BAB VI PENDIDIKAN ANAK
6.3 Program Indonesia Pintar atau Bantuan Siswa Miskin
Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) adalah program nasional yang bertujuan untuk menghilangkan halangan siswa miskin berpartisipasi untuk bersekolah dengan membantu mereka memperoleh akses pelayanan pendidikan yang layak, mencegah putus sekolah, menarik siswa miskin untuk kembali bersekolah, membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun (bahkan hingga tingkat menengah atas), serta membantu kelancaran program sekolah.
Melalui Program BSM diharapkan anak usia sekolah dari rumah-tangga/keluarga miskin dapat terus bersekolah, tidak putus sekolah, dan di masa depan diharapkan mereka dapat memutus rantai kemiskinan yang saat ini dialami orangtuanya. Program BSM juga mendukung komitmen pemerintah untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan di kabupaten/kota miskin dan terpencil serta pada kelompok marjinal.
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu serta mendorong keberlanjutan pendidikan anak dari keluarga kurang mampu, pemerintah memperluas cakupan pemberian bantuan tunai pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Dengan cakupan yang lebih luas, pemerintah berusaha menjangkau anak putus sekolah dari keluarga kurang mampu agar mau kembali melanjutkan pendidikannya. PIP merupakan bagian dari penyempurnaan program BSM.
PIP bertujuan untuk membantu anak usia sekolah dari keluarga miskin melanjutkan sekolah sampai lulus dari jenjang pendidikan menengah, serta membantu anak-anak yang putus sekolah dapat kembali bersekolah. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Bersama Antara Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Nomor 07/D/BP/2017, serta Nomor 02/MPK.C/PM/2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Indonesia Pintar tahun 2017.
Prioritas sasaran penerima manfaat PIP yang dijelaskan dalam Peraturan Bersama tersebut adalah peserta didik berusia 6 sampai dengan 21 tahun yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) berasal dari keluarga miskin/rentan miskin, dan/atau dengan pertimbangan khusus seperti berasal dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH), keluarga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), dan peserta didik yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari sekolah/panti sosial/panti asuhan. Kemudian juga, peserta didik yang terkena dampak bencana alam, peserta didik inklusi, korban musibah, dari orang tua PHK, di daerah konflik, dari keluarga
Profil Anak Indonesia 2017
106
Jika dibandingkan dengan tahun 2010, APK SD di Indonesia pada tahun 2015 lebih rendah 2,81 persen. Beberapa negara juga mengalami hal yang sama, yaitu penurunan APK SD dari tahun 2010-2015. Sebaliknya, ada juga beberapa negara yang mengalami kenaikan APK SD, misalnya Thailand, dari 96,10 persen tahun 2010 menjadi 102,73 persen di tahun 2015.
Tabel 6.7 Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak dalam Pendidikan Sekolah Menengah di Negara-negara Anggota ASEAN, 2010-2015
Negara Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Brunei Darussalam 99,24 101,08 105,71 104,35 99,12 96,08 Filipina - - - 88,39 - - Indonesia 76,54 79,21 80,41 82,49 82,47 85,84 Kamboja - - - - - - Laos 46,12 44,90 47,83 51,74 57,24 61,70 Malaysia 66,88 66,51 69,61 69,74 77,75 77,57 Myanmar 48,14 - - - 51,30 - Singapura - - - - - - Thailand 83,62 87,44 87,12 86,21 127,73 129,00 Vietnam - - - - - -
Sumber : World Bank, 2017 (http://data.worldbank.org/topic/education) Catatan :
- Data tidak tersedia
Sama halnya dengan APM sekolah menengah pada Tabel 6.5, APK sekolah menengah pada Tabel 6.7 juga mencakup SMP/sederajat dan SM/sederajat. Jika dibandingkan dengan APK SD (Tabel 6.6), APK sekolah menengah (Tabel 6.7) lebih rendah, kecuali Thailand untuk data tahun 2014 dan 2015. Pada tahun 2015, APK SD di Thailand sebesar 102,73 persen sedangkan APK sekolah menengah sebesar 129,00 persen.
Profil Anak Indonesia 2017
terpidana, berada di lembaga pemasyarakatan (LAPAS), memiliki lebih dari tiga saudara yang tinggal serumah, peserta pada lembaga kursus atau satuan pendidikan nonformal lainnya, dan peserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang pertanian, peternakan, kehutanan, dan pelayaran/kemaritiman.
Peserta didik yang mendapat KIP akan diberikan dana tunai dari pemerintah secara reguler yang tersimpan dalam fungsi kartu KIP untuk bersekolah secara gratis tanpa biaya. Program KIP sendiri akan ditujukan pada 15,5 juta keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia yang memiliki anak usia sekolah 7 hingga 18 tahun baik yang telah terdaftar maupun yang belum terdaftar di sekolah maupun madrasah. Dengan program KIP ini diharapkan angka putus sekolah bisa turun dengan drastis.
Selain menghindari anak putus sekolah, program KIP ini juga dibuat untuk bisa menarik kembali siswa yang telah putus sekolah agar kembali bersekolah. Bukan hanya tentang biaya administrasi sekolah, program ini juga bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih luas lagi, program dalam KIP ini juga sangat mendukung untuk mewujudkan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Pendidikan Menengah Universal/Wajib Belajar 12 Tahun.
Tabel 6.8 Persentase Anak Usia 7-17 yang Memperoleh Program Indonesia Pintar (PIP) atau Bantuan Siswa Miskin (BSM) Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2016 Tipe Daerah/
Jenis Kelamin
Memperoleh PIP/BSM
Total PIP BSM keduanya Tidak
(1) (2) (3) (4) (5) Perkotaan Laki-laki 9,90 6,97 83,13 100,00 Perempuan 9,92 7,50 82,58 100,00 Laki-laki + Perempuan 9,91 7,23 82,86 100,00 Perdesaan Laki-laki 14,21 12,07 73,72 100,00 Perempuan 14,65 13,02 72,33 100,00 Laki-laki + Perempuan 14,42 12,53 73,05 100,00 Perkotaan + Perdesaan Laki-laki 12,06 9,53 78,41 100,00
115
Profil Anak Indonesia 2017
109 Tabel 6.8 menyajikan persentase anak usia 7-17 tahun yang memperoleh PIP atau BSM menurut tipe daerah dan jenis kelamin. Dari 100 anak usia 7-17 tahun di Indonesia, ada sekitar 12 anak yang memperoleh PIP dan sekitar 10 anak memperoleh BSM. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, persentase anak laki-laki dan perempuan yang memperoleh PIP atau BSM relatif sama. Sedangkan jika dibandingkan menurut tipe daerah, persentase anak usia 7-17 tahun yang memperoleh PIP atau BSM di perdesaan lebih banyak dibandingkan dengan di perkotaan.
Tabel 6.9 Persentase Anak Usia 7-17 yang Memperoleh Program Indonesia Pintar (PIP) menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), 2016 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Memiliki KIP Total Ya Tidak (1) (2) (3) (4) Perkotaan Laki-laki 89,01 10,99 100,00 Perempuan 89,35 10,65 100,00 Laki-laki + Perempuan 89,18 10,82 100,00 Perdesaan Laki-laki 92,72 7,28 100,00 Perempuan 91,71 8,29 100,00 Laki-laki + Perempuan 92,22 7,78 100,00 Perkotaan + Perdesaan Laki-laki 91,20 8,80 100,00 Perempuan 90,74 9,26 100,00 Laki-laki + Perempuan 90,97 9,03 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Kesehatan dan Perumahan (Susenas MKP) 2016, BPS
Tabel 6.9 menunjukkan persentase anak usia 7-17 tahun yang memperoleh PIP menurut kepemilikan KIP, tipe daerah dan jenis kelamin. Dari Tabel 6.9 dapat dilihat bahwa sebagian besar anak yang memperoleh PIP adalah mereka yang memiliki KIP, yaitu sebesar 90,97 persen. Artinya dari 100 anak yang memperoleh PIP, sekitar 91
Profil Anak Indonesia 2017
108
terpidana, berada di lembaga pemasyarakatan (LAPAS), memiliki lebih dari tiga saudara yang tinggal serumah, peserta pada lembaga kursus atau satuan pendidikan nonformal lainnya, dan peserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang pertanian, peternakan, kehutanan, dan pelayaran/kemaritiman.
Peserta didik yang mendapat KIP akan diberikan dana tunai dari pemerintah secara reguler yang tersimpan dalam fungsi kartu KIP untuk bersekolah secara gratis tanpa biaya. Program KIP sendiri akan ditujukan pada 15,5 juta keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia yang memiliki anak usia sekolah 7 hingga 18 tahun baik yang telah terdaftar maupun yang belum terdaftar di sekolah maupun madrasah. Dengan program KIP ini diharapkan angka putus sekolah bisa turun dengan drastis.
Selain menghindari anak putus sekolah, program KIP ini juga dibuat untuk bisa menarik kembali siswa yang telah putus sekolah agar kembali bersekolah. Bukan hanya tentang biaya administrasi sekolah, program ini juga bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih luas lagi, program dalam KIP ini juga sangat mendukung untuk mewujudkan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Pendidikan Menengah Universal/Wajib Belajar 12 Tahun.
Tabel 6.8 Persentase Anak Usia 7-17 yang Memperoleh Program Indonesia Pintar (PIP) atau Bantuan Siswa Miskin (BSM) Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2016 Tipe Daerah/
Jenis Kelamin
Memperoleh PIP/BSM
Total PIP BSM keduanya Tidak
(1) (2) (3) (4) (5) Perkotaan Laki-laki 9,90 6,97 83,13 100,00 Perempuan 9,92 7,50 82,58 100,00 Laki-laki + Perempuan 9,91 7,23 82,86 100,00 Perdesaan Laki-laki 14,21 12,07 73,72 100,00 Perempuan 14,65 13,02 72,33 100,00 Laki-laki + Perempuan 14,42 12,53 73,05 100,00 Perkotaan + Perdesaan Laki-laki 12,06 9,53 78,41 100,00 Perempuan 12,25 10,22 77,53 100,00 Laki-laki + Perempuan 12,16 9,87 77,98 100,00
Profil Anak Indonesia 2017
anak diantaranya adalah anak yang memiliki KIP. Sedangkan 9 anak lain yang memperoleh PIP adalah anak dari keluarga miskin/rentan miskin dengan pertimbangan khusus atau anak SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, pelayaran, dan kemaritiman.
Tidak semua anak yang memperoleh manfaat PIP adalah anak yang memiliki KIP. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa sasaran utama PIP adalah peserta didik pemegang KIP, peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dengan pertimbangan khusus, dan peserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, pelayaran, dan kemaritiman.