• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara

Pendahuluan

Pembangunan yang sering kali didefinisikan dengan perubahan menuju kearah yang lebih baik ternyata memiliki banyak indikator agar kenyataan dilapangan sesuai dengan definisinya. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, meningkatnya moral pada diri masyarakat, mutu pendidikan yang baik, rendahnya tingkat kesenjangan dan tingkat kesejahteraan yang harus semakin meningkat menjadi beberapa indikator yang harus tercapai agar suatu pembangunan dikatakan berhasil (Budiman,2000). Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat kita lihat dari terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar mereka sepertisandang, pangan dan papan. Meskipun tingkat kesejahteraan tidak hanya diukur dari kebutuhan tersebut tetapi kebutuhan pokok menjadi salah satu indikator penentu tingkat kesejahteraan masyarakat, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka berarti masyarakat belum sejahtera dan dengan demikian hal ini berarti pula bahwa pembangunan belum dapat dikatakan berhasil.

Masih banyak masyarakat Indonesia yang merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dikarenakan berbagai hal salah satunya yaitu karena kurangnya penghasilan mereka ditengah harga sembako yang tinggi. Dalam hal ini kedaulatan pangan di Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahn pemenuhan kebutuhuan pangan di negara ini. Namun sejak hal-hal tentang kedaulatan pangan muncul beberapa tahun lalu, kondisi pangan di negara ini belum tampak membaik.

Berangkat dari penglihatan tidak kunjung membaiknya kondisi pangan di Indonesia, mulai dari tingginya tingkat konsumsi beras, disusul dengan harga produksi yang tinggi, kemudian minimnya lahan pertanian dan masalah yang terkait dengan kesejahteraan petani maka dilakukanlah sebuah penelitian terkait dengan permasalahan apa saja yang menjadi penyebab dari kondisi tersebut. Sebagai orang terdekat dengan pertanian dan pangan maka ada dua aktor yang akan di bahas dalam tulisan ini yaitu petani dan pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Petani selaku aktor pertama dalam tulisan ini, ternyata memiliki baragam masalah dalam menjalankan perannya untuk mendukung

terciptanya kedaulatan pangan mulai dari kurang nya modal, kurangnya IPTEK dan kurangnya sarana untuk menyalurkan aspirasi salaku masyarakat awam. Oleh sebab itu tulisan ini akan membahas bagaimana peran petani Desa Baru Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang dalam mendukung terciptanya kedaulatan pangan serta masalah-masalah apa saja yang dihadapi oleh mereka.

Berbagai masalah yang dihadapi oleh petani tersebut tentu memerlukan solusi. Sebagai aktor kedua maka peran pemerintah dalam menuntaskan permasalahan yang dihadapi oleh petani dan mendukung terciptanya kedaulatan pangan di Indonesia pun akan dimuat dalam tulisan ini mulai dari kebijakan dan program apa saja yang mereka buat untuk membantu para petani dan bagaimana dengan implementasinya.

Kedaulatan Pangan

Pada tulisan ini ada beberapa teori terkait dengan tiga konsep tentang pangan yaitu ketahanan, kemandirian dan kadaulatan pangan.

konsep ini akan membantu memberikan gambaran tentang dimana kondisi pangan Negara Indonesia berdiri dan tahap yang mana yang mungkin dicapai oleh pangan dari negara Indonesia.

Konsep ketahanan pangan dijelaskan dengan keadaan dimana negara atau masyarakat mampu memenuhi ketersediaan pangannya baik secara mandiri ataupun dengan cara impor untuk dikonsumsi. Sesuai pengertian dari PBB pada tahun 1974 maka ketahanan pangan di definisikan sebagai ketersediaan bahan makanan pokok setiap saat untuk mempertahankan pasokan pangan pada konsep ketahanan panganlah Negara Indonesia berdiri saat ini.

Sedangkan pada konsep kemandiriandijelaskan dengan keadaan dimana terpenuhinya kebutuhan pangan di sebuah negara atau masyarakat dari dalam. Artinya tidak perlu mengimpor dari luar negeri tetapi segala kebutuhan pangan sudah tercukupi dari dalam. Konsep ini muncul sebagai salah satu wujud keinginan lepas dari ketergantungan terhadap pihak luar.

Pada konsep kedaulatan pangan dikatakan bahwa konsep ini ditujukan untuk menjamin bahwa masyarakat mampu mandiri memenuhi kebutuhan pangannya dengan tidak mengabaikan hak-hak untuk mendapatkannya. Sebagaimana ditulis oleh Etzioni pada tahun 2006 dalam sovereignty as responsibility konsep kedaulatan pangan muncul untuk menjamin hak-hak warga untuk memproduksi, mengonsumsi dan menentukan harga tanpa ada tekanan dari pihak-pihak luar. Tak hanya itu konsep ini juga secara radikal menempatkan petani,pengedar dan konsumen pada jantung kebijakan dalam sistem panagan itu sendiri (Deklarasi Nyeleni 2007).

Tulisan ini juga menggunakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan sebagai landasan teori. Dalam undang-undang ini yang juga tertera tentang tiga konsep pangan dan tak

hanya itu dalam undang-undang ini dibahas pula tentang salah satu tujuan penting dari ketahanan pangan adalah meningkatkan kesejahteraan petani.

Tak hanya seputar pangan, ada beberapa teori terkait dengan gender yang membahas tentang meningkatnya peran perempuan dalam pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan hidup keluarganya serta kesetaraan hak untuk memanfatkan berbagai sumber daya bagi perempuan seperti yang tertulis dalam nota kesepahaman antara kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan kementrian pertanian.

Peranan Petani Desa Baru Pancur Batu dan Masalah yang Dihadapi dalam Mendukung Terciptanya Kedaulatan Pangan di Indonesia

Kedaulatan pangan merupakan strategi dasar dalam melengkapi ketahanan pangan sebagai tujuan dari pembangunan pangan. Kedaulatan pangan tentu saja sudah mencakup bagaimana hak dan akses petani untuk memperoleh dan menikmati sumber daya pertanian yang mencakup lahan, air, sarana produksi, teknologi, pemasaran serta konsumsi.

Dalam upaya meningkatkan pembangunan ketahanan pangan, peranan kelompok petani di pedesaan sangat besar dalam mendukung dan melaksanakan berbagai program yang sedang dan akan dilaksanakan karena petani inilah pada dasarnya pelaku utama pembangunan ketahanan pangan. Sebaga iprofesi yang mengetahui seluk-beluk tentang kondisi pangan maka sangat penting bagi kita untuk mengetahui seperti apa kondisi dan apa saja peranan kelompok tani terhadap terciptanya kedaulatan pangan di Indonesia.

Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan dengan beberapa petani padi di Desa Baru Pancur Batu. Mereka mengatakan bahwa pada masa sekarang ini peranan mereka sebagai petani tidak lah lebih dari sekedar pekerja dimana mereka hanya menanam, merawat dan memanen padi tetapi mereka tidak diberikan kebebasan untuk menentukan harga dan memperoleh keuntungan, selain itu peranan kelompok tani yang seadanya tersebut disebabkan oleh timbulnya beberapa masalah seperti tingkat kesuburan tanah yang sudah berkurang, tingkat kesejahteraan petani menurun yang dibuktikan dengan masih harusnya petani membeli beras dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan vital petani seperti mesin penggiling padi.

Menurut pengakuan para petani di Desa Baru mengenai perhatian pemerintah terhadap usaha tani mereka, kami menemukan laporan yang mengejutkan.Mereka mengatakan bahwa sejak tahun 1970-an mereka menjadi petani, hanya sekali mereka pernah mendapat bantuan dari pemerintah yaitu bantuan saluran irigasi pada tahun 1990-an dan sampai sekarang mereka tidak pernah mendapat bantuan lagi. Saluran irigasi yang dibangun oleh pemerintah pada tahun 1990-an pada awalnya memang

berfungsi dengan sangat baik, tetapi seiring dengan berjalannya waktu irigasi tersebut mulai kering. Inilah yang menyebabkan seringnya petani mengalami gagal panen jika musim kemarau tiba. Banyak kendala lainnya yang dialami para petani seperti keterbatasan modal. Keterbatasan modal juga menjadi penghalang petani dalam memperoleh hasil produksi yang melimpah. Keterbatasan dalam membeli pupuk, keterbatasan dalam membeli bibi tunggul, dan keterbatasan ilmu dalam membasmi hama sering kali membuat petani berurusan dengan rentenir yang membuat petani semakin terjepit. Mereka memang diberi modal yang cukup, tetapi mereka harus membayar mahal untuk membayar hutang mereka. Bunga yang diberikan cukuplah tinggi sehingga uang yang diperoleh dari hasil bertani tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kurangnya perhatian pemerintah dibidang alat dan produksi juga memaksa para petani untuk menjual gabah padi dengan harga yang sangat rendah, yaitu hanya Rp.4000 per kilogramnya. Jika pemerintah sedikit saja menaruh perhatiannya dengan menyediakan mesin penggiling padi, maka beban hidup para petani menjadi lebih ringan dimana mereka dapat menjual beras hasil produksi mereka senilai Rp. 9.000 per kilogramnya. Dengan menjual gabah senilai Rp. 4.000, petani tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan hariannya dan melunasi hutang sehingga ketika musim panen tiba maka petani tersebut akan menjual seluruh hasil panennya kepada pihak kilang. Hasil panen yang terjual seluruhnya memaksa petani untuk membeli beras kembali untuk menyambung hidupnya

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap para petani di desa tersebut menyebabkan 30 persen petani padi di desa tersebut mulai beralih profesi dari petani menjadi buruh bangunan dan membawa becak sewa, karena hasil sebagai petani yang tidak mencukupi. Perhatian pemerintah daerah terhadap kelompok tani yang terkesan diabaikan justru akan melenyapkan hal berharga dari pembangunan pertanian itu sendiri yaitu petani. Mengingat semakin kompleks dan besarnya tantangan pembangunan ketahanan pangan mendatang, terutama untuk mencapai kemandirian pangan, maka kelembagaan kelompok tani yang tersebar di seluruh pelosok pedesaan perlu dibenahi dan diberdayakan, sehingga mempunyai keberdayaan dalam melaksanakan usaha taninya.

Sesuai dengan teori Involusi yang dikemukakan oleh Clifford-Geertz (Clifford-Geertz,1983) , bahwasanya lahan pertanian yang begitu luas yang berada di Desa Baru pada awalnya dimiliki olehsatu keluarga saja.Tetapi seiring berjalannya waktu, maka lahan pertanian tersebut diturunkan kepada anak-anaknya sebagai harta warisan, begitu seterusnya sampai keturunan-keturunan selanjutnya. Ini menyebabkan lahan yang dimiliki oleh petani-petani semakin sempit tidak seperti sebelumnya bahkan ada petani yang tidak memiliki lahan dan hanya sebagai buruh tani yang bekerja di lahan pertanian orang lain. Jadi seperti yang kami amati di

lapangan bahwa mereka yang berprofesi sebagai petani di Desa tersebut adalah Suku Jawa dan Suku Karo, telah terjadi perkawinan campur dan mereka yang memiliki lahan pertanian di daerah tersebut merupakan kerabat dekat dan kerabat jauh.

Dampak dari pembagian lahan pertanian dari satu generasi ke generasi berikutnya memiliki arti yang sama dengan pembagian kemiskinan (Shared Poverty), dimana disini telah terjadi pembagian lahan pertanian menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi yang membuat para petani hanya memiliki lahan pertanian yang kian lama kian sempit bahkan terdapat petani yang tidak memiliki lahan. Ini merupakan salah satu penyebab mengapa petani dekat sekali dengan kemiskinan.

Banyak hal yang menyebabkan lingkaran kemiskinan semakin erat dengan petani. Sehingga banyak stigma yang bermunculan bahwa nilai seorang petani tidaklah berarti jika dibandingkan dengan profesi lainnya seperti pegawai negeri sipil, pegawai swasta, dsb. Sehingga tak jarang kita mendengar bahwa anak dari seorang petani tidak ingin menjadi seperti orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

Masalah-masalah yang dihadapi petani dan kurang mendapatkan solusi dari pemerintah membuat petani di Desa BaruPancur Batu kesulitan untuk bekerja secara optimal, disamping pendidikan mereka yang kurang, sarana untuk berkonsultasi pun sangat minim sehingga masalah-masalah yang terjadi dibiarkan begitu saja tanpa mendapat penyelesaian. Hal ini tentu berpengaruh terhadap menurunnya peranan petani dalam mendukung terciptanya kedaulatan pangan seperti yang kita ketahui bahwa gambaran pangan suatu Negara akan tergambar dari gambaran kesejahteraan petaninya juga.

Namun permasalahan diatas cenderung berdampak positif terhadap permasalahan gender, yang mana pada awalnya petani-petani di Desa Baru Pancur Batu adalah kaum laki-laki namun seiring dengan berjalannya waktu dan kemiskinan yang semakin menyelimuti kehidupan kaum petani membuat bangkitnya kaum perempuan yang bersuamikan petani untuk turut mensejahterakan keluarganya tanpa memandang masalah kodrati perempuan yang diidentikan dengan dapur,sumur dan kasur. Kegiatan pertanian yang awalnya dikerjakan oleh kaum laki-laki kini telah bergeser.

Kini kaum perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di sawah, sementara kauml aki-laki mulai beralih profesi, ada yang menjadi buruh bangunan, membawa becak sewa,dan sebagainya. Mulai dari kegiatan menanam sampai memanen dilakukan oleh kaum perempuan, kaum laki-laki hanya menunjukkan diri sebagai petani ketika masa membajak saja dengan menggunakan mesinpembajak.

Didukung dengan munculnya nota kesepahaman antara kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan kementerian

pertanian yangmemastikan bahwa adanya kesetaraan gender dalam bidang pertanian meliputi beberapa langkah yaitu :

1. Memastikan bahwa hak tradisional kaum perempuan termasuk hak anak tidak dihilangkan dalam hal pemanfaatan sumber daya alam pertanian beserta hasil-hasilnya.

2. Memastikan akses yang setara untuk kaum laki-laki dan perempuan terhadap informasi permodalan dan pemanfaatan sarana dan prasarana pertanian

3. Melatih mitra kerja dibidang pertanian sehingga peka terhadap pola pola usaha pertanian oleh kaum perempuan dan laki-laki, serta dapat mengetahui hambatan/ persoalan serta kebutuhan kaum perempuan.

Dari beberapa kesepahaman tersebut bahwa sebenarnya dalam mewujudkan kesejahteraan petani, kaum perempuan telah banyak turut serta di dalamnya dan secara tidak langsung saat kondisi kesejahteraan petani membaik maka peluan untuk kedaulatan pangan tercapai akan semakin besar.

Peranan Pemerintah dalam Mendukung Kelompok Tani untuk Mendukung Tercipanya Kedaulatan Pangan di Indonesia

Pemerintah selaku salah satu aktor pembuat kebijakandi negara ini tentu saja menjadi harapan bagi para petani agar pertanian di negara Indonesia semakin berkembang dengan semakin berkembangnya potensi pertanian maka akan berdampak pula pada kesejahteraan petani, sehingga permasalahan seperti yang tertera pada awal pembahasan bisa diminimalisir. Berikut beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk pembangunan pertanian di Indonesia.

a. Strategi Umum

Pembangunan pertanian mempunyai tujuan umum yaitu memajukan agribisnis (Agrimedia.ac.id) , yaitu dengan membangun secara sinergis dan harmonis aspek-aspek:

(1) industri hulu pertanian yang meliputi perbenihan, input produksilainnya dan alat mesin pertanian;

(2) pertanian primer (on-farm);

(3) industri hilir pertanian (pengolahan hasil); dan

(4) jasa-jasa penunjang yang terkait dalam memajukan agribisnis.

Setiap pelaku agribisnis mengharapkkan adanya tambahan bagi pendapatan dalam menjalankan perannya dalam perkembangan agribisnis, tanpa adanya nilai tambahan maka mereka akan enggan menekuni agribisnis, maka kunci dalam meningkatkan kinerja di sektor ini adalah menciptakan nilai ekonomi yang menunjang daya tarik agribisnis. Selain hal tersebut di atas, membatasi produk impor juga menjadi salah satu hal yang wajib di pertimbangkan oleh pemerintah. Di mungkinkan juga dengan peningkatan biaya masuk barang produk pertanian dari luar. Dengan

pembatasan tersebut di harapkan akan lebih memberikan kesempatan produk local mempunyai pasar di Negara sendiri. Yang tentunya di ikuti dengan ,kualitas, kuantitas dan kontinuitas produk. Diversivikasi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman dan industri juga menjadi kendala yang sangat berarti bagi pencapaian ketahanan pangan lokal maupun nasional, dengan mengacu pada hal tersebut, pemerintah di harapkan mampu membuat kebijakan yang tegas terkait peta lokasi pengembangan sektor pertanian berdasarkan pada tingkat produktifitas daerah penghasil produk pertanian. Sehingga dengan adanya peta lokasi tersebut, pemerintah mempunyai pembatasan terhadap adanya diversifikasi lahan pertanian untuk pemukiman dan industri dan lebih mengoptimalkan peningkatan hasil pertanian pada lokasi tersebut salah satunya dengan pemperluas lahan pertanian.

b. Ketahanan Pangan Domestik/Lokal

Ketahanan Pangan Nasional tentunya tidak terlepas dari ketahanan pangan domestik/lokal. Dengan mengacu pada hal tersebut maka dengan adanya otonomi daerah diharapkan dapat memaksimalkan peran pemerintah daerah dalam meningkatkan sektor agribisnis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Proses otonomi daerah yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2000 Tentang Otonomi Daerah yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000, peranan daerah dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayahnya menjadi semakin meningkat.

Searah dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dapat berperan aktif. Achmad (2005) menyebutkan dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan di wilayah kerjanya. Partisipasi tersebut diharapkan memperhatikan beberapa azas, yaitu:

1. Mengembangkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh masing- masing daerah sesuai dengan potensi sumberdaya spesifik yang dimilikinya, serta disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.

2. Menerapkan kebijakan yang terbuka dalam arti menselaraskan kebijakan ketahanan pangan daerah dengan kebijakan ketahanan pangan nasional.

3. Mendorong terjadinya perdagangan antar daerah.

4. Mendorong terciptanya mekanisme pasar yang berkeadilan.

Dengan memperhatikan beberapa azas kebijakan ketahanan pangan di daerah tersebut, beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut diantaranya meliputi:

1. Pemerintah daerah perlu menyadari akan pentingnya memperhatikan masalah ketahanan pangan di wilayahnya.

2. Perlunya apresiasi tentang biaya, manfaat, dan dampak terhadap pembangunan wilayah dan nasional program peningkatan ketahanan pangan di daerah kepada para penentu kebijakan di daerah.

3. Pemerintah daerah perlu menyusun perencanaan dan strategi untuk menangani masalah ketahanan pangan di daerah.

4. Perlu dikembangkan suatu wahana untuk saling tukar menukar informasi dan pengalaman dalam menangani masalah ketahanan pangan antar pemerintah daerah.

c. Pengembangan teknologi

Pengembangan teknologi dalam meningkatkan efisiensi akan mencakup teknologi pengembangan sarana produksi (benih, pupuk dan insektisida), teknologi pengolahan lahan (traktor), teknologi pengendalian hama terpadu (PHT), teknologi pengelolaan air (irigasi gravitasi, irigasi pompa, efisiensi dan konservasi air), teknologi budidaya (cara tanam, jarak tanam, pemupukan berimbang, pola tanam, pergiliran varietas), dan teknologi pengolahan hasil. Teknologi pertanian berperan penting dalam mendukung pengembangan pertanian pangan di areal pengembangan baru (ekstensifikasi). Pengembangan lahan pertanian baru, menurut kondisi agro ekosistemnya dapat dibedakan menjadi (Achmad, 2005) :

(1) lahan sawah cetakan baru,

(2) lahan kering (ladang atau di bawah naungan), dan

(3) lahan rawa (pasang surut dan lebak). Sudah barang tentu teknologi yang dibutuhkan untuk pengembangan di areal ekstensifikasi ini akan bersifat lokal spesifik

Peranan Badan Litbang Pertanian mengingat bahwa pelayanan teknologi tepat guna sangat vital bagi peningkatan produktivitas, peningkatan efisiensi, perbaikan mutu dan peningkatan nilai tambah di sektor pertanian, maka peranan lembaga penelitian nasional dan daerah seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) beserta lembaga mitra kerjanya yang lain sangat vital dalam meningkatkan kinerja sektor ini. Kinerja pelayanan teknologi dituntut untuk mampu merespon dengan baik kebutuhan para petani dan pengusaha, dalam mengembangkan agribisnis yang modern dalam arti mengandalkan iptek untuk membangun efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing produknya, dengan tujuan utama meningkatkan pendapatan keluarga tani di pedesaan.

Teknologi pertanian berperan sangat strategis di dalam upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. Teknologi pertanian dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas pangan, meningkatkan diversifikasi dalam jenis dan kualitas pangan, meningkatkan nilai tambah, kesempatan kerja, dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Dengan teknologi tepat guna efisiensi produksi dapat ditingkatkan sehingga meningkatkan daya saing produk pangan di dalam

negeri dan di pasar internasional. Pengembangan teknologi juga mencakup aspek rekayasa kelembagaan, yang mendorong berkembangnya kelembagaan agribisnis dan kelembagaan di pedesaan. Pelayanan kepada petani, dalam era reformasi ini, harus dilaksanakan dalam koridor pemerintahan yang baik dan bersih, mengikuti prinsip-prinsip: (i) bersifat memberdayakan dalam arti meningkatkan kemampuan menganalisis, mengambil keputusan, membangun akses terhadap sumberdaya dan sarana produksi, serta mengatasi masalah yang dihadapi; (ii) bersifat partisipatif dalam menghasilkan teknologi tepat guna, yaitu mengikut-sertakan petani sejak perencanaan, pelaksanaan pemantauan evaluasi dan perbaikan; (iii) memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan;

dan (iv) membangun komunikasi dan kerja sama yang baik antar pemerintah dengan berbagai komponen masyarakat untuk saling mengisi demi kemajuan bersama. Untuk itu sistem yang selama ini didisain untuk pola yang sentralistis dan instruktif, pada era otonomi dan globalisasi ini perlu disesuikan kepada pola yang partisipatif. Penyesuaian ini memerlukan kemauan, kemampuan intelektual dan komitmen untuk berubah dan harus dimulai dari lingkungan kita masing-masing, untuk selanjutnya ditularkan kepada mitra kerja dalam kalangan yang lebih luas. Melalui upaya tersebut disertai tekad yang kuat untuk membangun bangsa, maka ketahanan pangan nasional dapat kita wujudkan. (Achmad, 2005) .

Penjelasan diatas masih merupakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam bidang pertanian untuk mendukung terciptanya kedaulatan pangan di Indonesia. Tak hanya itu pemerintah juga berusaha membuat sebuah program yang unik seperti one day no rice dimana dalam program ini masyarakat diminta untuk meminimalisir konsumsi beras dalam satu hari dan menggantikannya dengan makanan bergizi lainnya seperti umbi-umbian. meskipun belum tersosialisai dengan baik dengan adanya program „one day no rice‟ ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi ketahanan pangan di Indonesia dan menekan tingkat konsumsi beras.

Banyak sekali kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk mendukung terciptanya ketahanan pangan, namun sayang sekali sosialisasi yang minim dan tidak meratanya distribusi bantuan sumber daya pertanian kepada para petani menyebabkan ketahanan pangan di negara ini masih sulit di capai. Bukan itu saja berdasarkan hasil wawancara yang kami peroleh dari badan ketahanan pangan yang ada di kota Medan dikatakan bahwa seluruh program pertanian di Indonesia adalah sama sehingga tidak ada spesifikasi penanganan bagi lahan pertanian yang kurang subur atau bagi lahan pertanian yang potensi nya sangat tinggi, wajar saja bila potensi pertanian di Indonesia masih kurang berkembang karena upaya dari pemerintah pun masih kurang optimal dalam menyusun kebijakan.

Kesimpulan

Kondisi ketahanan pangan di Indonesia sangat bergantung pada

Kondisi ketahanan pangan di Indonesia sangat bergantung pada