Studi Kasus Kampung Nelayan Seberang Kabupaten Deli Serdang
4. Indeks Pembangunan Manusia
Masalah pembangunan manusia, tentunya berkenaan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, mengarahkan sumber daya manusia. Pembangunan hendaknya ditujukan kepada pengembangan sumber daya manusia, sebuah proses yang bertujuan mengembangkan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan oleh manusia. Peningkatatan kualitas sumber daya manusia akan diikuti oleh terbukanya, berbagai pilihan dan peluang menentukan jalan hidup manusia secara bebas. Tentunya dengan harapan sumber daya manusia dan skiil yang lebih baik sebagai modal untuk memperbaiki kehidupan, dan mampu bersaing dalam kehidupan global sekarang.Kampung nelayan seberang merupakan potret daerah dengan wilayah yang strategis dengan daerah perekonomian, hal ini berkaitan dengan keberadaan pelabuhan Belawan di seberangnya, dengan gedung-gedung pertokoan lantai 2. Namun masyarakat kampung nelayan seberang, belum bisa mengambil peluang ekonomi yang berada di seberang wilayahnya, dikarena masalah sumber daya manusia dan skill serta modal.Tidak salah kalau wilayah penyangga pelabuhan Belawan dikuasai oleh bangunan-bangunan investor atau pemodal.
Gambar 3.Realita Generasi Penerus Kampung Nelayan Seberang Ketertinggalan Kampung Nelayan Seberang Sebagai Dampak
“Tumpang Tindih Birokrasi”
Beberapa indikator yang sering kita baca ataupun kita dengar dalam mengukur pembangunan suatu daerah atau bangsa dalam perkuliahan yaitu, urbanisasi, pendapatan perkapita, tingkat pendidikan, indeks kualitas hidup, indeks pembangunan manusia dll.Namun dalam penelitin yang kami dapati di kampung nelayan seberang, Deli Serdang, ketertinggalan daerah itu juga sangat dipengaruhi oleh adanya tumpang tindih birokrasi, ksusunya kebijakan mengenai pembangunan wiayah perbatasan daerah.Seperti yang terjadi di kampung nelayan sebarang, sebagian wilayah kampung nelayan masuk ke wilayah Kota Medan, dan sebagian lagi masuk ke wilayah Deli Serdang.Sebagai wilayah yang dimiliki 2 daerah otonomi, menjadikan kampung nelayan seberang dengan wilayah yang berbatasan. Bila kita melihat atau menyaksikan di media, kondisi ketertinggalan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan seperti daerah Kalimantan dengan Malaysia, Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste, Merauke dengan Papua New Guine dan wilayah perbatasan laut yang tinggal di pulau sangatlah jauh perbedaan dengan daerah-daerahkota ataupun daerah-daerah tidak berada di wilayah perbatasan. Ketertinggalan terjadi hampir diseluruh pelayanan dan sarana dan prasarana publik yang menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah Pusat atau Daerah dalam merealisasi dan memfasilitasinya.
Tumpang tindih birokrasi, sama halnya dengan yang terjadi di Kampung Nelayan Seberang. Ketertinggalan pembangunan sarana dan prasarana publik di wilayah perbatasan Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Merauke dan pulau-pulau terluar, merupakan potret kegagalan pembangunan dengan studi kasusus yang jauh yang bisa kami gambarkan
sebatas. Kampung nelayan kami ambil sebagai contoh kegagalan pembangunan dan tata kelola wilyah sebagai tempat penelitian dekat yang bisa kami jangkau dalam mengukur ketetinggalan pembangunan didaerah yang memiliki perbatasan.Adanya perdebatan tangugngjawab anatara Pemda Kota dengan Pemda Kabupaten, menjadikan saling lempar tanggungjawab dan tugas terhadap pelaksanaan pembangunan diwilayah kampung nelayang seberang. Dampak dari tumpang-tindih birokrasi tentunya menjadi problema dan penderitaan masyarakat kampung nelayan seberang dalam menikmati fasilitas publik yang memadai seperti: sekolah beton, jalan perkampungan yang layak dan fasilitas publik lainnya yang bisa mendorong keadilan pembangunan dan mendorong peningkatan sumber daya manusia, khususnya masyarakat kampung nelayan seberang.
Komunikasi dan kerja sama kedua Pemda diharapkan bisa dijadikan sebagai solusi dalam menggerakan pembangunan di wilayah perbatasan, khususnya di wiayah kampung nelayan sebarang. Kerja sama kedua belah pihak dalam merumuskan kebijan tentunya menjadi hal utama dalam mencapai tujuan pembangunan, yaitu pemerataan pembangunan dan pelayanan publik yang efisien dan efektif di kampung nelayan sebarang Kabupaten Deli Serdang.(56)
Isu Gender dan Pengaruhnya Dengan Ketertinggalan Kampung Nelayan SeberangKabupaten Deli Serdang
Gambar 4. Kesetaraan Gender
Gender merupakan Peran, hak dan tanggungjawab yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dan saling hubungannya.Perbedaan identitas, kualitas dan sikap ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial, kultural, agama, kelas, ras, etnisitas, umur, lokasi geografis, serta Relasi hubungan yang tidak setara yang dibangun oleh keluarga, sistem hukum, pasar dll.
56 Wirman Syafri, Studi Tentang Administrasi Publik (2012,PT. Gelora aksara Pratama). Hal 176-180.
Adapun Faktor-faktor penyebab dan pelanggengan ketidakadilan gender adalah :
1. Sistem Ekonomi yang tidak adil 2. Budaya Patriarkhi
3. Sistem Pendidikan
4. Penafsiran agama yang bias
5. Pembangunan yang tidak adil/merata 6. Sistem pemerintahan
7. Sistem Hukum
Mi‟‟radjie dan Sukidin (2009:262) isu gender juga mempengaruhi suatu wilayah. Mi‟‟radjie dan Sukidin dalam perspektif gender poin ketiga, disadari oleh pemahaman bahwa perempuan memainkan peran yang sangat efektif dalam mengetaskan kemiskianan. Sebagaimana nanti akan kita lihat, perempuan menjadi bagian dalam keluarga, dan terutama anak-anak.
Kemiskinan perempuan berarti pengentasan pula anggota keluarga lainnya.Adapun isu gender yang bisa kami tuangkan dalam tulisan kami ini, berhubungan dengan perempuan dengan keadaan alam/lingkungan yang telah menjadikan hak-hak perempuan untuk bekerja tergerus oleh pembangungan yang berorientasi pertumbuhan dengan merusak alam.
Perempuan dan Proses-Proses Alam
Berdasarkan realitas yang terjadi dapat kita lihat bahwa pembangunan hanya dikuasai oleh kelompok elita saja. pembangunan semestinya harus memperhatikan sistem sosial dan sistem sosial trersebut ikut bergerak kedalam pembangunan suatu bangsa. Dampak pembangunan tidak hanya terhenti terhadap kemiskinan dan marginalisasi masyarakat pedesaan. Namun beberapa yang menjadi problema pembangun seperti yang disebutkan diatas, pembangunan juga berkaitan dengan keadilah, siapa yang membayar dan siapa yang memperoleh pembangunan?
Bagaimana pembangunan dan masalah gender yang ditimbulkan menjadi sebuah polemik antara keadilan yang menikmati pembangunan dan peran partisipasi perempuan terhadap pembangunan. Jika melihat masalah isu gender terhadap pembangunan, sering kita medengar konstruksi sosial yang menjadi salah satu yang membuat ketimpangan gender adanya budaya patriarkhi, dimana membuat posisi perempuan selalu direndahkan, mulai dari posisi kerja dan upah yang rendah (Daulay 2006).(57)
Adapun masalah gender yang kami temui pada studi kasus di Kampung Nelayan Seberang, lebih kami kaitkan dengan gagasan Vandana Shiva, keterkaitan dan relasi perempuan dengan kondisi alam daerah
57Budi Winarno,Etika Pembangunan (Jogjakarta: Caps (Siantar Foert Academic Publishing Service)), 2013 hal.121-135
lingkungan ataupun tempat tinggalnya. Vandana Shiva (2013:121) mengatakan bahwa orang pertama yang mengalami kemunduran sebagai akibat pembangunan kapitalis, disebabkan oleh salah satunya, pekerjaan perempuan bekerjasama dengan proses-proses alam.58Ketika pembangunan kapitalis berorientasi pertumbuhan merusak alam atau menggeser relasi masyarakat dengan alamnya.Pembangunan yang berorientasi merusak alam tanpa kita sadari telah menjadikan pembangunan tidak seimbang, khususnya terhadap perempuan, sehingga semakin sedikit lahan alam yang bisa di kelola kaum perempuan semakin sedikitlah pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dan potensi perempuanlah yang bekerja dengan alam:
berladang, kesawah dan lain-lainnya.
Seperti kasus yang kami dapat di kampung nelayan seberang, pada dasarnya perempuan-perempuan disana terbisa mengolah buah dari tanaman Mangrove untuk diolah menjadi jajanan.Namun pembangunan pelabuhan yang semakin besar di Belawan tidak terlalu memperhatikan keseimbangan hutan Manggrove disana, semakin menipisnya tanaman mangrove disana, semakin sedikitlah bahan yang didapat untuk membuat olahan jajanan dari buahmangrove tersebut. Ketidakadilan pembangunan telah menggeser relasi masyarakat/perempuan dengan alamnya.
Pembangunan negara dunia ketiga harus memperhatikan kesinambungan antara manusia dengan kondisi alamnya, sebab tanpa kita sadari, pembangunan yang beriorientasi pertumbuhan dengan merusak alam telah menghilangkan hak-hak perempuan dalam menuntut kesetaraan gender di Indonesia.(59)
Kesimpulan
Dalam alinea ke 4 pembukaan UUD 1945 disebutkan salah satu tugas negara memajukan kesejahteraan umum.Bila kita lihat implementasi dengan realita yang terjadi, masih bertolak belakakang.Pembangunan yang hanya dinikmati segelintir orang tidaklah memberikan kesejahteraan umum, disamping itu pembangunan tanpa memperhatikan sistem sosial bangsa telah menjadikan masyarakat terikat hegemoni pemodal dan sebagai penonton dalam pembangunan. Pembangunan juga yang berorientasi akan pertmbuhan dengan merusak alam telah memarginalkan kaum perempuan dalam mengolah alam untuk pekerjaannya. Seperti studi kasus kami kampung nelayan seberang, Deli Serdang menjadi salah satu potret ketimpangan pembangunan di provinsi Sumatera Utara. Indonesia bukan hanya wilayah atau daerah yang ada dpusat-pusat kota, wialayah perbatasan dan daerah tertinggal merupak bagian dari NKRI yang belum tertangani
58Ibid. hal. 121
59Wawancara dengan Sangkot (56), tanggal 28 Mei 2016, kampung nelayan sebarang, Deli Serdang.
sepenuhnya oleh banyaknya patologi Birokrasi negeri ini. Daerah ataupun bangsa, dengan wilayah perbatasan dan tertinggal harus menjadi halaman depan Negara dan gerbang utama pemerataan pembangunan, serta daerah perbatasan harus dipandang sebagai wilayah yang rawan dan vital gangguan luar akan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Daftar Pustaka
Budiman, Arief. 1996. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Kadir, Abdul.2015. Perencanaan Wilayah (Perspektif Otonomi dan Desentralisasi Fiskal).Medan: Pustaka Bangsa Press.
Suwarsono.1991. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia.
Jakarta: LP3ES
Syafri, Wirman. 2012. Studi Tentang Administrasi Publik. Jakarta: PT.
Gelora Aksara Pratama.
Winarno, Budi. 2013. Etika Pembangunan. Jakarta: PT. Buku Seru.
Wawancara :
Halimah. 2016. Studi Kasus Daerah Tertinggal. 28 Mei 2016.
Mulyadi. 2016. Studi Kasus Daerah Tertinggal. 28 Mei 2016.
Sangkot. 2016. Studi Kasus Daerah Tertinggal. 28 Mei 2016.