• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara

PEMBANGUNAN HAM

Isu Gender

Konsep yang tergambar pada hal sebelumnya dimulai dari perbincangan seksualitas, dimana apabila perbincangan seksualitas masuk kedalam ruang ranah public apakah hal tersebutdianggap tabu / tidak untuk layak diperbincangkan terutama dikalangan anak- anak dalam konteks

ROCKY.G :

pendidikan seks sejak dini, kemudian gender bagaimana gender berperan penting dalam orientasi seks, apakah orientasi seks yang berdasarkan gender dapat diterima di masyarakat. Media masa sebagai penyampai informasi masal, memuat konten berita yang berisi argumen dari kaum – kaum terpelajar maupun orang – orang yang mempunyai kuasa mengenai fenomena kaum minoritas seksualitas LGBT yang tanpa dasar dan pengamatan secara ilmiah yang dilegitimasi begitu saja oleh masyarakat luas dikarenakan yang berbicara adalah kaum terpelajar sehingga memojokkan kaum minoritas seksualitas LBGT . Padahal menurut Illich (1982) hal mengenai orientasi seks masih bisa diperdebatkan dari mana asalnya apakah gender atau jenis kelamin. Dalam konteks pembangunan, pembangunan mampu memperluas ruang kebebasan manusia apabila pembangunan itu mampu memperluas kapabilitas atau kemampuan rakyat untuk menjalani jenis kehidupan yang bernilai dimana perluasan ini tergantung kepada penghilangan penindasan serta penyediaan fasilitas dasar sebagai pra syarat untuk mencapai kehidupan yang diinginkan.Hal ini sejalan dengan analisis profesor Sen (2000) tentang pembangunan memandang kebebasan individu sebagai blok-blok bangunan dasar.Karena itulah pembangunan harus dipandang sebagai usaha untuk memperluas kebebasan substantif atau “kemampuan manusia”yang dimiliki oleh orang banyak.perspektif ini memfokuskan perhatian kepada kemampuan semua orang untuk menempuh kehidupan yang menjadi idaman dan meningkatkan pilihan-pilihan riil yang ada.

Kondisi almiah manusia menurut John Locke tidak berada dibawah kekuasaan orang lain, mereka bebas, merdeka dan setara, oleh karena itu hak hidup, kebebasan, dan property merupakan hak – hak yang tidak bisa diabaikan untuk menjaamin hak dan kebebasannya, manusia bersatu dalam institusi negara serta menyerahkan sebagaian kebebasan dan haknya kepada negara. Oleh karena itu, negara mempunyai tanggung jawab untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi semua hak masyarakatnya.

Apabila negara tidak melaksanakan tanggung jawabnya, maka masyarakat berhak untuk memberontak dan mengambil kembali amanah yang telah diberikan, karena tanggung jawab negara untuk menjamin tidak terjadinya pelanggaran terhadap HAM tidak hanya untuk menghukum pelanggar HAM tetapi negara juga bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang aman dimana tidak ad seseorang yang melanggar HAM orang lain.

Kehidupan Kaum Minoritas Seksual LGBT: Studi kasus Kota Medan Amerika Serikat sebagai salah satu negara ekonomi terkuat di dunia dan negara kiblat demokrasi melakukan keputusan besar, yaitu melegalkan perkawinan sejenis.Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam kasus Obergefell v. Hodges memberikan putusan yang pada intinya menjadikan perkawinan sesama jenis sebagai hak mendasar (the

fundamental rights) yang dijamin dalam klausa due process clause and the equal protectionclausepada amandemen ke-14 konstitusi mereka. Dengan putusan di atas, pasangan sejenis dapat melangsungkan perkawinan di 50 negara bagian dan akan berimplikasi pada adanya hak atas harta kekayaan bagi pasangan sejenis tersebut.Putusan MA Amerika Serikat yang memenangkan kaum lesbian-gay dan sekarang sering disebut LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) tidaklah muncul secara otomatis, tetapi telah melalui suatu proses yang cukup panjang. Advokasi terhadap hak-hak kaum lesbian-gay di Amerika Serikat paling tidak sudah dimulai setelah Perang Dunia II berakhir. Sedangkan menurut American Psylochogical Association (APA), gerakan sipil masyarakat gay berlangsung pertama kali pada tahun 1965 melalui demonstrasi yang memperjuangkan hak-hakgay di Philadelphia dan Washington D.C.27

Di Indonesia sendiri kaum LGBT berada pada situasi terbatas dan tidak dibicarakan secara terbuka.Perlindungan terhadap kamu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender tidak ada dalam undang-undang di Indonesia.Ini tentu berkaitan dengan keadaan-sosial masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. Adanya ancaman dan peyerangan yang dilakukan oleh kaum tertentu, seperti kaum reaksioner dan fundamentalis terhadap bentuk perjuangan identitas bagi kaum homoseksual tentu juga menjadi bagian dari proses perjuangan LGBT di Indonesia.

Dari hasil wawancara dengan narasumber responden lesbian yang berinisial “Y” yang berada di Kota Medan, diketahui bahwa “Y” telah mengalami orientasi seksual sebagai lesbian sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan masih menyembunyikan identitasnya.

Kemudian setelah ia menyelesaikan sekolahnya dia bertemu dengan salah satu perkumpulan penyuka sesama jenis disalah satu tempat dikota Medan, dimana pada perkumpulan tersebut dia sudah tidak lagi menyembunyikan orientasi seksualnya. Sebelumnya “Y” yang sudah tidak lagi menyembunyikan identitas orientasi seksualnya, dia mendapatkan tindakan diskriminatif dari berbagai orang yang ditemuinya.dimulai dari teman-temannya yang sering menyindir, dan dijauhi dikarenakan dia di anggap sebagai suatu penyimpangan sosial, tidak hanya oleh teman-temannya bahkan dari orang yang tidak dikenal sering melakukan tindakan diskriminatif dan memojokkannya. Dan menurut pengakuan “Y” hal ini sering terjadi padanya maupun teman-teman lainnya yang memiliki orientasi seksual berbeda.Pernyataan dari Y bukanlah tak berdasar, itu dikarenakan absennya peran Negara dalam melindungi Hak Asasi Manusia.Sering terjadi tindakan diskriminatif maupun kekerasan yang

27www.selasar.com/politik/lgbt-ham-dan-ketahanan-nasional-indonesia

sering diberitakan di Indonesia, pelaku tindak kekerasan terdiri dari banyak lapisan masyarakat, baik secara besar maupun kecil.Tidak ada tindakan yang jelas dari negara, hal ini berlawanan dengan fungsi negara untuk menjamin tidak terjadinya pelanggaran terhadap hak asasi manusia, tidak hanya untuk menghukum pelanggar HAM, tetapi negara juga bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang aman dimana tidak ada seseorang yang melanggar hak asasi orang lain.

Peran Opini Publik Menentukan Pandangan Masyarakat Luas Terhadap Kaum Minoritas Seksual LGBT

Agaknya tidak ada isu yang bisa menyatukan publik Indonesia sekuat isu LGBT.Akhir-akhir ini, arus penentangan terhadap LGBT terjadi lintas-agama, lintas-partai atau lintas-ideologi politik, dan bahkan lintas kelas sosial.LGBT melahirkan histeria publik.Kontroversi tidak hanya terjadi berlangsung di dunia online dan media sosial, namun juga dalam bentuk diskusi serta aksi-aksi di jalanan.Isu ini semakin hari semakin menggelinding.Anehnya, semua diskursus tentang LGBT tidak mendorong pada pencarian informasi yang sungguh-sungguh tentangnya, namun justru memperkuat prasangka-prasangka yang keliru dan tak berdasar.

Di Indonesia isu ini semua di mulai oleh mentri Riset,Teknologi, dan Pendidikan tinggi (MENRISTEK DIKTI) Mohamad Nasir, yang melarang kegiatan LGBT di kampus-kampus. Mentri ini menanggapi kegiatan sebuah kelompok yang bernama Suport Group and Resources Centre on Sexuality studies (SGRC) di universitan Indonesia yang menawarkan konseling untuk kelompok LGBT. Kepada media, mentri nasir mengatakann “LGBT tidak sesuai dengan tataran nilai dan kesusilaan bangsa Indonesia.Saya melarang.Indonesia ini tata nilainya menjaga kesusilaan”.28

Tanggapan di kalangan elit terhadap isu LGBT memperlihatkan betapa kurangnya pengetahuan mereka terhadap isu ini.Sekali pun dibahas dalam forum seperti focus group discussion atau talk show, tampak bahwa sebagian besar yang dikemukakan tentang LGBT lebih banyak berdasarkan prasangka ketimbang sebuah pergulatan intelektual.Penyakit ini tidak saja menghinggapi kalangan elit politik yang melihat isu ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan kekuasaannya.Yang mengejutkan, prasangka ini juga muncul dari kalangan profesional – psikiater dan psikolog – yang secara intelektual seharusnya sangat paham.Karena ini adalah bagian dari profesi mereka.Histeria terhadap LGBT tidak hanya muncul dalam bentuk diskusi dan lontaran-lontaran pernyataan.Seiring dengan menghangatnya diskusi dan perang pernyataan, ancaman fisik terhadap komunitas LGBT

28Dikutip dari Tempo.co “Menteri Nasir: Organisasi LGBT tidak Dilarang di Kampus” Selasa 26 Januari 2016, 14:45 WIB

juga dilancarkan. Di Yogyakarta, Pondok Pesantren Al Fatah yang menampung kaum waria belajar agama Islam diancam ditutup oleh kelompok-kelompok Islamis.29 Di beberapa kota sudah terdengar ancaman untuk menyerbu dan menutup rumah-rumah komunitas LGBT yang biasa dipakai untuk melakukan konseling dan melakukan pendidikan kesehatan seksual.

Jika di jalanan ancaman kekerasan menjadi semakin nyata, maka di tingkat politik pun para politisi bermanuver untuk membuat kebijakan guna membatasi gerak atau bahkan meniadakan LGBT.Fraksi Partai Keadilan Sejahatera di DPR, dengan cepat memanfaatkan kesempatan ini. Fraksi ini mengaku akan mengusulkan rancangan undang-undang larangan LGBT yang mereka namakan RUU Anti Penyimpangan Seksual.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga bergerak cepat.Lembaga yang akhir-akhir ini banyak diejek di media sosial karena mudahnya melakukan sensor pada tayangan televisi, mengeluarkan “edaran kepada seluruh lembaga penyiaran mengenai pria yang kewanitaan.” KPI meminta agar lembaga penyiaran tidak menampilkan pria sebagai pembawa acara (host), talent, maupun pengisi acara lainnya (baik pemeran maupun pendukung) yang memiliki tampilan seperti: (1) Gaya berpakaian kewanitaan; (2) Riasan (make up) kewanitaan; (3) Bahasa tubuh kewanitaan, (termasuk namun tidak terbatas pada gaya berjalan, gaya duduk, gerakan tangan, maupun perilaku lainnya); (4) Gaya bicara kewanitaan; (5) Menampilkan pembenaran atau promosi seorang pria untuk berperilaku kewanitaan; (6) Menampilkan sapaan terhadap pria dengan sebutan yang seharusnya diperuntukkan bagi wanita; (7) Menampilkan istilah dan ungkapan khas yang sering dipergunakan kalangan pria kewanitaan.30

Mengutip Chomsky (1997) selama publik terus dibatasi, dialihkan perhatiannya, dan tidak punya akses untuk berorganisasi atau menyatakan sentimennya, atau bahkan untuk mengetahui kalau orang lain juga menyimpan sentiment yang sama, keadaan tidak akan berubah.31

Paling tidak kita lihat ada dua kebijakan yang ditawarkan berkaitan dengan LGBT. Keduanya bersifat sangat diskiriminatif.Yang pertama adalah Rancangan Undang-undang Anti Penyimpangan Seksual yang diusulkan oleh F-PKS di DPR. Kedua, adalah edaran KPI.Kedua kebijakan ini sangat diskriminatif dan dilandasi oleh semangat untuk mengeliminasi orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda.

29Dikutip dariwww.bbc.com “Pesantren Waria Di Jogjakarta ditutup, LBH Protes”

26 Februari 2016

30KPI.go.id “Edaran Kepada Seluruh Lembaga Penyiaran Mengenai Pria yang Kewanitaan” /K/KPI/02/16 Diterbitkan pada Selasa, 23 Februari 2016 22:44 WIB

31 Chomsky, Noam. Politik Kuasa Media.Pinus Book Publisher.Hal. 34

Kecenderungan (trend) yang muncul ini tentu sangat mengkhawatirkan.Surat edaran KPI, misalnya, sangat bertentangan kondisi sosial masyarakat Indonesia. Telah lama rumah tangga-rumah tangga Indonesia disinggahi oleh tokoh-tokoh seperti Dorce Gamalama, Ade Juwita yang berasal dari Papua, Tessy Srimulat, Karjo AC/DC, dan lain sebagainya. Mereka sudah lama memberikan hiburan kepada publik.

Perspektif Agama Dalam LGBT

Setiap agama menjadikan kitab suci sebagai pedoman hidup.Setiap agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian, tanpa membedakan latar belakang seseorang dan setiap agama juga mengakui adanya hak-hak asasi manusia yang telah dilahirkan secara kodrat. Dalam persektif membangun tolernsi antar umat beragama ada lima prinsip yang bisa dijadikan pedoman semua pemeluk agama dalam kehidupan sehari-hari : (1) tidak satu pun agama yang mengajarkan penganutnya untuk menjadi jahat; (2) adanya persamaan yang dimiliki agama-agama, misalnya ajaran tentang berbuat baik kepada sesama; (3) adanya perbedaan mendasar yang diajarkan agama-agama.diantaranya, perbedaan kitab suci, nabi, dan tata cara ibadah;

(4) adanya bukti kebenaran agama; dan (5) tidak boleh memksa seseorang menganut agama atau suatu kepercaayn.32 Hal tersebut sudah jelas bahwa setiap agama menjunjung tinggi kesetaraan gender dan menolak keras terhadap diskriminasi sesama kaum.

Namun tidak dipungkiri setiap manusia memiliki keinginan yang secara naluri ingin bebas dari pemaksaan, bebas menentukan pilihan, bebas menyalurkan pendapat dan memiliki kecenderungan sesuai dengan rohaniahnya. Sebagai makhluk sosial, maka pada saat yang bersamaan, hak-hak yang dimilikinya itu dibatasi oleh hak individu yang lain, yang dimungkinkan memiliki budaya, ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, posisi sosial dan perbedaan lain yang menyebabkan hak-hak asasi seseorang tidak bersifat bebas sebebas-bebasnya (absolute).

Dalam banyak masyarakat perubahan sosial sering diiringi dengan gejala sekularisme, yang oleh Giddens (1989:451) didefenisikan sebagai suatu proses melalui mana agama kehilangan pengaruhnya terhadap berbagai segi kehidupan manusia dan oleh Light, Keller dan Calhoun (1989) didefenisikan sebagai proses melalui mana perhatian manusia beserta institusinya semakin tercurahkan pada hal duniawi dan perhatian terhadap hal yang bersifat rohaniah semakin berkurang. Para ahli sosiologi mengemukakan bahwa proses ini seringkali memancing reaksi dari

32 A. Ubaidillah dan Abdul Rozak, ―Pancasila, Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani‖, hal. 169

kalangan agama, yang dapat berbentuk perlawanan maupun penyesuaian diri33.

Dari berbagai kalangan agama sendiri ada yang kontra serta netral menghadapi gejala ini.Agama-agama besar seperti Islam dan Kristen menganggap homoseksual sebagai perbuatan keji dan dosa besar. Dalam pandangan agama Buddha perilaku homoseksual dianggap masih abu-abu, tetapi sebagian besar para bhikku menolak pernikahan sejenis. Dalam tata karma dan tata susila agama Hindu, perilaku homoseksual juga dilarang karena dalam sastra hindu, Hyang Widi menciptakan laki-laki sebagai bapak dan perempuan sebagai ibu melalui upacara perkawinan.34 Dalam pandangan agama 35Islam, LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian). Dimana kaum homoseksual juga disebut kaum Luth, karena kaum Nabi Luth adalah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Hukmu al-liwath wa al-Sihaaq). Islam secara terang mengecam perilaku tersebut karena selain tidak baik bagi kaum itu sendiri tetapi juga membahayakan lingkungan sosialnya. Allah SWT berfirman,

―Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).

Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah‖

(QS. Fatir [35] : 11)

LGBT menurut pandangan Islam pada umumnya menyamakan perbuatan homoseksual dengan perbuatan zina bahkan lebih buruk dari berzina. Karena itu, segala implikasi hukum yang berlaku pada zina juga berlaku pada kasus homoseksual.Bahkan pembuktian hukum pun mengacu pada kasus-kasus yang terjadi pada zina. Sementara operasi kelamin yang dilakukan pada seseorang yang mengalami kelainan kelamin (misalnya berkelamin ganda) dengan tujuan tashih atau takmil (perbaikan atau penyempurnaan) dan sesuai dengan hukum akan membuat identitas kelamin tersebut menjadi jelas.

Dalam paradigma Kristen, Alkitab secara tegas menujukkan bahwa homoseksualitas adalah dosa, tetapi Alkitab tidak menyatakan bahwa para pelakunya -dimana dalam hal ini biasa disebut gay dan lesbian – bebas diperlakukan dalam ketidakadilan seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Dengan munculnya fenomena sosial berupa dorongan kuat dari kaum

33 Kamanto Sunarto,―Pengantar Sosiologi‖ hal.69

34 Antara News,”Hindu melarang hubungan sesame jenis‖.

http://m.antaranews.com/berita/505894/hindu-melarang-hubungan-sesama-jenis

35 Pendangan Islam terhadap LGBT, http://hizbut-tahrir.or.id/216/02/13/pandangan-Islam-terhadap-lgbt/

homoseks untuk menuntut persamaan hak dan keadilan bagi mereka.

Sekarang, mengakui bahwa dirinya adalah gay dan lesbian bukanlah hal yang terlalu tabu, sehingga mereka juga merasa mempunyai hak asasi yang sama bahkan juga didalam lembaga pernikahan. Disinilah peran gereja dan kekristenan harus membu at keputusan yang tegas. Jikalau Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa homoseksual adalah disalahkan, maka gereja pun juga tidak boleh memberikan izin bagi lembaga pernikahansesama jenis.Ini bukan tentang hak asasi manusia, tetapi tentang otoritas tertinggi yang dipercayai oleh gereja yaitu Alkitab sendiri.36

Ajaran agama sendiri sebenarnya menitik beratkan pada moral dan akhlak manusianya dengan tetap memperhatikan keutuhan seorang manusia.Apabila seseorang melakukan kesalahan atau penyimpangan-penyimpangan moral dimasyarakat maka salahkanlah akhlak moralnya bukan orangnya. Karena setiap agama sendiri juga mengajarkan keadilan, seperti hadist dalam agama Islam yang artinya ―hai orang-orang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan‖ (QS Al Ma-idah [5]:8).37

Dalam setiap kehidupan beragama kaum LGBT terlihat jelas banyak ditentang oleh berbagai aliran agama seperti Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan agama lainnya. Agama memandang bahwa fenomena LGBT telah menyalahi hakekat manusia yang sesungguhnya, fenomena ini juga dianggap sebagai suatu bentuk kecacatan moral dan akhlak pada manusia.

Peran Negara Dalam Memenuhi Hak-Hak Kaum Minoritas Seksual LGBT

John Locke mengatakan bahwa kondisi alamiah manusia tidak berada dibawah kekuasaan orang lain, mereka bebas, merdeka, dan setara.

Keadaan alamiah manusia membentuk manusia hidup bermasyarakat dengan diatur oleh hukum kodrat dan masing-masing individu memiliki hak yang tidak boleh dirampas darinya. Dalam keadaan ini, manusia bebas menentukan dirinya dan menggunakan apa yang dimilikinya tanpa bergantung kepada kehendak orang lain. Namun demikian, tiap-tiap individu tidak bertindak semaunya sendiri, melainkan hidup berdasarkan

36 Pandangan Alkitab tentang hooseksualitas, gay, dan lesbian, http://martianuswb.com/?p=65

37 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya…,hal 159 dikutip dari Ainiyah,Quratul.keadilan gender dalam Islam (konvensi PBB dalam Perspektif Mazhab Shafi’i). hal 28.

ketentuan hukum yang diberikan oleh Tuhan. Hukum kodrat dari Tuhan ini melarang siapapun untuk merusak atau memusnahkan kehidupan, kebebasan, dan harta milik orang lain. Olehkarena itu menurut Locke (1690) , hak hidup, kebebasan, dan property, merupakan hak-hak yang tidak bisa diabaikan (inaliable rights).38

To understand political power alright, and derive it from its original, we must considere what estate, all man are naturally in, and that is, a state of perfect freedom to order their action, and disposed of their possessions and person as they think fit, within the bound of the law of Nature, without asking leave or depending upon the will of any other man. (p, 72)

The natural liberty of man is to be free from any superior power on earth and not to be under the will or legislative authority of man, but to have only the law of Nature for his rule.(p, 73) Kemudian Locke (1960) menjelaskan lebih jauh mengenai bersatunya manusia dalam satu institusi negara “The great and chief end, therefore, of man uniting into commonwealths and putting themselves under government, is the preservation of their property.‖ (p. 77). Property dalam pengertian Locke (1690) adalah juga termasuk hidup, kebebasan, dan hak miliknya. Hanya karena alasan untuk menjamin hak dan kebebasannya, manusia bersatu dalam institusi negara serta menyerahkan sebagian kebebasan dan haknya pada negara.Oleh karena itu, negara punya tanggung jawab untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi semua hak masyarakatnya.

Negara sebagai institusi yang mengawasi berjalannya kontrak sosial, diberikan kewenangan untuk mengatur masyarakatnya.Negara mempunyai hak untuk memproduksi hukum dengan tujuan untuk mengatur masyarakatnya. Karena pada hakekatnya, negara didirikan hanya untuk menjamin kebebasan hak semua anggota masyarakatnya, serta mengatur mereka demi mewujudkan kehidupan yang nyaman dan damai.Oleh karena itu, kekuasaan negara sesungguhnya adalah terbatas dan tidak mutlak.

Segala kekuasaan yang dimiliki oleh negara diperoleh dari warga masyarakat yang mendirikannya.Dengan demikian, negara hanya boleh bertindak dalam batasan-batasan yang ditetapkan masyarakat terhadapnya.Satu-satunya tujuan pembentukan negara adalah untuk menjamin hak asasi warganya, terutama hak warga atas property pribadinya. Hanya demi tujuan inilah warga negara akan bersedia meninggalkan kebebasan mereka dalam keadaan alamiah yang penuh bahaya tersebut dan bersatu dalam negara

38 Locke, J. (1690). The Second Treatise of Government.In P. Hayden(Ed.).(2001).

The Philosophy of Human Right (pp. 72-79). St. Paul: Paragon House

Negara mempunyai tanggung jawab untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi masyarakatnya karena negaralah yang memiliki kekuasaan politik. Tanggung jawab negara untuk menghormati HAM adalah tanggung jawab negara untuk tidak bertindak atau mengambil kebijakan yang bertentangan dengan HAM. Tanggung jawab untuk melindungi HAM, adalah tanggung jawab negara untuk mencegah, menghentikan, dan menghukum setiap terjadinya pelanggaran HAM.Sedangkan tanggung jawab untuk memenuhi HAM, adalah kewajiban negara untuk melaksanakan, memberikan, menjamin pelaksanaan setiap hak asasi melalui tindakan dan kebijakan-kebijakannya.

(Rocky G. 2006).

Apabila negara tidak melaksanakan tanggung jawabnya, maka masyarakat berhak untuk memberontak dan mengambil kembali amanah yang telah diberikan. Karena menurut Locke (1690) , “jika masyarakat sudah tidak bisa menikmati kehidupan yang layak, ketakutan, merasa tidak aman, tidak ada kebebasan, tidak ada hukum, tidak diperlakukan sesuai martabatnya sebagai manusia oleh negara, maka kontrak sosial tidak lagi dapat dijalankan” (Rocky G., 2006, p, 195)

Karena negara mempunyai legitimasi yang diberikan oleh anggota masyarakat terhadap kekuasaannya sebagai penjamin hak, maka kewenangan untuk menghukum pelanggar hak menjadi kewenangan negara.Masalah pelanggaran HAM yang dialami oleh warga negara haruslah diserahkan, diselesaikan, dan pelakunya harus dihukum oleh negara. Tanggung jawab negara untuk menjamin tidak terjadinya

Karena negara mempunyai legitimasi yang diberikan oleh anggota masyarakat terhadap kekuasaannya sebagai penjamin hak, maka kewenangan untuk menghukum pelanggar hak menjadi kewenangan negara.Masalah pelanggaran HAM yang dialami oleh warga negara haruslah diserahkan, diselesaikan, dan pelakunya harus dihukum oleh negara. Tanggung jawab negara untuk menjamin tidak terjadinya