a Doktrin Keagamaan dan Pengangguran
4. Jaminan Sosial
Dalam tradisi ekonomi modern, konsepsi jaminan sosial sendiri dianggap tidak begitu jelas. Begitu banyak defenisi yang ditawar- kan, seperti yang belakangan dikembangkan oleh Amartya Sen, hingga social security atau social protection dapat diekuivalensikan dengan semua kebijakan yang mendorong dan melindungi standar hidup.112Namun demikian, yang jelas setidaknya terdapat tiga komponen utama jaminan sosial (social protection), yaitu (1) kompensasi terhadap penganggur, (2) transfer uang tunai, dan (3) dana perawatan kesehatan.113
110
Richard Layard, “Is Income Policy the Answer to Unemployment?,”
Economica, vol. 49 (1982): 219-239.
111 Allan McDonald, Unemployment Forever or a Support Income System
and Work for All (Urangan: A & D McDonald, 1995), 3.
112
Wouter van Ginneken, “Extending Social Security: Policies for Devel- oping Countries,” Extension of Social Security Paper, no.13 (2003): 10.
113 OECD, OECD Employment Outlook 2011 (Paris, OECD Publishing,
131
Dalam konteks sejarah ekonomi, jaminan sosial dapat dilihat secara berbeda dan khas. Sejarawan al-Ya‘qu>bi>, misalnya, mendedahkan bahwa pada masa dinasti Cina telah memiliki sema- cam jaminan sosial untuk para penganggur terpaksa yang berhenti bekerja karena penyakit atau faktor usia. Namun demikian, kekaisaran China saat itu juga menerapkan kewajiban bekerja un- tuk laki-laki.114Dalam tradisi sejarah pemerintahan Islam abad pertengahan, tentu saja belum ada istilah khusus yang menyebut jaminan sosial (al-d}ama>n al-ijtima>i>‘), namun ditemukan ter- ma-terma yang sangat berkaitan erat dengan fungsi jaminan kese- jahteraan masyarakat luas.
Terkait fungsi jaminan kesejahteraan sosial tersebut, maka ini dapat diambil dari diktum al-Shayba>ni> berikutnya yang berbun- yi: “qa>la: wa yuftrad}u ‘ala> al-na>s it}‘a>mu al-muh}ta>j fi> al-waqt al-ladhi> ya‘jazu ‘an al-khuru>j wa al-t}alab”115(menurut al-Shayba>ni>: masyarakat berkewajiban untuk memberi “insentif” kepada orang yang memerlukan, ketika orang tersebut tidak kuasa untuk menemui masyarakat dan mencari rezeki). Nampaknya spirit diktum ini berasal dari hadis Nabi terkait struktur masyarakat mus- lim yang sejatinya eka dan padu.116
Dalam hal ini, inisiasi al-Shayba>ni> ini cukup relevan bila dihubungkan dengan diskursus modern terkait social security. Namun, dalam batas tertentu, kewajiban seperti ini (haqq al-ma>l) adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang kaya dan didis- tribusikan kepada orang-orang fakir. Sungguhpun demikian, justru orang-orang fakir dianjurkan untuk tidak mengambil kewajiban ini demi menjaga harga diri.117Terkait hal ini, ada sebuah fragmen di mana seseorang yang bernama al-‘Ata>bi> menghadap kepada al- Ma’mu>n. Sang khali>fah berniat untuk mengujinya dengan menawarkan 1000 dinar, namun orang itu selalu menolak pem- berian itu. Al-Ma’mu>n dan kaki tangannya, Ish}a>q ibn
114
Ah}mad ibn Ish}a>q ibn Ja’far ibn Wahab al-Ya’qu>bi>, Ta>ri>kh al-Ya’qu>bi>, vol. 1, 158.
115 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 58.
116
Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al- Mustat}a>b, 41.
117 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
132
Ibra>hi>m al-Mu>s}ili> kembali menawarkan pemberian dengan nominal yang lebih besar, namun orang itu tidak menggubrisnya. Justru akhirnya orang yang bernama al-‘Ata>bi> ini menjadi akrab dengan al-Mu>s}ili> dan menginap di tempat tinggalnya.118
Kisah ini—meski tidak menyebut apakah pada akhirnya al- ‘Atta>bi> mengambil pemberian itu—menunjukkan bahwa aktivi- tas derma yang dapat dilihat sebagai penjaminan sosial dari pemerintah sejatinya juga didasari oleh mekanisme pengujian dan kelayakan. Karakter al-‘Atta>bi mewakili orang-orang yang masih memiliki harga diri (’iffah).
Sebetulnya, perhatian yang cukup besar dari al-Shayba>ni> terhadap mereka yang kurang berlimpah materi ini juga terlihat dari “dukungannya” kepada pola hidup fakir.119Dukungan ini berada pada konteks terbatas yaitu diskursus terkait dua pilihan pola hidup: fakir dan kaya. Tumpuan utama dukungan al-Shayba>ni> sangat terkait dengan diktum: “kefakiran itu lebih aman dari kon- taminasi-kontaminasi yang dapat merusak “status kehambaan” kepada Tuhan”. Sekali lagi, pengaruh ideologi dan analisis komparatif al-Shayba>ni> sangat terlihat pada uraian-uraiannya. Analisis komparatif ini dapat dibaca pada analogi dan contoh- contoh realitas yang berbeda dan implikasi dari masing-masingnya.
Di sisi lain, al-Shayba>ni> sangat menekankan adanya “kesadaran komunal lintas status” baik status ekonomi dan sosial. Dalam hal ini, al-Shayba>ni> menyebut: anna al-faqi>r yah}ta>j ila> ma>l al-ghaniyy wa al-ghanyy yah}ta>j ila> ‘amal al-faqi>r
(orang fakir sesungguhnya memerlukan harta orang kaya, se- bagaimana orang kaya itu juga memerlukan kinerja orang fakir). Al-Shayba>ni> juga menyadari adanya interdependensi (saling ketergantungan) dalam lintas status itu, satu sama lain.120
118 Muh}ammad ibn Jari>r al-T{abari>, Ta>ri>kh al-Umam wa al-
Mulu>k, vol. 5, 204; al-Mas’u>di>, Muru>j al-Dhahab wa Ma‘a>din al-Jawhar
, vol. 2, 41.
119 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 32.
120
Al-Shayba>ni> menyebut contoh di antaranya ketergantungan antara dua profesi, penjahit dan petani. Penjahit memerlukan makanan untuk bekerja, seperti petani juga memerlukan penjahit untuk berpakaian (Muh}ammad ibn al- H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-Mustat}a>b, 47-48).
133
Namun demikian, al-Shayba>ni> tidak secara gamblang men- jelaskan apa yang dimaksud dengan orang fakir tersebut. Pola hidup fakir ini, nampaknya tidak identik pola hidup kifa>yah, yang sekadar untuk menutupi kebutuhan mendasar (keperluan sandang pokok dan keperluan lain yang menunjang pelaksanaan kewajiban). Nampaknya gagasan al-Shayba>ni ini menemukan refleksi sa- lah satunya pada kebijakan al-Ma’mu>n saat menyelesaikan kesusahan dan utang seseorang yang bernama al-Yazi>di>. Awal- nya al-Ma’mu>n mengaku bahwa ia tidak memiliki uang untuk membantu orang tersebut. Namun ia menjanjikan dapat mem- berinya salah seorang pejabat istana. Dengan kecerdikannya, al- Ma’mu>n bersiasat memberi al-Yazi>di> kesempatan memilih sa- lah seorang pejabat agar dapat dijadikan asistennya. Tentu saja sang pejabat istana lebih memilih tetap sebagai pegawai al- Ma’mu>n ketimbang “terbuang” menjadi hadiah bagi al-Yazi>di>. Sejarawan al-T{abari> menulis bahwa orang ini akhirnya meneri- ma uang sejumlah 100 ribu Dirham dari si pejabat. Ia berdusta bahwa uang itu adalah jumlah hutangnya kepada al-Yazi>di>. Ber- kat “kecerdikannya”, al-Ma’mu>n dapat “mengerjai” pejabat kaya di istana dan membantu orang yang kesusahan tersebut.121Juga ter- dapat plot terkait pelunasan pemerintah al-Ma’mu>n atas hutang seseorang bernama Muh}ammad ibn ‘Abbad. Hutang itu mencapai angka 60 ribu Dinar. Oleh pemerintah, ibn ‘Abbad menerima ban- tuan pelunasan hutang itu sebesar 100 ribu Dinar.122Di lain kesem- patan, al-Ma’mu>n juga pernah memerintahkan untuk mencukupi keperluan keluarga tertentu yang berada di Suriah.123
Sejarawan al-Mas‘u>di> juga melansir kejadian terkait seorang orang tua yang tidak dapat lagi bekerja, mendapat musibah alam sehingga kekayaannya habis dan memiliki hutang dan tanggungan anggota keluarganya. Orang ini kemudian diberi dana sebesar 50 ribu Dirham.124Juga disampaikan plot terkait pemberian
121
Muh}ammad ibn Jari>r al-T{abari>, Ta>ri>kh al-Umam wa al- Mulu>k, vol. 5, 203.
122 Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Uthma>n al-Dhahabi>, Ta>ri>kh al-
Isla>m, ‘Umar ‘Abd al-Sala>m Tadmuri>, ed.,vol. 1, 1658.
123
Muh}ammad ibn Jari>r al-T{abari>, Ta>ri>kh al-Umam wa al- Mulu>k, vol. 5, 200.
124 Al-Mas‘u>di>, Muru>j al-Dhahab wa Ma‘a>din al-Jawhar , vol. 2,
134
“insentif” oleh pemerintah kepada para sufi yang menilai baik pemerintahan al-Ma’mu>n. Sebelumnya utusan mereka datang kepada al-Ma’mu>n dan berdialog dengannya. Al-Ma’mu>n kemudian memerintah agar menginspeksi kemana dan bagaimana orang itu kembali. Ternyata orang itu kembali ke komunitas sufi dan menilai baik pemerintahan al-Ma’mu>n. Al-Ma’mu>n pun memerintahkan agar keperluan komunitas itu dicukupi (kafayna> mu’nata> ha>ula>’ bi aysar al-khat}b).125
Namun yang agak menarik adalah adanya semacam penja- minan kebutuhan hidup bagi keluarga kerajaan yang terdiri dari keturunan al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Mut}t}alib paman Nabi Muh}ammad yang pada pemerintahan al-Ma’mu>n berhasil disen- sus. Jumlah keturunan ini baik laki-laki ataupun perempuan men- capai 30 ribu orang.126Tidak diketahui secara pasti alasan khusus pemerintah al-Ma’mu>n dari penjaminan ini kecuali bahwa me- mang terdapat perintah sang Nabi agar keluarganya dijamin oleh
Bayt al-Ma>l.
Dari beberapa narasi sejarah yang berhasil penulis telusuri, dapat dikatakan bahwa penjaminan sosial dalam konteks pemerintahan al-Ma’mu>n berkolerasi dengan kriteria utama beru- pa: (1) keperluan hidup yang tercermin baik dari “ketidakmampu- an” seseorang secara ekonomi atau sosial, dan (2) menjadi warga yang baik dengan tiga pra syarat: 1. loyalitas yang baik 2. tidak menyebarkan rahasia negara, dan 3. menjauhi larangan-larangan yang ditetapkan oleh pemerintah.127(3) kriteria khusus berupa “ke- turunan darah biru”. Kriteria-kriteria ini terutama yang kedua, memiliki potensi tendensi subyektifitas akan sangat besar sehingga menghajatkan pada sistem informasi terkait obyek warga negara tersebut. Oleh karena inilah, pada umumnya para khali>fah mem- iliki banyak informan dan orang-orang kepercayaan.
Penjaminan sosial yang dilakukan oleh pemerintahan al- Ma’mu>n ini pada dasarnya bersumber dari dana pajak yang men-
125 Al-Mas‘u>di>, Muru>j al-Dhahab wa Ma‘a>din al-Jawhar, vol. 2,
44; al-Dhahabi>, Siyar A‘ala>m al-Nubala’>, vol. 10, 278; al-Suyu>t}i>,
Ta>ri>kh al-Khulafa’>, 327.
126 Ibn Khaldu>n, Ta>rikh ibn Khaldu>n, vol. 1, 88.
127 Al-Mas’u>di>, Muru>j al-Dhahab wa MA’a>din al-Jawhar , vol. 2,
135
capai angka 200 dirham/tahun yang mayoritasnya disumbang oleh sektor pertanian yang mencapai sepertiga total pemasukan negara. Namun nominal pajak juga amat ditentukan oleh kondisi pembayar pajak. Sebagai ilustrasi, penduduk Khurasa>n yang sangat produk- tif secara ekonomi dan geografis menyumbang pajak yang sangat besar. Data yang disampaikan oleh al-T{abari> menyebut kisaran 2 juta dirham. Namun untuk penduduk daerah Rhages, jumlah total pajak tidak sebesar itu, bahkan belakangan dikurangi oleh al- Ma’mu>n.128Namun, tercatat juga tercatat penjaminan masyarakat yang berasal dari bahwa suatu ketika al-Ma’mu>n mengeluarkan gajinya sebanyak 2 juta dirham ketika sampai di daerah Rhages atau al-Rayy.129
Jizyah dan zakat juga diyakini menempati pos ekonomi yang strategis. Hal ini terutama pada masa abad pertama Hijrah hingga akhirnya kurang dilirik sebagai instrumen fundamental ekonomi berefek panjang-luas. Padahal dalam perspektif beberapa ahli “keu- angan publik” khila>fah, seperti al-Ma>wardi, sejatinya zakat men- jadi instrumen utama dalam pemasukan negara. Disusul oleh pos- pos pemasukan lain seperti al-Khara>j, al-Jizyah, dan lain-lain.
5.
Hirarki al-Ma‘ru>f
Inisasi terkait pola hidup sederhana dapat diambil dari gagasan berikutnya. Al-Shayba>ni> dalam hal ini, inisiasi terhadap adanya empat keperluan sangat mendasar: (1) pangan [al-t}a‘a>m]; (2) air [al-shara>b]; (3) sandang; [al-liba>s] dan (4) tempat tinggal [al- kinn].130Setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa pola hidup
128
Bandingkan dengan keterangan Muh}ammad ibn Jari>r al-T{abari>,
Ta>ri>kh al-Umam wa al-Mulu>k, vol. 5, 174.
129 Muh}ammad ibn Jari>r al-T{abari>, Ta>ri>kh al-Umam wa al-
Mulu>k, vol. 5, 146.
130 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 47. Argumentasi Qur’ani yang digunakan oleh al-Shayba>ni> un- tuk keperluan pangan adalah Q.S. al-Anbiya>: 8 dan Q.S. T{aha>: 81. Untuk keperluan air yaitu Q.S. al-Anbiya>: 30 dan Q.S. al-Baqarah: 60. Adapun keper- luan sandang yaitu Q.S. al-A’ara>f: 26, 31. Sementara keperluan tempat tinggal yaitu dari Q.S. al-Nisa>:28. Al-Shayba>ni juga menyitir hadis bahwa seorang mukmin tidak akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat terkait tiga hal: (1) pakaian yang menutupi aurat; (2) makanan sekadar keperluan aktivitas; (3)tempat tinggal yang layak. Artinya dapat melindungi dari panas dan dingin
136
kifayah yang dimaksud oleh al-Shayba>ni> dalam karya-nya ada- lah pola hidup yang mencukupi empat keperluan mendasar ini. Namun pola hidup untuk melengkapi empat kebutuhan di atas juga harus didasari oleh ilmu pengetahuan. Empat hal di atas ditekankan oleh al-Shayba>ni sebagai “batas bertahan”/al-baqa>’.131Artinya ini adalah batas minimal yang sejatinya didapatkan oleh setiap warga negara, khususnya pekerja.
Keperluan lainnya adalah al-tawassut}/keperluan yang secukupnya/sedang-sedang saja.132Menurut al-Shayba>ni, ukuran tawassut} ini adalah di antara isra>f (berlebih-lebihan) dan taqti>r
(di luar ambang batas dapat bertahan/survival needs).133Dalam kes- empatan yang lain, al-Shayba>ni> mengunakan terma Qurani “al- ma‘ru>f” sebagai kata sepadan dengan “tawassut}.”134
Sayangnya al-Shayba>ni tidak secara gamblang menyebutkan ukuran jelas dalam konsepsi-konsepsinya itu, terutama terkait dengan konsepsi al-isra>f. Justru ia hanya menunjukkan secara acak dan dalam lingkup yang sangat terbatas—aktivitas makan dan keperluan sandang—yang menurut pemahamannya termasuk dalam kategori al-isra>f. Sebagai contoh, memakan bagian tengah roti karena lebih lezat dan membiarkan bagian pinggir sisanya tidak termakan dianggap sebagai salah satu tindakan isra>f.135
Dari contoh-contoh yang diberikan oleh al-Shayba>ni>, penu- lis secara induktif ingin mencari ukuran “al-isra>f”. Dalam hal ini, al-Shayba>ni paling tidak menyebutkan sembilan contoh kasus se- bagai berikut.
(Lihat: Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al- Mustat}a>b, 67)
131 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 47.
132
Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al- Mustat}a>b, 50.
133 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 50.
134
Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al- Mustat}a>b, 55.
135 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
137
No Contoh Kasus Barometer
1. Makan di atas kenyang, tanpa keperluan yang dibenarkan seperti agar kuat beribadah.136
Adanya bahaya kesehatan
(mad}arrah)137
2. Memperbanyak varian masakan. 1. Tidak disediakan dalam satu waktu (perasmanan/ba>jah )
2. Diluar keperluan, maksudnya tidak termakan138
3. Makan bagian tengah roti saja dan meninggal- kan bagian yang lain.
1. Makanan ter- buang/tidak ter- makan.139
4. Meraba-raba makanan, namun tidak dimakan Orang menanggap- nya “jorok”. 5. Tidak memungut makanan yang dijatuhkan
padahal masih layak dimakan
Tidak memuliakan makanan/nikmat Tuhan140 6. Luxuritas (kemewahan) yang menjadi gaya
hidup yang dibanggakan (al-taka>thur dan al- tafa>khur)
Dibenci Allah, sep- erti disebut dalam beberapa ayat Alqura>n.141
7. Memakai pakaian terlewat (niha>yah) mewah atau pakaian yang terlewat usang.
1. Hadis terkait larangan “al-
136
Makan melebihi batas kenyang namun dengan tujuan bekal ibadah di- anggap boleh menurut sebagian ulama pasca-salaf [pasca 3 Abad setelah Hijri- yah]. Artinya, dalam hal ini kalangan salaf masih agak relatif ketat dan tegas ketimbang ulama setelahnya (Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al- Iktisa>b fi> al-Rizq al-Mustat}a>b, 51-52).
137 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 50.
138 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 52.
139 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 52-53.
140 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 53.
141 Q.S. al-H{adi>d: 20; Q.S. al-Muddathir: 6; Q.S. al-Qalam: 14; Q.S>
al-Taka>thur: 1 (Lihat: Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-Mustat}a>b, 54).
138
shuhratayn”. 2. Penilaian orang
lain/yusha>ru ilayhi bi al-as}a>bi‘142
8. Memaksakan diri agar dapat memakai pakaian yang baru
Memaksakan diri (takalluf)
9. Mempertontonkan dua-tiga lapis pakaian pada musim dingin.
1. Melahirkan kecem- buruan sosial bagi orang yang memang memerlukannya. 2. Bila satu pakaian
sudah cukup mena- han dingin. Artinya lapisan pakaian yang lain sebenarn- ya tidak diper- lukan.143
Dalam sejarah elit negara Abbasiyah sendiri, gaya hidup “al- badhkh” atau “mewah” dipelopori oleh khalifah al-Mahdi>.144Gaya hidup ini pada awalnya dapat dilihat secara mencolok pada ke- bijakan khalifah untuk memperbanyak “pembantu” kerajaan yang berasal dari beberapa ras bangsa. Kebijakan yang awalnya dite- lurkan oleh khalifah al-Ami>n ini mengakibatkan membludaknya jumlah pembantu hingga mencapai angka 11 ribu orang pada saat pemerintahan al-Muqtadir bi Alla>h.145
Namun demikian, al-Ma’mu>n dikenal cukup mendukung pola hidup secukupnya. Dalam suatu informasi sejarah, al-Ma’mu>n pernah melarang fasilitas lilin yang berbahan dari ambergris harum yang diletakkan di mangkuk emas. Padahal fasilitas itu pada da- sarnya disediakan sebagai penerang ruangan al-Ma’mu>n
142
Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al- Mustat}a>b, 54.
143 Muh}ammad ibn al-H{asan al-Shayba>ni>, al-Iktisa>b fi> al-Rizq al-
Mustat}a>b, 55.
144
Al-T{abari>, Ta>ri>kh al-T{abari>, vol. 8, 156-172.
145 Muh}ammad ibn Ali> ibn Muh}ammad ibn T{aba>t}aba> ibn al-
T{aqtaqi>, al-Fakhri> fi> al-A<da>b al-Sult}a>niyyah, 234; George Zayda>n,
139
sendiri.146Namun demikian, ditemukan setidaknya satu plot narasi sejarah yang justru tidak mengkonfirmasi pola hidup secukupnya ini. Pada saat resepsi perkawinannya, al-Ma’mu>n malah memper- tontonkan “gaya hidup mewah”. Ini terlihat dari mahar yang diberikannya kepada mempelai perempuan yang bernama Bu>ra>n binti al-H{asan ibn Sahl berupa 1000 yaqut, beberapa lilin amber- gris yang masing-masing berisi 100 hadiah, dan permadani bertenun emas berhiaskan permata dan yaqut. Ini belum termasuk fasilitas kapal penumpang sebanyak 30 ribu buah bagi para un- dangan resepsi dan hidangan yang menghabiskan kayu yang bi- asanya cukup untuk tiga tahun hidangan.147Namun demikian, “in- formasi tunggal” ini tidak kemudian dapat menjadi suatu konfirma- si bahwa memang begitulah gaya hidup al-Ma’mu>n secara kese-