalam program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

5

Profil Anak Indonesia 2017

5 Perdagangan Manusia), dan End Barriers To Economic Justice (Akhiri Kesenjangan Ekonomi terhadap perempuan). Untuk mengakhiri atau paling tidak meminimalisir berbagai masalah di atas diperlukan kerjasama intensif antar berbagai elemen masyarakat, baik pemerintah, organisasi swasta, akademisi, filantropi, dan masyarakat sendiri.

Menurut catatan Bappenas, pada tahun 2010 terdapat tujuh belas (17) kementerian dan lembaga yang bertanggung jawab dalam menjalankan program perlindungan anak. Tiga kementerian yang paling besar tugasnya adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Kementerian Sosial, dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Selain itu juga ada program di Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perumahan dan lain lain. Masing-masing Kementerian mempunyai peranan dan tugas fungsi yang berbeda, namun dengan satu visi yang sama seperti yang telah disebutkan diatas.

Berbagai upaya pemerintah tersebut diatas merupakan beberapa langkah strategis yang dilakukan pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal 28B Ayat (2). Dalam pasal itu disebutkan bahwa negara berkewajiban untuk menjamin hak setiap anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta hak atas perlindungan dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Selain itu, instrumen yang digunakan adalah Undang-Undang, konvensi, peraturan menteri dan program-program pemerintah lainnya yang saling bersinergi satu sama lain. Diantaranya adalah Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang diganti dengan UU 35 Tahun 2014, ratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990 melalui Keputusan Presiden Nomor 36. Dari sisi hukum, terlihat keseriusan pemerintah menangani pembangunan anak. Sisi legislasi adalah hal yang tidak bisa dianggap remeh, karena peranannya juga sangat krusial dalam mewujudkan cita-cita anak-anak di Indonesia.

Untuk itu, BPS menyambut baik keinginan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk menyediakan data kondisi pemenuhan hak anak Indonesia bagi berbagai pengguna data baik di lingkungan KPP&PA maupun kementerian/lembaga lainnya dan institusi lainnya. Selain itu profil ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengukur sejauh mana pemerintah telah melakukan tugasnya atas pemenuhan hak anak, hal itu dapat terlihat dalam

Profil Anak Indonesia 2017

4

terkait dengan kesehatan dan nutrisi yang diperlukan, pendidikan dan kesejahteraan anak, lingkungan tempat anak- tumbuh dan berkembang dan faktor-faktor lainnya. Beberapa hal tersebut merupakan penentu masa depan anak. Untuk itu sangat penting mengetahui sejauh mana indikator-indikator tersebut mencapai kemajuan atau belum. Dari indikator-indikator yang disajikan, kita akan mendapatkan gambaran lebih akurat tentang kondisi anak di masa sekarang dan membuka peluang yang lebih besar bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa akan datang.

Profil Anak Indonesia tahun 2017 ini menggambarkan beberapa dimensi pembangunan anak di Indonesia. Buku ini diharapkan dapat melengkapi berbagai macam publikasi lainnya tentang anak. Sehingga pemerintah dan berbagai kementerian maupun lembaga terkait dapat memberikan manfaat lebih optimal terhadap pemenuhan hak anak. Optimalisasi berbagai macam anggaran di tiap-tiap kementerian maupun lembaga yang mempunyai program pemenuhan hak anak diharapkan mampu memberikan akselerasi tercapainya berbagai macam target yang ada dalam TPB, utamanya yang peduli anak.

Hingga saat ini salah satu masalah yang masih dihadapi oleh anak-anak di Indonesia adalah kesenjangan. Pemerintah sudah melakukan berbagai hal untuk mengatasi masalah tersebut. Namun demikian, hingga saat ini kesenjangan masih dialami oleh sebagian anak-anak di Indonesia. Pemerintah sebagai pengemban amanat pembangunan bangsa sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 berkewajiban menghapus kesenjangan tersebut. Data dan informasi tentang kesenjangan sosial ini bisa diagregasikan menurut provinsi, jenis kelamin, umur, daerah tempat tinggal dan lainnya. Dengan agregasi tersebut diharapkan pemetaan kesenjangan antar wilayah bisa dilihat dan menjadi prioritas program ke depan sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan berbagai macam kesenjangan yang ada antar anak di Indonesi.

Topik lain yang menjadi perhatian utama pemerintah dalam beberapa tahun terakhir adalah tentang perlindungan anak. Pemerintah menyadari akan pentingnya menjamin hak-hak anak khususnya hak atas perlindungan dari segala bentuk kekerasan, fisik, mental dan lainnya. Hal ini diterjemahkan oleh pemerintah dalam program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak tahun 2016 lalu Three Ends yaitu End Violence Against Women and Children (Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak); End Human Trafficking (Akhiri

Profil Anak Indonesia 2017

berbagai indikator yang telah ditetapkan melalui Konvensi Hak Anak (KHA) yang sebagian akan disajikan dalam publikasi Profil Anak Indonesia 2017 ini.

Dalam dokumen PROFIL ANAK INDONESIA 2017 (Halaman 31-34)