• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian

5.1.2 Informan Utama 1 (Pelaku Usaha Kuliner Martabak Kubang)

Nama : Sri Wahyuni

Umur : 50 Tahun

Tempat/Tanggal Lahir : Medan/19 Februari 1971

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan A.H Nasution No.2

Pekerjaan : Pedagang

Informan utama 1 bernama Sri Wahyuni yang berusia 50 tahun, dia salah satu pelaku usaha kuliner yang bertepatan berada di lingkungan Rumah Sakit Mitra Sejati Medan Johor. Beliau merupakan ibu rumah tangga sekaligus pemilik usaha kuliner Martabak Kubang yang sudah berdagang sejak tahun 2007 yang juga merupakan ibu dari tiga orang anak. Pada masa sebelum pandemi, beliau berdagang bersama suami dan anak-anaknya dari pukul 18.30 WIB – 23.30 WIB, namun dikarenakan pandemi COVID-19 beliau berdagang dari pukul 19.00 WIB – 22.00 WIB. Selama menjadi pedagang usaha kuliner, segala kebutuhan sandang, pangan, papan dan pendidikan digantungkan dari usaha kuliner martabak kubang ini. Saat peneliti ingin meneliti mengenai indikator sosial ekonomi beliau sangat antusias mejawab semua pertanyaan dari peneliti.

Berikut hasil wawancara peneliti dengan ibu Sri Wahyuni sebagai informan utama sebagai berikut:

1. Interaksi

Peneliti bertanya kepada ibu Sri Wahyuni, bagaimana interaksi antara pedagang dan pembeli disaat terjadinya transaksi jual beli?

“Kalau interaksi sendiri ya begini dek sama saja seperti pedagang lainnya sewaktu transaksi jual beli, kami pedagang dengan pembeli berinteraksi dengan bertemu langsung tatap muka gitu dek namun karena sekarang

korona interaksi yang terjadi mengalami penurunan, misal yang dulunya pembeli sering datang langsung membeli dagangan, namun sekarang pembeli sedikit membeli dagangan dan lebih sering makanannya dibawa pulang”

Selanjutnya peneliti menanyakan kepada informan mengenai bagaimana interaksi antara sesama pedagang sebelum masa pandemi COVID-19 dan masa pandemi COVID-19?

“Kalau interaksi antara kami sesama pedagang ya baik-baik saja, kami saling interaksi seperti manusia pada umumnya dek dan masa pandemi sekarang kami membatasi interaksi secara langsung antar sesama pedagang karena masih korona dek, ibu takut””

Lalu peneliti bertanya kepada informan, bagaimana cara pedagang mempromosikan dagangannya kepada khalayak ramai?

“Kami mempromosikan dengan memasang spanduk besar-besar di depan warung kami, kemudian kami ajak teman-teman kami untuk membeli dagangan dan saya sendiri suruh anak saya untuk memasukkan ke facebook tentang dagangan kami siapa tau ada yang berminat membeli, gitu sedangkan pada musim korona sekarang kami mempromosikan dengan lebih mengedepankan media sosial, saya suruh anak saya untuk promosikan dagangan kami melalui facebook dan whatsapp”

Berikutnya peneliti menanyakan kepada informan, apakah pihak pedagang melakukan interaksi dengan kurir pemesanan makanan sebagai bentuk perluasan jaringan interaksi?

“Kami sama sekali tidak melakukan itu, karena saya pribadi juga tidak begitu paham mengenai pemesanan menggunakan kurir pemesanan makanan, karena juga para pembeli membeli dagangan kami dengan datang langsung ke warung kami, kemudian kami berikan menu dan mereka memesan apa yang mereka inginkan walaupun sekarang pandemi kami tetap tidak mendaftarkan ke Gojek dek”

Lalu peneliti bertanya kepada ibu Sri Wahyuni yang merupakan informan utama dalam penelitian ini, apakah pembeli sering membeli dagangan dengan datang langsung ke lokasi atau memesannya melalui kurir pemesanan makanan?

“Seperti yang saya katakan tadi, warung martabak kubang ini tidak ada memakai jasa kurir pemesanan makanan gitu dek selama masa sebelum pandemi, jadi pembeli lebih sering datang langsung untuk membeli ke warung kami. Walau masa pandemi sekarangpun pembeli datang langsung ke warung kami, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Tetapi tetap saja pembeli kami tidak sebanyak waktu korona belum ada dek, pembeli masih takut-takut membeli dagangan kami karena takut keluar rumah dan takut untuk makan langsung di warung kami”

2. Kesehatan

Peneliti bertanya kepada ibu Sri Wahyuni, apakah Anda memerhatikan lingkungan tempat usahanya dari segi kebersihan sehingga dapat dikatakan lingkungan usaha yang sehat?

“Wah untuk hal itu warung martabak kubang sangat memerhatikan sekali dek, karena kami juga menyediakan fasilitas toilet yang bersih, menyediakan tempat cuci tangan seperti kran air, menyediakan tisu, selalu memakai sarung tangan ketika memasak, dan lain sebagainya, maka dari itu kami sangat memerhatikan hal tersebut ditambah masa COVID-19 sekarang makin kami tingkatkan lagi”

Selanjutnya peneliti menanyakan kepada informan, apakah masalah kesehatan yang Anda alami?

“Kalau masalah kesehatan, saya tidak mengalami hal yang sebagaimana mungkin ya, mungkin kesehatan kantonglah yang saya sering alami dek.

Kalau masalah kesehatan yang serius tidak ada, namun masalah kesehatan seperti kadang demam karena letih bekerja ya itu hal yang wajar sajalah karena kan tidak ada manusia yang sekuat baja, tapi karena musim korona sekarang saya jadi gampang demam seperti ada gejala COVID-19 gitu dek namun saya obati dengan membeli obat demam dan istirahat yang cukup”

3. Pekerjaan

Peneliti menanyakan kepada ibu Sri Wahyuni tentang sejak kapan Anda menjadi pedagang usaha kuliner ini?

“Waduh sudah lama sekali dek, dulu dari warung-warung kecil, sampai sekarang sudah punya ruko sendiri, ya sekitar sejak tahun 2007 kami memulai usaha martabak kubang ini. Dulu nama martabak kami ini

namanya martabak triple A dek karena anak saya semua namanya inisialnya dari huruf A begitu”

Selanjutnya peneliti bertanya kepada informan, apakah pekerjaan sebagai pedagang usaha kuliner ini adalah pekerjaan tetap Anda?

“Iya dek pekerjaan tetap saya dan sekeluarga ya ini jadi pedagang kulinerlah bisa dibilang, karena latar belakang keluarga kami semua kebanyakan jadi pedagang, buka usaha sendiri, karena kami kebanyakan kurang suka bekerja di tempat orang”

Berikutnya peneliti menanyakan kepada informan, apakah pekerjaan yang Anda geluti sekarang adalah pekerjaan impian Anda sejak dahulu?

“Kalau saya pribadi jawabannya adalah iya, karena sejak dahulu cita-cita saya adalah menjadi pengusaha di bidang kuliner dek”

Lalu peneliti bertanya kepada informan mengenai bagaimana Anda mengatur strategi agar pekerjaan Anda yang sekarang tetap bertahan?

“Sebelumnya pertanyaan kamu ini dek cukup susah untuk dijawab karena saya tak begitu mengatur yang bagaimana mengenai strategi, seperti berjalan begitu sajalah karena selama sebelum pandemi warung kami tetap alhamdulillah ada saja yang membeli tapi karena sekarang masa pandemi kami mempertahankannya dengan tetap optimis percaya kepada Tuhan saja, pasti badai ini cepat berlalu, cara lainnya ya kami tetap membuka dagangan walau adanya pembatasan jam operasional dan sepinya konsumen, dilain hal saya juga sambil menitipkan kue dagangan saya di warung-warung sembako di Pangkalan Mashyur ini dek sebagai tambah-tambahan uang masuklah begitu”

Kemudian peneliti bertanya kepada informan, apakah Anda mengalami masalah pekerjaan pada usaha kuliner ini?

“Yang namanya kehidupan pasti tidak terlepas dari yang namanya masalah, ya kalau ditanya ada masalah ya adalah dek misalnya kekurangan modal, seperti kurang laku dan lain sebagainya sehingga menghambat masalah pekerjaan saya ditambah adanya pandemi sekarang masalah seperti kekurangan moda makin menjadi-jadi, sepinya pengunjung yang membuat kami memutar otak kembali bagaimanalah supaya dagangan kami ramai pengunjung”

4. Pendapatan dan Pengeluaran

Peneliti bertanya kepada ibu Sri Wahyuni selaku informan, apakah Anda mendapatkan bantuan dana modal atau pinjaman dari kelurahan serta dana bantuan sosial COVID-19?

“Kalau untuk dana pinjaman atau untuk modal kami tidak mendapatkan dek, karenapun kami juga tidak tahu ada atau tidak, namun sampai sekarang alhamdulillah dikarenakan biaya untuk modal sendiri masih bisa dicukupkan sehingga hal-hal tersebut tidak begitu kami pikirkan dan tidak kami cari tahu namun masa pandemi sekarang ini tetap saja kami belum pernah mendapatkan bantuan sosial korona dek”

Kemudian peneliti bertanya kepada informan, apakah ada pembayaran iuran atau retribusi kepada pihak kelurahan?

“Jawabannya tidak ada dek, karena kami punya usaha atas milik sendiri, jadi tidak perlu bayar iuran ke kantor lurahla gitu”

Selanjutnya peneliti bertanya kepada informan, apakah pendapatan perhari cukup untuk modal esok harinya?

“Perkara modal cukup atau tidak cukup, sebelumnya kami juga sudah menyiapkan tabungan sedikit untuk jikalau modal esok hari kurang memadai kami memakai tabungan tadi, namun selama masa sebelum pandemi Alhamdulillah modal cukup-cukup saja untuk esok hari dikarenakan banyaknya penjualan yang laku setiap harinya namun pada masa pandemi COVID-19 cukup tak cukup ya kami cukup-cukupkanlah dek, mau mengadu juga mengadu ke siapa, ya sudah kami berusaha semaksimal mungkin”

Lalu peneliti bertanya kepada ibu Sri Wahyuni selaku informan utama, apakah pernah pengeluaran lebih besar daripada pendapatan perhari Anda?

“Tentu saja pernah dek, untuk kebutuhan lainnya, misal untuk biaya tak terduga, biaya sekolah anak, biaya terkadang saya ingin liburan begitu dan lain sebagainya ditambah pandemi sekarang pernah dan hampir setiap hari, karena tingkat penjualan juga menurun dek, pengeluaran lebih besar dari pendapatan sering terjadi di masa pandemi ini”

Selanjutnya peneliti menanyakan perihal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah Anda melakukan hal lain sebagai upaya untuk menambahkan pendapatan harian Anda?

“Oh kalau itu pasti dek, untuk menambahi keuangan keluarga juga ibu melakukan hal seperti membuat kue lalu ibu titipkan ke warung kopi atau di warung-warung sembako dan jajanan anak gitu”